≡ Menu

Liputan tour fotografi dan traveling ke Bhutan 2019

Awal bulan Oktober 2019 yang lalu, Infofotografi mengadakan tour ke Bhutan. Banyak yang saat mendengar “Bhutan” tidak mengetahui lokasi geografisnya. Bhutan termasuk negara kecil yang terletak di sebelah selatan pegunungan Himalaya, berbatasan dengan India dan China.

Punakha Dzong, benteng pertahanan yang sekarang menjadi kantor pemerintah, tempat wisata, dan kuil Buddha. Raja dan Ratu Bhutan menikah dan diresmikan disini.

Secara budaya, Bhutan banyak terpengaruh dari Tibet, terutama menganut agama Buddha Mahayana. Pada masa lalu, banyak guru-guru Tibet yang datang ke Bhutan untuk mengajar. Sampai sekarang mayoritas penduduk negara Bhutan yang hanya berjumlah 750.000 beragama Buddha.

Oleh sebab itu, ada kemiripan antara arsitekturnya, hanya saja di bagian atapnya, Bhutan memiliki atap seperti pagoda. Sepertinya curah hujan di Bhutan lebih tinggi dibandingkan dengan Tibet yang kering.

Festival-festival di Bhutan menyerupai Tibet, yaitu tari-tarian dimana penarinya mengenakan topeng-topeng yang sebagian berwajah seram untuk menangkal roh jahat.

Topografi Bhutan

Berbeda dengan Tibet yang cenderung tandus, Bhutan sangat hijau. 72% dari wilayah Bhutan adalah hutan, sehingga termasuk negara carbon negatif (menyerap 6 ton CO2 per tahun). Kontur tanah Bhutan jarang yang dataran rendah, yang paling luas ada di kota Paro, tempat airport international berada. Kota-kota dan desa lain berada di lembah, untuk ke kota satu dengan lainnya misalnya Paro ke Thimphu (ibukota) dan Punakha, kita harus melewati perbukitan yang jalannya zig-zag.

Haa Valley, Bhutan
Memungkinkan untuk melihat pegunungan Himalaya di beberapa puncak pass di Bhutan, salah satunya adalah Jomolhari yang memiliki ketinggian 7326m, tentunya jika cuaca cerah.

Saya mengenal Bhutan saat kuliah dulu, di kelas Antropologi saya mempelajari bahwa yang penting bagi Bhutan adalah Gross National Happiness, dan rakyat Bhutan adalah yang paling bahagia di dunia. Tidak saya sangka-sangka, di tahun 2019 ini saya akhirnya sampai di Bhutan.

Fotografi di Bhutan

Untuk kegiatan fotografi, Bhutan sangat bagus, karena banyak area perbukitan, jadi kita dapat memotret dari berbagai sudut, dari bawah maupun dari atas. Kualitas cahayanya juga sangat bagus, selain itu belum terlalu banyak turis yang masuk karena kebijakan tarif yang cukup tinggi yang ditetapkan oleh pemerintah Bhutan.

Dibandingkan dengan daerah orang Tibet, Bhutan memang tidak menawarkan grand vista (pemandangan luas yang bikin Wow), tapi Bhutan menawarkan suasana yang segar, adem, warna warni dan orang-orang yang ramah dan masih menjunjung tinggi budaya mereka.

Banyak festival yang diadakan di berbagai kota dan desa di Bhutan, dan saat itu, biasanya penduduk akan hadir dalam pakaian terbaik mereka yang berwarna-warni dan senang untuk dipotret.
Mayoritas warga Bhutan beragama Buddha, banyak anak-anak dikirim orang tuanya menempuh pendidikan Bhiksu dari usia dini.
Pakaian tradisional Bhutan untuk yang pria namanya Gho. Kami sempat mengenakannya sepanjang hari dan merupakan pengalaman yang menarik. Gho bentuknya seperti Kimono, dengan kantong yang besar, sehingga bisa simpan dompet, tas kecil dan bahkan kamera. Cuman pakainya agak ribet dan karena hangat tidak begitu cocok di tempat panas seperti di Jakarta.

Dalam foto adalah teman-teman seperjalanan, dari kiri: Pak Djuwanto, Kris dan Momi (@hpoernomo).
dr. Dian Ika dan Debbie sedang menikmati teh jahe, cocok diminum untuk dataran tinggi, selain membuat perut hangat juga untuk membantu aklimitasi.
Foto bersama dengan pakaian tradisional Bhutan

Namun yang belum terlalu baik adalah infrastruktur terutama jalan ke Tiger Nest monastery yang masih memprihatinkan. Kami harus mendaki di jalan tanah yang kadang becek dan licin selama beberapa jam. Untung ada Kuda poni yang membantu mengurangi beban selama kurang lebih 1 jam, tapi kondisi fisik untuk mendaki harus cukup prima, apalagi ketinggian Tiger Nest yang mencapai 3100 meter diatas permukaan laut sehingga tubuh kita lebih cepat lelah dan kadang agak pusing karena kadar oksigen yang tipis.

Tiger Nest Monastery di pagi hari, Bhutan.
Drukgyel Dzong, Paro, Bhutan

Akhir kata

Bhutan merupakan negara yang menarik untuk dikunjungi untuk liburan dan fotografi karena alamnya menarik, udaranya segar, budayanya unik, sebagian besar penduduknya ramah dan happy. Membuat kita yang berkunjung ikut ketularan 🙂

Foto-foto lainnya bisa dilihat di instagram saya @enchetjin


Infofotografi secara rutin mengadakan pelatihan dan trip foto, bagi teman-teman yang tertarik ikut jalan-jalan atau belajar fotografi, silahkan periksa jadwal tour kami atau hubungi kami jika ada saran dan masukan. Terima kasih.

Foto-foto diatas dibuat mengunakan Leica SL + Leica SL 24-90mm f/2.8-4 OIS dan Leica C-Lux

About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Google+

{ 0 comments… add one }

Leave a Comment