≡ Menu

Belajar dari Rony Zakaria – Documentary Photographer Profesional

Beberapa saat yang lalu saya berkesempatan mengajak teman saya Rony Zakaria seorang documentary photographer untuk jalan dan ngobrol-ngobrol di Petak Sembilan, Jakarta. Obrolan lengkapnya kami rekam video oleh Iesan dan sudah tayang di Youtube Infofotografi.

Kompilasi hasil tanya jawab saya bisa dibaca di artikel ini:

Bagaimana Rony bisa terjun di dunia fotografi?

Awalnya saya memang bukan di fotografi. Saya belajar matematika dan ilmu komputer. Saya mulai bekerja di kampus saya, IT riset, tapi di kantor saya bosan.

Lalu saya mencari profesi apa nih yang bisa kerja di outdoor, ternyata saya ketemu di fotografi. Waktu itu saya mulai belajar terus keterusan sampai sekarang.

Bagaimana awalnya mengenal fotografi jurnalistik?

Waktu itu saya lihat dari internet, ada fotografi jurnalistik dan dokumenter bagus juga ni, bisa keliling dunia, ide romantis itu kan ada ya, travel ke tempat-tempat eksotis, awal tertariknya dari situ. Kemudian saya mulai melihat majalah Times, National Geographic awal tertariknya dari situ.

Cerita sedikit dong tentang proyek dan pameran Men, mountains and the sea?

Proyek itu adalah proyek jangka panjang saya yang pertama dari tahun 2008-2017 yang kemarin dipamerkan di Jipfest. Memang pengen aja mengerjakan itu, memotret komunitas Indonesia yang hidup di gunung dan laut, dan akhirnya jadi pameran dan bentar lagi jadi buku.

Sekarangkan itu sudah dianggap selesai, lagi mengerjakan proyek long term project berikutnya? Proyek saya selanjutnya yaitu tentang Pantura, jalan lama yang dibuat Belanda di jaman VOC sebelum jalan tol. Sejak setahun lalu sudah mulai.

Apa yang memicu Rony untuk memotret?

Saya sering nonton film, saya sering baca buku foto, banyak referensi yang terpatri di pikiran saya. Lalu referensi itu saya coba terapin di foto. Kadang gestur tubuh orang yang lain dari biasanya, saya coba foto. Jadi lebih ke hal-hal yang tidak biasa kita lihat. Karena pada dasarnya saya orang yang curious (penasaran), saya sering banyak tanya. pada waktu masih kecil.

Jadi ketika saya di jalan saya pengen tau mengapa ni seperti itu, makanya saya foto, bukan saya tanya. Lebih seperti itu bagaimana saya melihat.

Banyak orang yang melintas, banyak orang yang berkumpul menarik bagi saya, karena banyak kehidupan, banyak cerita yang kita bisa tangkap. Setiap orang punya cerita sendiri ya, dan itu terlihat dari wajah dan gestur mereka.

Di jalanan yang ramai ini sebenarnya banyak sekali yang bisa kita lihat, kadang it works kadang tidak, tapi kita harus mencoba. Gestur tangan, cara mereka melihat, ada beberapa yang lain yang kita sehari-hari lihat.

Terkadang, kayak merasa ada sesuatu yang akan terjadi, kadang kita nungguin 5-10 menit, kalau gak ada kejadian kita move on, tapi kadang kita bisa merasa akan ada yang terjadi kalau tinggal menunggu elemen-elemen yang tepat. jadi banyak situasi seperti itu.

Mengapa sebagian besar karyamu dalam bentuk Black & White

Awalnya saya memang lebih suka Black and White, saya lebih bisa berekspresi dengan Black and White. Tapi setelah saya teliti, setelah 15 tahun jadi fotografer, ternyata di Indonesia, karena kebanyakan karya saya di Indonesia. golden light disini itu cuma beberapa jam saja, di pagi hari dan sore.

Saya bekerja dengan seri foto, kadang-kadang saya dapat lighting yang bagus di pagi hari, tapi sering kali karya personal momen-momen itu dapatnya di siang hari bolong, sehingga untuk menyatukan foto yang indah sekali lightingnya, flat atau harsh lightingnya sulit dengan warna.

Kalau siang lebih harsh terutama di muka. dengan B&W menghilangkan segala keindahan dan kejelekan lighting tersebut sehingga orang lebih konsentrasi pada content (isi) fotonya saja.

Seperti pada video clip atau lagu dari awal sampai akhir harus selaras ritmenya. Jangan sampai lagu pop tiba-tiba ada dangdutnya. jadi memang harus sinkron.

Ritme motret Rony seperti apa?

Jika saya jalan-jalan saya tidak melihat ada yang menarik untuk foto. Saya duduk dulu, saya observe, melihat sekitar kita apa yang terjadi juga bagian dari ritme kerja di lapangan

Kalau petak sembilan dari dulu saya sering datang dari saat waktu belajar potret. Memang petak sembilan sering dikunjungi fotografer dan sering di foto juga tempat-tempat sulit karena sering di foto dan eksotis juga, kalau tempat yang sudah eksotis, bagaimana membuat foto yang berbeda?

Kalau gak, fotonya akan mirip-mirip dengan yang sudah ada, misalnya foto orang sembahyang dengan hio? Memang ada tantangan lebih dari situ, kita harus berpikir lebih keras.

Seperti kota Paris lah, kotanya indah sekali, salah satu kota terindah di dunia. Tapi saat kita kesana, bagaimana motret lebih bagus?

Misalnya Henri Cartier-Bresson itu sudah motret semua sudutnya kali ya. Semua orang kesana, motret, dan memang susah membuat foto yang levelnya lebih tinggi, tapi itu justru yang harus dicari ya daripada mengulang hal-hal yang sama.

