Etika Fotografer

by Enche on June 2, 2010

Sebagai makhluk sosial, sebagai fotografer, kita tidak luput dari hubungan manusia. Bila kita hobi foto potret, maka kita akan berhubungan langsung dengan modelnya. Kalaupun hobi kita foto pemandangan, tetap saja kita harus berhubungan dengan orang lain di lokasi  untuk mendapatkan informasi atau bantuan.

Maka dari itu masalah etika, adalah masalah yang penting. Namun topik ini biasanya jarang di bahas, fotografer biasanya lebih tertarik membahas soal kamera, lensa, pencahayaan dan lain lain.

Maksud dari etika versi saya adalah bagaimana cara kita berhubungan antar manusia, antara fotografer dan model, antara fotografer dengan asisten, atau dengan masyarakat lokal. Dengan memiliki etika yang baik, fotografer tentunya diuntungkan dengan mendapatkan foto yang lebih berarti, enak dilihat dan alami. Orang-orang di sekitar kita pun akan lebih senang membantu kita.

Secara garis besar, memiliki etika yang baik berarti fotografer bersikap rendah hati, hormat terhadap orang lain, antusias dan baik hati. Dalam foto potret, misalnya, terutama bila modelnya wanita, kita menghormatinya dengan tidak menyentuh saat mengarahkan. Menyentuh model wanita sangat tidak sopan terutama di Asia dan membuat model tersebut menjadi tidak nyaman. Selain itu, hindari kebiasaan berbicara dengan nada memerintah  dan sering-seringlah memuji atau berterima kasih bila memang patut.

Saat foto potret, seringkali model kita tidak berpengalaman atau kaku di depan kamera. Hal ini wajar, dan bisa diatasi dengan banyak berkomunikasi dengan mereka. Banyaklah bertanya kepada mereka, tentang hal-hal yang berkaitan dengan mereka, misalnya bila ia seorang musisi, maka tanyakanlah tentang hal berbau musik, atau paling tidak hidup mereka secara umum. Hindari perbincangan tentang hal-hal negatif seperti perang, dan hindari topik SARA.

Seiring dengan waktu, dengan berkomunikasi dengan mereka, mereka akan merasa lebih nyaman. Saat berinteraksi dengan mereka, Anda bisa memperhatikan bahasa tubuh mereka, sehingga memiliki ide sudut pandang  dan pose yang terbaik untuk mengambil foto. Hasilnya adalah foto yang lebih alami dan lebih cocok dengan karakter mereka.

Dengan berkomunikasi dan berusaha mengenal keluarga multikultural ini, mereka menjadi nyaman akan kehadiran saya, alhasil saya bisa mengambil foto ini. Saya menyukai foto ini karena secara alami melukiskan cinta ibu terhadap anak dan kesibukan sang ayah di depan komputer

Dengan berkomunikasi dan berusaha mengenal keluarga multikultural ini, mereka menjadi nyaman akan kehadiran saya, alhasil saya bisa mengambil foto ini. Saya menyukai foto ini karena secara alami melukiskan cinta ibu terhadap anak dan kesibukan sang ayah di depan komputer

Maka dari itu, untuk foto potret, saya lebih menyukai foto sendiri daripada foto bersama kelompok fotografer lainnya. Dengan kehadiran banyak fotografer atau asisten dengan peralatan-peralatan yang rumit, kesempatan untuk berkomunikasi dengan model menjadi hampir tidak ada. Malahan yang terjadi adalah model akan merasa semakin tidak nyaman dan ini akan tercermin pada raut muka dan bahasa tubuh mereka.

Bayangkan bila Anda adalah modelnya, sangat tidak nyaman bukan? Seperti rusa muda yang siap diterkam serigala-serigala lapar

Bayangkan bila Anda adalah modelnya, sangat tidak nyaman bukan? Seperti rusa muda yang siap diterkam serigala-serigala lapar dari segala penjuru, depan, bawah dan samping.

Singkatnya, perlakukan orang-orang sekitar seperti Anda ingin diperlakukan. Dengan demikian, fotografi Anda akan bisa lebih maju. Selamat mencoba.

{ 31 comments… read them below or add one }

UQI June 3, 2010 at 2:01 am

Dengan etika suatu suasana akan lebih nyaman dan mudah untuk didokumentasikan…..nice artikel…setuju bgt!!

