≡ Menu

Jangan terperangkap kualifikasi

Artikel ini berasal dari salah satu tips yang saya tulis di buku Fotografi itu Mudah!: 100+ tips dunia fotografi. Beberapa pembaca memberikan feedback bahwa mereka sangat menyukai tips ini. Tanpa saya sadari, tips ini belum dimuat di Infofotografi 🙂 Inilah tips ke-50: Sebuah tips yang berarti bagi saya dan mudah-mudahan bermanfaat buat semua:

Di dalam hidup dan khususnya fotografi, apakah kualifikasi seperti titel, diploma, sertifikat, dan lain lain dibutuhkan untuk sukses? Menurut saya, kualifikasi semacam itu tidak dibutuhkan.

Salah satu kutipan favorit saya berasal dari Soechiro Honda (pendiri Honda Automotive)

“Tiket untuk menonton film lebih bernilai daripada ijazah sekolah”

Ucapan ini dilontarkannya saat Honda baru berusia 15 tahun.

Ironisnya, masih banyak orang yang mencari sertifikat daripada ilmu yang sebenarnya. Tidak jarang saya menerima telpon yang menanyakan apakah saya menyediakan sertifikat setelah mengikuti kelas-kelas fotografi saya.

Kira-kira 10 tahun yang lalu, saat saya mengikuti pelatihan, ada peserta yang sudah menguasai semua materi pelatihan. Saat ditanya mengapa dia mengikuti pelatihan tersebut oleh instruktur, dia mengungkapkan dia membutuhkan sertifikat tersebut untuk karirnya. Menurut saya, langkahnya sangat disayangkan karena membuang waktu dan uang untuk hadir di pelatihan tersebut.

Hal ini tidak terlepas karena adanya pola pikir dan cara sebagian besar perusahaan dalam mengelola karyawannya. Di perusahaan besar, departemen sumber daya manusia (SDM/HRD) biasanya mengkaji berbagai kualifikasi entah itu diploma, sertifikat dan jabatan lama seorang calon karyawan.

Kualifikasi ditentukan oleh perusahaan karena efisiensi penting bagi mereka. Perusahaan menganggap ongkos terlalu mahal jika mewawancarai satu per satu aplikasi lamaran kerja. Perusahaan lebih mempercayai data yang ada di lembaran CV daripada kualitas sebenarnya dari aplikan tersebut.

Jika perusahaan mencari robot untuk bekerja di perusahaan tsb, cara menyortir calon karyawan dengan metode diatas memang efisien. Tapi kalau perusahaan ingin mencari seseorang seperti Bill Gates, Steve Jobs, Mark Zuckenberg atau orang-orang yang dapat mengubah perusahaannya bahkan dunia secara radikal, metode ini kurang efektif.

Saya memiliki dosen saat saya kuliah di Bucknell University. Beliau bernama William Gruver. Professor favorit saya ini adalah mantan eksekutif tinggi di sebuah perusahaan investasi yang besar. Dari kerjanya berpuluh tahun, beliau sudah mencapai kebebasan finansial dengan pendapatan ratusan ribu Dolar AS perbulan. Saat pensiun, beliau ingin menyumbangkan ilmunya untuk generasi penerus dan pernah melamar untuk mengajar sebagai guru SMA, tapi ditolak karena tidak memiliki sertifikat sebagai guru dan juga hanya bertitel S2. (Di Amerika Serikat, penerimaan kualifikasi guru / dosen sangat tinggi, minimal S3 / Phd untuk mengajar di universitas).

Untungnya, Bucknell University tidak mementingkan kualifikasi tapi lebih ke hasil karya profesornya menerimanya sebagai dosen. William Gruver diterima mengajar di Universitas tersebut dan merupakan profesor (dosen) terbaik yang saya pernah dapatkan selama disana dan sering menerima penghargaan.

Jika menuruti aturan kualifiikasi, saya juga tidak berkualifikasi sebagai fotografer karena saya tidak kuliah di jurusan fotografi. Saya juga tidak berkualifikasi sebagai instruktur fotografi karena tidak memiliki sertifikat sebagai guru atau tidak pernah kuliah di jurusan pendidikan. Saya juga tidak berkualifikasi sebagai penulis karena saya tidak sekolah di jurusan sastra. Tapi nyatanya alumni kursus kilat saya sudah lebih dari 1000 orang, sebagian besar mengikuti 4-5 kelas lanjutan. Sebagai penulis blog dan buku bertema fotografi, buku yang saya tulis sudah dicetak dan terjual lebih dari 25,000 buku.

Jika saya memilih melamar kerja di sebuah perusahaan, paling-paling saya jadi karyawan dengan gaji pas-pasan, cukup untuk bayar apertemen sederhana, makan dan bensin. Karena umur saya sudah kepala tiga, mungkin saya malah tidak akan diterima sama sekali, kalah sama yang muda-muda yang masih segar-bugar, bersedia lembur, berkualifikasi lebih tinggi dan rela dibayar lebih murah.

