<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Info Fotografi &#187; Tips</title>
	<atom:link href="http://www.infofotografi.com/blog/category/tips/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.infofotografi.com/blog</link>
	<description>Mengulas segala hal yang berkaitan dengan fotografi digital</description>
	<lastBuildDate>Tue, 27 Jul 2010 05:55:11 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Etika Fotografer</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2010/06/etika-fotografer/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2010/06/etika-fotografer/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jun 2010 02:13:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Potret]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=569</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai makhluk sosial, sebagai fotografer, kita tidak luput dari hubungan manusia. Bila kita hobi foto potret, maka kita akan berhubungan langsung dengan modelnya. Kalaupun hobi kita foto pemandangan, tetap saja kita harus berhubungan dengan orang lain di lokasi  untuk mendapatkan informasi atau bantuan.
Maka dari itu masalah etika, adalah masalah yang penting. Namun topik ini biasanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F06%2Fetika-fotografer%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F06%2Fetika-fotografer%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Sebagai makhluk sosial, sebagai fotografer, kita tidak luput dari hubungan manusia. Bila kita hobi foto potret, maka kita akan berhubungan langsung dengan modelnya. Kalaupun hobi kita foto pemandangan, tetap saja kita harus berhubungan dengan orang lain di lokasi  untuk mendapatkan informasi atau bantuan.</p>
<p>Maka dari itu masalah etika, adalah masalah yang penting. Namun topik ini biasanya jarang di bahas, fotografer biasanya lebih tertarik membahas soal kamera, lensa, pencahayaan dan lain lain.</p>
<p>Maksud dari etika versi saya adalah bagaimana cara kita berhubungan antar manusia, antara fotografer dan model, antara fotografer dengan asisten, atau dengan masyarakat lokal. Dengan memiliki etika yang baik, fotografer tentunya diuntungkan dengan mendapatkan foto yang lebih berarti, enak dilihat dan alami. Orang-orang di sekitar kita pun akan lebih senang membantu kita.</p>
<p>Secara garis besar, memiliki etika yang baik berarti fotografer bersikap rendah hati, hormat terhadap orang lain, antusias dan baik hati. Dalam foto potret, misalnya, terutama bila modelnya wanita, kita menghormatinya dengan tidak menyentuh saat mengarahkan. Menyentuh model wanita sangat tidak sopan terutama di Asia dan membuat model tersebut menjadi tidak nyaman. Selain itu, hindari kebiasaan berbicara dengan nada memerintah  dan sering-seringlah memuji atau berterima kasih bila memang patut.</p>
<p>Saat foto potret, seringkali model kita tidak berpengalaman atau kaku di depan kamera. Hal ini wajar, dan bisa diatasi dengan banyak berkomunikasi dengan mereka. Banyaklah bertanya kepada mereka, tentang hal-hal yang berkaitan dengan mereka, misalnya bila ia seorang musisi, maka tanyakanlah tentang hal berbau musik, atau paling tidak hidup mereka secara umum. Hindari perbincangan tentang hal-hal negatif seperti perang, dan hindari topik SARA.</p>
<p>Seiring dengan waktu, dengan berkomunikasi dengan mereka, mereka akan merasa lebih nyaman. Saat berinteraksi dengan mereka, Anda bisa memperhatikan bahasa tubuh mereka, sehingga memiliki ide sudut pandang  dan pose yang terbaik untuk mengambil foto. Hasilnya adalah foto yang lebih alami dan lebih cocok dengan karakter mereka.</p>
<div id="attachment_571" class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px">
	<img class="size-full wp-image-571 " title="hana-erna" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2010/06/hana-erna1.jpg" alt="Dengan berkomunikasi dan berusaha mengenal keluarga multikultural ini, mereka menjadi nyaman akan kehadiran saya, alhasil saya bisa mengambil foto ini. Saya menyukai foto ini karena secara alami melukiskan cinta ibu terhadap anak dan kesibukan sang ayah di depan komputer" width="480" height="320" />
	<p class="wp-caption-text">Dengan berkomunikasi dan berusaha mengenal keluarga multikultural ini, mereka menjadi nyaman akan kehadiran saya, alhasil saya bisa mengambil foto ini. Saya menyukai foto ini karena secara alami melukiskan cinta ibu terhadap anak dan kesibukan sang ayah di depan komputer</p>
</div>
<p>Maka dari itu, untuk foto potret, saya lebih menyukai foto sendiri daripada foto bersama kelompok fotografer lainnya. Dengan kehadiran banyak fotografer atau asisten dengan peralatan-peralatan yang rumit, kesempatan untuk berkomunikasi dengan model menjadi hampir tidak ada. Malahan yang terjadi adalah model akan merasa semakin tidak nyaman dan ini akan tercermin pada raut muka dan bahasa tubuh mereka.</p>
<div id="attachment_574" class="wp-caption aligncenter" style="width: 486px">
	<img class="size-full wp-image-574 " title="Fashion shoot model" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2010/06/pwa2009-fashion-shoot-1.jpg" alt="Bayangkan bila Anda adalah modelnya, sangat tidak nyaman bukan? Seperti rusa muda yang siap diterkam serigala-serigala lapar" width="486" height="323" />
	<p class="wp-caption-text">Bayangkan bila Anda adalah modelnya, sangat tidak nyaman bukan? Seperti rusa muda yang siap diterkam serigala-serigala lapar dari segala penjuru, depan, bawah dan samping.</p>
</div>
<p>Singkatnya, perlakukan orang-orang sekitar seperti Anda ingin diperlakukan. Dengan demikian, fotografi Anda akan bisa lebih maju. Selamat mencoba.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2010/06/etika-fotografer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aspek teknis dalam fotografi</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2010/05/aspek-teknis-dalam-fotografi/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2010/05/aspek-teknis-dalam-fotografi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 10:11:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dasar Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=527</guid>
		<description><![CDATA[Yang sering menjadi kendala utama fotografer pemula adalah kendala teknis. Banyak yang tidak mengetahui dasar dan tidak mengenal kameranya dengan baik. Saya pikir ini penting sekali untuk diatasi sebelum melangkah lebih jauh. Dengan menguasai aspek teknis, kita bisa membuat foto yang kita inginkan.
