≡ Menu

Mengapa Fuji tidak membuat kamera full frame?

Saya sering mendengar dan ditanya oleh teman, pembaca atau wartawan tentang mengapa Fuji tidak membuat kamera full frame seperti pabrikan kamera lainnya. Pertanyaan ini muncul bukan kemarin sore, tapi sudah dari tahun 2013 saat itu Fuji memiliki kamera type X-PRO 1.

Saat peluncuran kamera Fuji GFX100, saya mendengar ada wartawan yang menanyakan kembali ke Marketing Manager Fujifilm tentang hal ini, lalu dijawab bahwa menurut survei, format APS-C adalah format yang lebih ideal buat sebagian besar fotografer (baik pro maupun amatir) karena ukurannya bisa dibuat relatif compact baik kamera dan lensanya.

Ada alasan lain lagi yang biasanya dikemukakan Fuji, yaitu dari segi kualitas gambar, kamera APS-C Fuji kualitasnya sudah tidak terlalu berbeda dengan full frame karena mengunakan sensor X-Trans, sehingga saat motret JPG, kualitas gambarnya sudah sangat tajam karena tidak membutuhkan anti-alias filter di permukaan sensornya untuk mencegah moire.

Dalam video Youtube kami, yang membandingkan spesifikasi Fuji X-T30 dan Sony A7II

Ada yang pemirsa dengan username Gung Krisna yang menanyakan:

Entah kenapa Fujifilm memilih langsung loncat ke medium format tanpa bikin fullframe?

Menurut pendapat saya, Fuji tidak ke full frame karena melihat dari segi bisnis mereka lebih berpeluang, karena pasar kamera full frame dari jaman DSLR ke mirrorless telah didominasi oleh tiga besar : Canon, Nikon dan kini Sony yang kini sangat berkembang. Ditambah lagi dengan pendatang baru, Panasonic Lumix S, Sigma fp yang bekerjasama dengan Leica membentuk L-Alliance dan juga ada Pentax.

Pola pabrikan lain berbeda dengan Fuji yang memang fokus hanya di APS-C, sehingga kualitas lensanya dibuat sebagus mungkin. Berbeda dengan Canon, Nikon, dan Sony yang memang punya sistem kamera APS-C, tapi lensa-lensa buat APS-C-nya tergolong standar atau basic saja, tidak ada lensa yang state of the art (yang bagus dan dibuat dengan teknologi mutakhir). Untuk mendapatkan hasil yang kualitasnya paling baik, pengguna Canon, Nikon dan Sony dituntun untuk mengunakan lensa-lensa yang dibuat untuk kamera full frame yang bisa dipasang di kamera APS-C nya mereka karena lubang /mount-nya sama (kecuali Canon EOS M yang berbeda).

Maka dari itu, Fuji mencoba mengembangkan lensa APS-C yang lebih bagus dan lengkap dibandingkan dengan pabrikan lain yang kebanyakan hanya menawarkan lensa APS-C standar.

Soal medium format, Fuji punya pengalaman dan know-how di era kamera film, sehingga terjun di medium format digital tidak begitu asing bagi insinyur mereka. Selain itu, medium format relatif minim saingan, hanya ada Hasselblad dan Phase One yang aktif, oleh sebab itu, peluang untuk bersaing meskipun pasarnya relatif kecil masih terbuka lebar.

Memang secara jujur sulit untuk mengajak pengguna Fuji X ke GFX, karena beda harga dan ukurannya terpaut jauh, tapi juga memang kedua sistem tersebut berbeda sekali filosofi dan kecocokan dengan genre fotografinya, maksud saya, untuk street photography misalnya, Fuji X tentunya lebih enak digunakan.

Nah kini tergantung dari fotografernya, banyak faktor yang perlu dipertimbangkan dan pilih sistem kamera memang sebaiknya untuk jangka panjang.

Saksikan juga video pembahasan ini di Youtube

About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Google+

{ 0 comments… add one }

Leave a Comment