Saran saya adalah jangan biarkan kualifikasi menghambat kita melakukan apa yang kita sukai, jadikan karya kita yang berbicara lebih lantang daripada data-data id CV kita. Cari perusahaan yang menghargai kemampuan kita, bukan aturan kualifikasi semata. Kalau belum ketemu perusahaan yang seperti itu, cari terus atau buka usaha sendiri! Seringkali, Anda bernilai lebih tinggi daripada yang Anda pikirkan.

About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Google+ dan Instagram: enchetjin

{ 15 comments… add one }
  • Ferry T July 14, 2017, 10:25 pm

    wah seperti itu ya mas…jadi sebaiknya gaperlu sertifikasi ya …

  • Fauzi March 11, 2015, 12:47 pm

    Pak, saya pengen banget jadi fotografer, tapi saya gak pernah sekolah fotografi, atau ikut kursus gitu. saya cuman belajar sendiri dari buku2 dan juga internet, itu bisa menunjang gak pak..???

    • Enche Tjin March 13, 2015, 12:58 pm

      Bisa saja, banyak juga fotografer belajar secara otodidak. Tapi kalau ikut sekolah fotografi atau kursus, secara pengalaman saya, lebih cepat bisanya. Hemat waktu dan juga bisa dapat saran kritik/penilaian dari yang lebih pengalaman.

  • leo January 30, 2014, 3:55 am

    yah mau gk mau om kalo di negara kita ini.
    sebagai contoh, walau gak berhub dengan foto grafi.
    senior saya malang melintang di dunia audit perbankan selama 25 tahun. hasil temuan audit naik menjadi kasus di pengadilan. senior saya di minta pengadilan menjadi saksi ahli. namun tidak di ijinkan oleh hakim karena disimplin ilmu yg dimilikinya adalah S1 Tehnik, Bukan Ekonomi.

  • pikopoto November 22, 2013, 8:25 pm

    keeren om tulisan nya…
    Saya setuju yang penting kita punya skill dan tetep mau belajar dan berkarya, selembar ijasah/sertifikat ga berarti kalo kita males belajar dan berkarya. Jeprettt…tewewew

  • Adit May 21, 2013, 9:46 am

    bener om En.. saya pernah hadir di suaru seminar foto yang dimana sebagian pesertanya waktu itu meributkan tentang sertifikat yang akan diberikan. bahkan karena mendebatkan hal itu sampai memakan waktu seminar karena antara panitia dan peserta sedang ‘diskusi seru’.

    dalam hati saya sempat heran, ngapain sih pada ngeributin sertifikat. penting banget yah? toh juga untuk apa..

    saya sepemikiran dengan om En. akan tetapi mungkin sistem yang membuat perubahan perilaku orang seperti itu.

    kalo saya sih nggak pernah pusing dengan sertifikat dan lain-lain.. hehe

  • mang uday May 20, 2013, 8:34 pm

    salam sejahtera Mang mau ikutan neeh jadi tukang kekeur…saat ini Mang punya cam canon EOS 560 D.masih asli(bukan mau di jual ) gimn cara nya bisa mendapat kan hasil foto yg baik dan sempurna…apa harus ditambah lensanya..kira2 yg cocok ukuran berapa…makaseh Sipu..imfonya.

    • Enche May 21, 2013, 10:10 am

      @mang Sepertinya gak ada tu EOS560D, 550D kali?

  • Akang Rif'an May 19, 2013, 7:53 am

    Seringkali, Anda bernilai lebih tinggi daripada yang Anda pikirkan. Cyus..ini keren…
    Oya om…kayaknya gak perlu buat blog lagi deh. Ini aja..cuma nambah page atau label saja…hehehe
    Kalau untuk karier, sementara ini hobby fotografi buat saya masih sebatas penunjang desain grafis, karena memang belum banyak (teknik dan optimalisasi) yang dapat saya lakukan dengan kamera saya. Mimpi itu masih ada dan saya merasa beruntung bertemu dengan om enche di infofotografi.com dan fb. Jarang-jarang orang pinter mau berbagi dengan pemula. hehehe…

  • Heru saputra May 17, 2013, 10:00 pm

    Masih mencari jalan, memutar otak, agar hoby fotografi ini bisa menjadi usaha buat saya..

  • Steventh May 17, 2013, 7:37 pm

    perlu disiapkan juga yel2 yg mirip salam sup*er / luar b*asa itu

  • Enche May 17, 2013, 11:39 am

    Haha, mungkin saya perlu buat blog baru untuk ide2 seperti ini

  • Tito Djauhari May 17, 2013, 8:56 am

    Sepertinya berbakat menjadi seorang motivator juga nih Om…

  • awan kelabu May 16, 2013, 9:50 pm

    memang titel jauh lebih dihargai(palg yg berderet) dr pada kreatifitas jg pengalaman,sama halnya dgn bekerja disebuah perusahaan jauh lbh dhargai dr pada punya usaha sendiri..
    Padahal tnpa disadari banyak orng yg beranggapan lebih menyenangkan pekerjaan yg dilandasi dari hobi.
    Tp sedikit org yg brani kluar tuk bekerja dari hobinya dan lbh nyaman bekerja dgn pendapatan pasti tiap bulannya sehingga mengejar titel setinggi2nya dan yg mengherankan mreka kuliah hny tuk mendapat ijazah sbg penunjang karir bkn mencari ILMUnya..ironis

Leave a Comment