≡ Menu

Pantaskah harga sebuah kamera?

Setiap kamera baru diluncurkan, sering ada teman-teman yang menanyakan kepada saya, apakah kamera baru tersebut bagus? Apakah pantas dibeli dan pantas harganya? Sebenarnya, kamera yang terbaik untuk setiap orang tidak sama, dan seperti baju, pantas tidaknya lebih tergantung ke kecocokan masing-masing. Banyak faktor yang sifatnya subjektif, tergantung kesukaan dan kebutuhan masing-masing orang. Saya mencoba merangkum beberapa pertimbangan sebelum memilih kamera.

Pertimbangan fitur kamera

Biasanya, harga kamera sering dibandingkan dengan peningkatan fitur dari kamera pendahulunya atau kamera merk lainnya. Jika kita membutuhkan fitur tersebut, maka kamera tersebut harganya pantas, atau bisa terasa murah. Tapi jika peningkatan fiturnya tidak kita butuhkan, maka harga kamera baru tersebut terasa tidak pantas. Contoh, kelebihan utama Sony A7 mk II dibandingkan A7 orisinil terletak di peredam getar di dalam kamera. Pengguna Sony A7 yang mengunakan lensa yang ada stabilizernya tentunya tidak terlalu merasa perlu fitur Sony A7 mk II. Maka itu, untuk pemilik kamera Sony A7, selisih harga 5-7 juta antara A7 dan A7 mk II jadi terasa mahal.

Tapi bagi yang mengunakan lensa-lensa yang tidak memiliki fitur image stabilization, misalnya lensa fix seperti 35mm f/1.4, 55mm f/1.8, dan lensa-lensa jaman dulu via adaptor, akan mendapatkan keuntungan besar dengan adanya built-in stabilization di badan kamera. Semua lensa yang tidak memiliki peredam getar akan mendapatkan manfaat ini. Bagi fotografer tersebut, Sony A7 mk II harganya sangat pantas, malah menurut saya mungkin terlalu murah.

Canon 1DX, pantas untuk fotografer pro jurnalis,olahraga, satwa liar, tapi overkill bagi saya dan sebagian besar fotografer.

Canon 1DX, pantas untuk fotografer pro jurnalis,olahraga, satwa liar, tapi overkill bagi saya dan sebagian besar fotografer.

Pertanyaan lainnya : Apakah kamera tersebut memiliki fitur yang Anda perlukan? Jika membutuhkan kamera yang super cepat untuk fotografi olahraga, satwa liar, tentunya kamera jago ngebut dan tahan banting seperti Canon 7D mk II (Rp 19 juta) atau Canon 1DX (Rp 82 juta) sangat pantas. Di lain pihak, jika Anda memilih kamera dengan fitur yang tidak pernah akan Anda gunakan, harga yang dibayarkan jadi tidak pantas.

Pertimbangan ekonomi

Berapa sering Anda akan mengunakannya? Kalau akan digunakan sehari-hari, kamera yang harganya agak mahal juga pantas. Kamera pocket berkualitas tinggi seperti Sony RX100 mk III seharga 10 juta, sebagian besar orang akan merasa mahal, karena jika dibandingkan, kamera pocket dipasaran biasanya harganya dibawah 4 juta. Tapi kalau digunakan sehari-hari, kamera pocket 10 juta ini bisa jadi lebih murah dari kamera mirrorless atau kamera DSLR.

sony-rx100-mk3Alasannya karena kamera pocket ringan, maka sering dibawa-bawa kemana-mana tanpa harus bawa tas kamera. Karena itulah, dalam satu tahun kamera ini sering Anda gunakan, katakanlah 200 hari dalam setahun. Di lain pihak, kamera DSLR seharga 5 juta tapi jika digunakan hanya 30 hari dalam setahun misalnya saat liburan saja, maka kamera pocket tersebut sebenarnya murah.

Pertimbangan subjektif

Selera pribadi terhadap desain model kamera, desain tata letak tombol, dan bahkan sampai bunyi jepret kamera tergantung masing-masing individu. Wajar-wajar saja menyukai sebuah kamera karena model, bentuk, atau merknya. Sama seperti menyukai produk fashion atau makanan.

leica-c-01

Leica C, memang desainnya lebih mempesona.

Beberapa merk kamera yang dikenal bergengsi seperti Hasselblad dan Leica sering membuat kamera yang sebenarnya memiliki spesifikasi yang sama persis dengan kamera Sony dan Panasonic, bedanya hanya sedikit di penampilan luarnya, tapi dijual dengan harga yang lebih mahal. Tapi saya melihat banyak juga orang yang membeli dan mengunakannya.

Secara logika memang harga kamera Leica C ($699) rebrand dari Panasonic LF1 ($480), atau Hasselblad Stellar ($999) sebenarnya sama dengan Sony RX100 ($448) tidak pantas. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa masih banyak orang yang lebih pede kalau mengunakan kamera branded seperti Leica daripada kamera Panasonic, dan nilai purna jualnya biasanya lebih tinggi.