Anzie June 11, 2010 at 2:23 am

Tulisan yang sangat baik!!!!! Terima kasih sudah berbagi. Saya sangat setuju, terutama tentang rusa mudanya :p

trie June 13, 2010 at 7:02 am

mantap pak Artikelnya…

adit July 15, 2010 at 6:25 am

topik yg jarang dibahas.. namun penting. terima kasih… sangat bermanfaat bagi saya.

acongsb July 21, 2010 at 12:59 am

Nice artikel mas

rachman July 26, 2010 at 5:52 am

hmm… emang resiko fashion show seperti itu ya? dikrubuti. untuk kenyamanan mungkin bisa bikin sesi khusus dg dibatasi 10 orang atau kurang. Kalau bisa di awal sesi berkenalan dulu dengan modelnya :-)

Alam Lau August 8, 2010 at 2:35 pm

waktu moto pre wedding berasa bgt kl kita g bs masuk ke klien… maka nya komunikasi yg harus bisa di bangun dlm waktu singkat antara kita yg moto dgn yg di poto, kl g poto pre wedding pasangannya terlihat tdk nyaman dan tidak seperti pasangan yg mo nikah…

tp saya bkn Photographer cm seneng moto aja dan cb cari mkn dari moto…

adel August 25, 2010 at 2:03 pm

ini yg sll aku ingin taumksh Dan,,

habil syah August 27, 2010 at 1:15 pm

terimakasih sudah berbagi!

aNggi August 29, 2010 at 3:10 am

stuju bnget gan……
thx info.nya,,,,

bian September 16, 2010 at 5:13 am

wah jarang banget ada yang menyinggung masalah etika..keren nih mas.

Uco September 21, 2010 at 10:22 am

perlu juga mas dibahas etika sesama fotografer

donald October 5, 2010 at 12:44 am

setuju dengan topik bahasan diatas…..

newbie October 12, 2010 at 1:25 am

saya juga termasuk yang kurang suka motret keruyukan…heheheh

dHuT November 7, 2010 at 10:13 pm

mantap artikel nya mas..
jarang banget ada yang nyinggung tentang etika..
ijin copas artikel nya mas..
:D

Awan_go December 17, 2010 at 2:13 am

Etika photographer haruslah diutamakan. dengan ini kita lebih banyak disenangi oleh orang banyak dan orang lain akan lebih tertarik bila diphoto oleh kita. Salam jepret. :D

kitiank December 18, 2010 at 6:02 pm

ini betul bgd bg,soalnya saya motret model yg keliatan bagian bawahnya,ya saya spontan aj blg ke modelnya “maaf ya tolong yg d bawah di tutup”,tp bgi pemula photographer d daerah padang,moment yg sprti itu sering di manfaatkan oleh mereka,apa pantas mereka di panggil Photographer…..???

fauzeh December 31, 2010 at 2:29 am

Sangat berarti….

ushi January 6, 2011 at 9:30 pm

mmm ok :)

rief muhamad January 29, 2011 at 7:55 am

nice artikel…nambah lg ilmu..thx a lot Gan…

rusdi anwar January 31, 2011 at 1:47 am

Tidak banyak yang tahu tentang etika seorang juru foto. Tulisan ini bisa menjadi panduan dalam memotret yang sopan dan tidak mengganggu privasi orang lain.

Hendry February 25, 2011 at 8:34 am

Setuju banget mas enche artikelnya, wajib dibaca bagi para photographer pemula seperti saya

noor m yadi February 25, 2011 at 11:26 pm

sangat setuju….!!!!

iqone February 27, 2011 at 4:37 am

keren,,,, setuju tuh……………..! makasih info nya ya!

hence usman March 29, 2011 at 10:36 pm

keren …sangat setuju sekali

didiktyle May 17, 2011 at 8:57 pm

jempol 100….. niki sae…budoyo tiyang wetan…. stuju puolll Om..

doetsz July 18, 2011 at 11:22 pm

artikelnya siips, nambah ilmu
Mau tanya juga nich, gak tahu termasuk etika apa terkait hukum
Misal kita foto seorang model (maksudnya seseorang) yg belum terkenal (tentunya dengan siijinnya, dll), kemudian karena satu dan lain hal, foto tersebut jadi terkenal.
Yg saya tanya, hak2 si fotografer dan si model terhadap foto tersebut gimana ya ?
Mohon pencerahannya
Trims

Enche July 20, 2011 at 1:46 am

halo doetsz, kurang tau juga soal hukumnya. Nanti kalau saya sudah tau saya kabari. Biasanya kalau saya mempublikasikan foto seseorang (dalam kasus saya untuk buku), saya minta persetujuan dan juga tanda tangan di atas surat izin.

Adilahat September 14, 2011 at 12:02 pm

makasih tipsnya mas :)

iksan October 6, 2011 at 12:59 pm

ada yag mau q tanyakan khn d atas d sebtkjan janganlah mnyntuh atau memegang model. yg saya tanyakan seandaix mdlx susah atau tdk tau ada nggak cara lain supya mdel itu enak d jepret. lo msalh knalan ma ngobrol itu hrus memang, mkch senior atas infox salm jepret dari sya smga skses

iksan October 6, 2011 at 1:02 pm

ada yag mau q tanyakan khn d atas d sebtkan janganlah mnyntuh atau memegang model. yg saya tanyakan seandaix mdlx susah atau tdk tau ada nggak cara lain supya mdel itu enak d jepret. lo msalh knalan ma ngobrol itu hrus memang, mkch senior atas infox salm jepret dari sya smga skses

Leave a Comment

{ 1 trackback }

Previous post: Media penyimpanan SD card dan Compact Flash

Next post: Definisi foto fotojurnalistik