<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Info Fotografi &#187; Filosofi</title>
	<atom:link href="http://www.infofotografi.com/blog/category/filosofi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.infofotografi.com/blog</link>
	<description>Mengulas segala hal yang berkaitan dengan fotografi digital</description>
	<lastBuildDate>Tue, 27 Jul 2010 05:55:11 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Alasan untuk pindah sistem digital SLR</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2010/07/alasan-untuk-pindah-sistem-digital-slr/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2010/07/alasan-untuk-pindah-sistem-digital-slr/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jul 2010 07:01:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Kamera]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=593</guid>
		<description><![CDATA[Saat kita membeli kamera digital SLR yang pertama, berarti kita telah membeli sebuah sistem untuk jangka panjang. Hal ini karena lensa aksesoris dan lensa kamera digital SLR merek tertentu, sebagian besar tidak bisa dipakai di kamera merk lain.
Akibatnya, bila pindah merk, maka semua lensa dan aksesoris juga harus diganti. Selain itu, kita juga harus kembali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F07%2Falasan-untuk-pindah-sistem-digital-slr%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F07%2Falasan-untuk-pindah-sistem-digital-slr%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Saat kita membeli kamera digital SLR yang pertama, berarti kita telah membeli sebuah sistem untuk jangka panjang. Hal ini karena lensa aksesoris dan lensa kamera digital SLR merek tertentu, sebagian besar tidak bisa dipakai di kamera merk lain.</p>
<p>Akibatnya, bila pindah merk, maka semua lensa dan aksesoris juga harus diganti. Selain itu, kita juga harus kembali mempelajari dan membiasakan diri untuk memakai sistem yang baru ini. Kadang-kadang bisa memakan waktu berbulan-bulan untuk benar-benar terbiasa.</p>
<p>Lantas, banyak fotografer dari amatir sampai profesional pindah dari satu merek yang satu ke merek yang lain, tentunya masing-masing memiliki alasan sendiri sendiri. Ada alasan yang saya kira tepat, ada yang saya rasa kurang tepat.</p>
<h3>Alasan yang saya kira tepat antara lain</h3>
<ol>
<li><strong>Bila tidak ada ada produk yang di tawarkan merek tersebut yang memenuhi syarat yang kita butuhkan padahal waktu mendesak</strong></li>
<p>Saat itu, saya memiliki kamera Canon 40D dan cukup banyak lensa dan aksesoris bermerek sama. Tapi akan ditugaskan untuk foto di keadaan yang gelap seperti foto tarian, foto candle lighting dan olahraga indoor dan lainnya yang tidak memperbolehkan penggunaan lampu kilat.</p>
<p>Alhasil saya sempat melirik kamera Canon 5D mark II dan Nikon D700. Saya akhirnya memutuskan untuk memilih kamera Nikon D700 karena auto fokusnya yang cepat dan juga kemampuannya di cahaya ruangan yang temaram. Selain itu Canon 5D mark II lebih mahal karena saat itu baru diluncurkan dan menurut tes, auto fokusnya tidak begitu baik.</p>
<p>Kalau dihitung-hitung, akibat perpindahan ini, saya menderita kerugian sekitar $1500 (13.5 juta rupiah) . Kalau saya ada waktu untuk menunggu, saya tentu saja menunggu kamera Canon yang seperti Canon EOS 7D atau 1d mark IV.</p>
<li><strong>Sulit mencari pelayanan purna jual, lensa dan aksesoris</strong><br />
Terkadang, Anda sulit menemukan aksesoris atau layanan purna jual di dekat tempat tinggal Anda. Hal ini tentu bisa mengesalkan terutama saat kamera Anda rusak atau ketika Anda ingin membeli lensa tertentu tapi tidak tersedia di daerah. Maka dari itu pertimbangkanlah untuk pindah ke merek yang memberikan layanan dan ketersediaan lensa dan aksesoris yang memadai</li>
<p></p>
<li><strong>Sistem yang Anda pakai sekarang sudah tidak sesuai dengan visi atau gaya fotografi Anda.</strong></li>
<p>Ada merek / system fotografi yang sasaran utamanya adalah mengembangkan produk untuk fotografer pemula dan amatir seperti Panasonic, Samsung, Pentax, dan Olympus sehingga bila Anda bertujuan untuk menjadi fotografer professional, terutama untuk fotojurnalistik, mungkin kurang tepat untuk memakai merek tersebut.</p>
<p>Disisi lain, bila Anda mencari system yang ramah dengan pemula, memberikan nilai lebih dengan harga yang lebih murah, pertimbangkan untuk mencari merk-merk yang perhatian utamanya adalah pemula dan amatir.</p>
<p>Salah satu contohnya adalah kini banyak sistem kamera yang berukuran kecil, seperti Panasonic GF1 dan Olympus PEN E-P1, bila gaya fotografi Anda lebih ideal mengunakan sistem seperti ini, mengapa tidak pindah?</p>
<li><strong>Sponsor</strong></li>
<p>Produsen kamera selalu mencari fotografer berbakat untuk disponsori, bila Anda merupakan salah satu fotografer yang beruntung itu, kenapa tidak menerimanya?</p>
<p>Namun sebaiknya Anda sudah mencoba merek tersebut dan produk tersebut bisa memenuhi kebutuhan fotografi Anda, sehingga tetap bisa berkarya dengan baik dan tidak dicap munafik oleh  fans dan khalayak umum.</ol>
<p><span id="more-593"></span></p>
<h3>Alasan yang kurang tepat untuk pindah sistem</h3>
<ol>
<li><strong>Merk lain lebih popular</strong></li>
<p>Kadang kita merasa minder karena banyak teman-teman atau khayalak ramai mengunakan merek kamera yang lebih populer.  Hal ini kadang membuat kita ingin pindah.</p>
<p>Tapi renungkan terlebih dahulu apakah memang merek yang anda punya tidak bisa memenuhi kebutuhan fotografi Anda?<br />
Dengan memakai system kamera yang berbeda, justru bisa membuat karya Anda menjadi unik. Jangan kuatir tampil beda.</p>
<li><strong>Fotografer atau teman yang dikagumi pindah sistem</strong></li>
<p>Kadang-kadang ada fotografer terkenal yang ganti merek dari satu ke yang lain. Jangan jadikan ini alasan kenapa pindah, karena kita seringkali tidak mengetahui alasan sebenarnya mereka pindah.</p>
