<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Info Fotografi &#187; Dasar Fotografi</title>
	<atom:link href="http://www.infofotografi.com/blog/category/dasar-fotografi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.infofotografi.com/blog</link>
	<description>Mengulas segala hal yang berkaitan dengan fotografi digital</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 11:33:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Menghadapi pemandangan yang kontras</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2012/01/menghadapi-pemandangan-yang-kontras/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2012/01/menghadapi-pemandangan-yang-kontras/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 13:46:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dasar Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Editing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=2211</guid>
		<description><![CDATA[Ketika perbedaan terang gelap di suatu tempat sangat tinggi seperti pada foto pemandangan, dimana langit jauh lebih terang daripada laut, maka kita harus berkompromi dengan setting exposure.
Rentang dinamis sensor kamera digital terbatas dan tidak seperti mata manusia, maka dari itu jika kita memprioritaskan bagian yang gelap, bagian yang terang menjadi terlalu terang, dan sebaliknya jika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2012%2F01%2Fmenghadapi-pemandangan-yang-kontras%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2012%2F01%2Fmenghadapi-pemandangan-yang-kontras%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Ketika perbedaan terang gelap di suatu tempat sangat tinggi seperti pada foto pemandangan, dimana langit jauh lebih terang daripada laut, maka kita harus berkompromi dengan setting exposure.</p>
<p>Rentang dinamis sensor kamera digital terbatas dan tidak seperti mata manusia, maka dari itu jika kita memprioritaskan bagian yang gelap, bagian yang terang menjadi terlalu terang, dan sebaliknya jika kita memprioritaskan bagian yang terang, bagian yang gelap menjadi terlalu gelap.</p>
<p>Pertama-tama, pilihan format foto yang saya pakai berbentuk RAW supaya saya bisa menyelamatkan di daerah terang dan gelap tanpa mengurangi kualitas foto secara berlebihan. Tentunya setelah memotret, dibutuhkan langkah tambahan yaitu kita harus mengedit foto lagi.</p>
<p>Biasanya saya memprioritaskan pada bagian yang terang karena lebih sulit menyelamatkan detail di daerah yang terlalu terang daripada membuat daerah yang gelap menjadi terang.</p>
<p>Contohnya, di mode program (P), saya akan mengunakan metering mode spot/partial lalu saya akan arahkan ke bagian yang terang dan kemudian mengingat setting bukaan dan shutter speed yang dipilih kamera. Lalu saya akan mengunakan mode manual dan menetapkan setting yang saya catat dalam pikiran saya, merekomposisi foto dan kemudian memotret.</p>
<p>Jika kita memilih untuk mengunakan format JPG, kita bisa mengatur keseimbangan kontras antara highlight dan shadow dengan mengaktifkan fitur Active D-Lighting (Nikon) atau Auto Lighting Optimizer (Canon). Dengan fitur ini, kita bisa mengurangi kontras antara bagian yang terang dan gelap. Akibatnya, detail di bagian terang dan gelap, serta pencahayaan yang lebih seimbang bisa didapatkan. Jangan aktifkan fitur ini jika kita justru ingin foto yang memiliki kontras yang tinggi (saat kita ingin bagian yang gelap, gelap total).</p>
<p>Ada fitur yang dinamakan highlight tone priority. Fitur ini terdapat di kamera DSLR Canon. Fitur ini diaktifkan di menu custom function. Fungsinya adalah untuk menyelamatkan detail bagian yang terang (highlight).  Fitur ini cocok untuk subjek foto yang berwarna putih seperti baju pengantin. Dengan aktifnya fitur ini, detail-detail dari gaun pengantin akan terjaga. Namun ada kelemahan fitur ini, yaitu saat fitur ini aktif, ISO 100 dan 12800 tidak bisa digunakan. Selain itu, bagian yang gelap (shadow) akan lebih gelap. Karena kelemahan itu, gunakan fitur ini jika benar-benar dibutuhkan.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-2216" title="Foto kontras" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2012/01/DSC_1984.JPG" alt="Foto kontras" width="495" height="329" /></p>
<p style="text-align: center;">
<p>Di foto diatas, keadaan di dalam ruang candi tua sangat gelap sedangkan cahaya di luar sangat terang. Maka itu pemandangan ini disebut pemandangan yang kontras. Untuk menyeimbangkannya, saya mencari setting exposure supaya bagian luar ruangan tidak  terlalu terang. Dan kemudian baru menerangkan bagian dalam candi yang gelap dengan software <a href="http://infofotografi.com/kursus-fotografi-lightroom.html" target="_blank">Adobe Photoshop Lightroom</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2012/01/menghadapi-pemandangan-yang-kontras/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lensa fix hanya bisa bikin blur background?</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2011/11/lensa-fix-hanya-bisa-bikin-blur-background/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2011/11/lensa-fix-hanya-bisa-bikin-blur-background/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Nov 2011 15:15:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dasar Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[Lensa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=1968</guid>
		<description><![CDATA[Saya pernah beberapa kali menerima pertanyaan apakah mengunakan lensa fix sepperti 35mm, 50mm dan 85mm berbukaan besar (f/1.4 atau f/1.8) hasil fotonya akan selalu menyebabkan latar belakangnya blur?
