≡ Menu

Beda fotografer pro dan amatir

Secara umum, seorang amatir diartikan sebagai orang yang mencintai fotografi dan tidak menghasilkan uang dari kegiatan tersebut. Sedangkan seorang fotografer pro adalah seorang fotografer yang menghasilkan uang dari fotografi. Definisi diatas agak janggal karena hanya melihat dari sisi luarnya saja. Sesuai definisi diatas, banyak fotografer pro memiliki hasil karya yang dibawah standar. Di lain pihak, banyak yang masuk definisi fotografer amatir tapi memiliki karya yang jauh lebih bagus dan konsisten. Bukannya agak aneh memberikan gelar “pro” kepada tukang foto keliling dan “amatir” kepada fotografer yang menghasilkan karya yang spektakuler tapi tidak menjual jasa/karyanya?

Maka itu, menurut saya perlu ada redefinisi istilah amatir dan fotografer pro supaya lebih sesuai. Definisi pro dan amatir seharusnya tidak berdasarkan masalah uang semata. Menurut yang saya amati, fotografer pro dan amatir memiliki perbedaan yang kontras dalam cara pikir dan kebiasaan mereka. Ciri-ciri dibawah ini tidak hanya berlaku dibidang fotografi saja tapi juga dibidang pekerjaan lainnya.

Pro bekerja dengan konsentrasi tinggi dan cenderung menjelajahi sesuatu secara mendalam, sedangkan amatir mudah teralihkan perhatiannya dan biasanya mempelajari sesuatu hanya sebatas di permukaan saja. Misalnya, profesional giat belajar dan konsisten dalam berlatih. Sedangkan amatir berlatih kalau hanya suasana hatinya lagi bagus saja. Saat pro berlatih di studio, amatir sibuk dengan bb, twitter dan facebooknya. Sewaktu praktik juga sering tidak serius. Jika pergi ke suatu tempat, Pro akan menjelajah lebih lama tentang tempat itu, mencari tahu apa keunikan dan karakter suatu tempat. Kalau perlu nungguin dari pagi sampai malam untuk mendapatkan cahaya yang paling sesuai dengan imajinasinya. Jika bertemu seseorang, fotografer pro akan mencoba mengenal dan menggali lebih dalam tentang orang tersebut. Sedangkan amatir akan sekedar jeprat-jepret lalu kembali naik ke mobil. Profesional tahu apa yg harus dikerjakan dan jalan mana yang harus ditempuh. Jalan tersebut kecil dan terjal, tapi jelas dan tidak bercabang. Sedangkan amatir senantiasa terpengaruh dengan jalan yang bercabang-cabang dengan tujuan yang tidak jelas.

Amatir sangat membutuhkan pengakuan dari kelompok/gangnya. Maka itu banyak amatir yang menempelkan watermark yang berisi kata-kata yang dianggap keren seperti “Blablabla Photoworks” dan kemudian sibuk mentag orang-orang yang berada di jejaring sosial dengan agresif. Kalau dapat banyak “like” atau komentar yang bagus rasanya tubuh jadi ringan, rasanya seperti melayang. Masalahnya, “like” di Facebook kebanyakan itu sebagai bentuk dukungan teman saja tapi belum berarti karyanya bagus. Ironisnya, amatir juga takut hasil fotonya terlalu bagus. Jika fotonya terlalu menonjol dari yang lainnya, kemungkinan besar akan dikritik dan dikucilkan oleh “geng”-nya.