<p>Seringkali fotografer terkenal dan berpengaruh di incar oleh produsen alat fotografer untuk memakai produk mereka secara gratis dan mempromosikan produk mereka. Oleh sebab itu jangan menjadi korban iklan dan tidak perlu tergesa-gesa untuk pindah ke merek lain.<br />
Selain itu, mungkin mereka memiliki dana yang besar sehingga ongkos perpindahan tidak menjadi masalah untuk mereka. Dan lagi, kebutuhan mereka mungkin berbeda dengan kebutuhan Anda.</p>
<li><strong>Produk merk lain lebih baik</strong></li>
<p>Seperti kata pepatah yaitu rumput tetangga selalu lebih hijau. Seringkali kita melihat keunggulan kamera atau lensa merek lain dan hanya melihat kekurangan kamera kita sendiri. Hal ini menjebak kita untuk berpikiran tidak objektif.</p>
<p>Kita juga kadang tidak sabar untuk menunggu model baru dari merek yang kita pakai dalam mengeluarkan produk yang memiliki fitur yang tidak dimiliki model saat ini, tapi dimiliki oleh produk merek lain.</p>
<p>Contohnya beberapa tahun yang lalu kamera Nikon tidak memiliki sensor full frame sedangkan Canon telah memiliki Canon 5D, tapi beberapa tahun kemudian Nikon mengeluarkan Nikon D3 dan selanjutnya D700, yang merupakan full frame dengan kualitas yang lebih baik terutama di foto di kondisi pencahayaan yang kurang bersahabat.</p>
<p>Selanjutnya, Canon berhasil meningkatkan kualitas perekaman video ke full HD, tapi kamera Nikon masih di HD 720p.  Di masa depan, tidak tertutup kemungkinan Nikon mengungguli Canon dalam hal ini. Oleh sebab itu, daripada buru-buru pindah merek dan kehilangan banyak uang, maka lebih baik sabar menunggu.</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2010/07/alasan-untuk-pindah-sistem-digital-slr/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Definisi foto fotojurnalistik</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2010/06/definisi-foto-fotojurnalistik/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2010/06/definisi-foto-fotojurnalistik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jun 2010 09:22:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[fotojurnalistik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=579</guid>
		<description><![CDATA[Aurora Photos, agen foto yang berspesialisasi menjual foto petualangan, gaya hidup, olahraga, travel, budaya dan jurnalistik mendefinisikan foto mana yang termasuk fotojurnalistik dan mana yang bukan. Definisi ini sangat membantu membedakan fotografer yang bergaya fotojurnalistik, dan yang bukan karena di era digital ini, banyak sekali foto yang telah dimanipulasi di piranti lunak pengolah foto.
Definisi foto [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F06%2Fdefinisi-foto-fotojurnalistik%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F06%2Fdefinisi-foto-fotojurnalistik%2F" height="61" width="51" /></a></div><p style="margin-top: 1em; margin-right: 0px; margin-bottom: 1em; margin-left: 0px;">Aurora Photos, agen foto yang berspesialisasi menjual foto petualangan, gaya hidup, olahraga, travel, budaya dan jurnalistik mendefinisikan foto mana yang termasuk fotojurnalistik dan mana yang bukan. Definisi ini sangat membantu membedakan fotografer yang bergaya fotojurnalistik, dan yang bukan karena di era digital ini, banyak sekali foto yang telah dimanipulasi di piranti lunak pengolah foto.</p>
<p><strong>Definisi foto fotojurnalistik</strong></p>
<ol>
<li>Foto yang merepresentasikan kenyataan yang terjadi saat foto dibuat.</li>
<li>Potret orang di lingkungannya. Tidak ada manipulasi digital, dan subjek bukan model dan tidak dibayar atau diberikan imbalan dalam pembuatan foto.</li>
<li>Foto yang di stel secara digital, namun tidak berlebihan. Penyetelan terangnya atau kontras foto tidak mengubah kenyataan di lapangan. Mempertajam foto diperbolehkan asal tidak berlebihan.</li>
<li>Manipulasi foto diperbolehkan sebatas membersihkan debu atau goretan di foto akibat scan.</li>
<li>Membuat foto panorama dengan menggabungkan beberapa foto menjadi satu.</li>
<li>Foto hitam putih yang tidak diberi warna.</li>
</ol>
<p><span id="more-579"></span></p>
<p><strong>Apa yang bukan fotojurnalistik</strong></p>
<ol>
<li> Secara digital mengubah subjek foto misalnya mengubah bentuk subjek, menghapus cacat pada wajah seperti jerawat, kotoran, dan  lain lain.</li>
<li>Menggabungkan dua foto ata lebih dalam satu foto.</li>
<li>Manipulasi foto baik warna, keterangan, kontras, saturasi yang mengubah realitas yang dilihat fotografer atau orang lain yang hadir saat foto diambil.</li>
<li>Subjek merupakan model yang dibayar atau diberi imbalan untuk partisipasi mereka untuk diambil fotonya.</li>
<li>Foto yang terlihat candid tapi ada elemen-elemen dimana subjek diposisikan secara khusus oleh fotografer.</li>
<li>Foto dimana subjek memakai pakaian, peralatan atau aksesoris yang disediakan fotografer.</li>
</ol>
<p style="margin-top: 1em; margin-right: 0px; margin-bottom: 1em; margin-left: 0px;">Via <a href="http://www.auroraphotos.com/user/search.shtml" target="_blank">APhoto Editor</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2010/06/definisi-foto-fotojurnalistik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Etika Fotografer</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2010/06/etika-fotografer/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2010/06/etika-fotografer/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jun 2010 02:13:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Potret]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=569</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai makhluk sosial, sebagai fotografer, kita tidak luput dari hubungan manusia. Bila kita hobi foto potret, maka kita akan berhubungan langsung dengan modelnya. Kalaupun hobi kita foto pemandangan, tetap saja kita harus berhubungan dengan orang lain di lokasi  untuk mendapatkan informasi atau bantuan.
