≡ Menu

Mendingan beli kamera yang ngetren (mainstream) atau tidak umum (anti-mainstream)?

Dalam mencari kamera dan lensa baru, bagusan yang mainstream (banyak dipunyai orang) atau lebih baik yang anti mainstream? Tentunya semua ada plus-minusnya. Misalnya, jika kita pilih kamera yang mainstream seperti Canon, Nikon, dan sekarang Sony, maka keuntungannya adalah ketersediaan kamera, lensa dan aksesoris banyak, dan jika ingin menjualnya kembali, atau perlu servis juga mudah. Yang suka pinjam atau sewa lensa juga lebih mudah jika membeli merk kamera yang populer.

Jika berminat membeli, kamera mainstream biasanya juga lebih murah, karena produksinya lebih banyak, sehingga ongkos riset, ongkos gaji karyawan, ongkos sewa gudang dan lain lainnya tidak terlalu membebani harga kameranya.

Saya sendiri berpendapat, untuk awal-awal belajar fotografi dan jika ingin mendapatkan yang good value (harga terjangkau dibanding mutu produknya), maka lebih baik memang membeli kamera mainstream. Contohnya kamera DSLR yang saya beli pertama kali adalah Canon 40D. Kamera ini sangat populer saat itu karena bodinya tangguh dari magnesium alloy, dan kecepatan foto berturut-turutnya cepat, ideal buat kerja saat itu. Saat itu saya juga sedang mempertimbangkan kamera Nikon D80, yang saya lihat kualitas gambarnya lebih baik, tapi akhirnya gak jadi karena body-nya gak sekuat dan secepat Canon serta lensa-lensanya lebih mahal.

Setelah dua tahun mengunakan 40D, saya merasa kualitas foto di kondisi kurang cahaya kurang baik, maka itu saya mulai cari kamera baru. Pilihannya adalah Canon 5D mk II dan Nikon D700 yang sensornya full frame, dan mendukung batas normal ISO yang lebih tinggi (ISO 6400, dibandingkan dengan ISO 1600 di Canon 40D). Setelah membanding-bandingkan, saya memilih Nikon D700, meski resolusinya hanya 12 MP, kalau dari Canon 5D yang 21MP, tapi kemampuan low light dan kecepatan foto berturut-turutnya lebih penting untuk kerjaan saya.

Setelah saya lebih fokus ke mengajar dan mengorganisir tour, saya lebih banyak mengunakan berbagai jenis kamera untuk kebutuhan review, dan tergantung tujuan saya. Dalam dua setengah tahun belakangan ini, kamera utama pribadi saya Leica SL, tapi saat ingin santai dan gak mau bawa yang berat, Leica Q dan D-Lux yang biasa saya bawa, kedua kamera ini lebih compact dan punya nilai plus-minus sendiri-sendiri.

Dari banyak menguji alat, terutama kamera mirrorless sejak lima tahun lalu, saya mendapati bahwa memang kita perlu berbagai kamera untuk berbagai jenis fotografi. Memang jadinya kok berkesan boros, harus beli beberapa kamera dan lensa, tapi sebenarnya kita bisa sesuaikan dengan budget, yang penting adalah jangan terlalu kompulsif, misalnya baru dipakai sekali-dua kali sudah bosan dan pingin beli baru lagi.

Kebutuhan setiap orang berbeda-beda tergantung dari subjek foto yang disukai masing-masing. Jadi menurut saya, jika sudah berpengalaman, sebaiknya mulai mencari kamera yang lebih cocok, tidak perlu mengikuti apa yang lagi tren.

Dari pengalaman saya, tidak ada gunanya untuk fanatik ke salah satu merk saja, tapi usahakan lebih open-minded dan jangan ragu untuk beradaptasi sesuai pengembangan fotografi kita. Bagi pemula, jangan terlalu banyak pertimbangan dan takut salah beli kamera pertama, nanti jadi gak mulai-mulai. Coba aja ikut mainstream dulu jika masih bingung, selanjutnya kalau ingin menyelami ke arah yang lebih serius, memang perlu di riset lagi jenis kamera dan lensa apa yang lebih sesuai.

Selamat berlibur dan tahun baru 2019!

Bi Peng Gou, Sichuan, Leica SL, Leica 24-90mm

About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Google+ dan Instagram: enchetjin

{ 9 comments… add one }
  • Zulfikar January 24, 2019, 3:07 pm

    Ko saya mau mencoba kamera semi pro dasar bagus nya pake d80 atw d200 ?

    • Enche Tjin January 24, 2019, 5:18 pm

      Wah serasa masih tahun 2007 ni. Kameranya dah lama sekali.

  • Agus December 26, 2018, 6:02 pm

    Aduhhhh Sigma L-Mount kapan sihh om..? Lama banget lihat hasil yang punya om, jadi gak kebayang kalau versi full framenya he he he

    • Enche Tjin December 26, 2018, 7:58 pm

      Haha, thanks sudah mengikuti petualangan saya via blog ini dengan Sigma Foveon, sepertinya masih lama, mungkin pengumumannya Maret tahun depan, ketersediaannya bisa akhir tahun. Sekarang agak lambat sih jeda antara diumumkan dan ketersediaan produknya.

  • Aan December 26, 2018, 6:44 am

    Koh boleh ga minta ulasan mengenai perbedaan camcorder/handycam dengan mirrorless atau dslr dalam merekam video, seperti kita tahu bahwa untuk video yaaaa pake handycam kalo buat foto baru pake dslr atau mirrorless. Terimakasih

  • Okta December 25, 2018, 5:01 pm

    Saya juga awalnya pake nikon kok koh, sekarang malah pindah ke pentax. Menurutku selama ini pake pentax so far puas sih dengan hasilnya.

    • Enche Tjin December 25, 2018, 9:59 pm

      Sebelum Canon 40D saya pakai Pentax K1D punya kantor, oke si kameranya, dulu saya naksir Limited edition pancake lenses, tapi sayangnya belum kesampean 😀 Salah satu alasan kenapa gak beli Pentax K10D/20D karena perlu autofokus dan foto berturut-turut cepat untuk kerjaan, tapi kalau gak butuh itu kamera DSLR Pentax K1 tergolong mantap.

  • Hari December 25, 2018, 2:15 pm

    Tidak akan ada kamera (juga lensa) serbabisa ya pak..

Leave a Comment