Jawabannya adalah tidak benar, karena bukaan lensa tersebut bisa kita kecilkan ke f/8 atau lebih kecil lagi. Akibatnya ruang tajam akan luas sehingga foto akan tajam dari ujung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F11%2Flensa-fix-hanya-bisa-bikin-blur-background%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F11%2Flensa-fix-hanya-bisa-bikin-blur-background%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Saya pernah beberapa kali menerima pertanyaan apakah mengunakan lensa fix sepperti 35mm, 50mm dan 85mm berbukaan besar (f/1.4 atau f/1.8) hasil fotonya akan <strong>selalu</strong> menyebabkan latar belakangnya blur?</p>
<p>Jawabannya adalah <strong>tidak benar</strong>, karena bukaan lensa tersebut bisa kita kecilkan ke f/8 atau lebih kecil lagi. Akibatnya ruang tajam akan luas sehingga foto akan tajam dari ujung ke ujung.</p>
<p>Kebanyakan pemula yang saya amati mengunakan bukaan yang besar-besar seperti f/1.8 di setiap jepretan. Masalahnya, tidak semua foto optimal dengan setting bukaan f/1.8.</p>
<div id="attachment_1974" class="wp-caption alignright" style="width: 257px">
	<img class="size-full wp-image-1974" title="nikon-35mm-f18" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/11/nikon-35mm-f18.jpg" alt="Nikon 35mm f/1.8 DX" width="257" height="170" />
	<p class="wp-caption-text">Nikon 35mm f/1.8 DX</p>
</div>
<p><strong>Contoh praktisnya:</strong></p>
<p>F/1.4 &#8211; F/2 saya pakai untuk membuat latar belakang sangat blur dan hanya bagian yang saya fokus saja yang tajam, misalnya mata.</p>
<p>Bagian telinga, hidung, rambut biasanya sudah blur. Saya akan sangat berhati-hati mengunakan bukaan sebesar ini karena meleset sedikit fokusnya, maka foto menjadi tidak tajam.</p>
<p>F/2.8 sering saya gunakan untuk portrait karena ruang tajamnya lebih luas, sehingga seluruh wajah orang terlihat tajam.</p>
<p>F/4 saya gunakan untuk memastikan foto dua orang dalam satu frame tajam/fokus.</p>
<p>F/8 atau lebih kecil saya gunakan untuk foto kelompok (lebih dari 4 orang) atau foto pemandangan.</p>
<p>Jadi, jangan hanya mengunakan lensa fix di bukaan yang terbesarnya saja, tapi cobalah bukaan-bukaan yang lain sesuai kondisi dan keinginan Anda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2011/11/lensa-fix-hanya-bisa-bikin-blur-background/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>39</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Komposisi &#8211; Aspek Rasio</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/komposisi-aspek-rasio/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/komposisi-aspek-rasio/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2011 11:37:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dasar Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[komposisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=1950</guid>
		<description><![CDATA[Aspek rasio adalah rasio panjang dan lebar sebuah foto. Jika panjang dan lebar foto sama, maka aspek rasionya 1:1. Di kamera digital saku, aspek rasionya biasanya adalah 4:3, demikian juga kamera micro four thirdsnya Olympus atau Panasonic. Di kamera DSLR Canon, Nikon, Sony, Pentax, aspek rasionya 3:2. Pilihan aspek rasio sangat mempengaruhi komposisi foto, tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F10%2Fkomposisi-aspek-rasio%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F10%2Fkomposisi-aspek-rasio%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Aspek rasio adalah rasio panjang dan lebar sebuah foto. Jika panjang dan lebar foto sama, maka aspek rasionya 1:1. Di kamera digital saku, aspek rasionya biasanya adalah 4:3, demikian juga kamera micro four thirdsnya Olympus atau Panasonic. Di kamera DSLR Canon, Nikon, Sony, Pentax, aspek rasionya 3:2. Pilihan aspek rasio sangat mempengaruhi komposisi foto, tapi ironinya banyak orang yang menyepelekannya.</p>
<p>Biasanya, kita akan mengkomposisikan foto sesuai dengan apa yang sudah di set kamera kita, sehingga komposisi foto jadi kurang pas. Di beberapa kamera, kita bisa mengganti aspek rasio, di sebagian lain tidak bisa, tapi kita bisa mengkrop foto di software pengolah foto seperti Photoshop.</p>
<p><strong>3:2</strong> adalah aspek rasio yang biasa kita dapati di kamera DSLR digital. Aspek rasio ini umumnya baik untuk foto horizontal seperti pemandangan.</p>
<p><strong>4:3</strong> adalah aspek rasio yang di cap paling alami dan paling enak di lihat baik secara horizontal dan vertikal. Tidak seperti 3:2, saat foto vertikal, aspek rasio ini tidak terlalu tinggi, sehingga tidak melelahkan mata. 4:3 cocok dipakai untuk foto berorientasi portrait.</p>
<p><strong>1:1</strong> adalah aspek rasio bujursangkar. Di masa lalu, aspek rasio ini ditemukan di kamera large format. Aspek rasio ini cocok untuk foto pola dan detail. 1:1 disebut juga aspek rasio yang netral karena tidak berorientasi horizontal atau vertikal.</p>
<p><strong>16:9</strong> adalah aspek rasio yang sering kita jumpai di film. Aspek rasio ini terkesan lebar dan agak pendek. Biasanya cocok untuk foto pemandangan atau membuat foto berkesan sinematik (seperti film).</p>
<p><strong>5:1</strong> adalah aspek rasio yang disebut juga panorama karena cakupannya yang sangat lebar. Biasanya cocok untuk foto pemandangan.</p>
<p>Dengan menyadari aspek rasio mempengaruhi komposisi, kita bisa memilih aspek rasio yang tepat sehingga foto kita lebih enak dilihat.</p>
<div id="attachment_1954" class="wp-caption aligncenter" style="width: 200px">
	<img class="size-full wp-image-1954" title="DSC_3674" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/DSC_3674.JPG" alt="Aspek rasio 1:1" width="200" height="200" />
	<p class="wp-caption-text">Aspek rasio 1:1</p>
</div>
<div id="attachment_1955" class="wp-caption aligncenter" style="width: 263px">
	<img class="size-full wp-image-1955" title="DSC_3634" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/DSC_3634.JPG" alt="Aspek rasio 4:3" width="263" height="350" />
	<p class="wp-caption-text">Aspek rasio 4:3</p>
</div>
<div id="attachment_1964" class="wp-caption aligncenter" style="width: 500px">
	<img class="size-full wp-image-1964" title="DSC_3612" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/DSC_3612.JPG" alt="Aspek rasio 16:9" width="500" height="281" />
	<p class="wp-caption-text">Aspek rasio 16:9</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/komposisi-aspek-rasio/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Foto yang bagus?</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/foto-yang-bagus/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/foto-yang-bagus/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2011 05:44:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dasar Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=1936</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan &#8220;foto bagus itu foto yang bagaimana?&#8221; atau &#8220;bagaimana membuat foto yang bagus?&#8221;
Fotografi, pada hakekatnya adalah salah satu bentuk media untuk berkomunikasi dan mengekspresikan diri. Fotografi banyak persamaan dengan menulis. Di dalam menulis, kita memilih kata-kata dan kemudian merangkainya dalam bentuk kalimat. Di dalam fotografi, kita mengunakan elemen visual (garis, bentuk, pola, warna, cahaya, dll) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F10%2Ffoto-yang-bagus%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F10%2Ffoto-yang-bagus%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Pertanyaan &#8220;foto bagus itu foto yang bagaimana?&#8221; atau &#8220;bagaimana membuat foto yang bagus?&#8221;</p>
