≡ Menu

Liputan tour fotografi India – jalan-jalan ke Amritsar 12-19 April 2018

Trip India kali ini mencatat rekor dengan peserta paling sedikit (empat orang). Kemungkinan karena bulan April bulan sibuk, atau destinasi Amritsar & Dharamsala tidak populer dan terkesan asing. Tapi saya sendiri sangat menikmati trip ini, karena saya suka hal-hal yang unik dan destinasi kali ini menarik karena menyimpan cerita sejarah yang menarik.

Pertama-tama, kita singgah di Singapura terlebih dahulu dan pagi-pagi kita menyempatkan diri untuk memotret Merlion Park dan selanjutnya makan pagi di pasar Tekka, dilanjutkan dengan foto-foto di kawasan Little India.

Sesampai di Amritsar, India, kami mulai belajar tentang kehidupan orang lokal, dan terutama agama mayoritas di provinsi Punjab, yaitu Sikh. Agama ini memiliki aturan unik seperti tidak boleh mencukur rambut, kumis atau jenggot, dan sebagian besar pria disana mengunakan turban untuk menutupi rambut mereka yang sangat panjang. Sikh percaya akan satu Tuhan (monoteistik), tidak mengenal kasta dan mengakui persamaan (equality) antara pria dan wanita.

Di kota Amritsar, terdapat kuil pusat agama Sikh yang dinamakan Harmandir Sahib, atau sederhananya disebut juga Golden temple karena kuil ini dilapisi emas. Temple ini dikelilingi oleh kolam yang digunakan umat Sikh untuk mandi, menyucikan diri. Menarik sekali melihatnya. Kuil ini juga dikelilingi oleh bangunan yang bergaya Inggris.

Meski terlihat agak menyeramkan, tapi penjaga Golden Temple ini baik dan ramah, tidak menolak saat saya meminta untuk memotret mereka.

Di dalam Golden Temple ini, ada dapur raksasa yang setiap hari melayani 50-100 ribu orang per hari secara cuma-cuma / gratis. 90 persen dari yang memasak dan melayani dari komunitas sukarelawan yang menyisihkan beberapa jam sehari untuk membantu. Kami sempat berkunjung ke dalam dan memotret kegiatan dapur dan ruang makan disana. Info lengkap tentang Langar bisa dibaca disini.

Setelah itu, kita menuju desa McLeod Ganj, dekat Dharamsala di propinsi Himachal Pradesh. Desa ini terkenal karena merupakan basis dari Dalai Lama dari Tibet yang mengungsi sejak 1959. Dari sini, kita bisa melihat gugusan pegunungan Himalaya.

Saat kita berkunjung sebenarnya Dalai Lama ada di kota dan memberikan ceramah, namun karena kita berkunjung ke air terjun terlebih dahulu, saat tiba di kompleks kuilnya, Dalai Lama telah selesai, sehingga kita tidak bisa bertemu dengannya. Mungkin belum jodoh ya. Pengunjung cukup multicultural, tidak hanya orang Tibet, tapi juga banyak orang bule/Eropa.

Kompleks kuil Dalai Lama ini memiliki tema warna yang berbeda dengan yang di Tibet. Disini, warnanya dominan kuning, seperti di istana musim panas Norbulingka. Sedangkan yang di Tibet didominasi dengan warna putih, merah bata dan hitam.

Karena punya waktu luang, kami berkunjung ke desa kecil dekat kota McLeod yang bernama Dharamkot, desa kecil ini populer dikalangan para hipster, sebagian besar anak-anak muda yang cool dan anti budaya mainstream.

Penduduk Dharamkot kebanyakan orang Israel yang tinggal disini dalam waktu yang cukup lama, bisa berbulan-bulan. Disini mereka bekerja sebagai seniman seperti membuat karya kerajinan atau seni seperti melukis. Dibaliknya, Dharamkot juga memiliki reputasi yang kurang baik karena penduduknya sering pesta obat-obatan terlarang. Ulasannya disini.

Selanjutnya, kita berkunjung ke perbatasan Wagah antara India dan Pakistan untuk melihat upacara persahabatan kedua negara untuk menurunkan bendera. Upacara ini menarik karena menggugah rasa nasionalisme dan patriotisme. Coba lihat saja reaksi penonton di sisi India yang sebagian besar sangat antusias. Salah satu peserta trip, Pak Arifin sampai mempertimbangkan untuk menjadi warga negara India.

Lalu pagi-pagi kami ke Golden Temple lagi, karena ingin menyaksikan upacara pemindahan Kitab suci dari ruangan khusus ke dalam kuil. Pukul 5.00 pagi kita sudah berangkat, dan upacara pemindahan dilakukan sekitar pukul 5.30-6.30 pagi.

Pagi hari di Golden Temple suasananya tenang dan langit saat itu juga sangat lembut dan tidak panas, membuat kita nyaman berlama-lama nongkrong disini.

Sebelum ke airport, kami diajak ke Museum Maharaja Ranjit Singh, seorang kaisar Punjab yang disegani di tahun 1800-an. Dari museum ini, kami belajar bahwa dulunya daerah Punjab cukup luas, yaitu termasuk sebagian daerah Pakistan, termasuk kota Lahore yang dekat dengan perbatasan India, sebagian daerah Afganistan, dan beberapa negara bagian India seperti Punjab (tentunya), Haryana, Jammu dan Kashmir, termasuk kota Delhi.

Trip kali ini adalah salah satu yang paling saya nikmati karena menambah wawasan tentang daerah Punjab dan Dharamsala, dan bersama orang-orang yang kompak tapi berbeda-beda kesukaannya sehingga dapat saling melengkapi.

*foto-foto diatas kesemuanya mengunakan Leica Q

Ingin ikutan photo trip Infofotografi keluar negeri? Jadwal sementara untuk tahun 2018 :

Hub: 0858 1318 3069 / infofotografi@gmail.com untuk informasi.

About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Google+ dan Instagram: enchetjin

{ 0 comments… add one }

Leave a Comment