≡ Menu

Review Fujifilm X-T1 dengan lensa 10-24mm dan 56mm

Fujifilm X-T1 merupakan salah satu kamera mirrorless yang populer saat ini, terutama bagi penggemar fotografi serius. Saya beruntung beberapa kali dipinjamkan kamera Fujifilm XT-1 oleh beberapa teman penggemar fotografi. Untuk review kali ini, saya dipinjami Fuji X-T1 dan dua lensa yaitu lensa lebar 10-24mm f/4 OIS dan lensa portrait / medium telefoto 56mm f/1.2.

fuji-xt1-10-24mm

Saya akan review secara singkat kamera ini dari sudut pandang pengguna kamera DSLR. Kamera mirrorless jenis ini biasanya memang dipilih penggemar fotografi yang pernah mengunakan kamera DSLR tapi ingin mencari kamera alternatif yang lebih ringan. Tapi apakah XT-1 bisa menggantikan kamera DSLR atau bahkan lebih baik lagi?

mayanda-nabila-02Fujifilm X-T1, lensa 56mm f/1.4, 1/750 detik – Model: Mayanda Nabila

Desain dan body

Fujifilm XT-1 mengunakan desain klasik jaman kamera film sehingga tampak berbeda dengan kamera DSLR atau mirrorless modern. Dibagian atas kamera terdapat tiga roda untuk mengganti ISO, shutter speed dan kompensasi eksposur. Juga ada beberapa tuas antara lain untuk mengganti fungsi drive mode dan metering. Dibagian depan dan belakang kamera, terdapat dua roda dial untuk mengganti nilai setting, bisa juga digunakan untuk mengubah bukaan dan shutter saat memasang lensa Fuji XC yang tidak memiliki aperture ring. Dengan adanya 8 roda dan tuas tersebar di bagian atas dan depan kamera, maka fotografer tidak perlu sering masuk ke menu untuk mengganti setting kamera.

fuji-xt1-top

Kamera ini tidak memiliki roda untuk mengganti mode kamera seperti Auto, P, S/Tv, A/Av, dan sebagainya. Mengatur mode exposure di Fujifilm X-T1 melalui cara yang saya bahas di artikel ini.

Sebagian besar casing body kamera terbuat dari logam dan saat menggengamnya terasa lebih padat dari kamera mirrorless Fuji X-PRO1. Dimensi body kamera tidak besar, yaitu 129 x 89.8 x 46.7mm, tapi cukup berat yaitu sekitar 445 gram (belum termasuk lensa). Dengan demikian X-T1 ini beratnya kurang lebih sama dengan kamera DSLR pemula seperti Nikon D3300 (460 gram), tapi lebih ringan dibandingkan kamera DSLR semipro seperti Canon 70D (755 gram).

Pegangan Fujifilm XT-1 menurut saya agak kecil, sehingga saat dipasang dengan lensa zoom agak sedikit timpang. Solusinya bisa dengan aksesoris handgrip tambahan seperti gambar dibawah ini, tapi tentunya menambah bobot sekitar 120 gram. Totalnya menjadi 565 gram yang kurang lebih seberat kamera DSLR pemula seperti Canon 700D.

x-t1-grip

Saya juga kurang menyukai pilihan shutter speed di roda dial yang sedikit (sekali melangkah 1 stop), sehingga saat saya ingin memilih shutter speed 1/45 detik, selain harus memutar roda dial di atas kamera, saya juga harus memutar roda dial di belakang kamera untuk memilih nilai shutter speed yang saya inginkan. Mengganti nilai ISO juga tidak mudah karena ada tombol pengunci ditengah. Perlu banyak latihan untuk bisa mengganti setting exposure dengan cepat.

