≡ Menu

Apakah pabrikan kamera bisa bertahan di 2020?

Artikel ini adalah transkrip dari video Youtube Infofotografi dibawah ini:

Kali ini saya ingin membahas apakah perusahaan pembuat kamera seperti Canon, Nikon, Sony, Fuji, Olympus, Panasonic, dll. Apakah mereka bisa bertahan di masa pandemi di tahun 2020, baik selama atau setelah pandemi?

Sebenarnya, di awal tahun 2020, sebelum pandemi melanda dunia, penjualan kamera digital sudah jauh menurun dibandingkan dengan masa-masa jayanya sekitar tahun 2010-2012.

Sebagai perbandingan, di tahun 2010, kamera digital baik kamera compact maupun DSLR yang terjual ada 121.5 juta unit. Tahun 2012 adalah puncaknya penjualan kamera yang bisa berganti lensa DSLR/mirrorless yaitu 20 juta unit.

Tapi di tahun 2019, kamera compact hampir habis pasarnya, dari 100 juta tinggal enam juta saja, karena kamera saku lambat-laun digantikan oleh kamera ponsel, dan kamera yang bisa bertukar lensa tinggal 6.4 juta unit.

Bayangin dari 20 juta unit di tahun 2012 menurun jadi 6.4 juta berasa sekali. Berapa banyak pabrik yang harus tutup dan karyawan yang harus dirumahkan?

Keadaan di awal 2020 memang sudah runyam, dan sekarang diperparah dengan pandemi Covid-19. Dengan pandemi yang menyebar keseluruh dunia, semua kegiatan-kegiatan yang sifatnya mengumpulkan orang seperti acara pernikahan, pertunjukan, dan traveling, semuanya akan ditunda atau dihentikan. Otomatis kebutuhan akan kamera baru menurun, fotografer profesional pun kerja-nya menurun drastis kalaupun masih ada.

Penelitian baru-baru ini tentang penjualan kamera secara e-commerce di Amerika, menunjukkan bahwa penjualan kamera adalah ketiga paling buruk, hanya kalah dari koper dan tas kerja yang masuk akal karena orang-orang tidak bisa jalan-jalan keluar.

Turunnya penjualan kamera cukup drastis dibandingkan bulan Maret 2019, penjualan kamera menurun 64%, bulan-bulan kedepannya April, Mei sepertinya tidak lebih baik.

Sayangnya pembuat kamera tidak membuat kamera webcam ya? Karena justru kamera webcam seperti buatan Logitech yang laris manis sampai habis, karena banyak yang perlu webcam untuk bekerja dari rumah untuk tele konferensi.

Memang sih, kita bisa pakai kamera sebagai webcam, tapi butuh satu alat lagi yang namanya capture card, dan itu harus beli lagi. Belakangan Canon merilis software utility yang bisa membuat kamera Canon yang compatible jadi webcam langsung. Menurut saya ini sangat bijak sekali.

Bagaimana nasib perusahaan pembuat kamera?

Nah pastinya akan mengecil ya divisi kameranya. Ngomong-ngomong perusahaan pembuat kamera kan tidak hanya bikin kamera saja, ada divisi-divisinya, misalnya Canon juga membuat printer dan mesin fotokopi, Olympus banyak membuat alat-alat kesehatan, dan sebagainya.

Kalau kita lihat, yang paling dominan adalah Nikon yang divisi imaging-nya mencapai 39%, Canon 13%, Sony 6%, Olympus 5%, Ricoh Pentax 3% Panasonic 0.5% dst.

Semakin tinggi persentasenya, bisa jadi makin bahaya, karena penurunan penjualan sangat memukul perusahaan, tapi kalau angkanya terlalu kecil, bisa ada resikonya terendiri.

Bisa jadi perusahaan induknya merasa divisi kamera hanya merepotkan dan tidak menghasilkan, bisa jadi dibubarkan. Jadi besaran persentase divisi kamera bukan jaminan.

Tapi kalau teman-teman mendesak saya, perusahaan apa yang paling rentan, maka saya rasa yang paling rentan adalah Nikon karena selain selain presentase divisi imagingnya besar, tapi juga usaha lainnya yang masih dalam tahap berkembang. Nikon yang sekarang bisa dibilang salah satu perusahaan terkecil dibandingkan perusahaan pembuat kamera yang lain, dan pandemi ini akan membuat mereka jadi lebih kecil lagi.

