Aspek teknis dalam fotografi

by Enche on May 26, 2010

Yang sering menjadi kendala utama fotografer pemula adalah kendala teknis. Banyak yang tidak mengetahui dasar dan tidak mengenal kameranya dengan baik. Saya pikir ini penting sekali untuk diatasi sebelum melangkah lebih jauh. Dengan menguasai aspek teknis, kita bisa membuat foto yang kita inginkan.

EXPOSURE / PENCAHAYAAN

Inti fotografi adalah pencahayaan, maka itu sangat penting kita memahami hal ini. Ada tiga faktor utama yang menentukan pencahayaan yaitu bukaan (aperture), kecepatan pemantik (shutter speed) dan sensitivitas sensor (ISO).

Jenis mode kamera yang bisa dipilih

Jenis mode kamera yang bisa dipilih

Berkaitan erat dengan pencahayaan, pertanyaan yang sangat sering saya dapatkan adalah mode kamera apa yang saya harus pakai. Bagi yang memahami prinsip pencahayaan, tentunya lebih cenderung memakai Manual (M), Aperture Priority (A/Av) atau Shutter Priority (S/Tv).

Lalu bagaimana dengan Auto mode, atau Program (P) mode atau scene modes seperti landscape mode (yang gambarnya seperti gunung) atau portrait mode (yang gambar wajah orang dari samping)? Apakah boleh memakai mode itu? Boleh saja kalau belum memahami pencahayaan, tapi bila telah memahami, otomatis kita tidak butuh lagi mode-mode tersebut.

Saya sendiri menyukai Aperture Priority, karena saya bisa fokus dalam mengendalikan berapa kabur latar belakang foto.

Mempelajari pencahayaan ibaratnya seperti belajar mobil manual, berenang atau belajar naik sepeda. Pertama-tama rasanya susah sekali, tapi kalau sudah memahami dan disertai praktek yang teratur, segalanya akan menjadi lancar. Setelah memahami hal ini, hasil hasil foto-foto Anda akan lebih konsisten.

EXPOSURE COMPENSATION / KOMPENSASI

Histogram: Kalau kurva berwarna hitamnya banyak menumpuk di sebelah kanan seperti ilustrasi di atas. Ini menandakan pencahayaannya terlalu berlebihan

Histogram: Kalau kurva berwarna hitamnya banyak menumpuk di sebelah kanan seperti ilustrasi di atas. Ini menandakan pencahayaannya terlalu berlebihan

Masih berkaitan dengan pencahayaan, hal yang perlu diperhatikan terutama fotografi digital adalah menghindari pencahayaan berlebih sehingga foto menjadi terlalu terang karena akan banyak detail yang hilang dan tidak bisa dimunculkan kembali. Untuk mengecek apakah foto kita terlalu terang, kita bisa lihat di layar LCD atau histogram.

Selain itu seringkali bila pemandangan di depan kita lebih banyak warna gelapnya daripada terangnya, kamera sering salah menafsirkan, sehingga foto menjadi lebih terang. Untuk itu, kita bisa mengakalinya dengan mengunakan fungsi kompensasi pencahayaan.

Nilai kompensasi tergantung pemandangan, jenis pengukur cahaya /metering yang aktif  dan jenis kamera. Saran saya coba-coba saja sampai menemukan pencahayaan yang optimal.

Dalam foto ini, kompensasi pencahayaan diperlukan karena sebagian besar area di dalam foto berwarna gelap. Bila tidak, wajah akan terlalu terang dan jubah akan berwarna abu-abu. Data Teknis: Av mode, 200mm, f/4, 1/320 detik, ISO 200, EC -1

Dalam foto ini, kompensasi pencahayaan diperlukan karena sebagian besar area di dalam foto berwarna gelap. Bila tidak, wajah akan terlalu terang dan jubah akan berwarna abu-abu. Data Teknis: Av mode, f/4, 1/320 detik, ISO 200, EC -1

MENCEGAH FOTO KABUR / GOYANG

Dua faktor foto kabur atau goyang adalah salah fokus atau shutter speed kurang tinggi. Untuk masalah auto fokus, jangan mengandalkan setting automatic focus, tapi pilihlah titik fokus tertentu. Bila subjek bergerak, maka gunakanlah continuous AF sehingga auto focus bisa mengikuti subjek.

