‚Č° Menu

Wawancara dengan bos Leica, Sigma dan Panasonic menjelaskan persekutuan mereka

Kejutan di pameran Photokina 2018 yang lalu adalah diumumkannya persekutuan (Alliance) antara Leica, Panasonic dan Sigma dalam hal mengunakan standar L-mount (Leica-mount) untuk kamera-kamera mereka. Tapi yang kurang jelas saat itu adalah sifat dari persekutuan mereka, seberapa jauh mereka bekerjasama untuk membangun eksosistem baru ini?

Wawancara ketiga bos perusahaan (Dr. Andreas Kaufmann dari Leica, Junichiro Kitagawa dari Panasonic, dan Kazuto Yamaki dari Sigma) oleh situs dpreview setidaknya menjelaskan lebih banyak tentang hal ini.

Poin-poin penting yang bisa ditangkap yaitu:

  1. L-mount adalah sebuah standar, sedikit seperti Android, dimana sistem ini banyak merk ponsel yang membuatnya
  2. L-mount dikembangkan oleh Leica dan bertindak sebagai pemberi lisensi kepada perusahaan yang lain (artinya perusahaan lain harus membayar ke Leica, bentuknya bisa macam-macam, per tahun, per unit kamera dll)
  3. Masing-masing perusahaan akan membangun sistem kamera dan lensanya sendiri-sendiri
  4. Sigma tadinya ingin membuat kamera full frame sendiri, tapi mengganggap L-mount sudah bagus, jadi ikut bergabung
  5. Sigma merencanakan akan membuat lensa L-mount untuk APS-C (misalnya untuk Leica CL dan TL)
  6. Panasonic hanya berencana membuat lensa L-mount untuk full frame saja
  7. Panasonic menyatakan persekutuan ini lebih erat seperti pernikahan, sedangkan kerjasama mereka dengan Olympus dan perusahaan lain di sistem four thirds seperti hidup bersama saja.
  8. Tujuan Panasonic untuk masuk ke mirrorless full frame adalah untuk mengembangkan produk untuk profesional

Dari interview ini, saya menangkap bahwa ada kesempatan dan juga resiko bagi masing-masing perusahaan. Contohnya dengan Panasonic masuk membuat kamera mirrorless full frame yang diarahkan ke pengguna serius atau profesional, maka menjadi saingan bagi Leica juga. Leica juga akan tetap mempertahankan harga dan keunikan produknya sendiri. Sigma kemungkinan akan mengunakan sensor Foveon, jadi bukan saingan langsung dengan Leica dan Panasonic, tapi akan membuat lensa-lensa berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau dari Leica dan Panasonic.

Jadi, kamera dan lensa yang dibuat oleh L-mount ini menurut saya standarnya akan sangat tinggi karena menyasar segmen profesional. Otomatis akan agak besar dan berat, mirip dengan DSLR, dan harganya juga akan menyesuaikan.

Keunggulan L-mount dibanding mount Canon R, Nikon Z atau Sony E terletak dari ukurannya yang tidak terlalu besar tapi juga tidak kecil, jadi jika dibuat kamera APS-C yang mungil masih bisa, contohnya Leica CL. Yamaki-san dari Sigma menyatakan “Technically the L mount is a very good standard. A wide lens mount diameter and a short flange back – there are no technical drawbacks”

L-mount yang tidak begitu besar (51mm) fleksibel untuk mengakomodir dua jenis sensor kamera, APS-C dan Full frame.
Sumber ilustrasi: Apotelyt

Tapi Panasonic dan Sigma sepertinya tidak tertarik membuat kamera APS-C. Hanya Sigma yang berminat membuat lensanya. Menurut saya Panasonic memang tidak perlu membuat kamera L-mount APS-C karena untuk segmen hobbyists, sistem micro four thirds (Panasonic G) sudah cukup lengkap. Sedangkan Sigma ya tinggal memodifikasi mount lensa-lensa APS-C untuk mirrorless yang dibuat untuk kamera Sony/Fuji ke L-mount (beberapa yang keren yaitu 16mm f/1.4, 30mm f/1.4 dan Sigma 56mm f/1.4 DN).

Yang agak kontroversi dan mengelitik adalah ujaran presiden Panasonic yaitu “the L-mount alliance is like marriage, the previous MFT arrangement with Olympus was more like we were just living together.”¬†Tentunya ujaran ini kurang mengenakkan untuk Olympus yang sudah lama bahu-membahu mempopulerkan sistem four thirds. Tapi Panasonic memang sudah bekerjasama dengan Leica sejak 2001, jadi Leica bukan pacar baru yang lebih seksi he he he.

