<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Info Fotografi &#187; Filosofi</title>
	<atom:link href="http://www.infofotografi.com/blog/category/filosofi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.infofotografi.com/blog</link>
	<description>Mengulas segala hal yang berkaitan dengan fotografi digital</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 11:33:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Percaya akan foto sendiri</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2012/01/percaya-akan-foto-sendiri/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2012/01/percaya-akan-foto-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2012 11:58:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=2235</guid>
		<description><![CDATA[Tujuan fotografi kita salah satunya adalah untuk berbagi kepada orang lain. Perkembangan media sosial seperti facebook, google+, flickr, dll membuat acara sharing ini menjadi mudah.
Meskipun demikian, banyak fotografer masih mengurungkan niatnya untuk berbagi karena kurang percaya dengan kualitas foto sendiri. Media sosial membuat fotografer berpikir berulang-ulang dan takut apakah fotonya akan diterima dengan baik oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2012%2F01%2Fpercaya-akan-foto-sendiri%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2012%2F01%2Fpercaya-akan-foto-sendiri%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Tujuan fotografi kita salah satunya adalah untuk berbagi kepada orang lain. Perkembangan media sosial seperti facebook, google+, flickr, dll membuat acara sharing ini menjadi mudah.</p>
<p>Meskipun demikian, banyak fotografer masih mengurungkan niatnya untuk berbagi karena kurang percaya dengan kualitas foto sendiri. Media sosial membuat fotografer berpikir berulang-ulang dan takut apakah fotonya akan diterima dengan baik oleh teman-temannya dan masyarakat luas. Karena takut respon negatif, atau kurang direspon, maka fotografer tersebut menjadi ragu untuk menampilkan foto apa adanya.</p>
<p>Untuk mengkompensasikan kekurang-percayaan atas fotonya sendiri, banyak orang yang mengunakan editing yang hasilnya seringkali membuat lebih buruk dan tidak jujur. Sebenarnya, foto yang di edit secara berlebihan membuat masyarakat yang melihat foto tersebut malah ikut tidak mempercayai  foto tersebut.</p>
<p>Contohnya adalah teknik pengeditan seperti HDR, instagram (aplikasi Iphone), filter / action photoshop dan sebagainya. Dengan pengeditan ini, fotografer merasa lebih nyaman dengan hasil fotonya. Tapi dengan pengeditan berlebihan dan &#8220;hantam kromo&#8221; semacam ini, maka foto yang tadinya bagus, jujur dan jelas menjadi kabur tertutup dengan tirai &#8220;make-up&#8221; editan.</p>
<p>Contoh lain, di foto iklan dan foto di majalah-majalah. Banyak yang telah mengalami pengeditan sehingga tidak alami lagi. Misalnya selebriti yang kulitnya sangat mulus dan pinggangnya sangat ramping. Dengan banyaknya foto yang diedit secara berlebihan, masyarakat menjadi tidak percaya lagi dengan fotografi. Akhirnya terbentuk lingkaran ketidakpercayaan yang tidak berakhir.</p>
<div id="attachment_2236" class="wp-caption aligncenter" style="width: 439px">
	<img class="size-full wp-image-2236 " title="photoshop-selebriti" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2012/01/photoshop-selebriti.jpg" alt="Pinggang, lengan dan paha semuanya di-photoshop menjadi ramping" width="439" height="295" />
	<p class="wp-caption-text">Pinggang, lengan dan paha semuanya di-photoshop menjadi ramping</p>
</div>
<p>Selain itu, fotografer yang kurang pede juga biasanya memberikan deskripsi yang terlalu berlebihan di judul atau keterangan di fotonya. Padahal foto yang bagus akan bercerita dengan sendirinya dan tidak membutuhkan terlalu banyak keterangan.</p>
<p>Ada dua jenis fotografer yang bermasalah berkaitan dengan kepercayaan:</p>
<ul>
<li>Fotografernya percaya dengan hasil karyanya, tapi teknik fotonya memang belum bagus saat pemotretan.</li>
<li>Fotonya sudah bagus, cuma yang moto senantiasa kurang pede dengan hasilnya.</li>
</ul>
<p>Solusi untuk yg fotografer pertama relatif mudah, belajar dan foto lagi teknik yang lebih baik. Dengan rajin belajar foto dan latihan melihat, maka tidak terasa kualitas foto kita akan meningkat.</p>
<p>Kualitas foto kita meningkat karena kita sudah menguasai teknik-teknik foto, semakin mengenal peralatan kita (kamera, lensa, flash, dll) sehingga semakin mudah mengekspresikan maksud  kita. Secara otomatis masyarakat yang melihat foto tersebut akan dapat memahami apa yang ingin kita sampaikan.</p>
<p>Untuk yang kedua, menumbuhkan kepercayaan diri dari dalam diri sendiri seringkali malah lebih sulit. Solusinya adalah mencari mentor yang bisa membimbing dan mengarahkan ke arah yang positif. Dengan menguasai ilmu fotografi dan seni, maka seseorang akan menjadi lebih pede dengan hasil karyanya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2012/01/percaya-akan-foto-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suka yang simple atau complex?</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2012/01/suka-yang-simple-atau-complex/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2012/01/suka-yang-simple-atau-complex/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 06:05:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Kamera]]></category>
		<category><![CDATA[Lain lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=2205</guid>
		<description><![CDATA[Desain kamera saat ini bermacam-macam, ada yang simple dan ada yang complex. Yang desainnya simple punya kelebihan yaitu tidak rumit, ideal buat yang ingin membuat foto tanpa memikirkan ganti-ganti setting.
