<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Info Fotografi &#187; Tips</title>
	<atom:link href="http://www.infofotografi.com/blog/category/tips/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.infofotografi.com/blog</link>
	<description>Mengulas segala hal yang berkaitan dengan fotografi digital</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 11:33:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Tips mengganti lensa kamera dengan cepat</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2012/02/tips-mengganti-lensa-kamera-cepat/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2012/02/tips-mengganti-lensa-kamera-cepat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 11:33:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lensa]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=2245</guid>
		<description><![CDATA[Peminat serius fotografi biasanya memiliki lebih dari satu lensa. Nah, biasanya, banyak orang tidak menyukai mengganti-ganti lensa karena merepotkan dan cukup makan waktu bagi yang belum terlalu berpengalaman. Maka itu saya ingin berbagi tips saya dalam mengganti lensa dengan cepat dan aman.
1. Jika sering mengganti lensa, sebaiknya menggunakan tas kamera selempang atau tas khusus lensa. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2012%2F02%2Ftips-mengganti-lensa-kamera-cepat%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2012%2F02%2Ftips-mengganti-lensa-kamera-cepat%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Peminat serius fotografi biasanya memiliki lebih dari satu lensa. Nah, biasanya, banyak orang tidak menyukai mengganti-ganti lensa karena merepotkan dan cukup makan waktu bagi yang belum terlalu berpengalaman. Maka itu saya ingin berbagi tips saya dalam mengganti lensa dengan cepat dan aman.</p>
<p>1. Jika sering mengganti lensa, sebaiknya menggunakan tas kamera selempang atau tas khusus lensa. Lensa yang disimpan harus mudah dijangkau. Sulit untuk mengganti lensa jika tas yang digunakan bertipe ransel atau memiliki penutup berlapis-lapis.</p>
<p>2. Penutup lensa baik yang depan dan belakang sebaiknya dibuka supaya tidak menghabiskan waktu saat membuka kedua penutup sehingga penggantian lensa lebih cepat. Memang ada resikonya yaitu debu bisa lebih mudah menempel di lensa. Tapi tidak perlu terlalu kuatir jika tas kita ada penutupnya.</p>
<div id="attachment_2246" class="wp-caption aligncenter" style="width: 300px">
	<img class="size-medium wp-image-2246" title="shootsac" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2012/02/shootsac-300x199.jpg" alt="Shootsac, salah satu merek tas khusus lensa dan aksesoris" width="300" height="199" />
	<p class="wp-caption-text">Shootsac, salah satu merek tas khusus lensa dan aksesoris</p>
</div>
<p>3. Pastikan kamera sedang pada posisi OFF. Jika tidak, sensor dapat menarik debu saat lensa terbuka.</p>
<p>4. Saat menukar lensa, pastikan kamera mengarah ke bawah supaya debu tidak mudah masuk ke sensor.</p>
<p>5. Hindari tempat yang sangat kotor atau sangat berdebu saat mengganti lensa</p>
<p>6. Diperlukan banyak latihan untuk dapat mengganti lensa kamera dengan cepat. Semakin banyak latihan, semakin mudah dan lancar penggantian lensa.</p>
<p>Selamat berlatih!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2012/02/tips-mengganti-lensa-kamera-cepat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menangkap gesture</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2012/01/menangkap-gesture/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2012/01/menangkap-gesture/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 07:13:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[bride]]></category>
		<category><![CDATA[wedding]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=2180</guid>
		<description><![CDATA[Foto dibawah saya buat saat saya mengadakan pelatihan wedding tahun lalu. Foto ini menarik bagi saya karena &#8220;gesture&#8221; (sikap dan posisi tangan dan jari dari pengantin wanita yang disilangkan sedemikian rupa dengan jari-jari yang menekan pahanya.
Gesture ini menceritakan kegelisahan untuk menghadapi hari pernikahaan dan juga perasaan yang tidak begitu nyaman dikelilingi oleh banyak orang (fotografer, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2012%2F01%2Fmenangkap-gesture%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2012%2F01%2Fmenangkap-gesture%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Foto dibawah saya buat saat saya mengadakan pelatihan wedding tahun lalu. Foto ini menarik bagi saya karena &#8220;gesture&#8221; (sikap dan posisi tangan dan jari dari pengantin wanita yang disilangkan sedemikian rupa dengan jari-jari yang menekan pahanya.</p>
<p>Gesture ini menceritakan kegelisahan untuk menghadapi hari pernikahaan dan juga perasaan yang tidak begitu nyaman dikelilingi oleh banyak orang (fotografer, kameramen video, pengantin lainnya, make up artist, hair stylist dsb). Ruangannya salon bridal ini cukup luas sebenarnya, tapi karena hari itu sangat ramai, maka suasananya kurang enak bagi pengantin ini.</p>
<p>Menangkap <em>gesture</em> semacam ini saya rasa menarik karena meskipun tidak ada wajah pengantin atau orang-orangnya tapi dari bahasa tubuhnya kita bisa setidaknya merasakan apa yang dirasakan oleh pengantin tersebut.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-2181" title="Pengantin wanita di bridal bersiap siap" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2012/01/DSC_4113.JPG" alt="Pengantin wanita di bridal bersiap siap" width="500" height="333" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2012/01/menangkap-gesture/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips foto sunset</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2012/01/tips-foto-sunset/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2012/01/tips-foto-sunset/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jan 2012 03:53:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[komposisi]]></category>
		<category><![CDATA[sunset]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=2148</guid>
		<description><![CDATA[Foto sunset (matahari terbenam) yang bagus cukup tergantung dari keberuntungan. Foto bagus tergantung dari kondisi cuaca. Jika cuaca mendung atau hujan, maka kita tidak akan mendapatkan sunset yang dramatis dengan warna dan tekstur yang menarik. Kadang sunset yang indah bisa muncul begitu saja dihadapan mata, maka itu kita sebaiknya siap setiap ada kesempatan.
