≡ Menu

Memotret orang yang tidak dikenal saat travel atau street photography

Memotret orang yang tidak dikenal saat jalan-jalan atau street photography memang saya akui tidak mudah, tapi tidak sulit juga sebenarnya. Dulu sekali, saya sangat takut ditolak, dan juga takut diserang secara ucapan atau tindakan, sehingga saya sering mencoba memotret dengan lensa telefoto (zoom panjang) dari jarak jauh. Tapi setelah mempraktikkan hal tersebut saya perhatikan foto-fotonya terkesan “jauh” dan sebagian besar orang yang saya incar tau bahwa ia sedang dikeker dari jarak jauh karena sudut pandang lensa telefoto itu sempit, ujung lensa akan mengarah langsung ke orang tersebut.

Saya bertemu dengan bapak ini di kebun teh di Malabar. Ia sedang beristirahat sejenak setelah bersih-bersih di sekitar bukit Nini. Saya mencoba Mimiknya ramah dan beberapa kali tersenyum, tapi saya ingin wajah yang lebih otentik, maka saat mimik wajahnya berubah menjadi lebih serius, saya dengan cepat menekan tombol jepret. ISO 200, f/2.8, 1/400 detik, ekuivalen 75mm – Leica D-Lux 109

Perlu waktu bagi saya untuk terus melatih diri supaya berani memotret dari jarak yang lebih dekat. Akhirnya saya temukan bahwa kuncinya adalah jangan terlalu banyak mendengarkan rasio/pikiran kita, tapi lebih baik menuruti firasat (gut feeling) kita. Karena pikiran kita pasti akan mengatakan sebaiknya jangan mendekati orang asing tersebut. Sedangkan firasat mengatakan orang tersebut menarik untuk dipotret. Mengapa demikian? Mungkin karena pikiran kita berusaha menjaga kita dari orang asing seperti yang disarankan orang tua kita saat kecil: “Jangan bicara atau dekat-dekat dengan orang asing!”

Foto ini dibuat di Muara Angke, ceritanya segerombol pemuda berjalan ke arah saya, lalu saya berdiri dengan kamera yang saya letakkan di dada dan menjepret beberapa kali. Foto ini yang terbaik karena adanya kontak mata yang kuat antara pemuda dengan kaos singlet putih dan pemuda dengan kaos Slank. Yang menarik di foto ini mungkin karena gaya pemuda penggemar grup musik Slank yang “selengean” (rebellious). Mereka lewat saja tanpa bertanya apa-apa.

Setelah saya menyadari hal tersebut, saya memilih lebih menuruti firasat saya, dan semakin hari, saya semakin percaya diri dalam memotret orang asing dari jarak dekat. Ternyata, meminta orang asing untuk dipotret tidak serumit yang saya bayangkan. Memang tidak semua akan menyetujui, tapi tidak apa-apa, hampir tidak ada yang menyerang saya, kecuali insiden di sebuah taman di Chengdu tahun 2012 yang lalu.

Saya bertemu Bapak ini sedang duduk-duduk santai sambil merokok dan mengobrol dengan orang-orang di pelabuhan Muara Angke. Bapak ini terlihat ramah dan cahaya pagi hari menyinarinya. Lantas saya meminta izin: “Saya foto-foto ya pak?” Lalu Bapak ini tersenyum sambil menggangguk-angguk, teman-temannya mengoda dia dan saat dia tertawa saya tidak menyianyiakan kesempatan untuk mengabadikannya. ISO 200, f/2.8, 1/3200, 75mm – Leica D-Lux 109

Memang, teori itu gampang, tapi kalau tidak pernah memulai memotret orang yang tak dikenal ya.. sama saja bohong. Jadi saya menganjurkan untuk mencobanya, memang, awalnya sangat sulit sekali, karena pasti otak kita akan sangat resisten (melakukan perlawanan) terhadap ide mendekati orang asing, karena Ego kita ini sangat benci kalau ditolak orang. Tapi dengan latihan yang konsisten, lama-lama masalah ini menjadi tidak berarti lagi. Seperti kita memulai program fitness, awalnya otot kita kecil dan lembek, tapi karena dilakukan berulang-ulang kali, lama-lama jadi terbentuk dan jadi kuat.


Foto diatas diubah menjadi hitam putih dengan Lightroom dan Silver Efex Pro, bagi yang berminat mengetahui caranya, boleh ikuti workshop editing hitam putih (B&W) dengan pak Hendro Poernomo  & Iesan.

Untuk workshop dan tur fotografi, silahkan simak halaman kursus dan tur Infofotografi.

About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Google+ dan Instagram: enchetjin

{ 8 comments… add one }
  • Nez August 9, 2017, 8:51 am

    saya pernah ngambil foto orang di bandara di india, orangnya sih ga komplain tp sy di suruh hapus sm polisi disana. Daripada jadi masalah ya ane hapus saja.

  • omstemm August 7, 2017, 10:53 am

    Gw ampe skrng blom berani foto org dr deket, malu braaayy… Entr dikira norakk wkwkwkw

  • Likhin August 7, 2017, 7:52 am

    Koh harga Nikon D5600 + lensa kit sekarang sudah berapa ya? Yg dijual online kok sayangnya banyak yg gk resmi.

    • Enche Tjin August 8, 2017, 9:16 am

      Sepertinya yang resmi belum masuk ke Indonesia, harganya mungkin sekitar 11 jt

  • Yang August 4, 2017, 11:53 am

    Foto kedua seperti Young and Dangerous ..ada tatto dan tangan yg di bungkus kaos. Hahaha. Keren!

  • Rieke August 4, 2017, 11:29 am

    Saya sampai sekarang masih takut, takut orangnya tidak berkenan, jadi jepretnya ga fokus, pernah ada yg nawarin boleh di potret.. e gataunya pas selesai dia minta imbalan

    • Enche Tjin August 4, 2017, 11:31 am

      Wah, itu namanya model profesional Bu Rieke hehe..

Leave a Comment