Jendela bidik Fujifilm XT-1 merupakan yang terbesar ukurannya untuk kamera mirrorless saat ini. Jauh lebih besar dari kamera Fuji lainnya seperti seri XE, X-PRO dan X100. Kualitasnya sangat baik, Anda bisa melihat dengan jelas apa yang akan dipotret dengan jelas dan terang. Banyak informasi yang ditampilkan di jendela bidik, antara lain nilai exposure, lightmeter, Dynamic Range, ukuran foto, film simulation, virtual horizon, dan autofocus area. Ukuran viewfinder ini bahkan lebih besar dari jendela bidik kamera DSLR full frame seperti Nikon D810.

Jendela bidik X-T1 - ilustrasi dari situs Fujifilm

Jendela bidik X-T1 – ilustrasi dari situs Fujifilm

Dual mode

Dual mode

Untuk manual fokus di jendela bidik, Fujifilm sangat inovatif, selain ada focus peaking, juga ada dual mode, yang membagi tampilan menjadi dua bagian, satu untuk keseluruhan gambar, dan yang lebih kecil untuk detail yang diperbesar. Fitur ini setau saya hanya ada di kamera ini saja.

anyer-baliFuji X-T1 dengan lensa 10-24mm f/4 OIS – f/4, ISO 200, 30 detik, filter ND 10 stop

Kualitas gambar

Keunikan Fujifilm terletak di sensor dengan arsitektur yang unik yaitu X-Trans. Saat ini, hanya Fuji yang mengunakan sensor jenis ini. Ada beberapa kelebihan sensor ini yaitu 1. Tidak perlu filter low pass sehingga ketajaman lebih tinggi daripada sensor type bayer pada umumnya (kebanyakan kamera Canon EOS masih mengunakan filter low pass, dan sebagian kamera mirrorless Sony (kecuali Sony A7R). Kelebihan kedua adalah warna lebih akurat dan yang ketiga adalah pola noise yang lebih acak dan alami. (Lebih detail tentang teknologi sensor boleh baca disini).

Fujifilm XT-1 mengunakan sensor APS-C (23.6 x 15.6mm). Resolusi gambarnya 16 MP dan rentang ISO yang dianjurkan dari 200-6400 (bisa diexpansi ke ISO 100, 51200). Dari uji coba saya, kualitas gambar dari sensor ini kualitasnya baik dan tajam. Hanya saja, jika dibandingkan dengan kamera digital jaman sekarang yang rata-rata sudah 24 MP dan bahkan ada yang 50 MP, 16 MP terasa sedikit ketinggalan jaman. Bagi yang senang cetak besar (A2, panjang 60cm) atau lebih besar, atau suka cropping, maka 16 MP terasa kurang. Tapi bagi yang cetak tidak lebih dari ukuran A3 (panjang 40cm) maka 16 MP bukan menjadi masalah.

Untuk ISO tinggi, ISO 3200 masih lumayan, tapi perlu diketahui juga jika kita bandingkan dengan kamera merek lain, untuk kondisi cahaya yang sama, hanya perlu ISO 1600 atau 2000 (2/3-1 stop) untuk mendapatkan hasil yang sama. Karena arsitektur sensor X-Trans Fuji, noise tidak terlihat terlalu mengganggu dan noise warna (chroma noise) jarang muncul. Perlu diperhatikan juga bahwa Sensor Fuji resolusinya hanya 16MP, semakin rendah resolusi foto, jumlah noise juga terlihat lebih sedikit dibandingkan dengan kamera dengan resolusi lebih besar.

Intinya, kualitas gambar Fuji XT-1 ini berada di tengah-tengah, lebih bagus dari kamera digital bersensor APS-C pada umumnya, tapi belum setara dengan kamera bersensor full frame.

Apakah Fujifilm X-T1 cukup untuk kebutuhan foto profesional/komersial?

Jawabannya tergantung jenis fotografinya, untuk foto studio portrait dan still life, Fujifilm X-T1 sudah cukup bagus, tapi untuk foto subjek yang bergerak cepat, sistem autofokus Fuji X-T1 masih agak lambat, terutama saat dipasang dengan lensa-lensa yang AF-nya pelan seperti 56mm f/1.2. Untuk lensa dengan motor fokus cepat seperti Fuji 50-140mm f/2.8, autofokus lebih cepat. Untuk prewedding mungkin tidak terlalu masalah karena gerakan subjek biasanya tidak terlalu cepat. Tapi untuk foto candid, liputan, olahraga, X-T1 masih belum setara sistem kamera DSLR atau mirrorless dengan hybrid autofocus (baca jenis-jenis autofocus).

