≡ Menu

Review kamera mirrorless Canon EOS R

Kami di infofotografi berkesempatan mencoba kamera mirrorless pertama dari Canon yang bersensor full frame yaitu Canon EOS R, dengan lensa RF 24-105mm dan sebuah adapter untuk memasang lensa DSLR bila perlu. Kamera yang belum lama diluncurkan di Indonesia ini langsung berkeliling untuk diuji oleh berbagai fotografer termasuk kami, dan kali ini saya tuliskan review singkatnya untuk anda.

Canon EOS R, dengan lensa RF 24-105mm f/4 IS USM

EOS R boleh jadi adalah kamera untuk semua. Sebagai kamera mirrorless, EOS R menarik bagi generasi muda yang suka teknologi canggih. Dengan sensor full frame, EOS R bisa jadi alat kerja bagi profesional. Bodi yang weathersealed, membuat penyuka foto outdoor bisa tenang memotret dengan kamera ini. Dilengkapi video 4K, moviemaker dan sineas muda bisa menjadikan EOS R kamera video yang bisa diandalkan. Memang sebagai pendatang baru, urusan ekosistem lensa yang native (RF lens) masih sangat terbatas, maka itu penggunaan adapter (sementara waktu) akan menjadi solusi bisa ingin mencoba berbagai lensa Canon EF/EF-S.

Ya, adapter dari Canon ini bisa dipasang lensa EF-S juga, sesuatu yang dulu tidak bisa dilakukan di DSLR full frame. Selain itu, adapater Canon ini ada tiga versi, yang basic, yang ada ring pengatur setting, dan yang ada slot filter. Ketahanan baterai yang kerap jadi issue di kamera mirrorless disikapi Canon dengan menyediakan battery grip yang bisa menampung dua baterai LP-E6N. Kamera ini sendiri selain menyediakan charger dalam paket penjualannya, juga bisa dicas langsung ke bodi melalui port USB-C yang modern (dengan adaptor khusus yang terhubung ke jala listrik).

Desain dan ergonomi

Dua hal ini selalu jadi hal yang paling saya perhatikan setelah mengamati kamera dari spesifikasinya. Mengapa? Karena spesifikasi cenderung hampir sama antar kamera di rentang harga yang sama, tapi desain dan ergonomi bisa jadi akan berbeda. Dua faktor ini, ditambah dengan tata letak tombol dan antarmuka yang mudah akan membuat kita memotret lebih enjoy, dan secara tidak langsung bisa berdampak ke hasil foto juga. EOS R sebagai kamera mirrorless memang lebih kecil dari DSLR misal 5D mk IV, tapi harus diakui kamera ini tidak kecil.

Desain EOS R lebih mirip EOS M50 hanya saja lebih besar, dan ditangan saya terasa pas saat digenggam. Ada beberapa yang saya suka dari desain dasar dari EOS R seperti jendela LCD kecil di atas dan layar LCD lipat putar (bisa buat vlog). Namun saya perlu beradaptasi dengan desain tombol dan roda di EOS R karena berbeda cukup banyak dengan DSLR, misal roda dial memang ada dua tapi keduanya posisinya diatas, lalu ada tombol MODE (bukan roda Mode P-Av-Tv-M) dan tidak ada tombol langsung ke ISO, WB, drive dll. Sebagai gantinya, ada tombol M-Fn yang kalau dikombinasikan dengan dua roda bisa mengatur banyak hal juga seperti ISO, WB, drive dll. Selain tombol M-Fn, di bagian atas kamera masih dipenuhi tombol kecil lainnya seperti Movie, Lock dan tombol simbol lampu yang perlu difamiliarkan oleh pengguna supaya tidak salah tekan.