Maka dari itu masalah etika, adalah masalah yang penting. Namun topik ini biasanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F06%2Fetika-fotografer%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F06%2Fetika-fotografer%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Sebagai makhluk sosial, sebagai fotografer, kita tidak luput dari hubungan manusia. Bila kita hobi foto potret, maka kita akan berhubungan langsung dengan modelnya. Kalaupun hobi kita foto pemandangan, tetap saja kita harus berhubungan dengan orang lain di lokasi  untuk mendapatkan informasi atau bantuan.</p>
<p>Maka dari itu masalah etika, adalah masalah yang penting. Namun topik ini biasanya jarang di bahas, fotografer biasanya lebih tertarik membahas soal kamera, lensa, pencahayaan dan lain lain.</p>
<p>Maksud dari etika versi saya adalah bagaimana cara kita berhubungan antar manusia, antara fotografer dan model, antara fotografer dengan asisten, atau dengan masyarakat lokal. Dengan memiliki etika yang baik, fotografer tentunya diuntungkan dengan mendapatkan foto yang lebih berarti, enak dilihat dan alami. Orang-orang di sekitar kita pun akan lebih senang membantu kita.</p>
<p>Secara garis besar, memiliki etika yang baik berarti fotografer bersikap rendah hati, hormat terhadap orang lain, antusias dan baik hati. Dalam foto potret, misalnya, terutama bila modelnya wanita, kita menghormatinya dengan tidak menyentuh saat mengarahkan. Menyentuh model wanita sangat tidak sopan terutama di Asia dan membuat model tersebut menjadi tidak nyaman. Selain itu, hindari kebiasaan berbicara dengan nada memerintah  dan sering-seringlah memuji atau berterima kasih bila memang patut.</p>
<p>Saat foto potret, seringkali model kita tidak berpengalaman atau kaku di depan kamera. Hal ini wajar, dan bisa diatasi dengan banyak berkomunikasi dengan mereka. Banyaklah bertanya kepada mereka, tentang hal-hal yang berkaitan dengan mereka, misalnya bila ia seorang musisi, maka tanyakanlah tentang hal berbau musik, atau paling tidak hidup mereka secara umum. Hindari perbincangan tentang hal-hal negatif seperti perang, dan hindari topik SARA.</p>
<p>Seiring dengan waktu, dengan berkomunikasi dengan mereka, mereka akan merasa lebih nyaman. Saat berinteraksi dengan mereka, Anda bisa memperhatikan bahasa tubuh mereka, sehingga memiliki ide sudut pandang  dan pose yang terbaik untuk mengambil foto. Hasilnya adalah foto yang lebih alami dan lebih cocok dengan karakter mereka.</p>
<div id="attachment_571" class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px">
	<img class="size-full wp-image-571 " title="hana-erna" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2010/06/hana-erna1.jpg" alt="Dengan berkomunikasi dan berusaha mengenal keluarga multikultural ini, mereka menjadi nyaman akan kehadiran saya, alhasil saya bisa mengambil foto ini. Saya menyukai foto ini karena secara alami melukiskan cinta ibu terhadap anak dan kesibukan sang ayah di depan komputer" width="480" height="320" />
	<p class="wp-caption-text">Dengan berkomunikasi dan berusaha mengenal keluarga multikultural ini, mereka menjadi nyaman akan kehadiran saya, alhasil saya bisa mengambil foto ini. Saya menyukai foto ini karena secara alami melukiskan cinta ibu terhadap anak dan kesibukan sang ayah di depan komputer</p>
</div>
<p>Maka dari itu, untuk foto potret, saya lebih menyukai foto sendiri daripada foto bersama kelompok fotografer lainnya. Dengan kehadiran banyak fotografer atau asisten dengan peralatan-peralatan yang rumit, kesempatan untuk berkomunikasi dengan model menjadi hampir tidak ada. Malahan yang terjadi adalah model akan merasa semakin tidak nyaman dan ini akan tercermin pada raut muka dan bahasa tubuh mereka.</p>
<div id="attachment_574" class="wp-caption aligncenter" style="width: 486px">
	<img class="size-full wp-image-574 " title="Fashion shoot model" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2010/06/pwa2009-fashion-shoot-1.jpg" alt="Bayangkan bila Anda adalah modelnya, sangat tidak nyaman bukan? Seperti rusa muda yang siap diterkam serigala-serigala lapar" width="486" height="323" />
	<p class="wp-caption-text">Bayangkan bila Anda adalah modelnya, sangat tidak nyaman bukan? Seperti rusa muda yang siap diterkam serigala-serigala lapar dari segala penjuru, depan, bawah dan samping.</p>
</div>
<p>Singkatnya, perlakukan orang-orang sekitar seperti Anda ingin diperlakukan. Dengan demikian, fotografi Anda akan bisa lebih maju. Selamat mencoba.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2010/06/etika-fotografer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seni di dalam fotojurnalisme</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2010/05/seni-di-dalam-fotojurnalisme/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2010/05/seni-di-dalam-fotojurnalisme/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 05:51:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dasar Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[fotojurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[komposisi]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=518</guid>