Untuk fotografi travel dan landscape yang intensif, saran saya perlu stok baterai tambahan yang cukup banyak. Dari sunrise sampai sunset, kurang lebih butuh tiga baterai. Amannya bawa empat atau lima baterai. Soal bobot sistem, Fujifilm X agak lebih ringan dari sistem kamera DSLR pada umumnya, tapi tidak lebih ringan dari sistem kamera mirrorless lainnya. Keputusan Fujifilm untuk memilih material logam untuk lensa-lensanya memang bagus untuk daya tahan lensa, tapi akibatnya bobotnya menjadi relatif berat.

Contoh:

  • Fujifilm XT-1 dan lensa Fuji 10-24mm f/4 OIS totalnya = 855 gram
  • Kamera DSLR Canon 70D dan lensa Canon 10-18mm f/4 IS totalnya = 995 gram
  • Kamera DSLR Nikon D7100 dan lensa Nikon 10-24mm totalnya = 1214 gram
  • Kamera mirrorless Sony A6000 dan Sony 10-18mm f/4 OSS = 569 gram
  • Kamera mirrorless Panasonic GM1 dan Panasonic 7-14mm f/4 = 500 gram

Untuk penggemar speedlite/flash external, Fuji belum punya sistem flash yang bagus, dan sync speed X-T1 hanya 1/180 detik, dibandingkan dengan kamera DSLR pada umumnya sekitar 1/250 detik.

Beberapa fitur yang menarik dari Fujifilm X-T1

Mechanical dan Electronic Shutter

Saat Fujifilm merilis Fujifilm XT-1 Graphite edition, ada tambahan fitur untuk XT-1 hitam juga, yaitu pilihan Electronic Shutter atau kombinasi Mechanical dan Electronic Shutter. Mechanical shutter XT-1 mentok di 1/4000 detik. Mungkin ini bukan masalah bagi sebagian besar orang. Tapi jika sukanya motret di kondisi cahaya terang (outdoor) dan mengunakan lensa berbukaan besar, maka 1/4000 detik mungkin belum cukup dan foto masih overexposure (terlalu terang). Untungnya ada pilihan electronic shutter, sehingga kita bisa memilih shutter speed sampai dengan 1/32000 detik.

Kelebihan lain dari electronic shutter adalah tidak bersuara, ideal untuk foto candid/street. Tapi ada juga kelemahannya, yaitu rolling shutter (efek distorsi saat memotret subjek bergerak cepat yang dekat dengan kamera, dan efek “banding” saat motret di bawah lampu flourescent (biasanya indoor). Maka itu, saya tetap mengusulkan untuk mengunakan mechanical shutter sampai 1/4000 detik.

Ngomong-ngomong, perbedaan antara edisi XT-1 hitam dan Graphite Silver ada di bagian atas dan bawah kamera dilapisi oleh tiga lapisan tambahan termasuk lapisan graphite silver yang membuat kamera ini lebih berkilau.

fujifilm-xt1-graphite-silver

Pilihan processing

Bagi yang suka hasil yang sudah diproses/edit di kamera langsung, Fujifilm XT-1 menyediakan beberapa pilihan preset dan kustomisasi. Yang ekslusif dari Fujifilm adalah Film Simulation, yang meniru efek film jaman dahulu: Provia, Astia, Velvia, Classic Chrome (dari Kodak), dan beberapa preset film lainnya. Kita bisa melihat langsung efek dari pilihan film yang kita pilih lewat layar LCD dan jendela bidik. Ada juga pilihan untuk mengatur kontras highlight dan shadow untuk mengatur keseimbangan tonal foto.

