<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Info Fotografi &#187; Dasar Fotografi</title>
	<atom:link href="http://www.infofotografi.com/blog/category/dasar-fotografi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.infofotografi.com/blog</link>
	<description>Mengulas segala hal yang berkaitan dengan fotografi digital</description>
	<lastBuildDate>Tue, 27 Jul 2010 05:55:11 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Aspek teknis dalam fotografi</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2010/05/aspek-teknis-dalam-fotografi/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2010/05/aspek-teknis-dalam-fotografi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 10:11:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dasar Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=527</guid>
		<description><![CDATA[Yang sering menjadi kendala utama fotografer pemula adalah kendala teknis. Banyak yang tidak mengetahui dasar dan tidak mengenal kameranya dengan baik. Saya pikir ini penting sekali untuk diatasi sebelum melangkah lebih jauh. Dengan menguasai aspek teknis, kita bisa membuat foto yang kita inginkan.
EXPOSURE / PENCAHAYAAN
Inti fotografi adalah pencahayaan, maka itu sangat penting kita memahami hal ini. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F05%2Faspek-teknis-dalam-fotografi%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F05%2Faspek-teknis-dalam-fotografi%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Yang sering menjadi kendala utama fotografer pemula adalah kendala teknis. Banyak yang tidak mengetahui dasar dan tidak mengenal kameranya dengan baik. Saya pikir ini penting sekali untuk diatasi sebelum melangkah lebih jauh. Dengan menguasai aspek teknis, kita bisa membuat foto yang kita inginkan.</p>
<h3>EXPOSURE / PENCAHAYAAN</h3>
<p>Inti fotografi adalah pencahayaan, maka itu sangat penting kita memahami hal ini. Ada <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/07/segitiga-emas-fotografi/" target="_blank">tiga faktor utama</a> yang menentukan pencahayaan yaitu bukaan (aperture), kecepatan pemantik (shutter speed) dan sensitivitas sensor (ISO).</p>
<div id="attachment_546" class="wp-caption alignleft" style="width: 150px">
	<img class="size-thumbnail wp-image-546" title="scene-modes" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2010/05/scene-modes-150x150.jpg" alt="Jenis mode kamera yang bisa dipilih" width="150" height="150" />
	<p class="wp-caption-text">Jenis mode kamera yang bisa dipilih</p>
</div>
<p>Berkaitan erat dengan pencahayaan, pertanyaan yang sangat sering saya dapatkan adalah <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/07/mode-dalam-kamera-digital-slr/" target="_blank">mode kamera</a> apa yang saya harus pakai. Bagi yang memahami prinsip pencahayaan, tentunya lebih cenderung memakai Manual (M), Aperture Priority (A/Av) atau Shutter Priority (S/Tv).</p>
<p>Lalu bagaimana dengan Auto mode, atau Program (P) mode atau scene modes seperti landscape mode (yang gambarnya seperti gunung) atau portrait mode (yang gambar wajah orang dari samping)? Apakah boleh memakai mode itu? Boleh saja kalau belum memahami pencahayaan, tapi bila telah memahami, otomatis kita tidak butuh lagi mode-mode tersebut.</p>
<p>Saya sendiri menyukai <em>Aperture Priority</em>, karena saya bisa fokus dalam mengendalikan berapa kabur latar belakang foto.</p>
<p class="alert">Mempelajari pencahayaan ibaratnya seperti belajar mobil manual, berenang atau belajar naik sepeda. Pertama-tama rasanya susah sekali, tapi kalau sudah memahami dan disertai praktek yang teratur, segalanya akan menjadi lancar. Setelah memahami hal ini, hasil hasil foto-foto Anda akan lebih konsisten.</p>
<h3>EXPOSURE COMPENSATION / KOMPENSASI</h3>
<div id="attachment_530" class="wp-caption alignright" style="width: 210px">
	<img class="size-medium wp-image-530 " title="pencahayaan-berlebih-histogram" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2010/05/pencahayaan-berlebih-histogram-300x120.jpg" alt="Histogram: Kalau kurva berwarna hitamnya banyak menumpuk di sebelah kanan seperti ilustrasi di atas. Ini menandakan pencahayaannya terlalu berlebihan" width="210" height="84" />
	<p class="wp-caption-text">Histogram: Kalau kurva berwarna hitamnya banyak menumpuk di sebelah kanan seperti ilustrasi di atas. Ini menandakan pencahayaannya terlalu berlebihan</p>
</div>
<p>Masih berkaitan dengan pencahayaan, hal yang perlu diperhatikan terutama fotografi digital adalah menghindari pencahayaan berlebih sehingga foto menjadi terlalu terang karena akan banyak detail yang hilang dan tidak bisa dimunculkan kembali. Untuk mengecek apakah foto kita terlalu terang, kita bisa lihat di layar LCD atau histogram.</p>
<p>Selain itu seringkali bila pemandangan di depan kita lebih banyak warna gelapnya daripada terangnya, kamera sering salah menafsirkan, sehingga foto menjadi lebih terang. Untuk itu, kita bisa mengakalinya dengan mengunakan fungsi <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/11/kompensasi-eksposur/" target="_blank">kompensasi pencahayaan</a>.</p>
<p>Nilai kompensasi tergantung pemandangan, jenis pengukur cahaya /metering yang aktif  dan jenis kamera. Saran saya coba-coba saja sampai menemukan pencahayaan yang optimal.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px">
	<img class=" " src="http://enche.smugmug.com/Student-Events/Commencement-2010/DSC9909/878728640_Bt6fW-M.jpg" alt="Dalam foto ini, kompensasi pencahayaan diperlukan karena sebagian besar area di dalam foto berwarna gelap. Bila tidak, wajah akan terlalu terang dan jubah akan berwarna abu-abu. Data Teknis: Av mode, 200mm, f/4, 1/320 detik, ISO 200, EC -1" width="480" height="319" />
	<p class="wp-caption-text">Dalam foto ini, kompensasi pencahayaan diperlukan karena sebagian besar area di dalam foto berwarna gelap. Bila tidak, wajah akan terlalu terang dan jubah akan berwarna abu-abu. Data Teknis: Av mode, f/4, 1/320 detik, ISO 200, EC -1</p>
</div>
<h3>MENCEGAH FOTO KABUR / GOYANG</h3>
<p>Dua faktor foto kabur atau goyang adalah salah fokus atau shutter speed kurang tinggi. Untuk masalah auto fokus, jangan mengandalkan setting automatic focus, tapi pilihlah titik fokus tertentu. Bila subjek bergerak, maka gunakanlah <em>continuous AF</em> sehingga auto focus bisa mengikuti subjek.</p>
<p>Untuk memastikan fokusnya benar-benar telah terkunci, bisa dari suara &#8220;<em>beep</em>&#8221; atau lihat konfirmasi AF yang biasanya berbentuk bulatan atau kotak hijau di dalam jendela bidik / viewfinder.</p>