Mungkin salah satu hal yg paling membedakan antara pro dan amatir adalah amatir suka mencari jalan pintas sedangkan pro siap menjalani jalan yang sulit dan panjang untuk mencapai impiannya. Salah satu contohnya, amatir biasanya mencoba mengatasi masalah mereka dengan membeli kamera dan lensa baru. Harapannya mainan baru tersebut dapat mengatasi kekurangan teknik dan seni mereka dengan cepat. Saat mengajak mengikuti kursus fotografi, kadang-kadang saya mendapatkan komentar “kok mahal?”, jawaban semacam ini yg selalu mengagetkan saya karena saya tahu peralatan fotografi mereka rata-rata tidak kurang dari sepuluh juta, belum lagi aksesorisnya. Biaya kursus (di Infofotografi) dibawah 10 persen dari harga kameranya. Di lain pihak, pro menyadari peralatan yang sesuai saja tidak cukup, seni dan teknik lebih penting untuk terus dipelajari dan diasah. Amatir yang ingin menjadi pro terus menerus belajar dan praktik yang konsisten.

Tidak mudah menjadi pro, karena pasti akan banyak kritik dan rintangan. Seringkali rintangan itu dari diri sendiri. Mungkin kita sudah merasa puas diri dan nyaman dengan kehidupan sebagai amatir, dan itu wajar saja. Tidak jarang juga amatir menyalahkan orang lain atau suasana misalnya keluarga, teman, bos yang tidak mendukung hobi kita. Amatir biasanya mundur dari hobinya kalau bertemu rintangan-rintangan, kalau pro lanjut terus, malah menularin orang-orang yang tadinya tidak mendukung he he he.. Berita baiknya, menjadi pro itu gratis. Kita hanya perlu mengubah pandangan kita dan kebiasaan kita. Keputusan menjadi pro itu imbalannya besar. Kita bisa menggapai impian dan melakukan apa yang benar-benar kita cintai.

Pro:

  • Berkonsentrasi tinggi, rutin praktik
  • Mementingkan kedalaman suatu foto/cerita.
  • Konsisten menghasilkan karya yang baik
  • Siap dan bersedia untuk menempuh jalan yang sulit dengan tujuan mendapatkan hasil foto yang bagus
  • Mendapatkan banyak rintangan tapi tidak cepat mundur dan putus asa

Amatir:

  • Sering teralihkan perhatiannya (distracted), hasil foto tidak konsisten dan biasanya tergantung mood
  • Membutuhkan pengakuan dari kelompok, teman atas hasil karyanya
  • Takut fotonya kurang bagus/kurang diterima, takut terlalu bagus sehingga dikritik atau dikucilkan
  • Berusaha mencari jalan pintas supaya fotonya bagus, salah satunya dengan membeli alat fotografi yang mahal
  • Saat menemukan rintangan, amatir cepat menyerah dan berhenti

 

Similar Posts:

About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Google+

{ 53 comments… add one }

  • Danny Januari 8, 2013, 10:40 pm

    mantap tulisannya!

  • Gomeeezzz (@gomeeezzz) Januari 8, 2013, 11:04 pm

    W masuk kategori mana ya?? Seiring berjalannya waktu semoga saya bisa masuk kategori Pro.. Heheee
    Tq om Enche sudah memberikan ulasan mengenai perbedaan pro n amatir…

  • Saya Januari 8, 2013, 11:19 pm

    hmm.. Saya rasa tidak perlu ada segmentasi pro atau amatir. Selama semua fotografer merasa enjoy sih fine2 aja kok menurut saya.. :)

  • ben2! Januari 8, 2013, 11:27 pm

    thx, Nche. :)

  • Mark Januari 8, 2013, 11:31 pm

    Maaf melenceng sedikit dari topik, ada yg mengatakan kalau hobi fotografi adalah hobi yg mahal, apakah itu berarti kita harus mengeluarkan uang banyak untuk bisa menikmati hobi fotografi? Bagaimana dengan pelajar yg menyukai fotografi seperti saya tapi hanya memiliki dana terbatas? Saya jadi berpikir kalau hobi fotografi hanya bisa dinikmati oleh orang yg kaya.. Terma kasih..