Pilihan kustomisasi

Banyak tombol di kamera ini bisa dikustomisasi/diprogram fungsinya sesuai kebiasan memotret. Saya mencatat ada 7 fn (function) button yang bisa diprogram. Dua roda dial juga bisa dikustomisasi, misalnya roda depan untuk mengubah bukaan, dan roda belakang untuk shutter speed, atau sebaliknya. Adanya dua dial ini karena ada beberapa lensa Fujifilm jenis XC yang tidak memiliki ring bukaan (aperture ring).

quick-menu

Quick Menu Fujifilm X-T1

 

Pengalaman dengan lensa portrait dan lensa lebar

Saya mendapat pengalaman mengunakan dua lensa Fuji, yang pertama adalah Fuji 56mm f/1.2 spesialis portrait, dan satu lagi lensa lebar, ideal untuk landscape dan arsitektur Fuji 10-24mm f/4 OIS.

fujifilm-56mm

Fuji XF 56mm f/1.2 (ekuivalen 85mm di FF), merupakan focal length klasik untuk foto portrait. Di f/1.2 cukup tajam tapi lebih tajam lagi kalau mengunakan f/1.6 – f/2.8. Menurut saya lensa ini sangat bagus dari konstruksi dan kualitas optiknya. Keren untuk portrait baik beauty maupun human interest. Kelemahan utama lensa ini adalah autofokusnya yang relatif lambat.

stella-felicia-01f/2, 1/1400 detik, ISO 200 – Model: Stella Felicia

mayanda-nabila-03

f/1.2, 1/550 detik, ISO 200

mayanda-nabila-01

f/1.4, 1/340 detik, ISO 200

Lensa Fuji XF 10-24mm f/4 biasanya disukai oleh fotografer pemandangan. Lensa ini juga kualitasnya bagus, distorsi lensa terkendali. Optical stabilizationnya bagus. Saya bisa mendapatkan foto yang tajam dengan shutter speed 1/8 detik tanpa tripod. Hasil fotonya tajam, dan konstruksinya kokoh. Lensa ini juga saya sarankan untuk travel. Yang saya kurang suka dari lensa ini adalah tidak ada indikator bukaan di lensa dan ring aperture terlalu mulus sehingga mudah tergeser secara tidak sengaja.

fujifilm-10-24mm-f4-ois

air-terjun-fuji-xt1 10-24mm f/4 OIS – ISO 200, 16mm, 0.5 detik, filter CPL

Keunggulan Fujifilm XT-1 (yang saya sukai)

  • Ukurannya cukup compact tapi padat
  • Jendela bidik yang sangat besar dan terang
  • Manual fokus dipermudah dengan jendela bidik yang besar dan dual Mode
  • Layar LCD yang bisa dikustomisasi
  • Layar LCD bisa diputar keatas
  • Banyak tombol yang bisa dikustomisasi
  • Banyak roda dial dan tuas untuk ganti setting tanpa harus masuk ke menu
  • Banyak lensa berkualitas Fuji XF yang tersedia
  • Kualitas gambar tajam
  • Mechanical+electronic shutter 1/4000 detik s/d 1/32000 detik
  • Pilihan film simulation

Kelemahan Fujifilm XT-1 (yang tidak saya sukai)

  • Autofokus kamera terkadang agak lambat (tergantung lensa yang dipasang).*
  • Dial di shutter speed hanya muat 1 stop per langkahnya
  • Pegangan agak kecil
  • Perlu waktu banyak mempelajari dan membiasakan diri
  • Kualitas video relatif kurang baik
  • ISO terbaik mulai dari ISO 200
  • Pilihan ISO 100 hanya bisa untuk foto JPG, bukan RAW
  • Navigasi di Quick Menu perlu banyak klik dari item satu ke lainnya
  • Mode Dynamic range hanya bekerja di ISO tinggi
  • Tidak ada label di tombol-tombol di bagian belakang kamera
  • Tombol pengunci di dial ISO menghambat untuk mengganti ISO dengan cepat
  • Flash sync speed maksimum hanya 1/180 detik
  • Tidak bisa mengunakan flash saat mode electronic shutter
  • Self timer tidak berada di tuas drive mode, harus akses di menu