Di kota Jakarta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2012%2F01%2Ftips-foto-sunset%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2012%2F01%2Ftips-foto-sunset%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Foto sunset (matahari terbenam) yang bagus cukup tergantung dari keberuntungan. Foto bagus tergantung dari kondisi cuaca. Jika cuaca mendung atau hujan, maka kita tidak akan mendapatkan sunset yang dramatis dengan warna dan tekstur yang menarik. Kadang sunset yang indah bisa muncul begitu saja dihadapan mata, maka itu kita sebaiknya siap setiap ada kesempatan.</p>
<p>Di kota Jakarta yang langitnya penuh kabut polusi, sunset yang kaya warna dan tekstur itu jarang bisa didapatkan, terutama di musim hujan. Tapi di sore hari itu saya melihat kondisi langit cukup cerah jadi saya menunggu di depan jendela.</p>
<h3>Tips #1 Hindari memakai mode full auto</h3>
<p>Jika kita memakai full auto foto kita tidak akan seperti yang di lihat mata kita, karena keterbatasan sensor kamera untuk menangkap cahaya dari yang sangat terang (langit) dan gelap (bumi). Akibatnya seperti dibawah ini, langit akan cenderung terlalu terang.</p>
<div id="attachment_2149" class="wp-caption aligncenter" style="width: 500px">
	<img class="size-full wp-image-2149" title="Sunset" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2012/01/DSC_5884.JPG" alt="tipikal hasil full auto " width="500" height="333" />
	<p class="wp-caption-text">tipikal hasil full auto -  ISO 200, f/9, 1/100 detik</p>
</div>
<h3>Tips #2 Gunakan mode manual</h3>
<p>Dengan mode manual, kita bisa dengan leluasa menyetel setting kamera yang berpengaruh ke eksposur (aperture, shutter speed dan ISO). Saya biasanya memulai dengan mengunakan ISO serendah mungkin, misalnya 100 dan 200. Nilai aperture sekitar f/8-f/16 supaya foto menjadi tajam dan jelas dari ujung ke ujung frame, dan kemudian saya tinggal mengatur shutter speed untuk mengatur seberapa gelap langit yang saya inginkan. Semakin cepat shutter speed, langit akan semakin gelap. Baca: <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/07/segitiga-emas-fotografi/">Segitiga Emas fotografi</a></p>
<div id="attachment_2150" class="wp-caption aligncenter" style="width: 500px">
	<img class="size-full wp-image-2150" title="sunset jakarta" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2012/01/DSC_5936.JPG" alt="Dengan mengatur shutter speed kita bisa menggelapkan cahaya lingkungan" width="500" height="333" />
	<p class="wp-caption-text">Dengan mengatur shutter speed kita bisa menggelapkan cahaya langit, membuat warna-warna dan tekstur awan lebih menonjol - ISO 400, f/11, 1/250 detik</p>
</div>
<h3>Tips #3 Orientasi vertikal</h3>
<p>Jangan lupa untuk mencoba mengkomposisikan pemandangan dengan orientasi vertikal. Dalam komposisi vertikal, berikan ruang yang lebih banyak untuk langit daripada bumi, karena biasanya warna dan tekstur langit lebih menarik daripada bumi yang agak gelap.</p>
<div id="attachment_2151" class="wp-caption aligncenter" style="width: 375px">
	<img class="size-full wp-image-2151" title="DSC_5920" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2012/01/DSC_5920.JPG" alt="DSC_5920" width="375" height="500" />
	<p class="wp-caption-text">ISO 200, f/8, 1/640 detik</p>
</div>
<h3>Tips #4 Setelah matahari terbenam benar-benar telah tenggelam</h3>
<p>Setelah matahari benar-benar telah tenggelam, kita masih bisa mendapatkan foto yang cukup menarik misalnya tekstur dan warna langit, tapi cahaya akan banyak berkurang sehingga kita terpaksa mengunakan shutter speed yang lebih lambat. Ketika kita mengunakan shutter speed lambat, <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/08/supaya-foto-tidak-blur/">foto bisa menjadi  blur</a> karena getaran tangan kita. Maka itu memakai tripod atau ISO tinggi dibutuhkan.</p>
<div id="attachment_2153" class="wp-caption aligncenter" style="width: 333px">
	<img class="size-full wp-image-2153 " title="twilight" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2012/01/DSC_59571.JPG" alt="Setelah matahari terbenam, saya mengalihkan perhatian saya lebih ke bumi. Warna kuning keemasan dan cahaya lampu dari rumah-rumah penduduk menarik perhatian saya." width="333" height="500" />
	<p class="wp-caption-text">Setelah matahari terbenam, saya mengalihkan perhatian saya lebih ke bumi. Warna kuning keemasan dan cahaya lampu dari rumah-rumah penduduk menarik perhatian saya. ISO 1100, f/5.6, 1/60 detik</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2012/01/tips-foto-sunset/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meningkatkan kualitas foto portrait</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2011/12/meningkatkan-kualitas-foto-portrait/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2011/12/meningkatkan-kualitas-foto-portrait/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2011 07:06:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Foto Editing]]></category>
		<category><![CDATA[Potret]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[komposisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=2132</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari yang lalu, ada seorang fotografer semi-pro dengan spesialisasi foto portrait yang belajar privat dengan saya tentang manajemen dan editing foto dengan Adobe Lightroom. Di tengah diskusi, dia melontarkan suatu pertanyaan penting yang jarang ditanyakan.
Bagaimana meningkatkan kualitas foto sehingga hasilnya kesannya mewah dan pada akhirnya dapat meningkatkan fee foto? Bagaimana dengan peran editing? Apakah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F12%2Fmeningkatkan-kualitas-foto-portrait%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F12%2Fmeningkatkan-kualitas-foto-portrait%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Beberapa hari yang lalu, ada seorang fotografer semi-pro dengan spesialisasi foto portrait yang <a href="http://infofotografi.com/les-privat-fotografi.html" target="_blank">belajar privat</a> dengan saya tentang <a href="http://infofotografi.com/kursus-fotografi-lightroom.html" target="_blank">manajemen dan editing foto dengan Adobe Lightroom</a>. Di tengah diskusi, dia melontarkan suatu pertanyaan penting yang jarang ditanyakan.</p>