Akibat yang gak enaknya adalah harga-harga kamera dan lensanya akan lebih tinggi dari sekarang dan produksinya akan lebih terbatas. Tapi Nikon sepertinya akan membuat kamera dan lensa yang lebih unik kedepannya, seperti lensa 58mm f/0.95 yang cukup banyak peminatnya.

Selain itu, Olympus yang tiap tahun merugi sepertinya juga dalam keadaan bahaya, karena dengan volume produksi yang semakin sedikit, otomatis akan menaikkan unit harga kamera/lensanya sehingga akhirnya harganya jadi tidak bisa bersaing lagi. Sebelum pandemi, harga kamera Olympus tidak begitu berbeda dengan kamera format APS-C dan beberapa diantaranya lebih mahal dari kamera full frame. Menurut saya ini cukup mengkhawatirkan.

Yang mungkin agak mendingan adalah kamera Canon dan Sony, karena saat ini pangsa pasar mereka kan masih luas, punya banyak jenis kamera dari yang murah sampai mahal, dari yang amatir sampai profesional. Banyak fotografer dan videografer profesional yang masih mengandalkan alat-alat buatan mereka.

Untuk Fujifilm, di era digital ini saya perhatikan seperti kembang api, kadang muncul dan meledak lalu surut. Contohnya dulu Fuji punya kamera DSLR pro yang keren dengan merk Finepix yang saat itu bekerjasama dengan Nikon.

Setelah beberapa tahun, kamera DSLR tersebut tidak dikembangkan lagi, lantas tiba-tiba muncul dengan kamera mirrorless yang imut-imut. Saya pikir saat ini Fuji agak menurun karena kamera-kamera barunya tidak terlalu berbeda dari generasi sebelumnya.

Kamera baru Fuji cenderung meningkat di fitur videonya yang segmennya sudah ramai diisi oleh Sony , Panasonic Lumix dan Canon, terutama kalau Canon EOS R5 yang sudah diumumkan specnya ternyata bagus.

Mudah-mudahan Fuji tetap berinovasi karena secara perusahaan Fujifilm sangat sehat dari bisnis farmasinya sangat berkembang. Saat ini Fujifilm sedang sibuk membuat obat flu Avigan untuk membantu memerangi Covid-19. Mungkin dengan dana tambahan riset dan development
bisa membuat kamera yang lebih keren lagi.

Apa yang harus kita khawatirkan?

Apapun yang terjadi dengan perusahan kamera, kita tidak perlu terlalu kuatir, karena perusahaan Jepang tidak sama dengan perusahaan Amerika atau China, yang akan langsung menutup divisi perusahaannya, jika merasa tidak menguntungkan. Di Jepang yang penting adalah melindungi heritage (warisan sejarah). Merk-merk seperti Nikon, Olympus, Canon sudah hadir lebih dari seratus tahun lalu sebagai pembuat kamera dan lensa, Perusahaan induk atau bahkan pemerintah Jepang tidak akan membiarkan mereka lenyap begitu saja.

Tapi yang saya lebih khawatirkan justru toko-toko kamera, karena mereka ditekan dari dua arah, dari perusahaan kamera untuk mengambil barang, dan juga ongkos-ongkos selama pandemi, yang berupa ongkos sewa atau bayar cicilan jika mereka membeli toko tersebut, juga pegawai-pegawai yang mungkin bisa puluhan atau bahkan ratusan jika mereka memiliki banyak cabang.

Kalau mereka pada tutup, maka kita tidak punya tempat nongkrong, kita tidak bisa leluasa mencoba kamera sebelum membeli, dan mengikuti acara-acara workshop fotografi dan lain-lainnya.

Jika toko-toko kamera tidak buka lagi, kemungkinan kita beli kamera dan lensa hanya melalui platform e-commerce saja. dan tentunya kita tidak mau itu terjadi.

Oleh sebab itu, saya sarankan jika memang kita perlu gear, mungkin untuk mengisi waktu atau belajar dan bereksperimen selama pandemi, lensa makro misalnya, atau extension tube, filter close-up, atau peralatan lighting, ya coba dukung toko kamera favorit Anda masing-masing. Hanya dengan itulah mereka bisa bertahan, tidak seperti perusahaan besar mereka kemungkinan tidak akan dibantu oleh bank-bank besar atau pemerintah.

Adakah peluang setelah pandemi?

Meskipun keadaan kita lagi sulit, tapi tidak mungkin akan selamanya begini. Kabar baiknya, setelah pasien berkurang, PSBB/karantina diangkat, maka ekonomi dan kegiatan-kegiatan yang membutuhkan foto dan video akan mulai meningkat lagi.