Sedangkan yang desainnya rumit biasanya banyak tombol-tombol, knop, tuas. Keberadaan tombol-tombol tersebut supaya mudah dan cepat untuk ganti setting. Biasanya fotografer yang berpengalaman suka desain seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2012%2F01%2Fsuka-yang-simple-atau-complex%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2012%2F01%2Fsuka-yang-simple-atau-complex%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Desain kamera saat ini bermacam-macam, ada yang simple dan ada yang complex. Yang desainnya simple punya kelebihan yaitu tidak rumit, ideal buat yang ingin membuat foto tanpa memikirkan ganti-ganti setting.</p>
<div id="attachment_2206" class="wp-caption aligncenter" style="width: 300px">
	<img class="size-medium wp-image-2206" title="sony-nexc3-back" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2012/01/sony-nexc3-back-300x163.jpg" alt="Sony NEX C3 - desain simple, kualitas setara dengan kamera DSLR tingkat menengah" width="300" height="163" />
	<p class="wp-caption-text">Sony NEX C3 - desain simple, kualitas setara dengan kamera DSLR tingkat menengah</p>
</div>
<p>Sedangkan yang desainnya rumit biasanya banyak tombol-tombol, knop, tuas. Keberadaan tombol-tombol tersebut supaya mudah dan cepat untuk ganti setting. Biasanya fotografer yang berpengalaman suka desain seperti ini.</p>
<div id="attachment_2207" class="wp-caption aligncenter" style="width: 300px">
	<img class="size-full wp-image-2207" title="Nikon-D4-Back" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2012/01/Nikon-D4-Back.jpg" alt="Nikon D4, kamera canggih penuh tombol" width="300" height="300" />
	<p class="wp-caption-text">Nikon D4, kamera canggih penuh tombol</p>
</div>
<p>Nah, kalian sendiri suka desain yang seperti apa?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2012/01/suka-yang-simple-atau-complex/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prinsip Face-ism Ratio (Rasio wajah)</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2011/12/prinsip-face-ism-ratio-rasio-wajah/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2011/12/prinsip-face-ism-ratio-rasio-wajah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 15:14:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Potret]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=2107</guid>
		<description><![CDATA[Face-ism ratio adalah perbedaan rasio wajah dan badan dalam suatu foto. Prinsip ini mengatakan rasio ini akan mempengaruhi bagaimana orang-orang menanggapi suatu foto.
Di dalam foto yang menonjolkan wajah, yaitu kepala dan bahu, semakin orang-orang memperhatikan kepribadian seperti kepintaran, sifat seseorang. Sedangkan di dalam foto satu badan atau 3/4 badan, maka orang-orang akan lebih memperhatikan kualitas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F12%2Fprinsip-face-ism-ratio-rasio-wajah%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F12%2Fprinsip-face-ism-ratio-rasio-wajah%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Face-ism ratio adalah perbedaan rasio wajah dan badan dalam suatu foto. Prinsip ini mengatakan rasio ini akan mempengaruhi bagaimana orang-orang menanggapi suatu foto.</p>
<p>Di dalam foto yang menonjolkan wajah, yaitu kepala dan bahu, semakin orang-orang memperhatikan kepribadian seperti kepintaran, sifat seseorang. Sedangkan di dalam foto satu badan atau 3/4 badan, maka orang-orang akan lebih memperhatikan kualitas fisik dan sensualitas daripada kepribadian.</p>
<p>Di prakteknya, kita bisa mengunakan prinsip ini untuk membuat foto yang sesuai dengan yang kita/klien inginkan. Jika klien ingin menonjolkan kepribadiannya, kita bisa membuat foto yang rasio wajahnya relatif tinggi, sedangkan jika kualitas fisik yang ingin ditampilkan, maka kita membuat foto 3/4 atau satu badan penuh.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-2113" title="Natalie-Portman-wajah" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/12/Natalie-Portman-wajah.jpg" alt="Natalie-Portman-wajah" width="300" height="225" /></p>
<p>Contoh foto headshot diatas membuat orang-orang terfokus pada kepribadian model</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-2114" title="natalie-portman-badan" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/12/natalie-portman-badan.jpg" alt="natalie-portman-badan" width="300" height="383" /></p>
<p>Sedangkan jika foto satu badan membuat orang-orang lebih memperhatikan kualitas fisik model daripada kepribadiannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2011/12/prinsip-face-ism-ratio-rasio-wajah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Foto termahal di dunia</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2011/12/foto-termahal-di-dunia/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2011/12/foto-termahal-di-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Dec 2011 15:46:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Lain lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=2068</guid>
		<description><![CDATA[Bukan berita yang baru sekali, tapi cukup menarik untuk di posting. Foto berjudul Rhine II (nama sungai di Jerman) karya fotografer asal Jerman Andreas Gursky merupakan foto termahal di dunia setelah laku dijual dengan 4.3 juta USD (38 miliar Rupiah).
