≡ Menu

Hands-on Review : Canon EOS RP

Belum lama ini kami kembali kedatangan unit kamera baru, mirrorless full frame, yaitu Canon EOS RP. Turut menemani kamera EOS RP ini, disertakan juga sebuah lensa RF 24-105mm f/4 IS dan sebuah adapter untuk memasang lensa Canon DSLR. Tentu saja kami tak sabar untuk mencoba kamera mungil dan ringan ini, apalagi banyak orang yang penasaran dengan kamera EOS RP ini karena harga jualnya yang cukup murah dan mendekati harga sebagian kamera dengan sensor APS-C. Selama satu minggu EOS RP berada di tangan kami, ada beberapa catatan yang disini dirangkum sebagai sebuah hands-on review, selamat membaca..

Tidak dipungkiri kamera ini memang kecil dan ringan, lebih kecil juga dari EOS R, dengan sekilas pandang mirip seperti EOS M50 (kamera mirrorless APS-C). Bobotnya tanpa lensa tidak sampai 500 gram, tentu akibat material bodi luarnya yang berbahan polikarbonat. Meski kecil tapi kamera ini punya grip yang enak digenggam, walau untuk tangan saya terasa agak kurang pas karena jari kelingking agak menggantung. Tata letak tombol dan roda termasuk pas, meski tidak ada tombol khusus seperti ISO, WB, AF atau drive tapi semuanya terwakili oleh tombol M-Fn di bagian atas. Ada roda mode P-Av-Tv-M yang standar, lebih mudah daripada mesti menekan tombol MODE seperti di EOS R yang agak lebih repot. Sebagai kamera di segmen entry level, Canon menyadari penggunanya akan lebih banyak memanfaatkan layar sentuh untuk menggganti setting, maka itu saya temui fungsi layar sentuh sangat fleksibel dengan kebebasan mengatur titik fokus atau memotret dengan touch shutter, mengakses semua yang ada di Quick menu (Q) atau mengakses isi Menu.

Nilai jual utama dari Canon EOS RP adalah semua hal yang esensial yang diperlukan sudah tercakup di kamera ini, tanpa harus menambah hal-hal yang kurang diperlukan (yang akan menaikkan harga jual). Sensor 26 MP dengan teknologi Dual Pixel AF, adanya jendela bidik, hotshoe, layar LCD lipat, dan bisa merekam 4K video memang sudah menjadi gambaran kalau kamera ini sudah mencukupi bagi banyak orang. Belum lagi JPG Canon yang dikenal punya warna yang enak, dan antamuka menu Canon yang lebih mudah dipahami, akan jadi nilai plus kamera EOS RP ini. Satu hal yang absen disini adalah tidak ada built-in flash, jadi perlu pasang flash eksternal bila mau memakai flash.

Terdapat fitur video 4K 25 fps, tapi akan mengalami crop saat pakai 4K

Lalu secara umum kelebihan kamera mirrorless Canon full frame adalah bisa memasang lensa DSLR Canon dengan adapter. Itu artinya, bagi yang sudah punya beberapa lensa DSLR Canon tetap bisa memakai lensanya. Atau setidaknya dalam jangka pendek ini, sambil menunggu Canon memperbanyak lensa RF-nya, bisa sementara memakai lensa DSLR dengan tidak ada perbedaan berarti (auto fokusnya tetap berfungsi dengan normal).

Berbagai pilihan AF area : deteksi wajah, Spot AF, 1 point AF, Expand area dan Zone.

Saya temui auto fokus terasa cepat dan percaya diri akibat Dual Pixel AF, baik fokus diam atau bergerak, saat foto maupun video. Akurasi fokus juga oke, dengan bantuan deteksi wajah dan deteksi mata, kamera ini bisa memfokus dengan akurat saat dipakai untuk membuat foto potret. Kinerja shoot kontinu memang tidak bisa dibilang cepat, dengan 5 fps (bahkan 4 fps bila pakai AI Servo AF), bisa memotret sampai 1/4000 detik dan maksimum sync dengan flash di 1/180 detik. Beberapa fitur berguna juga ditemui seperti Multi exposure, HDR, Focus Bracketing (untuk focus stacking), Interval timer dan Bulb timer (bisa long exposure tanpa perlu cable release).

Dengan AF area normal, yang fokus adalah bagian depan. Tidak mungkin bisa auto fokus ke bagian putik bunga yang didalam.

EOS RP punya Spot AF area, saya pilih fokus area ke bagian dalam putik bunga dan berhasil.

Sensor 26 MP di EOS RP sama dengan yang dipakai di kamera DSLR EOS 6D mk II, memberi file berukuran 6240×4160 piksel yang cukup untuk kebutuhan cetak besar atau cropping. Bicara soal cropping, tersedia di menu untuk crop 1,6x termasuk bila ingin aspek rasio lain misal 4:3, 1:1 atau 16:9. Menu crop 1,6x disediakan karena adapter EOS R memungkinkan untuk dipasang lensa EF dan EF-S, tentunya bila lensa EF-S akan mengalami cropping (auto crop bila pakai lensa Canon, atau crop manual bila pakai lensa buatan pihak ketiga).

Dengan adapter, lensa DSLR (EF 40mm f/2.8) bisa dipasang di kamera Canon EOS RP.

Selanjutnya saya ingin melihat hasil foto dengan ISO tinggi dari sensor full frame Canon EOS RP, yang secara teori semestinya punya kinerja ISO tinggi yang bagus, lebih bersih daripada sensor APS-C kira-kira 1 stop. Saya memotret bunga dibawah ini dengan berbagai nilai ISO dari 3200, 6400, 12800 dan 25600 lalu melakukan crop untuk melihat lebih jelas noise dan penurunan kualitasnya.