  • Enche Januari 8, 2013, 11:49 pm

    @Mark pertanyaan bagus, alat-alat fotografi yang canggih dan berkualitas memang relatif mahal. Tapi tidak berarti belajar dan membuat foto yang bagus perlu mengeluarkan duit yang sangat banyak. Dibanding 10 tahun yang lalu, hobi fotografi sekarang semakin terjangkau karena banyak pilihan kamera dan harga.

    Untuk pelajar/mahasiswa saya pikir bersabarlah, giat-giatlah menabung atau mencari pekerjaan sampingan. Usahakan belajar dari berbagai sumber, baik itu buku, kursus, teman, web, youtube dll. Semoga berhasil.

  • Mazhel Januari 9, 2013, 12:05 am

    sekedar masukan, pro umumnya menjalani fotograi sebagai sebuah bisnis. maka fotografi bagi seorang pro tidak lepas dari tekanan. memenuhi kehendak dan keinginan orang lain, dan berkarya sesuai visi orang lain (klien). karna hal itu pro rentan kehilangan gairah dan berdampak pada pudarnya kreatifitas karena tekanan. sebaliknya tidak sedikit amatir yang menghasilkan karya luar biasa karena enjoy dan menikmati setiap proses dalam memotret. bebas, lepas tanpa tekanan dan tuntutan dari orang lain. tak semua amatir yang mendamba peranti “lux”, atw mengeluhkan peralatan. tak semua amatir butuh pengakuan dari komunitas atw jejaring sosial. ataupun menambahkan watermark “Blablabla Photoworks” pada fotonya.
    mungkin juga bisa dipertimbangkan lagi tulisan om ken rockwell tentang tingkatan fotografer.

  • jokowi Januari 9, 2013, 12:23 am

    klo menurut saya, pro itu menguasai semua masalah dalam fotografi

    misalnya dari kondisi ini tau harus menggunakan lensa apa, juga
    dapat menguasai kamera yang dia punya dengan sempurna, juga
    menguasai lightning, dan bisa menerapkan konsep fotografi.

    fotografer pro itu, dia tau harus beli apa.. dan dia membeli sesuai dengan kebutuhannya, juga dapat menguasai dengan baik.,

    sekian

    salam jepret

  • indskeuheul Januari 9, 2013, 2:34 am

    :) sepertinya saya masih amatir :D

  • Nurdin AR Januari 9, 2013, 6:54 am

    Sekarang bagi saya sangat jelas setelah membaca artikel ini. Namun saya jadi semakin bingung juga posisi saya berada dimana, pro bukan apalagi amatir? Setelah 3 tahun secara serius menggeluti bidang ini, ikut berbagai pelatihan, membeli buku-buku, majalah membaca, download berbagai artikel mengenai fotografi diberbagai situs, menonton di youtube dan lain-lain. Itu semua hanya untuk menambah dan meningkatkan wawasan saya di bidang ini. Saya termasuk tipe orang yang tidak mau setengah-setengah dalam mempelajari sesuatu yang saya anggap baru, menarik dan sangat menantang. Saya tipe orang yang suka jalan-jalan, selain menikmati pemandangan, bertemu orang2 baru, mengenal adat istiadat, kemudian mengabadikannya. Apa yang saya temukan tersebut saya tulis di blog dan membagikannya, sungguh sesuatu yang sangat menyenangkan, walaupun tidak ada imbalan materi, malahan banyak pengeluaran untuk melakukan kegiatan ini.Kebetulan saya memiliki budget yang lumayan bagus dan telah memiliki beberapa lensa mulai dari berkelas standar sampai sangat bagus (menurut review dari beberapa pengamat fotogafi), berbagai filter dari klas kuaci sampai kelas apa pokoknya goodlah,he he he. Jadi beri saya pencerahan supaya saya tidak bingung dan terima kasih telah berbagi. Salam,Nurdin, AR Alumnus kursus kilat fotografi angkatan III

  • Enche Januari 9, 2013, 11:36 am

    @Pak Nurdin, melihat dari tingkat konsistensi bapak dalam bidang ini, bisa dibilang saat ini posisi bapak lebih mengarah ke pro pak :) Tulisan ini memang terinspirasi dari salah satu tulisan bapak tentang “fotografer” di facebook he he he. Semoga menjawab kebingungan bapak.

