≡ Menu

Kamera DSLR akan mati, siapkah kamera mirrorless menggantikannya?

Jenis kamera dengan desain SLR yang sudah berusia 100 tahun dan populer sampai tahun 2017 ini. Tapi dalam beberapa tahun terakhir kamera mirrorless makin banyak diminati dan mulai menggeser dominasi kamera DSLR. Sebagai gambaran, sekitar tujuh tahun yang lalu saat saya mulai mengajar, jika ada 10 murid dalam satu kelas, maka 9 orang mengunakan DSLR, sedangkan saat ini sekitar 60% dari murid saya sudah mengunakan kamera mirrorless. Lima tahun kedepan, saya rasa 80-90% fotografer akan mengunakan kamera mirrorless.

Mengapa desain SLR tidak diperlukan lagi?

Di jaman kamera film, fotografer tidak bisa melihat apa yang dilihat lensa, makanya dirancang-lah sistem SLR dengan cermin (mirror) dan jendela bidik supaya fotografer bisa melihat dengan jelas apa yang dilihat oleh lensa dan menghasilkan foto dengan komposisi yang akurat.

Tanpa cermin (mirror) dan jendela bidik (penta-prisma), fotografer jam film tidak bisa membingkai foto dengan akurat.

Di jaman sekarang, sensor gambar digital dan processor mampu menampilkan secara continuous apa yang dilihat oleh lensa di layar LCD kamera. Dengan meningkatnya kualitas layar LCD dan jendela bidik elektronik, maka cermin dan jendela bidik optik dalam kamera SLR tidak dibutuhkan lagi. Tanpa cermin (mirrorless) dan jendela bidik (optical viewfinder), kamera bisa dibuat lebih ramping dan ringan tanpa mengurangi kualitas gambar yang dihasilkan.

Saat ini, kamera mirrorless yang usianya sekitar 10 tahun ini, bukan tanpa masalah, makanya belum bisa diterima semua kalangan fotografer. Beberapa masalah yang biasanya timbul yaitu:

1. Baterai
Karena sebagian besar kamera mirrorless bentuknya kecil, maka baterai yang digunakan juga kecil, sehingga sering merepotkan fotografer yang memotret dalam jangka waktu lama. Saat memotret dengan kamera DSLR, fotografer biasanya tidak perlu mengganti baterai jika memotret seharian, tapi dengan mirrorless, kemungkinan akan perlu mengganti beberapa baterai. Untuk pekerjaan dokumentasi kadang harus menghabiskan lebih dari 5 baterai sehari.

2. Overheat
Ukuran yang compact tanpa rongga di dalam kamera membuat panas terperangkap dan jika digunakan di kondisi cuaca yang panas, dan saat foto berturut-turut. Kamera akan cepat panas dan pada akhirnya mengurangi kualitas gambar atau kurang nyaman di tangan. Pada akhirnya, fotografer harus menunggu sampai kamera-nya dingin dulu baru bisa memotret lagi.

3. Pilihan dan harga aksesoris
Pilihan lensa kamera DSLR yang sudah berusia 100 tahun tentunya jauh lebih banyak daripada kamera mirrorless, dari lensa yang sangat lebar sampai sangat telefoto, dan harganya juga sangat bervariasi, dari murah sampai mahal. Masalah utama kamera mirrorless saat ini adalah sebagian besar harga lensanya tidak murah. Sebagian besar murid mengeluhkan harga lensa mirrorless yang rata-rata diatas lima juta dan tidak sedikit yang diatas 10 juta, beberapa malah tembus 20-30 jutaan.

4. Kinerja secara umum
Kinerja/kecepatan atau respon kamera mirrorless masih banyak yang agak lambat dibandingkan kamera DSLR. Dari saat menghidupkan kamera pertama kali saja kita harus menunggu 1-2 detik sampai kamera siap memotret. Sedangkan di kamera DSLR biasanya dalam 0.1 detik, kamera sudah siap memotret. Di sebagian kamera mirrorless, kinerja autofokus, terutama di kondisi cahaya gelap dan subjek bergerak masih agak lambat, kecuali kamera mirrorless tercanggih yang harganya 20 juta keatas.