EXPOSURE / PENCAHAYAAN
Inti fotografi adalah pencahayaan, maka itu sangat penting kita memahami hal ini. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F05%2Faspek-teknis-dalam-fotografi%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F05%2Faspek-teknis-dalam-fotografi%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Yang sering menjadi kendala utama fotografer pemula adalah kendala teknis. Banyak yang tidak mengetahui dasar dan tidak mengenal kameranya dengan baik. Saya pikir ini penting sekali untuk diatasi sebelum melangkah lebih jauh. Dengan menguasai aspek teknis, kita bisa membuat foto yang kita inginkan.</p>
<h3>EXPOSURE / PENCAHAYAAN</h3>
<p>Inti fotografi adalah pencahayaan, maka itu sangat penting kita memahami hal ini. Ada <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/07/segitiga-emas-fotografi/" target="_blank">tiga faktor utama</a> yang menentukan pencahayaan yaitu bukaan (aperture), kecepatan pemantik (shutter speed) dan sensitivitas sensor (ISO).</p>
<div id="attachment_546" class="wp-caption alignleft" style="width: 150px">
	<img class="size-thumbnail wp-image-546" title="scene-modes" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2010/05/scene-modes-150x150.jpg" alt="Jenis mode kamera yang bisa dipilih" width="150" height="150" />
	<p class="wp-caption-text">Jenis mode kamera yang bisa dipilih</p>
</div>
<p>Berkaitan erat dengan pencahayaan, pertanyaan yang sangat sering saya dapatkan adalah <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/07/mode-dalam-kamera-digital-slr/" target="_blank">mode kamera</a> apa yang saya harus pakai. Bagi yang memahami prinsip pencahayaan, tentunya lebih cenderung memakai Manual (M), Aperture Priority (A/Av) atau Shutter Priority (S/Tv).</p>
<p>Lalu bagaimana dengan Auto mode, atau Program (P) mode atau scene modes seperti landscape mode (yang gambarnya seperti gunung) atau portrait mode (yang gambar wajah orang dari samping)? Apakah boleh memakai mode itu? Boleh saja kalau belum memahami pencahayaan, tapi bila telah memahami, otomatis kita tidak butuh lagi mode-mode tersebut.</p>
<p>Saya sendiri menyukai <em>Aperture Priority</em>, karena saya bisa fokus dalam mengendalikan berapa kabur latar belakang foto.</p>
<p class="alert">Mempelajari pencahayaan ibaratnya seperti belajar mobil manual, berenang atau belajar naik sepeda. Pertama-tama rasanya susah sekali, tapi kalau sudah memahami dan disertai praktek yang teratur, segalanya akan menjadi lancar. Setelah memahami hal ini, hasil hasil foto-foto Anda akan lebih konsisten.</p>
<h3>EXPOSURE COMPENSATION / KOMPENSASI</h3>
<div id="attachment_530" class="wp-caption alignright" style="width: 210px">
	<img class="size-medium wp-image-530 " title="pencahayaan-berlebih-histogram" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2010/05/pencahayaan-berlebih-histogram-300x120.jpg" alt="Histogram: Kalau kurva berwarna hitamnya banyak menumpuk di sebelah kanan seperti ilustrasi di atas. Ini menandakan pencahayaannya terlalu berlebihan" width="210" height="84" />
	<p class="wp-caption-text">Histogram: Kalau kurva berwarna hitamnya banyak menumpuk di sebelah kanan seperti ilustrasi di atas. Ini menandakan pencahayaannya terlalu berlebihan</p>
</div>
<p>Masih berkaitan dengan pencahayaan, hal yang perlu diperhatikan terutama fotografi digital adalah menghindari pencahayaan berlebih sehingga foto menjadi terlalu terang karena akan banyak detail yang hilang dan tidak bisa dimunculkan kembali. Untuk mengecek apakah foto kita terlalu terang, kita bisa lihat di layar LCD atau histogram.</p>
<p>Selain itu seringkali bila pemandangan di depan kita lebih banyak warna gelapnya daripada terangnya, kamera sering salah menafsirkan, sehingga foto menjadi lebih terang. Untuk itu, kita bisa mengakalinya dengan mengunakan fungsi <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/11/kompensasi-eksposur/" target="_blank">kompensasi pencahayaan</a>.</p>
<p>Nilai kompensasi tergantung pemandangan, jenis pengukur cahaya /metering yang aktif  dan jenis kamera. Saran saya coba-coba saja sampai menemukan pencahayaan yang optimal.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px">
	<img class=" " src="http://enche.smugmug.com/Student-Events/Commencement-2010/DSC9909/878728640_Bt6fW-M.jpg" alt="Dalam foto ini, kompensasi pencahayaan diperlukan karena sebagian besar area di dalam foto berwarna gelap. Bila tidak, wajah akan terlalu terang dan jubah akan berwarna abu-abu. Data Teknis: Av mode, 200mm, f/4, 1/320 detik, ISO 200, EC -1" width="480" height="319" />