Untuk memastikan fokusnya benar-benar telah terkunci, bisa dari suara “beep” atau lihat konfirmasi AF yang biasanya berbentuk bulatan atau kotak hijau di dalam jendela bidik / viewfinder.

Berkenaan dengan masalah shutter speed, untuk foto subjek yang bergerak, butuh shutter speed yang cukup tinggi. Contoh: minimal 1/125 untuk foto orang berjalan. Kalau lebih rendah, foto akan kabur. Di kondisi cahaya yang kurang baik, triknya adalah menaikkan nilai ISO, sehingga shutter speed tinggi bisa dicapai.

Untuk faktor kedua, saya pernah menulis artikel Supaya foto tidak kabur [bagian 1 | bagian 2].

Foto #2

Foto #2

Keterangan Foto #2: Untuk membekukan foto penari, saya mengunakan setting AF-C (Nikon) / Ai Servo (Canon) supaya auto fokusnya tetap terkunci pada penari tersebut meski bergerak dengan cepat. Lalu saya juga mengunakan shutter speed yang cukup tinggi. Saya juga mengunakan kompensasi ekposur untuk mengkompensasikan latar belakang yang hitam pekat. Data Teknis: Aperture priority (Av) mode f/4, 1/200 detik, EC -1 1/3, AF-C, ISO 1250, 70mm.

DEPTH OF FIELD / KEDALAMAN FOKUS

Kedalaman fokus yang tipis membuat subjek lebih menonjol dan latar belakang menjadi blur sehingga berkesan artistik.

Untuk membuat efek seperti itu, saya pernah menulis artikel faktor-faktor yang menentukan latar belakang menjadi kabur.

Di foto ini, saya mengunakan bukaan sangat besar, yaitu f/1.4 sehingga depth of field sangat tipis, latar belakang menjadi sangat mulus, bahkan sebagian besar rambut juga udah kabur. Selain itu, lensa yang saya pakai juga cukup tele. Data Teknis: f/1.4,  85mm, 1/1600 detik ISO 200

Di foto ini, saya mengunakan bukaan sangat besar, yaitu f/1.4 sehingga depth of field sangat tipis, latar belakang menjadi sangat mulus, bahkan sebagian besar rambut juga udah kabur. Selain itu, lensa yang saya pakai juga cukup tele. Data Teknis: f/1.4, 85mm, 1/1600 detik ISO 200

WHITE BALANCE

wb-white-balance

Contoh beberapa preset White Balance

Tips terakhir untuk artikel ini adalah menentukan setting WB / White balance yang tepat dengan kondisi atau hasil yang ingin dicapai. Memang di setiap kamera biasanya telah ada AWB atau Auto White Balance, tapi sekali lagi, AWB sering kali tidak menerjemahkan kondisi lapangan dengan baik atau tidak memahami keinginan kita.

Misalnya bila kondisi cahaya di lapangan mendung, maka pilihlah WB cloudy (yang bergambar seperti awan). Kalau di bawah bayangan, pilih Shade dan seterusnya. Kalau di dalam ruangan yang lampunya kuning, maka pakailah WB tungsten (yang gambarnya seperti bola lampu).

Bila ingin foto terlihat lebih hangat (kekuningan/jingga), maka set WB ke cloudy atau shade. Bila ingin foto terlihat lebih dingin / kebiruan, maka pilihlah WB tungsten.

Untuk kamera yang canggih, kita bisa mengeset temperatur warna sendiri dalam derajat Kelvin. Makin rendah makin biru, makin tinggi makin kekuningan.

PENUTUP

Sebelum mengembangkan fotografi secara artistik, tentunya kita harus menguasai hal-hal teknis terlebih dahulu. Maka itu, kita benar-benar perlu sungguh-sungguh belajar dan berlatih.

Lalu saya perlu tekankan juga bahwa untuk menguasai hal-hal teknis, tidak diperlukan kamera atau lensa yang canggih yang mahal. Asal kameranya punya fungsi Manual dan semi otomatis seperti Aperture priority atau Shutter priority, maka Anda bisa mempraktekkan prinsip-prinsip fotografi diatas.

Banyak juga yang di bahas di artikel ini, semoga bisa dipahami dan selamat berlatih.

