≡ Menu

Kendala memotret human interest di China

Memotret foto human interest berupa portrait kehidupan orang lokal saat jalan-jalan itu menyenangkan, tapi banyak kendalanya untuk mendapatkan foto yang bagus. Kendala pertama yaitu dari dalam diri sendiri. Seringkali kita merasa tidak nyaman saat ingin memotret. Misalnya kita merasa malu untuk meminta izin sebelum memotret, atau merasa takut jika ada yang menolak atau marah-marah-marah.

Pada dasarnya, kita memang boleh memotret orang-orang yang berada di tempat umum. Tapi tidak semua orang yang berada di tempat umum senang untuk dipotret. Untuk itu, amannya kita meminta izin. Meminta izin bisa secara verbal tapi bisa juga secara non-verbal dengan bahasa tubuh, misalnya mengangkat kamera, menunjuk ke kamera dan dengan lirikan mata.

Kakek fotogenik ini setiap pagi nongkrong di depan area music hollow (yuepuao hollow). Dari posenya yang rileks, sepertinya kakek ini memang model pro, atau emang narsis :)

Kakek fotogenik ini setiap pagi nongkrong di depan area music hollow (yuepuao hollow). Dari posenya yang rileks, sepertinya kakek ini memang model pro, atau emang narsis 🙂

Pengalaman travel saya selama ini mengajari saya bahwa tanggapan setiap orang berbeda-beda tergantung dari daerah, dan pribadi masing-masing. Saya mendapati orang-orang yang hidup di asia tenggara seperti Indonesia, Thailand, Kamboja dan lain lain pada umumnya tidak berkeberatan untuk dipotret, malah ada yang cenderung senang bercampur malu.

Tapi di China, sebagian besar orang tidak suka untuk dipotret terutama saat mereka bekerja. Alasan utamanya karena saat bekerja, mereka takut terlihat kotor dan tidak rapi. Di China, filosofi jaga image (jaim) atau saving face, lebih besar daripada tempat-tempat lainnya. Maka dari itu, jika berminat memotret human interest di daerah ini, saya sarankan secara candid atau secara diam-diam.

Kiri: Merokok dengan pipa air, Kanan: Nenek yang kaki yang terikat (bound feet) sehingga ukurannya sangat kecil.

Kiri: Merokok dengan pipa air, Kanan: Nenek yang kaki yang terikat (bound feet) sehingga ukurannya sangat kecil.

Di beberapa tempat yang memang sudah populer didatangi turis dalam jumlah banyak, warga lokal dari anak-anak sampai orang tua biasanya sudah terbiasa untuk dipotret. Bahkan tidak sedikit yang sengaja berdandan dengan memakai baju dan aksesoris tradisional yang fotogenik untuk menarik minat turis dan fotografer. Tapi gak enaknya, sebagian besar masyarakat lokal disana biasanya meminta uang jika kita ingin memotretnya. Jangankan memotret, baru mengangkat kamera saja sudah dimintai uang. Jika kita tidak bersedia membayar, mereka akan marah-marah, dan tidak jarang yang meminta uang secara paksa. Saya sendiri tidak begitu menyukai fenomena tersebut. Jika penduduk lokal tidak tulus dan jujur, maka hasil foto terlihat lebih seperti foto portrait konsep/model daripada human interest yang lebih alami.

Jika kita tidak bisa bahasa setempat, memiliki guide yang kenal dengan masyarakat sekitar dan dapat berkomunikasi dengan warga merupakan sesuatu yang plus. Guide yang baik memiliki sifat positif sehingga dapat membuat suasana yang lebih rileks dan subjek pun merasa nyaman. Karena tidak semua orang lokal yang kita temui terbiasa untuk dipotret.

Bagi yang suka jalan-jalan dan ingin bisa foto yang bagus, banyak pelajaran yang bisa dipelajari melalui buku travel fotografi itu mudah! 

About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Google+ dan Instagram: enchetjin

{ 0 comments… add one }

Leave a Comment