≡ Menu

Memilih kamera dan lensa untuk ke India dan Tibet 2018

Dalam satu dua hari ini, saya akan bersama teman-teman pencinta fotografi untuk ke India (Amritsar & Dharamsala) dan China – Tibet. Secara alami, masalah mau bawa kamera atau lensa apa menjadi persoalan yang hinggap di pikiran saya, juga mungkin teman-teman.

Jika dibawa semuanya ya tidak memungkinkan, karena keterbatasan fisik dan mental di lapangan. Dalam memilih, saya tidak hanya fokus ke jenis kamera, tapi juga lensanya, karena dari lensa sudut pandang, ketajaman dan dimensi foto tercipta.

Leica Q

Memang, tiap orang beda-beda, ada yang sukanya yang seringkas mungkin, ada yang perfeksionis yang selalu hasil fotonya terbaik secara teknis sehingga perlu kamera dan lensa terbesar dan terbaik, ada juga yang mementingkan lensa yang punya rentang zoom panjang, sehingga tidak perlu gonta-ganti lensa di lapangan. One camera, One lens, that’s all.

Saya sendiri biasanya mempertimbangkan kondisi lapangan dan apa jenis foto yang ingin saya buat disana.  Meski jarak India dan Tibet tidak jauh, tapi trip ke India kali ini sangat berbeda dengan trip ke Tibet, karena di India banyak human interestnya: motret orang-orang dari jarak dekat, dan mungkin sedikit landscape kalau cuaca mendukung. Suhu sekitar 20-35 C, jadi tidak jauh berbeda dengan di Jakarta, hanya mungkin sedikit lebih sejuk saat di Dharamsala.

Di Tibet sendiri kondisi alamnya beda, pertama masih dingin (0-14 C) dan di dataran tinggi. Pertama-tama di Xining saja sudah 2400m, lalu Lhasa 3600m, dan kemudian rata-rata spot fotonya berada dikisaran 4000-5000 meter-an. Jadi stamina dan nafas bisa dipastikan cepat habis, maka itu perlu memilih gear yang tepat.

Trip India: Leica Q dan Sigma DP2M

Untuk ke India, saya memilih membawa Leica Q, kamera yang terkenal untuk street photography karena ukurannya kecil, kinerjanya cepat dan kualitas lensa dan kameranya sangat baik. Alasan utama saya adalah lensa 28mm yang dimiliki Q ini. 28mm memberikan perspektif yang lebar, cocok untuk bercerita tentang subjek, dan dapat untuk memasukkan latar belakang yang cukup luas sebagai konteks cerita. Untuk memotret pemandangan juga 28mm cukup luas dan terkesan alami.

Sigma DP2 Merrill

Satu kamera lagi yang saya bawa untuk menemani Leica Q adalah Sigma DP2 Merrill. Kamera ini memiliki sensor Foveon (kurang lebih setara sensor APS-C yang dapat menangkap warna-warna yang pekat tapi murni, dan tajam sekali, namun lambat sekali dan tidak bagus digunakan di ISO tinggi (400) ke atas. Tapi saya senang lensanya 30mm (ekuivalen 45mm di full frame). 45mm menurut saya, memberikan perspektif yang alami/standar, sesuai apa yang dipandang mata. Dibandingkan dengan lensa 50mm, 45mm sedikit lebih lebar, sehingga untuk foto jarak dekat masih baik.

Trip Tibet: Leica Q dan Leica V-Lux 114

Leica V-Lux 114

Untuk ke Tibet, saya memperkirakan saya perlu kamera dengan focal length yang berbeda-beda untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Karena di trip ini subjek yang dipotret akan beragam, dari human interest dan pemandangan. Saya juga harus menjaga agar kombinasi kamera saya tidak terlalu memberatkan, oleh sebab itu saya memilih Leica V-Lux 114 untuk mendampingi Leica Q, karena V-Lux ini punya kelebihan bisa zoom ekuivalen 25-400mm dan bukaannya juga cukup besar untuk kategori lensa superzoom yaitu f/2.8-4 dengan stabilizer built-in. Bobot kamera V-Lux dengan lensa built-in nya sekitar 800 gram. Kelemahannya ya tentunya sensornya berukuran 1 inci saja, tapi saya pikir kompromi yang wajar mengingat saya mendapatkan keuntungan rentang zoom yang luar biasa.

Oke demikianlah sharing saya kali ini, setiap orang memang beda-beda kesukaannya, jadi ya tidak ada pilihan yang tepat atau salah, yang penting adalah saya harus fokus dalam memotret, jangan pikirkan apa yang tidak bisa dilakukan oleh gear yang dibawa di lapangan, tapi fokus dengan apa yang bisa, sehingga bisa lebih menikmati proses dan menghasilkan foto sesuai dengan suara jiwa kita masing-masing.


Bagi yang ingin gabung dengan trip yang diadakan Infofotografi, atau yang ingin memesan kamera/lensa Leica saya dapat membantu. Hub. 0858 1318 3069. Trims 🙂

About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Google+ dan Instagram: enchetjin

{ 5 comments… add one }
  • Pandu April 16, 2018, 10:12 am

    Hallo koh…maaf keluar dari topik yang dibahas…
    saya sedikit bimbang untuk memilih apakah lebih baik a7iii ataukah a7rii? Jika dilihat dari spesifikasinya.. Saya lebih banyak bekerja di fotografi. Mohon pandangan dari kokoh. Thank you

  • fadhilah April 15, 2018, 7:15 pm

    hallo koh, untuk pemula kira2 kamera yang bagus disekitaran 15 juta apa ya? saya sempat tertarik dengan lumix g85, apakah kamera tersebut masih worth it saat ini? dan kamera yang sejenis dengan lumix 85 apa ya koh? Terima kasih

    • Enche Tjin April 20, 2018, 9:01 am

      Bagus G85, alternatif lainnya Fuji X-T20, Sony A6300 dll. Bisa baca rekomendasi kamera Infofotografi selengkapnya di halaman ini.

  • Hary April 12, 2018, 12:19 pm

    halo koh, saya ingin tanya bagaimana dengan pentax k-s2. karena di blog tidak ada yang bahas.
    thanks.

    • Hary April 12, 2018, 12:59 pm

      maksud saya, saya tertarrik dengan kamera pentax k-s2 walaupun sudah tahun lama, tapi dari segi harga dan kualitas saya liat cocok, tpi saya ingin menanyakan pendapat dari koh enche bagaimana tanggapannya dengan pentax.
      thanks

Cancel reply

Leave a Comment