Foto yang &#8220;terlihat&#8221; sederhana ini mengundang kontroversi, apakah memang patut berharga 4.3 juta USD? Bagaimana menurut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F12%2Ffoto-termahal-di-dunia%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F12%2Ffoto-termahal-di-dunia%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Bukan berita yang baru sekali, tapi cukup menarik untuk di posting. Foto berjudul Rhine II (nama sungai di Jerman) karya fotografer asal Jerman Andreas Gursky merupakan foto termahal di dunia setelah laku dijual dengan 4.3 juta USD (38 miliar Rupiah).</p>
<p>Foto yang &#8220;terlihat&#8221; sederhana ini mengundang kontroversi, apakah memang patut berharga 4.3 juta USD? Bagaimana menurut kalian? Mengapa ada pembeli yang bersedia membayar begitu mahalnya?</p>
<div id="attachment_2069" class="wp-caption aligncenter" style="width: 432px">
	<img class="size-full wp-image-2069 " title="andreas-gursky-rhine" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/12/andreas-gursky-rhine.jpg" alt="andreas-gursky-rhine" width="432" height="324" />
	<p class="wp-caption-text">Rhine II Foto termahal di dunia</p>
</div>
<p style="text-align: center;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2011/12/foto-termahal-di-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>41</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Foto yang bagus?</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/foto-yang-bagus/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/foto-yang-bagus/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2011 05:44:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dasar Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=1936</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan &#8220;foto bagus itu foto yang bagaimana?&#8221; atau &#8220;bagaimana membuat foto yang bagus?&#8221;
Fotografi, pada hakekatnya adalah salah satu bentuk media untuk berkomunikasi dan mengekspresikan diri. Fotografi banyak persamaan dengan menulis. Di dalam menulis, kita memilih kata-kata dan kemudian merangkainya dalam bentuk kalimat. Di dalam fotografi, kita mengunakan elemen visual (garis, bentuk, pola, warna, cahaya, dll) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F10%2Ffoto-yang-bagus%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F10%2Ffoto-yang-bagus%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Pertanyaan &#8220;foto bagus itu foto yang bagaimana?&#8221; atau &#8220;bagaimana membuat foto yang bagus?&#8221;</p>
<p>Fotografi, pada hakekatnya adalah salah satu bentuk media untuk berkomunikasi dan mengekspresikan diri. Fotografi banyak persamaan dengan menulis. Di dalam menulis, kita memilih kata-kata dan kemudian merangkainya dalam bentuk kalimat. Di dalam fotografi, kita mengunakan elemen visual (garis, bentuk, pola, warna, cahaya, dll) dan kemudian merangkainya dengan komposisi (aturan sepertiga, garis, perspektif, fokus, bingkai, dll).</p>
<p>Tulisan yang dianggap baik adalah tulisan yang tidak bertele-tele, melainkan jelas dan dapat dimengerti oleh pembacanya. Tulisan yang bagus memiliki ide &amp; makna yang menarik. Tulisan yang baik memiliki organisasi tata bahasa yang rapi sehingga mudah dibaca dan dipahami.</p>
<p>Sama dengan tulisan yang bagus, fotografi yang baik perlu suatu subjek dan ide yang jelas serta tidak ada elemen yang mengganggu. Fotografi yang baik memiliki organisasi komposisi elemen-elemen visual dengan baik.</p>
<p>Intinya foto yang bagus adalah foto yang sesuai dengan niat kita masing-masing. Contohnya, jika kita ingin membuat suasana yang misterius dan angker, foto dengan nuansa yang gelap lebih cocok daripada nuansa yang terang. Jika ingin foto kita membuat perubahan, misalnya kita ingin orang peduli dengan lingkungan hidup, maka foto kita harus bisa memotivasi orang-orang untuk go green dan seterusnya.</p>
<p>Singkatnya, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan supaya foto kita bagus:</p>
<p>1. Apakah foto memiliki ide/cerita/makna?<br />
2. Apakah terang gelap / exposure foto sesuai?<br />
2. Apakah komposisi foto sesuai?<br />
3. Apakah pilihan pencahayaan tepat?<br />
4. Apakah timing saat menjepret tepat?</p>
<p>Intinya, foto yang bagus itu subjektif karena niat setiap fotografer berbeda, demikian juga penikmat foto/audiensnya. Foto yang menurut sebagian orang bagus belum tentu menarik bagi kelompok yang lain. Maka itu, jangan terlalu kuatir dan terus berlatih.</p>
<div id="attachment_1941" class="wp-caption aligncenter" style="width: 486px">
	<a href="http://www.enchetjin.com/Travel/Cambodia/Kampong-Khleang-Fishing/i-LP5fZJh/0/XL/DSC2376-XL.jpg"><img class="size-full wp-image-1941" title="kampung-khleang" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/kampung-khleang.jpg" alt="kampung-khleang" width="486" height="323" /></a>
	<p class="wp-caption-text">Foto ini menggambarkan keceriaan anak remaja di kampung terapung di danau Tonle Sap. Secara komposisi, saya menempatkan subjek utama ditengah. Saya juga menyertakan sedikit latar belakang/lingkungan untuk memberikan kesan tempat. Kepala perahu disebelah kanan atas dan tiang-tiang rumah panggung mengarah ke anak tersebut. Hujan deras memberikan kesan tersendiri dan konversi hitam putih membuat fokus mata kita tertuju kepada ekspresi anak tersebut. Silahkan klik foto diatas untuk melihat ukuran yang lebih besar.</p>
</div>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/foto-yang-bagus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Reruntuhan yang Indah</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/reruntuhan-yang-indah/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/reruntuhan-yang-indah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Oct 2011 07:58:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Lain lain]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[Travel]]></category>
		<category><![CDATA[beautiful decay]]></category>
		<category><![CDATA[kamboja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=1872</guid>
		<description><![CDATA[Yang indah-indah itu bukan hanya wanita cantik, atau langit di saat matahari terbenam saja. Keindahan bisa juga kita dapatkan dari reruntuhan. Contoh reruntuhan yang indah terdapat di kompleks candi Angkor di Kamboja.