<p>Fotografi, pada hakekatnya adalah salah satu bentuk media untuk berkomunikasi dan mengekspresikan diri. Fotografi banyak persamaan dengan menulis. Di dalam menulis, kita memilih kata-kata dan kemudian merangkainya dalam bentuk kalimat. Di dalam fotografi, kita mengunakan elemen visual (garis, bentuk, pola, warna, cahaya, dll) dan kemudian merangkainya dengan komposisi (aturan sepertiga, garis, perspektif, fokus, bingkai, dll).</p>
<p>Tulisan yang dianggap baik adalah tulisan yang tidak bertele-tele, melainkan jelas dan dapat dimengerti oleh pembacanya. Tulisan yang bagus memiliki ide &amp; makna yang menarik. Tulisan yang baik memiliki organisasi tata bahasa yang rapi sehingga mudah dibaca dan dipahami.</p>
<p>Sama dengan tulisan yang bagus, fotografi yang baik perlu suatu subjek dan ide yang jelas serta tidak ada elemen yang mengganggu. Fotografi yang baik memiliki organisasi komposisi elemen-elemen visual dengan baik.</p>
<p>Intinya foto yang bagus adalah foto yang sesuai dengan niat kita masing-masing. Contohnya, jika kita ingin membuat suasana yang misterius dan angker, foto dengan nuansa yang gelap lebih cocok daripada nuansa yang terang. Jika ingin foto kita membuat perubahan, misalnya kita ingin orang peduli dengan lingkungan hidup, maka foto kita harus bisa memotivasi orang-orang untuk go green dan seterusnya.</p>
<p>Singkatnya, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan supaya foto kita bagus:</p>
<p>1. Apakah foto memiliki ide/cerita/makna?<br />
2. Apakah terang gelap / exposure foto sesuai?<br />
2. Apakah komposisi foto sesuai?<br />
3. Apakah pilihan pencahayaan tepat?<br />
4. Apakah timing saat menjepret tepat?</p>
<p>Intinya, foto yang bagus itu subjektif karena niat setiap fotografer berbeda, demikian juga penikmat foto/audiensnya. Foto yang menurut sebagian orang bagus belum tentu menarik bagi kelompok yang lain. Maka itu, jangan terlalu kuatir dan terus berlatih.</p>
<div id="attachment_1941" class="wp-caption aligncenter" style="width: 486px">
	<a href="http://www.enchetjin.com/Travel/Cambodia/Kampong-Khleang-Fishing/i-LP5fZJh/0/XL/DSC2376-XL.jpg"><img class="size-full wp-image-1941" title="kampung-khleang" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/kampung-khleang.jpg" alt="kampung-khleang" width="486" height="323" /></a>
	<p class="wp-caption-text">Foto ini menggambarkan keceriaan anak remaja di kampung terapung di danau Tonle Sap. Secara komposisi, saya menempatkan subjek utama ditengah. Saya juga menyertakan sedikit latar belakang/lingkungan untuk memberikan kesan tempat. Kepala perahu disebelah kanan atas dan tiang-tiang rumah panggung mengarah ke anak tersebut. Hujan deras memberikan kesan tersendiri dan konversi hitam putih membuat fokus mata kita tertuju kepada ekspresi anak tersebut. Silahkan klik foto diatas untuk melihat ukuran yang lebih besar.</p>
</div>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/foto-yang-bagus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengalaman kedua : Belajar Komposisi</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/pengalaman-kedua-belajar-komposisi/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/pengalaman-kedua-belajar-komposisi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Oct 2011 01:15:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iesan Liang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dasar Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Lain lain]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[iesan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=1878</guid>
		<description><![CDATA[Kesempatan latihan datang lagi ketika ada acara hunting bareng di Museum Transportasi di TMII. Namun anehnya, ketika berada di sana, saya kebingungan. Apa yang mau difoto yach? Dari pintu masuk sampai pada kereta api yang pertama, tidak ada satupun foto yang saya ambil. Kok rasanya tidak ada yang menarik. Soalnya sudah sering lihat, malah kadang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F10%2Fpengalaman-kedua-belajar-komposisi%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F10%2Fpengalaman-kedua-belajar-komposisi%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Kesempatan latihan datang lagi ketika ada acara hunting bareng di Museum Transportasi di TMII. Namun anehnya, ketika berada di sana, saya kebingungan. Apa yang mau difoto yach? Dari pintu masuk sampai pada kereta api yang pertama, tidak ada satupun foto yang saya ambil. Kok rasanya tidak ada yang menarik. Soalnya sudah sering lihat, malah kadang bisa sebel kalau lagi mau cepat malah ada kereta api yang melintas.</p>
<p>Saya melihat teman-teman yang lain pada sudah foto-foto. Tentunya objeknya kereta api. Oke deh, ikut foto juga. Saya foto kereta api itu secara keseluruhan, tampak depan dan tampak samping. Hasilnya mirip dengan foto dokumentasi saja. Tidak ada nilai seninya sama sekali, feeling belum muncul (hihihi&#8230; mungkin memang ga pinter foto kali ye&#8230;).</p>
<p>Saya pun mulai eksplorasi lagi, kalau foto kereta api saya tidak menarik, mungkin saya bisa mencoba foto yang lebih luas (kereta api + keadaan sekeliling). Saya pun mencoba mengambil foto kereta api dengan memposisikan kereta api  di tengah dan juga ikut mengambil bangunan dan tiang yang disamping. Pemikiran saya sih mau mengambil gambar seperti sedang berada di stasiun kereta api. Namun, foto saya sepertinya belum mencerminkan apa yang ingin saya capai. Masih kaku abis (gagal x_x).</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1879" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-1.jpg" alt="GBR 1" width="500" height="327" /></p>
<p>Setelah itu, saya melihat ada rel yang melengkung. Jika bisa mengambil foto jalur rel makin lama makin kecil dan berliku-liku, pastilah bisa menggambarkan perjalanan kehidupan yang penuh liku-liku. Kesan yang ingin saya tampilkan sih seperti itu kira-kira. Tapi lihatlah hasil fotoku. Masih jauh banget dari apa yang kuinginkan. Tidak ada yang spesial (gagal lagi).</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1880" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-2.jpg" alt="GBR 2" width="500" height="333" /></p>
<p>Ketika berpindah ke tempat yang lain. Saya ingin shoot sebuah gerbong dengan memasukkan kesan klasik (didukung oleh berkaratnya gerbong tersebut). Akan tetapi, bagaimanapun saya memposisikan diriku saat mengambil foto, lampu yang terletak di atas gerbong selalu ikut terekam dalam gambar. Soalnya saya ambil gambar dari bawah. Kalo bisa ambil dari atas, mungkin bakal lebih bagus. Tapi ga mungkin tinggiku bisa melebihi tinggi kereta api. Wkwkwkwk. Gagal lagi de.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1881" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-3.jpg" alt="GBR 3" width="333" height="500" /></p>
<p>Apa lagi si yang mesti difoto? <span id="more-1878"></span></p>