Untungnya keempat persoalan diatas bukan masalah yang tidak bisa diselesaikan. Beberapa kamera mirrorless baru tahun ini telah berhasil mengatasi 2-3 masalah diatas. Bisa jadi beberapa tahun kedepan semua masalah telah berhasil diatasi.


Sebenarnya semua perusahaan pembuat kamera sudah melihat tren ini, dan beberapa telah melakukan penyesuaian dalam masa transisi dari era DSLR ke era mirrorless. Beberapa diantaranya cukup sukses, tapi ada juga yang belum berhasil. Mari kita lihat apa upaya mereka.

Panasonic & Olympus

Panasonic dan Olympus adalah pionir dalam membuat kamera mirrorless sejak tahun 2008 yang lalu. Sebelumnya Olympus membuat kamera DSLR Seperti Olympus E-3, E-620 dst. Panasonic juga pernah membuat kamera DSLR dengan sensor four thirds, tapi di era DSLR, keduanya kurang begitu sukses, jadi sejak 2013, Olympus sudah tidak meneruskan mengembangkan sistem DSLR-nya.

Di awal era mirrorless, Panasonic & Olympus belum berhasil menerobos duopoli Canon dan Nikon, beberapa penyebabnya antara lain persepsi fotografer terhadap sensor four thirds yang ukurannya lebih kecil dari full frame & APS tidak begitu baik, dan juga pada awalnya teknologi kamera mirrorless tidak secepat kamera DSLR.

Saat ini beberapa kamera top Panasonic & Olympus sudah matang dan enak digunakan, artinya masalah-masalah yang biasa menghantui kamera mirrorless sudah bisa teratasi. Keunggulan kedua jenis kamera ini adalah ukuran lensa yang sangat compact, kelemahannya adalah kualitas gambar di ISO tinggi. Oleh sebab itu, yang menghambat kedua sistem kamera ini untuk mendominasi pasar saya rasa adalah tidak membuat sistem dengan sensor gambar yang lebih besar seperti full frame seperti ukuran film.

Sony

Sony adalah perusahaan elektronik besar yang mulai membuat kamera digital dengan mengakuisisi divisi kamera Konica-Minolta, dan membuat kamera DSLR dengan nama Sony Alpha, dengan sistem lensa A-mount di tahun 2006. Setelah beberapa tahun, sistem A-mount masih jauh dibawah Canon dan Nikon, maka itu Sony mulai membuat sistem mirrorless di tahun 2010 dengan nama Sony NEX, dengan sistem lensa E-mount. Sistem ini cukup populer karena ukuran kameranya sangat compact dan sensornya cukup besar yaitu APS-C.

Tapi yang membuat Sony naik daun adalah kamera mirrorless Sony A7 yang muncul di tahun 2013. Sistem ini merupakan kamera mirrorless pertama yang memiliki sensor full frame. Setelah itu, Sony meninggalkan nama “NEX” dan mengubahnya ke “Sony Alpha” nama yang sama dengan sistem DSLR-nya. Setelah itu, pengembangan mirrorless Sony makin cepat, hampir setiap tahun, ada beberapa kamera canggih baru yang dirilis.

Strategi Sony di era mirrorless adalah fokus ke format full frame, dan dalam beberapa tahun terakhir cukup berhasil merebut sebagian pasar yang tadinya dikuasai penuh oleh Canon dan Nikon. Sayangnya dengan fokus ke format full frame, kamera mirrorless Sony yang bersensor APS-C yang cukup sukses seperti Sony A6000, pengembangan lensanya sepertinya agak tak terurus. Dalam beberapa tahun belakangan, tidak ada lensa baru khusus untuk Sony E lens (APS-C). Tapi secara keseluruhan upaya dan kontribusi Sony di era mirrorless sangat berarti bukan hanya dalam hal membuat kamera saja, Sony juga membuat sensor untuk berbagai merk kamera lainnya.

