≡ Menu

Sebuah pengakuan: Mengapa Leica?

Saat saya memulai belajar fotografi, saya sering mengamati karya foto Henri Cartier-Bresson dan beliau mengunakan kamera Leica. Dari sana saya mengenal Leica dan kemudian penasaran kok desain kamera Leica ini unik, tidak seperti kamera SLR yang merupakan norma saat itu. Lalu saya melihat-lihat contoh foto oleh fotografer Maik Scharfscheer di brosur Leica yang pada saat itu era Leica M9, lensa Leica Noctilux 50mm f/0.95 dan Leica 75mm f/2 ASPH. Saya lihat hasilnya kok keren, fotonya seperti punya jiwa dan bercerita.

Tapi sayang, saat itu saya juga belum punya kesempatan dan dana untuk membeli kameranya, maklum masih mahasiswa ha ha. Tapi memang punya impian suatu hari nanti ingin punya kamera dan lensa berkarakter seperti itu.

Di tahun 2010 saya mulai mengajar fotografi, seiring waktu berjalan, kadang ada satu-dua murid yang datang ingin belajar dengan mengunakan kamera Leica. Karena sebagian besar kamera Leica itu unik, maka itu, biasanya mereka minta belajar privat. Waktu cepat berjalan, di tahun 2014, saya membaca di detikinet bahwa Leica store Indonesia telah dibuka di Plaza Senayan, Jakarta. Lalu saya mencoba menghubungi Leica Store dan menawarkan jasa mengajar. Saat itu sayangnya saya tidak begitu ditanggapi karena sepertinya memang belum ada konsep customer loyalty program saat itu. Setelah itu, saya tetap menjalin hubungan baik dengan Leica Store dan sering menghadiri launching produk baru Leica untuk dilaporkan di Infofotografi dan detikinet.

Beberapa tahun kemudian, di bulan Agustus 2016, saya menerima telp dari direktur Leica Store Indonesia yang mengajak saya bertemu dan membahas soal program Leica Ambassador Indonesia. Setelah menimbang-nimbang, saya setuju bergabung dan memulai pengalaman baru dengan kamera Leica pertama saya yaitu Leica SL dan lensa 24-90mm.

Terus terang awalnya saya ragu bergabung, karena saya juga harus melanjutkan pekerjaan di Infofotografi terutama me-review berbagai jenis kamera dengan merk yang berbeda, tapi Pak Bernard dari Leica Indonesia meyakinkan saya dengan mengatakan “Keep being yourself aja pak” karena itulah saya pun jadi lebih mantap karena tetap bisa mengulas berbagai jenis kamera, lensa dan aksesoris di Infofotografi.

Awal-awal bergabung saya agak bingung juga karena Leica ternyata punya berbagai jenis kamera, tapi pelan-pelan saya belajar kamera Leica dan nilai-nilai Leica yang banyak berbeda dengan merk kamera lain.

Canon misalnya, membuat kamera dan lensa untuk berbagai kalangan dengan harga yang relatif terjangkau, Nikon terlihat sebagai perusahaan yang  konservatif tapi hebat dalam membuat produk yang tangguh, Sony mementingkan kecepatan pengembangan teknologi dan miniaturisasi.

Berbeda dengan perusahaan elektronik asal Jepang yang balap-balapan dalam teknologi kamera, Leica terlihat agak pelan tapi mencurahkan fokus yang maksimal dalam desain kamera dan lensa, baik fisik maupun software/antar mukanya. Kualitas gambar tentunya juga semakin baik dan hasil gambarnya tetap terlihat alami. Prinsip Leica dalam bahasa Jerman yaitu Das Wesentliche, yang berarti “Yang esensial/penting” Nilai tersebutlah yang memandu Leica dalam merancang produknya. Contoh-contoh penerapan nilai tersebut antara lain:

  1. Mengunakan bahan kamera dan lensa dengan material logam (aluminium di kamera Leica TL, CL, SL, Leica Q, kuningan di Leica M)
  2. Desain yang simple, misalnya jumlah tombol di kamera Leica jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kamera digital mirrorless pada umumnya. Uniknya, Leica juga aktif menghilangkan fitur yang jarang digunakan pelanggannya, misalnya Leica M10 tidak memiliki fitur video dan flash karena menurut survei, pengguna Leica M mengaku hampir tidak pernah mengunakan fitur tersebut.
  3. Tujuan Leica bukan untuk mengalahkan kamera merk lain, tapi Leica punya trajectory/jalannya sendiri. Maka itu, Leica berani membuat kamera yang unik, seperti M10D yang seperti kamera film, Leica Monokrom, kamera yang hanya bisa menghasilkan foto hitam putih dan Leica TL2, kamera yang mengunakan panel layar LCD touchscreen yang besar dan desain antarmuka yang kontemporer.
  4. Dan yang terpenting adalah kualitas gambar yang dihasilkan berkarakter dengan warna yang natural.