	<p class="wp-caption-text">Dalam foto ini, kompensasi pencahayaan diperlukan karena sebagian besar area di dalam foto berwarna gelap. Bila tidak, wajah akan terlalu terang dan jubah akan berwarna abu-abu. Data Teknis: Av mode, f/4, 1/320 detik, ISO 200, EC -1</p>
</div>
<h3>MENCEGAH FOTO KABUR / GOYANG</h3>
<p>Dua faktor foto kabur atau goyang adalah salah fokus atau shutter speed kurang tinggi. Untuk masalah auto fokus, jangan mengandalkan setting automatic focus, tapi pilihlah titik fokus tertentu. Bila subjek bergerak, maka gunakanlah <em>continuous AF</em> sehingga auto focus bisa mengikuti subjek.</p>
<p>Untuk memastikan fokusnya benar-benar telah terkunci, bisa dari suara &#8220;<em>beep</em>&#8221; atau lihat konfirmasi AF yang biasanya berbentuk bulatan atau kotak hijau di dalam jendela bidik / viewfinder.</p>
<p>Berkenaan dengan masalah shutter speed, untuk foto subjek yang bergerak, butuh shutter speed yang cukup tinggi. Contoh: minimal 1/125 untuk foto orang berjalan. Kalau lebih rendah, foto akan kabur. Di kondisi cahaya yang kurang baik, triknya adalah menaikkan nilai ISO, sehingga shutter speed tinggi bisa dicapai.</p>
<p>Untuk faktor kedua, saya pernah menulis artikel <em>Supaya foto tidak kabur</em> [<a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/08/supaya-foto-tidak-blur/" target="_blank">bagian 1</a> | <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2010/02/supaya-foto-tidak-blur-bagian-ii/" target="_blank">bagian 2</a>].</p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 200px">
	<img src="http://www.enchetjin.com/Dance/Bucknell-Dance-Company-Spring/20090422-DSC4029/528581826_DUmFY-S.jpg" alt="Foto #2" width="200" height="300" />
	<p class="wp-caption-text">Foto #2</p>
</div>
<p class="note">Keterangan Foto #2: Untuk membekukan foto penari, saya mengunakan setting AF-C (Nikon) / Ai Servo (Canon) supaya auto fokusnya tetap terkunci pada penari tersebut meski bergerak dengan cepat. Lalu saya juga mengunakan shutter speed yang cukup tinggi. Saya juga mengunakan kompensasi ekposur untuk mengkompensasikan latar belakang yang hitam pekat. <strong>Data Teknis</strong>: Aperture priority (Av) mode f/4, 1/200 detik, EC -1 1/3, AF-C, ISO 1250, 70mm.</p>
<h3>DEPTH OF FIELD / KEDALAMAN FOKUS</h3>
<p>Kedalaman fokus yang tipis membuat subjek lebih menonjol dan latar belakang menjadi blur sehingga berkesan artistik.</p>
<p>Untuk membuat efek seperti itu, saya pernah menulis artikel <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/10/faktor-yang-menyebabkan-latar-belakang-foto-menjadi-blur-kabur/" target="_blank">faktor-faktor yang menentukan latar belakang menjadi kabur.</a></p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px">
	<img class=" " src="http://enche.smugmug.com/Portraits/Oana-Peterca/Oana-face-modifiedpp/879562912_PYji3-M.jpg" alt="Di foto ini, saya mengunakan bukaan sangat besar, yaitu f/1.4 sehingga depth of field sangat tipis, latar belakang menjadi sangat mulus, bahkan sebagian besar rambut juga udah kabur. Selain itu, lensa yang saya pakai juga cukup tele. Data Teknis: f/1.4,  85mm, 1/1600 detik ISO 200 " width="480" height="319" />
	<p class="wp-caption-text">Di foto ini, saya mengunakan bukaan sangat besar, yaitu f/1.4 sehingga depth of field sangat tipis, latar belakang menjadi sangat mulus, bahkan sebagian besar rambut juga udah kabur. Selain itu, lensa yang saya pakai juga cukup tele. Data Teknis: f/1.4,  85mm, 1/1600 detik ISO 200 </p>
</div>
<h3>WHITE BALANCE</h3>
<div id="attachment_543" class="wp-caption alignleft" style="width: 178px">
	<img class="size-medium wp-image-543" title="wb-white-balance" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2010/05/wb-white-balance-222x300.jpg" alt="wb-white-balance" width="178" height="240" />
	<p class="wp-caption-text">Contoh beberapa preset White Balance</p>
</div>
<p>Tips terakhir untuk artikel ini adalah menentukan setting WB / White balance yang tepat dengan kondisi atau hasil yang ingin dicapai. Memang di setiap kamera biasanya telah ada AWB atau Auto White Balance, tapi sekali lagi, AWB sering kali tidak menerjemahkan kondisi lapangan dengan baik atau tidak memahami keinginan kita.</p>
<p>Misalnya bila kondisi cahaya di lapangan mendung, maka pilihlah WB cloudy (yang bergambar seperti awan). Kalau di bawah bayangan, pilih Shade dan seterusnya. Kalau di dalam ruangan yang lampunya kuning, maka pakailah WB tungsten (yang gambarnya seperti bola lampu).</p>
<p>Bila ingin foto terlihat lebih hangat (kekuningan/jingga), maka set WB ke cloudy atau shade. Bila ingin foto terlihat lebih dingin / kebiruan, maka pilihlah WB tungsten.</p>