<p>Berkenaan dengan masalah shutter speed, untuk foto subjek yang bergerak, butuh shutter speed yang cukup tinggi. Contoh: minimal 1/125 untuk foto orang berjalan. Kalau lebih rendah, foto akan kabur. Di kondisi cahaya yang kurang baik, triknya adalah menaikkan nilai ISO, sehingga shutter speed tinggi bisa dicapai.</p>
<p>Untuk faktor kedua, saya pernah menulis artikel <em>Supaya foto tidak kabur</em> [<a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/08/supaya-foto-tidak-blur/" target="_blank">bagian 1</a> | <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2010/02/supaya-foto-tidak-blur-bagian-ii/" target="_blank">bagian 2</a>].</p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 200px">
	<img src="http://www.enchetjin.com/Dance/Bucknell-Dance-Company-Spring/20090422-DSC4029/528581826_DUmFY-S.jpg" alt="Foto #2" width="200" height="300" />
	<p class="wp-caption-text">Foto #2</p>
</div>
<p class="note">Keterangan Foto #2: Untuk membekukan foto penari, saya mengunakan setting AF-C (Nikon) / Ai Servo (Canon) supaya auto fokusnya tetap terkunci pada penari tersebut meski bergerak dengan cepat. Lalu saya juga mengunakan shutter speed yang cukup tinggi. Saya juga mengunakan kompensasi ekposur untuk mengkompensasikan latar belakang yang hitam pekat. <strong>Data Teknis</strong>: Aperture priority (Av) mode f/4, 1/200 detik, EC -1 1/3, AF-C, ISO 1250, 70mm.</p>
<h3>DEPTH OF FIELD / KEDALAMAN FOKUS</h3>
<p>Kedalaman fokus yang tipis membuat subjek lebih menonjol dan latar belakang menjadi blur sehingga berkesan artistik.</p>
<p>Untuk membuat efek seperti itu, saya pernah menulis artikel <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/10/faktor-yang-menyebabkan-latar-belakang-foto-menjadi-blur-kabur/" target="_blank">faktor-faktor yang menentukan latar belakang menjadi kabur.</a></p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px">
	<img class=" " src="http://enche.smugmug.com/Portraits/Oana-Peterca/Oana-face-modifiedpp/879562912_PYji3-M.jpg" alt="Di foto ini, saya mengunakan bukaan sangat besar, yaitu f/1.4 sehingga depth of field sangat tipis, latar belakang menjadi sangat mulus, bahkan sebagian besar rambut juga udah kabur. Selain itu, lensa yang saya pakai juga cukup tele. Data Teknis: f/1.4,  85mm, 1/1600 detik ISO 200 " width="480" height="319" />
	<p class="wp-caption-text">Di foto ini, saya mengunakan bukaan sangat besar, yaitu f/1.4 sehingga depth of field sangat tipis, latar belakang menjadi sangat mulus, bahkan sebagian besar rambut juga udah kabur. Selain itu, lensa yang saya pakai juga cukup tele. Data Teknis: f/1.4,  85mm, 1/1600 detik ISO 200 </p>
</div>
<h3>WHITE BALANCE</h3>
<div id="attachment_543" class="wp-caption alignleft" style="width: 178px">
	<img class="size-medium wp-image-543" title="wb-white-balance" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2010/05/wb-white-balance-222x300.jpg" alt="wb-white-balance" width="178" height="240" />
	<p class="wp-caption-text">Contoh beberapa preset White Balance</p>
</div>
<p>Tips terakhir untuk artikel ini adalah menentukan setting WB / White balance yang tepat dengan kondisi atau hasil yang ingin dicapai. Memang di setiap kamera biasanya telah ada AWB atau Auto White Balance, tapi sekali lagi, AWB sering kali tidak menerjemahkan kondisi lapangan dengan baik atau tidak memahami keinginan kita.</p>
<p>Misalnya bila kondisi cahaya di lapangan mendung, maka pilihlah WB cloudy (yang bergambar seperti awan). Kalau di bawah bayangan, pilih Shade dan seterusnya. Kalau di dalam ruangan yang lampunya kuning, maka pakailah WB tungsten (yang gambarnya seperti bola lampu).</p>
<p>Bila ingin foto terlihat lebih hangat (kekuningan/jingga), maka set WB ke cloudy atau shade. Bila ingin foto terlihat lebih dingin / kebiruan, maka pilihlah WB tungsten.</p>
<p>Untuk kamera yang canggih, kita bisa mengeset temperatur warna sendiri dalam derajat Kelvin. Makin rendah makin biru, makin tinggi makin kekuningan.</p>
<h3>PENUTUP</h3>
<p>Sebelum mengembangkan fotografi secara artistik, tentunya kita harus menguasai hal-hal teknis terlebih dahulu. Maka itu, kita benar-benar perlu sungguh-sungguh belajar dan berlatih.</p>
<p>Lalu saya perlu tekankan juga bahwa untuk menguasai hal-hal teknis, tidak diperlukan kamera atau lensa yang canggih yang mahal. Asal kameranya punya fungsi Manual dan semi otomatis seperti Aperture priority atau Shutter priority, maka Anda bisa mempraktekkan prinsip-prinsip fotografi diatas.</p>
<p>Banyak juga yang di bahas di artikel ini, semoga bisa dipahami dan selamat berlatih.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2010/05/aspek-teknis-dalam-fotografi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seni di dalam fotojurnalisme</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2010/05/seni-di-dalam-fotojurnalisme/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2010/05/seni-di-dalam-fotojurnalisme/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 05:51:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dasar Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[fotojurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[komposisi]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=518</guid>
		<description><![CDATA[Biasanya fotojurnalisme, atau sering disebut juga foto liputan, reportase, membosankan dan tidak ada seninya. Pendapatan wartawan foto juga termasuk rendah terutama dibandingkan dengan foto komersil atau potret. Dalam dekade terakhir, ada upaya untuk menyegarkan foto liputan, yaitu dengan mengkombinasikan seni ke dalam foto liputan.  Saya sendiri menyambut positif elemen artistik ke dalam fotojurnalisme. Elemen ini membuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F05%2Fseni-di-dalam-fotojurnalisme%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F05%2Fseni-di-dalam-fotojurnalisme%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Biasanya <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/07/fotojurnalism/" target="_blank">fotojurnalisme</a>, atau sering disebut juga foto liputan, reportase, membosankan dan tidak ada seninya. <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2010/01/fotografer-pekerjaan-profesi/" target="_blank">Pendapatan wartawan foto</a> juga termasuk rendah terutama dibandingkan dengan foto komersil atau potret. Dalam dekade terakhir, ada upaya untuk menyegarkan foto liputan, yaitu dengan mengkombinasikan seni ke dalam foto liputan.  Saya sendiri menyambut positif elemen artistik ke dalam fotojurnalisme. Elemen ini membuat foto menjadi lebih menarik untuk dinikmati.</p>