Bagaimanapun fotografer dan videografer profesional atau amatir tetap akan membutuhkan kamera digital tidak hanya kamera ponsel saja. Bahkan karena dikekang demikian lama, kegiatan-kegiatan yang tertunda seperti pernikahan, traveling, bisa jadi akan booming lagi.

Juga karena PSBB pasangan-pasangan muda terpaksa stay at home, otomatis jumlah kelahiran bayi di akhir tahun atau awal tahun 2021 tentu akan banyak sekali yang perlu di dokumentasi. Tentunya ini membuka peluang bisnis baru. Anda paham kan maksud saya?

Hal positif lainnya yang saya perhatikan adalah dengan banyaknya fotografer pro yang tertunda pekerjaannya, banyak yang tampil sebagai narasumber untuk berbagi pengalaman, berbagi foto, berbagi ilmu secara online, termasuk saya, mas Erwin dan ko Irwan juga tetap menyelenggaraan kursus online atau membuat konten youtube untuk berbagi wawasan. Tren-tren fotografi baru juga berkembang, seperti foto mainan, makro, dan photoshoot virtual.

Harga kamera dan lensa bakal naik atau turun?

Soal harga gear, menurut saya dalam waktu dekat ini akan ada diskon-diskon, membuatnya jadi murah, karena perusahaan dan toko perlu menurunkan tingkat stoknya yang sudah terlanjur dibuat awal tahun. Jadi beberapa bulan kedepan adalah waktu yang baik untuk membeli kamera dan lensa.

Tapi setelah itu, mungkin harganya akan naik lagi, karena ongkos produksi jadi meningkat akibat pelemahan penjualan yang menjadi tren saat ini memaksa perusahaan untuk meningkatkan harga karena jika tidak akan terancam merugi.

Bagaimana menurut teman-teman? Perusahaan mana yang akan bertahan dan berkembang setelah pandemi ini berakhir?

Apakah kalian memiliki kritik atau saran?

About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Instagram: enchetjin

{ 9 comments… add one }
  • Nanda June 30, 2020, 7:48 pm

    Yahh sudah zamannya sekarang ke videografi, walau di instagram masih banyak foto2 “wah” tetapi hanya dinikmati bbrp detik saja oleh khalayak. Konten kreatorpun jatuh bangun demi bertahan. Hal2 yg baik dan kreatif “terkadang” tidak di butuhkan lagi tetapi apapaun sesuatu yg dapat menghibur yg akan bertahan. Zaman berubah bro siap2 ganti haluan.

  • Kismanto May 14, 2020, 7:24 pm

    Koh, maaf mau tanya..
    Dari Sony A7ii, Sony a6400 dan Canon 80D,.
    Mana yang lebih baik untuk foto Landscape dan portrait ?
    Terima kasih koh

  • Kevin Adi Nugroho May 12, 2020, 7:22 pm

    Halo pak, saya ingin membeli kamera mirrorless under 3 jt yg tentu saja second, apakah ada saran ?

  • Komar May 11, 2020, 11:50 pm

    Saya pengguna Nikon dan Olympus. Dua merk yang paling rentan. Tapi ya kalaupun mereka bangkrut, saya tetap tidak ganti system juga. Saya juga berpikir bahwa sebetulnya still fotografi sudah (hampir) mentok. Yang berkembang tinggal video saja. Mungkin juga 1-2 bulan mendatang banyak yang menjual gearnya karena BU. Dan ini adalah situasi yg menyenangkan buat tukang foto modal cekak seperti saya. Kedepannya kamera hanya digunakan oleh profesional dan penghobi saja, bukan sebagai “kebutuhan pokok” seperti 10 tahun lalu…

    • Enche Tjin May 12, 2020, 6:01 pm

      Ya bisa jadi gear-gear high-end akan banting harga beberapa bulan kedepan di pasar second. Sptnya sekarang saat ini juga sudah dimulai. Tetap sehat Bung Komar 🙂

      • Komar May 18, 2020, 11:53 am

        Sama2 Ko Enche. Semoga Infofotografi menjadi salah satu yang sukses melewati krisis dan menjadi lebih kuat. Tuhan berkati…

    • Sugiharto May 15, 2020, 3:30 am

      Saya usaha fotocopy di lampung Timur (zona hijau). Covid hampir bikin drop 90% penjualan usaha saya. Saya pikir produsen harus masuk ke video atau ditinggalkan. Suka gak suka temen2 dikota bikin kontent video untuk kebutuhan tugas sekolah anak. Masalahnya lebar lensa gak cukup untuk video cuci tangan di kamar mandi (krn ruang terlalu kecil)

Leave a Comment