≡ Menu

Kesan saya terhadap sistem kamera Phase One XF

Pada hari Jum’at tanggal 19 Juni 2015 yang lalu, saya diundang untuk mengikuti acara launching sistem kamera medium format baru, yaitu Phase One XF di hotel Fairmont, Senayan, Jakarta.

Sekilas info, kamera medium format adalah kamera dengan sistem SLR tapi sensor gambarnya berukuran 2.5 kali lebih besar daripada sensor kamera DSLR full frame, oleh sebab itu, kamera ini bisa mengakomodir resolusi foto yang lebih tinggi (50, 60 dan 80 Megapixel).

image-sensor-sizeDalam acara launching sistem ini, bukan hanya body kamera baru yang diperkenalkan ke tamu yang kurang lebih berjumlah 50 orang, tapi juga Digital Back baru (IQ3), dua lensa baru (Schneider Kreuznach 35mm dan 120mm macro), dan software baru yaitu Capture One versi 8.3. Dibandingkan dengan sistem terdahulu, sistem Phase One ini lebih canggih, lebih modular, dan terintegrasi dengan softwarenya.

Ada beberapa peningkatan dari sistem terdahulu yaitu:

1. Desain dan antarmuka

Desain body kamera Phase One XF ini jauh berbeda dengan yang seri kamera sebelumnya. XF ini bentuknya lebih angular (kotak) dengan LCD bagian atas yang beresolusi tinggi dan berwarna. Warna disini berperan untuk membedakan antara nilai yang otomatis dan nilai yang diset manual. Layar LCD di bagian atas kamera juga bisa disentuh.

Selain itu, kendali bisa dilakukan juga dengan tiga dial dan beberapa tombol semuanya bisa dikustomisasi sesuai kebiasaan fotografernya. Dari tiga dial tersebut, kita bisa mengubah ISO, shutter speed dan aperture lensa.

Desain Pegangan/grip nya saya rasakan cukup nyaman untuk dipegang karena cukup dalam dan peletakkannya di bagian tengah sistem sehingga terasa seimbang meskipun berat total sistem ini lumayan juga yaitu sekitar 2-4 kg (total berat tergantung lensa yang terpasang).

phase-one-xf-35mm

2. Desain Modular

Desain sistem kamera medium format dari dulu memang sudah bersifat modular. Artinya ada tiga bagian yang bisa ditukar sesuai kebutuhan yaitu

  • Digital Back yang terdiri dari layar LCD, dan image sensor (yang menentukan resolusi gambar),
  • Body kamera yang berisi mirror box/cermin, pegangan, tombol, shutter, layar LCD bagian atas.
  • Lensa (Tersedia dua jenis lensa: leaf dan focal plane shutter)

Di sistem Kamera XF ini, jendela bidiknya juga bisa diganti. Ada dua jenis viewfinder yang tersedia, yaitu viewfinder prisma 90 derajat, dan waist level finder seperti kamera medium format film.

phase-one-waist-level-viewfinder-2

 

3. Sistem Autofokus

Berbeda dengan sistem autofokus yang kita kenal yaitu sistem deteksi kontras, deteksi fasa (phase detect) yang biasanya terdapat di kamera DSLR dan mirrorless, sistem autofokus sistem Phase ONE XF ini berbeda. Dinamakan Honeybee (tapi tidak ada kaitan langsung dengan lebah, tapi hanya karena desainernya mempelihara lebah di pekarangannya), Sistem AF ini mengandalkan processor khusus untuk mendeteksi fokus.

Menurut penuturan perwakilan Phase One, Jesper dari Denmark, sistem ini bisa mengenali warna dan dapat ditingkatkan kinerjanya dengan firmware update di masa depan. Saat ini ada tiga mode autofokus yang bisa dipilih yaitu spot (tengah), average, dan hyperfocal. Kedepannya, kabarnya bisa ditambahkan jika dibutuhkan fotografer. Sistem autofokus dibantu juga dengan Autofocus Assist lamp yang berwarna putih yang cukup terang dan berbentuk pola seperti zebra supaya dapat memotret di permukaan yang kontrasnya rendah.

Setelah mencoba mengunakan kamera di acara ini, saya mendapati autofokusnya cukup cepat dan lampu AF assistnya juga bagus. Bagi saya, mode autofokus hyperfocal sangat menarik, karena berguna untuk foto landscape, terlebih karena kamera medium format ruang tajamnya sangat tipis.

