≡ Menu

Lebih baik stabilizer di body atau di lensa?

Ada pertanyaan lagi dari pemirsa Youtube Infofotografi, kali ini datang dari Theo Pamoengkas. Pertanyaannya adalah sebagai berikut:

Mana yang lebih stabil hasil fotonya, antara lensa OIS + Body Non IBIS, atau lensa tanpa OIS + Body IBIS.

Sebelumnya, saya ingin memberitahukan bahwa setiap merk dan type kamera berbeda-beda dan setiap lensa juga kekuatan stabilisasinya berbeda-beda.

Pada awal perkembangannya sekitar sepuluh tahun yang lalu, kamera dengan built-in stabilization (IBIS) di body tidak sebaik yang di lensa. Kurang lebih hanya bisa menahan 2 stop, sedangkan lensa bisa 3-4 stop. Tapi, dari perkembangan teknologi, ada beberapa type kamera yang sudah bagus sekali body IBISnya, ada yang sudah mencapai 5-6 stop.

Lebih bagus lagi kalau kita punya kamera dan lensa yang keduanya memiliki stabilization. Jadi pas digabung, bisa menghasilkan kestabilan yang mantap.

Jika kita harus memilih salah satu, sebaiknya harus bagaimana?

  • Kalau kita sering motret dengan lensa telefoto seperti foto portrait, aksi, olahraga, wildlife, lebih bagus kita mengunakan lensa telefoto yang punya stabilisasi, karena stabilisasi body terbatas untuk menstabilkan lensa dengan jarak fokal yang panjang.
  • Kalau motretnya seringnya subjek yang jarak dekat, seperti bunga, makanan, dan untuk merekam video, lebih baik punya kamera yang punya IBIS, karena stabilizer di body kamera dapat menstabilkan 5 axis getaran, termasuk getaran atas-bawah-kiri-kanan dan gerakan roll (gerakan memutar).

Beberapa tahun terakhir, image stabilizer di kamera, bisa difungsikan untuk membuat kualitas foto yang lebih bagus. Contohnya di Panasonic Lumix G9 yang sensornya hanya beresolusi 20MP, tapi bisa memanfaatkan IBIS untuk membuat foto 80MP. Contoh lain yaitu Sony A7R IV yang mampu membuat gambar dengan resolusi 240MP dengan memanfaatkan teknologi pixel shift stabilizer di body kamera.

Kadang ada baiknya memiliki kamera tidak memiliki built-in stabilizer, misalnya di Lumix GH5s yang penggunanya biasanya adalah videografer yang selalu mengunakan stabilizer eksternal seperti tripod dan gimbal.

Jika videografer mengunakan gimbal dan kameranya juga memiliki 5 axis stabilization, kadang-kadang sensor tetap bergerak/bergetar sehingga hasil video tidak stabil 100%.

Kesimpulannya, kita harus mengkaji apa yang sering kita potret, jika sering memotret subjek aksi, dan mengunakan lensa telefoto, lebih baik memilih lensa yang memiliki stabilizer, tapi kalau sering merekam video dan memotret subjek dekat, lebih baik mempertimbangkan kamera dengan built-in stabilizer.

Konten ini juga tersedia di Youtube:


Yuk belajar fotografi dan ikut kegiatan Infofotografi. Jadwal kami bisa dibaca di halaman ini.

About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Google+ dan Instagram: enchetjin

{ 1 comment… add one }
  • Joe September 17, 2019, 11:06 pm

    Maaf OOT koh, ditunggu review ttg Yongnuo YN200, kyknya tertarik banget nih sm ini flash, jauh lbh murah dibanding Godox AD200. Terimakasih sebelumnya……GBU.

Leave a Comment