≡ Menu

Tips fotografi dan bahas foto: Memotret Pacu Jawi

Akhir bulan Agustus 2017 yang lalu, saya berkesempatan bersama teman-teman Infofotografi memotret Pacu Jawi (Balapan Sapi) di kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Konon, acara ini telah berlangsung selama 400 tahun yang lalu tapi menjadi sangat populer karena salah satu foto dari Pacu Jawi karya fotografer Dr. Wei Seng Chen berhasil memenangkan kejuaraan foto bergengsi World Press Photo. Setelah itu, wisatawan dari dalam dan luar negeri memenuhi Ranah Minang setiap ada pacu jawi.

Foto ini saya bahas karena sejak saya posting ke instagram saya, beberapa orang menanyakan tentang bagaimana cara membuat foto seperti ini dan apa kamera dan lensa yang saya gunakan. Sebenarnya tidak sulit, Pacu Jawi adalah sebuah kegiatan olahraga, maka setting kamera yang digunakan untuk memotret mirip dengan memotret kegiatan olahraga lainnya, shutter speed harus cepat (1/500 detik atau lebih cepat lagi). Biasanya saya mengunakan shutter 1/1000 detik. Mode autofokus harus di set ke AI Servo atau AF-C supaya autofokus tetap melacak keberadaan subjek yang di foto.

Untuk bukaan/aperture, saya rekomendasikan mengunakan bukaan f/6.3-f/8, supaya ruang tajam cukup besar, jika mengunakan f/2.8-4, ruang tajamnya biasanya tidak cukup untuk mendapatkan joki dan sapinya sama-sama tajam. ISO biasanya saya stel ke Auto ISO, supaya jika cahaya kurang baik, maka kamera otomatis meningkatkan ISO, juga sebaliknya jika cahaya cukup terang, ISO akan turun secara otomatis. Jangan kuatir jika ISO menjadi tinggi, karena lebih baik memiliki foto yang tajam daripada bersih dari noise tapi blur.

Kamera yang ideal untuk foto Pacu Jawi adalah kamera yang kinerjanya cukup cepat, artinya bisa memotret subjek bergerak berturut-turut dengan cepat. Jika memungkinkan, diatas 5 foto per detik. Lensa yang ideal adalah lensa 150-600mm (untuk ukuran full frame). Jika mengunakan kamera bersensor APS-C atau micro four thirds, lensa dengan kemampuan zoom sampai 300 atau 400mm dapat digunakan. Dengan lensa sepanjang itu, kita tidak perlu berdiri terlalu dekat dengan balapan sapi tersebut, sehingga tidak diseruduk hehe.

Dalam kesempatan ini, saya menggunakan kamera & lensa untuk review yaitu Canon EOS 77D dan lensa Canon EF 70-300mm f/4.5-5.6 IS Nano-USM. Kamera ini termasuk kamera DSLR pemula tapi canggih karena memiliki sistem autofokus seperti yang digunakan kamera pro 7D mk II, dan lensa yang dipasang juga memiliki kecepatan autofokus yang cukup cepat dalam mengikuti jawi yang bergerak cepat (30-50 km/jam).

Komposisi yang paling umum adalah memotret dari depan sehingga terlihat jelas dua sapi dan joki dibelakangnya. Momen yang tepat adalah saat laju pacu jawinya cukup tinggi, dan ekspresi dan gerakan jokinya menarik. Mungkin sedang menggigit ekor supaya laju sapi meningkat, berteriak, tersenyum atau bergaya.

Foto diatas saya suka karena komposisinya yang hampir simetri. Dua sapi berwarna putih di sebelah kiri dan kanan, keduanya sama besar dan memiliki gerakan yang sama, seperti kembar. Yang membuat foto ini spesial adalah ekspresi Jokinya yang dramatis disertai dengan latar belakang yang penuh dengan percikan air dan lumpur.

Proses berikutnya adalah editing di Lightroom, yang akan membantu membuat fotonya lebih punya “impact” Contoh foto diatas tentunya akan kalah menarik jika ditampilkan langsung dari kamera. Pertama-tama saya mengkrop foto karena foto awal masih terlalu lebar. Seharusnya saya lebih zoom lensanya. Tapi saya ingin lebih fokus ke menangkap momennya, sehingga saya berkonsentrasi memotret berturut-turut. Setelah foto di-krop, saya mendapatkan resolusi foto sekitar 9.6 MP. Masih cukup baik untuk cetak seukuran A3 (40 x 30 cm) dengan kualitas sangat baik, dan A2 (60 x 40 cm) dengan kualitas baik.

Selanjutnya saya mengubah foto menjadi hitam putih (B&W) kemudian saya menambahkan sedikit warna coklat untuk membuat warna sepia. Warna kecoklatan ini cocok untuk foto ini karena jika diperhatikan, warna foto awalnya sudah menyerupai foto monokrom (satu warna) karena jokinya telah dipenuhi lumpur. Foto tersebut saya buat menjelang akhir acara, saat joki-joki yang tadinya bersih sudah kotor semua karena pacu jawi berulang-kali. Kemudian kontras foto saya naikkan subjek terlihat lebih menonjol dan saya juga menggelapkan sudut-sudut foto sehingga fokus mata pemirsa akan mengarah ke bagian tengah.

Foto Pacu Jawi memang termasuk foto klise, artinya sudah dipotret berulang-ulang kali oleh berbagai fotografer baik lokal maupun mancanegara, tapi memang masih punya daya tarik yang besar bagi penghobi fotografi, karena ekspresi dan gaya jokinya bervariasi. Supaya tidak bosan, kita juga dapat memotret hal-hal disekitar seperti foto portrait joki, foto jawi/sapi keluar lintasan dan menyeruduk penonton, foto-foto persiapan dan lain-lain.

Setelah memotret bersama kurang lebih tiga jam, tiba-tiba hujan turun, dan itulah saatnya kita harus pulang menuju bis kita ke kota Bukittinggi. Memotret Pacu Jawi memang menarik dan perlu beberapa kali untuk membuat foto cerita (photo story) yang lengkap.


Bagi teman-teman pembaca yang ingin belajar editing Lightroom atau mengikuti tour foto, silahkan kunjungi halaman jadwal Infofotografi atau hubungi langsung 0858 1318 3069 (WA/Call).

About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Google+ dan Instagram: enchetjin

{ 4 comments… add one }
  • tommy September 5, 2017, 2:25 pm

    koh tanya saya mau cari lensa wide untuk canon 600d lebih bagus mana tokina11-16 f/2.8 dxII atau tamron sp af 10-24 f/3.5-4.5 DI-II asperical(IF)

    • Enche Tjin September 5, 2017, 7:12 pm

      Dari kualitas bagus 11-16mm tapi kalau fleksibilitas zoom bagus 10-24mm. Ngomong2. Tamron SP versi ke dua 10-24mm f/3.5-4.5 VC II HLD kualitasnya lebih bagus dari keduanya. Bisa beli disini lensanya jika tertarik.

  • Ade Barli Syamsu September 5, 2017, 9:01 am

    Terima kasih ilmunya.

Leave a Comment