		<description><![CDATA[Biasanya fotojurnalisme, atau sering disebut juga foto liputan, reportase, membosankan dan tidak ada seninya. Pendapatan wartawan foto juga termasuk rendah terutama dibandingkan dengan foto komersil atau potret. Dalam dekade terakhir, ada upaya untuk menyegarkan foto liputan, yaitu dengan mengkombinasikan seni ke dalam foto liputan.  Saya sendiri menyambut positif elemen artistik ke dalam fotojurnalisme. Elemen ini membuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F05%2Fseni-di-dalam-fotojurnalisme%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F05%2Fseni-di-dalam-fotojurnalisme%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Biasanya <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/07/fotojurnalism/" target="_blank">fotojurnalisme</a>, atau sering disebut juga foto liputan, reportase, membosankan dan tidak ada seninya. <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2010/01/fotografer-pekerjaan-profesi/" target="_blank">Pendapatan wartawan foto</a> juga termasuk rendah terutama dibandingkan dengan foto komersil atau potret. Dalam dekade terakhir, ada upaya untuk menyegarkan foto liputan, yaitu dengan mengkombinasikan seni ke dalam foto liputan.  Saya sendiri menyambut positif elemen artistik ke dalam fotojurnalisme. Elemen ini membuat foto menjadi lebih menarik untuk dinikmati.</p>
<p>Lalu, bagaimana caranya membuat fotojurnalisme menjadi lebih artistik?</p>
<h3>KOMPOSISI</h3>
<p>Saya pikir komposisi adalah poin yang <strong>sangat penting</strong> untuk membuat foto menjadi lebih artistik, tidak terkecuali dalam foto liputan. Banyak <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/12/komposisi-perspektif/" target="_blank">prinsip komposisi</a> yang ada dan bisa dicoba-coba. Tantangannya adalah jenis komposisi yang mana yang sesuai dengan apa yang ada di depan kita.</p>
<p>Salah satu prinsip dasar yang paling banyak digunakan adalah <em>Rule of Thirds</em>, yaitu menempatkan subjek utama 1/3 dari badan foto, daripada memposisikan subjek di tengah-tengah badan foto.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px">
	<img class=" " title="Komposisi rule of thirds" src="http://enche.smugmug.com/Student-Events/Commencement-2010/DSC9909/878728640_Bt6fW-M.jpg" alt="Dengan menempatkan subjek foto gak sebelah kanan (bukan ditengah), foto terlihat lebih dinamis" width="480" height="319" />
	<p class="wp-caption-text">Dengan menempatkan subjek foto gak sebelah kanan (bukan ditengah), foto terlihat lebih dinamis</p>
</div>
<p>Lalu saya juga suka mencari pola dalam foto, yaitu bentuk yang berulang-ulang seperti kain batik.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px">
	<img class=" " title="Komposisi Pola" src="http://enche.smugmug.com/Student-Events/Commencement-2010/DSC0134/878730815_igCxY-M.jpg" alt="Contoh komposisi pola: Di sini, saya menangkap tiga orang nenek-nenek sedang tersenyum saat mendengarkan ceramah" width="480" height="319" />
	<p class="wp-caption-text">Contoh komposisi pola: Di sini, saya menangkap tiga orang nenek-nenek sedang tersenyum saat mendengarkan ceramah</p>
</div>
<p>Kita juga bisa &#8220;break down&#8221; (membongkar) suatu pemandangan ke elemen-elemen dasar grafis seperti garis, segitiga, persegi panjang, lingkaran dan lain-lain.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px">
	<img class="  " title="Komposisi bentuk segitiga" src="http://enche.smugmug.com/Student-Events/Commencement-2010/DSC0416/878726634_wYYNh-M.jpg" alt="Komposisi dalam foto diatas memiliki bentuk segitiga" width="480" height="319" />
	<p class="wp-caption-text">Komposisi dalam foto diatas memiliki bentuk segitiga. Saya juga menerapkan prinsip rule of thirds</p>
</div>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px">
	<img class=" " title="Komposisi garis dan perspektif" src="http://enche.smugmug.com/Student-Events/Commencement-2010/DSC9965/878730213_Q8t8D-M.jpg" alt="Kombinasi komposisi garis dan perspektif (Saat membuat foto ini, saya jongkok sehingga sudut pandang lebih menarik daripada bila saya berdiri)" width="480" height="319" />
	<p class="wp-caption-text">Kombinasi komposisi garis dan perspektif (Saat membuat foto ini, saya jongkok sehingga sudut pandang lebih menarik daripada bila saya berdiri). Foto juga terlihat lebih tiga dimensi karena saya mengunakan lensa lebar</p>
</div>
<p>Selain itu, kita bisa mengubah perspektif / sudut pandang kita, misalnya naik ke tempat yang lebih tinggi, atau jongkok dan tiarap. <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2010/04/mengapa-saya-menyukai-lensa-lebar/" target="_blank">Mengunakan lensa lebar</a> juga bisa membuat sudut pandang yang lebih menarik.</p>
<h3>MINIMALISTIK</h3>
<p>Untuk membuat foto Anda keliatan lebih nyeni lagi, Anda bisa mencoba <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/10/faktor-yang-menyebabkan-latar-belakang-foto-menjadi-blur-kabur/" target="_blank">membuat latar belakang menjadi kabur</a>. Dengan demikian, subjek Anda akan lebih menonjol dan latar belakang menjadi seperti efek lukisan.</p>