  • Hody Hartono Januari 9, 2013, 11:50 am

    Jadi apakah berarti watermark itu tidak penting ?
    ada sebagian orang mengatakan watermark itu merusak foto.
    Bagaimana menurut Ko Enche ?

    • Enche Januari 9, 2013, 12:05 pm

      @Hody Saya sendiri jarang mengunakan watermark karena mengganggu perhatian dari fotonya. Tapi saya pahami ada banyak fotografer yang memakai watermark untuk tanda pengenal, menghindari “pembajakan” foto, atau promosi. Menurut saya, kalaupun mau pasang watermark, jangan terlalu berlebihan misalnya panjang-panjang dan besar-besar. Penempatannya juga jangan ditengah-tengah he he he

  • Aris Daeng Januari 9, 2013, 12:21 pm

    Pro vs Amatir sm2 tukang foto hahaha (y)

  • NHK Januari 9, 2013, 1:03 pm

    “..dan kemudian sibuk mentag orang-orang yang berada di jejaring sosial dengan agresif.”

    itu tipe saya sekali.. jadi malu sendiri hehe…
    Artikelnya joos mas Enche.

  • halim inside Januari 9, 2013, 7:02 pm

    Menarik pembahasannya.. Komen-komen nya juga gak kalah menarik.. *menyimak*

  • Andre Januari 9, 2013, 7:07 pm

    trima kasih untk tulisannya…

    bgi sya tlisan ini sbg pencerahan dan membuat para fotografer lainnya mnjadi termotivasi utk lbih mendalami dunia Fotografi….

    salam Jepret….^^

  • sena Januari 9, 2013, 7:47 pm

    untuk masalah watermark om enche
    watermark yang “seharusnya” bagaimana ?
    karena kebanyakan orang menggunakan blabla photoworks dan blabla photography
    dan untuk amatir memang tepat sekali tulisan om enche, pengalaman seorang teman yang tidak puas dengan hasil fotonya menyalahkan gear dan pada akhirnya dia upgrade gear. dan hasilnya ? sama saja

  • Mark Januari 9, 2013, 10:04 pm

    Terima kasih atas infonya Pa.. Benar-benar sangat membantu.

  • kennoy Januari 10, 2013, 9:39 am

    Nice written!….untuk masalah pro dan amatir dalam fotografi, saya suka pendapatnya Jokowi :)

  • Fahreza Januari 11, 2013, 1:10 am

    Kalau menurut saya, fenomena hasil jepretan fotografer pro yang kalah dari fotografer amatir yang jepretannya lebih bagus itu bisa dianalogikan dengan masakan koki kantin yang kalah enak dibanding masakan seseorang yang hobi memasak. Walaupun rasanya biasa saja, si koki kantin tetap terus memasak meskipun dia sedang tidak mood. Sedangkan si pehobi masak tidak mau memasak kerika sedang tidak mood atau sibuk.

    Jadi pelabelan pro itu menurut saya lebih ke attitude, prioritas, dan tanggung jawab terhadap pekerjaannya, walaupun hasilnya lebih jelek dari amatir. Fotografer pro akan terus bekerja (konsisten) meskipun dia sedang tidak mood, tertekan atau halangan lain, memprioritaskan fotografi di atas pekerjaan lain karena itulah pekerjaan utamanya. Sementara fotografer amatir tidak bekerja bila dalam keadaan tidak mood atau ada halangan lain, sehingga kita akan melihat karya-karyanya bagus karena dia hanya memotret dalam kondisi mood yang baik dan persiapan yg cukup. Jadi seolah-olah kita melihat semua karyanya bagus yang konsisten. Fotografi bukan priotitas karena dia memiliki pekerjaan lain yang lebih diutamakan.