<p>Untuk kamera yang canggih, kita bisa mengeset temperatur warna sendiri dalam derajat Kelvin. Makin rendah makin biru, makin tinggi makin kekuningan.</p>
<h3>PENUTUP</h3>
<p>Sebelum mengembangkan fotografi secara artistik, tentunya kita harus menguasai hal-hal teknis terlebih dahulu. Maka itu, kita benar-benar perlu sungguh-sungguh belajar dan berlatih.</p>
<p>Lalu saya perlu tekankan juga bahwa untuk menguasai hal-hal teknis, tidak diperlukan kamera atau lensa yang canggih yang mahal. Asal kameranya punya fungsi Manual dan semi otomatis seperti Aperture priority atau Shutter priority, maka Anda bisa mempraktekkan prinsip-prinsip fotografi diatas.</p>
<p>Banyak juga yang di bahas di artikel ini, semoga bisa dipahami dan selamat berlatih.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2010/05/aspek-teknis-dalam-fotografi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seni di dalam fotojurnalisme</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2010/05/seni-di-dalam-fotojurnalisme/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2010/05/seni-di-dalam-fotojurnalisme/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 05:51:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dasar Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[fotojurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[komposisi]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=518</guid>
		<description><![CDATA[Biasanya fotojurnalisme, atau sering disebut juga foto liputan, reportase, membosankan dan tidak ada seninya. Pendapatan wartawan foto juga termasuk rendah terutama dibandingkan dengan foto komersil atau potret. Dalam dekade terakhir, ada upaya untuk menyegarkan foto liputan, yaitu dengan mengkombinasikan seni ke dalam foto liputan.  Saya sendiri menyambut positif elemen artistik ke dalam fotojurnalisme. Elemen ini membuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F05%2Fseni-di-dalam-fotojurnalisme%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F05%2Fseni-di-dalam-fotojurnalisme%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Biasanya <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/07/fotojurnalism/" target="_blank">fotojurnalisme</a>, atau sering disebut juga foto liputan, reportase, membosankan dan tidak ada seninya. <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2010/01/fotografer-pekerjaan-profesi/" target="_blank">Pendapatan wartawan foto</a> juga termasuk rendah terutama dibandingkan dengan foto komersil atau potret. Dalam dekade terakhir, ada upaya untuk menyegarkan foto liputan, yaitu dengan mengkombinasikan seni ke dalam foto liputan.  Saya sendiri menyambut positif elemen artistik ke dalam fotojurnalisme. Elemen ini membuat foto menjadi lebih menarik untuk dinikmati.</p>
<p>Lalu, bagaimana caranya membuat fotojurnalisme menjadi lebih artistik?</p>
<h3>KOMPOSISI</h3>
<p>Saya pikir komposisi adalah poin yang <strong>sangat penting</strong> untuk membuat foto menjadi lebih artistik, tidak terkecuali dalam foto liputan. Banyak <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/12/komposisi-perspektif/" target="_blank">prinsip komposisi</a> yang ada dan bisa dicoba-coba. Tantangannya adalah jenis komposisi yang mana yang sesuai dengan apa yang ada di depan kita.</p>
<p>Salah satu prinsip dasar yang paling banyak digunakan adalah <em>Rule of Thirds</em>, yaitu menempatkan subjek utama 1/3 dari badan foto, daripada memposisikan subjek di tengah-tengah badan foto.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px">
	<img class=" " title="Komposisi rule of thirds" src="http://enche.smugmug.com/Student-Events/Commencement-2010/DSC9909/878728640_Bt6fW-M.jpg" alt="Dengan menempatkan subjek foto gak sebelah kanan (bukan ditengah), foto terlihat lebih dinamis" width="480" height="319" />
	<p class="wp-caption-text">Dengan menempatkan subjek foto gak sebelah kanan (bukan ditengah), foto terlihat lebih dinamis</p>
</div>
<p>Lalu saya juga suka mencari pola dalam foto, yaitu bentuk yang berulang-ulang seperti kain batik.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px">
	<img class=" " title="Komposisi Pola" src="http://enche.smugmug.com/Student-Events/Commencement-2010/DSC0134/878730815_igCxY-M.jpg" alt="Contoh komposisi pola: Di sini, saya menangkap tiga orang nenek-nenek sedang tersenyum saat mendengarkan ceramah" width="480" height="319" />
	<p class="wp-caption-text">Contoh komposisi pola: Di sini, saya menangkap tiga orang nenek-nenek sedang tersenyum saat mendengarkan ceramah</p>
</div>
<p>Kita juga bisa &#8220;break down&#8221; (membongkar) suatu pemandangan ke elemen-elemen dasar grafis seperti garis, segitiga, persegi panjang, lingkaran dan lain-lain.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px">