<p>Untuk membuat foto menjadi benar-benar minimalistik, kita harus benar-benar memperhatikan latar belakang, cari latar belakang yang polos dan tidak rumit, sehingga saat di blur dengan setting aperture/bukaan besar, latar belakang benar-benar mulus sehingga tidak mengganggu perhatian pemirsa akan subjek utama.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px">
	<img class=" " title="Minimalistik" src="http://enche.smugmug.com/Student-Events/Commencement-2010/DSC0041-3/878816281_zfkz8-M.jpg" alt="Saya mencoba membuat foto ini seminimal mungkin dengan membuat latar belakang menjadi kabur, sehingga terlihat seperti lukisan dan pemirsa lebih fokus melihat pada subjek utamanya. Selain itu dari komposisi, saya tidak memposisikan subjek di tengah foto" width="480" height="270" />
	<p class="wp-caption-text">Saya mencoba membuat foto ini seminimal mungkin dengan membuat latar belakang menjadi kabur, sehingga terlihat seperti lukisan dan pemirsa lebih fokus melihat pada subjek utamanya. Selain itu dari komposisi, saya tidak memposisikan subjek di tengah foto</p>
</div>
<h3>OLAH FOTO</h3>
<p>Setelah di foto diambil, kita bisa memproses foto kita di Photoshop atau Lightroom. Karena fotojurnalisme, maka saya tidak memanipulasi foto. Yang saya lakukan biasanya adalah melakukan <em>fine tuning</em> warna, eksposur dan kroping. Kadang-kadang saya mengubah foto menjadi hitam putih bila saya merasa fotonya akan lebih enak dilihat.</p>
<p>Memang teknologi piranti lunak sangat hebat sekarang dan mudah sekali dilakukan, tapi yang paling penting tetap adalah saat pengambilan foto, jangan sepelekan itu dan jangan pernah terbersit pemikiran seperti &#8220;Ah nanti aja di betulin atau dipercantik di Photoshop atau piranti lunak pengolah foto lainnya. Juga, saya sarankan jangan terlalu asik mengolah foto (over processing) sehingga inti dari foto tersebut hilang atau berubah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2010/05/seni-di-dalam-fotojurnalisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana mendapatkan kritik yang membangun</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2010/05/bagaimana-mendapatkan-kritik-yang-membangun/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2010/05/bagaimana-mendapatkan-kritik-yang-membangun/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 May 2010 07:08:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=510</guid>
		<description><![CDATA[Kritik ada dua macam, ada yang membangun, ada juga yang menghancurkan. Waktu kita baru belajar foto, kritik penting, sehingga kita bisa belajar dan maju. Tapi kritik juga bisa menghancurkan.  Seringkali pemberi kritik juga bingung, apa yang harus diberikan.
Maka dari itu kita perlu  melakuan beberapa pekerjaan rumah:

Kita perlu tau apa yang kita ingin capai
Kita perlu tau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F05%2Fbagaimana-mendapatkan-kritik-yang-membangun%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F05%2Fbagaimana-mendapatkan-kritik-yang-membangun%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Kritik ada dua macam, ada yang membangun, ada juga yang menghancurkan. Waktu kita baru belajar foto, kritik penting, sehingga kita bisa belajar dan maju. Tapi kritik juga bisa menghancurkan.  Seringkali pemberi kritik juga bingung, apa yang harus diberikan.</p>
<p>Maka dari itu kita perlu  melakuan beberapa pekerjaan rumah:</p>
<ul>
<li>Kita perlu tau apa yang kita ingin capai</li>
<li>Kita perlu tau latar belakang pemberi kritik (kritikus), keahlian, aliran yang dianut dsb.</li>
<li>Kita perlu mempersiapkan foto-foto yang ingin di kritik</li>
<li>Kita perlu mendengarkan kritik dengan pikiran yang terbuka</li>
<li>Kita perlu belajar dari kritik tersebut dan memperbaiki kesalahan kita</li>
</ul>
<p>Bila kita suka foto potret fashion, maka meminta pendapat dari wartawan foto (fotojurnalis) tentunya kurang tepat. Fotografer fashion mementingkan keindahan, sedangkan fotojurnalis mementingkan otentisitas.</p>
<p>Bila Anda hobi foto fashion tapi meminta kritik dari seorang fotojurnalis, foto Anda akan disebut tidak alami dan dibuat-buat. Sebaliknya bila Anda suka fotojurnalisme, fashion fotografer akan mengatakan foto Anda seperti foto asal jepret.</p>
<p>Posting foto kita di flickr, facebook, dengan tujuan untuk mendapatkan kritik juga kurang tepat karena khalayak umum tidak tau menahu tentang jenis foto atau teknik yang Anda geluti. Seringkali saya malah geli melihat sesama kritikus malah berdebat kusir. Maka dari itu, manfaatkan situs jejaring sosial untuk mendapatkan teman, tapi bukan untuk mendapatkan kritik. Untuk mendapatkan kritik yang membangun, kita perlu persiapkan diri dan mencari kritikus yang sesuai.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2010/05/bagaimana-mendapatkan-kritik-yang-membangun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merangkul keterbatasan</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2010/05/merangkul-keterbatasan/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2010/05/merangkul-keterbatasan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 May 2010 05:59:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=507</guid>
		<description><![CDATA[Saya pertama kali mengetahui konsep ini dari buku Rework oleh 37 Signal, sebuah perusahaan software, dan saya rasa ada relevansinya dengan fotografi.