<blockquote><p>Bagaimana meningkatkan kualitas foto sehingga hasilnya kesannya mewah dan pada akhirnya dapat meningkatkan fee foto? Bagaimana dengan peran editing? Apakah dengan menguasai foto editing bisa membuat foto berkesan mewah?</p></blockquote>
<p>Banyak cara untuk menjawab pertanyaan yang menarik ini. Pertama-tama kita kembali dulu ke dasar portraiture. Portrait photography pada dasarnya bertujuan menangkap esensi dari subjek foto termasuk ekspresi, perasaan, kepribadian dan sebagainya. Foto portrait tidak hanya foto glamour (bertujuan untuk menampilkan sisi cantik dari seseorang saja).</p>
<p>Untuk membuat foto portrait yang bagus dan tepat sasaran, kita butuh persiapan, misalnya merumuskan konsep foto, survei lokasi, menetapkan pakaian dan props (alat bantu untuk membantu menjelaskan subjek foto).</p>
<p>Supaya foto terlihat mewah, komposisi foto adalah hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Komposisi foto yang bagus adalah komposisi yang <strong>sederhana (simple)</strong> terutama latar belakangnya. Sebuah toko yang menjual barang murah, biasanya ramai dan padat sekali susunannya. Sedangkan toko yang mewah dan berkualitas biasanya justru tidak menampilkan banyak barang dagangan di etalasenya.</p>
<div id="attachment_2134" class="wp-caption aligncenter" style="width: 505px">
	<img class="size-full wp-image-2134" title="gucci-store" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/12/gucci-store.jpg" alt="Toko Gucci terlihat mewah karena pilihan warnanya terbatas (sekitar 2-3 warna), Saturasi warnanya tidak tinggi, tampilannya sederhana, barang-barang yang ditampilkan tidak terlalu rapat." width="505" height="265" />
	<p class="wp-caption-text">Toko Gucci terlihat mewah karena pilihan warnanya terbatas (sekitar 2-3 warna), Saturasi warnanya tidak tinggi, tampilannya sederhana, barang-barang yang ditampilkan tidak terlalu rapat.</p>
</div>
<div id="attachment_2135" class="wp-caption aligncenter" style="width: 500px">
	<img class="size-full wp-image-2135" title="thrift-store" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/12/thrift-store.jpg" alt="Bandingkan dengan toko pakaian bekas: Barang-barangnya banyak dan rapat, pilihan warnanya banyak dan saturasinya cukup tinggi. Barang yang dijual banyak variasinya" width="500" height="375" />
	<p class="wp-caption-text">Bandingkan dengan toko pakaian bekas: Barang-barangnya banyak dan rapat, pilihan warnanya banyak dan saturasinya cukup tinggi. Barang yang dijual banyak variasinya</p>
</div>
<p>Untuk komposisi foto juga harus dipikirkan, terutama tentang <strong>warna</strong>. Warna merupakan alat yang sangat penting untuk melukiskan mood/suasana. Warna sebaiknya jangan terlalu banyak, pilihlah maksimal tiga warna, dan aplikasi warna harus konsisten dari foto ke foto supaya berkesan satu kesaturan tema.</p>
<p>Ngomong-ngomong tentang warna, cari kombinasi warna yang sesuai dengan tema. Jika bingung arti warna, coba cari referensi buku desain tentang teori warna. Dari buku-buku desain kita bisa belajar dengan rinci tentang arti warna dan kombinasi warna.</p>
<p>Lalu apa peran editing? Editing dapat mempermudah kita untuk <strong>mengendalikan warna</strong>: menonjolkan atau meredupkan warna. Di program seperti Adobe Photoshop / Lightroom atau yang lain, kita bisa mengatur saturasi warna. Kita bisa meningkatkan saturasi warna tertentu dan menurunkan saturasi warna tertentu yang tidak sesuai dengan tema.</p>
<div id="attachment_2137" class="wp-caption aligncenter" style="width: 500px">
	<img class="size-full wp-image-2137" title="gredyxu-3" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/12/gredyxu-3.jpg" alt="Foto dengan judul Break Free karya Gredy Xu ini memilih dua warna saja, yaitu biru sebagai warna utama dan kuning sebagai warna aksen. Pakaian dan props (skateboard, topi), dipilih sesuai dengan tema yaitu anak remaja yang tidak biasa (outcast)." width="500" height="372" />
	<p class="wp-caption-text">Foto dengan judul Break Free karya Gredy Xu ini memilih dua warna saja, yaitu biru sebagai warna utama dan kuning sebagai warna aksen. Pakaian dan props (skateboard, topi), dipilih sesuai dengan tema yaitu anak remaja yang tidak biasa (outcast).</p>
</div>
<div id="attachment_2138" class="wp-caption aligncenter" style="width: 500px">
	<img class="size-full wp-image-2138" title="violin-romance-gredy-xu" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/12/violin-romance-gredy-xu.jpg" alt="Di foto tema biola ini, Gredy Xu menonjolkan warna orange sebagai warna utama dan hijau sebagai aksen. Alam dan pemain biola adalah tema yang sering terlihat dalam fotografi, tapi disini eksekusi fotonya sangat baik" width="500" height="282" />
	<p class="wp-caption-text">Di foto tema pemain biola ini, Gredy Xu menonjolkan warna orange sebagai warna utama dan hijau sebagai aksen. Alam dan pemain biola adalah tema yang sering terlihat dalam fotografi, tapi disini konsep dan eksekusi fotonya sangat baik</p>
</div>
<p>Dari foto-foto diatas kita pelajari bahwa foto portrait yang bagus sebenarnya tidak harus modelnya yang cantik atau ganteng, tapi yang penting adalah fotografernya bisa membuat foto yang menceritakan kepribadian dari subjek foto tersebut.</p>
<p>Dengan memperhatikan aspek-aspek diatas, kita bisa meningkatkan hasil foto portrait kita. Intinya sih semakin sederhana, semakin jelas dan bagus foto kita, tapi ironisnya, membuat foto yang sederhana justru perlu persiapan dan kesulitannya lebih tinggi. Meski demikian, saya yakin kita semua bisa dengan rajin belajar dan belatih.</p>
<p>Selamat Tahun Baru 2012!</p>
<p>Credit photo: <a href="http://www.facebook.com/gredy.xu" target="_blank">Gredy Xu</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2011/12/meningkatkan-kualitas-foto-portrait/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips memotret ikan di akuarium</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2011/12/tips-memotret-ikan-di-akuarium/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2011/12/tips-memotret-ikan-di-akuarium/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Dec 2011 15:12:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=2081</guid>
		<description><![CDATA[Memotret subjek di dalam akuarium seperti ikan memang agak tidak biasa dan menantang. Berikut ini beberapa tips supaya fotonya sukses.