	<img class="  " title="Komposisi bentuk segitiga" src="http://enche.smugmug.com/Student-Events/Commencement-2010/DSC0416/878726634_wYYNh-M.jpg" alt="Komposisi dalam foto diatas memiliki bentuk segitiga" width="480" height="319" />
	<p class="wp-caption-text">Komposisi dalam foto diatas memiliki bentuk segitiga. Saya juga menerapkan prinsip rule of thirds</p>
</div>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px">
	<img class=" " title="Komposisi garis dan perspektif" src="http://enche.smugmug.com/Student-Events/Commencement-2010/DSC9965/878730213_Q8t8D-M.jpg" alt="Kombinasi komposisi garis dan perspektif (Saat membuat foto ini, saya jongkok sehingga sudut pandang lebih menarik daripada bila saya berdiri)" width="480" height="319" />
	<p class="wp-caption-text">Kombinasi komposisi garis dan perspektif (Saat membuat foto ini, saya jongkok sehingga sudut pandang lebih menarik daripada bila saya berdiri). Foto juga terlihat lebih tiga dimensi karena saya mengunakan lensa lebar</p>
</div>
<p>Selain itu, kita bisa mengubah perspektif / sudut pandang kita, misalnya naik ke tempat yang lebih tinggi, atau jongkok dan tiarap. <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2010/04/mengapa-saya-menyukai-lensa-lebar/" target="_blank">Mengunakan lensa lebar</a> juga bisa membuat sudut pandang yang lebih menarik.</p>
<h3>MINIMALISTIK</h3>
<p>Untuk membuat foto Anda keliatan lebih nyeni lagi, Anda bisa mencoba <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/10/faktor-yang-menyebabkan-latar-belakang-foto-menjadi-blur-kabur/" target="_blank">membuat latar belakang menjadi kabur</a>. Dengan demikian, subjek Anda akan lebih menonjol dan latar belakang menjadi seperti efek lukisan.</p>
<p>Untuk membuat foto menjadi benar-benar minimalistik, kita harus benar-benar memperhatikan latar belakang, cari latar belakang yang polos dan tidak rumit, sehingga saat di blur dengan setting aperture/bukaan besar, latar belakang benar-benar mulus sehingga tidak mengganggu perhatian pemirsa akan subjek utama.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px">
	<img class=" " title="Minimalistik" src="http://enche.smugmug.com/Student-Events/Commencement-2010/DSC0041-3/878816281_zfkz8-M.jpg" alt="Saya mencoba membuat foto ini seminimal mungkin dengan membuat latar belakang menjadi kabur, sehingga terlihat seperti lukisan dan pemirsa lebih fokus melihat pada subjek utamanya. Selain itu dari komposisi, saya tidak memposisikan subjek di tengah foto" width="480" height="270" />
	<p class="wp-caption-text">Saya mencoba membuat foto ini seminimal mungkin dengan membuat latar belakang menjadi kabur, sehingga terlihat seperti lukisan dan pemirsa lebih fokus melihat pada subjek utamanya. Selain itu dari komposisi, saya tidak memposisikan subjek di tengah foto</p>
</div>
<h3>OLAH FOTO</h3>
<p>Setelah di foto diambil, kita bisa memproses foto kita di Photoshop atau Lightroom. Karena fotojurnalisme, maka saya tidak memanipulasi foto. Yang saya lakukan biasanya adalah melakukan <em>fine tuning</em> warna, eksposur dan kroping. Kadang-kadang saya mengubah foto menjadi hitam putih bila saya merasa fotonya akan lebih enak dilihat.</p>
<p>Memang teknologi piranti lunak sangat hebat sekarang dan mudah sekali dilakukan, tapi yang paling penting tetap adalah saat pengambilan foto, jangan sepelekan itu dan jangan pernah terbersit pemikiran seperti &#8220;Ah nanti aja di betulin atau dipercantik di Photoshop atau piranti lunak pengolah foto lainnya. Juga, saya sarankan jangan terlalu asik mengolah foto (over processing) sehingga inti dari foto tersebut hilang atau berubah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2010/05/seni-di-dalam-fotojurnalisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seni dan ilmu dalam memilih alat fotografi</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2010/03/seni-dan-ilmu-memilih-alat-fotografi/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2010/03/seni-dan-ilmu-memilih-alat-fotografi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Mar 2010 21:01:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=471</guid>
		<description><![CDATA[Bingung memilih alat fotografi seperti kamera, lensa dan sebagainya? Anda tidak sendiri. Sebagai contoh, untuk membeli kamera saja banyak sekali pilihan. Memilih merek kamera saja tidak cukup, karena di dalam merek tersebut tersedia banyak model. Contohnya kamera saku Canon tidak kurang dari selusin modelnya, belum lagi kamera tahun-tahun sebelumnya.