<p>Lalu, bagaimana caranya membuat fotojurnalisme menjadi lebih artistik?</p>
<h3>KOMPOSISI</h3>
<p>Saya pikir komposisi adalah poin yang <strong>sangat penting</strong> untuk membuat foto menjadi lebih artistik, tidak terkecuali dalam foto liputan. Banyak <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/12/komposisi-perspektif/" target="_blank">prinsip komposisi</a> yang ada dan bisa dicoba-coba. Tantangannya adalah jenis komposisi yang mana yang sesuai dengan apa yang ada di depan kita.</p>
<p>Salah satu prinsip dasar yang paling banyak digunakan adalah <em>Rule of Thirds</em>, yaitu menempatkan subjek utama 1/3 dari badan foto, daripada memposisikan subjek di tengah-tengah badan foto.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px">
	<img class=" " title="Komposisi rule of thirds" src="http://enche.smugmug.com/Student-Events/Commencement-2010/DSC9909/878728640_Bt6fW-M.jpg" alt="Dengan menempatkan subjek foto gak sebelah kanan (bukan ditengah), foto terlihat lebih dinamis" width="480" height="319" />
	<p class="wp-caption-text">Dengan menempatkan subjek foto gak sebelah kanan (bukan ditengah), foto terlihat lebih dinamis</p>
</div>
<p>Lalu saya juga suka mencari pola dalam foto, yaitu bentuk yang berulang-ulang seperti kain batik.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px">
	<img class=" " title="Komposisi Pola" src="http://enche.smugmug.com/Student-Events/Commencement-2010/DSC0134/878730815_igCxY-M.jpg" alt="Contoh komposisi pola: Di sini, saya menangkap tiga orang nenek-nenek sedang tersenyum saat mendengarkan ceramah" width="480" height="319" />
	<p class="wp-caption-text">Contoh komposisi pola: Di sini, saya menangkap tiga orang nenek-nenek sedang tersenyum saat mendengarkan ceramah</p>
</div>
<p>Kita juga bisa &#8220;break down&#8221; (membongkar) suatu pemandangan ke elemen-elemen dasar grafis seperti garis, segitiga, persegi panjang, lingkaran dan lain-lain.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px">
	<img class="  " title="Komposisi bentuk segitiga" src="http://enche.smugmug.com/Student-Events/Commencement-2010/DSC0416/878726634_wYYNh-M.jpg" alt="Komposisi dalam foto diatas memiliki bentuk segitiga" width="480" height="319" />
	<p class="wp-caption-text">Komposisi dalam foto diatas memiliki bentuk segitiga. Saya juga menerapkan prinsip rule of thirds</p>
</div>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px">
	<img class=" " title="Komposisi garis dan perspektif" src="http://enche.smugmug.com/Student-Events/Commencement-2010/DSC9965/878730213_Q8t8D-M.jpg" alt="Kombinasi komposisi garis dan perspektif (Saat membuat foto ini, saya jongkok sehingga sudut pandang lebih menarik daripada bila saya berdiri)" width="480" height="319" />
	<p class="wp-caption-text">Kombinasi komposisi garis dan perspektif (Saat membuat foto ini, saya jongkok sehingga sudut pandang lebih menarik daripada bila saya berdiri). Foto juga terlihat lebih tiga dimensi karena saya mengunakan lensa lebar</p>
</div>
<p>Selain itu, kita bisa mengubah perspektif / sudut pandang kita, misalnya naik ke tempat yang lebih tinggi, atau jongkok dan tiarap. <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2010/04/mengapa-saya-menyukai-lensa-lebar/" target="_blank">Mengunakan lensa lebar</a> juga bisa membuat sudut pandang yang lebih menarik.</p>
<h3>MINIMALISTIK</h3>
<p>Untuk membuat foto Anda keliatan lebih nyeni lagi, Anda bisa mencoba <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/10/faktor-yang-menyebabkan-latar-belakang-foto-menjadi-blur-kabur/" target="_blank">membuat latar belakang menjadi kabur</a>. Dengan demikian, subjek Anda akan lebih menonjol dan latar belakang menjadi seperti efek lukisan.</p>
<p>Untuk membuat foto menjadi benar-benar minimalistik, kita harus benar-benar memperhatikan latar belakang, cari latar belakang yang polos dan tidak rumit, sehingga saat di blur dengan setting aperture/bukaan besar, latar belakang benar-benar mulus sehingga tidak mengganggu perhatian pemirsa akan subjek utama.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px">
	<img class=" " title="Minimalistik" src="http://enche.smugmug.com/Student-Events/Commencement-2010/DSC0041-3/878816281_zfkz8-M.jpg" alt="Saya mencoba membuat foto ini seminimal mungkin dengan membuat latar belakang menjadi kabur, sehingga terlihat seperti lukisan dan pemirsa lebih fokus melihat pada subjek utamanya. Selain itu dari komposisi, saya tidak memposisikan subjek di tengah foto" width="480" height="270" />
	<p class="wp-caption-text">Saya mencoba membuat foto ini seminimal mungkin dengan membuat latar belakang menjadi kabur, sehingga terlihat seperti lukisan dan pemirsa lebih fokus melihat pada subjek utamanya. Selain itu dari komposisi, saya tidak memposisikan subjek di tengah foto</p>
</div>
<h3>OLAH FOTO</h3>
<p>Setelah di foto diambil, kita bisa memproses foto kita di Photoshop atau Lightroom. Karena fotojurnalisme, maka saya tidak memanipulasi foto. Yang saya lakukan biasanya adalah melakukan <em>fine tuning</em> warna, eksposur dan kroping. Kadang-kadang saya mengubah foto menjadi hitam putih bila saya merasa fotonya akan lebih enak dilihat.</p>
<p>Memang teknologi piranti lunak sangat hebat sekarang dan mudah sekali dilakukan, tapi yang paling penting tetap adalah saat pengambilan foto, jangan sepelekan itu dan jangan pernah terbersit pemikiran seperti &#8220;Ah nanti aja di betulin atau dipercantik di Photoshop atau piranti lunak pengolah foto lainnya. Juga, saya sarankan jangan terlalu asik mengolah foto (over processing) sehingga inti dari foto tersebut hilang atau berubah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2010/05/seni-di-dalam-fotojurnalisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa saya menyukai lensa lebar</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2010/04/mengapa-saya-menyukai-lensa-lebar/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2010/04/mengapa-saya-menyukai-lensa-lebar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Apr 2010 08:35:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dasar Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[Lensa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=498</guid>
		<description><![CDATA[Sejak beberapa tahun yang lalu, saya telah menggunakan berbagai jenis lensa, dari lensa lebar, normal dan telefoto. Diantara lensa-lensa tersebut yang paling saya sukai adalah lensa lebar. Dalam tulisan ini, saya ingin berbagi mengapa saya menyukai lensa lebar.