{ 38 comments… read them below or add one }

afdal abdullah May 26, 2010 at 6:51 am

Artikel yg sgt membantu. Tp sy ada 1 pertanyaan (sorry kalo pertanyaannya salah…) : saat ini sy pakai Canon EOS 1000D, sy juga senang pakai Av Mode untuk mengatur blur sekeliling subjek, tapi sy belum mengerti bagaimana mengatur EC -1 dan shutter speed, spt data teknis gambar 1. setahu sy pakai Av, shutter speed akan diatur sec.otomatis utk menyesuaikan cahayanya.. apa betul spt itu..? mohon pencerahan..

Enche May 26, 2010 at 7:13 am

Betul, kalau pakai Av, kamera secara otomatis mencari nilai shutter speed yang sesuai. Untuk mengatur Exposure Compensation -1 di kamera Canon 1000D, coba cari tombol yang gambarnya seperti plus minus gitu (+/-) kemudian sambil di tekan, diputar dialnya ke kiri untuk minus dan ke kanan untuk plus. Untuk jelasnya coba liat manual kamera tersebut.

agus May 26, 2010 at 11:40 am

terima kasih banyak saran2 nya…saya pake canon 500D fungsi speedlight pengaruhnya berapa % dari flash camera bawaanya..juga kameranya jika kita setting di AUTO kok warnanya cenderung agak ke kuning-kuningan…minta saran cara pemotretan yg bener..thanks sebelumnya…

agung May 26, 2010 at 1:13 pm

wah pencerahan banget… tengkiyu brader…

Enche May 26, 2010 at 1:45 pm

Agus, pertanyaan pertama kamu saya kurang mengerti. Cahaya dari flash memang membuat subjek foto agak kekuningan.

tari June 9, 2010 at 4:33 am

artikel sangat membantu saya,,,karena msh pemula,jd saya lebih faham tentang kamera pribadi sy canon 1000D khusus tentang pencahayaan

abah aden June 14, 2010 at 11:36 am

Wahh… Thanks banget mass…
Udah lama saya cari blog kayak gini, tapi kebanyakan versi B.Inggrisnya. Ada yang B.Indonesia, tapi asal2an & ga pada ngerti klo ditanya ini itu.
Bener2 profesional neh, mantepp dahh…
^_^

Lina June 18, 2010 at 3:07 am

Trima kasih sekali lagi artikelnya bagus, jadi bisa lihat kesalahan2nya dimana, hanya sayang g ada yang bisa diajak diskusi setelah motret, tapi sampai sekarang saya terus latihan2, memang kadang suka putus asa, kalau hasilnya tidak sesuai yg diinginkan.
Pengen juga ikutan hunting bareng seperti teman2 di Indonesia. Asyik kali ya?
salam,
Lina

Lina June 19, 2010 at 12:55 pm

Setelah di baca2 lagi, ada pertanyaan ttg WHITE BALANCE : disitu diterangkan, tergantung situasi lapangan, saya pernah dikasih tau, waktu mau candid, pada (waktu itu kami berada di taman) dg matahari yg terik, saya diberi tahu untuk memindahkan settingan ke cloudy. Hasilnya memang bagus. Akhirnya jadi bingung.
Uraian Enche bahwa kalau berawan di set ke cloudy, kalau sinar matahari (disini sinar matahari bersinar sangat terik), sehingga kadang kesulitan kalau motret di siang hari.
Sebetulnya sih saya hanya ingin hasil yg benar2 natural, seperti warna aslinya.
Satu lagi pertanyaan, kalau di ruangan saya memakai Flash tambahan, supaya obyek lebih jelas, tapi ternyata hasilnya kekuningan, sayang sekali.
mudah2an Enche mau menjawab pertanyaan ku ini.
trima kasih.

Enche June 19, 2010 at 9:24 pm

Memang susah foto waktu noon/pas matahari lagi terik-teriknya, saya sarankan cari lokasi di bawah bayangan atau tunggu sampai sore.

Kalau flash memang punya karakteristik bikin warna menjadi lebih warm/kekuningan. Ini bisa di betulkan dengan mudah dengan software foto seperti Adobe Lightroom atau Photoshop.

harry June 20, 2010 at 6:36 am

Salam mas ence, kalo diliat dari hasil foto bagusan mana D90 vs 500D?. Trus mas mo tny lagi kalo lensa EF 70-200mm f4 USM VS EF 70-200 f4 IS bagusan mana?. Makasi mas. Kalo menurut mas lensa 17-40L f4 bisa dipake tuk foto potret (ada efek blurnya), landscape,arsitektur?