Pertimbangan pihak ketiga

Banyak situs review kamera yang memberikan nilai / rating terhadap sebuah kamera, atau review dari seorang fotografer kadang bisa menjadi acuan, terutama review kamera yang dilakukan secara jangka panjang. Tapi sayangnya review tersebut biasanya langka, karena kebanyakan reviewer tidak memiliki kamera tersebut, tapi hanya pinjaman beberapa hari atau seminggu dari produsen kamera.

Review dari pihak ketiga memang bagus untuk memperluas wawasan kita sebelum membeli, tapi yang saya perhatikan, kebanyakan review memberikan nilai yang bagus terhadap kamera yang fiturnya seimbang dan lengkap. Tapi banyak juga kamera yang dirancang bagus untuk satu hal, tapi tidak hal-hal yang lain, misalnya ada kamera yang memiliki kualitas foto yang sangat bagus, tapi kinerja autofokus dan kecepatan foto berturut-turutnya lambat. Kamera semacam itu biasanya mendapatkan penilaian yang kurang baik.

Pertimbangan purna jual

Apakah setelah dipakai beberapa tahun, kamera Anda masih memiliki nilai jual? Kebanyakan kamera akan turun harganya setelah kamera baru penggantinya keluar. Rata-rata kamera DSLR pemula biasanya diperbaharui setiap tahun, yang lebih canggih biasanya dua sampai empat tahun sekali. Semakin cepat produsen kamera mengeluarkan kamera baru, biasanya harga purna jualnya jatuh lebih cepat.

Sedangkan lensa mungkin beda cerita, setiap lensa itu unik, karena desain elemen optiknya berbeda-beda, maka itu harga purna jualnya biasanya masih cukup tinggi, terutama lensa yang berkualitas dan unik. Lensa juga diperbaharui setiap jangka waktu yang cukup lama, sekitar 5-10 tahun. Ada juga lensa yang tidak diperbaharui dan tidak diproduksi lagi seperti Nikon 28mm f/1.4D. Harga lensa tersebut malah naik. Pertama kali lensa ini dijual $1700. Sekarang harga jual lensa bekasnya sekitar $2000 sampai $3300 tergantung kondisinya.

nikon-28mm-f14d

Kesimpulan

Jadi, persepsi harga kamera yang pantas berbeda-beda bagi setiap orang, maka itu saya juga tidak bisa menjawab hal ini. Merupakan hal yang bijak jika kita mengetahui fitur apa yang kita butuhkan dari sebuah kamera, dan perbanyaklah riset sebelum membeli. Jangan kebanyakan pertimbangan juga, nanti jadinya gak beli-beli hehe 🙂

About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Google+ dan Instagram: enchetjin

{ 21 comments… add one }
  • Virgi September 1, 2016, 11:41 pm

    Pak enche kalo fitur zebra di sony alpha itu untuk apa ya ?
    Bikin ulasan soal fitur2 sony series a7 dong pak

    • Enche Tjin September 2, 2016, 4:26 am

      Sebenarnya untuk kebutuhan video shooting, yaitu bagian yang strip/seperti zebra menunjukkan bagian highlight/bagian yang terang tanpa detail/clipping.

  • Hernawan September 4, 2015, 1:06 pm

    Mas, sy punya nikon d3200 setiap kali saya jepret hasil nya berbeda dengan camera canon d1200..lebih soft yang canon sedangkan nikon hampir seperti jepretan kamera digital biasa..dengan setingan f dn shutter yang sama…adakah cara mesetting supaya kamera nikon saya bisa mengejar hasil canon

    • Enche Tjin September 4, 2015, 3:14 pm

      Process kamera memang agak berbeda-beda. Coba cek di picture control dan utak utik setelan disana, terutama turunkan sharpness/ketajaman. Ada pengaruh lensa juga.

  • hari September 3, 2015, 7:20 pm

    nanya koh enche,,

    saya seorang fotografer amatir yg semata-mata menyukai fotografi sebagai hobi, disamping untuk mendokumentasikan kejadian sehari-hari yang mungkin akan tidak mungkin terulangi lagi.

    frekuensi pemotretan saya cukup rendah, dari beberapa foto sehari (saat merasa perlu saja) sampai ke beberapa ratus sehari (misalnya sedang ada acara), yang didominasi scene pemandangan atau aktivitas manusia (jadi bukan fotomodel).

    kamera seperti apa yang ideal untuk kondisi itu..? selama ini saya pakai kamera ponsel saja

    budget saya lebih kurang 10jt, namun baru akan jadi 4 bulan lagi hehehe

    mohon bantuannya koh, terima kasih banyak..

    • Enche Tjin September 3, 2015, 8:36 pm

      Banyak juga sih, untuk pemakain sehari-hari saya pikir kamera mirrorless akan lebih tepat karena lebih ringkas. Baca-baca saja rekomendasi kamera mirrorless yang pernah saya tulis. Selamat memilih.