Lalu adakah cara efektif yang bisa membantu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F03%2Fseni-dan-ilmu-memilih-alat-fotografi%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F03%2Fseni-dan-ilmu-memilih-alat-fotografi%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Bingung memilih alat fotografi seperti kamera, lensa dan sebagainya? Anda tidak sendiri. Sebagai contoh, untuk membeli kamera saja banyak sekali pilihan. Memilih merek kamera saja tidak cukup, karena di dalam merek tersebut tersedia banyak model. Contohnya kamera saku Canon tidak kurang dari selusin modelnya, belum lagi kamera tahun-tahun sebelumnya.</p>
<p>Lalu adakah cara efektif yang bisa membantu kita memilih alat yang kita inginkan? Sayangnya sayapun tidak punya cara yang jitu, tapi saya punya sedikit pedoman dalam membeli yang saya dapatkan dari bangku kuliah dan pengalaman pribadi.</p>
<h3>Ada tiga cara utama:</h3>
<ol>
<li>Membuat batasan</li>
<li>Menentukan best value</li>
<li>Bertanya kepada ahlinya</li>
</ol>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-474" title="bingung" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2010/03/bingung-212x300.jpg" alt="bingung" width="148" height="210" />Pertama-tama yang perlu dilakukan adalah menentukan batasan-batasan. Setiap kali kita menentukan batasan, otomatis sebagian pilihan kita gugur sehingga kita semakin dekat dengan pilihan kita.</p>
<p>Batasan favorit saya adalah <strong>harga</strong> atau berapa dana yang kita alokasikan untuk pembelian alat fotografi. Selanjutnya adalah <strong>fitur-fitur kamera yang dikehendaki</strong> misalnya bila Anda menghendaki kamera yang bisa dimasukkan ke kantong, maka otomatis kamera-kamera besar seperti DSLR tidak lagi masuk hitungan. Fitur lain yang populer terutama untuk kamera digital SLR yaitu fitur video, bodi kamera yang tahan cuaca, kecepatan dan keakuratan auto fokus dan lain-lain.</p>
<p>Bila Anda sangat baru dalam dunia ini dan tidak tahu menetapkan batasan, ada cara singkat, yaitu dengan cara<strong> best value (nilai terbaik)</strong> di tiap kategori. Biasanya alat fotografi ada kategori untuk pemula, menengah dan mahir. Cara untuk menentukan nilai terbaik adalah membandingkan fitur-fitur kamera di atas kertas, misalnya 18 mp lebih baik daripada 12 mp, 51 titik auto focus lebih baik daripada 9 dan seterusnya. Biasanya perbandingan antar kamera mudah di dapatkan di internet atau di majalah-majalah.</p>
<p>Kalau sudah frustasi dalam membuat keputusan sendiri, cara lain yaitu <strong>menanyakan kepada ahlinya</strong>. Orang yang ahli tentunya adalah orang yang berpengalaman dibidang fotografi. Tapi hati-hati dalam memilih ahli yang bisa kalian percaya.</p>
<h3>Hindari:</h3>
<ul>
<li>Fotografer atau teman yang memakai  atau pernah memakai alat fotografi dari satu jenis merek saja.</li>
<li>Penjual kamera yang akan mempromosikan barang dagangan yang mana dia bisa untung lebih besar.</li>
</ul>
<p>Cari ahli fotografi yang jujur tentang kekurangan dan kelebihan tentang alat fotografi, terutama yang telah pernah memakai alat tersebut.</p>
<p>Pada akhirnya apabila Anda merasa salah beli, jangan kecewa, yang terpenting adalah belajar dari kesalahan tersebut. Catat kelebihan dan kekurangan alat Anda untuk referensi kedepannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2010/03/seni-dan-ilmu-memilih-alat-fotografi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips menyusun portofolio fotografi</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2010/02/tips-menyusun-portofolio-fotografi/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2010/02/tips-menyusun-portofolio-fotografi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 09:14:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[portofolio]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=442</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa bulan yang lalu, saya mendapatkan pertanyaan, bagaimana cara menyusun portofolio fotografi, dan hari ini saya ingin membahasnya lebih terperinci.
Portofolio seharusnya adalah representasi dari karya terbaik Anda. Portofolio pada umumnya berisi foto-foto yang paling disukai dan menggambarkan jenis dan gaya fotografi Anda dengan jelas.
Portfolio tidak perlu berisi banyak foto. Bila terlalu banyak, apalagi tercampur dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F02%2Ftips-menyusun-portofolio-fotografi%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F02%2Ftips-menyusun-portofolio-fotografi%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Beberapa bulan yang lalu, saya mendapatkan pertanyaan, bagaimana cara menyusun portofolio fotografi, dan hari ini saya ingin membahasnya lebih terperinci.</p>
<p>Portofolio seharusnya adalah representasi dari karya terbaik Anda. Portofolio pada umumnya berisi foto-foto yang paling disukai dan menggambarkan jenis dan gaya fotografi Anda dengan jelas.</p>
<p>Portfolio tidak perlu berisi banyak foto. Bila terlalu banyak, apalagi tercampur dengan foto-foto yang biasa-biasa saja, calon klien, bos atau sekolah akan menganggap karya Anda tidak konsisten dan merupakan fotografer biasa-biasa saja. Selain itu semakin banyak foto semakin besar kemungkinan gagal dalam meninggalkan kesan yang mendalam. Oleh sebab itu, portfolio yang baik cukup berisi kurang lebih 12-30 foto. <span id="more-442"></span></p>
<p>Foto-foto yang ditampilkan juga sebaiknya merupakan jenis foto yang Anda paling sukai, contohnya bila Anda menyukai foto model atau potret, maka portfolio Anda seharusnya adalah foto potret bukan foto satwa atau foto lain lainnya.</p>
<p>Apabila Anda memang memiliki minat lebih dari satu jenis fotografi, dan Anda sangat mahir di keduanya, misalnya foto pernikahan dan foto model, maka siapkan dua kategori portofolio, jangan dicampur aduk.</p>