Tetapi, pertama-tama, saya pikir lebih baik untuk membatasi definisi lensa lebar. Saya menganggap 24mm ke 35mm (dalam format [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F04%2Fmengapa-saya-menyukai-lensa-lebar%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F04%2Fmengapa-saya-menyukai-lensa-lebar%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Sejak beberapa tahun yang lalu, saya telah menggunakan berbagai jenis lensa, dari lensa lebar, normal dan telefoto. Diantara lensa-lensa tersebut yang paling saya sukai adalah lensa lebar. Dalam tulisan ini, saya ingin berbagi mengapa saya menyukai lensa lebar.</p>
<p>Tetapi, pertama-tama, saya pikir lebih baik untuk membatasi definisi lensa lebar. Saya menganggap 24mm ke 35mm (dalam format full frame atau 35mm adalah rentang lensa lebar). Bila lebih lebar dari itu, akan saya namakan lensa sangat lebar, dan bila lebih sempit dari itu, akan saya namakan lensa telefoto.</p>
<p>Jika Anda memiliki kamera digital SLR, Anda berkesempatan besar untuk memiliki lensa sudut lebar karena dalam setiap pembelian kamera baru biasanya Anda juga mendapatkan lensa 18-55mm (setara dengan 27-88mm dalam kamera full frame). Jadi jika Anda mengambil gambar di rentang 18 sampai 24mm dengan lensa itu, Anda sedang mengambil foto yang dengan sudut lebar.</p>
<p>Berikut adalah beberapa alasan utama mengapa saya suka mengunakan lensa dengan sudut lebar:</p>
<h3>Sudut pandang</h3>
<p>Saya memulai fotografi ketika saya masih kuliah. Saya saat itu berpartisipasi di koran kampus. Waktu itu, saya secara rutin ditugaskan untuk mendokumentasikan acara di sekitar kampus. Karena ruang halaman koran yang terbatas, saya harus mengambil satu atau dua foto yang dapat menceritakan acara tersebut. Oleh karena itu, dengan mengambil gambar sudut lebar saya dapat memasukan banyak informasi dalam satu atau beberapa foto.</p>
<p>Kemudian, saya menemukan bahwa saya bisa memperoleh sudut pandang yang menarik dengan menggunakan lensa sudut lebar. Dengan lensa lebar, saya bisa membuat foto yang menyiratkan ilusi tiga dimensi atau kedalaman, maka itu, pemirsa akan merasa seperti berada atau menyaksikan acara tersebut secara langsung. <span id="more-498"></span></p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px">
	<img class=" " src="http://www.enchetjin.com/Student-Events/New-Student-Orientation-2009/DSC4122/633646138_Wv3pi-M.jpg" alt="Diambil dengan sudut 24mm - Mahasiswa mahasiswi baru di Universitas Bucknell saat orientasi mahasiswa baru" width="480" height="319" />
	<p class="wp-caption-text">Diambil dengan sudut 24mm - Mahasiswa mahasiswi baru di Universitas Bucknell saat orientasi mahasiswa baru</p>
</div>
<h3>Kedalaman lapangan fokus (depth of field)</h3>
<p>Secara teknis, mengambil gambar dengan sudut lebar juga memberikan beberapa manfaat. Pertama, kedalaman lapangan fokus lebih besar daripada jika Anda menembak di sudut normal atau telefoto. Ini sangat membantu ketika Anda mengambil foto kelompok orang dalam situasi cahaya yang redup. Karena dengan bukaan yang lebih besar daripada lensa telefoto, Anda bisa mendapatkan foto yang tajam dari ujung ke ujung.</p>
<p>Karena jarak fokus yang pendek, Anda dapat mengambil foto dalam kecepatan rana lebih lambat dan masih mendapatkan gambar yang tidak blur bila subjek tidak bergerak. Sebagai contoh, ketika Anda mengambil gambar di 28mm, Anda bisa menembak dengan kecepatan 1/30 detik. Dengan teknologi stabilisasi gambar (IS, VR, OS, dll), Anda bahkan dapat mendapatkan dua atau tiga stop lebih lambat! Di sisi lain, jika Anda mengambil gambar dengan lensa telefoto seperti 100mm, Anda membutuhkan setidaknya 1/100 atau 1/160 detik untuk menjaga foto bebas dari blur akibat goyangan kamera.</p>
<h3>Tantangan</h3>
<p>Jika digunakan secara tidak tepat, lensa sudut lebar dapat membuat distorsi yang tidak diinginkan. Wajah bisa lebih lebar dan hidung menjadi lebih besar dari kenyataan. Ketika Anda menembak foto pemandangan, penembakan di sudut lebar rentan terhadap flare dan penyimpangan kromatik.</p>
<p>Tapi mungkin kesalahan yang dibuat pemula adalah memasukkan elemen lebih banyak daripada yang dibutuhkan. Subjek utama yang difoto menjadi terlihat kecil. Tapi ini bisa dihindari dengan mendekati subjek foto.</p>
<p>Tetapi ketika Anda mendekat dengan subjek, sudut pandang Anda akan berubah secara dramatis dan distorsi akan muncul. Jadi, Anda perlu mencari posisi yang tepat untuk meminimalisir efek distorsi atau membuat distorsi bekerja untuk Anda, bukan melawan Anda. Misalnya, Anda dapat menggunakannya untuk mengambil potret wajah anak-anak yang lucu lucu.</p>
<p>Secara pribadi, saya pikir tantangan adalah hal yang baik karena memaksa Anda untuk menjadi seorang fotografer yang lebih baik. Tantangan yang cukup akan membuat Anda termotivasi dan meningkatkan kualitas fotografi Anda. Bila Anda melakukannya dengan benar, niscaya foto Anda akan lebi menonjol daripada hasil fotografer yang lain.</p>
<h3>Serba Guna</h3>
<p>Terakhir, memotret dengan sudut lebar menarik karena sifatnya yang serbaguna, Anda dapat menggunakannya untuk foto pemandangan, fotografi jurnalisme, potret, pernikahan, dan arsitektur. Banyak pilihan lensa sudut lebar yang tersedia di pasar, termasuk lensa kit yang dibundel bersama kamera digital SLR Anda. Jika Anda memiliki lensa tersebut, saya sarankan Anda untuk berlatih untuk mengambil foto dengan lensa lebar. Selamat mencoba!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2010/04/mengapa-saya-menyukai-lensa-lebar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>45</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memanfaatkan diafragma atau ISO?</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2010/03/memanfaatkan-diafragma-atau-iso/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2010/03/memanfaatkan-diafragma-atau-iso/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Mar 2010 05:11:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dasar Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[fokus]]></category>
		<category><![CDATA[iso]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=466</guid>
		<description><![CDATA[Ada pertanyaan bagus dari pembaca Info Fotogafi, Mas Adi Kurniawan. Mas Adi menanyakan apakah lebih baik membuka diafragma lebih besar lebih baik ataupun menaikkan ISO bila memerlukan cahaya tambahan.