  • suhartono August 27, 2015, 5:00 pm

    pak Enche utk traveling pilih mana antara sigma 70-200 f2.8 atau nikon 70-200 f4? Apa sih keunggulan nikon selain ringkas dan lebih ringan? Thanks.

    • Budiarjo August 28, 2015, 8:26 am

      Kalo TRAVELING mending pake 18-200.
      Kecuali kalo mau HUNTING foto baru ambil 70-200 f2.8

  • Argitha Hervinta August 26, 2015, 6:22 pm

    Pak Enche saya mau tanya. Saya masih pemula dalam mendalami dunia fotografi. Lalu yang saya tanyakan. Untuk mengetahui saya di genre seperti landscape, potrait atau sebagainya itu bagaimana ? Soalnya kalau masih pemula masih suka motret segala hal, tanpa kita tau apa sebenarnya genre yang kita dalami. Terimakasih

    • Enche Tjin August 26, 2015, 7:58 pm

      Ya, memang harus coba semua genre, nanti ketahuan sendiri mana yang lebih disukai 🙂

  • Anto August 24, 2015, 7:03 pm

    Pak enche kalo pilihan lensa zoom utk wedding antara afs 17-55 f/2.8 vs afs 16-80 f/2.8-4E DX VR lebih bijak pilih yg mana? Utk body Nikon D7100, trimakasih..

    • Enche Tjin August 26, 2015, 7:59 pm

      Menurut saya lebih baik 16-80mm f/2.8-4E DX VR.

  • Irwan August 24, 2015, 7:58 am

    Mau tanya Pak Enche kl kamera mirrorless Fuji seperti X-T1 & X-T10 kl dipakai utk keperluan kerja spt foto dokumentasi event panggung, wedding, corporate apakah system & penggunaannya beresiko menyusahkan pemakai atau tetap dapat sesuai standar kalau menggunakan DSLR (faktor kontrol kenyamanan penggunaan, kualitas gambar jika diprint besar, performa kecepatan, hit & miss capture moment, budget utk beli lensa). Krn kl Fuji saya liat2 di review lebih banyak digunakan utk hobby street photography.
    Terima Kasih

    • agua August 24, 2015, 11:12 am

      Dr pengalaman saya kamera2 Fuji bagus kalo motret foto jpg. Kalo kita motret pake RAW lebih bagus sony.
      Jpg nya fuji emang bagus. Tp masa kita kerja motret pake jpg.

  • Jhony Fernando August 23, 2015, 5:46 am

    Skedar opini pribadi.
    – sony a7rii harga 42juta. Image quality terbaik, gak kalah dg d810. AF jg terbaik. Tp baterei borosss minta ampun. Shuter paling awet 500rb jepretan.
    – nikon d810 harga 35juta. Image quality jos. Low iso nya sangat membantu. Dynamic range paling tinggi.
    – canon 5ds r harga 54juta. Image quality terendah dr pesaingnya. Dynamic range rendah. Tp megapixel paling tinggi. Agk susah dipake, musti speed tinggi ato pake tripot.
    Bagi saya paling realitis harganya tetep d810. Cz harga paling murah dapet kwalitas hasil foto terbaik. Varian lensa banyak. Bahkan lensa jadul pun bisa dipake di d810.

  • Tino August 21, 2015, 3:34 pm

    sedikit keluar topik om Enche.
    1.Baru, Nikon D5200 + lensa 18-55mm vr
    2.Bekas, Nikon D7000 + tamron 70-300mm, asumsi kondisi normal, sc dibawah 5rb.
    saya benar2 baru di sunia perjepretan, dengan dana 6juta, menurut om Enche mending saya beli yang mana? kalaupun jatuh di Nikkn D7000, apa saya perlu beli lensa lagi buat keperluan foto sehari hari. mohon pencerahannya.

    • Enche Tjin August 21, 2015, 4:18 pm

      Dibawah 5000 itu masih sedikit. Jadi saran saya Nikon D7000. Tinggal cari lensa sehari2 saja, misalnya 18-105mm VR, 16-85mm VR, atau kalau budget terbatas 18-55mm VR.

  • Anto August 21, 2015, 2:46 pm

    Saya kepikiran nasib D3100 saya tirai shutter bermasalah, lambat nutup kalo speed 1/200 keatas ada garis hitam di pinggir gambar, kalo di servis berapa ya biayanya?

    • Enche Tjin August 21, 2015, 2:48 pm

      Wah kurang tau saya, sebaiknya di cek saja di pusat servicenya.

  • Anto August 21, 2015, 9:30 am

    Trims pak enche atas artikelnya..sangat bermanfaat sekali buat penggemar & pelaku bisnis fotografi.
    Saya biasanya jg sewa dulu sebelum membeli, kalo dah butuh banget baru beli..

    • Enche Tjin August 21, 2015, 1:49 pm

      Sama2, iya kalau kepikiran terus selama dua minggu beli aja daripada tambah stres nanti 🙂

Leave a Comment