Hubungan “pernikahan” yang dimaksudnya Panasonic bisa berarti secara teknik, ketiga pabrikan kamera akan bekerjasama dengan lebih dekat untuk memastikan produk-produk mereka full compatible. Misalnya jika kameranya Leica, maka memasang lensa Panasonic atau Sigma harusnya tidak ada masalah dan kinerjanya baik, semua fungsi-fungsinya jalan. Di micro four thirds, terakhir-terakhir ini saya perhatikan, pengembangan elektronik Panasonic dan Olympus mulai bercabang, misalnya teknologi Dual IS (perpaduan stabilizer body dan lensa) dan teknologi autofokus DFD (Depth of Defocus) hanya berfungsi jika kamera dan lensanya sama-sama Panasonic, kalau yang dipasang lensa Olympus tidak jalan. Saya juga punya pengalaman pribadi dimana lensa Panasonic-Leica 15mm f/1.7 saya jika dipasang di kamera Olympus, aperture ring untuk mengubah bukaan tidak berfungsi.

Menurut Pak Agung Ariefiandi, marketing manager Panasonic Indonesia, “living together” itu seperti sama-sama bikin tapi tidak ada kegiatan yang bersama. Tapi kalau persekutuan ini, benar-benar kerjasama dan ada peran dan obligasi dari masing-masing pihak. Panasonic tetap berkomitmen untuk mengembangkan micro four thirds bersama-sama seri S yang mengunakan L-mount.

Buat saya pribadi, L-mount ini akan jadi sistem utama saya kedepan, karena memang sudah punya Leica SL dan dua lensa SL. Sangat menarik untuk memasangkan lensa tersebut di kamera Panasonic S1R/S1 untuk video atau foto resolusi sangat tinggi, dan Sigma untuk mendapatkan karakter warna dan ketajaman yang unik. Jikalau Panasonic dan Sigma membuat lensa L-mount kedepan, jika ada yang menarik juga bisa dipasang di Leica SL saya. Tapi saya tidak eksklusif karena juga suka mencoba dan menguji kamera-kamera mirrorless merk lainnya karena banyak sekali yang menarik teknologinya.

Bagi teman-teman yang lagi memantau kamera mirrorless full frame untuk kebutuhan foto profesional atau videografi maka kamera-kamera yang akan dikeluarkan ketiga perusahaan ini patut ditunggu awal tahun depan (2019).


Sudah punya kamera dan ingin belajar baik di kelas maupun ikut trip foto? Silahkan kunjungi halaman jadwal acara Infofotografi dan ikuti juga instagram @infofotografi_official

About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Google+ dan Instagram: enchetjin

{ 4 comments… add one }
  • pri November 27, 2018, 2:48 pm

    saya pernah pakai camera sigma, berat luar biasa dan camera cepat panas (beneran panas), juga warna kuningnya di over, setelah dibawa ke toko/agennya tetap gak bisa dibetulkan, SD14 adalah produk gagal, kamera dari sigma.Foveon ideal motret dengan ISO rendah, jadi saran saya jangan beli camera sigma, mlehoy kwalitasnya.

    • Enche Tjin November 27, 2018, 9:39 pm

      SD14 generasi lampau, jadi memang banyak kekurangan, seiring waktu lebih baik tapi belum sempurna. Tapi keunikan hasil gambarnya membuat ada aja yang suka. Contohnya saya sampai ada tiga kamera Sigma haha, kadang macet-macet tapi asyik.

  • Agus November 27, 2018, 1:29 pm

    Ko kira2 kalau sigma bikin foveon ff, peningkatan kualitas gambar di iso tinggi akan sama dengan ff yang lain nggak ya?

    • Enche Tjin November 27, 2018, 2:38 pm

      Tidak, haha kecuali ada keajaiban. Alasannya gini, yang lain kan 1 lapis aja dengan filter warna bayer, sedangkan Foveon 3 lapis, jadi pas cahaya masuk ke lapis kedua dan ketiga udah makin dikit. Jadi kemungkinan Foveon itu okenya buat yang motret dengan ISO 100-400. Kalau BW mungkin masih lumayan di ISO 800-1600.

Leave a Comment