Sebagian besar candi-candi disana tidak direstorasi secara keseluruhan, tapi dibiarkan seperti saat ditemukan oleh penjelajah. Sebagian lain dijaga supaya tidak ambruk lebih parah. Di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F10%2Freruntuhan-yang-indah%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F10%2Freruntuhan-yang-indah%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Yang indah-indah itu bukan hanya wanita cantik, atau langit di saat matahari terbenam saja. Keindahan bisa juga kita dapatkan dari reruntuhan. Contoh reruntuhan yang indah terdapat di kompleks candi Angkor di Kamboja.</p>
<p>Sebagian besar candi-candi disana tidak direstorasi secara keseluruhan, tapi dibiarkan seperti saat ditemukan oleh penjelajah. Sebagian lain dijaga supaya tidak ambruk lebih parah. Di Jakarta, reruntuhan bisa kita dapatkan di kawasan kota tua.</p>
<div id="attachment_1875" class="wp-caption aligncenter" style="width: 500px">
	<img class="size-full wp-image-1875" title="Ta Phrom" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/DSC_3321.JPG" alt="Buatan manusia vs alam" width="500" height="333" />
	<p class="wp-caption-text">Bergulat dengan alam</p>
</div>
<p>Keindahan reruntuhan punya potensial sebagai subjek foto yang fotogenik, indah dan romantis. Untuk mengoptimalkan foto reruntuhan seperti yang diatas ini, ada beberapa tips dari saya:</p>
<ul>
<li>Jangan ada manusia dalam foto, terutama turis. Tapi orang lokal atau anak-anak yang berpakaian tradisional itu bisa menambah nilai foto.</li>
<li>Sebagian dari dari bangunan utuh, sebagian runtuh atau rusak</li>
<li>Adanya elemen lain seperti pohon, pahatan, atau elemen desain dari masa lalu menambah nilai foto</li>
<li>Tidak ada sampah atau barang-barang jaman sekarang dalam foto misalnya botol minuman, tiang listrik dan sebagainya</li>
<li>Adanya kabut atau cahaya yang lembut sangat mendukung, terutama saat langit berawan. Langit cerah yang berwarna biru tidak memberikan kesan tua sehingga tidak terlalu membantu. Bila langit terlalu biru, kita bisa turunkan saturasinya atau ubah menjadi monokrom / hitam-putih.</li>
<li>Saturasi yang tidak terlalu tinggi atau foto hitam putih akan memberikan kesan klasik.</li>
</ul>
<p>Selamat berfoto ria <img src='http://www.infofotografi.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<div id="attachment_1876" class="wp-caption aligncenter" style="width: 500px">
	<img class="size-full wp-image-1876" title="DSC_2157" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/DSC_2157.JPG" alt="DSC_2157" width="500" height="333" />
	<p class="wp-caption-text">Preah Khan</p>
</div>
<p style="text-align: center;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/reruntuhan-yang-indah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengalaman kedua : Belajar Komposisi</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/pengalaman-kedua-belajar-komposisi/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/pengalaman-kedua-belajar-komposisi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Oct 2011 01:15:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iesan Liang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dasar Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Lain lain]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[iesan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=1878</guid>
		<description><![CDATA[Kesempatan latihan datang lagi ketika ada acara hunting bareng di Museum Transportasi di TMII. Namun anehnya, ketika berada di sana, saya kebingungan. Apa yang mau difoto yach? Dari pintu masuk sampai pada kereta api yang pertama, tidak ada satupun foto yang saya ambil. Kok rasanya tidak ada yang menarik. Soalnya sudah sering lihat, malah kadang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F10%2Fpengalaman-kedua-belajar-komposisi%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F10%2Fpengalaman-kedua-belajar-komposisi%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Kesempatan latihan datang lagi ketika ada acara hunting bareng di Museum Transportasi di TMII. Namun anehnya, ketika berada di sana, saya kebingungan. Apa yang mau difoto yach? Dari pintu masuk sampai pada kereta api yang pertama, tidak ada satupun foto yang saya ambil. Kok rasanya tidak ada yang menarik. Soalnya sudah sering lihat, malah kadang bisa sebel kalau lagi mau cepat malah ada kereta api yang melintas.</p>
<p>Saya melihat teman-teman yang lain pada sudah foto-foto. Tentunya objeknya kereta api. Oke deh, ikut foto juga. Saya foto kereta api itu secara keseluruhan, tampak depan dan tampak samping. Hasilnya mirip dengan foto dokumentasi saja. Tidak ada nilai seninya sama sekali, feeling belum muncul (hihihi&#8230; mungkin memang ga pinter foto kali ye&#8230;).</p>
<p>Saya pun mulai eksplorasi lagi, kalau foto kereta api saya tidak menarik, mungkin saya bisa mencoba foto yang lebih luas (kereta api + keadaan sekeliling). Saya pun mencoba mengambil foto kereta api dengan memposisikan kereta api  di tengah dan juga ikut mengambil bangunan dan tiang yang disamping. Pemikiran saya sih mau mengambil gambar seperti sedang berada di stasiun kereta api. Namun, foto saya sepertinya belum mencerminkan apa yang ingin saya capai. Masih kaku abis (gagal x_x).</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1879" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-1.jpg" alt="GBR 1" width="500" height="327" /></p>
<p>Setelah itu, saya melihat ada rel yang melengkung. Jika bisa mengambil foto jalur rel makin lama makin kecil dan berliku-liku, pastilah bisa menggambarkan perjalanan kehidupan yang penuh liku-liku. Kesan yang ingin saya tampilkan sih seperti itu kira-kira. Tapi lihatlah hasil fotoku. Masih jauh banget dari apa yang kuinginkan. Tidak ada yang spesial (gagal lagi).</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1880" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-2.jpg" alt="GBR 2" width="500" height="333" /></p>