1. Tentukan eksposur yang tepat
Menurut pengalaman saya, seringkali kamera kita akan memilih exposure yang terlalu terang karena terpengaruh dengan warna gelap ikan atau latar belakangnya. Kita bisa mengunakan mode manual dan mengatur exposure, atau dapat mengunakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F12%2Ftips-memotret-ikan-di-akuarium%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F12%2Ftips-memotret-ikan-di-akuarium%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Memotret subjek di dalam akuarium seperti ikan memang agak tidak biasa dan menantang. Berikut ini beberapa tips supaya fotonya sukses.</p>
<p><strong>1. Tentukan eksposur yang tepat</strong><br />
Menurut pengalaman saya, seringkali kamera kita akan memilih exposure yang terlalu terang karena terpengaruh dengan warna gelap ikan atau latar belakangnya. Kita bisa mengunakan mode manual dan mengatur exposure, atau dapat mengunakan fungsi <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/11/kompensasi-eksposur/" target="_blank">exposure compensation</a> jika mengunakan mode P, A/Av, S/Tv.</p>
<p><strong>2. Jangan kuatir memakai ISO tinggi</strong><br />
Biasanya kita memotret ikan di dalam ruangan, maka cahayanya pun biasanya tidak begitu terang. Jangan lupa gunakan ISO tinggi supaya kita bisa mendapatkan shutter speed yang cepat pula. Subjek yang bergerak seperti ikan membutuhkan shutter speed sekitar 1/80-1/125 supaya tidak blur.</p>
<div id="attachment_2086" class="wp-caption aligncenter" style="width: 500px">
	<img class="size-full wp-image-2086" title="DSC_5273" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/12/DSC_5273.JPG" alt="DSC_5273" width="500" height="333" />
	<p class="wp-caption-text">ISO 1000 52mm f/3.5 1/80 detik - Ikan Louhan sebenarnya bukan ikan yang gesit, tapi shutter speed yang lumayan cepat dibutuhkan untuk mencegah blur, maka dari itu ISO setinggi 1000 dibutuhkan.</p>
</div>
<p style="text-align: center;">
<p><strong>3. Gunakan lensa berbukaan besar</strong><br />
Jika memiliki lensa berbukaan besar seperti 24-70mm f/2.8, atau 50mm f/1.8, kita bisa memanfaatkan bukaan besar tersebut supaya bisa membuat latar belakang / background blur dan juga menyerap lebih banyak cahaya. Sebaliknya, jika kita ingin seluruh badan ikan dan latar belakang tajam, kita mengunakan bukaan kecil seperti f/8.</p>
<p><strong>4. Jangan gunakan flash</strong><br />
Kaca akuarium akan memantulkan sebagian cahaya dari lampu kilat ke lensa sehingga membuat foto menjadi tidak alami dan terlalu terang.</p>
<p><strong>5 Light reflection</strong><br />
Hati-hati dalam mengkomposisikan foto, perhatikan pantulan cahaya dari lampu akuarium atau lampu di dalam ruangan, pastikan pantulan cahaya tidak mengganggu subjek utama dengan mencari sudut potret yang pas.</p>
<div id="attachment_2085" class="wp-caption aligncenter" style="width: 500px">
	<img class="size-full wp-image-2085" title="DSC_5328" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/12/DSC_5328.JPG" alt="DSC_5328" width="500" height="333" />
	<p class="wp-caption-text">Awas refleksi dari lampu neon atau ruangan bisa mengganggu. Tapi kalau di komposisikan dengan baik, pantulan tersebut malah jadi indah</p>
</div>
<p style="text-align: center;">
<p><strong>6. Cari background simple</strong><br />
Hindari latar belakang yang terlalu ramai dan mengganggu pemandangan. Contohnya selang air, atau hal-hal lain buatan manusia yang tidak alami. Jika tidak bisa dihindari, gunakan bukaan lensa yang besar dan mendekat ke akuarium, atau mengunakan lensa telefoto.</p>
<div id="attachment_2084" class="wp-caption aligncenter" style="width: 500px">
	<img class="size-full wp-image-2084" style="border-style: initial; border-color: initial;" title="DSC_5303" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/12/DSC_5303.JPG" alt="DSC_5303" width="500" height="333" />
	<p class="wp-caption-text">ISO 640 70mm f/4 1/80 detik - Usahakan cari latar belakang yang sederhana</p>
</div>
<div><strong>7. Sabar</strong><br />
Amati gerakan subjek, kemudian bersabarlah menunggu sampai timingnya pas untuk memotret.</p>
<p><strong>8. Fokus</strong><br />
Autofokus kamera akan mungkin akan sedikit kesulitan dalam mengunci fokus. Coba gunakan lensa telefoto / zoom atau dekatkan lensa ke kaca akuarium. Jika keduanya gagal, gunakan manual fokus.Semoga berhasil!</p>
<div id="attachment_2089" class="wp-caption aligncenter" style="width: 504px">
	<img class="size-full wp-image-2089 " title="foto-akuarium" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/12/foto-akuarium.jpg" alt="Foto ikan hias bersama peserta kursus kilat dasar pemula :)" width="504" height="378" />
	<p class="wp-caption-text">Foto ikan hias bersama peserta kursus kilat dasar pemula <img src='http://www.infofotografi.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  - oleh Felicia Limida</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2011/12/tips-memotret-ikan-di-akuarium/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips memilih lensa Makro</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2011/11/tips-memilih-lensa-makro/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2011/11/tips-memilih-lensa-makro/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 05:56:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lensa]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[lensa makro]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=2058</guid>
		<description><![CDATA[Memilih lensa makro/mikro memang agak rumit karena banyak pilihan lensa, dari yang 2 jutaan sampai 15 jutaan. Apa saja yang kita butuhkan untuk memperoleh lensa makro yang sesuai dengan kebutuhan dan kantong kita? Supaya tidak menyesal karena memilih lensa makro yang kurang tepat, maka sebaiknya kita memperhatikan beberapa fitur lensa makro dibawah ini:
1. Berapa perbesarannya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F11%2Ftips-memilih-lensa-makro%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F11%2Ftips-memilih-lensa-makro%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Memilih lensa makro/mikro memang agak rumit karena banyak pilihan lensa, dari yang 2 jutaan sampai 15 jutaan. Apa saja yang kita butuhkan untuk memperoleh lensa makro yang sesuai dengan kebutuhan dan kantong kita? Supaya tidak menyesal karena memilih lensa makro yang kurang tepat, maka sebaiknya kita memperhatikan beberapa fitur lensa makro dibawah ini:</p>