Ini dilema yang akan dihadapi oleh semua fotografer di lokasi. Membuka diafragma lebih lebar, memang efektif dalam menggalang cahaya lebih banyak, tapi sayangnya kedalaman fokus (depth of [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F03%2Fmemanfaatkan-diafragma-atau-iso%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F03%2Fmemanfaatkan-diafragma-atau-iso%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Ada pertanyaan bagus dari pembaca Info Fotogafi, Mas Adi Kurniawan. Mas Adi menanyakan apakah lebih baik membuka diafragma lebih besar lebih baik ataupun menaikkan ISO bila memerlukan cahaya tambahan.</p>
<p>Ini dilema yang akan dihadapi oleh semua fotografer di lokasi. Membuka diafragma lebih lebar, memang efektif dalam menggalang cahaya lebih banyak, tapi sayangnya kedalaman fokus (depth of field) menjadi tipis sehingga tidak semua bagian dari foto yang akan fokus. Bila menaikkan ISO, maka yang terjadi adalah penurunan kualitas gambar dari ketajaman maupun detail.</p>
<p>Lalu manakah yang terbaik? Langkah pertama adalah melihat ISO berapa yang dibutuhkan. Dari 100-400, biasanya kualitas foto tidak akan terlalu menurun, jadi kalau memang hanya perlu kenaikan dari 100 ke 200 atau 200 ke 400, saya akan memilih menaikkan ISO.</p>
<p>Tapi kalau 800 ke 1600 atau lebih besar lagi, maka saya akan mempertimbangkan untuk membuka diafragma lebih besar. Membuka diafragma menjadi besar, tidak masalah kalau foto kita foto close-up, tapi sangat berpengaruh bila kita foto keluarga atau banyak orang. Bisa jadi sebagian orang fokus, sebagian lain yang berada di pinggir tidak fokus.</p>
<p>Bila ketajaman dari ujung ke ujung foto yang saya cari, maka saya akan menaikkan ISO. Atau kalau memang terpaksa, saya akan atur formasi sedemikian rupa sehingga semuanya tetap dalam fokus.</p>
<p>Baca lebih lanjut tentang <a href="http://www.cambridgeincolour.com/tutorials/depth-of-field.htm" target="_blank">bidang fokus</a> (Bahasa Inggris)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2010/03/memanfaatkan-diafragma-atau-iso/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Supaya foto tidak blur bagian II</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2010/02/supaya-foto-tidak-blur-bagian-ii/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2010/02/supaya-foto-tidak-blur-bagian-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 02:15:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dasar Fotografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=447</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa bulan yang lalu, saya menulis tentang bagaimana mencegah blur pada foto. Di artikel tersebut, saya menjelaskan tentang beberapa faktor penting seperti setting shutter speed dan kaitannya dengan rentang fokal lensa, kecepatan gerak subjek, dan besarnya megapixel.
Selain yang disebut diatas, masih ada lagi faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi, antara lain:
Bila semua setting kamera sama, maka faktor [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F02%2Fsupaya-foto-tidak-blur-bagian-ii%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F02%2Fsupaya-foto-tidak-blur-bagian-ii%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Beberapa bulan yang lalu, saya menulis tentang <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/08/supaya-foto-tidak-blur/" target="_blank">bagaimana mencegah blur pada foto</a>. Di artikel tersebut, saya menjelaskan tentang beberapa faktor penting seperti setting shutter speed dan kaitannya dengan rentang fokal lensa, kecepatan gerak subjek, dan besarnya megapixel.</p>
<p>Selain yang disebut diatas, masih ada lagi faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi, antara lain:</p>
<p>Bila semua setting kamera sama, maka faktor lain yang mempengaruhi adalah:</p>
<p><strong>1. Arah gerak subjek yang bergerak</strong> : Subjek yang bergerak mendekati dan menjauhi kamera akan lebih mudah dibekukan daripada subjek yang bergerak dari kiri ke kanan atau sebaliknya.</p>
<p><strong>2. Jarak antara kamera dengan subjek yang bergerak :</strong> Semakin jauh jaraknya, semakin mudah membekukan subjek tersebut daripada subjek yang dekat.</p>
<div id="attachment_448" class="wp-caption alignright" style="width: 225px">
	<img class="size-medium wp-image-448" title="tips-foto-kabur" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2010/02/tips-foto-kabur-225x300.jpg" alt="Taxi yang di depan terlihat lebih kabur daripada taxi yang dibelakang. Hal ini disebabkan karena jarak antara Taxi terdepan ke kamera lebih dekat." width="225" height="300" />
	<p class="wp-caption-text">Taxi yang di depan terlihat lebih kabur daripada taxi yang dibelakang. Hal ini disebabkan karena jarak antara Taxi terdepan ke kamera lebih dekat.</p>
</div>
<p>Dalam praktek di lapangan, seringkali kita tidak dapat mengunakan shutter speed tinggi untuk membekukan subjek foto terutama karena  kondisi lapangan yang gelap. Maka dari itu, dengan mengunakan prinsip-prinsip diatas untuk keuntungan kita.</p>
<p>Apabila kita memotret orang atau benda yang mendekati kita dari depan, maka kita dapat mengunakan shutter speed sedikit lebih pelan, demikian juga memotret subjek yang jauh dari kita. Tetapi hati-hati kalau subjek foto dekat dengan kita ataupun gerakannya dari kiri ke kanan/kanan ke kiri kamera, kita perlu menaikkan kecepatan rana/shutter speed bila ingin membekukan subjek tersebut.</p>
<p>Semoga cukup jelas dan membantu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2010/02/supaya-foto-tidak-blur-bagian-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Komposisi : Perspektif</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2009/12/komposisi-perspektif/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2009/12/komposisi-perspektif/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 07:17:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dasar Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[komposisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=339</guid>
