≡ Menu

Pengalaman dengan Panasonic G85

Tulisan ini mungkin terasa agak lama terbitnya karena pertama kali saya hunting setelah kameranya dibeli adalah di tgl 17 Agustus pas lagi perayaan hari Kemerdekaan RI. Berhubung bukan kamera pinjaman, jadinya saya merasa tidak ada beban atau tanggung jawab harus cepat-cepat review. Lagipula, kamera ini sudah diumumkan 2 tahun lalu dan kemungkinan sudah basi untuk dibahas.

Dengan beda harga sekitar 13 juta, tentu saja kamera ini ada yang berbeda dengan G9. Saya sendiri dengan lugunya berharap dengan G85 ini bisa setara dengan G9 (hukum “harga ga bohong” berlaku disini). Saya agak sedikit menyesal sebenarnya. Pengennya jual kembali kemudian beli G9. Upps… Padahal sudah diwanti-wanti oleh Enche dari awal untuk dipikirkan kembali keputusannya (dan dia sebenarnya tidak keberatan kalau saya beli G9). Memang dasarnya saja saya ingin memilih yang lebih murah dengan kualitas terbaik. Pada umumnya orang yang pelit akhirnya akan menghabiskan dana lebih banyak (pelit disini maksudnya punya dana tapi tidak membeli yang sesuai/memilih berdasarkan harga saja).

Masalah pertama adalah warna dari hasil fotonya. G85 terlihat lebih warna lebih ‘ngejreng’ sedangkan saya sendiri lebih suka warna yang ‘soft’. Dengan bantuan Enche dan pak Momi, kamera saya diutak-atik bagian profile Natural (sharpness +1, noise reduction -2, dan saturation -2). Selain itu, white balancenya lebih cocok kalau diset ke daylight (gambar matahari). Setidaknya dengan perubahan ini, saya mengurungkan niat untuk menjual kamera ini.

Yang kedua adalah rentang dinamiknya/dynamic range yaitu perbedaan antara bagian gelap dan terangnya. Kalau perbedaannya terlalu jauh kemudian diedit dengan menerangkan bagian black/shadow maka akan berakibat munculnya noise. Ini berlaku untuk semua kamera bersensor kecil ya, meskipun G9 akan sedikit lebih baik dalam prosesnya.

Jika tipe Anda selalu mengambil gambar berkontras tinggi (perbedaan gelap terang yang cukup jauh) dan Anda anti dengan ‘noise’, maka saran saya lebih baik memilih kamera bersensor lebih besar seperti fullframe. Bagi saya, noise bukan masalah besar. Saya lebih mementingkan body dan lensa yang kecil sehingga lebih santai untuk mengambil foto dan tidak cepat lelah dengan beban berat. Keperluan foto pun hanya untuk dipajang di layar laptop atau smartphone. Lagipula, berapa orang yang menikmati foto sampai zoom ke 100%?

Kemudian, saya mencoba untuk mengedit salah satu foto menjadi hitam putih. Saya cukup gembira dengan hasilnya.

Saat malam tiba, saya mencoba untuk mengambil foto di ISO 3200. Hasilnya tidak bisa saya terima makanya tidak saya tampilkan. Hahaha…

Intinya, hunting pertama di Sunda Kelapa ini, saya belajar kelebihan dan kekurangan kamera ini lalu menerima apa yang bisa dan apa yang harus dihindari jika menggunakan kamera ini ke depannya. Ibaratnya kita memiliki ikan piaraan. Ikan itu pintarnya berenang (habitat di air), kalau ikannya disuruh terbang, yang ada kita yang stress. Ikannya juga ikutan stress.

Keesokan harinya di tgl 18 Agustus, saya pun ikutan hunting ke Ancol karena kabarnya akan ada Panjat Pinang Kolosal. Saya tidak menemukan kesulitan mengoperasikan kamera lagi karena ini hunting kedua saya. Kekurangannya hanya ada pada diri saya sendiri yang kurang berani mendekat ke objek foto sehingga semuanya tampak jauh dan kecil.

** Yang sering mengikuti tulisan saya pastinya tahu saya paling ga bisa foto yang ada objek manusianya (kecuali Enche sebagai model). Foto pose di atas hanya kebetulan pemenangnya sangat ramah dan ingin didokumentasi, bukan saya yang mulai berkomunikasi untuk mendokumentasikan mereka. Saya masih belum berani untuk meminta ijin. Hehe…

Setelah dua kali menyesuaikan diri dengan kamera baru ini, saya pun ikut trip ke Pangalengan yang setiap tahunnya diselenggarakan Infofotografi (salah satu tempat favorit saya untuk belajar foto). Hari pertama kami tiba di Cukul cuaca berkabut tebal. Saya malah senang dengan suasana yang ditimbulkannya. Banyak foto-foto yang saya senangi di trip kali ini. Sepertinya untuk 10 hari ke depan saya masih bisa aktif posting foto di IG jika diposting satu foto per hari.

Tak lupa di trip kali ini, saya juga membawa beberapa mainan dan sangat puas dengan hasilnya. Untuk stok foto mainan saya mungkin bisa posting sampai 20 hari ke depan.

Jadi bagi teman-teman yang masih kurang puas dengan gearnya, jangan buru-buru upgrade atau menyerah dalam fotografi. Perbanyak hunting dan mengenal kekurangan dan kelebihan kameranya. Bagi yang berminat mempelajari dasar fotografi, ada jadwalnya di tgl 15-16 September ini. Bagi yang ingin langsung praktik foto, boleh bergabung di acara mentoring tgl 9 September ini. Untuk info dan pendaftaran bisa menghubungi 085813183069.

About the author: Iesan Liang adalah seorang penggemar fotografi yang aktif berkontribusi untuk acara Infofotografi. Salah satu buku karangan Iesan adalah Kursus editing dengan Adobe Lightroom. Temui Iesan di Instagram atau Google+

{ 6 comments… add one }
  • Agus September 11, 2018, 9:56 pm
  • Priyatna Zulkarnain September 8, 2018, 1:22 pm

    Kalo buat 60% foto 40% video, mending g85 ini atau a6300 sekalian?

  • Subaidi September 7, 2018, 5:58 am

    Kok jadi ragu untuk membeli kamera ini… Hihi

  • riez September 5, 2018, 6:02 pm

    Jadi penasaran kalo di adu hasil fotonya side by side.. Dengan kamera APSC dengan harga setara…
    Kalo gk jauh2 banget bedanya..
    Kyknya bakal pindah haluan juga ni ke lumix…hehe

  • Junior September 5, 2018, 8:43 am

    Saya selalu tertarik dg body kamera weather sealed dan ada stabilizer, plus dukungan lensa weather sealed.
    Terimakasih bnyk utk review yg sederhana,tp sngt mudah dimengerti.
    Koh Enche, mas Erwin, mas Poernomo punya gaya bahasa tersendiri, saya suka membaca, walau bagi saya butuh wkt memahami apa yg dimaksud… hehe
    Review mba lesan langsung bisa dipahami.
    Terimakasih utk reviewnya.
    Saya pembaca setia blog infofotografi.

Leave a Comment