<p>Ketika berpindah ke tempat yang lain. Saya ingin shoot sebuah gerbong dengan memasukkan kesan klasik (didukung oleh berkaratnya gerbong tersebut). Akan tetapi, bagaimanapun saya memposisikan diriku saat mengambil foto, lampu yang terletak di atas gerbong selalu ikut terekam dalam gambar. Soalnya saya ambil gambar dari bawah. Kalo bisa ambil dari atas, mungkin bakal lebih bagus. Tapi ga mungkin tinggiku bisa melebihi tinggi kereta api. Wkwkwkwk. Gagal lagi de.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1881" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-3.jpg" alt="GBR 3" width="333" height="500" /></p>
<p>Apa lagi si yang mesti difoto? <span id="more-1878"></span></p>
<p>Tiba-tiba terdengar percakapan Enche dengan seseorang. Dia memperlihatkan gambarnya kemudian menjelaskan foto detail juga bagus. Nah loh, foto detail itu kayak gimana si? Berkat kepintaran nguping dan ngintip, saya mendapat ilmu dari Enche, saya jadi tahu, ga mesti foto kereta api secara keseluruhan. Foto bagian-bagian kecil dari kereta api itu(detail) misalnya roda, pintu, jendela, dll juga menarik untuk difoto. Nah&#8230; dimulailah petualanganku&#8230;</p>
<p>Detail pertama yang saya ambil adalah foto roda kereta api. Akan tetapi, kalau roda itu cuma difoto dari depan, ga ada menariknya sama sekali. Saya geser posisi saya agak ke samping dan saya mendapatkan gambar perspektif dari roda roda kereta api (dari bulatan yang besar kemudian mengecil). Masalahnya adalah gimana memposisikan roda itu dalam frame. Awalnya, saya mencoba memasukkan semua roda tersebut. Hasilnya kepanjangan. Kemudian saya memilih memasukkan 3 roda. Ternyata kependekan.</p>
<p>Akhirnya, 4 roda yang saya rasa paling pas. Tentu saja, coba-coba saya tidak berhenti sampai tahap itu. Saya pun mengkomposisikan 4 roda itu sedemikian rupa, misalnya foto roda pertama yang terpotong sedikit, terpotong separuh, atau hampir terpotong secara keseluruhan, ataupun coba coba foto roda terakhir yang terpotong separuh, dstnya. Meskipun ternyata dari puluhan foto yang terambil, foto pertama saya yang paling saya senangi, tapi saya juga menikmati proses pencarian tersebut.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1882" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-4.jpg" alt="GBR 4" width="500" height="333" /></p>
<p>Detil kedua yang saya tangkap dari antena saya adalah foto dibawah ini (ga tau apa namanya). Tak ada alasan mengapa mau ambil foto itu, insting aja kayaknya bisa menarik. Dengan memposisikannya menjadi rule of third, saya pun foto.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1883" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-5.jpg" alt="GBR 5" width="333" height="500" /></p>
<p>Ketika mau beranjak ke tempat yang lain ternyata ada pesawat jet yang lewat. Saat jet tersebut lewat, ingin sekali mengabadikan moment tersebut. Namun kurang cepat, kayaknya si kurang pengalaman dan kurang sigap menghadapi moment yang super cepat seperti itu. Untung saja, ada kesempatan kedua, karena tidak lama kemudian jet yang kedua pun meluncur. Karena sudah ready dari ketinggalan yang pertama tadi, yang kali ini saya tinggal jepret saja.  Hoki ^^V</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1884" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-6.jpg" alt="GBR 6" width="500" height="331" /></p>
<p>Kemudian, saya melihat ada papan  rambu-rambu, maunya si sekedar dokumentasi saja, mungkin suatu saat bisa berguna. Seharusnya si foto harus diambil dari depan, namun untuk menghindari kekakuan, saya coba ambil dari samping saja. Hehe.. Hasilnya malah makin jelek. Saya tidak sempat mengambil lagi dari depan, karena saya uda ditinggal rombongan.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1885" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-7.jpg" alt="GBR 7" width="500" height="333" /></p>
<p>Setelah itu, kami berteduh di dekat pepohonan. Eits, ternyata ada yang menarik. Cabang pohon bisa dibuat frame (menyerap pelajaran dari <a href="http://infofotografi.com/kursus-fotografi-pemula.html" target="_blank">Kursus pemula</a>). Dari celah cabang pohon tersebut, saya coba mengambilnya dengan fokus di sebuah lampu sebagai objek penarik perhatian. Mungkin kalau foto itu diambil di malam hari dan lampu itu menyala, bakalan bagus ne (hehe&#8230; berandai-andai, dengan kemampuanku sekarang ini, belum tentu saya bisa menangkap foto yang terlalu kontras terang gelapnya, apalagi dengan mode Av). Ataupun foto yang sama tapi ada pasangan kekasih sebagai pengganti lampu (imajinasi tingkat tinggi XD &#8211; mungkin suatu saat nanti bisa diterapkan untuk foto prewed). Makin seru hunting kali ini, pikirku.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1886" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-8.jpg" alt="GBR 8" width="333" height="500" /></p>
<p>Setelah foto bersama, kami pun pindah ke lokasi lain. Di tempat ini, dengan berbagai imajinasi, saya mengambil beberapa foto.</p>
<div id="attachment_1887" class="wp-caption aligncenter" style="width: 345px">
	<img class="size-full wp-image-1887" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-9.jpg" alt="Foto dengan fokus di knop pintu, dengan dihalangi pagar, putih dan hitam yang kontras, semoga akan memunculkan perasaan penasaran dengan apa yang ada di balik pintu tersebut. Jadi timbul keinginan untuk membuka pintu." width="345" height="500" />
	<p class="wp-caption-text">Foto dengan fokus di knop pintu, dengan dihalangi pagar, putih dan hitam yang kontras, semoga akan memunculkan perasaan penasaran dengan apa yang ada di balik pintu tersebut. Jadi timbul keinginan untuk membuka pintu.</p>