Enche June 20, 2010 at 7:04 am

Hasil foto cukup imbang antara keduanya, ingat juga kalau kualitas gambar sangat dipengaruhi lensa yang dipakai. Kalau lensa, yang versi IS lebih baik dalam artian lebih tajam terutama di bukaan f/4

Enche June 20, 2010 at 7:05 am

17-40mm adalah lensa wide angle berbukaan besar, jadi kalau dipakai untuk foto potret, efek blurnya tidak terlalu kentara, terutama dibandingkan dengan lensa seperti 50mm f/1.8

harry June 20, 2010 at 7:23 am

Makasi bgt mas, soalnya 70-200L IS harganya beda jauh lebih mahal. Kalo menurut mas antara 70-200L & 17-40L mending saya ambil yg mana dulu. Saya baru bgt, baru blajar fotografi.

Enche June 20, 2010 at 7:26 am

punya lensa standar 18-55mm gak? kalau punya saya sarankan 70-200mm

harry June 20, 2010 at 7:29 am

Iya punya mas, tp hasilnya kurang memuaskan. Hehehe. Ato krn saya yg ga bisa foto. 70-200 bisa utk potret ga mas. Maaf bnyk nanya nih..

Enche June 20, 2010 at 7:32 am

Bisa Pak

Lina June 20, 2010 at 7:39 am

Trima kasih, jadi faham atas penjelasan Enche, ada lagi : seandainya kita di bawah bayangan (pohon, gedung dsb), tentu saja keadaan obyek menjadi gelap sedang latar belakangnya terang. Seperti juga kalau mau memotret di dalam ruangan, obyek ada (membelakangi jendela) otomatis latar belakangnya terang dan obyeknya gelap, Data teknis apa yang Enche sarankan?

harry June 20, 2010 at 7:45 am

Skali lagi makasi masukannya mas enche, nanya lg nih, maaf ya bnyk nanya. 1.Kalo 70-200L f/4 dipake foto indoor yg cahaya standar, ato foto wedding bisa gak?;
2. Kalo diantara lensa ini 50mm f/1.8, ato 85mm f/1.8 mana yg bisa lebih baik dari hasil foto dan fleksibilitasnya (maksudnya yg bisa dipake kemana2), ato beli 50 f/1.4 skalian?
3. Ato lensa yg mas rekomendasikan apa?kalo buat sy yg br blajar suka potret, arsitektur, pemandangan. Kalo macro mas saranin lensa apa?(Yg ga tlu mahal tp hasilnya bagus). Saya pake eos 500D.

Enche June 20, 2010 at 7:57 am

Bisa, kalau ada lampu tambahan seperti flash atau pakai kamera yang ISO tingginya bagus, seperti Canon 5D, Nikon D700.

85mm f/1.8 cukup panjang, jadi kalau indoor atau tempat sempit kurang ideal terutama yang memakai kamera DSLR standar (bukan full frame). Jadi 50mm lebih fleksibel, Namun kalau untuk foto potret head & shoulder di outdoor atau potret dalam ruangan besar/panjang, 85mm lebih cocok.

Lensa yang saya rekomendasi sesuai dengan anggaran dan kebutuhan. Kalau suka foto potret, 50mm atau 85mm. Kalau pemandangan dan sehari2 saya sarankan 15-85mm, atau 17-55mm, kalau macro saya sarankan Canon EF-S 60mm f/2.8

harry June 20, 2010 at 8:05 am

Makasi masukannya mas,,

harry June 20, 2010 at 8:27 am

Mas mo nanya lagi katanya lensa EFS ga bisa di pake dikamera full frame ya? Trus saya baca review lensa macro kaya Canon EF-S 60 bisa dipake potret yg ada efek blurnya ? Apa lensa macro dipake potret hasilnya bagus?

Enche June 20, 2010 at 8:39 am

Betul, lensa EF-S tidak bisa dipakai di kamera full frame.

Betul juga, lensa makro bisa dipakai untuk foto potret. Hasilnya baik, dengan background blur, hanya saja hasilnya kadang terlalu tajam.

harry June 20, 2010 at 9:01 am

Nanya lg mas, 50mm f/1.8 bahannya plastik ya? Bgm hasil fotonya?.
Kalo lensa L sudah pasti bagus ?katanya harga jual 2nd nya juga masi tinggi?. Makasi mas, maaaaaaaaf bgt bnyk nanya

Enche June 20, 2010 at 9:12 am

Bagus kok hasilnya. Kalau lensa L memang biasanya hasilnya baik, dan di optimisasi untuk kamera full frame seperti Canon 5D, Tapi tentunya juga lebih mahal.