<p>Tiba-tiba terdengar percakapan Enche dengan seseorang. Dia memperlihatkan gambarnya kemudian menjelaskan foto detail juga bagus. Nah loh, foto detail itu kayak gimana si? Berkat kepintaran nguping dan ngintip, saya mendapat ilmu dari Enche, saya jadi tahu, ga mesti foto kereta api secara keseluruhan. Foto bagian-bagian kecil dari kereta api itu(detail) misalnya roda, pintu, jendela, dll juga menarik untuk difoto. Nah&#8230; dimulailah petualanganku&#8230;</p>
<p>Detail pertama yang saya ambil adalah foto roda kereta api. Akan tetapi, kalau roda itu cuma difoto dari depan, ga ada menariknya sama sekali. Saya geser posisi saya agak ke samping dan saya mendapatkan gambar perspektif dari roda roda kereta api (dari bulatan yang besar kemudian mengecil). Masalahnya adalah gimana memposisikan roda itu dalam frame. Awalnya, saya mencoba memasukkan semua roda tersebut. Hasilnya kepanjangan. Kemudian saya memilih memasukkan 3 roda. Ternyata kependekan.</p>
<p>Akhirnya, 4 roda yang saya rasa paling pas. Tentu saja, coba-coba saya tidak berhenti sampai tahap itu. Saya pun mengkomposisikan 4 roda itu sedemikian rupa, misalnya foto roda pertama yang terpotong sedikit, terpotong separuh, atau hampir terpotong secara keseluruhan, ataupun coba coba foto roda terakhir yang terpotong separuh, dstnya. Meskipun ternyata dari puluhan foto yang terambil, foto pertama saya yang paling saya senangi, tapi saya juga menikmati proses pencarian tersebut.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1882" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-4.jpg" alt="GBR 4" width="500" height="333" /></p>
<p>Detil kedua yang saya tangkap dari antena saya adalah foto dibawah ini (ga tau apa namanya). Tak ada alasan mengapa mau ambil foto itu, insting aja kayaknya bisa menarik. Dengan memposisikannya menjadi rule of third, saya pun foto.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1883" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-5.jpg" alt="GBR 5" width="333" height="500" /></p>
<p>Ketika mau beranjak ke tempat yang lain ternyata ada pesawat jet yang lewat. Saat jet tersebut lewat, ingin sekali mengabadikan moment tersebut. Namun kurang cepat, kayaknya si kurang pengalaman dan kurang sigap menghadapi moment yang super cepat seperti itu. Untung saja, ada kesempatan kedua, karena tidak lama kemudian jet yang kedua pun meluncur. Karena sudah ready dari ketinggalan yang pertama tadi, yang kali ini saya tinggal jepret saja.  Hoki ^^V</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1884" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-6.jpg" alt="GBR 6" width="500" height="331" /></p>
<p>Kemudian, saya melihat ada papan  rambu-rambu, maunya si sekedar dokumentasi saja, mungkin suatu saat bisa berguna. Seharusnya si foto harus diambil dari depan, namun untuk menghindari kekakuan, saya coba ambil dari samping saja. Hehe.. Hasilnya malah makin jelek. Saya tidak sempat mengambil lagi dari depan, karena saya uda ditinggal rombongan.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1885" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-7.jpg" alt="GBR 7" width="500" height="333" /></p>
<p>Setelah itu, kami berteduh di dekat pepohonan. Eits, ternyata ada yang menarik. Cabang pohon bisa dibuat frame (menyerap pelajaran dari <a href="http://infofotografi.com/kursus-fotografi-pemula.html" target="_blank">Kursus pemula</a>). Dari celah cabang pohon tersebut, saya coba mengambilnya dengan fokus di sebuah lampu sebagai objek penarik perhatian. Mungkin kalau foto itu diambil di malam hari dan lampu itu menyala, bakalan bagus ne (hehe&#8230; berandai-andai, dengan kemampuanku sekarang ini, belum tentu saya bisa menangkap foto yang terlalu kontras terang gelapnya, apalagi dengan mode Av). Ataupun foto yang sama tapi ada pasangan kekasih sebagai pengganti lampu (imajinasi tingkat tinggi XD &#8211; mungkin suatu saat nanti bisa diterapkan untuk foto prewed). Makin seru hunting kali ini, pikirku.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1886" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-8.jpg" alt="GBR 8" width="333" height="500" /></p>
<p>Setelah foto bersama, kami pun pindah ke lokasi lain. Di tempat ini, dengan berbagai imajinasi, saya mengambil beberapa foto.</p>
<div id="attachment_1887" class="wp-caption aligncenter" style="width: 345px">
	<img class="size-full wp-image-1887" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-9.jpg" alt="Foto dengan fokus di knop pintu, dengan dihalangi pagar, putih dan hitam yang kontras, semoga akan memunculkan perasaan penasaran dengan apa yang ada di balik pintu tersebut. Jadi timbul keinginan untuk membuka pintu." width="345" height="500" />
	<p class="wp-caption-text">Foto dengan fokus di knop pintu, dengan dihalangi pagar, putih dan hitam yang kontras, semoga akan memunculkan perasaan penasaran dengan apa yang ada di balik pintu tersebut. Jadi timbul keinginan untuk membuka pintu.</p>
</div>
<div id="attachment_1888" class="wp-caption aligncenter" style="width: 500px">
	<img class="size-full wp-image-1888" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-10.jpg" alt="Tanda + yang menandakan bahwa ruangan dibaliknya adalah sebuah poliklinik. Jendela saya masukkan dalam frame untuk menimbulkan keinginan untuk mengintip kegiatan apa di dalam ruangan itu." width="500" height="333" />
	<p class="wp-caption-text">Tanda + yang menandakan bahwa ruangan dibaliknya adalah sebuah poliklinik. Jendela saya masukkan dalam frame untuk menimbulkan keinginan untuk mengintip kegiatan apa di dalam ruangan itu.</p>
</div>
<div id="attachment_1889" class="wp-caption aligncenter" style="width: 333px">
	<img class="size-full wp-image-1889" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-11.jpg" alt="GBR 11" width="333" height="500" />
	<p class="wp-caption-text">Foto hoki yang kedua di hari itu. Sebenarnya cuma mau ngambil gambar 2 pintu yang berbeda warna. Pas jepret, ada tangan anak yang muncul karena sedang bermain di sana. Hoki dech. Dapat foto &quot;Haunted Train&quot;.</p>
</div>
<p style="text-align: left;">Dari semua foto yang saya ambil hari itu, saya paling suka dengan foto gembok ini. Mungkin daya imajinasi dan kadar romantisme yang terlalu tinggi di hari itu, saat melihat gembok, langsung terpikir suatu scene. Cerita penantian si gembok yang setia menunggu kedatangan si kunci sampai berkarat. Oleh sebab itu, saya memposisikan gembok itu agak ke samping, supaya saya masih bisa memasukkan kutipan.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-1890" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-12.jpg" alt="GBR 12" width="333" height="500" /></p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1891" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-13.jpg" alt="GBR 13" width="346" height="518" /></p>
<p>Saking bangganya dengan foto itu, saya post di fb dan jadiin profile pic. Trus saya menelepon mama saya supaya dia bisa mengecek hasil foto saya. Semoga dapat pujian, pikirku dalam hati. Ternyata perkiraanku meleset. Mama bilang, &#8220;Aduh apa-apaan sih, gembok berkarat kok difoto?&#8221; Gubrak&#8230; wkwkwkwk&#8230; mau nangis apa ketawa y?</p>