		<description><![CDATA[Seringkali saat kita foto, kita terpaku pada posisi kita dan hanya mengunakan lensa zoom untuk mengkomposisikan foto. Kalau kita ingin foto kita terlihat lebih menarik, kita perlu lebih giat mencari posisi / sudut pandang yang lebih menarik. Contoh:

Foto diatas diambil dengan posisi berdiri dan saya mengunakan zoom untuk komposisi. Bandingkan dengan foto dibawah:

Untuk mengambil foto [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2009%2F12%2Fkomposisi-perspektif%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2009%2F12%2Fkomposisi-perspektif%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Seringkali saat kita foto, kita terpaku pada posisi kita dan hanya mengunakan lensa zoom untuk mengkomposisikan foto. Kalau kita ingin foto kita terlihat lebih menarik, kita perlu lebih giat mencari posisi / sudut pandang yang lebih menarik. Contoh:</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://www.enchetjin.com/Philadelphia/Street-Architecture/DSC7168/751327039_Qw4XJ-M.jpg" alt="" width="486" height="365" /></p>
<p>Foto diatas diambil dengan posisi berdiri dan saya mengunakan zoom untuk komposisi. Bandingkan dengan foto dibawah:</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://www.enchetjin.com/Philadelphia/Street-Architecture/DSC7171/751327070_WN9tG-M.jpg" alt="" width="450" height="450" /><br />
Untuk mengambil foto diatas saya bergerak lebih dekat ke patung, masih mengunakan lensa zoom tapi saya zoom out ke yang paling lebar, dan kemudian jongkok sedikit. Hasilnya adalah foto yang lebih menarik dan memberikan kesan kebesaran Rocky, petinju fiksi dari film Rocky yang dibintangi Sylvester Stalone.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2009/12/komposisi-perspektif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memahami Aperture / Bukaan</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2009/12/memahami-aperture-bukaan/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2009/12/memahami-aperture-bukaan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Dec 2009 06:46:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dasar Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[bukaan]]></category>
		<category><![CDATA[Lensa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=296</guid>
		<description><![CDATA[Memahami bukaan lensa sangat penting bagi pelajar fotografi karena bukaan menentukan dua hal penting. Dan sebenarnya tidak sukar memahami bukaan. Tulisan ini adalah penjelasan yang lebih mendalam dari tulisan Segitiga Emas Fotografi.

1. Bukaan menentukan banyaknya cahaya yang masuk
Semakin besar bukaan, semakin besar cahaya yang masuk.
2. Bukaan menentukan kedalaman fokus
Semakin besar bukaan, kedalaman fokus menjadi tipis, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2009%2F12%2Fmemahami-aperture-bukaan%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2009%2F12%2Fmemahami-aperture-bukaan%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Memahami bukaan lensa sangat penting bagi pelajar fotografi karena bukaan menentukan dua hal penting. Dan sebenarnya tidak sukar memahami bukaan. Tulisan ini adalah penjelasan yang lebih mendalam dari tulisan <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/07/segitiga-emas-fotografi/" target="_blank">Segitiga Emas Fotografi</a>.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-302" title="aperture-bukaan-lensa" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2009/12/aperture-bukaan-lensa.gif" alt="aperture-bukaan-lensa" width="446" height="231" /></p>
<h3><strong>1. Bukaan menentukan banyaknya cahaya yang masuk</strong></h3>
<p>Semakin besar bukaan, semakin besar cahaya yang masuk.</p>
<h3><strong>2. Bukaan menentukan kedalaman fokus</strong></h3>
<p>Semakin besar bukaan, kedalaman fokus menjadi tipis, sehingga latar belakang lebih kabur / blur daripada bukaan yang kecil.</p>
<p>Itu saja, sederhana bukan? Memang sederhana kok hehe..</p>
<div id="attachment_297" class="wp-caption alignright" style="width: 229px">
	<img class="size-medium wp-image-297 " title="bukaan-aperture" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2009/12/bukaan-aperture-229x300.jpg" alt="bukaan-aperture" width="229" height="300" />
	<p class="wp-caption-text">Contoh berbagai ukuran bukaan di lensa. Kamera digital SLR sekarang telah mengunakan kamera untuk mengganti besarnya bukaan</p>
</div>
<h3>Ukuran Bukaan</h3>
<p>Ukuran bukaan agak unik karena <strong>semakin kecil angkanya, semakin besar bukaannya. </strong></p>
<p>Contoh: f/1.4, f/2, f/4. f/5.6, f/8, f/16, dst.</p>
<p>Dari f/1.4 ke f/2 itu besarnya cahaya yang masuk berkurang dua kali lipat.</p>
<p>Kisaran bukaan tergantung lensa yang dipakai, ada lensa yang punya bukaan  f/1.4, ada juga yang f/3.5 atau f/4.</p>
<p>Mengenai bukaan dan jenis-jenis lensa, saya sarankan untuk membaca tulisan [ <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/07/menerjemahkan-kode-lensa-digital-slr/" target="_blank">Menerjemahkan kode kode lensa</a> ]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2009/12/memahami-aperture-bukaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal ISO / ASA lebih jauh</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2009/12/mengenal-iso-asa-lebih-jauh/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2009/12/mengenal-iso-asa-lebih-jauh/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 20:41:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dasar Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[iso]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=290</guid>
		<description><![CDATA[Sebelumnya saya telah membahas secara singkat tentang apa itu ISO / ASA di Segitiga Emas fotografi, tapi karena ada beberapa pembaca yang ingin tahu lebih dalam, maka saya bahas kembali disini.