Fujifilm

Di era DSLR tahun 2000, Fuji pernah membuat kamera DSLR profesional dengan bekerjasama dengan Nikon, yang bernama Fuji S1 Pro, yang kemudian diperbaharui beberapa kali sampai sekitar tahun 2006. Setelah itu Fuji lama menghilang, dan muncul kembali tahun 2012 dengan kamera mirrorless Fuji X-PRO1. Generasi pertama ini banyak kekurangan, terutama soal kinerja, tapi penggemar fotografi senang dengan desain dan kualitas gambar yang dihasilkannya. Dari kesuksesan tersebut, Fuji terus menerus mengembangkan kamera mirrorlessnya sampai saat ini. Di beberapa negara, khususnya Indonesia, kamera mirrorless Fuji X yang bersensor APS-C dengan desain unik X-Trans sangat diminati kawula muda.

Di tahun 2016, Fuji menggebrak dengan membuat kamera Fujifilm GFX dengan sensor medium format dengan resolusi 50MP. Gebrakan ini merupakan jawaban atas kritikan bahwa sensor APS-C tidak cukup untuk fotografer amatir serius dan profesional untuk menangkap detail sebanyak-banyaknya dan untuk cetak besar. Kedua sistem ini cukup sukses diterima dan pangsa pasar Fuji semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Nikon

Di tahun 2011, Nikon meluncurkan Nikon J1, kamera mirrorless dengan jenis sensor 1 inci. Kamera dan lensa sistem ini sangat compact dan memiliki teknologi autofokus dan foto berturut-turut yang sangat cepat. Sayangnya, sistem Nikon 1 tidak begitu populer. Salah satu penyebabnya saya pikir adalah harga yang cukup tinggi dan persepsi umum bahwa kamera ini tidak berbeda jauh dengan kamera compact. Meski tidak ada pemberitahuan resmi, Nikon 1 sepertinya saat ini sudah dihentikan pengembangan-nya, atau dibiarkan mati suri. Tanda-tandanya adalah tidak ada produk baru Nikon 1 dari tahun 2015.

Jadi Nikon masih bergantung kepada kamera DSLR-nya, terutama yang semi-pro dan pro. Beberapa kamera DSLR pronya masih bagus, seperti Nikon D7200, D500, dan yang terbaru D850. Tapi merosotnya penjualan kamera compact, DSLR pemula dan kegagalan Nikon 1 di pasar membuat Nikon harus mengurangi jumlah pegawai dan menutup pabrik. Tidak sedikit pengguna kamera DSLR Nikon pindah ke kamera mirrorless seperti ke Sony dan Fuji. Nikon tahun depan dikabarkan akan membuat kamera mirrorless baru, kemungkinan dengan sensor yang lebih besar yaitu APS-C dan full frame.

Canon

Canon sampai saat ini masih mendominasi pasar kamera digital yang bisa tukar lensa (DSLR+mirrorless) saat ini. Dalam era transisi ke mirrorless, Canon terkesan sangat hati-hati. Canon tidak serta-merta meninggalkan pengembangan kamera DSLR-nya yang penjualannya masih tinggi, tapi membuat jalan transisi dengan menghadirkan Canon EOS-M. Sistem EOS M ini mengunakan mount baru (EF-M) maka dibutuhkan lensa khusus. Jika ingin memasang lensa DSLR Canon juga bisa, tapi harus mengunakan adaptor.

Kamera DSLR Canon keluaran dua tahun lalu juga sudah seperti mirrorless teknologinya. Saat memotret live view (dengan monitor LCD), autofokus kamera sudah cepat (berkat teknologi dual pixel). Meskipun sebagian besar kamera DSLR Canon lebih tebal dari kamera mirrorless pada umumnya, tapi karena bahan yang digunakan, terasa cukup ringan.

Di era transisi DSLR ke mirrorless ini, saya nilai strategi Canon sudah tepat, yaitu dengan memberikan jalan kepada pengguna DSLR Canon untuk transisi ke mirrorless dengan teknologi dual pixel AF dan dengan beberapa pilihan Canon EOS M. Yang menjamin kesuksesan Canon adalah menjaga harga tidak terlalu tinggi baik kamera maupun lensa-lensanya.

Leica

Produsen kamera dan lensa mewah dan premium ini sejak tahun 2014 meluncurkan sistem mirrorless baru yang sistem lensanya dinamakan L-mount. Sebelumnya Leica sudah punya sistem yang secara teknik juga boleh disebut kamera mirrorless yaitu Leica M. Bedanya L-mount sudah mendukung fitur autofokus dan memiliki lensa-lensa zoom dari lebar sekali sampai telefoto.