Mencoba ISO tinggi

Crop dengan ISO 3200

Crop dengan ISO 6400

Crop dengan ISO 12800

Crop dengan ISO 25600

Dari contoh berbagai ISO tinggi diatas, tampak sampai ISO 6400 hasilnya masih sangat baik, noise mulai terlihat nyata di ISO 12800 dan di ISO 25600 kualitas gambar sudah sangat menurun. Saya sendiri jarang pakai ISO6400 apalagi diatas itu, tapi tetap saja melihat hasil ISO tinggi Canon EOS RP ini saya merasa tenang bila suatu saat perlu ISO diatas 3200.

Mode Silent adalah bagian dari Scene (SCN) mode, dan tidak disarankan untuk dipakai memotret sesuatu yang bergerak.

Dari yang saya bisa ungkap dan temui, ada beberapa kekurangan di EOS RP yang masih tergolong wajar mengingat segmen produk ini di level entry level. Pertama adalah kamera ini tidak terlindung dari cuaca ekstrim seperti hujan atau debu. Kedua adalah shutter elektronik tidak bisa dipilih via menu, melainkan harus lewat Scene mode (yang artinya tidak bisa diatur shutter speednya secara manual). Ketiga adalah baterainya yang termasuk kecil, dan tidak mudah untuk mengisi baterai via USB tipe C karena perlu pengisi daya tertentu yang kekuatannya besar.

Sebagai bonus, inilah video bincang-bincang kami soal EOS RP ini :

Berikut adalah hasil foto yang bisa ditampilkan dari beberapa hari mencoba EOS RP :

Kucing, dengan lensa EF 40mm f/2.8 pakai adapter

Bunga, dengan bokeh dari lensa RF 24-105mm f/4 di fokal 50mm.

Detail ketajaman lensa RF 24-105mm f/4

Sate. Lensa 40mm, ISO 4000

Mencoba mode HDR, Art Standard, DR Auto

Kontras dan ketajaman termasuk sangat baik

Mencoba lensa EF-S 10-18mm dengan adapter, hasil foto otomatis ter-crop menjadi 10 MP

 

About the author: Erwin Mulyadi, penulis dan pengajar yang hobi fotografi, videografi dan travelling. Sempat berkarir cukup lama sebagai Broadcast Network TV engineer, kini Erwin bergabung menjadi instruktur tetap untuk kursus dan tour yang dikelola oleh infofotografi. Temui dan ikuti Erwin di LinkedIn dan instagram.

{ 5 comments… add one }
  • Sem April 10, 2019, 5:56 am

    Pak, apa feature menarik dari Canon RP sehingga menarik untuk di beli.
    Terakhir Saya menggunakan Canon 5D mk2, sebelum pindah ke Sony 7RII. Saya masih mempunyai beberapa lensa Canon, tapi Saya melihat hal ini bukan alasan yang menarik karena dengan menggunakan lensa lama, Saya harus menggunakan adaptor, yang mengakibatkan lensanya menjadi besar dan berat, sehingga secara keseluruhan keunggulan kamera yang kecil dan ringan ini hilang.
    Jika Saya harus membeli lensa2 baru yang di buat untuk system Canon Mirrorless, sama saja Saya membeli seluruh system baru. Terima kasih

    • Enche Tjin April 10, 2019, 2:25 pm

      Kalau menurut saya, yang menarik dari EOS RP:
      1. Harga paling terjangkau dibanding kamera Canon full frame mirrorless yang lain
      2. Ukuran kamera relatif ringan, jika dipasang dengan lensa2 SLR yang kecil sangat padu (50mm f/1.8 STM misalnya).
      3. Desain dan menu Canon cukup simple dan mudah dengan toucshcreen
      4. Lensa-lensa Canon EOS R yang baru-baru bagus-bagus: 24-105mm f/4, 50mm f/1.2 dst.

      Coba nonton ulasan kami di youtube Infofotografi tentang Canon RP ini.

      • Sem April 10, 2019, 11:39 pm

        Terima kasih untuk responsenya.

        1. Jika di bilang terjangkau di banding Canon full frame mirrorless yang lain, itu betul, tapi kalau di gabung dengan membeli lensa2 nya yang baru dan bagus2, jadinya tidak murah. Sama saja dengan membeli system baru secara keseluruhan. Tidak ada keuntungan sebagai pemakai Canon yang lama
        2. Dengan lensa lama + Adaptor, ukuran keseluruhannya sudah jadi besar dan berat.
        3. Design menu Canon cukup simple, itu betul, tapi gara2 menu, Saya tidak akan membeli Camera baru.
        4. Lensa yang baru memang betul bagus2, tapi juga harganya tidak murah.

        Sesuai dengan jawaban Bapak, Saya pikir, membeli Canon RP bukan waktu yang tepat. Terima kasih kembali untuk response Bapak

        • Enche Tjin April 11, 2019, 1:41 am

          Sama-sama, jangan mengecilkan kenyamanan, kecepatan mengganti setting, autofokus dan kemudahan penggunaan, hal-hal yang seperti ini yang membuat kita lebih menikmati fotografi.

          Kalau yang dicari format yang ringan, format full frame mau mirrorless atau DSLR pasti agak besar karena lensa yang berkualitas (apalagi zoom) pasti besar dan harganya juga menyesuaikan. Format APS-C atau micro four thirds yang saya pakai jika mau ringan.

  • Agus April 9, 2019, 1:17 pm

    Wani piro Om..?

Leave a Comment