<p><strong>1. Berapa perbesarannya ?</strong><br />
Cari informasi tentang lensanya, apakah <em>magnification</em>-nya 1:1 atau 1:2 atau 1:3.5 Yang terbaik adalah perbesaran 1:1 yang artinya kita bisa fokus sangat dekat dengan subjeknya dan ukuran subjek sama dengan ukuran sensor kamera atau film. Kalau kita foto sebuah penggaris, 1 cm di penggaris akan sama dengan 1 cm yang ditangkap di sensor kamera. Lensa makro yang 1:1 biasanya lensa yang tidak bisa zoom.</p>
<p><strong>2. Lensa makro buat fullframe atau bukan?</strong><br />
Sebagian besar lensa makro didesain untuk kamera DSLR biasa dengan kamera DSLR bersensor full frame. Lensa untuk kamera fullframe memiliki diameter lebih besar, jadinya lebih mahal. Belakangan ini ada lensa yang khusus untuk kamera DSLR bersensor lebih kecil dari full frame, maka itu, lensa makro berjenis ini lebih murah dan ringan. Contohnya adalah lensa Nikon DX 40mm f/2.8 micro, Canon EF-S 60mm f/2.8 macro.</p>
<p><strong>3. Berapa jarak fokal lensanya</strong><br />
Semakin tele, atau jauh jangkauannya, otomatis lensa akan lebih mahal. Lensa yang jangkauannya jauh, seperti 100-200m, dibutuhkan di luar ruangan untuk foto serangga, atau benda bergerak lainnya. Lensa yang jangkauannya pendek seperti 60mm, cocok untuk indoor seperti fotografi makanan atau still life.</p>
<p><strong>4. Kecepatan auto fokus</strong><br />
Sebagian besar lensa makro memiliki kinerja auto fokus yang lambat karena desain rentang fokus yang lebar. Menurut pengalaman saya, ada beberapa lensa makro yang memiliki kecepatan auto fokus cukup tinggi yaitu lensa Canon yang memiliki motor USM. Setiap lensa makro juga biasanya memiliki <em>focus limit switch</em>, yang artinya kita bisa membatasi rentang fokus sehingga mempercepat kecepatan auto fokus.</p>
<p>Kecepatan auto fokus sebenarnya tidak begitu penting bagi fotografer yang menyukai close-up fotografi, tapi untuk fotografer yang juga memotret jenis fotografi aksi dan olahraga, lensa makro yang memiliki auto fokus cepat lebih efektif untuk dipakai.</p>
<p><strong>5. Peredam getar</strong><br />
Tidak banyak lensa Makro yang memiliki fungsi peredam getar, dan yang memiliki fitur ini biasanya harganya relatif mahal, diantaranya adalah Canon 100mm L f/2.8 IS USM, Nikon 105mm f/2.8 VR dan Sigma 150mm f/2.8 OS HSM. Peredam getar ini membantu mencegah getaran tangan kita mempengaruhi hasil foto. Meski sangat membantu terutama jika kita memotret di kondisi lapangan yang sulit, sebagian besar fotografer mengunakan tripod untuk hasil maksimal.</p>
<p><strong>6. Tahan debu dan air</strong><br />
Jika sering memotret di kondisi cuaca yang kurang bersahabat, maka lensa makro yang memiliki fitur tahan debu dan air patut di pertimbangkan. Contohnya, lensa seri L Canon biasanya tahan debu dan air.</p>
<p><strong>7. Lensa makro yang bisa zoom?</strong><br />
Ada beberapa lensa zoom, terutama telefoto yang memiliki fitur makro. Biasanya perbesarannya hanya sekitar 1:3 sampai 1:5 dan kualitas foto yang dihasilkan tidak begitu detail dan tajam jika dibandingkan dengan lensa khusus makro. Tapi harganya jauh lebih murah dan bisa berfungsi ganda sehingga menarik perhatian banyak orang.</p>
<p><strong>8. Bukaan maksimal</strong><br />
Bukaan maksimal lensa makro biasanya relatif besar yaitu f/2.8, dan ada juga yang f/2. Bukaan maksimal tidak begitu penting di lensa makro, karena  biasanya fotografer close-up memilih bukaan yang cukup besar supaya subjek fotonya tajam dari sisi ke sisi. Meskipun ditulis f/2.8, lensa makro jika semakin dekat dengan subjek foto, semakin kecil bukaan maksimumnya. Misalnya jika jarak kita ke subjek 1 m, maka bukaan maksimum yang bisa kita bisa pilih adalah f/2.8, tapi jika kita hanya berada 10 cm dari subjek foto, maka bukaan maksimumnya mengecil menjadi f/4.5 atau lebih kecil lagi.</p>
<p>Pembahasan tambahan tentang lensa makro dan close-up photography secara umum bisa dibaca di artikel <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2011/01/serba-serbi-lensa-makro/" target="_blank">serba-serbi lensa makro</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2011/11/tips-memilih-lensa-makro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wawancara dengan majalah Kereta Api</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2011/11/wawancara-dengan-majalah-kereta-api/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2011/11/wawancara-dengan-majalah-kereta-api/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Nov 2011 03:25:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain lain]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[kereta api]]></category>
		<category><![CDATA[majalah]]></category>
		<category><![CDATA[wawancara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=1996</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa bulan yang lalu saya merasa terhormat saat diwawancara oleh reporter majalah kereta api, M. Yanuarika. Saya diwawancara di acara hunting foto bareng alumni kursus kilat di Museum Transportasi TMII. Dan beberapa hari yang lalu, saya sangat senang menerima kopi majalah tersebut.

Isi artikel kurang lebih adalah tentang kisah sepak terjang saya di dunia fotografi. Saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F11%2Fwawancara-dengan-majalah-kereta-api%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F11%2Fwawancara-dengan-majalah-kereta-api%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Beberapa bulan yang lalu saya merasa terhormat saat diwawancara oleh reporter majalah kereta api, M. Yanuarika. Saya diwawancara di acara hunting foto bareng alumni kursus kilat di Museum Transportasi TMII. Dan beberapa hari yang lalu, saya sangat senang menerima kopi majalah tersebut.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-1997" title="interview-majalah-ka" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/11/interview-majalah-ka.jpg" alt="interview-majalah-ka" width="440" height="315" /></p>
<p>Isi artikel kurang lebih adalah tentang kisah sepak terjang saya di dunia fotografi. Saya juga memberikan beberapa tips untuk foto kereta api, yang saya pikir bagus juga dishare disini:</p>
<p><strong>Tips memotret Kereta Api ala Enche</strong><br />