<p>Ternyata kalau mau buka mata buka telinga (sekalian buka hati), apapun yang dilihat bisa kita potret dan bisa kita komposisikan menjadi suatu foto yang menarik dan bercerita (ditambah dengan daya imajinasi). Tentu saja, tidak semua foto yang kita ambil dapat menyenangkan semua orang. Namun, tidak penting berapa banyak orang yang akan menyukai foto kita atau berapa orang yang akan mengkritik foto kita, yang penting kita terus berkarya. Saya yakin dengan latihan yang terus menerus, foto yang diambil akan makin bagus. Begitu juga dengan komposisi, lama kelamaan, tanpa disadari, kita akan punya feeling sendiri dan tangan kita akan bergerak dengan sendirinya untuk memposisikan kamera dan membidik.</p>
<p>Iesan Liang</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/pengalaman-kedua-belajar-komposisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan seorang pemula: Belajar auto fokus</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/belajar-auto-fokus/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/belajar-auto-fokus/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Oct 2011 15:44:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iesan Liang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dasar Fotografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=1857</guid>
		<description><![CDATA[Pertama kali hunting memakai kamera DSLR (Canon 550D kit 18-55mm), saya ikut dalam sesi foto model. Awalnya cuma punya keinginan untuk mengangkap momen lucu dan gaya serius peserta alias candid (biasanya saya candid pakai kamera saku). Iseng-iseng, saya pun mengambil foto dari model dari jarak yang jauh. Tentu saja hasilnya tidak bisa maksimal, karena saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F10%2Fbelajar-auto-fokus%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F10%2Fbelajar-auto-fokus%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Pertama kali hunting memakai kamera DSLR (Canon 550D kit 18-55mm), saya ikut dalam sesi foto model. Awalnya cuma punya keinginan untuk mengangkap momen lucu dan gaya serius peserta alias candid (biasanya saya candid pakai kamera saku). Iseng-iseng, saya pun mengambil foto dari model dari jarak yang jauh. Tentu saja hasilnya tidak bisa maksimal, karena saya tidak leluasa mendekati model. Hehehe, maklum cuma ikutan, bukan peserta resmi.</p>
<p>Dicrop saja nanti, pikirku. Setelah memperlihatkan foto saya kepada Enche, saya ditawari untuk mengganti lensa saya menjadi lensa fix 85mm f/1.8. Katanya supaya saya tidak perlu susah-susah untuk crop dan bisa terbiasa untuk menghasilkan komposisi yang bagus langsung dari kamera. Lebih hemat waktu. Selain itu, saya diajarkan untuk menekan separuh tombol bidik supaya bisa fokus.</p>
<p>Foto demi foto saya ambil. Seru juga. Hasilnya lebih bagus dari memakai lensa kit. Saya jadi berpikir, mungkin ini alasan mengapa orang-orang sibuk mengganti lensa. Waduh, kalau memang begitu, kasihan donk orang-orang yang koceknya pas-pasan. Maka dari itu, saya tanyakan kepada Enche, apakah lensa itu memang berpengaruh pada hasil foto. Dijawabnya iya. OMG, masa gitu sih? Ga adil banget, pikirku. Orang yang koceknya lebih banyak akan menghasilkan gambar yang lebih bagus donk. @@. Desperate banget.</p>
<p>Akan tetapi, dia juga menambahkan, tidak mutlak selalu seperti itu. Pernah ada kejadian ada yang menang lomba hanya dengan menggunakan kamera handphone. Semuanya kembali kepada diri kita sendiri, bagaimana memaksimalkan kamera dan lensa yang kita miliki. Yang penting, latihan terus dan biasakan diri dengan kamera yang dipegang.</p>
<p>Sesaat sebelum sesi foto berakhir, ternyata ada sunset bayangannya yang terpantul di air. Saya mencoba mengambil gambarnya. Awalnya saya ingin menangkap moment tersebut dengan mengaturnya agak ke tengah dan mengambil suasanya di sekitarnya. Tetapi kamera tidak bisa mengambil foto tersebut. Dengan mencoba memposisikan bayangan itu berkali-kali, akhirnya kamerapun bisa nembak dengan posisi bayangan agak ke kanan bawah. Rule of third karena hoki. ^^ Perjuangan tersebut harus dibayar dengan ceramahan dari Enche. Menurutnya, mengambil gambar seperti itu bisa merusak mata. Pantesan, mata saya jadi agak sakit dan berkunang-kunang setelah mengambil gambar tersebut. Untung tidak sampai buta.</p>
<div id="attachment_1859" class="wp-caption aligncenter" style="width: 500px">
	<img class="size-full wp-image-1859" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/IMG_1825.JPG" alt="Fokus ke matahari langsung bikin mata saya sakit" width="500" height="333" />
	<p class="wp-caption-text">Fokus ke matahari langsung bikin mata saya sakit</p>
</div>
<p>Sesi foto berakhir. Dari layar LCD, hasilnya lumayan bagus (menurutku). Ternyata ketika foto saya import ke komputer, kebanyakan foto saya blur dan tidak fokus ke objek yang diinginkan. Lho, kok bisa? Bukannya sudah ada autofokus?</p>
<div id="attachment_1858" class="wp-caption aligncenter" style="width: 500px">
	<img class="size-full wp-image-1858" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/IMG_1829.JPG" alt="Saya tadinya sudah bangga dengan foto ini, tapi setelah mengecek lebih detail di layar komputer, ternyata fokusnya di ilalang bukan di pasangannya X(" width="500" height="333" />
	<p class="wp-caption-text">Saya tadinya sudah bangga dengan foto ini, tapi setelah mengecek lebih detail di layar komputer, ternyata fokusnya lebih tajam di ilalang bukan di pasangannya X(</p>
</div>
<p>Oala, ternyata, saya salah paham mengenai arti autofokus. Pikirku, jika sudah autofokus, maka kamera akan dapat memfokuskan ke posisi yang saya inginkan seperti kamera saku yang ada face detection. Wkwkwkwk.  Ternyata, meskipun auto, kita juga harus memindahkan titik fokus ke kotak-kotak sesuai posisi yang diinginkan. Dari puluhan foto yang saya ambil, hanya ada 2 atau 3 yang oke. Itupun karena objeknya ada di tengah, sisanya blur karena saya memotret objek mengikuti aturan rule of third.</p>
<div id="attachment_1860" class="wp-caption aligncenter" style="width: 500px">
	<img class="size-full wp-image-1860" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/IMG_1804.JPG" alt="Foto yang tajam sekali karena subjek foto dan titik auto fokus &quot;kebetulan&quot; ditengah" width="500" height="333" />
	<p class="wp-caption-text">Foto yang tajam sekali karena subjek foto dan titik auto fokus &quot;kebetulan&quot; ditengah</p>
</div>
<p>Sepulang dari hunting pertama, saya diajarin untuk menggeser posisi fokus sesuai dengan yang kita inginkan (tidak di tengah fokusnya). Tidak sabar rasanya ingin mempraktekkannya. Latihan terus. Tetap semangat.</p>
<p>Iesan Liang</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/belajar-auto-fokus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengalaman seorang pemula : Pakai Mode Auto atau Manual?</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/pengalaman-seorang-pemula-pakai-mode-auto-atau-manual/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/pengalaman-seorang-pemula-pakai-mode-auto-atau-manual/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Oct 2011 04:00:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iesan Liang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dasar Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Lain lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=1848</guid>
		<description><![CDATA[Dari dulu, saya gak pernah hobi foto, kamera juga ga punya, mau foto apa pun ga tau dengan jelas. Satu satunya alat foto yang saya miliki hanyalah kamera di handphone saja. Itu pun jarang digunakan. Hanya untuk dokumentasi doank dan itu pun cuma pencet satu tombol doank.