<p>Saat sekarang ini, meskipun banyak fotografer menampilkan portfolionya lewat website berupa galeri foto atau slideshow, portfolio yang berisi foto yang dicetak tetap lebih baik.  Website cukup berguna, tapi jangan hanya mengandalkan website saja.</p>
<p>Kualitas cetak dan kemasan portofolio Anda juga harus di perhatikan. Cetaklah foto dengan kualitas kertas yang baik, jangan mengandalkan printer pribadi atau lab foto yang biasa mencetak foto untuk umum. Carilah lab foto berkualitas profesional yang bisa dipercaya. Lalu jangan pula asal memasukkan foto-foto ke dalam map. Tapi bikin kemasan yang kreatif dan sesuai dengan visi Anda. Bila Anda tidak menghargai karya Anda sendiri, bagaimana mengharapkan orang lain untuk menghargai karya Anda.</p>
<p>Kemasan portofolio Anda akan memberikan suatu sinyal penting berapa tingkat kreatifitas dan tingkat perhatian Anda terhadap detil. Bila Anda menemui kesulitan, Anda bisa meminta bantuan desainer komunikasi visual / grafis untuk membantu Anda.</p>
<p>Demikian tips tips saya tentang cara menyusun portofolio, semoga bermanfaat.</p>
<p>Situs yang berguna:</p>
<p><a href="http://blog.noplasticsleeves.com/" target="_blank">No Plastic Sleeves</a>: Ide-ide menyusun kemasan portfolio</p>
<p><a href="http://www.photoshelter.com/" target="_blank">Photo Shelter</a> : webhosting dan foto galeri siap pakai.</p>
<p>Contoh:<br />
<object width="560" height="340"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/9XDxCCifMY8&#038;hl=en_US&#038;fs=1&#038;"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/9XDxCCifMY8&#038;hl=en_US&#038;fs=1&#038;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="560" height="340"></embed></object></p>
<p>and</p>
<p><object width="560" height="340"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/xyxeie8aqE8&#038;hl=en_US&#038;fs=1&#038;"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/xyxeie8aqE8&#038;hl=en_US&#038;fs=1&#038;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="560" height="340"></embed></object></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2010/02/tips-menyusun-portofolio-fotografi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips buat pemakai kamera saku &#8211; gunakan self timer</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2010/02/tips-buat-pemakai-kamera-saku-gunakan-self-timer/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2010/02/tips-buat-pemakai-kamera-saku-gunakan-self-timer/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 01:45:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kamera]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[kamera saku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=434</guid>
		<description><![CDATA[Ada tips kecil dari saya hari ini untuk pemakai kamera saku, terutama yang berukuran kecil. Seringkali bila kita memotret di ruangan yang agak gelap, gambar yang kita hasilkan banyak yang kabur.
Salah satu penyebab utamanya adalah sewaktu kita menekan tombol shutter untuk mengambil gambar, tidak terasa tangan kita membuat kamera tersebut bergoyang, karena itulah gambar kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F02%2Ftips-buat-pemakai-kamera-saku-gunakan-self-timer%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F02%2Ftips-buat-pemakai-kamera-saku-gunakan-self-timer%2F" height="61" width="51" /></a></div><p><img class="alignright size-medium wp-image-435" title="self-timer" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2010/02/self-timer-291x300.jpg" alt="self-timer" width="175" height="180" />Ada tips kecil dari saya hari ini untuk pemakai kamera saku, terutama yang berukuran kecil. Seringkali bila kita memotret di ruangan yang agak gelap, gambar yang kita hasilkan banyak yang kabur.</p>
<p>Salah satu penyebab utamanya adalah sewaktu kita menekan tombol shutter untuk mengambil gambar, tidak terasa tangan kita membuat kamera tersebut bergoyang, karena itulah gambar kita bisa jadi kabur. Hal ini menjadi lebih parah apabila kamera Anda kecil dan tipis. Untuk itu maka saya sarankan mengunakan self timer.</p>
<p>Self timer adalah fungsi dimana kamera mengambil gambar otomatis setelah kita menekan tombol shutter. Kita bisa menentukan jeda waktunya selama dua atau sepuluh detik. Biasanya fungsi ini digunakan untuk foto grup, tapi bisa digunakan juga untuk foto biasa. Dengan mengunakan self timer, maka kamera lebih stabil saat gambar diambil. Semoga membantu!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2010/02/tips-buat-pemakai-kamera-saku-gunakan-self-timer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ingin kelihatan seperti fotografer profesional ?</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2010/01/ingin-kelihatan-seperti-fotografer-profesional/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2010/01/ingin-kelihatan-seperti-fotografer-profesional/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 00:50:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain lain]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=400</guid>
		<description><![CDATA[Terkadang saya suka heran mengapa banyak fotografer amatir atau bahkan pemula ingin terlihat seperti fotografer profesional. Saya sendiri lebih suka tampil low profile atau sesuai dengan keadaan, misalnya kalau di acara pernikahaan, saya akan pakai jas dan celana sopan, bila memotret acara kampus, saya akan pakai baju biasa seperti mahasiswa lainnya. Tujuannya biar tidak banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F01%2Fingin-kelihatan-seperti-fotografer-profesional%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F01%2Fingin-kelihatan-seperti-fotografer-profesional%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Terkadang saya suka heran mengapa banyak fotografer amatir atau bahkan pemula ingin terlihat seperti fotografer profesional. Saya sendiri lebih suka tampil <em>low profile</em> atau sesuai dengan keadaan, misalnya kalau di acara pernikahaan, saya akan pakai jas dan celana sopan, bila memotret acara kampus, saya akan pakai baju biasa seperti mahasiswa lainnya. Tujuannya biar tidak banyak mata menuju pada saya sehingga orang disekitar saya tidak melulu memperhatikan saya atau terganggu karena kehadiran saya.</p>