Kamera pertama Leica adalah Leica T/TL yang bersensor APS-C, kemudian di tahun 2015, Leica meluncurkan kamera Leica SL dengan sensor full frame. Keduanya mengunakan sistem L mount, artinya lensa TL bisa dipasang di kamera Leica SL dan sebaliknya. Lensa Leica M atau DSLR juga bisa dipasang ke Leica L dengan adaptor.


 

Jadi sebagian besar produsen kamera dalam beberapa tahun terakhir sudah bertransisi ke era mirrorless dengan baik. Sebagian malah sudah meninggalkan sistem DSLR-nya seperti Olympus dan Sony, tapi masih ada yang belum siap seperti Nikon dan Pentax, yang terakhir disebutkan bahkan sudah jarang terdengar kabarnya lagi.

Yang menjadi pembeda adalah strategi marketing antar merk. Canon mengincar segmen pemula dan yang punya budget tidak besar. Fuji, Olympus dan Panasonic mengincar segmen menengah, sedangkan Sony, Leica membidik segmen atas.


Sudah punya kamera DSLR atau mirrorless? Ayo ikut acara belajar, hunting foto dan tour foto. Info selengkapnya bisa baca halaman jadwal Infofotografi atau hubungi 0858 1318 3069.

About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Google+ dan Instagram: enchetjin

{ 10 comments… add one }
  • je November 17, 2017, 8:28 pm

    ko,mau tanya untuk kamera canon 600D sama canon 70D kalau untuk ambil gambar/video preweding/out door sama indoor mana yg paling bagus? trims.

  • Riez November 17, 2017, 4:59 pm

    Terkadang org beli kamera bukan beli spesifikasinya …tapi lebih kepada “karakter/tone” nya… apapun sistem nya.. kalo sudah suka.. susah pindahnya hehe

  • Rian November 17, 2017, 4:44 am

    Masalahnya mirrorless ga enak handlingnya. Juga tidak sesuai untuk sport dan wildlife photography. Buat yg lain sudah oke.

    • Enche Tjin November 17, 2017, 7:17 am

      Rata2 memang gripnya kurang besar, tapi mulai ada yg gripnya besar seperti panasonic g9 dan leica sl.

      • Komar November 17, 2017, 10:43 pm

        Kedepannya untuk yg pro ataupun kelas enthusiast, mkn akan sama Kali ya Ko. Hanya hilang prisma nya. Tapi posisi evf tetap di posisi tradisional. Kalau lensa agak Panjang sedikit jadi ga enak. Mirrorless paling pas model range finder, buat jalan2. Yah…. Itu opini saya aja sih. Sempet main mirrorless sebentar, balik lagi ke slr. Mirrorlessnya cm untuk have fun

  • Gugi November 15, 2017, 1:47 pm

    Koh, mau tanya :
    Mau mulai fotografi, untuk hobby, street photography, dan food photography. Karena budget terbatas,ada saran beli kamera apa kisaran 9jutaan. Kepikiran untuk beli EOD 200D atau Sony a6000. Mohon saran nya.

    Many thanks,
    Gugi

    • Enche Tjin November 15, 2017, 5:49 pm

      Canon 200D dengan lensa 24mm f/2.8 cukup oke buat street dan lensa-lensa Canon lebih terjangkau harganya (baru/bekas) kalau mau yang compact Sony lebih kecil, tapi lensa yang berkualitasnya lebih tinggi harganya.

  • Eric November 15, 2017, 9:02 am

    kl saya malah kebalik.. awal2 pake sony a6k beralih ke canon 80D.

  • Johan November 15, 2017, 7:57 am

    Oot koh.
    Misalnya saya pake sony a7 dipakein lensa 18-105mm oss dengan mode apsc.
    Apakah hanya kualitas megapikselnyakah yang turun jadi 10mp. ? Apakah ekuivalen aperturenya yang f/4 jadi ikut apsc (f6) atau masih tetep di FF (f4).
    Atau ada penurunan kualitas lain?

    • Enche Tjin November 15, 2017, 8:21 am

      Tetap f/4, tapi megapixelnya jadi 10MP saja.

Leave a Comment