Setelah kenal dengan Enche, pertama kali megang kameranya (Nikon [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F10%2Fpengalaman-seorang-pemula-pakai-mode-auto-atau-manual%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F10%2Fpengalaman-seorang-pemula-pakai-mode-auto-atau-manual%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Dari dulu, saya gak pernah hobi foto, kamera juga ga punya, mau foto apa pun ga tau dengan jelas. Satu satunya alat foto yang saya miliki hanyalah kamera di handphone saja. Itu pun jarang digunakan. Hanya untuk dokumentasi doank dan itu pun cuma pencet satu tombol doank.</p>
<p>Setelah kenal dengan <a href="http://www.enchetjin.com" target="_blank">Enche</a>, pertama kali megang kameranya (Nikon D700), alamak, berat banget. Pikirku si ngapaen juga kamera berat-berat gitu, wong tujuannya sama, dipake buat foto. Setelah itu, dikenalin dengan kamera sakunya (Panasonic Lumix LX3). Nah, yang ini lebih mendingan, kecil dan serbaguna. Hasilnya juga lumayan.</p>
<p>Masalahnya saya senang dan nyaman dengan mode Auto. Dengan kecanggihan teknologi sekarang ini, mode Auto sangat mempermudah semua pengambilan gambar dan saya sangat senang dengan adanya kemudahan ini. Ada yang mudah buat apa cari yang susah.</p>
<p>Kemudian, tak lama kemudian, Enche mengadakan <a href="http://infofotografi.com/kursus-fotografi-pemula.html" target="_blank">kursus dasar fotografi</a> yang mengajarkan tentang cara setting kamera secara manual. Saya bertanya-tanya sendiri, mengapa orang-orang mau merepotkan dirinya untuk setting secara manual, jika kamera sudah tersedia mode Auto. Saya sendiri saat itu juga tidak merasa ada keinginan untuk belajar setting secara manual.</p>
<p>Banyak yang mengganggap remeh mode Auto, menurut saya, itu sangatlah tidak masuk akal. Karena kalau memang mode Auto itu tidak berguna, mengapa kamera dilengkapi mode tersebut, yang penting hasilnya, asal ga blur dan sesuai yang kita inginkan. ^^</p>
<p>Ada yang mengganggap jika pakai mode Manual berarti sudah keren, padahal hasilnya belum tentu sebagus dan sekonsisten mode Auto. Saya rasa mode Auto sangat membantu saya dalam mengambil momen-momen candid, karena kalau masih mau setting-setting exposure, momentnya jadi terlewatkan donk. Kalau momen nya disuru ulang lagi, bukan candid lagi namanya.</p>
<p>Perlahan-lahan, karena ada kamera yang nganggur di tempat Enche (Canon 550D kit 18-55mm), saya mencoba memakainya, modenya juga Auto wkwkwkw. EGP dengan perkataan orang yang ga keren ato gimana dech. Lagian, emangnya bisa ketahuan kalau saya pakai auto? Kalau nanti ditanyain data atau setting kameranya, di foto yang dihasilkan mode Auto pun ada datanya. XD</p>
<p>Selanjutnya, ada yang bilang karena seni. Masa pake mode Auto ga ada seninya? Seni itu apa sih? Bisa bokeh-bokeh kah? Kalau mau bokeh, kan bisa pakai lensa fix yang bukaannya besar, trus mode auto, bokeh juga kan? Atau mengambil objek dengan dekat dan bagian latarnya dibuat cukup jauh, mode Auto juga bisa bokeh. ^^</p>
<p>Selang beberapa kali hunting bareng, saya ditawarin Enche untuk pakai mode Semi Auto (Av). Ya, ga ada salahnya mencoba. Shoot demi shoot saya lakukan, ternyata asyik juga mengubah-ngubah bukaan. Intinya, cuma disuruh jaga bukaan antara f/5.6, f/6.7, f/8.0. Coba coba tiap shoot dengan ketiga bukaan itu. Meskipun dari sekian puluh shoot cuma ada beberapa yang oke.</p>
<p>Dari latihan ini, ada sedikit pengertian yang saya dapatkan. Dalam mode Auto atau Semi Auto, kamera itu selalu ditugaskan untuk mencari gambar yang terang dan jelas. Dengan bukaan yang besar, kamera akan memberikan shutter speed yang cepat. Sebaliknya, jika bukaan saya perkecil, kamera akan memberikan shutter speed yang lambat. Alhasil, gambar saya tak jauh berbeda meski pakai bukaan f/5.6 ataupun f/8.0.</p>
<p>Kemudian saya menemukan kendala, beberapa foto yang saya ambil, saya ingin nuansanya gelap. Meski ada fitur exposure compensation, gelap atau terangnya tidak seperti yang saya inginkan, dan cukup merepotkan karena perhitungan kamera tidak dapat saya prediksikan gelap terangnya. Kalau momen yang ingin saya foto terjadi dalam waktu yang singkat, maka tidak ada satupun foto yang akan saya dapatkan jika harus mencoba-coba setiap range dari exposure compensation. Beda posisi saja sudah akan memberikan settingan yang berbeda.</p>
<p>Karena kesulitan ini, saya jadi mengerti mengapa mode Manual itu menarik untuk dipelajari. Dengan mode manual, kita dapat menentukan setting kamera. Mau gelap, mau terang, mau bokeh sampai tahap yang bagaimana pun, terserah saya. Dan saya sangat menikmatinya. Namun, kalau sudah terdesak dan butuh kecepatan tinggi untuk mengambil foto, Auto mode on.  ^^</p>
<p>Iesan Liang</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/pengalaman-seorang-pemula-pakai-mode-auto-atau-manual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips fotografi: Memotret Air terjun</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2011/09/tips-fotografi-memotret-air-terjun/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2011/09/tips-fotografi-memotret-air-terjun/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Sep 2011 18:13:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dasar Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[Travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=1770</guid>
		<description><![CDATA[Air terjun merupakan subjek foto yang menarik dan sangat populer di kalangan fotografer pemandangan/landscape. Memotret air terjun membutuhkan teknik tertentu yaitu:
Setting kamera manual
Untuk mendapatkan foto air terjun yang mulus, kita membutuhkan shutter speed yang lambat, kurang lebih 1/4 detik sampai 2 detik. Semakin lama kita membuka shutter, semakin mulus air terjunnya.