    Soal karya yang bagus atau tidak, konsumen lah yang menilai, bukan sesama fotografer. Sulit menentukan standar foto yang bagus. Misal: karya si pro A lebih jelek dari karya si amatir B. Tapi karya si amatir B lebih jelek kalau dibandingkan karya si pro C, sementara si pro C kalah dibandingkan si amatir D, dan seterusnya… jadi siapa yang benar-benar bagus?? Kira-kira begitulah menurut pandangan saya.

  • haryadi be Januari 11, 2013, 1:49 pm

    waaaah! baru baca nih. . dri awal saya jepret buat mapping doank. .brrt saya amatir meski sekali2 ada yg beli. .:D

  • Eko Januari 13, 2013, 4:21 pm

    Tulisan yg menarik :)
    btw. tulisan2 soal aspek bisnis photografi (bgmn menjual karya, menghasilkan pendapatan, hidup dari fotografi, tip dan trik, seputar itu lah) mungkin juga menarik untuk dishare di sini :) tks

    Bukannya agak aneh memberikan gelar “pro” kepada tukang foto keliling dan “amatir” kepada fotografer yang menghasilkan karya yang spektakuler tapi tidak menjual jasa/karyanya?

  • locogorilla Januari 18, 2013, 8:03 am

    Menurut saya: soal pro or amatir gak penting si. Yg penting passion dan determinasi belajar… Gak bangga n sombong di bilang pro.. Dan gak sedih n mundur dibilang amatir…. Pendapat sy lho ya..

  • Denlin Januari 25, 2013, 7:34 pm

    amatir atau pro menurut saya tidaklah penting, karena pro juga tidak menutup kemungkinan menghasilkan gambar yang lebih baik dari orang yang baru beli kamera kemarin sore, yang terpenting terus berkarya dibidang seni fotografi

  • Chrisna Sitepu Januari 28, 2013, 4:48 pm

    Tulisan yang menarik.
    saya juga ingin mendefinisikan arti dari fotografer amatir dan fotografer pro menurut pendapat saya pribadi.

    memang agak sulit untuk merumuskan batasan antara fotografer amatir dan fotografer pro.

    terlepas dari karya yang dihasilkan oleh seorang fotografer itu ( mau jelek, biasa aja, lumayan bagus, bagus sekali, atau mungkin sangat bagus sekali ). menurut saya, predikat fotografer amatir maupun fotografer pro itu tergantung cara sang fotografer tersebut menghargai hasil karyanya sendiri dan penilaian atau pengakuan dari orang orang yang menikmati atau menggunakan karya atau jasa dari fotografer tersebut.

    Seorang tukang foto keliling juga bisa dikatakan sebagai seorang fotografer pro jika dia bekerja dengan profesional, yaitu ia mendapat imbalan atau dibayar sesuai dengan karya yang dihasilkannya. tentunya setelah ia melalui berbagai rintangan, misalnya ia harus menempuh jarak yang lumayan jauh untuk bisa mendapatkan order atau job. Dan dia dibayar karena clien atau pengguna jasanya merasa puas dengan dengan karya yang dihasilkannya. ( kembali soal bagus atau tidaknya sebuah karya, itu tergantung siapa yang menilainya ).
    hanya saja yang menjadi pembeda adalah nilai nominal atau harga yang diterima. harga atau tarif seorang fotgrafer yang merima job untuk membuat foto suatu product terkenal dan bonavit tentu berbeda dengan harga atau tarif seorang fotografer yang melakukan pemotretan pernikahan di kampung kampung.