Setau saya sebagian besar lensa baik L atau tidak memang harganya cenderung tetap atau meningkat, asal dirawat dengan baik tentunya.

harry June 20, 2010 at 9:21 am

Oh gitu ya mas. Makasi pencerahannya..kmrin sih sya ragu mo beli 50mm f1.8 krn bahnnya plastik itu mas, takutnya ketajaman warna kurang, jd pikir lebih baik nabung beli 50 mm 1.4. Makasi mas nti saya kabarin hasil blajar saya.

agus July 11, 2010 at 11:26 am

thanks infonya, saya punya 5jt..camera canon 500D,rencana saya mau beli lensa+speedled..kebutuhanya untuk jepret wedding…minta saran lensa+ speedled yang cocok……sebelumnya makasih…

desain grafis, font, vector July 18, 2010 at 12:51 pm

Wah blog yg keren… perlu belajar banyak bgt neh… TQ mas..

dautkwist July 29, 2010 at 12:33 pm

teknis foto graphy mari kita pelajari yg baik benar untuk bekal menjadi seorang fotografer yg handal

Hanan August 15, 2010 at 11:17 pm

Salam kenal ya mas…
dari tadi saya baca komen semua ngebahas merek canon and nikon…
klo merek SONY bagus gak?

Enche August 15, 2010 at 11:46 pm

Semuanya relatif sih, tergantung model kameranya juga.

firman August 16, 2010 at 2:54 am

Mas Enche, saya baru membaca tulisan anda dan sangat terbantu sekali dengan isinya. Kebetulan saya baru punya nikon D90 dan saat ini sudah punya lensa 50 f/1.4 dan lensa Kit 18-105. yang jadi pertanyaan saya adalah :
1. Apakah lensa kit bisa memberikan hasil bagus, karena pernah saya baca kalo lensa kit biasanya kualitas kurang bagus.
2. Saya ada rencana mau beli Tokina 11-16 untuk melengkapi lensa saya, apakah cocok untuk landscape dan untuk wedding tokina tsb.
3. Saya ingin mempelajari secara profesional fotography ini dan kedepannya berharap bisa mendapatkan income dari foto, kira2 jenis foto apa yang banyak menghasilkan income? apakah di landscape atau di macro?
Maaf ya mas, kalo banyak pertanyaannya. Trims

Enche August 16, 2010 at 3:04 am

1. Bisa saja asal kita menggunakannya dengan baik. Saya pernah tulis artikel tentang itu disini.
2. Tokina 11-16mm itu termasuk lensa yang sangat lebar, sehingga cukup sulit dijinakkan dan tidak begitu fleksibel karena zoomnya pendek. Lensa ini cocok untuk landscape, kalau wedding, tergantung dari gaya foto Anda, kalau memang suka efek yang dihasilkan lensa lebar, tentunya oke oke saja.
3. Yang menghasilkan income besar sepertinya di komersial fotografi (foto produk atau iklan) omzetnya bisa ratusan juta rupiah. Tapi tentunya persaingan juga cukup ketat. Jenis fotografi yang lain seperti pernikahan juga cukup menghasilkan bila Firman punya banyak ide kreatif.

Fotografi apapun sebenarnya cukup bisa menghasilkan uang, hanya saja kita selain harus bagus dan unik fotonya, juga harus jago dalam bisnis / promosi.

beni andrean August 19, 2010 at 11:24 am

salam kenal mas……saya baru sebulan beli camera canon 50D kira kira ada ngak mas buku tentang info photografi buat pemula yg di jual karna jujur saja saya buta sama sekali tentang photografi…….

Noor Syam August 20, 2010 at 3:31 am

sangat berguan utk kami yg baru mulai belajar..

emon August 26, 2010 at 3:22 am

kalo cuma kamera digital biasa tu bisa gak diatur aperture dll? hehehe

Enche August 26, 2010 at 3:24 am

Coba cek aja, ada mode manual nya gak.

Agus Urake September 5, 2010 at 12:33 pm

bung enche….anda memang tokcer info nya….

Leave a Comment

Previous post: Seni di dalam fotojurnalisme

Next post: Media penyimpanan SD card dan Compact Flash