≡ Menu

Liputan tour fotografi Sichuan Oktober 2017

Tour fotografi ke Sichuan kali ini sebenarnya awalnya bertujuan ke Jiuzhaigou, yang menurut saya taman nasional terindah di dunia. Tapi kami kurang beruntung karena Jiuzhaigou tutup karena daerah tersebut terkena dampak gempa tgl 8 Agustus,  sehingga harus tutup untuk restorasi.

Awalnya, saya diberi kabar bahwa Jiuzhaigou akan dibersihkan dan akan dibuka kembali satu bulan setelah gempa, tapi ternyata ada beberapa lokasi di dalam Jiuzhaigou yang mengalami rusak cukup parah, sehingga pemerintah memutuskan untuk menutup taman nasional ini dalam waktu yang belum ditentukan lamanya.

Sekitar sebulan sebelum keberangkatan, saya menyusun plan B, yaitu ke taman nasional Bipenggou dan Huanglong sebagai ganti Jiuzhaigou, dan setelah saya utarakan rencana saya, semua peserta sepakat untuk tetap ikut.

Singkat cerita, kita telah berada di Chengdu menuju Bipenggou. Taman nasional ini relatif lebih dekat dari Jiuzhaigou, sekitar 3-4 jam saja. Tujuan utama kita untuk melihat dan memotret daun-daun di musim gugur, tapi ditengah jalan, saat toilet stop, saya mendengar penjaga toilet mengatakan bahwa di atas gunung telah turun salju . Agak bingung juga, kok musim gugur sudah turun salju? Lantas pemandu lokal kami mengabarkan bagi yang mau ambil mantel/baju tambahan dari koper di bagasi, karena situasi cuaca gunung sulit diprediksi, kalau matahari keluar bisa 20 derajat Celcius, tapi kalau tidak, bisa dibawah 10 Celcius.

Leica SL dan lensa Leica SL 24-90mm saya ikut basah dengan salju yang meleleh

Sesampai disana, kita naik shuttle bus ke atas dan ternyata sedang ada badai salju yang cukup lebat. Iesan senang bisa berfoto dengan latar belakang bersalju seperti impiannya selama ini. Tapi masalahnya posisi kita berpijak agak tinggi dan badai salju cukup besar sehingga saya sedikit pusing saat banyak bergerak dan sulit memotret karena salju.

Setelah basah oleh salju dan capai memotret di Bipenggou, bayangan saya saat di bis adalah bisa check-in ke hotel yang nyaman dan langsung mandi air panas. Setelah kurang lebih satu jam, kita sampai ke hotel. Saat check-in di informasikan bahwa lift sedang rusak, dan rombongan kami mendapat kamar di lantai ke-6.

Iesan menunggu baterai kamera, ponsel dan power bank peserta tur yang sedang di charge di ruang makan dekat lobi sebelum genset dimatikan.

Setelah ditelisik lebih jauh, ternyata lift bukan rusak, tapi seluruh kota kecil ini mati lampu karena badai, gardu listrik ada yang rusak karena terkena longsor. Alamak, alhasil kita harus mengangkat kopernya ke atas sendiri dan di dalam kamar sangat gelap. Benar-benar pengalaman yang tidak terlupakan bagi saya dan teman-teman serombongan.

Perjalanan yang cukup berkesan lainnya yaitu saat ke Huang Long. Ada dua jalur yang bisa dipilih, pertama adalah dengan cable car, lalu jalan menurun sekitar 6 km (Kurang lebih seperti jalan dari pelabuhan Sunda Kelapa ke Monas melewati kota tua dan melintasi jalan Hayam Wuruk). Opsi kedua adalah naik dari gerbang utama, treking ke atas sekuatnya, lalu turun lagi. Karena keterbatasan waktu dan tenaga, yang memilih opsi kedua tidak akan bisa mencapai posisi teratas, karena sangat sulit mendaki 4 km dan kemudian turun lagi. Tidak heran semua peserta memilih naik dengan cable car.