Bukaan/aperture yang dipakai sebenarnya cukup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F09%2Ftips-fotografi-memotret-air-terjun%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F09%2Ftips-fotografi-memotret-air-terjun%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Air terjun merupakan subjek foto yang menarik dan sangat populer di kalangan fotografer pemandangan/landscape. Memotret air terjun membutuhkan teknik tertentu yaitu:</p>
<p><strong>Setting kamera manual</strong><br />
Untuk mendapatkan foto air terjun yang mulus, kita membutuhkan shutter speed yang lambat, kurang lebih 1/4 detik sampai 2 detik. Semakin lama kita membuka shutter, semakin mulus air terjunnya.</p>
<p>Bukaan/aperture yang dipakai sebenarnya cukup kecil, contohnya f/11 atau f/16. Dengan bukaan sekecil itu, seluruh pemandangan akan terlihat tajam. Hindari bukaan yang terlalu kecil seperti f/22 atau f/32 karena kualitas foto akan berkurang karena difraksi lensa.</p>
<p>Untuk ISO, sebaiknya memakai ISO yang paling rendah, misalnya ISO 100 (sebagian besar kamera DSLR Canon) atau 200 (kamera DSLR Nikon) supaya mendapatkan kualitas foto yang optimal.</p>
<p><strong>Lensa</strong><br />
Untuk lensa, saya usulkan untuk memakai lensa lebar, karena memberikan kesan kedalaman atau tiga dimensi. Dimensi akan lebih terlihat ketika komposisi kita vertikal dengan memasukkan unsur lingkungan seperti bebatuan disekitar air terjun.</p>
<p><strong>Filter</strong><br />
Ketika foto di siang hari yang terik dan terang sekali, seringkali kombinasi bukaan, shutter speed dan ISO seperti yang dianjurkan diatas masih menghasilkan foto yang terlalu terang. Jika itu terjadi, kita bisa mengunakan filter yang dinamakan Neutral Density. Filter ini akan menyerap cahaya lebih banyak sehingga exposure/pencahayaan foto menjadi pas. Filter Neutral Density ini ada yang menggelapkan 1 stop sampai 10 stop cahaya. Saya usulkan minimal menggunakan Neutral Density 3 stop atau disebut juga filter ND8.</p>
<p>Filter lain yang bisa membantu yaitu Circular polarizer. Filter ini berfungsi untuk mengurangi refleksi cahaya sehingga foto menjadi lebih bagus. Langit biru akan semakin biru dan refleksi cahaya ke air atau ke bebatuan disekitar air terjun akan hilang atau berkurang. Filter ini juga menyerap cahaya sebanyak kurang lebih 2 stop cahaya sehingga membantu kita mendapatkan setting bukaan-shutter speed-ISO yang dibutuhkan. Filter CPL ini adalah salah satu filter wajib untuk yang hobi fotografi pemandangan. Cara memakai filter CPL ini adalah memasangnya di depan lensa dan kemudian memutar filter sampai mendapatkan efek yang diinginkan (saat refleksi cahaya hilang/berkurang).</p>
<p><strong>Tripod</strong><br />
Tripod merupakan alat wajib untuk fotografi pemandangan, tak terkecuali untuk foto air terjun. Tripod memastikan foto kita tidak blur karena shutter speed yang lambat. Banyak jenis tripod di pasaran, pada umumnya, tripod yang kokoh dan ringan itu yang terbaik untuk fotografi pemandangan atau jalan-jalan.</p>
<p><strong>Fokus</strong><br />
Fokus yang tepat untuk foto pemandangan juga penting, tapi untunglah biasanya kita memakai setting bukaan yang kecil sehingga bagian yang tajam dari foto menjadi luas. Kita bisa memilih untuk fokus ke air terjun atau batu-batuan yang disamping. Fokus tergantung selera, bagian mana yang ingin kita tonjolkan atau terlihat paling tajam di foto.</p>
<p><strong>Komposisi</strong><br />
Komposisi foto air terjun pada dasarnya ada dua, yaitu komposisi horizontal dan vertikal. Komposisi horizontal membuat pemandangan air terjun menjadi lebih tenang dan stabil, sedangkan komposisi vertikal memberikan kesan dinamis dan cepat. Jangan lupa mengikutsertakan lingkungan air terjun seperti bebatuan, pohon, dedaunan ataupun orang yang berenang atau main air di air terjun tersebut.</p>
<p>Selamat mencoba.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2011/09/tips-fotografi-memotret-air-terjun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips untuk foto grup / Keluarga</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2011/08/tips-untuk-foto-grup/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2011/08/tips-untuk-foto-grup/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Aug 2011 02:10:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dasar Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[Lampu Kilat]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=1637</guid>
		<description><![CDATA[Liburan sebentar lagi, sebagian besar dari kita pasti bersilahturahmi dengan keluarga besar. Mengapa tidak mengabadikan momen ini untuk foto keluarga?
Supaya foto keluarganya keren, ada beberapa tips untuk teknik fotonya
1. Posisi kamera jangan terlalu dekat dengan subjeknya
Karena bila terlalu dekat, maka terpaksa kita akan zoom out atau memakai lensa yang terlalu lebar karena bila terlalu lebar, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F08%2Ftips-untuk-foto-grup%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F08%2Ftips-untuk-foto-grup%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Liburan sebentar lagi, sebagian besar dari kita pasti bersilahturahmi dengan keluarga besar. Mengapa tidak mengabadikan momen ini untuk foto keluarga?</p>
<p>Supaya foto keluarganya keren, ada beberapa tips untuk teknik fotonya</p>
<p><strong>1. Posisi kamera jangan terlalu dekat dengan subjeknya</strong><br />
Karena bila terlalu dekat, maka terpaksa kita akan zoom out atau memakai lensa yang terlalu lebar karena bila terlalu lebar, maka bentuk muka orang yang berada di pinggir akan distorsi / berubah bentuk. Bila tempat memungkinkan, usahakan memakai fokal lensa minimal 30-50mm.</p>
<p><strong>2. Atur orang-orang dalam kelompok supaya berdekatan </strong><br />
Tujuannya supaya komposisinya lebih bagus dan tidak ada celah-celah antar orang. Selain itu juga berguna untuk membantu pemerataan distribusi cahaya bila memakai lampu kilat. Tapi awas bila terlalu dekat, ada potensi ada orang-orang yang tertutup bayangan.</p>
<p><strong>3. Komposisi segitiga</strong><br />
Komposisi foto grup merupakan salah satu faktor penting yang membuat foto terlihat lebih baik. Salah satu komposisi yang saya pikir solid, adalah segitiga. Caranya, kita mengatur orang yang berpostur paling tinggi di tengah kemudian yang paling pendek di bagian pinggir.</p>
<p><strong>4. Menyeimbangkan cahaya lingkungan dengan flash</strong><br />
