≡ Menu

Workshop fotografi tiga hari: 17 Agustusan, foto cerita dan editing

Kami mengamati bahwa kebutuhan fotografer pemula adalah lebih ke arah memperbanyak pengalaman memotret untuk melatih banyak hal seperti pemilihan setting, mengatur lensa, menentukan timing hingga editing foto. Tentunya akan lebih maksimal bila semua itu dibimbing oleh instruktur yang berpengalaman yang bisa memberi arahan dan masukan untuk mempercepat pemahaman. Untuk itu kami menawarkan sebuah kegiatan yang konsepnya adalah workshop hunting foto Jakarta yang akan lebih menekankan pada praktek memotret dengan bimbingan bersama Enche Tjin dan Erwin Mulyadi.

Pada workshop ini akan dikenalkan tentang prinsip foto liputan termasuk menyusun photo story, sambil memotret pemandangan kota tua hingga kapal tradisional di Sunda Kelapa, dan ditambah dengan mempelajari teknik lanjutan untuk foto pemandangan seperti foto HDR. Kegiatan ini dipilihkan khusus di hari libur panjang 17-19 Agustus 2018 sehingga selama tiga hari di Jakarta diharapkan pengalaman dan belajarnya bisa lebih maksimal.

Materi workshop yang sifatnya teori dan penjelasan teknis untuk sesi memotret dikirim via email sehingga bisa dipelajari lebih awal secara mandiri, juga bisa sebagai bahan bacaan lagi untuk kemudian hari. Supaya lebih efektif, peserta kegiatan ini dibatasi maksimal 16 peserta yang diharapkan sudah mengerti dasar fotografi (segitiga eksposur, WB, fokus, lensa dsb) dan bersedia mengikuti seluruh kegiatan dari hari pertama sampai selesai. Adapun detail kegiatan yang akan dijalani yaitu:

Hari ke-1, Jumat 17 Agustus 2018

Kita akan berkumpul di pantai carnaval Ancol jam 14.00 WIB untuk mulai memotret kegiatan lomba 17-an yaitu panjat pinang. Peserta diminta mengambil photo story kegiatan 17-an sebagai bagian dari foto liputan yang menarik, termasuk memotret keseluruhan maupun detail dari peserta lomba.

Hari ke-2, Sabtu 18 Agustus 2018

Kita kembali berkumpul di Kota Tua jam 7.30 WIB untuk kembali memotret dokumentasi, arsitektur, candid dan juga human interest untuk menjadi bekal membuat photo story tentang wisata kota tua Jakarta. Jam 10.00 WIB kita berkumpul di resto/cafe untuk memilih foto story dari sesi 1 (Ancol) dan sesi 2 (Kota Tua). Peserta diharapkan membawa laptop dan memilih foto-foto terbaiknya untuk dijadikan photo story. Para instruktur juga akan membantu memberi masukan dalam memilih foto yang sesuai.

Jelang sore, kita akan kumpul kembali di pelabuhan Sunda Kelapa. Di sana peserta diminta melatih komposisi dan bermain angle serta memilih lensa untuk mendapat foto yang menarik. Peserta juga akan mengambil foto bracketing HDR Sunda Kelapa menjelang sunset untuk diolah di software pada hari berikutnya.

Hari ke-3, Minggu 19 Agustus 2018

Di hari ketiga adalah saatnya memilih, membahas dan mengolah foto yang sudah diambil di hari pertama dan kedua. Bertempat di markas infofotografi Green Lake City (Rukan Sentra Niaga N-05 Duri Kosambi Jakarta Barat), kita akan menampilkan karya photo story terbaik dari peserta, juga mengevaluasi foto-foto secara teknis dan komposisinya, dilanjutkan dengan mengolah foto HDR di Sunda Kelapa (peserta perlu membawa laptop). Di akhir acara, Enche Tjin akan memberikan sharing mengenai tips editing foto yang baik memakai Adobe Lightroom.

Kami akan terus mendampingi semua peserta selama sesi workshop, sehingga peserta bisa terus dipantau, diarahkan dan tentu bisa berdiskusi sehingga proses belajarnya bisa efektif. Biaya* untuk mengikuti seluruh kegiatan ini adalah Rp. 1.200.000,- (untuk Alumni Kursus Kilat Dasar Fotografi dan pelajar cukup membayar Rp. 800.000,-).

Untuk mengikuti dan mendaftar pada acara ini silahkan transfer biayanya ke rekening Enche Tjin di BCA 4081218557 atau Bank Mandiri 1680000667780 kemudian konfirmasi ke 0858-1318-3069.

*Biaya adalah fee para instruktur selama 3 hari. Biaya yang dibayarkan belum termasuk biaya operasional kendaraan masing-masing, tiket obyek wisata maupun makan minum di resto/cafe selama kegiatan berlangsung.

Workshop ini terbuka untuk pengguna semua merk dan jenis kamera, baik compact, mirrorless atau DSLR.

About the author: Erwin Mulyadi, penulis dan pengajar yang hobi fotografi, videografi dan travelling. Sempat berkarir cukup lama sebagai Broadcast Network TV engineer, kini Erwin bergabung menjadi instruktur tetap untuk kursus dan tour yang dikelola oleh infofotografi. Temui dan ikuti Erwin di Google+ dan instagram.

{ 2 comments… add one }
  • Sudio July 13, 2018, 10:46 am

    Melihat perkembangan media online saat ini yg memuat foto juga mixed dgn video..sehingga terjadi pergeseran “photo story “..yg tidak melulu berupa rangkaian foto.. Tp foto plus video
    Apa tanggapnya ttg hal ini… Dan bukankah kamera yg bisa video 4k jadi lb berkibar?

    • Enche Tjin July 13, 2018, 1:24 pm

      Bisa jadi bagus, tapi kemungkinan besar bisa jadi berantakan. Karena diperlukan multi-keahlian. Foto dan videografi adalah disiplin yang membutuhkan teknik bercerita yang berbeda. Foto menangkap momen dalam 1 foto, Video menangkap keseluruhan adegan/alur. Tantangannya untuk kombinasi foto video (multimedia) adalah dalam menyusun konsep dan editing. Tidak mudah menggabungkannya dan terlihat mulus. Soal 4K, banyak kamera sudah mampu merekam 4K, bahkan kamera ponsel juga bisa, tapi apakah kita sudah siap?

Leave a Comment