Seperti yang telah dibaca diatas, kamera Fujifilm X-T1 adalah kamera yang cukup menarik. Sebagian fotografer akan sangat suka dengan pendekatan desain retro Fujifilm X-T1, bahkan tidak jarang yang sampai fanatik membela-belain dan mempromosikan ke teman-teman fotografer yang masih menggunakan kamera DSLR. Sedangkan sebagian fotografer lainnya akan membenci pendekatan Fuji XT-1 karena merasa bingung untuk mempelajari bagaimana memaksimalkan dan membiasakan diri dengan kamera ini.

Menurut saya, kamera ini merupakan kamera mirrorless yang berkualitas, terutama saat dipadukan dengan lensa-lensa XF Fuji. Beberapa fiturnya menarik seperti electronic shutter, X-Trans sensor, jendela bidik yang besar, film simulation dll. Yang saya sayangkan adalah bobot total kamera dan lensa masih agak berat, dan belum ideal untuk menggantikan sistem kamera DSLR untuk sebagian besar pekerjaan profesional. Hal ini karena keterbatasan dengan sistem flash, dan kinerja autofokusnya. Untuk fotografer dan penggemar fotografi berpengalaman yang hobi jalan-jalan, tentunya Fujifilm XT-1 layak dipertimbangkan.

*Catatan tambahan: Di bulan Mei 2015, Fuji mengumumkan firmware 4.0 untuk Fujifilm XT-1, yang meningkatkan kualitas kecepatan dan konfigurasi autofokus, bersama dengan peluncuran kamera Fujifilm X-10

About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Google+ dan Instagram: enchetjin

{ 24 comments… add one }
  • Arga July 19, 2018, 5:47 pm

    Koh mau tanya nih saya masih newbie bgt.saya barusan beli body fuji xt1 seken punya temenya sodara.semua fungsinya aman cuma saat mau ke video mode tekan tombol merah k9k gamau ya koh?pdhl liat tutor di yutub seperti itu.mohon penjelasannya koh..apakah mode video hanya bisa pake lensa fuji?kebetulan saya pake lensa fix nya meike.makasih koh

    • Arga July 19, 2018, 6:33 pm

      Sudah bisa koh hehe

  • rio April 12, 2018, 2:20 pm

    koh mau tanya, lebih worth it x-t1 + 18-55 (second) atau X-A5 kit 15-45 (baru) untuk belajar fotografi potrait dan pemandangan? harganya kebetulan sama.
    terima kasih.

  • Aris November 27, 2017, 10:57 am

    Koh minta pencerahannya dong, saya rencana mau nambah lensa antara 16-55 atau 10-24. Kegunannnya untuk street fotografi dan traveling. Saat ini saya pakai XT-1 dan 35mm 1.4. Kalau di lihat dari kebutuhan saya mana yang lebih cocok Koh? atau ada rekomendasi lensa lain? Saya sempat kepikiran juga mau coba lensa manual Samyang 8mm f2.8 itu worth ga ya?

    • Aris November 27, 2017, 10:58 am

      Thanks Koh

    • Enche Tjin November 28, 2017, 12:07 am

      Kalau travelingnya banyak foto pemandangan dan street 10-24mm recommended. Yg 16-55mm f/2.8 juga oke trutama untuk portrait, tapi kadang kurang lebar untuk arsitektur+pemandangan. Kalau pasang 16-54mm biasanya gak perlu 35mm lagi. Samyang 8mm biasa untuk kebutuhan tertentu saja, misalnya interior.