    Jika saya sebagai clien atau pengguna jasa seorang fotografer. mungkin saya akan mengatakan bahwa seorang tukang foto keliling itu seorang fotografer pro, karena saya sangat puas dengan foto yang dihasilkan serta cara kerja dan pelayanan yang diberikan. dan mungkin saya akan mengatakan seorang fotografer yang sangat terkenal, memiliki studio yang besar dan peralatan yang mewah sebagai seorang fotografer amatir. karena saya tidak puas atau tidak suka dengan foto yang dihasilkan serta cara kerja dan pelayanan yang diberikan.

    jadi kesimpulannya. menurut saya pribadi, perbedaan antar fotografer amatir dan fotografer pro tergantung penilaian dan penghargaan seseorang terhadap hasil karya seorang fotografer.

    sebab penilaian dan penghargaan seseorang terhadap hasil karya fotografer tentu berbeda beda antara seorang dan seorang lainnya.
    ( tergantung tingkat pendidikan, ekonomi, tempat tinggalnya, selera, dan pengetahuannya tentang fotografi )

    salam jepret…. :)

  • Dharma Januari 28, 2013, 8:09 pm

    ya menurut saya watermark sih penting untuk pencegahan penyalah gunaan foto ( Promosi, dll) tanpa izin, kalau pun dia ingin menggunakan foto kita untuk dipakai di public ya dia bisa menghubungin si fotografer tersebut dan membeli hasil karyanya tanpa watermark. itu baru menghargai karya orang lain.

  • Anwar Januari 30, 2013, 10:12 pm

    Setuju…..di daerahku banyak fotografer yg dianggap amatir justru hasil karyanya lebih bagus ketimbang yg di sebut fotografer pro….

  • Luthfi Januari 31, 2013, 9:44 pm

    Menurut saya, pro itu bkn level skill si fotografer.
    Saya lebih setuju level skill yg tinggi itu menggunakan kata ‘expert’ daripda pro.
    Soalnya pro itu asal katanya dari profesional, artinya itu merupakan suatu profesi. Jd itu fotografi itu dijadikan job, tumpuan hidup. jd tidak menjamin juga hasilnya bagus.
    Walaupun ada bau kencur yang gak ngerti fotografi, selama dia mencari uang dari foto. dan itu di jadikan profesinya. maka ia bisa disebut profesional :)

  • Thomas Februari 5, 2013, 7:48 pm

    sedikit cerita aja, pengakuan orang-orang kadang bisa membantu kepercayaan diri.. karena bagaimanapun sebagai seseorang yang berkarya, kepuasannya ya saat orang-orang memberikan apresiasi yang bagus untuk karyanya, walaupun belum tentu apresiasi orang-orang itu benar…
    Salam fotografi….

  • YAN Februari 20, 2013, 8:28 pm

    ini tulisan hebat penuh dengan sindiran dan cibiran namun juga menggoda hati untuk membacanya sampai tuntas. sindiran bagi pro dan cibiran bagi amatir. dunia ini memang ada dua,siang dan malam pagi dan petang, kanan dan kiri dst.
    ada siang karena ada malam. ada pro karena ada amatir. jadi menurut saya perbedaan antara yang pro dan amatir sangat kontras seperti siang dan malam atau seperti kiri dan kanan. saya pribadi tidak tahu termasuk yang mana. hanya saja saya menafkahkan anak dan istri dari jualan fhoto.

    • Enche Februari 20, 2013, 10:17 pm

      @YAN terima kasih atas komennya yang menarik :)

  • Romel Abdul Maret 13, 2013, 10:03 am

    Bener banget banyak orang bingung dengan definisi pro dan amatir (dalam berbagai bidang kerja), tulisan ini dengan jelas mendefinisikan antara pro dan amatir, jadi parameternya bukan hanya materi (uang).

    nice info pak…. :)

  • ryo nugroho April 11, 2013, 10:09 am

    setuju mas bro…dengan pendapat ini…. tp sekali lagi ini masalah seni sih…sedangkan seni fotografi sesuatu yang sulit diukur.. setiap orang pnya standar masing2…
    tetap semangat untuk para fotografer indonesia….
    Salam