Secara ringkas, ISO (di kamera digital) dan ASA (di kamera film), adalah ukuran sensitivitas sensor. Semakin tinggi angka ISO, semakin sensitif sensor tersebut, sehingga bila [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2009%2F12%2Fmengenal-iso-asa-lebih-jauh%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2009%2F12%2Fmengenal-iso-asa-lebih-jauh%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Sebelumnya saya telah membahas secara singkat tentang apa itu ISO / ASA di <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/07/segitiga-emas-fotografi/" target="_blank">Segitiga Emas fotografi</a>, tapi karena ada beberapa pembaca yang ingin tahu lebih dalam, maka saya bahas kembali disini.</p>
<p>Secara ringkas, ISO (di kamera digital) dan ASA (di kamera film), adalah <strong>ukuran sensitivitas sensor</strong>. Semakin tinggi angka ISO, semakin sensitif sensor tersebut, sehingga bila Anda memotret dengan setting ISO tinggi, foto di tempat gelap pun terlihat terang.</p>
<p>ISO ini kurang lebih seperti kepekaan mata manusia. Bila kita dari ruangan terang dan kemudian masuk ke ruangan yang gelap, mata kita menyesuaikan kepekaannya terhadap ruangan tersebut. Demikian juga AUTO ISO pada kamera digital kita, kamera akan berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi cahaya yang ada.</p>
<p>Tapi sayangnya, karena keterbatasan teknologi, kamera digital di pasaran belum sepeka mata manusia. Alhasil banyak foto di tempat gelap berkualitas buruk.</p>
<p>Semakin tinggi ISO, semakin besar efek samping yang ditimbulkan yaitu hilangnya detail foto dan munculnya bintik2 (disebut juga dengan noise), selain itu gambar menjadi kurang kontras. Kadang kala, ada juga fotografer yang dengan sengaja mengeset ISO tinggi dengan tujuan menghasilkan karya yang artistik menyerupai efek film.</p>
<p>Jadi bila ingin foto Anda bersih dari noise, maka <strong>gunakanlah ISO serendah</strong> mungkin, misalnya ISO 100 atau 200.</p>
<p>Tapi kadangkala kita terpaksa mengunakan ISO tinggi di ruangan gelap, kalau tidak foto Anda bisa jadi kabur.</p>
<h3>Ukuran ISO</h3>
<p>Ukuran ISO biasanya dimulai dari angka 100, kadang ada kamera yang mulai dari ISO 64 dan ISO 80, ada juga dari 200. Artinya seperti berikut. ISO 200 memiliki kepekaan dua kali lebih besar daripada ISO 100, dan ISO 400 memiliki kepekaan dua kali lebih besar daripada ISO 200.</p>
<p>Deret angka ISO antara lain: 100, 200, 400, 800, 1600, 3200, 6400, dan seterusnya.</p>
<p>Kamera digital canggih saat ini memiliki pilihan kepekaan sampai dengan ISO 102400.</p>
<p>Toleransi ISO ini sangat tergantung pada ukuran sensor dan megapixel. Untuk kebanyakan kamera saku, ISO 100-200 merupakan setting yang ideal. Tapi ISO 400 keatas kualitas foto sudah memburuk karena noise, sedangkan untuk kamera DSLR, biasanya ISO 1600 adalah perbatasan antara foto yang layak atau tidak.</p>
<p>Karena ISO 1600 berarti 4x lebih peka daripada 400, maka kamera DSLR lebih diuntungkan saat digunakan disituasi yang gelap.</p>
<p>Perlu diketahui juga semakin tinggi megapixel dalam ukuran sensor yang sama, semakin banyak kemunculan noise. Oleh sebab itu megapixel yang besar tapi ukuran sensor kecil (seperti kamera saku) malah kurang efektif.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2009/12/mengenal-iso-asa-lebih-jauh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Timing adalah segalanya</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2009/12/timing-adalah-segalanya/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2009/12/timing-adalah-segalanya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 10:30:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dasar Fotografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=286</guid>
		<description><![CDATA[Timing, atau saat mengambil foto adalah segalanya. Timing yang bagus membuat foto objek yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa, di lain pihak timing yang buruk membuat foto objek yang luar biasa menjadi biasa-biasa saja.
Timing menjadi sangat penting saat mengambil foto aksi, seperti olahraga, satwa liar atau  fotografi jalanan. Timing juga berlaku untuk fotografer pemandangan. Konon [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2009%2F12%2Ftiming-adalah-segalanya%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2009%2F12%2Ftiming-adalah-segalanya%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Timing, atau saat mengambil foto adalah segalanya. Timing yang bagus membuat foto objek yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa, di lain pihak timing yang buruk membuat foto objek yang luar biasa menjadi biasa-biasa saja.</p>
<p>Timing menjadi sangat penting saat mengambil foto aksi, seperti olahraga, satwa liar atau  fotografi jalanan. Timing juga berlaku untuk fotografer pemandangan. Konon saat terbaik untuk mengambil foto pemandangan adalah 30 menit sebelum dan sesudah matahari terbit dan terbenam.</p>
<p>Lalu bagaimana mendapatkan timing yang pas? Banyak orang yang mengira bahwa berada di waktu dan tempat karena keberuntungan semata. Tapi sebenarnya, untuk mendapatkan timing yang baik bisa diantisipasi. Antara lain dengan cara:</p>
<h3>Antisipasi</h3>
<p>Antisipasi berarti kondisi kita selalu siap dalam memperhatikan situasi disekitar kita. Antisipasi juga berarti kita bisa memprediksi atau setidaknya mencoba memprediksi apa yang terjadi setelahnya. Di dalam fotografi olahraga, kita bisa belajar mengamati karakter atlit yang berlomba. Misalnya seorang atlit sepakbola selalu merayakan gol di sudut kanan lapangan, maka bila kita mau mengambil foto tersebut, seyogyanya kita siap berada di posisi tersebut.</p>
<p>Demikian juga dalam foto satwa liar di dalam safari. Kita harus mengenal karakter hewan-hewan tersebut sehingga tau timing atau moment yang pas untuk mengambil gambar. Misalnya ada hewan yang hanya keluar pada malam hari.</p>
<p style="text-align: center;">
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 432px">
	<img class=" " src="http://www.enchetjin.com/Student-Events/International-Student/0068/531852615_kFUv8-M.jpg" alt="Foto ini hasil dari antisipasi dan kesabaran saya dalam menunggu momen yang tepat." width="432" height="288" />
	<p class="wp-caption-text">Ketika musik mulai dimainkan dan mahasiswa/i mulai bangkit dari tempat duduknya, saya yakin akan terjadi sesuatu yang menarik. Berdiri dipojok sambil mengantisipasi pergerakan mereka, saya berhaisl merekam gerakan menarik dari  ketiga mahasiswa/i ini</p>
</div>
<h3>Kesabaran</h3>
