≡ Menu

Nikon 1 pamit, adakah yang bakal menyusul?

Sistem kamera mirrorless dari Nikon, yang diberi nama Nikon 1, secara resmi dinyatakan tidak dilanjutkan pengembangannya. Sejak awal debutnya di tahun 2011, atau 7 tahun hadir di pasaran, kini kiprah format kamera interchangeable lenses dengan sensor 1 inci ini dinyatakan sudah berakhir. Dikutip dari dpreview, produk terakhir Nikon 1 seperti Nikon1 J5, V3 dan AW1 masih bisa dibeli selama stok masih ada, meski beberapa toko online sudah menyatakan kosong. Mari segarkan kembali ingatan kita tentang Nikon 1, dia adalah sistem kamera dengan mount yang berbeda dengan Nikon DSLR, dengan nama CX (2,7x crop factor) dan lensa kit 10-30mm itu menjadi lensa equiv. 27-80mm. Artinya kamera ini enak sekali buat main telefoto, misal lensa 100mm akan menjadi lensa equiv. 270mm, meski kurang cocok untuk mengejar wideangle karena terbatas hanya di ekuiv. 27mm saja.

Saya masih ingat di tahun 2011 pertama kalinya berkesempatan mencoba dan me-review Nikon1 J1 yang saat itu punya ekspektasi besar untuk menjadi produk alternatif dari kamera yang umumnya berukuran besar. Pro kontra soal sensornya yang 1 inci di saat itu lebih dikarenakan dulu orang menganggap kualitas foto hanya semata-mata ditentukan dari sensor saja. Padahal cukup banyak foto yang bagus bisa dihasilkan dari kamera seperti Nikon1. Saat saya mencoba Nikon1, hasil foto di ISO 1600 masih bisa dinikmati dengan noise yang relatif bisa diterima. Apalagi kini di saat teknologi sensor sudah semakin maju, sensor di ponsel saja sudah tergolong sangat baik. Apalagi secara spesifikasi Nikon1 punya beberapa keunggulan seperti auto fokusnya dan kinerjanya yang cepat.

Matinya sistem mirrorless Nikon 1 mungkin tidak mengejutkan. Selain penggunanya tidak banyak, juga produk baru mereka pun sudah berumur 3 tahunan, memang seperti mati suri di awal. Tapi tetap saja menjadi pertayaan bagi pengamat kamera seperti saya, mengapa hal ini bisa terjadi, khususnya pada merk sebesar Nikon. Saya yakin salah satu kontribusi utama adalah adanya keraguan di para petinggi Nikon untuk meladeni tren mirrorless kala itu, disaat penjualan DSLR lagi bagus-bagusnya. Hal itu menyumbang pada keputusan manajemen untuk merancang sebuah sistem yang tidak akan mengganggu penjualan DSLR Nikon, yang pada akhirnya menyulitkan para insinyurnya untuk mengembangkan produknya. Padahal kita maklum kalau Nikon, dan juga Canon, memang wajar kalau ingin melindungi DSLR-nya, tapi Canon setidaknya tetap berusaha terus konsisten memperbarui produk mirrorless mereka sambil membaca perubahan tren. Memang ‘perubahan’ saat ini lagi jadi kata kunci yang tren, masyarakat berubah, situasi juga bisa berubah.

Faktor kedua yang jadi penyebab gagalnya sistem Nikon 1 menurut saya adalah, tidak jelasnya segmentasi produk yang dibuat, padahal sistem kamera menuntut penggunaan jangka panjang karena orang akan terus investasi di sistem itu. Masih kuat dalam ingatan saya saat Samsung NX juga mengakhiri kiprahnya di kamera mirrorless, maka para pengguna Samsung NX yang sudah membeli beberapa lensa jadi resah dan akhirnya menjual semua lensanya dengan harga murah. Rasa percaya dan tenang dalam mengembangkan sistem (khususnya lensa) adalah penting untuk sistem baru, suatu hal yang juga harus diperhatikan oleh Canon EOS M (ayo dong Canon tambah lagi koleksi lensa EOS M kalian..).

Pamitnya Nikon 1 (dan Samsung NX) menambah panjang daftar sistem kamera yang mati suri atau mati beneran. Sebelumnya kita tahu Pentax Q juga sudah tidak pernah terdengar lagi, juga sistem Sony SLT yang meski tetap ada tapi gaungnya jarang terdengar. Ini bisa jadi contoh bahwa di jaman now modal yang dibutuhkan untuk bertahan bukan cuma punya nama yang besar, tapi juga kemampuan membaca arah tren dan teknologi, serta bersedia mendengarkan masukan dari berbagai pihak yang peduli. Inovasi dan terobosan boleh terus dilakukan selama dalam koridor yang realistis dan feasible dalam segi bisnisnya. Dalam berinovasi memang dikenal slogan ‘jangan takut gagal’ tapi harus diakui kegagalan bisa berdampak pada reputasi dan kadang selalu teringat di benak banyak orang. Kini setelah Nikon1 pamit, muncul pertanyaan besar apakah bakal ada sistem lain yang akan mengalami nasib serupa? Semoga saja tidak, bahkan sebaliknya kita ingin menantikan sistem baru yang akan kembali mencatatkan sejarah dalam fotografi, misalnya kehadiran mirrorless Nikon full frame yang bisa sewaktu-waktu diumumkan. Kita tunggu saja..

About the author: Erwin Mulyadi, penulis dan pengajar yang hobi fotografi, videografi dan travelling. Sempat berkarir cukup lama sebagai Broadcast Network TV engineer, kini Erwin bergabung menjadi instruktur tetap untuk kursus dan tour yang dikelola oleh infofotografi. Temui dan ikuti Erwin di Google+ dan instagram.

{ 5 comments… add one }
  • Andreas Prasetya July 18, 2018, 5:02 pm

    Menurut saya kegagalan terbesar Nikon 1 adalah penentuan harga dan posisi sistemnya. Harga lensa mahal2 malah beberapa melebihi harga lensa dx. Dengan harga mahal, konsumen enggan membeli kamera dan sistemnya lensanya. Padahal dilihat pasnya kamera Dengan sensor 1 inch sedikit di atas kamera saku maupun handphone.

  • Riez July 16, 2018, 12:34 pm

    Paradigma ukuran sensor nih.. Padahal sensor crop zaman sekarang udah bagus bgt karena ditunjang juga sama prosesor yg mumpuni.
    APSC sony jg agak lambat nih …

  • Herman Balangan July 14, 2018, 4:00 pm

    Apa penyebabnya ya koh..?

    • Enche Tjin July 18, 2018, 10:35 am

      Bingung juga si kenapa alasannya, memang kondisi bisnis skrg gak terduga.

  • Herman Balangan July 14, 2018, 3:58 pm

    Mantep koh ulasannya. Menurut saya Nikon 1 kualitasnya lebih dibanding kamera dg ukuran sensor yg sama, khususny compact. Qualitas fotonya lebih bagus di ISO tinggi dibanding yg lain, mungkin karena rancangan lensanya juga ya..

Leave a Comment