      • Aris November 28, 2017, 9:15 am

        Noted Koh, saya ambil 10-24 aja, jadi 35-nya juga tetep masih bisa pakai. Thanks infonya Koh, sangat membantu

  • Antoni June 22, 2017, 6:58 am

    Salam kenal Kho….
    Senang sekali membaca ulasan anda, saya newbie di fotografi, saya baru beli lensa fuji 56mm f1.2 , hasil foto sgt bagus dan tajam dan bokehnya apik tapi kenapa koq kadang2 susah ngelock AF nya? terutama jika membidik area yg berwarna gelap (spt lemari kayu cat hitam, layar TV LCD yg off) apakah lensa sy fault atau memang sdh spt ini typical lensa 56mm fuji? Thanks

    • Enche Tjin June 22, 2017, 8:24 am

      Lensa berbukaan sangat besar seperti 56mm f/1.2 memang autofokusnya agak lambat, terutama kalau dibidik ke bidang yang tidak kontras.

  • I Wayan Bayu Diatmika May 25, 2017, 8:34 pm

    Koh mau tanya. Perbandingan antara XT1 dengan XT20. Sensor XT20 katanya lebih canggih dibandingkan XT1. Apakah kelebihan ini cukup membuat XT1 lebih ketinggalan dibandingkan XT20? Thankyou Koh

    • Enche Tjin May 27, 2017, 9:12 am

      Dari kualitas gambar dan sensor iya. Tapi dari body, bagus yg xt1.

  • Adrian March 28, 2017, 11:28 am

    Koh..
    Saya pengguna canon, ingin beralih ke fuji, saya masih bingung nih, jadi kalo kamera Xt 1 maupun Xt 2 pake lensa canon menggunakan adapter masih bisa di atur bukaan nya ya?
    Sedangkan Xt-10 maupun Xt-20 tidak bisa di atur bukaan nya karena tidak ada dial untuk pengaturan untuk bukaan aperture ring?
    Jadi bingung antara memilih Xt 1 atau Xt-20 dikarenakan saya udah punya cukup banyak lensa mount canon yang sayang sekali jika bermasalah dalam pengaturan aperture ring di kamera Fuji ini. Tq

    • Enche Tjin March 28, 2017, 12:18 pm

      Untuk mengatur bukaan lensa Canon yang diadaptasikan ke Fuji, perlu adaptor khusus seperti ini yang punya aperture ring di adaptornya. Tidak begitu ideal, karena tidak begitu akurat dan bisa menimbulkan flare.

  • Teguh March 2, 2017, 9:01 am

    Koh, mau tanya untuk lensa fujinon xf 56mm apakah ring manual fokusnya berat (keset) ya?
    Masalahnya punya saya kog rasanya berat.
    Terimakasih

  • Teguh December 19, 2016, 8:58 pm

    Numpang tanya, untuk lensa wide buat fujifilm xt tipe apa ya?
    Terimakasih

    • Enche Tjin December 20, 2016, 11:24 am

      Lensa zoomna ada 10-24mm, lensa fix ada 16mm.

  • Jarot Setya Ridha Tama December 3, 2016, 12:54 pm

    halo om, saya kan baru pertama kali pgang xf56mm, saya bingung kok lensa saya ada suara bunyi klutuk2 saat di pegang/di kocak2..apa memang gt ya xf56mm ? terima kasih.

  • dhekadana July 17, 2016, 8:26 pm

    Koh enche,
    kalo filter untuk lensa-lensa yang kompatibel sama Fuji X-T1 merek apa dan ukuran brapa ya?terimakasih

    • Enche Tjin July 17, 2016, 9:14 pm

      ukuran filter tergantung lensanya.

  • yohanis kurniawandy April 25, 2015, 11:03 am

    setahu saya fuji X-T1 sistem AF nya sudah hybrid (phase dan contras detected)…
    http://www.fujifilm.com/products/digital_cameras/x/fujifilm_x_t1/features/page_02.html
    Dengan trik menggunakan flash nissin 40i bisa sync sampai 1/4000s…
    https://www.wimarys.com/fuji-nissin-i40-hss-force-trick/
    🙂

  • ahmed April 21, 2015, 9:49 am

    nice review, ooh ini yg dipake waktu di barito…hehehe, saya intip2 dikit waktu disana…..

Leave a Comment