≡ Menu

Fine Art Photography

Di acara sharing dan gathering Infofotografi akhir tahun 2014, kita kedatangan fotografer muda, Tandika Cendrawan yang memberi kita wawasan tentang fine art photography (atau dikenal juga dengan conceptual photography).

Fotografi terbagi menjadi beberapa aliran besar, antara lain dokumenter (merekam apa yang nyata baik benda/orang atau peristiwa). Komersial (foto dengan tujuan untuk tujuan membantu untuk menjual sesuatu seperti untuk iklan, brosur, fashion, dan produk lainnya dan tentunya Fine Art photography.

Dari ketiganya, aliran fine art ini lebih sedikit praktisinya. Mungkin karena tingkat kesulitannya yang cukup tinggi, membutuhkan waktu yang cukup banyak dan lebih sulit menghasilkan uang secara langsung. Fine Art Photographer biasanya mendapatkan uang dari menjual karya foto cetak secara langsung lewat pameran/galeri seni.

oleq-oprisco

Karya Oleg Oprisco

Lalu, foto apa yang termasuk seni (art), yang mana yang merupakan craft (ketrampilan). Fotografi sebenarnya termasuk keduanya, art and craft. Fotografer yang cenderung mementingkan teknik foto, peralatan (kamera, lensa), komposisi desain, berarti lebih kuat di craft-nya. Sedangkan fotografer yang cenderung art, biasanya lebih peduli dengan makna (meaning), concept (ide) dan mood dan emosi.

Bukan berarti fotografer fine art tidak peduli teknik, tapi sebaliknya perlu menguasai teknik foto dan editing supaya pesan / konsep foto tertuang dengan sempurna di hasil akhirnya. Biasanya, yang termasuk fine art photography biasanya adalah:

1. Sesuatu yang abstrak dan simbolis/konsep

Yang dipentingkan oleh fotografer Fine Art adalah makna di balik apa yang didalam foto. Contoh: Payung sebagai simbol pelindung. Angsa sebagai lambang romantis. Kursi sebagai lambang santai, rileks. Lonely tree melambangkan kesendirian/isolasi.

2. Mengunakan efek khusus, properti dan editing

Membangkitkan perasaan tertentu merupakan tujuan dari fotografer Fine Art, maka itu tidak sedikit efek khusus seperti lighting, asap, air, kostum, make-up, editing. Tujuannya adalah untuk mendramatisir suasana dan membangkitkan mood/emosi pemirsa.

Karya Brooke Shaden

Karya Brooke Shaden

Fine art photography bukan:

1. Dokumentasi dari kehidupan atau benda sekitar secara nyata dan akurat.

Fotografer Fine Art tidak mementingkan peristiwa, tempat, dan objek foto kecuali jika memiliki makna/emosi yang tersirat. Contoh: Liputan foto keluarga saat jalan-jalan, foto produk, portrait kecantikan, fashion, human interest dan lain lain.

2. Cuplikan / detail dari benda atau lingkungan

Yang menarik karena bentuk, susunan, dan tekstur, tapi tidak menggugah emosi atau memiliki makna yang mendalam. Contoh: Sisi kota atau bangunan tua, desain, detail lainnya.

Cuplikan dari sebuah kios di sebuah pasar tidak termasuk Fine Art Photography, tapi hanya sebuah desain.

Cuplikan dari kios di sebuah pasar tidak termasuk Fine Art Photography, tapi hanya sebuah desain. – foto Enche Tjin

Untuk membuat foto fine art, perlu ada hubungan emosi yang kuat antara fotografer dengan objek fotonya. Maka itu, biasanya fotografer fine art memilih objek/lingkungan yang disukainya. Contohnya ada yang suka alam bebas, ada yang suka tempat tertutup. Ada yang suka motret makro karena memang suka dan memahami prilaku serangga, dan sebagainya.

Kesuksesan dari fine art photographer tergantung dari apakah maksud/perasaan fotografer yang ingin dikomunikasikan sampai ke pemirsa, dan tentunya merupakan hal yang tidak mudah.

Saat ini, banyak juga pengaruh fine art ke fotografi jenis lainnya, misalnya fine Art wedding photography, fine art portrait, fine art fashion bahkan fine art photojournalism.

Beberapa referensi fotografer terkenal di bidang fine art
Brooke Shaden
Oleg Oprisco
Alex Stoddard
Andreas Gursky

Fotografer bidang lain tapi sangat dipengaruhi oleh Fine Art:
Ansel Adam (landscape)
Henri Cartier Bresson (photojournalism dan street photography)
Sebastiao Salgado (Documentary photography)
Steve McCurry (portrait and travel photography)
Peter Lik (landscape)
Jose Villa (wedding)
Jeff Ascough (wedding & portrait)
Zhang Jingna (fashion & portrait)

——————
Jadwal kursus kilat dan workshop fotografi bisa dibaca disini.

About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Google+ dan Instagram: enchetjin

{ 3 comments… add one }
  • Ichal March 25, 2015, 12:29 am

    Yang saya mau tanyakan bg, konsumen untuk fotografi Fine Art ini kira kira orang yang gmn ya bg? tak ngerti aku kadang 😀

    • Enche Tjin March 25, 2015, 10:33 am

      Peminat seni dan kolektor seni 🙂 Biasanya dijual melalui Pameran/Gallery.

Leave a Comment