‚Č° Menu

Liputan tour fotografi Yunnan – Yuanyang, Dongchuan, Kunming

Tour fotografi kali ini boleh dibilang salah satu yang paling unik dan menantang yang pernah saya organisir. Tema utama tour Yunnan adalah pemandangan/landscape terutama daerah pegunungan. Kali ini rombongan yang berjumlah 11 orang (awalnya berjumlah 13 orang, tapi 2 orang pada saat-saat terakhir berhalangan).

Stone Forest, 86 km dari Kunming, Yunnan

Stone Forest, 86 km dari Kunming, Yunnan

Ada tiga tempat utama yang kita kunjungi dalam tour berdurasi seminggu ini, yaitu Dongchuan red land (baca: Tung Chuan), Stone Forest, dan Yuanyang rice terrace. Setiap tempat memiliki keunikan yang menarik. Dongchuan unik karena tanahnya berwarna jingga kemerahan dan ditanami penduduk sekitar dengan berbagai tanaman. Stone Forest di dekat kota Kunming terkenal karena batu-batuan raksasa seakan-akan muncul dari bumi, dan Yuanyang yang terkenal dengan pematang sawahnya yang sangat luas di daerah pegunungan. Selain itu, kita juga sempat menjelajahi kota tua, beberapa desa penduduk sekitar.

Dongchuan, Yunnan

Dongchuan, Yunnan

Cuaca yang dihadapi sangat bervariasi antara satu tempat ke tempat yang lain, di Dongchuan , cuaca cerah tanpa awan dengan sedikit kabut di pagi dan sore hari. Di Stone Forest, suhu sangat dingin di pagi hari (sekitar 5 derajat Celcius) dan berubah drastis menjadi 19 derajat Celcius di siang harinya. Di Yuanyang, kabut menutupi pemandangan hampir sepanjang hari. Kondisi cuaca yang berubah-ubah secara ekstrim ini benar-benar menguji fisik dan mental peserta tour. Butuh tingkat kesabaran yang cukup tinggi, terutama saat berkunjung ke daerah pegunungan di Yuanyang (1100 meter diatas permukaan air laut).

Saat di Yuanyang Hani rice terrace, kita tidak beruntung karena kabut sangat tebal menutupi sebagian besar pematang-pematang sawah yang baru dianugrahi UNESCO sebagai world heritage site. Kondisi berlangsung selama 2-3 hari berturut-turut sempat membuat peserta tour menjadi lemas karena sebagian besar pemandangan tertutup kabut yang sangat tebal dengan jarak pandang hanya sekitar 3-5 meter saja.

Kapan ya, kabut ini akan sirna?

Kapan ya, kabut ini akan sirna? Foto oleh Iesan

Tapi the trip must go on, di hari terakhir kita di Yuanyang, dengan semangat pantang menyerah, kita tetap berusaha menunggu matahari terbit di Duoyishu, salah satu spot populer untuk memotret sunrise. Sebagian besar peserta tetap bangun pagi dan berjalan kaki dalam kondisi cuaca dingin berkabut tebal selama 15 menit. Di gardu pandang, banyak fotografer menantikan sunrise, tapi ironisnya, pemandangan 100% tertutup kabut. Akhirnya di jam 7.40, Kabut tiba-tiba sirna sehingga pemandangan pematang sawah legendaris dan desa Pugao tersingkap. Kejadian itu berlangsung sebentar saja, dalam 15 menit, kabut kembali menutupi pemandangan.

Setidaknya, kami berhasil melihat pemandangan dan mengabadikannya dalam beberapa foto, meskipun kondisi cuaca dan pencahayaan tidak ideal seperti yang kami harapkan, tapi kami bersyukur setidaknya berkesempatan menikmati pemandangan, meskipun hanya 15 menit saja. Setidaknya usaha berangkat pagi-pagi dan menunggu di kondisi cuaca dingin tidak sia-sia belaka.

Pemandangan seperti ini hanya berlangsung sekitar 15 menit, setelah itu kabut tebal menutup pemandangan kembali

Pemandangan seperti ini hanya berlangsung sekitar 15 menit, setelah itu kabut tebal menutup pemandangan kembali

Terima kasih kepada semua peserta tour yang sudah sabar, dan kompak saling membantu dan memperhatikan satu-sama lain. Semoga kita dapat berjumpa kembali di tour fotografi selanjutnya yaitu ke Singapore, tanggal 25-27 April 2014.

About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Google+ dan Instagram: enchetjin

{ 2 comments… add one }

Leave a Comment