Konsepnya kurang lebih begini: &#8220;Keterbatasan adalah hal yang baik&#8221;
Sering kali kita mengeluh, bahwa peralatan fotografi kita kurang bagus. Cuma punya kamera saku atau kamera film yang sudah usang, lensa kita kurang lengkap, ga ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F05%2Fmerangkul-keterbatasan%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F05%2Fmerangkul-keterbatasan%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Saya pertama kali mengetahui <a href="http://gettingreal.37signals.com/ch03_Embrace_Constraints.php" target="_blank">konsep ini</a> dari buku Rework oleh 37 Signal, sebuah perusahaan software, dan saya rasa ada relevansinya dengan fotografi.</p>
<p>Konsepnya kurang lebih begini: &#8220;<em>Keterbatasan adalah hal yang baik</em>&#8221;</p>
<p>Sering kali kita mengeluh, bahwa peralatan fotografi kita kurang bagus. Cuma punya kamera saku atau kamera film yang sudah usang, lensa kita kurang lengkap, ga ada uang untuk pergi ke luar negeri, dan lain lain.</p>
<p>Bila dilihat dari sisi positifnya, keterbatasan bisa membuat kita berpikir<strong> lebih kreatif</strong>, dan malah ilmu fotografi kita bisa berkembang jauh lebih pesat.</p>
<p>Bayangkan bila kita memiliki banyak lensa dan kamera, belum apa-apa kita sudah bingung mau memilih apa yang harus dibawa. Akhirnya kita membawa semua peralatan fotografi kita tentunya dengan tas besar. Sampai di lokasi kita kecapean karena beban yang kita pikul.</p>
<p>Setelah itu, kita bingung, mau memilih kamera dan lensa apa yang harus digunakan. Akhirnya kita jadi stres, hasil foto gak maksimal, bahu rasanya mau copot.</p>
<p>Apabila sejak awal kita membatasi diri dengan hanya membawa satu kamera dan satu lensa saja (apapun lensanya), maka kita akan lebih menikmati hari kita dan juga foto kita tentu lebih banyak yang baik. Kita juga akan belajar lebih banyak karena keterbatasan kamera dan lensa yang kita bawa, memaksa kita harus lebih kreatif.</p>
<p>Lalu banyak juga yang mungkin merasa kecil hati karena tidak memiliki uang atau kesempatan untuk ke luar negeri untuk foto-foto. Foto pemandangan atau potret di luar negeri dianggap lebih bagus daripada dalam negeri atau dalam kota. Pemikiran semacam ini sebenarnya membuat kita kurang berkembang.</p>
<p>Saat kita ingin keluar negeri untuk foto-foto, orang asing malah sibuk ingin datang ke daerah kita. Mengapa kita gak membuat keterbatasan ini sebagai kesempatan untuk membuat foto yang lebih menarik di dekat tempat tinggal kita? Misalnya mencoba hal-hal kreatif seperti mengambil sudut pandang yang berbeda dari pada yang lain atau membuat foto panorama atau hitam putih.</p>
<p>Keterbatasan sering merupakan keuntungan yang terselubung. Di saat kita terlalu banyak pilihan, malah kita tidak boleh ragu membatasinya untuk mendapatkan hasil yang optimal.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2010/05/merangkul-keterbatasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gaya fotografi</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2010/03/gaya-fotografi/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2010/03/gaya-fotografi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Mar 2010 18:50:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=479</guid>
		<description><![CDATA[Ketika berbincang dengan fotografer yang lebih berpengalaman, sering sekali saya diberi nasihat untuk mencari gaya fotografi yang unik. Dulu ketika mendengarkan nasihat ini, saya bingung bagaimana cara mencari gaya tersebut. Tapi baru-baru ini saya baru mengerti bahwa mencari gaya yang unik itu tidak lain tidak bukan adalah menjadi diri sendiri atau istilah kerennya, be yourself.
Pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F03%2Fgaya-fotografi%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F03%2Fgaya-fotografi%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Ketika berbincang dengan fotografer yang lebih berpengalaman, sering sekali saya diberi nasihat untuk mencari gaya fotografi yang unik. Dulu ketika mendengarkan nasihat ini, saya bingung bagaimana cara mencari gaya tersebut. Tapi baru-baru ini saya baru mengerti bahwa mencari gaya yang unik itu tidak lain tidak bukan adalah<strong> menjadi diri sendiri</strong> atau istilah kerennya, <em>be yourself</em>.</p>
<p>Pada dasarnya, tiap manusia adalah mahkluk yang unik, kita dilahirkan dengan temperamen yang berbeda-beda, dan juga dibesarkan di lingkungan yang berbeda. Maka dari itu, apa yang kita sukai juga beda, termasuk di dalam fotografi.</p>
<p>Meski kelihatannya sederhana, tapi mencari keunikan diri sendiri cukup susah, karena kita banyak terpengaruh dengan lingkungan sekeliling kita. Maka itu, kita harus banyak mencoba bermacam-macam jenis fotografi, dari pemandangan, potret, pernikahaan, fashion, komersial/iklan, produk dan sebagainya.</p>
<p>Kita harus berani jujur dengan diri sendiri, misalnya dalam fotografi pernikahan, jangan-jangan karena sekarang yang populer gaya candid, maka kita memaksakan diri mengikuti gaya tersebut, sedangkan hati kecil kita lebih suka gaya pose tradisional. Demikian juga pengolahan foto misalnya HDR atau black and white.</p>
<p>Terkadang, kita menemukan tokoh fotografi baik jaman dahulu atau sekarang yang menginspirasi kita. Saya anjurkan untuk mempelajari filosofi dan teknik yang mereka gunakan. Yang saya tidak sarankan adalah menjiplak gayanya secara utuh, tapi sesuaikanlah dengan kepribadian Anda sendiri.</p>
<p>Dengan memiliki gaya yang unik, tentunya tidak akan semua orang suka, tapi Anda akan menarik sejumlah penggemar yang kuat dan setia, selain itu kesuksesan Anda dalam bidang fotografi akan lebih terbuka.</p>
<p>Contoh praktis untuk pemula untuk bereksplorasi:</p>
<ul>
<li>Selalu pakai lensa lebar, atau lensa telephoto</li>
<li>Selalu memakai bukaan f/4</li>
<li>Selalu foto hitam putih</li>
<li>Selalu foto dengan kamera saku atau ponsel</li>
<li>Selalu foto dengan gaya candid</li>
</ul>
<p>dan sebagainya..</p>
<p>Semoga sukses menemukan gaya yang paling cocok untuk Anda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2010/03/gaya-fotografi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seni dan ilmu dalam memilih alat fotografi</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2010/03/seni-dan-ilmu-memilih-alat-fotografi/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2010/03/seni-dan-ilmu-memilih-alat-fotografi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Mar 2010 21:01:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=471</guid>
		<description><![CDATA[Bingung memilih alat fotografi seperti kamera, lensa dan sebagainya? Anda tidak sendiri. Sebagai contoh, untuk membeli kamera saja banyak sekali pilihan. Memilih merek kamera saja tidak cukup, karena di dalam merek tersebut tersedia banyak model. Contohnya kamera saku Canon tidak kurang dari selusin modelnya, belum lagi kamera tahun-tahun sebelumnya.