  • Arie April 15, 2013, 1:07 am

    Hehe.. Mau tidak mau, bagaimanapun istilah profesional atau amatir memang berkaitan dgn pembayaran atau kompensasi dari yg dihasilkan, karena memang arti dr segi bahasa memang demikian (silahkan cek di kamus bhs indonesia). Terkadang kt sering terjebak sndr, pro itu pasti karyanya djamin “wah”, sedangkan amatir sebaliknya. Padahal ukurannya bkn disitu, tp apakah ada kompensasi dr usahanya itu. Jd walaupun seseorang fotografer keliling djalanan dan hasil fotonya pas2an tetap dkatakan pro, dan pehobi foto yg hunting keliling dunia dgn hasil foto “wah” nmn tidak menghasilkan kompensasi tetap namanya amatir. Ini dr segi arti bahasa.

  • rusli ferdian April 28, 2013, 11:29 am

    hohoho…om enche salam kenal…wah membangun sekali tulisan yg diatas buat saya pribadi :D…

    • Enche Mei 2, 2013, 8:08 pm

      @rusli salam kenal juga. Trims untuk tanggapannya :)

  • krisnakal Mei 6, 2013, 3:49 pm

    hanya dari sebuah artikel yang bisa dibilang “simpel” ini, bisa jadi berkembang luas. komen yang membangun, juga kata2 yang mudah diartikan.
    om enche emang kreatif dalam milih kata2. jadi semangat baca nih gara2 artikelnya om hehehe :)
    kenapa om nggak ngebahas cara menggunakan kamera digital bagi pemula?? :)

    • Enche Mei 6, 2013, 4:04 pm

      Trims kris, banyak kok artikel2 berisi tips menggunakan kamera digital dan lensa di infofotografi.com. Yang penting saya daftarkan di halaman ini

  • ben2 Mei 31, 2013, 11:47 am

    kadang yang bikin jengkel, kalo uda dibikin dokumentasi jalan2, lalu diupload, kadang ada aja yang komentar, kok cuman segini fotonya, tambahin lagi dong. padahal itu yang dipilih yang terbaik. ==’ one does not simply.

  • Dimas Juni 13, 2013, 9:03 am

    mmm…saya malah suka ngasih watermark untuk foto2 prewedding saya, abis sayang sih trafic suka lari ke website orang, khususnya mereka yang suka copypast, padahal kan ditaro di website kita untuk jualan… halah…nasib bisnis di dunia maya. bedanya Pro sama Amatir ya

    PRo : Benar2 cari duit dari situ (fotografi)
    Amatir : Sekedar sampingan. dia punya kerjaan tetap di luar fotografi (ngantor misalnya)

  • dewi Juli 4, 2013, 6:17 pm

    Kalo menurutku, Pro tidak semata-mata karena uang saja, fotografer jurnalistik misalnya, mereka tiap hari tenteng kamera abadikan momen utk dimuat di media tempat di mendapat uang, apa mereka tidak bisa dikatakan pro? tolong penjelasan enche, thx

    • Enche Juli 4, 2013, 6:28 pm

      @dewi ya tergantung mengartikan “pro” itu sendiri, soalnya bisa diartikan sebagai profesional dalam arti menghasilkan uang, dan gak sedikit juga mengartikan kata “pro” sebagai kata ahli di bidangnya. Ada juga yang gak gitu jelas seperti yang disebut diatas. Banyak fotografer yang bersifat freelance, kadang karyanya dibayar, kadang tidak.

