≡ Menu

Kesan pertama Leica Q

Dari pertama kali Leica Q diluncurkan tiga tahun yang lalu, saya sering mendengar teman-teman yang mengunakan Leica Q sering memuji kameranya sebagai yang terbaik. Saya sendiri juga merasa Leica Q ini sangat good value (pantas) karena kualitasnya mirip seperti Leica M, namun dengan harga yang relatif terjangkau dan juga di dalamnya tersemat teknologi canggih sehingga tidak perlu repot-repot manual fokus.

Leica Q adalah kamera Leica yang paling sukses dalam tiga tahun terakhir ini

Saya pernah mencoba dan mengutak-utik Leica Q beberapa kali, tapi baru kali ini saya bisa mengunakannya lebih seksama. Ceritanya ada teman yang menawarkan Leica Q warna hitam bekas tapi fungsinya masih bagus kepada saya dengan harga yang tidak terlalu tinggi, dan kebetulan Iesan juga mengizinkan (jarang sekali istri mengizinkan suami yang sudah punya lebih dari tiga kamera untuk beli kamera baru yang harganya puluhan juta hahaha). Jadi saya cepat-cepat membeli kamera ini sebelum Iesan berubah pikiran.

Kesan pertama saya cukup positif: Kualitas body Leica Q dan lensanya  diatas kamera mirrorless pada umumnya karena mengunakan material logam yang kuat, begitu pula dengan tombol, dialnya. Meski demikian, body Leica Q tidak sempurna, seperti Leica M dan SL, catnya suka mengelupas setelah pemakaian yang cukup intensif, dan tidak tahan air.

Kinerja kamera cukup cepat, autofokus-nya cepat mengunci fokus, meski saya coba di kondisi yang gelap. Kecepatan foto berturut-turutnya sangat cepat, mencapai 10 foto per detik, bagi saya justru terlalu cepat, sehingga saya set ke medium speed (sekitar 6-7 foto perdetik).

Saat memotret, Leica Q juga suaranya sangat pelan relatif terhadap kamera mirrorless/DSLR, karena tidak punya cermin seperti DSLR, juga punya mekanisme shutter berjenis leaf shutter, sehingga suaranya lebih senyap. Kamera ini juga mendukung electronic shutter sampai 1/16000 detik dan flash sync speed 1/2000 detik (karena leaf shutter) sehingga pengguna flash akan mudah mengendalikan cahaya lingkungan/ambient dengan mudah tanpa harus tergantung pada fitur high sync speed flash.

Pengalaman saya pertama memotret dengan Leica Q saat berkunjung ke workshop pembuat gerabah ini menyenangkan karena hal-hal diatas, tapi tidak ada artinya jika kualitas gambarnya kurang memuaskan.

Tapi untunglah saat memeriksa kualitas gambarnya bagus, mendekati Leica SL, warnanya beda dengan kamera lain dan enak dilihat karena berkesan alami. Kualitas di kondisi gelap saat harus menaikkan ISO juga baik, tidak terlalu banyak noise yang muncul.

Kualitas gambar yang bagus ini karena sensor gambar Leica Q ini 24MP full frame sensor, dan didukung dengan lensa Leica 28mm f/1.7 OIS Macro yang di f/1.7 yang berkualitas tinggi dan mampu menghasilkan foto yang terlihat tiga dimensi, tapi karena saya perlu ruang tajam yang lebih (depth of field), maka saya sering mengunakan bukaan f/2-f/2.8.

Saya cukup puas dengan Leica Q ini, dan berencana membawanya ke trip India (Amritsar & Dharamsala) dan juga Tibet di bulan April 2018 ini. Yang ingin ikutan kabar-kabari ya. 🙂


Bagi teman-teman yang ingin memesan Leica Q, boleh menghubungi 0858 1318 3069. Kita bisa bantu untuk mendapatkan baik kamera Leica Q warna hitam/klasik, Leica Q Silver atau Leica Q special edition Barong (Titanium + Leather merah).

About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Google+ dan Instagram: enchetjin

{ 4 comments… add one }
  • Bagus April 9, 2018, 2:10 pm

    Koh maaf agak out of topic,
    saya mau tanya kok kamera saya Fujifilm XT1 ada dot hitam waktu aperture kecil seperti F10 keatas dan apabila F22 dot hitam itu semakin jelas.

    Saya coba jepret tidak pakai lensa dot tersebut menghilang.

    Kirakira permasalahannya ada di lensa atau di sensor? Dan bagaimana solusinya?

  • tiko April 4, 2018, 11:40 pm

    koh gambar di atas pake file jpeg ya..?

Leave a Comment