Bila di dalam ruangan yang agak gelap, dan kita terpaksa mengunakan lampu kilat, jangan lupa untuk menyeimbangkan cahaya flash dengan ruangan. Bila tidak diseimbangkan, latar belakang akan terlalu gelap dan suasananya akan hilang. Caranya tidak susah, yaitu dengan melambatkan shutter speed sehingga cahaya lingkungan bisa terekam. Saat memakai shutter speed yang relatif lambat, jangan lupa memegang kamera dengan steady atau mengunakan penyangga seperti tripod.</p>
<p><strong>5. Pakai teknik pantul</strong><br />
Bila memakai flash eksternal yang bisa diputar kepalanya, kita kemungkinan bisa mengunakan teknik pantul. Bila langit-langit berwarna putih dan tidak terlalu tinggi, kita bisa memantulkan cahaya sehingga cahaya yang jatuh ke subjek foto lembut.</p>
<p><strong>6. Memisahkan flash dengan kamera</strong><br />
Lebih baik lagi bila kita bisa memisahkan flash dengan kamera. Dengan memisahkan flash dengan kamera, kita bisa mengarahkan cahaya sehingga wajah tampak berdimensi. Bila kita merasa cahaya yang jatuh terlalu keras, kita bisa memanfaatkan payung fotografi.</p>
<p><strong>8. Di luar ruangan, cari tempat teduh</strong><br />
Bila kita berada di luar ruangan, jangan lupa mencari tempat yang teduh bagi semua orang sehingga jatuhnya cahaya ke wajah setiap orang sama / tidak belang-belang. Juga pastikan cahaya matahari tidak langsung menyinari wajah karena bisa menyilaukan. Bila cahaya matahari di belakang, seringkali kita perlu bantuan tambahan cahaya dari lampu kilat supaya subjek foto tidak menjadi gelap.</p>
<p><strong>9. Di meja makan atau restoran</strong><br />
Bila kita foto grup di restoran. Hindari mengambil foto dari ujung meja, karena wajah orang yang dekat akan terlihat besar sekali dan yang jauh akan kecil sekali. Bila kita memakai flash, hal ini menjadi lebih bermasalah karena wajah orang yang dekat akan sangat terang dan yang jauh akan gelap. Dalam kasus seperti ini, lebih baik memanfaatkan bagian meja yang panjang sehingga jarak antara kamera dan setiap orang kurang lebih sama.</p>
<div id="attachment_1638" class="wp-caption aligncenter" style="width: 461px">
	<a href="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/08/DSC_0807.JPG"><img class="size-full wp-image-1638  " title="foto kursus fotografi" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/08/DSC_0807.JPG" alt="Angkatan 23 Kursus Basic fotografi: Flash di pisahkan dari kamera dan diletakkan disebelah kiri kamera. Flash didudukan di lighstand yang ditinggikan kurang lebih 1.8m. Saya juga mengunakan payung transparan dan saya arahkan ke ibu yang berjilbab biru." width="461" height="306" /></a>
	<p class="wp-caption-text">Angkatan 23 Kursus Basic fotografi: Flash di pisahkan dari kamera dan diletakkan disebelah kiri kamera. Flash didudukan di lighstand yang ditinggikan kurang lebih 1.8m. Saya juga mengunakan payung transparan dan saya arahkan ke ibu yang berjilbab biru.</p>
</div>
<p>Selamat berliburan!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2011/08/tips-untuk-foto-grup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kapan memakai ISO tinggi?</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2011/08/kapan-memakai-iso-tinggi/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2011/08/kapan-memakai-iso-tinggi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Aug 2011 06:01:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dasar Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[iso]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=1614</guid>
		<description><![CDATA[Bila memungkinkan, kita sebaiknya mengunakan ISO rendah (100 atau 200) karena kualitas foto akan memburuk seiring kita meningkatkan ISO. Di kamera digital SLR keluaran satu dua tahun terakhir, batasan antara foto yang baik dan foto yang buruk (karena banyaknya noise) berkisar antara ISO 800 dan 1600. Banyak keadaan dimana kita mau tak mau mengunakan ISO [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F08%2Fkapan-memakai-iso-tinggi%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F08%2Fkapan-memakai-iso-tinggi%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Bila memungkinkan, kita sebaiknya mengunakan ISO rendah (100 atau 200) karena kualitas foto akan memburuk seiring kita meningkatkan ISO. Di kamera digital SLR keluaran satu dua tahun terakhir, batasan antara foto yang baik dan foto yang buruk (karena banyaknya noise) berkisar antara ISO 800 dan 1600. Banyak keadaan dimana kita mau tak mau mengunakan ISO yang relatif  tinggi karena foto bisa blur atau terlalu gelap.</p>
<p><strong>Ada beberapa skenario dimana ISO tinggi dibutuhkan:</strong></p>
<p>1. Ketika kita berada di lingkungan cahaya yang agak gelap seperti di malam hari atau di dalam ruangan, dan kita tidak mengunakan tripod. Perhatikan shutter speed, bila shutter speed sudah kurang dari sekitar 1/30 atau 1/60 detik (tergantung lensa, makin panjang lensanya, shutter speed yang cepat makin penting), itu tandanya kita perlu menaikkan ISO supaya shutter speed bisa dipercepat.</p>
<p>2. Ketika memakai telefoto yang panjang seperti 200mm, kita butuh shutter speed yang lumayan cepat juga, yaitu sekitar 1/jarak fokal X crop factor sensor kamera. Contoh bila memakai kamera Canon 550D, maka 1/200 X 1.6 =  1/320 bila tidak gambar akan berpotensi kabur. Bila lensa tersebut memiliki teknologi peredam getar (IS/VR/SS/SR) maka shutter speednya tidak butuh 1/320 tapi sekitar 1/80 detik saja sudah cukup. Bila kita tidak mendapatkan shutter speed tersebut, kita perlu menaikkan ISO sampai shutter speed minimal terpenuhi.</p>
<p>3. Mirip seperti no. 1. Ketika kita foto subjek yang bergerak cepat dan cahaya yang ada agak gelap. Dengan menaikkan ISO, kita bisa mendapat shutter speed yang lebih cepat untuk membekukan foto.</p>
<p>4. Ketika mengunakan lampu kilat/flash dan kekuatan flash terlalu lemah untuk menerangi subjek dan latar belakang. Kita bisa menaikkan ISO supaya intensitas cahaya flash dan cahaya lingkungan lebih terekam.</p>
<p>5. Ketika kita mengunakan setting bukaan kecil seperti f/8 atau f/16 dan shutter speed yang digunakan terlalu lambat, maka kita perlu menaikkan ISO supaya kita bisa mempercepat shutter speed supaya foto tidak kabur.</p>
<p>6. Saat kita ingin foto kita memiliki efek artistik dengan adanya noise atau berpasir seperti foto hitam putih jaman dahulu.</p>
<p>Kalau melihat skenario-skenario diatas, maka bisa disimpulkan bahwa ISO sangat berkaitan dengan kondisi cahaya lingkungan dan shutter speed. Peran ISO disini memungkinkan kita memilih shutter speed yang lebih cepat supaya foto kita tidak kabur atau terlalu gelap.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2011/08/kapan-memakai-iso-tinggi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

