≡ Menu

Review Leica CL : Kesan pertama

Seminggu belakangan ini saya dan Leica Ambassador Indonesia lainnya diberikan kesempatan untuk mencoba kamera digital Leica terbaru yaitu Leica CL [spesifikasi kamera]. Saya diberikan kesempatan untuk mencoba kamera ini dari tanggal 4 sampai 6 Desember 2017. Dalam rentang waktu yang singkat ini, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mencoba kamera ringkas yang dapat bertukar lensa.

Saat memegang pertama kali saya mendapatkan kamera ini jauh lebih compact daripada kamera utama saya Leica SL, ukurannya sedikit lebih panjang dari Leica D-Lux 019. Desainnya enak dilihat dan photographic centric, artinya ada tombol-tombol jalan pintas, tombol empat arah dan roda dial untuk memudahkan fotografer mengganti setting dengan cepat. Berbeda dengan Leica TL2, CL sudah dilengkapi dengan built-in viewfinder yang sedikit menonjol di sebelah kiri atas kamera, viewfinder ini ideal dalam ukurannya, dengan perbesaran .74x cukup luas bagi saya yang menggunakan kacamata. Jika lebih luas lagi, saya harus menggeser bola mata saya untuk melihat keseluruhan gambar. Saya mendapati diri saya lebih sering memotret dengan viewfinder, terutama di kondisi cahaya yang terlalu terang.

Saya mencoba kamera ini dengan dua lensa, Leica TL 18-55mm f/3.5-5.6 dan Leica TL 35mm f/1.4. Lensa 18-56mm ini bukan sekedar kit lens, Kualitas lensa dari mekanik dan fisiknya jauh lebih baik daripada lensa pada umumnya. “Zoomnya buttery smooth ya?” ujar teman saya Paul Yahya yang sempat mencoba lensa ini.

Kualitas gambar yang dihasilkan kombinasi kamera dan lensa ini tajam dan penuh detail, cocok untuk digunakan sehari-hari. Tapi untuk membuat latar belakang blur, lensa 35mm f/1.4 lebih ideal. Lensa buatan Jerman ini adalah salah satu favorit saya karena bisa digunakan di f/1.4, dimana hasilnya sangat tajam dengan rendering dimensi dan latar belakang blur yang mulus.

Saya juga mencoba beberapa film style, preset yang tersedia di dalam kamera yaitu Natural dan B&W. Saya cukup terkesan dengan hasil foto langsung dari kameranya. Film Style Natural sifatnya netral, warnanya tidak terlalu ngejreng, sedangkan yang B&W tidak terlalu kontras, tapi lengkap dan mulus gradasi abu-abunya.

Kemampuan kamera dalam menangkap detail dan dynamic range, melebihi kamera dengan sensor APS-C dan hampir setara dengan kamera bersensor full frame seperti Leica Q, Sony A7, Canon 6D dan lain-lain, tapi sedikit lebih banyak noise saat mengunakan ISO tinggi. Saya pribadi bisa menerima noise di ISO 3200 untuk foto warna, dan ISO 6400 untuk foto hitam putih. Untungnya, tekstur noise dari Leica CL ini, enak dilihat seperti grain film, dan detail dan ketajaman masih sangat baik, tidak seperti kamera bersensor APS-C yang lain.

Leica CL, 35mm f/1.4, di f/1.4, 1/250 detik, ISO 100, BW high contrast style.

Kelebihan Leica CL

  • Kualitas desain, material dan hasil gambar terbaik di kelas kamera APS-C, bahkan melebihi sebagian kamera full frame terbitan 4 tahun yang lalu.
  • Desain kamera ringkas dan photographic centric.
  • Fleksibilitas untuk mengunakan berbagai lensa, diantaranya lensa Leica TL, SL, atau M dengan adapter, kualitas tidak menurun saat mengunakan lensa-lensa M-mount, hanya sudut pandangnya menjadi kurang lebar karena crop factor 1.5x

Ada beberapa hal yang tentunya kelemahan kamera ini, tapi rasa bukan hanya diderita oleh Leica CL, tapi juga kamera mirrorless pada umumnya, misalnya baterainya (sama dengan Leica Q), terasa cukup cepat habis (215 foto per full charge), maka itu perlu minimal 3 baterai jika ingin hunting foto seharian. Selain itu, kamera terasa panas jika dinyalakan terus menerus dalam jangka waktu lama.

Leica CL, 35mm, f/1.4,  1/400 detik, ISO 100

Siapa saja yang cocok dengan Leica CL ini?

  • Fotografer yang menginginkan kamera yang ringkas dan berkualitas premium
  • Pengguna Leica D-Lux yang ingin kamera yang dapat memasang lensa super lebar, tele dan fix.
  • Pengguna Leica X dan X Vario yang ingin kamera yang kualitas gambar dan kinerja yang lebih bagus, juga bisa berganti lensa
  • Pengguna Leica M yang ingin kamera yang lebih ringkas, memiliki autofokus dan lensa zoom
  • Pengguna Leica S/SL yang ingin kamera yang lebih ringkas untuk travel dan sehari-hari.

Beberapa kesan dari Leica Ambassador Indonesia:

“Baru tes tiga hari, body solid, size pas ditangan, output file bagus banget, low light oke sampai ISO 6400. Memang pas untuk second body bagi yang punya Leica M, operasinya mudah banget.”

Rony Zakaria, photojournalist.

“Leica CL handy and ergonomic, bisa jadi kacang goreng buat orang yang mau kamera kecil dan bisa ganti-ganti lensa”

Ruben “Roe” Hardjanto, street photographer dan visual storyteller.

“Leica CL mirip mini SL, compact dan handy, tonenya oke, agak condong ke warm dibanding SL, meteringnya juga oke, kemampuan buat blur dengan lensa bukaan besar cakep juga.”

Tommy Siahaan, portrait & lifestyle photographer.

Leica CL, Leica 18-56mm, 38mm f/5, 1/40 detik, ISO 5000

Leica CL, 35mm f/1.4, f/1.4, ISO 100, 1/250 detik

Leica CL, 35mm f/1.4, f/1.4, ISO 400, 1/250 detik

Leica CL, 18-56mm, 18mm, f/7.1, 1/80 detik

 

Leica CL, 35mm f/1.4, ISO 1000, f/1.4, 1/250 detik

Leica CL + Voigtlander VM 10mm f/5.6 via Leica M to L adapter. ISO 6400, f/8, 1/250 detik

Kamera Leica CL memang bukan kamera dengan fitur yang tercanggih, tapi menurut saya adalah kamera bersensor APS-C yang paling enak digunakan saat ini, dilengkapi dengan kualitas gambar sangat baik langsung dari kamera. Kamera ini sangat cocok untuk fotografi sehari-hari dan traveling. Hanya membandingkan spesifikasi dan harga kamera saja tidak akan dapat memahami kualitas yang sesungguhnya dari kamera ini. Saya sarankan perlunya mencoba sendiri. Untuk ketersediaan unit demo, bisa menghubungi Leica Store Plaza Senayan, Jakarta, toko resmi Leica Indonesia di (021) 57906066.

Bagi yang tertarik memesan juga boleh lewat saya, Enche Tjin, Leica Ambassador Indonesia. Silahkan WA 0858 1318 3069 untuk harga dan ketersediaan kamera CL dan lensa ini.

About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Google+ dan Instagram: enchetjin

{ 0 comments… add one }

Leave a Comment