<p>Tapi mungkin Anda berpendapat lain. Mungkin Anda ingin tampil beda atau ingin dikenali sebagai fotografer pro sehingga orang segan pada Anda atau untuk menarik orang untuk menjadi klien Anda. Oleh sebab itu, ada beberapa saran supaya Anda terlihat seperti fotografer profesional.</p>
<ul>
<li>Pakai kamera yang besar lalu pasang battery grip dibawahnya sehingga kamera terlihat lebih besar. Kalau perlu bawa dua kamera atau lebih.</li>
<li>Pakai lensa telephoto zoom yang panjang, lalu sering keker-keker dan mainkan zoom atau fokusnya.</li>
<li>Pakai jas khusus fotografer yang berkantong banyak.</li>
<li>Bawa tripod yang besar dan panjang</li>
<li>Bawa buku catatan kecil dan pena, kemudian kadang-kadang mencatat-catat sesuatu. Ini akan membuat orang berpikir, wah serius juga fotografernya.</li>
</ul>
<p>Dengan mempraktekkan ide-ide diatas ini, semoga Anda terlihat lebih profesional, tapi jangan sampai overdosis seperti dibawah ini:<br />
<span id="more-400"></span></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-401" title="fotografer-kamera-banyak" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2010/01/fotografer-kamera-banyak.jpg" alt="fotografer-kamera-banyak" width="450" height="676" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2010/01/ingin-kelihatan-seperti-fotografer-profesional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tas kamera yang tidak mengundang maling</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2010/01/tas-kamera-yang-tidak-mengundang-maling/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2010/01/tas-kamera-yang-tidak-mengundang-maling/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 20:30:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain lain]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[tas kamera]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=394</guid>
		<description><![CDATA[Banyak tas kamera yang beredar di pasaran berbentuk seperti &#8230; tas kamera.. kotak, tebal dan kaku. Oleh sebab itu, tas kamera gampang di kenali oleh maling. Bagi yang sering jalan-jalan baik di kota maupun pedalaman, tentunya lebih berbahaya mengunakan tas kamera seperti itu.
Salah satu alternatif adalah dengan mengunakan tas biasa. Kamera dan lensa tentu saja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F01%2Ftas-kamera-yang-tidak-mengundang-maling%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F01%2Ftas-kamera-yang-tidak-mengundang-maling%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Banyak tas kamera yang beredar di pasaran berbentuk seperti &#8230; tas kamera.. kotak, tebal dan kaku. Oleh sebab itu, tas kamera gampang di kenali oleh maling. Bagi yang sering jalan-jalan baik di kota maupun pedalaman, tentunya lebih berbahaya mengunakan tas kamera seperti itu.</p>
<p>Salah satu alternatif adalah dengan mengunakan tas biasa. Kamera dan lensa tentu saja harus tetap dilindungi, yaitu dengan sempak kamera dan lensa (camera holster).</p>
<p><img class="size-full wp-image-395 aligncenter" title="sempak-kamera-lensa" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2010/01/sempak-kamera-lensa.jpg" alt="sempak-kamera-lensa" width="280" height="195" /></p>
<p>Untuk aksesoris dan lensa tambahan, Anda bisa memasukkannya ke dalam kantung spesial untuk lensa maupun aksesoris. Tergantung lensa apa yang Anda beli, sebagian lensa sudah datang dengan kantung lensa sendiri, sehingga tidak perlu membeli lagi.</p>
<p>Dengan demikian, maka alat Anda terlindung, tapi juga tidak menarik perhatian maling, selain itu tas Anda akan bisa diisi lebih banyak barang, karena tidak dibatasi oleh lapisan busa yang terdapat di tas kamera.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2010/01/tas-kamera-yang-tidak-mengundang-maling/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terlalu banyak informasi</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2010/01/terlalu-banyak-informasi/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2010/01/terlalu-banyak-informasi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2010 17:01:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=378</guid>
		<description><![CDATA[Biasanya, foto menjadi kurang baik apabila kita memasukkan terlalu banyak informasi ke dalamnya, entah itu latar belakang yang terlalu sibuk atau hal-hal mengganggu lainnya. Sebelum mengambil foto, pertimbangkan untuk mengkomposisikan foto lebih ketat dengan bergerak lebih dekat atau mengunakan lensa panjang atau zoom.
- Kutipan dari buku The Perfect Portrait Guide
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F01%2Fterlalu-banyak-informasi%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F01%2Fterlalu-banyak-informasi%2F" height="61" width="51" /></a></div><blockquote><p>Biasanya, foto menjadi kurang baik apabila kita memasukkan terlalu banyak informasi ke dalamnya, entah itu latar belakang yang terlalu sibuk atau hal-hal mengganggu lainnya. Sebelum mengambil foto, pertimbangkan untuk mengkomposisikan foto lebih ketat dengan bergerak lebih dekat atau mengunakan lensa panjang atau zoom.</p></blockquote>
<p>- Kutipan dari buku <a href="One of the most common causes of photographs lacking impact is that too much information has been included in the image. Before making your exposure it is wise to first consider whether you would frame the image more tightly, by moving closer to your subject or by using a longer lens." target="_blank">The Perfect Portrait Guide</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2010/01/terlalu-banyak-informasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
