Saat ini, seiring dengan perkembangan fotografi digital dan sosial media (Facebook, Friendster, blog..) yang pesat, banyak sekali yang ingin belajar fotografi. Orang-orang memiliki tujuan yang berbeda-beda. Ada yang ingin belajar untuk keperluan pribadi, seperti foto acara keluarga dan anak, ada juga yang untuk hobi, dan sebagian lainnya untuk bekerja di bidang fotografi.
Lalu, bila Anda memiliki pengetahuan dalam bidang fotografi, kenapa tidak Anda mengajar fotografi? Banyak yang enggan mengajarkan ilmunya karena beberapa faktor. Pertama, bila kita mengajarkan kepada orang lain, katakanlah teman, dan kalau dia menjadi lebih mahir dari kita, tentunya dinamika hubungan antara pertemanan tersebut akan berubah, kemungkinan Anda akan merasa cemburu.
Selain itu, kalau mengajarkan kepada orang yang ingin bekerja di bidang fotografi, dapat mengakibatkan Anda kehilangan pelanggan potenial karena meningkatnya persaingan.
Mengajar memiliki keuntungan juga, baik secara material atau batiniah. Secara materi, mengajar fotografi secara formal atau informal, bisa menghasilkan uang. Tidak lama ini, saya mendapatkan info bahwa enam pertemuan kursus fotografi dasar biayanya sekitar satu juta enam ratus ribu per orang. Mengingat kursus tersebut dibuka untuk grup, maka penghasilan guru fotografi sangat lumayan dibandingkan menjadi pegawai kantoran biasa.
Tidak kalah penting juga, mengajar fotografi baik di bayar maupun tidak, memiliki keuntungan lain yang jauh lebih besar pahalanya. Dengan mengajar, kita bisa lebih memahami fotografi. Dulu, kata guru saya, bila kamu bisa menjelaskan atau mengajarkan kepada teman bahan pelajaran ini maka itu tandanya kamu sudah memahami.
Selain itu, bila kita mengajar fotografi, otomatis kita akan didorong untuk mencari bahan-bahan fotografi sehingga meningkatkan ilmu kita sendiri.
Mengajar juga memberikan kepuasan batin. Dosen saya dulu berkata, ketika dia berusaha menjelaskan mahasiswa tentang konsep fotografi yang sulit, terkadang dia melihat mata mahasiswa bahwa mereka memahami konsep itu, dan itulah kepuasan batin seorang guru. Dia juga menambahkan bahwa pada akhirnya, kepuasan bukan ditentukan dari barang atau uang yang bisa direguk, tapi lebih ke kepuasan karena bisa membantu orang lain.
Pada akhirnya, kita mengajar atau tidak, orang-orang juga akan mencari ilmu di tempat lain, oleh sebab itu, mengajarlah, supaya pengetahuan dan pahala Anda terus bertambah.
“To teach is to learn twice.” ~Joseph Joubert
Facebook Fans
Ikutan di Twitter
{ 8 comments… read them below or add one }
wah,,hebat..
postinganya byk memberikan pngetahuan2 bru,,
sukses slalu..
Trims ya
Sama2 sukses!
selain sekolah paginya om anton ismail,
ada lagi enggak yah yg idealis seperti beliau (jakarta),
ngajar fotografi gratis tanpa d pungut biaya.
kita pingin ikut klasnya enggak kebagian, penuh trus tuh…
menanggapi Omar ,
mengajar fotografi reguler secara gratis agak rumit . Sejak tahun 97 saya udah memulainya di Medan. Kata “gratis” ini membuat para peserta tak memiliki sense of belonging. Lantaran gratis, peserta bisa suka2 dan tidak disiplin. Padahal belajar fotografi perlu ketekunan dan konsistensitas.
Solusi yang saya pakai sampai sekarang adalah menerapkan kelas fotografi dengan biaya yang relatif terjangkau. Agar secara administratif, peserta merasa worthy mendapatkan ilmunya.
betul, jangan kasih gratis, karena peserta jadi kurang apresiasi terhadap Anda dan juga fotografi itu sendiri.
mas kira bs bantu gak..kebetulan sy ngajar di salah satu sekolah dan dibebani mengajar fotografi…secar basic saya bs memahahami istilah dan lainnya….tp saya kesulitan dalam hal membuat silabus atau standar kompetensi pengajaran….kira2 bs bantu nda…makasih sebelum dan sesudahnya…..
sekolah tingkat apa bun?
kereeeen banget artikelnya, bermanfaat buat saya..makasih ya infonya