EOS R tampak belakang, dengan M-Fn bar yang belum ada di kamera Canon sebelumnya

Yang unik di EOS R ini, meski tidak ada joystick, tapi menyediakan M-Fn (Multi-Function) bar, berupa panah kiri kanan <> yang sensitif sentuhan. Untuk mulai memakainya kita perlu mendaftarkan dulu di menu kalau bar ini mau dijadikan apa, misal untuk mengatur ISO, WB, fokus dan sebagainya. Selanjutnya bar ini bisa disentuh atau digeser seperti scrolling, mirip touch pad di laptop. Saat melihat hasil foto, bar ini akan berfungsi berganti foto berikutnya atau sebelumya. Di lensa juga ada ring tambahan yang bisa diatur untuk fungsi tertentu, jadi misal ingin difungsikan untuk ISO maka dengan memutar ring di lensa kita bisa langsung mengubah ISO.

Untuk mengganti mode kamera, kita perlu menekan tombol MODE lalu memilih dari sekian banyak pilihan seperti Auto, P, Av, Tv, Manual, Bulb dan Custom 123. Dengan menekan MODE dilanjutkan menekan INFO akan membuka mode khusus Video termasuk video dengan pengaturan manual yang lengkap. Ada yang agak beda di EOS R ini, dimana tidak ada lagi Scene mode, ataupun mode CA (Creative Auto) seperti di DSLR Canon atau mirrorless EOS M. Hilang juga aneka filter efek digital yang bagi sebagian orang tidak diperlukan juga, seperti efek fish-eye, toy camera, atau Grainy B/W. Tapi kini ada yang baru di mode kamera EOS R, yaitu ada mode Fv, singkatan dari Flexible value. Mode ini belum pernah ada di kamera Canon lain, dengan memakai mode Fv kita bisa secara independen mengatur Shutter, Aperture, ISO dan Kompensasi Eksposur, tapi kalau keadaan pencahayaan berubah dan kita tidak sempat atur setting, kita bisa minta kamera carikan setting otomatis. Saya pikir mode ini enak untuk kita yang sering motret sambil jalan dengan pencahayaan tidak tetap, tapi ingin mengatur setting sendiri (tidak mau dipilihkan kamera), daripada pakai mode Manual yang kaku, maka mode fleksibel Fv ini boleh dicoba.

Yang mantap dan yang kurang

Kekuatan utama EOS R menurut saya adalah di keseimbangan antara hasil foto yang baik dengan sensor 30 MP, kinerja yang masih termasuk cepat (bisa 8 fps) dan auto fokus yang paling handal dengan Dual Pixel AF. Dari sisi fitur dasar, nyaris tidak ada perbedaan antara EOS R dengan DSLR EOS lain, seperti ada berbagai Picture style, Auto Lighting Optimizer, HDR, Bracketing, ISO Auto yang bisa dikustomisasi, MF peaking, hingga pengolah RAW di kamera. Saya suka kemudahan pengaturan di EOS R yang tetap user friendly, mulai dari pengaturan Quick (Q), penggunaan layar sentuh untuk banyak hal, dan kini ada ring tambahan di lensa yang bisa diatur untuk fungsi tertentu. Oya bicara soal lensa, karena saya hanya mencoba yang EF 24-105mm, menurut saya dimensi lensa ini lebih kecil dari lensa 24-105mm milik DSLR karena perbedaan di flange back, dan karena di lensa RF ini tidak ada jendela indikator jarak fokus (digantikan dengan indikator di layar, hanya bila pakai mode MF).

Secara umum beberapa fitur utama yang menarik dari kamera EOS R ini adalah:

  • implementasi Dual pixel AF yang efektif, baik untuk AF Servo foto maupun video
  • AF yang tetap bisa bekerja di keadaan kurang cahaya
  • deteksi wajah dan deteksi mata (Eye AF)
  • ada file CRAW yang ukurannya lebih kecil
  • video 4K 10 bit dengan Canon log, bisa clean HDMI out, ada headphone out juga
  • layar lipat putar efektif untuk vlog/selfie, bisa dilipat menutup untuk keamanan juga
  • memakai baterai yang sama dengan DSLR Canon pada umumnya, bisa diisi daya via USB type C
  • shutter akan menutup setiap kamera dimatikan, mencegah debu masuk ke sensor

namun ada juga beberapa hal yang saya rasakan agak kurang atau memang tidak ditemui di EOS R seperti:

  • tidak ada built-in flash, termasuk tidak ada fitur wireless flash
  • Eye AF tidak berfungsi di AF Servo (mungkin dengan update firmware bisa diatasi)
  • Silent shutter tidak bisa dipakai saat mode memotret kontinu (sama dengan diatas, mungkin solusinya nanti update firmware)
  • video akan mengalami crop bila rekam pakai 4K dan/atau mengaktifkan Digital IS (dan tidak ada in-bodi stabilizer di EOS R)
  • hanya ada satu slot SD card (sudah mendukung UHS II), sebagian profesional menghendaki adanya dual slot SD card

Kinerja dan hasil foto

Canon EOS R termasuk responsif dan semua proses masih termasuk cepat, seperti AF, shutter lag, proses menulis file ke memori dan melihat foto yang sudah diambil. Hanya saja strart up kamera ini tidak secepat DSLR. Kinerja shoot kontinudari kamera ini memang bukan untuk pewarta foto yang mengedepankan kecepatan, khususnya bila memakai AF Servo. Saya menduga, banyaknya titik fokus dan beban kerja Dual Pixel AF, membatasi kamera ini untuk bisa memotret kontinu dengan cepat saat AF Servo. Tapi saat memakai One Shot AF, kinerja shoot continuous meningkat jadi 8 fps yang sudah lumayan cepat. Tidak terlihat ada blackout saat memotret kontinu, apa yang tampil di layar tetap realtime meski setiap memotret akan ada jeda (live view akan berhenti sesaat).

Bicara hasil foto Canon EOS R, sudah bukan kejutan lagi kalau kualitas fotonya akan membuat banyak orang senang, karena sensor full frame dan warna khas Canon yang akurat. Dalam review ini saya ingin melihat seperti apa noise di ISO tingginya, khususnya ISO 3200 keatas.

Foto untuk menguji ISO tinggi

Rentang ISO normal di EOS R adalah dari ISO 100 sampai ISO 40.000. Jadi setelah ISO 25.600 disediakan dua ISO lanjutan dengan kelipatan 1/3 stop yaitu ISO 32.000 dan ISO 40.000, dan bila ingin ISO 51.200 perlu diaktifkan melalui menu nanti ada opsi ISO Low (50) atau ISO High 1 (51.200) dan High 2 (102.400). Dalam prakteknya, ISO Low dan High ini sebaiknya dihindari karena kualitas gambar akan dibawah standar. Bila mau pakai ISO Auto, saya pikir diatur batas atas sampai ISO 12.800 pun masih aman, secara visual noise yang tampak masih cukup bisa diterima dan detail serta warna masih terjaga dengan baik. Kelihatannya batas ambang antara kualitas dan noise ada di ISO 6400, yang mana relatif umum ditemui di kamera sensor full frame.

Kesimpulan

Canon EOS R menjadi pembuka sejarah babak baru masuknya Canon di segmen mirrorless full frame, sehingga terdapat alternatif pilihan bagi fotografer selain pilihan DSLR yang lebih dulu ada. Dari kualitas sensor (yang artinya kualitas hasil foto) saya lihat dengan resolusi 30 MP semestinya sudah memenuhi banyak kebutuhan, dan seimbang antara resolusi dan ukuran file (apalagi kini ada file CRAW yang lebih kecil dari RAW). Ditambah Dual Pixel AF yang menjadi andalan utama dalam hal auto fokus (karena mirrorless tidak pakai modul AF khusus seperti DSLR) maka pengguna EOS R masih bisa tenang saat berurusan dengan pengaturan dan pilihan mode fokus. Ditambah dengan fitur video 4K, layar lipat putar, jendela bidik yang baik, bodi weathersealed, hingga penggunaan yang mudah (simple user interface), semestinya kamera ini akan menarik minat banyak fotografer.

