≡ Menu

Pengalaman dengan Panasonic Lumix G9 di Trip Tibet

Awal mendengar akan diadakan trip Tibet ini, saya sama sekali tidak antusias. Bagaimana tidak? Baru posting diadakan trip ini, Enche (ig @enchetjin) sudah menerima telpon dari beberapa teman dengan saran untuk lebih berhati-hati membawa trip ini, berhubung tempatnya berada di ketinggian yang dapat mengakibatkan ACM (Acute Mountain Sickness). Terima kasih atas perhatiannya, atas masukan-masukan inilah, Enche kemudian sedikit merevisi itinerary trip untuk aklimatisasi yang lebih maksimal.

Seperti biasa, sebelum perjalanan, saya dan Enche selalu diskusi mengenai gear yang akan dibawa. Kebetulan saat ini saya masih mendapat pinjaman kamera Lumix G9 dengan lensa Leica DG Vario-Elmarit 12-60mm f/2.8-4 ASPH. Berat keseluruhan kurang lebih 1 kg saja. Dipadu dengan tas backpack Kata DL-467, saya sudah merasa nyaman dan tidak keberatan. Sekilas meskipun tas itu terlihat besar, namun berfungsi juga sebagai kantong Doraemonku (untuk keperluan menampung passport para peserta, tiket/surat/Tibet permit, minuman, makanan ringan dan obat-obatan darurat).

Saya sempat meragukan kamera bersensor kecil (micro four-thirds) ini namun setelah mempertimbangkan warnanya (natural), bobot (lebih ringan dibanding dengan sensor APS-C dan fullframe), lensa (ringkas dan kecil) saya pun menetapkan pilihan saya ini dengan mantap. Lengkapnya bisa dibaca di sini.

Dalam praktiknya, saya merasa cukup beruntung karena tidak perlu ribet dengan urusan ganti-mengganti lensa. Fokusnya hanya satu (kamera dan lensa yang ada di tangan). Saat kamera sudah dikeluarkan dari tas, otomatis bobot belakang tentunya sudah berkurang sehingga bahu yang menopang tas punggung sama sekali tidak mendapatkan beban yang berarti.

Saya sendiri termasuk tipe yang tidak begitu sering foto kalau lagi bawa trip jadi untuk tipe seperti saya ini cukup 1 kartu memori 64GB dan dua hari sekali saya baru mengecharge 1 baterai. Total jepretan 2220 foto (rata rata 185 foto per hari).

Mengenai hasil fotonya, saya cukup puas. Warnanya natural. Saya tidak perlu menghabiskan banyak waktu di editingnya (koreksi exposure, kontras dan ketajaman apabila diperlukan).

Warna primer dan sekunder yang tampak alami seperti apa adanya di lapangan

Performa terhadap dingin di suhu minus 5 pada saat keadaan bersalju, kamera ini juga masih tetap dapat digunakan tanpa kendala.

Ikutan foto pasangan yang sedang prewed di Namtso

Setibanya di tanah air dan menghabiskan waktu dua hari penuh untuk memilih foto, akhirnya saya dapat membuat kumpulan foto tersebut dalam satu album. Cukup mengejutkan karena di trip sebelumnya, saya tidak pernah membuat photobook. Hasilnya saya sharing di link ini, semoga teman-teman dapat terinspirasi untuk mengumpulkan foto-foto dan membuat photobook dalam perjalanannya. Foto yang ada di dalam album tersebut semuanya dibuat dengan menggunakan kamera Panasonic G9 (kecuali sebagian besar foto di bab foto teman dan foto yang ada saya di dalamnya difoto oleh Enche).

Saya rasa dengan membawa hanya satu kamera dan lensa, saya bisa lebih fokus untuk memaksimalkan gear yang dibawa tanpa harus berpikir panjang untuk memutuskan menggunakan kamera atau lensa yang mana pada situasi tertentu. Selain itu, beban yang ringan membuat saya tidak perlu menderita sakit punggung ataupun kelelahan membopong barang bawaan.

Terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan untuk mengunjungi negeri atap dunia dan terima kasih kepada semua peserta yang tetap fit sampai tur berakhir. Karena keunikan tempat dan keindahan pemandangannya, kami memutuskan untuk kembali mengunjungi Tibet di bulan November ini dengan pemandangan di musim gugur dengan beberapa spot yang berbeda. Bagi yang berminat mengikuti trip ini, bisa menghubungi saya di email infofotografi@gmail.com atau di 0858 1318 3069.

About the author: Iesan Liang adalah seorang penggemar fotografi yang aktif berkontribusi untuk acara Infofotografi. Salah satu buku karangan Iesan adalah Kursus editing dengan Adobe Lightroom. Temui Iesan di Instagram atau Google+

{ 8 comments… add one }
  • dave May 21, 2018, 9:05 am

    Menurut pendapat Enche, apa sebabnya Panasonic dan Olympus lebih suka memproduksi kamera dengan sensor Four Thirds dan belum ada yang bersensor APS-C atau Full Frame?

    • Enche Tjin May 22, 2018, 7:07 am

      Banyak faktor, salah satunya adalah kualitas foto hasil sensor micro four thirds sudah semakin baik untuk kebutuhan amatir/profesional dan masih bisa dikembangkan lebih bagus lagi. Keuntungan utama dari sistem ini adalah lensa-lensanya terutama yang telefoto sangat ringkas.

  • Iqbal May 19, 2018, 12:59 am

    Ibu…sy punya lumix gx9 dg lensa kit 12-32…sy ingin punya 1lensa lg…kbutuhan buat dokumentasi kluarga & travel…apakah 12-60mm f/2.8-4 recomended? Atau punya saran lain? Trimakasih…

    • Enche Tjin May 19, 2018, 1:33 am

      Recommended 🙂 lensa yang sangat bagus dan multifungsi baik di kondisi terang maupun gelap. Pilihan lain yaitu 42.5mm f/1.7, bagus buat portrait karena mudah membuat latar belakang yang tidak fokus jadi agak blur.

      • verdynizar May 31, 2018, 9:13 pm

        Kalo dibanding panasonic 15mm f1.7 bagus mana?

        • Enche Tjin June 1, 2018, 9:26 pm

          15mm untuk kondisi indoor gelap, street photography, pemandangan oke.

  • Cipto Subiyakto May 18, 2018, 5:07 am

    Terimakasih sharing nya… Iesan boleh tanya, bikin fotobook nya pake apa? LR?

  • Laurence May 16, 2018, 11:24 pm

    Proficiat!

Leave a Comment