Kadang kita perlu step down, rileks, kita observe, justru baru bisa melihat hal baru. Tapi terus nyari, cuma ada tekanan buat cari foto, kadang-kadang keselip.

Kita jangan try too hard, Joy of photography itu di lapangan ketika kita ngobrol ama orang, ketika kita melihat hal-hal yang sebenarnya kita gak foto juga. Kadang satu hari gak dapat foto sama sekali, kadang dapat satu, kadang dapat dua foto, lebih banyak gak dapat fotonya. Tapi bisa jadi kita dapat satu foto yagn kita suka itu, mungkin gak cuman sekali datang langsung dapat. Gak mungkin one shot one kill.

Kalau misalnya kita lihat ada buku foto yang bagus tentang Paris, ada 30 foto disana bukan berarti dalam 30 hari dia sudah dapat semua. Mungkin bertahun-tahun.

Ada satu kutipan yang menarik dari Henri Cartier-Bresson,

Your first ten thousand photos are the worst.

Lagi-lagi ada proses di situ, fotografi adalah proses, kita harus enjoy the ride, kalau gak enjoy ya kita gak akan sampai disana.

Dari satu foto itu mungkin foto yang bagus sekali yang pernah kita foto. Seperti untuk Cartier-Bresson yang loncat dari puddle. Foto yang paling terkenal mungkin setelah bertahun-tahun dia gak dapat apa. Ada banyak hari hari kosong yang dia gak dapat sama sekali, baru dapat satu foto itu.

Ada tips gak untuk fotografer baru yang hobi atau ingin terjun di industri fotojurnalis?

Profesi fotojurnalis ini harus diawali dengan passion karena pekerjaannya gak mudah, bayarannya juga gak terlalu besar dibandingkan genre fotografi lain apalagi profesi yang lain.

Tapi memang ada kompensasi dari itu. Bagaimana kamera kita allow kita untuk memasuki kehidupan orang. Saya baru sadar saat saya mulai empat lima tahun motret, orang lihat saya bawa kamera ke daerah yang saya kunjungi, seperti ke daerah gempa atau ke daerah yang saya liputan.

Mereka lihat saya bawa kamera, dan saya jelasin, mereka cerita semua. karena semua orang ingin ceritanya didengar. Dan kita sebagai penyampai pesan dibolehkan untuk memasuki kehidupannya. Saya baru sadar bahwa hal ini hampir tidak dimiliki oleh profesi manapun

Bawa kamera dan pekerjaan ini adalah privilege yang sangat tingig, orang mengizinkan kita ke kehidupan mereka, tanpa kamera ini coba, saya misalnya stick pada pekerjaan sebagai programmer IT.

“Gue mau tau dong ceritamu kemarin ngapain?” atau sejarah kamu. Mungkin orang berpikir “Siapa elo?” karena semua orang punya cerita dan mereka ingin didengar.

Kalau saran ke anak-anak muda itu ya memang harus yakin bahwa ini yang saya inginkan, bukan karena saya ingin terkenal, saya ingin dapat uang banyak, pasti gak ada, hidup cukup mungkin bisa.

Saya melihat fotografi dan jurnalisme sangat penting di jaman banyak hoax, banyak berita yang sangat dangkal, kita baca dua menit sudah selesai. Jurnalisme yang mendalam sangat diperlukan sekarang.

Orang-orang yang punya passion di jurnalis itu memang sangat diperlukan apakah ada uangnya, apa bisa dilalui, bisa, asal ada passionnya. Sekarang dibilang sulit api dari dulu memang sulit.

“Journalism is dead” Fotografi mati karena ada TV itu dari dulu, tapi masih ada aja sampai sekarang. Bentuknya selalu berubah, kalau dulu media online dianggap media ecek-ecek, tapi media sekarang 80% sudah online. Jadi perubahan itu sangat besar, tapi cara bercerita itu pada dasarnya sama.

Tgl 6 – 8 September ini kita akan membuka tour foto ke Lasem, kira-kira nanti kita lakukan?

Saya sudah ke Lasem beberapa kali karena saya sedang mengerjakan proyek jalan pantura. dan Lasem sendiri adalah kota yang bersejarah.

Dimana pendaratan orang Tionghua itu berasal dari Lasem di Jawa. Dulu itu memang terkenal sebagai tempat perdagangan obat bius/candu.

Dan perlawanan terhadap Belanda juga dimulai dari daerah itu, Rembang, Lasem, dimana orang-orang Tionghua, Arab, Melayu, bersatu melawan Belanda. Walaupun akhirnya kalah, Belanda akhirnya menerapkan taktik divide et impera supaya gak ngelawan lagi. sampai akhirnya kita juga merasakannya.

Lasem sendiri dari sejarah yang begitu kaya, kita bisa lihat juga dari landscapenya, arsitekturnya, dari daily lifenya, dari sana memang terpancar kota ini adalah kota yang bersejarah.

Saya sendiri senang tempatnya, orangnya ramah, daily lifenya menarik. Jadi banyak rumah-rumah tua yang sudah direstorasi sehingga kita bisa lihat-lihat di dalamnya,s eperti di film Hongkong jaman dulu. Kita akan lihat tiap hari, foto-foto kita dirangkai jadi bentuk foto cerita.

Selama dua tiga hari itu, tiap hari kita akan review foto-foto seperti apa, apa yang perlu di improve (ditingkatkan) dan saya akan saling belajar dari teman-teman yang ikutan juga.


Bagi teman-teman yang ingin ikut tour & workshop foto bersama Enche dan Rony kali ini, silahkan hubungi 0858 1318 3069. Info lengkap di halaman ini.

About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Google+ dan Instagram: enchetjin

{ 0 comments… add one }

Leave a Comment