4.Hal-hal inovatif lainnya

  • Seismograph yang dapat mendeteksi getaran kamera : Sangat berguna untuk fotografer landscape untuk mengetahui apakah kamera sudah stabil atau belum.
  • Sebagian besar setting kamera bisa diatur dari software Capture One 8.3 via komputer, ipad, iphone (capture pilot).
  • Trigger flash studio Profoto built-in.
  • Shutter speed maksimum 60 menit dengan noise yang minimum (dengan Digital Back IQ3).
  • Exposure Zone system dengan pewarnaan yang berbeda untuk masing-masing zona
  • Highlight warning dua tahap, menandakan daerah foto yang bisa di-recover, dan yang tidak.
  • Long exposure calculator – Mencegah kesalahan perhitungan saat memotret long exposure (shutter speed lebih dari 1 detik).
  • Sensor temperature chart : Semakin tinggi suhu sensor, semakin banyak noisenya.

seismograph

Dalam perkembangan kamera digital yang cepat dalam 5 tahun terakhir ini, dimana hampir setiap tahun diluncurkan kamera digital baru yang membuat kamera digital yang diluncurkan setahun yang lalu menjadi ketinggalan zaman, saya pikir Phase One telah mengambil langkah yang cukup bijak untuk membuat sistem baru XF ini sebagai platform yang modular dan programmable sehingga bisa dikembangkan lagi di masa depan.

Dengan demikian, setidaknya peluncuran sistem Phase One XF ini dapat membuat fotografer merasa lebih yakin dan tenang terhadap investasinya ke sistem yang tidak sedikit ini, bisa bermanfaat untuk jangka waktu yang lebih panjang.

Foto ini akan memberikan gambaran seberapa besar sistem kamera Phase One XF ini. Terpasang adalah lensa Schneider Kreuznach 80mm f/2.8 dan IQ3 50MP.

Foto ini akan memberikan gambaran seberapa besar sistem kamera Phase One XF ini. Terpasang adalah lensa Schneider Kreuznach 80mm f/2.8 dan IQ3 50MP.

phase-one-xf-system

Spesifikasi Phase One XF

  • Pilihan digital back: IQ3 50, 60, 80 MP & IQ2 60MP & IQ1 40-80 MP
  • Layar LCD touchscreen
  • Live View shooting
  • Tiga roda kendali, dua tombol shutter, empat tombol tambahan
  • Autofocus sensor : HAP-1 1Megapixel CMOS Sensor
  • Viewfinder: Prism: 97% coverage
  • Viewfinder waist level: 97% coverage with metering
  • Kecepatan foto berturut-turut: 1-2 foto per detik tergantung digital back
  • Exposure compensation: -5 sampai +5
  • Berat: Body camera dan IQ3 = 1.39 kg dengan jendela bidik prisma, 1.02 kg dengan waist level finder.
  • Baterai: Dua buah 3400 mAH, masing-masing untuk body dan digital back.
  • Shutter reliability test : 350.000 kali
  • Max. flash sync speed : Dengan lensa focal plane shutter 1/125 detik, dengan lensa leaf shutter 1/16oo detik.
  • Wireless trigger (profoto) : 20 meter (di luar ruangan). Di dalam ruangan bisa lebih

Harga kamera dan lensa (desain Denmark, made in Japan (Mamiya Factory)).

  • XF IQ3 100MP: $48.990.00 (CMOS)
  • XF IQ3 80MP: $48,990.00 (CCD)
  • XF IQ3 60MP: $41,990.00 (CCD)
  • XF IQ3 50MP: $40,990.00 (CMOS, 1.3x crop)

Lensa (desain Jerman)

  • Schneider Kreuznach 35mm f/3.5 : $6490
  • Schneider Kreuznach 120mm f/4 Macro : $6490

About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Google+ dan Instagram: enchetjin

{ 5 comments… add one }
  • Aan June 23, 2015, 12:23 am

    Pagi pak enche
    maaf pak mungk pertanyaan saya agak out of focus dng bahasan di atas
    Saya hendak membeli lensa namun binggung memilih antara 50mm f/1.4 dng 35mm f/2 (tanpa is)
    sebaiknya saya memilih lensa yg mana ya pak yg lbh multi guna, body yg saya gunakan crop aps-c
    Terima kasih pak

    • Enche Tjin June 24, 2015, 1:44 am

      Bukan out of focus sih, lebih tepatnya out of topic. Menurut saya 35mm lebih multifungsi karena yang 50mm agak sempit sudut pandangnya untuk digunakan sehari-hari.

  • Purnawan Hadi June 22, 2015, 12:53 pm

    Ajib Om Enche!! Kao dihitung untuk investasi kedepan lumayan juga ya nih kamera 🙂

Leave a Comment