<p>Setelah berlatih mengantisipasi pergerakan objek foto, seringkali kita harus bersabar. Kadang, kita perlu menunggu cukup lama untuk mendapatkan momen yang baik. Dalam foto olahraga misalnya, kita merasa sudah di tempat yang benar, tinggal menunggu momennya, dan bila kita tidak sabar dan konsentrasi, kesempatan emas akan terlewatkan.</p>
<p>Dalam foto satwa liar, kesabaran merupakan sifat yang terpenting yang dimiliki, menunggu satwa keluar dari kandang kadang memakan waktu seharian.</p>
<h3>Menguasai alat yang dipakai</h3>
<p>Terakhir, untuk dapat mengambil foto di saat yang tepat, menguasai alat fotografi yang dipakai sangat penting. Dan memiliki kamera yang memiliki respon yang cepat juga sangat membantu. Menguasai alat bukan hanya mengetahui cara mengoperasikannya, tapi juga melatih diri sehingga kita terbiasa dengan kamera tersebut.</p>
<p>Seseorang fotografer biasanya memerlukan waktu cukup lama untuk benar-benar menguasai kontrol kamera yang dimiliki, oleh sebab itu tidak dianjurkan untuk mengganti-ganti kamera dengan waktu singkat karena  Anda akan memerlukan waktu untuk beradaptasi kembali.</p>
<p style="text-align: center;">
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 432px">
	<img class=" " src="http://www.enchetjin.com/Sports/Men-Soccer/soccer13/528915443_PayBN-M.jpg" alt="Reaksi atlit setelah mencetak gol kadang hanya berlangsung satu atau dua detik sebelum di kepung oleh teman-teman mereka." width="432" height="288" />
	<p class="wp-caption-text">Reaksi atlit setelah mencetak gol kadang hanya berlangsung satu atau dua detik sebelum di kepung oleh teman-teman mereka.</p>
</div>
<p>Semoga sukses!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2009/12/timing-adalah-segalanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Langkah langkah Belajar fotografi dari nol</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2009/12/langkah-langkah-belajar-fotografi-dari-nol/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2009/12/langkah-langkah-belajar-fotografi-dari-nol/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Dec 2009 10:34:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dasar Fotografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=278</guid>
		<description><![CDATA[Belajar digital fotografi adalah sesuatu yang kompleks. Maka dari itu banyak orang mungkin kebingungan bagaimana cara belajarnya.. harus memulai darimana? nah post ini berupaya untuk memberikan langkah-langkah praktis dalam belajar fotografi.
Pertama-tama kita memerlukan kamera. Berdasarkan ukuran sensor, kamera terbagi dua, kamera saku dan kamera DSLR. Lalu apa bedanya kamera saku dan kamera DSLR? Saya cuma [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2009%2F12%2Flangkah-langkah-belajar-fotografi-dari-nol%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2009%2F12%2Flangkah-langkah-belajar-fotografi-dari-nol%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Belajar digital fotografi adalah sesuatu yang kompleks. Maka dari itu banyak orang mungkin kebingungan bagaimana cara belajarnya.. harus memulai darimana? nah post ini berupaya untuk memberikan langkah-langkah praktis dalam belajar fotografi.</p>
<p><strong>Pertama-tama</strong> kita memerlukan kamera. Berdasarkan ukuran sensor, kamera terbagi dua, kamera saku dan kamera DSLR. Lalu apa <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/07/kamera-digital-kompak-atau-kamera-digital-slr/" target="_blank">bedanya kamera saku dan kamera DSLR</a>? Saya cuma mampu membeli kamera saku, apakah saya tidak bisa belajar fotografi dengan kamera saku? Jangan takut, meski murah, kamera saku memiliki <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/11/kamera-saku-siapa-takut/" target="_blank">kelebihan</a> tersendiri dan jangan jadikan halangan untuk belajar fotografi.</p>
<p><strong>Kedua</strong> kita perlu belajar tentang eksposur cahaya. Inti dari fotografi adalah eksposur, atau total cahaya yang masuk ke dalam sensor peka cahaya. Karena cahaya tersebutlah, foto itu terbentuk. Peran kita sebagai fotografer adalah mengendalikan jumlah cahaya yang masuk dengan mengubah besarnya bukaan lensa, kecepatan rana dan ISO. Tiga elemen ini saya sebut sebagai <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/07/segitiga-emas-fotografi/" target="_blank">segitiga emas fotografi</a>.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, kita tentu harus mempelajari kamera kita, terutama <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/07/mode-dalam-kamera-digital-slr/" target="_blank">mode-modenya</a>, <a href="http://kamera-gue.web.id/2009/06/29/tips-memilih-mode-metering-yang-tepat/" target="_blank">pengukuran cahaya (metering)</a> dan <a href="http://kamera-gue.web.id/2009/09/25/sepuluh-hal-yang-perlu-anda-ketahui-seputar-auto-fokus/" target="_blank">auto fokus</a>.</p>
<p><strong>Keempat</strong>, kita perlu tahu apa itu kedalaman fokus (depth of field) dan apa<a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/10/faktor-yang-menyebabkan-latar-belakang-foto-menjadi-blur-kabur/" target="_blank"> faktor-faktornya</a>.</p>
<p><strong>Kelima</strong>, kita harus tau bagaimana mengambil gambar yang tajam dan <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/08/supaya-foto-tidak-blur/" target="_blank">tidak kabur</a>.</p>
<p><strong>Keenam</strong>, kita harus mempelajari komposisi foto yang baik dan menarik.</p>
<p><strong>Ketujuh</strong>, kita harus mempelajari <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/10/belajar-fotografi-melihat-cahaya/" target="_blank">karakter cahaya</a> terutama arah dan intensitas cahaya.</p>
<p><strong>Kedelapan</strong>, kita harus belajar antisipasi dan mengambil foto pada waktu yang tepat.</p>
<p><strong>Kesembilan</strong>, kita harus belajar bercerita lewat foto, entah dengan satu foto atau satu seri foto.</p>
<p><strong>Kesepuluh</strong>, kita harus belajar mengolah foto dengan efek digital. Olah foto di era digital mudah dipelajari dan membuka bab baru dalam fotografi digital.</p>
<p>Demikian kira-kira runtutan belajar fotografi untuk pemula. Seperti yang Anda lihat, masih banyak tulisan yang saya bisa bahas dari tiap langkah tersebut. Fotografi merupakan ilmu yang berkembang begitu pesat dan tidak ada habisnya, namun bila menemui kesulitan, harap jangan menyerah dan pelajari dan terus praktekkan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2009/12/langkah-langkah-belajar-fotografi-dari-nol/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