Lalu adakah cara efektif yang bisa membantu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F03%2Fseni-dan-ilmu-memilih-alat-fotografi%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F03%2Fseni-dan-ilmu-memilih-alat-fotografi%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Bingung memilih alat fotografi seperti kamera, lensa dan sebagainya? Anda tidak sendiri. Sebagai contoh, untuk membeli kamera saja banyak sekali pilihan. Memilih merek kamera saja tidak cukup, karena di dalam merek tersebut tersedia banyak model. Contohnya kamera saku Canon tidak kurang dari selusin modelnya, belum lagi kamera tahun-tahun sebelumnya.</p>
<p>Lalu adakah cara efektif yang bisa membantu kita memilih alat yang kita inginkan? Sayangnya sayapun tidak punya cara yang jitu, tapi saya punya sedikit pedoman dalam membeli yang saya dapatkan dari bangku kuliah dan pengalaman pribadi.</p>
<h3>Ada tiga cara utama:</h3>
<ol>
<li>Membuat batasan</li>
<li>Menentukan best value</li>
<li>Bertanya kepada ahlinya</li>
</ol>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-474" title="bingung" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2010/03/bingung-212x300.jpg" alt="bingung" width="148" height="210" />Pertama-tama yang perlu dilakukan adalah menentukan batasan-batasan. Setiap kali kita menentukan batasan, otomatis sebagian pilihan kita gugur sehingga kita semakin dekat dengan pilihan kita.</p>
<p>Batasan favorit saya adalah <strong>harga</strong> atau berapa dana yang kita alokasikan untuk pembelian alat fotografi. Selanjutnya adalah <strong>fitur-fitur kamera yang dikehendaki</strong> misalnya bila Anda menghendaki kamera yang bisa dimasukkan ke kantong, maka otomatis kamera-kamera besar seperti DSLR tidak lagi masuk hitungan. Fitur lain yang populer terutama untuk kamera digital SLR yaitu fitur video, bodi kamera yang tahan cuaca, kecepatan dan keakuratan auto fokus dan lain-lain.</p>
<p>Bila Anda sangat baru dalam dunia ini dan tidak tahu menetapkan batasan, ada cara singkat, yaitu dengan cara<strong> best value (nilai terbaik)</strong> di tiap kategori. Biasanya alat fotografi ada kategori untuk pemula, menengah dan mahir. Cara untuk menentukan nilai terbaik adalah membandingkan fitur-fitur kamera di atas kertas, misalnya 18 mp lebih baik daripada 12 mp, 51 titik auto focus lebih baik daripada 9 dan seterusnya. Biasanya perbandingan antar kamera mudah di dapatkan di internet atau di majalah-majalah.</p>
<p>Kalau sudah frustasi dalam membuat keputusan sendiri, cara lain yaitu <strong>menanyakan kepada ahlinya</strong>. Orang yang ahli tentunya adalah orang yang berpengalaman dibidang fotografi. Tapi hati-hati dalam memilih ahli yang bisa kalian percaya.</p>
<h3>Hindari:</h3>
<ul>
<li>Fotografer atau teman yang memakai  atau pernah memakai alat fotografi dari satu jenis merek saja.</li>
<li>Penjual kamera yang akan mempromosikan barang dagangan yang mana dia bisa untung lebih besar.</li>
</ul>
<p>Cari ahli fotografi yang jujur tentang kekurangan dan kelebihan tentang alat fotografi, terutama yang telah pernah memakai alat tersebut.</p>
<p>Pada akhirnya apabila Anda merasa salah beli, jangan kecewa, yang terpenting adalah belajar dari kesalahan tersebut. Catat kelebihan dan kekurangan alat Anda untuk referensi kedepannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2010/03/seni-dan-ilmu-memilih-alat-fotografi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Foto apa yang bagus?</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2010/02/foto-apa-yang-bagus/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2010/02/foto-apa-yang-bagus/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 11:47:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=424</guid>
		<description><![CDATA[Kadang mungkin Anda bertanya, apa sih yang membuat sebuah foto itu bagus? ini pertanyaan yang sangat sulit dijawab. Setiap orang memiliki ide atau kriteria masing-masing dalam menilai apakah sebuah foto dianggap bagus atau jelek.