  • Toyib Official Agustus 21, 2013, 12:07 pm

    tulisan ini lebih ke opini, bukan definisi secara bahasa, tapi nggakpapa karena membuahkan banyak komentar bermutu,,

  • haidir Agustus 27, 2013, 12:47 pm

    menurut saya tidak penting yg namanya pro atau amatir,, klo masalah hasil foto sih tergantung si penilainya, kadang seseorang ingin fotonya dilihat, dan terkadang ingin dinikmati sendiri. saya pernah dengar seorang fotografer, kalau ga salah dikalimantan tengan, saya tidak sebut pro atau amatir terserah si penilainya, kadang dalam setahun cuman 3 gambar saja, dan sepengetahuan saya dia adalah seorang. dan hasil gambarnya sangat luar biasa..

  • RVN Januari 20, 2014, 1:41 pm

    menurut saya amatir kebagi atas 2 kategori yaitu tingkat pemula dan advance. di tingkat pemula mereka hanya mempelajari fotografi dari kulitnya saja dan mudah terombang-ambing tekadnya. sementara advance amatir golongan yg sudah mendalami fotografi secara lebih mendalam dan mempunyai pendirian dan tujuan fotografi yg kuat serta dibekali oleh skilll yang mahir :)

  • Jundi Maret 6, 2014, 4:07 pm

    Mantap om,, saya sekarang sedang beralih menjadi pro,, walau hanya pake kamera pocket doank.. soalnya ga ada uang beli yang SLR.. padahal kepengen banget,, karena saya juga pehobies fotografi dan jalan-jalan serta berpetualang di alam liar.

  • joko waluyo April 21, 2014, 5:08 pm

    Sangat terinspirasi

  • ary astaparock Juli 14, 2014, 2:11 pm

    menurut saya , photografer pro dapat diartikan sebagai orang yang menguasai bidangnya secara menyeluruh, mulai dari lighting, lensa dan lain-lain. sehingga ketika klien memberikan konsep photo yang diinginkannya, maka sang photographer mampu mengaplikasikannya dalam bentuk gambar/ photo sesuai dengan yang diiginkan oleh klien! Profesioanal bisa diartikan sebagai orang yang ahli atau spesialis dibidangnya, menurut saya begitu mas bro, salam jepret :)

  • Rahmat Agustus 13, 2014, 9:25 pm

    kl menurut saya pro itu profesional/jago senentara amatir itu belum jago/pemula… masalahnya sekarang: seorang fotografer pro apakah bisa disebut pro bila hanya bisa nenggunakan kamera saku dan prosumer dgn sangat baik sekali tapi tidak pernah menggunakan SLR/DSLR? pertanyaan selanjutnya apakah seorang fotografer pro tapi tidak pernah mengikuti lomba foto atau sering ikut lomba foto tp jarang menang apa bs disebut pro? trm ksh atas jwbnnya. salam jepret.

    • Enche Tjin Agustus 14, 2014, 2:36 pm

      Menurut saya fotografer pro tidak tergantung alat yang dipakai. Sering menang atau kalah di lomba foto juga tidak menentukan fotografer itu pro atau tidak.

  • Rahmat Agustus 14, 2014, 7:20 pm

    makasih banyak Om atas pencerahannya.

  • apurnomo September 7, 2014, 8:49 pm

    Pendapat saya, hasil foto seorang pro bisa dilihat dari bidikan menggunakan kamera lama SLR (KAMERA pake roll FILM) karena kalo pake kamera skrg DSLR(KAMERA DIGITAL pake memory card) semua hasilnya pasti sempurna, sesaat setelah bidikan langsung keliatan hasilnya, bahkan semua bisa dihapus/ diedit / manipulasi dg kecanggihan kamera /komputer, semakin canggih kamera membuat kita semakin amatir. Pro sangat mengutamakan efektivitas bidikan dan moment, amatir akan mengandalkan editan dan sortiran dari banyak bidikan hasil coba coba settingan kamera. Kalo anda pernah menjadi fotografer pada era menggunakan roll film(SLR), anda pasti mengerti betapa berharganya satu pcs film yg berarti juga satu bidikan/ moment.

Leave a Comment