<strong> Tips #1</strong> Pertama-tama terang gelap / eksposurnya harus sesuai dengan suasana atau subjek yang difoto. Misalnya bila kita foto kereta api yang berwarna gelap, sering kali foto yang dihasilkan terlalu terang. Karena itu kita perlu menyesuaikannya dengan mengatur fungsi kompensasi eksposur atau mengatur pencahayaan secara manual untuk mendapatkan hasil foto yang pas terang gelapnya.</p>
<p><strong>Tips #2</strong> Selain foto kereta api, ada baiknya juga mengambil pemandangan disekitar kereta api sehingga kita bisa menangkap suasana sekitarnya.</p>
<p><strong>Tips #3</strong> Gunakan mode auto fokus yang tepat. Saat kereta api berjalan, sebaiknya mengunakan auto fokus continuous (AF-C/Ai servo) untuk mengikuti jalannya kereta api. Dengan demikian, kereta api yang kita tetap tajam. Jangan lupa juga mengunakan shutter speed yang agak cepat seperti 1/200 detik atau lebih supaya foto tidak blur.</p>
<p><strong>Tips #4</strong> Jangan lupa mengekplorasi detail dari kereta api, misalnya bagian interiornya, bagian roda, rel dan lain-lain. Ambil dari sudut yang beragam seperti dari bawah dan gunakan lensa yang beragam, terutama lensa lebar untuk membuat foto yang berdimensi.</p>
<p><strong>Tips #5</strong> Setelah pengambilan foto, kita juga bisa mengedit foto sesuai dengan suasana dan imajinasi kita. Misalnya jika yang kita foto adalah kereta api antik dan sudah berusia tua, ada baiknya kita mengubah warna foto menjadi hitam putih atau sepia. Dengan perubahan ini, foto kereta api kita terlihat lebih klasik dan sesuai.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2011/11/wawancara-dengan-majalah-kereta-api/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Foto yang bagus?</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/foto-yang-bagus/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/foto-yang-bagus/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2011 05:44:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dasar Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=1936</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan &#8220;foto bagus itu foto yang bagaimana?&#8221; atau &#8220;bagaimana membuat foto yang bagus?&#8221;
Fotografi, pada hakekatnya adalah salah satu bentuk media untuk berkomunikasi dan mengekspresikan diri. Fotografi banyak persamaan dengan menulis. Di dalam menulis, kita memilih kata-kata dan kemudian merangkainya dalam bentuk kalimat. Di dalam fotografi, kita mengunakan elemen visual (garis, bentuk, pola, warna, cahaya, dll) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F10%2Ffoto-yang-bagus%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F10%2Ffoto-yang-bagus%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Pertanyaan &#8220;foto bagus itu foto yang bagaimana?&#8221; atau &#8220;bagaimana membuat foto yang bagus?&#8221;</p>
<p>Fotografi, pada hakekatnya adalah salah satu bentuk media untuk berkomunikasi dan mengekspresikan diri. Fotografi banyak persamaan dengan menulis. Di dalam menulis, kita memilih kata-kata dan kemudian merangkainya dalam bentuk kalimat. Di dalam fotografi, kita mengunakan elemen visual (garis, bentuk, pola, warna, cahaya, dll) dan kemudian merangkainya dengan komposisi (aturan sepertiga, garis, perspektif, fokus, bingkai, dll).</p>
<p>Tulisan yang dianggap baik adalah tulisan yang tidak bertele-tele, melainkan jelas dan dapat dimengerti oleh pembacanya. Tulisan yang bagus memiliki ide &amp; makna yang menarik. Tulisan yang baik memiliki organisasi tata bahasa yang rapi sehingga mudah dibaca dan dipahami.</p>
<p>Sama dengan tulisan yang bagus, fotografi yang baik perlu suatu subjek dan ide yang jelas serta tidak ada elemen yang mengganggu. Fotografi yang baik memiliki organisasi komposisi elemen-elemen visual dengan baik.</p>
<p>Intinya foto yang bagus adalah foto yang sesuai dengan niat kita masing-masing. Contohnya, jika kita ingin membuat suasana yang misterius dan angker, foto dengan nuansa yang gelap lebih cocok daripada nuansa yang terang. Jika ingin foto kita membuat perubahan, misalnya kita ingin orang peduli dengan lingkungan hidup, maka foto kita harus bisa memotivasi orang-orang untuk go green dan seterusnya.</p>
<p>Singkatnya, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan supaya foto kita bagus:</p>
<p>1. Apakah foto memiliki ide/cerita/makna?<br />
2. Apakah terang gelap / exposure foto sesuai?<br />
2. Apakah komposisi foto sesuai?<br />
3. Apakah pilihan pencahayaan tepat?<br />
4. Apakah timing saat menjepret tepat?</p>
<p>Intinya, foto yang bagus itu subjektif karena niat setiap fotografer berbeda, demikian juga penikmat foto/audiensnya. Foto yang menurut sebagian orang bagus belum tentu menarik bagi kelompok yang lain. Maka itu, jangan terlalu kuatir dan terus berlatih.</p>
<div id="attachment_1941" class="wp-caption aligncenter" style="width: 486px">
	<a href="http://www.enchetjin.com/Travel/Cambodia/Kampong-Khleang-Fishing/i-LP5fZJh/0/XL/DSC2376-XL.jpg"><img class="size-full wp-image-1941" title="kampung-khleang" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/kampung-khleang.jpg" alt="kampung-khleang" width="486" height="323" /></a>
	<p class="wp-caption-text">Foto ini menggambarkan keceriaan anak remaja di kampung terapung di danau Tonle Sap. Secara komposisi, saya menempatkan subjek utama ditengah. Saya juga menyertakan sedikit latar belakang/lingkungan untuk memberikan kesan tempat. Kepala perahu disebelah kanan atas dan tiang-tiang rumah panggung mengarah ke anak tersebut. Hujan deras memberikan kesan tersendiri dan konversi hitam putih membuat fokus mata kita tertuju kepada ekspresi anak tersebut. Silahkan klik foto diatas untuk melihat ukuran yang lebih besar.</p>
</div>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/foto-yang-bagus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Reruntuhan yang Indah</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/reruntuhan-yang-indah/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/reruntuhan-yang-indah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Oct 2011 07:58:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Lain lain]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[Travel]]></category>
		<category><![CDATA[beautiful decay]]></category>
		<category><![CDATA[kamboja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=1872</guid>
		<description><![CDATA[Yang indah-indah itu bukan hanya wanita cantik, atau langit di saat matahari terbenam saja. Keindahan bisa juga kita dapatkan dari reruntuhan. Contoh reruntuhan yang indah terdapat di kompleks candi Angkor di Kamboja.