Hal yang akan menjadi tantangan bagi Canon (dan pengguna EOS R) adalah soal lensanya. Canon perlu membuat banyak lensa baru (RF lens), yang faktanya lensa RF tidak saling kompatibel dengan lensa EF-M (mirrorless APS-C). Harapannya sementara itu adalah penggunaan adapter, sehingga lensa EF-bahkan EF-S, bisa dipakai dengan normal seperti auto fokus, aperture dan IS, hanya saja adapter tentu menambah ukuran fisik lensa jadi tambah panjang. Tantangan lain bagi Canon adalah kompetisi dengan pemain lama yang sudah lebih dulu menguasai market mirrorless full frame. Biasanya orang akan membandingkan hal-hal yang bisa diukur, seperti megapiksel, kecepatan menembak, hingga hal-hal spesifik seperti jumlah slot kartu memori. Padahal angka-angka belum tentu berkaitan dengan hasil foto yang lebih baik, karena foto yang baik faktornya sangat banyak.

Bagi saya yang mencoba kamera ini selama kurang lebih sepuluh hari, kamera ini terasa menyenangkan untuk dipakai, memberi hasil yang bagus secara teknis (saya tidak mencoba konversi RAW, jadi hanya JPG saja dan sudah terlihat memuaskan), dan kinerjanya cukup responsif. Tentu ada saja pihak yang secara spesifik perlu fitur tertentu, misal stabilizer di bodi untuk rekam video sambil berjalan, dual slot memori untuk profesional fotografer, megapiksel ekstra tinggi untuk komersil atau periklanan, dan sebagainya. Bila EOS R ini ternyata belum bisa memenuhi ekspektasi mereka, setidaknya EOS R masih bisa memenuhi ekspektasi para casual photographer, penghobi dan praktisi foto video dan pemilik lensa-lensa Canon EF yang ingin merasakan pengalaman memakai kamera mirrorless full frame dari Canon.

Contoh foto yang diambil dengan file JPG, ukuran sudah diperkecil:

Terima kasih kepada: PT Datascrip Indonesia

About the author: Erwin Mulyadi, penulis dan pengajar yang hobi fotografi, videografi dan travelling. Sempat berkarir cukup lama sebagai Broadcast Network TV engineer, kini Erwin bergabung menjadi instruktur tetap untuk kursus dan tour yang dikelola oleh infofotografi. Temui dan ikuti Erwin di Google+ dan instagram.

{ 7 comments… add one }
  • riez October 20, 2018, 11:56 am

    Bagaimana dengan koh enche dan mas erwin sendiri, apakah tertarik dengan EOS R ?

  • Heru October 18, 2018, 10:35 pm

    Dibikin komparasi dari ketiga mirorles full frame pendatang baru bang (nikon, canon, Panasonic)

  • Subaidi October 18, 2018, 7:01 am

    Bagaimana dengan masa depan dslr? Sudah akan tamatkah?

    • Erwin Mulyadi October 18, 2018, 11:19 am

      Canon dan Nikon jadi penentunya, dan saat keduanya (akhirnya) membuat mirrorless FF, ini jadi semacam pesan bahwa mereka aware akan bagaimana masa depan DSLR.

      Tapi terlepas dari itu, selama lensanya masih banyak yg pakai, semestinya DSLR di masa depan tetap akan dibuat cuma segmen pembelinya akan semakin terbatas.

    • Ermen kono October 19, 2018, 7:45 am

      Mohon bantuan apakah canon 77d,70d,80d bisa untuk foto wedding? Dan apakah lensa fix bisa dipake untuk foto wedding?

      • Enche Tjin October 19, 2018, 8:29 pm

        Bisa, fix yang populer 24mm, 35mm, 50mm dan 85mm

Leave a Comment