Seiring waktu berjalan, saya semakin bisa menghargai nilai-nilai yang dianut Leica, dan menyadari bahwa balapan teknologi tidak akan ada habisnya; kamera yang tercanggih saat ini setahun kemudian akan terasa usang, karena akan ada kamera yang lebih canggih lagi. Tapi jika fokusnya di desain dan kualitas lensa yang berkarakter, fotografer akan terus bisa menikmati proses memotret dan menikmati hasil fotonya.

Sebagai duta Leica Indonesia, saya juga senang dengan tim Ambassador Leica yang yang dikelola Leica Store Indonesia, teman saya jadi bertambah yaitu Ruben “Roe” (street/documentary photography), Rony (photojournalism), Mario Wibowo (architecture), Davy Linggar (Fine Art/videography), dan Tommy Siahaan (portrait/commercial). Semua ambassador Leica ini ternyata sangat humble (rendah hati) dan banyak berbagi tentang pengalaman dan ilmu mereka. Selama dua tahun setengah ini juga tidak ada drama dan konflik sehingga saya pun makin betah.

Terus terang, pada awalnya saya mengira pengguna Leica high profile dan sombong, karena harganya tidak murah. Tapi ternyata saya salah, kebanyakan penggunanya baik-baik dan memiliki antusiasme tinggi dalam belajar dan menikmati proses memotret.

Karena semua alasan-alasan diataslah, maka saya memilih Leica.

Tahun ketiga ini saya akan mengadakan beberapa sesi sharing & workshop fotografi bekerjasama dengan Leica Store Indonesia. Stay tune ya.

About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Instagram: enchetjin

{ 11 comments… add one }
  • Mohammad fudael March 2, 2019, 9:20 pm

    Om enak mana ya .
    6 d mark ii & 5 mark iii
    Untuk di buat foto

  • Aldi raharjo January 30, 2019, 7:15 pm

    Mantap ko, sekali sekali boleh adain seminar lagi

  • Tatag January 15, 2019, 4:31 pm

    Koh, bisakah bikin satu artikel tentang kategori atau tingkatan2 kamera Leica? Mulai dari level compactnya sampe level pro nya? Jenis2 lensanya juga.
    Di beberapa toko online, Leica T bekas lumayan banyak dijual dengan harga yg tidak terlalu mahal. Belum ada artikel khusus soal Leica T nya?

    Terimakasih.

  • Reni January 12, 2019, 5:45 pm

    Om.. Saya lagi bingung antara sony a7ii + samyang af 35mm f1.4 atau sony a6500 + sigma 30mm f1.4 dc dn.
    Untuk keperluan foto dan video 50/50

    Oiya kalo untuk lowlight apakah sony a6500 kalah telak..? Mengingat masih apsc
    Mohon pencerahannya..

    • Enche Tjin January 12, 2019, 8:15 pm

      Kalau video sptnya A6500 lebih bagus specnya, hanya saja suka cepat panas, kalau video clip pendek2 masih ok. Kalau tempat gelap ya kalau 1 stop kurang lebih. Artinya kualitas ISO 3200 di A7II mirip dengan ISO 1600 di A6500.

  • Agus January 12, 2019, 10:46 am

    Mantab ko sukses terus, aku juga suka banget dengan leica cuma sayangnya kantong ku belum kuat buat beli, he he, jadi pakai lumix aja dulu, btw industri kamera nggak seganas industri ponsel, bagaimana ponsel ponsel jerman semisal siemens yg tangguh harus keok dengan ponsel ponsel nokia kala itu, btw mungkin yg bikin mahal leica mungkin ini juga ya buat survive, selain itu juga experience yg diberikan leica pasti beda dengan apa yg dihadirkan oleh brand lain.

    • Enche Tjin January 12, 2019, 2:56 pm

      Iya, Lumix jg saudara Leica kok, dan secara sistem bagus juga untuk komplemen karena lensanya kecil2 meski telefoto sekalipun. Saya dan mas Erwin juga suka pinjam Lumix-nya Iesan haha. Saran saya cari lensa-lensa Leica-nya juga karena warna dan kontrasnya lebih bagus lagi.

    • Enche Tjin January 12, 2019, 2:57 pm

      Siemens saya suka ponselnya tahan banting sekali, tapi ya itu, kalau terlalu tahan banting ujung2nya jadi orang gak beli yang baru.

Leave a Comment