Sebagian besar candi-candi disana tidak direstorasi secara keseluruhan, tapi dibiarkan seperti saat ditemukan oleh penjelajah. Sebagian lain dijaga supaya tidak ambruk lebih parah. Di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F10%2Freruntuhan-yang-indah%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F10%2Freruntuhan-yang-indah%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Yang indah-indah itu bukan hanya wanita cantik, atau langit di saat matahari terbenam saja. Keindahan bisa juga kita dapatkan dari reruntuhan. Contoh reruntuhan yang indah terdapat di kompleks candi Angkor di Kamboja.</p>
<p>Sebagian besar candi-candi disana tidak direstorasi secara keseluruhan, tapi dibiarkan seperti saat ditemukan oleh penjelajah. Sebagian lain dijaga supaya tidak ambruk lebih parah. Di Jakarta, reruntuhan bisa kita dapatkan di kawasan kota tua.</p>
<div id="attachment_1875" class="wp-caption aligncenter" style="width: 500px">
	<img class="size-full wp-image-1875" title="Ta Phrom" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/DSC_3321.JPG" alt="Buatan manusia vs alam" width="500" height="333" />
	<p class="wp-caption-text">Bergulat dengan alam</p>
</div>
<p>Keindahan reruntuhan punya potensial sebagai subjek foto yang fotogenik, indah dan romantis. Untuk mengoptimalkan foto reruntuhan seperti yang diatas ini, ada beberapa tips dari saya:</p>
<ul>
<li>Jangan ada manusia dalam foto, terutama turis. Tapi orang lokal atau anak-anak yang berpakaian tradisional itu bisa menambah nilai foto.</li>
<li>Sebagian dari dari bangunan utuh, sebagian runtuh atau rusak</li>
<li>Adanya elemen lain seperti pohon, pahatan, atau elemen desain dari masa lalu menambah nilai foto</li>
<li>Tidak ada sampah atau barang-barang jaman sekarang dalam foto misalnya botol minuman, tiang listrik dan sebagainya</li>
<li>Adanya kabut atau cahaya yang lembut sangat mendukung, terutama saat langit berawan. Langit cerah yang berwarna biru tidak memberikan kesan tua sehingga tidak terlalu membantu. Bila langit terlalu biru, kita bisa turunkan saturasinya atau ubah menjadi monokrom / hitam-putih.</li>
<li>Saturasi yang tidak terlalu tinggi atau foto hitam putih akan memberikan kesan klasik.</li>
</ul>
<p>Selamat berfoto ria <img src='http://www.infofotografi.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<div id="attachment_1876" class="wp-caption aligncenter" style="width: 500px">
	<img class="size-full wp-image-1876" title="DSC_2157" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/DSC_2157.JPG" alt="DSC_2157" width="500" height="333" />
	<p class="wp-caption-text">Preah Khan</p>
</div>
<p style="text-align: center;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/reruntuhan-yang-indah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengalaman kedua : Belajar Komposisi</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/pengalaman-kedua-belajar-komposisi/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/pengalaman-kedua-belajar-komposisi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Oct 2011 01:15:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iesan Liang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dasar Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Lain lain]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[iesan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=1878</guid>
		<description><![CDATA[Kesempatan latihan datang lagi ketika ada acara hunting bareng di Museum Transportasi di TMII. Namun anehnya, ketika berada di sana, saya kebingungan. Apa yang mau difoto yach? Dari pintu masuk sampai pada kereta api yang pertama, tidak ada satupun foto yang saya ambil. Kok rasanya tidak ada yang menarik. Soalnya sudah sering lihat, malah kadang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F10%2Fpengalaman-kedua-belajar-komposisi%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2011%2F10%2Fpengalaman-kedua-belajar-komposisi%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Kesempatan latihan datang lagi ketika ada acara hunting bareng di Museum Transportasi di TMII. Namun anehnya, ketika berada di sana, saya kebingungan. Apa yang mau difoto yach? Dari pintu masuk sampai pada kereta api yang pertama, tidak ada satupun foto yang saya ambil. Kok rasanya tidak ada yang menarik. Soalnya sudah sering lihat, malah kadang bisa sebel kalau lagi mau cepat malah ada kereta api yang melintas.</p>
<p>Saya melihat teman-teman yang lain pada sudah foto-foto. Tentunya objeknya kereta api. Oke deh, ikut foto juga. Saya foto kereta api itu secara keseluruhan, tampak depan dan tampak samping. Hasilnya mirip dengan foto dokumentasi saja. Tidak ada nilai seninya sama sekali, feeling belum muncul (hihihi&#8230; mungkin memang ga pinter foto kali ye&#8230;).</p>
<p>Saya pun mulai eksplorasi lagi, kalau foto kereta api saya tidak menarik, mungkin saya bisa mencoba foto yang lebih luas (kereta api + keadaan sekeliling). Saya pun mencoba mengambil foto kereta api dengan memposisikan kereta api  di tengah dan juga ikut mengambil bangunan dan tiang yang disamping. Pemikiran saya sih mau mengambil gambar seperti sedang berada di stasiun kereta api. Namun, foto saya sepertinya belum mencerminkan apa yang ingin saya capai. Masih kaku abis (gagal x_x).</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1879" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-1.jpg" alt="GBR 1" width="500" height="327" /></p>
<p>Setelah itu, saya melihat ada rel yang melengkung. Jika bisa mengambil foto jalur rel makin lama makin kecil dan berliku-liku, pastilah bisa menggambarkan perjalanan kehidupan yang penuh liku-liku. Kesan yang ingin saya tampilkan sih seperti itu kira-kira. Tapi lihatlah hasil fotoku. Masih jauh banget dari apa yang kuinginkan. Tidak ada yang spesial (gagal lagi).</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1880" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-2.jpg" alt="GBR 2" width="500" height="333" /></p>
<p>Ketika berpindah ke tempat yang lain. Saya ingin shoot sebuah gerbong dengan memasukkan kesan klasik (didukung oleh berkaratnya gerbong tersebut). Akan tetapi, bagaimanapun saya memposisikan diriku saat mengambil foto, lampu yang terletak di atas gerbong selalu ikut terekam dalam gambar. Soalnya saya ambil gambar dari bawah. Kalo bisa ambil dari atas, mungkin bakal lebih bagus. Tapi ga mungkin tinggiku bisa melebihi tinggi kereta api. Wkwkwkwk. Gagal lagi de.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1881" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-3.jpg" alt="GBR 3" width="333" height="500" /></p>
<p>Apa lagi si yang mesti difoto? <span id="more-1878"></span></p>
<p>Tiba-tiba terdengar percakapan Enche dengan seseorang. Dia memperlihatkan gambarnya kemudian menjelaskan foto detail juga bagus. Nah loh, foto detail itu kayak gimana si? Berkat kepintaran nguping dan ngintip, saya mendapat ilmu dari Enche, saya jadi tahu, ga mesti foto kereta api secara keseluruhan. Foto bagian-bagian kecil dari kereta api itu(detail) misalnya roda, pintu, jendela, dll juga menarik untuk difoto. Nah&#8230; dimulailah petualanganku&#8230;</p>