</div>
<div id="attachment_1888" class="wp-caption aligncenter" style="width: 500px">
	<img class="size-full wp-image-1888" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-10.jpg" alt="Tanda + yang menandakan bahwa ruangan dibaliknya adalah sebuah poliklinik. Jendela saya masukkan dalam frame untuk menimbulkan keinginan untuk mengintip kegiatan apa di dalam ruangan itu." width="500" height="333" />
	<p class="wp-caption-text">Tanda + yang menandakan bahwa ruangan dibaliknya adalah sebuah poliklinik. Jendela saya masukkan dalam frame untuk menimbulkan keinginan untuk mengintip kegiatan apa di dalam ruangan itu.</p>
</div>
<div id="attachment_1889" class="wp-caption aligncenter" style="width: 333px">
	<img class="size-full wp-image-1889" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-11.jpg" alt="GBR 11" width="333" height="500" />
	<p class="wp-caption-text">Foto hoki yang kedua di hari itu. Sebenarnya cuma mau ngambil gambar 2 pintu yang berbeda warna. Pas jepret, ada tangan anak yang muncul karena sedang bermain di sana. Hoki dech. Dapat foto &quot;Haunted Train&quot;.</p>
</div>
<p style="text-align: left;">Dari semua foto yang saya ambil hari itu, saya paling suka dengan foto gembok ini. Mungkin daya imajinasi dan kadar romantisme yang terlalu tinggi di hari itu, saat melihat gembok, langsung terpikir suatu scene. Cerita penantian si gembok yang setia menunggu kedatangan si kunci sampai berkarat. Oleh sebab itu, saya memposisikan gembok itu agak ke samping, supaya saya masih bisa memasukkan kutipan.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-1890" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-12.jpg" alt="GBR 12" width="333" height="500" /></p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1891" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-13.jpg" alt="GBR 13" width="346" height="518" /></p>
<p>Saking bangganya dengan foto itu, saya post di fb dan jadiin profile pic. Trus saya menelepon mama saya supaya dia bisa mengecek hasil foto saya. Semoga dapat pujian, pikirku dalam hati. Ternyata perkiraanku meleset. Mama bilang, &#8220;Aduh apa-apaan sih, gembok berkarat kok difoto?&#8221; Gubrak&#8230; wkwkwkwk&#8230; mau nangis apa ketawa y?</p>
<p>Ternyata kalau mau buka mata buka telinga (sekalian buka hati), apapun yang dilihat bisa kita potret dan bisa kita komposisikan menjadi suatu foto yang menarik dan bercerita (ditambah dengan daya imajinasi). Tentu saja, tidak semua foto yang kita ambil dapat menyenangkan semua orang. Namun, tidak penting berapa banyak orang yang akan menyukai foto kita atau berapa orang yang akan mengkritik foto kita, yang penting kita terus berkarya. Saya yakin dengan latihan yang terus menerus, foto yang diambil akan makin bagus. Begitu juga dengan komposisi, lama kelamaan, tanpa disadari, kita akan punya feeling sendiri dan tangan kita akan bergerak dengan sendirinya untuk memposisikan kamera dan membidik.</p>
<p>Iesan Liang</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/pengalaman-kedua-belajar-komposisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengalaman seorang pemula : Pakai Mode Auto atau Manual?</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/pengalaman-seorang-pemula-pakai-mode-auto-atau-manual/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/pengalaman-seorang-pemula-pakai-mode-auto-atau-manual/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Oct 2011 04:00:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iesan Liang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dasar Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Lain lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=1848</guid>
		<description><![CDATA[Dari dulu, saya gak pernah hobi foto, kamera juga ga punya, mau foto apa pun ga tau dengan jelas. Satu satunya alat foto yang saya miliki hanyalah kamera di handphone saja. Itu pun jarang digunakan. Hanya untuk dokumentasi doank dan itu pun cuma pencet satu tombol doank.
Setelah kenal dengan Enche, pertama kali megang kameranya (Nikon [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F10%2Fpengalaman-seorang-pemula-pakai-mode-auto-atau-manual%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F10%2Fpengalaman-seorang-pemula-pakai-mode-auto-atau-manual%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Dari dulu, saya gak pernah hobi foto, kamera juga ga punya, mau foto apa pun ga tau dengan jelas. Satu satunya alat foto yang saya miliki hanyalah kamera di handphone saja. Itu pun jarang digunakan. Hanya untuk dokumentasi doank dan itu pun cuma pencet satu tombol doank.</p>
<p>Setelah kenal dengan <a href="http://www.enchetjin.com" target="_blank">Enche</a>, pertama kali megang kameranya (Nikon D700), alamak, berat banget. Pikirku si ngapaen juga kamera berat-berat gitu, wong tujuannya sama, dipake buat foto. Setelah itu, dikenalin dengan kamera sakunya (Panasonic Lumix LX3). Nah, yang ini lebih mendingan, kecil dan serbaguna. Hasilnya juga lumayan.</p>
<p>Masalahnya saya senang dan nyaman dengan mode Auto. Dengan kecanggihan teknologi sekarang ini, mode Auto sangat mempermudah semua pengambilan gambar dan saya sangat senang dengan adanya kemudahan ini. Ada yang mudah buat apa cari yang susah.</p>
<p>Kemudian, tak lama kemudian, Enche mengadakan <a href="http://infofotografi.com/kursus-fotografi-pemula.html" target="_blank">kursus dasar fotografi</a> yang mengajarkan tentang cara setting kamera secara manual. Saya bertanya-tanya sendiri, mengapa orang-orang mau merepotkan dirinya untuk setting secara manual, jika kamera sudah tersedia mode Auto. Saya sendiri saat itu juga tidak merasa ada keinginan untuk belajar setting secara manual.</p>