Pada dasarnya, foto dianggap baik apabila memiliki kualitas teknis yang baik, seperti apakah foto tersebut cahayanya baik, cukup terang atau tidak terlalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F02%2Ffoto-apa-yang-bagus%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F02%2Ffoto-apa-yang-bagus%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Kadang mungkin Anda bertanya, apa sih yang membuat sebuah foto itu bagus? ini pertanyaan yang sangat sulit dijawab. Setiap orang memiliki ide atau kriteria masing-masing dalam menilai apakah sebuah foto dianggap bagus atau jelek.</p>
<p>Pada dasarnya, foto dianggap baik apabila memiliki kualitas teknis yang baik, seperti apakah foto tersebut cahayanya baik, cukup terang atau tidak terlalu gelap, apakah subjek foto itu kabur atau tajam, apakah komposisi foto sesuai dengan situasi yang ada.</p>
<p>Tapi kualitas teknis jauh dari cukup, sebenarnya, kualitas teknik terkadang tidak sepenting hal-hal dibawah ini:</p>
<p><strong>Hubungan antara foto dan permirsa:</strong> Bila sebuah foto memiliki suatu ikatan atau hubungan antara seorang dengan yang lain, maka foto tersebut dianggap bagus. Misalnya, foto waktu kecil, atau foto pernikahan  menurut kebanyakan orang adalah foto yang bagus karena ada ikatan emosi antara pemirsa dan foto tersebut.</p>
<p><strong>Proses:</strong> Dalam mengambilan foto, kadang prosesnya yang membuat foto itu bermakna lebih dari foto itu sendiri. Contohnya foto perang di garis depan atau foto di tempat-tempat sulit seperti gunung Everest, foto dibulan dan sebagainya. Proses mendapatkan foto inilah yang lebih dihargai daripada teknis belaka.</p>
<p><strong>Emosi dan Aksi:</strong> Ada foto yang bisa membangkitkan emosi permirsa, dan juga membuat pemirsa ingin melakukan sesuatu. Foto jenis ini sering di dapati di koran-koran atau majalah, seperti foto korban bencana perang, alam dan lain-lain.</p>
<p>Dan mungkin masih banyak lagi yang lain yang termasuk kategori bagus. Menurut saya, kita tetap perlu belajar fotografi secara teknis, kemudian meningkatkannya dengan memperhatikan relevansinya terhadap pemirsa, proses dan kekuatan emosi yang terdapat dalam foto tersebut.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2010/02/foto-apa-yang-bagus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa mengajar fotografi?</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2010/02/mengapa-mengajar-fotografi/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2010/02/mengapa-mengajar-fotografi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 09:26:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[mengajar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=419</guid>
		<description><![CDATA[Saat ini, seiring dengan perkembangan fotografi digital dan sosial media (Facebook, Friendster, blog..) yang pesat, banyak sekali yang ingin belajar fotografi. Orang-orang memiliki tujuan yang berbeda-beda. Ada yang ingin belajar untuk keperluan pribadi, seperti foto acara keluarga dan anak, ada juga yang untuk hobi, dan sebagian lainnya untuk bekerja di bidang fotografi.
Lalu, bila Anda memiliki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F02%2Fmengapa-mengajar-fotografi%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F02%2Fmengapa-mengajar-fotografi%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Saat ini, seiring dengan perkembangan fotografi digital dan sosial media (Facebook, Friendster, blog..) yang pesat, banyak sekali yang ingin belajar fotografi. Orang-orang memiliki tujuan yang berbeda-beda. Ada yang ingin belajar untuk keperluan pribadi, seperti foto acara keluarga dan anak, ada juga yang untuk hobi, dan sebagian lainnya untuk bekerja di bidang fotografi.</p>
<p>Lalu, bila Anda memiliki pengetahuan dalam bidang fotografi, kenapa tidak Anda mengajar fotografi? Banyak yang enggan mengajarkan ilmunya karena beberapa faktor. Pertama, bila kita mengajarkan kepada orang lain, katakanlah teman, dan kalau dia menjadi lebih mahir dari kita, tentunya dinamika hubungan antara pertemanan tersebut akan berubah, kemungkinan Anda akan merasa cemburu. <span id="more-419"></span></p>
<p>Selain itu, kalau mengajarkan kepada orang yang ingin bekerja di bidang fotografi, dapat mengakibatkan Anda kehilangan pelanggan potenial karena meningkatnya persaingan.</p>
<p>Mengajar memiliki keuntungan juga, baik secara material atau batiniah. Secara materi, mengajar fotografi secara formal atau informal, bisa menghasilkan uang. Tidak lama ini, saya mendapatkan info bahwa enam pertemuan kursus fotografi dasar biayanya sekitar satu juta enam ratus ribu per orang. Mengingat kursus tersebut dibuka untuk grup, maka penghasilan guru fotografi sangat lumayan dibandingkan menjadi pegawai kantoran biasa.</p>
<p>Tidak kalah penting juga, mengajar fotografi baik di bayar maupun tidak, memiliki keuntungan lain yang jauh lebih besar pahalanya. Dengan mengajar, kita bisa lebih memahami fotografi. Dulu, kata guru saya, bila kamu bisa menjelaskan atau mengajarkan kepada teman bahan pelajaran ini maka itu tandanya kamu sudah memahami.</p>
<p>Selain itu, bila kita mengajar fotografi, otomatis kita akan didorong untuk mencari bahan-bahan fotografi sehingga meningkatkan ilmu kita sendiri.</p>
<p>Mengajar juga memberikan kepuasan batin. Dosen saya dulu berkata, ketika dia berusaha menjelaskan mahasiswa tentang konsep fotografi yang sulit, terkadang dia melihat mata mahasiswa bahwa mereka memahami konsep itu, dan itulah kepuasan batin seorang guru. Dia juga menambahkan bahwa pada akhirnya, kepuasan bukan ditentukan dari barang atau uang yang bisa direguk, tapi lebih ke kepuasan karena bisa membantu orang lain.</p>
<p>Pada akhirnya, kita mengajar atau tidak, orang-orang juga akan mencari ilmu di tempat lain, oleh sebab itu, mengajarlah, supaya pengetahuan dan pahala Anda terus bertambah.</p>
<blockquote><p>&#8220;To teach is to learn twice.&#8221; ~Joseph Joubert</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2010/02/mengapa-mengajar-fotografi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