<p>Detail pertama yang saya ambil adalah foto roda kereta api. Akan tetapi, kalau roda itu cuma difoto dari depan, ga ada menariknya sama sekali. Saya geser posisi saya agak ke samping dan saya mendapatkan gambar perspektif dari roda roda kereta api (dari bulatan yang besar kemudian mengecil). Masalahnya adalah gimana memposisikan roda itu dalam frame. Awalnya, saya mencoba memasukkan semua roda tersebut. Hasilnya kepanjangan. Kemudian saya memilih memasukkan 3 roda. Ternyata kependekan.</p>
<p>Akhirnya, 4 roda yang saya rasa paling pas. Tentu saja, coba-coba saya tidak berhenti sampai tahap itu. Saya pun mengkomposisikan 4 roda itu sedemikian rupa, misalnya foto roda pertama yang terpotong sedikit, terpotong separuh, atau hampir terpotong secara keseluruhan, ataupun coba coba foto roda terakhir yang terpotong separuh, dstnya. Meskipun ternyata dari puluhan foto yang terambil, foto pertama saya yang paling saya senangi, tapi saya juga menikmati proses pencarian tersebut.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1882" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-4.jpg" alt="GBR 4" width="500" height="333" /></p>
<p>Detil kedua yang saya tangkap dari antena saya adalah foto dibawah ini (ga tau apa namanya). Tak ada alasan mengapa mau ambil foto itu, insting aja kayaknya bisa menarik. Dengan memposisikannya menjadi rule of third, saya pun foto.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1883" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-5.jpg" alt="GBR 5" width="333" height="500" /></p>
<p>Ketika mau beranjak ke tempat yang lain ternyata ada pesawat jet yang lewat. Saat jet tersebut lewat, ingin sekali mengabadikan moment tersebut. Namun kurang cepat, kayaknya si kurang pengalaman dan kurang sigap menghadapi moment yang super cepat seperti itu. Untung saja, ada kesempatan kedua, karena tidak lama kemudian jet yang kedua pun meluncur. Karena sudah ready dari ketinggalan yang pertama tadi, yang kali ini saya tinggal jepret saja.  Hoki ^^V</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1884" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-6.jpg" alt="GBR 6" width="500" height="331" /></p>
<p>Kemudian, saya melihat ada papan  rambu-rambu, maunya si sekedar dokumentasi saja, mungkin suatu saat bisa berguna. Seharusnya si foto harus diambil dari depan, namun untuk menghindari kekakuan, saya coba ambil dari samping saja. Hehe.. Hasilnya malah makin jelek. Saya tidak sempat mengambil lagi dari depan, karena saya uda ditinggal rombongan.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1885" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-7.jpg" alt="GBR 7" width="500" height="333" /></p>
<p>Setelah itu, kami berteduh di dekat pepohonan. Eits, ternyata ada yang menarik. Cabang pohon bisa dibuat frame (menyerap pelajaran dari <a href="http://infofotografi.com/kursus-fotografi-pemula.html" target="_blank">Kursus pemula</a>). Dari celah cabang pohon tersebut, saya coba mengambilnya dengan fokus di sebuah lampu sebagai objek penarik perhatian. Mungkin kalau foto itu diambil di malam hari dan lampu itu menyala, bakalan bagus ne (hehe&#8230; berandai-andai, dengan kemampuanku sekarang ini, belum tentu saya bisa menangkap foto yang terlalu kontras terang gelapnya, apalagi dengan mode Av). Ataupun foto yang sama tapi ada pasangan kekasih sebagai pengganti lampu (imajinasi tingkat tinggi XD &#8211; mungkin suatu saat nanti bisa diterapkan untuk foto prewed). Makin seru hunting kali ini, pikirku.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1886" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-8.jpg" alt="GBR 8" width="333" height="500" /></p>
<p>Setelah foto bersama, kami pun pindah ke lokasi lain. Di tempat ini, dengan berbagai imajinasi, saya mengambil beberapa foto.</p>
<div id="attachment_1887" class="wp-caption aligncenter" style="width: 345px">
	<img class="size-full wp-image-1887" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-9.jpg" alt="Foto dengan fokus di knop pintu, dengan dihalangi pagar, putih dan hitam yang kontras, semoga akan memunculkan perasaan penasaran dengan apa yang ada di balik pintu tersebut. Jadi timbul keinginan untuk membuka pintu." width="345" height="500" />
	<p class="wp-caption-text">Foto dengan fokus di knop pintu, dengan dihalangi pagar, putih dan hitam yang kontras, semoga akan memunculkan perasaan penasaran dengan apa yang ada di balik pintu tersebut. Jadi timbul keinginan untuk membuka pintu.</p>
</div>
<div id="attachment_1888" class="wp-caption aligncenter" style="width: 500px">
	<img class="size-full wp-image-1888" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-10.jpg" alt="Tanda + yang menandakan bahwa ruangan dibaliknya adalah sebuah poliklinik. Jendela saya masukkan dalam frame untuk menimbulkan keinginan untuk mengintip kegiatan apa di dalam ruangan itu." width="500" height="333" />
	<p class="wp-caption-text">Tanda + yang menandakan bahwa ruangan dibaliknya adalah sebuah poliklinik. Jendela saya masukkan dalam frame untuk menimbulkan keinginan untuk mengintip kegiatan apa di dalam ruangan itu.</p>
</div>
<div id="attachment_1889" class="wp-caption aligncenter" style="width: 333px">
	<img class="size-full wp-image-1889" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-11.jpg" alt="GBR 11" width="333" height="500" />
	<p class="wp-caption-text">Foto hoki yang kedua di hari itu. Sebenarnya cuma mau ngambil gambar 2 pintu yang berbeda warna. Pas jepret, ada tangan anak yang muncul karena sedang bermain di sana. Hoki dech. Dapat foto &quot;Haunted Train&quot;.</p>
</div>
<p style="text-align: left;">Dari semua foto yang saya ambil hari itu, saya paling suka dengan foto gembok ini. Mungkin daya imajinasi dan kadar romantisme yang terlalu tinggi di hari itu, saat melihat gembok, langsung terpikir suatu scene. Cerita penantian si gembok yang setia menunggu kedatangan si kunci sampai berkarat. Oleh sebab itu, saya memposisikan gembok itu agak ke samping, supaya saya masih bisa memasukkan kutipan.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-1890" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-12.jpg" alt="GBR 12" width="333" height="500" /></p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1891" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2011/10/GBR-13.jpg" alt="GBR 13" width="346" height="518" /></p>
<p>Saking bangganya dengan foto itu, saya post di fb dan jadiin profile pic. Trus saya menelepon mama saya supaya dia bisa mengecek hasil foto saya. Semoga dapat pujian, pikirku dalam hati. Ternyata perkiraanku meleset. Mama bilang, &#8220;Aduh apa-apaan sih, gembok berkarat kok difoto?&#8221; Gubrak&#8230; wkwkwkwk&#8230; mau nangis apa ketawa y?</p>
<p>Ternyata kalau mau buka mata buka telinga (sekalian buka hati), apapun yang dilihat bisa kita potret dan bisa kita komposisikan menjadi suatu foto yang menarik dan bercerita (ditambah dengan daya imajinasi). Tentu saja, tidak semua foto yang kita ambil dapat menyenangkan semua orang. Namun, tidak penting berapa banyak orang yang akan menyukai foto kita atau berapa orang yang akan mengkritik foto kita, yang penting kita terus berkarya. Saya yakin dengan latihan yang terus menerus, foto yang diambil akan makin bagus. Begitu juga dengan komposisi, lama kelamaan, tanpa disadari, kita akan punya feeling sendiri dan tangan kita akan bergerak dengan sendirinya untuk memposisikan kamera dan membidik.</p>
<p>Iesan Liang</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2011/10/pengalaman-kedua-belajar-komposisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