<p>Banyak yang mengganggap remeh mode Auto, menurut saya, itu sangatlah tidak masuk akal. Karena kalau memang mode Auto itu tidak berguna, mengapa kamera dilengkapi mode tersebut, yang penting hasilnya, asal ga blur dan sesuai yang kita inginkan. ^^</p>
<p>Ada yang mengganggap jika pakai mode Manual berarti sudah keren, padahal hasilnya belum tentu sebagus dan sekonsisten mode Auto. Saya rasa mode Auto sangat membantu saya dalam mengambil momen-momen candid, karena kalau masih mau setting-setting exposure, momentnya jadi terlewatkan donk. Kalau momen nya disuru ulang lagi, bukan candid lagi namanya.</p>
<p>Perlahan-lahan, karena ada kamera yang nganggur di tempat Enche (Canon 550D kit 18-55mm), saya mencoba memakainya, modenya juga Auto wkwkwkw. EGP dengan perkataan orang yang ga keren ato gimana dech. Lagian, emangnya bisa ketahuan kalau saya pakai auto? Kalau nanti ditanyain data atau setting kameranya, di foto yang dihasilkan mode Auto pun ada datanya. XD</p>
<p>Selanjutnya, ada yang bilang karena seni. Masa pake mode Auto ga ada seninya? Seni itu apa sih? Bisa bokeh-bokeh kah? Kalau mau bokeh, kan bisa pakai lensa fix yang bukaannya besar, trus mode auto, bokeh juga kan? Atau mengambil objek dengan dekat dan bagian latarnya dibuat cukup jauh, mode Auto juga bisa bokeh. ^^</p>
<p>Selang beberapa kali hunting bareng, saya ditawarin Enche untuk pakai mode Semi Auto (Av). Ya, ga ada salahnya mencoba. Shoot demi shoot saya lakukan, ternyata asyik juga mengubah-ngubah bukaan. Intinya, cuma disuruh jaga bukaan antara f/5.6, f/6.7, f/8.0. Coba coba tiap shoot dengan ketiga bukaan itu. Meskipun dari sekian puluh shoot cuma ada beberapa yang oke.</p>
<p>Dari latihan ini, ada sedikit pengertian yang saya dapatkan. Dalam mode Auto atau Semi Auto, kamera itu selalu ditugaskan untuk mencari gambar yang terang dan jelas. Dengan bukaan yang besar, kamera akan memberikan shutter speed yang cepat. Sebaliknya, jika bukaan saya perkecil, kamera akan memberikan shutter speed yang lambat. Alhasil, gambar saya tak jauh berbeda meski pakai bukaan f/5.6 ataupun f/8.0.</p>
<p>Kemudian saya menemukan kendala, beberapa foto yang saya ambil, saya ingin nuansanya gelap. Meski ada fitur exposure compensation, gelap atau terangnya tidak seperti yang saya inginkan, dan cukup merepotkan karena perhitungan kamera tidak dapat saya prediksikan gelap terangnya. Kalau momen yang ingin saya foto terjadi dalam waktu yang singkat, maka tidak ada satupun foto yang akan saya dapatkan jika harus mencoba-coba setiap range dari exposure compensation. Beda posisi saja sudah akan memberikan settingan yang berbeda.</p>
<p>Karena kesulitan ini, saya jadi mengerti mengapa mode Manual itu menarik untuk dipelajari. Dengan mode manual, kita dapat menentukan setting kamera. Mau gelap, mau terang, mau bokeh sampai tahap yang bagaimana pun, terserah saya. Dan saya sangat menikmatinya. Namun, kalau sudah terdesak dan butuh kecepatan tinggi untuk mengambil foto, Auto mode on.  ^^</p>
<p>Iesan Liang</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/pengalaman-seorang-pemula-pakai-mode-auto-atau-manual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Steve Jobs &#8211; Pelajaran tentang hidup dan mati</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/steve-jobs-pelajaran-tentang-hidup-dan-mati/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/steve-jobs-pelajaran-tentang-hidup-dan-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Oct 2011 06:45:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=1811</guid>
		<description><![CDATA[Steve Jobs, legenda teknologi pendiri Apple dan arsitek dari produk-produk legendaris seperti IMac, Ipod, Iphone dan Ipad telah tiada hari ini, tanggal 6 Oktober 2011.
Sebenarnya, saya sendiri tidak pernah memiliki produk Apple. Saya pernah mengunakan iMac saat saya aktif di koran kampus, tapi saya lebih menyukai memakai PC untuk kesehariannya. Saya juga tidak pernah dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F10%2Fsteve-jobs-pelajaran-tentang-hidup-dan-mati%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F10%2Fsteve-jobs-pelajaran-tentang-hidup-dan-mati%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Steve Jobs, legenda teknologi pendiri Apple dan arsitek dari produk-produk legendaris seperti IMac, Ipod, Iphone dan Ipad telah tiada hari ini, tanggal 6 Oktober 2011.</p>
<p>Sebenarnya, saya sendiri tidak pernah memiliki produk Apple. Saya pernah mengunakan iMac saat saya aktif di koran kampus, tapi saya lebih menyukai memakai PC untuk kesehariannya. Saya juga tidak pernah dan tidak tertarik untuk memiliki Ipod, Iphone atau Ipad.</p>
<p>Mungkin kalian bertanya-tanya, lalu apa pentingnya Steve Jobs bagi saya? Ngapain saya menulis tentang dia di blog fotografi?</p>
<p>Saya mengenal lebih dekat tentang filosofi Steve Jobs saat saya tidak sengaja menonton <a href="http://www.youtube.com/watch?v=UF8uR6Z6KLc&amp;feature=featured" target="_blank">video clip di YouTube</a> tentang <a href="http://news.stanford.edu/news/2005/june15/jobs-061505.html" target="_blank">pidato Steve Jobs di Stanford University</a>. Pidato ini dialamatkan ke mahasiswa/i yang baru di wisuda. Di pidato yang sangat inspiratif itu. Steve Jobs bercerita tentang hidupnya dan juga bagaimana dia lolos dari maut di tahun 2004.</p>
<p>Steve Jobs didiagnosa menderita kanker pankreas yang langka tahun 2004. Dokternya mengatakan dia hanya bisa bertahan hidup 3-6 bulan lagi. Tapi karena keajaiban, hidup Steve Jobs bisa diperpanjang melalui operasi.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-1814" title="steve-jobs" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/steve-jobs.jpg" alt="steve-jobs" width="512" height="289" /></p>