Di puncak stasiun cable car, ketinggian tempat saya berpijak sekitar 3500 meter diatas permukaan laut. Oksigen agak tipis dan setelah berjalan kira-kira 200 meter, saya merasa agak pusing, dan muka saya menjadi agak pucat menurut pengakuan Iesan. Lalu saya coba berhenti dan beristirahat sejenak sambil minum Oxygen Water yang saya beli di tengah jalan. Tidak tau apakah karena air yang saya minum, atau karena saya lebih memelankan langkah saya, pelan-pelan, tenaga saya pulih dan kemudian bisa berjalan kembali dengan lancar.

Perjalanan dari cable car ke kolam puncak warna-warni tidak begitu sulit, tapi memakan waktu yang cukup lama, kurang lebih dua jam. Setelah itu, saya dan rombongan mulai turun ke bawah, dari puncak ke exit masih ada 4km, dengan jalan menurun dan pemandangan yang indah di kanan kiri, depan belakang. Sesekali kita berhenti dan memotret.

Tanpa disadari, matahari sudah semakin turun, dan langit mulai gelap, waktu juga menunjukkan pukul 17.00. Seharusnya kita sudah keluar, tapi ada beberapa peserta yang belum turun. Setelah menunggu beberapa saat, saya memeriksa ponsel saya dan saya mendapatkan pesan dari peserta yang kami tunggu. Kabarnya ia dan dan istrinya mungkin nyasar dan tidak kuat lagi. Wahh gimana dong?jalan masih cukup panjang. Lantas, saya pun menenangkan diri terlebih dahulu, dan saya pikir-pikir, kalau nyasar mungkin tidak, karena jalannya cuma satu dan lurus, mungkin masalah kaki saja. Jalan menurun selama berkilo-kilo tentunya membuat dengkul sakit. Akhirnya saya mengangkut ransel Iesan dan Iesan yang lebih gesit naik lagi untuk menyusul ke atas untuk mencari beberapa peserta yang masih ketinggalan, karena jika langit sudah gelap, akan lebih sulit lagi mencarinya.

Kira-kira satu setengah jam kemudian, akhirnya Iesan menemukan empat peserta yang “hilang” dan menuntun mereka balik ke bis. Untungnya, semuanya selamat, hanya ada salah satu peserta yang kakinya sakit jadi jalannya harus pelan-pelan. Akhirnya, kita baru beranjak dari kawasan Huang Long sekitar jam 19.30 malam. Dalam perjalanan pulang melewati gunung-gunung es diatas 4000 m, kami disambut oleh kabut tebal dan badai salju. Untungnya perjalanan lancar dan akhirnya tiba di hotel pukul 21.00 malam.

Dua hari berikutnya, kita bertemu dengan rombongan turis dari Indonesia saat sarapan di kota Dujiangyan. Rupanya mereka juga ke Huang Long sehari setelah kita pergi, dan mereka harus balik arah karena jalan di gunung es tersebut penuh es. Seandainya kita telat sehari kesana, maka kita juga akan senasib dengan mereka.

Hari-hari berikutnya kita lewatkan dengan lebih santai dan tujuan terakhir kita ke gunung Qingchen, gunung penuh dengan pohon-pohon yang hijau dan kuil-kuil Tao yang membuat kita rileks sebelum kembali ke tanah air.

Dari awal, trip ini memang jauh dari sempurna. Tapi trip ini mengajarkan kepada saya bahwa untuk mendapatkan pengalaman yang bagus, kita juga harus mengalami pengalaman yang buruk juga. Semoga trip ini bisa menjadi yang paling berkesan bagi kita semua.

Terima kasih kepada semua peserta tour yang sudah sabar, dan kompak saling membantu dan memperhatikan satu-sama lain. Semoga kita dapat berjumpa kembali di tour fotografi ke Jiuzhaigou musim gugur, tahun 2020.

About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Google+ dan Instagram: enchetjin

{ 1 comment… add one }
  • Budi Tan December 28, 2017, 1:09 pm

    Nice written Ko eNche.. Ngomong2 di foto keluarga ada yg mingsleup.. Hihihawce

Leave a Comment