<p>Ini kutipan yang paling saya suka di dalam pidato itu:</p>
<blockquote><p>“Remembering that I’ll be dead soon is the most important tool I’ve ever encountered to help me make the big choices in life. Because almost everything — all external expectations, all pride, all fear of embarrassment or failure &#8211; these things just fall away in the face of death, leaving only what is truly important. Remembering that you are going to die is the best way I know to avoid the trap of thinking you have something to lose. You are already naked. There is no reason not to follow your heart. … Stay hungry. Stay foolish.”</p></blockquote>
<p>Steve mengingatkan kita bahwa saat kita akan mati, semua harapan dari lingkungan, kebanggaan, ketakutan akan malu dan gagal akan hilang. Yang tinggal hanya yang paling penting dalam hidup kita.</p>
<p>Sangat disayangkan bahwa banyak orang tidak mengikuti hati, hanya sibuk mencari uang yang tidak ada akhirnya atau mengikut rutinitas yang tidak disukai. Tidak terasa, kematian sudah di depan mata.</p>
<p>Steve Jobs beruntung karena sejak dia menderita kanker pankreas, dia mengetahui kematiannya tidak akan lama lagi, maka dari itu tidak menyia-nyiakan waktunya untuk mengambil langkah-langkah besar.</p>
<p>Beberapa saat yang lalu, saya diwawancara oleh sebuah majalah tentang fotografi. Salah satu pertanyaannya adalah sebagai berikut:</p>
<blockquote><p>&#8220;Bisa dipromosikan keunggulan Anda sehingga ketika baru kembali di Indonesia Anda nekad berani langsung membuka kursus fotografi, bahkan mengeluarkan buku belajar fotografi?&#8221;</p></blockquote>
<p>Sebagian besar dari kita tidak mengetahui kapan kita mati? mengapa kita melakukan apa kata hati kita? Meski saya tidak terkenal, karya saya tidak banyak, ilmu saya masih dangkal, tapi kenapa saya harus menunggu sampai hari itu tiba? Saya tidak tahu kapan saya mati, dan saya tidak mau menyia-nyiakan hidup saya untuk melakukan apa yang saya sukai, fotografi dan mengajar.</p>
<p>Terima kasih atas inspirasinya Steven Paul Jobs, Rest in Peace!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/steve-jobs-pelajaran-tentang-hidup-dan-mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Extrovert dan Introvert</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2011/09/extrovert-dan-introvert/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2011/09/extrovert-dan-introvert/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Sep 2011 02:16:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=1707</guid>
		<description><![CDATA[Kepribadian manusia bermacam-macam. Kepribadian yang populer adalah extrovert dan introvert. Kaum extrovert suka bersosialisasi, bergairah bila dilingkungan banyak orang. Sedangkan kaum introvert terkesan pendiam dan tak begitu suka keramaian seperti pesta.
Extrovert mendapatkan energi mental dari lingkungan diluar dirinya, sedangkan introvert mendapatkan energi dari dalam diri, saat melakukan aktivitas sendiri. Ibaratnya, extrovert seperti panel surya sedangkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F09%2Fextrovert-dan-introvert%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F09%2Fextrovert-dan-introvert%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Kepribadian manusia bermacam-macam. Kepribadian yang populer adalah <em>extrovert</em> dan <em>introvert</em>. Kaum <em>extrovert</em> suka bersosialisasi, bergairah bila dilingkungan banyak orang. Sedangkan kaum <em>introvert</em> terkesan pendiam dan tak begitu suka keramaian seperti pesta.</p>
<p><em>Extrovert</em> mendapatkan energi mental dari lingkungan diluar dirinya, sedangkan <em>introvert </em>mendapatkan energi dari dalam diri, saat melakukan aktivitas sendiri. Ibaratnya, extrovert seperti panel surya sedangkan <em>introvert</em> seperti baterai atau aki.</p>
<p>Tiap kepribadian memiliki kelebihan sendiri sendiri. <em>Extrovert</em> suka bersosialisasi, karena ilmu sosialnya sering terasah, maka fotografi yang cocok adalah fotografi yang membutuhkan interaksi dengan orang-orang, seperti foto <em>portrait</em> atau <em>wedding</em>, yang membutuhkan interaksi yang banyak supaya bisa menghasilkan foto yang baik. Lalu kaum ekstrovert juga lebih suka berada dalam satu tim daripada kerja sendirian. Maka dari itu ekstrovert suka hunting ramai ramai daripada sendiri.</p>
<p>Sebaliknya, kaum <em>introvert</em> lebih suka kerja sendiri atau hanya bersama satu-dua teman dekat saja. Bekerja dengan banyak orang, apalagi yang baru kenal bisa menguras energi kaum introvert. Meski menjadi seorang <em>introvert</em> sepertinya kurang bisa maju. Tapi seorang <em>introvert</em> juga memiliki kelebihan seperti memiliki sifat yang lebih tenang dan pengamatannya juga lebih rinci.</p>
<p>Saya merasa fotografi sangat membantu introvert untuk bisa menikmati acara acara sosial. Sebagai seorang <em>introvert</em>, biasanya saya sangat malas untuk hadir dan berpartisipasi dalam acara sosial seperti pesta. Namun dengan adanya kamera dan fotografi, saya punya alasan kuat untuk hadir. Kamera akan sebagai tembok imajiner antara saya dan lingkungan sehingga ada yang bisa saya kerjakan di pesta tidak hanya canggung di tempat yang ramai.</p>
<p>Jenis fotografi yang cocok untuk <em>introvert </em>antara lain fotojurnalisme meliputi <em>candid</em>, olahraga, satwa liar, <em>travel</em>, pemandangan, acara sosial, still life dan produk. Sedangkan jenis fotografi yang cocok untuk <em>extrovert</em> antara lain adalah foto <em>portrait</em>, foto <em>wedding </em>dan <em>prewed</em>, foto komersial, foto <em>human interest</em>.</p>
<p>Nah bagaimana pengalaman Anda sendiri?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2011/09/extrovert-dan-introvert/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

