<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Info Fotografi</title>
	<atom:link href="http://www.infofotografi.com/blog/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.infofotografi.com/blog</link>
	<description>Mengulas segala hal yang berkaitan dengan fotografi digital</description>
	<lastBuildDate>Tue, 27 Jul 2010 05:55:11 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kelas SPESIAL dasar fotografi di MEDAN, SUMUT 2-4 Agustus 2010</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2010/07/kelas-spesial-dasar-fotografi-di-medan-sumut-2-4-agustus-2010/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2010/07/kelas-spesial-dasar-fotografi-di-medan-sumut-2-4-agustus-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jul 2010 07:33:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain lain]]></category>
		<category><![CDATA[kelas]]></category>
		<category><![CDATA[kursus]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=603</guid>
		<description><![CDATA[3 X pertemuan dalam 1 minggu, 2 jam per pertemuan
Struktur kelas 40% teori, 40% praktek, 20% diskusi &#38; tanya jawab
MATERI
- Pengenalan dasar fotografi
- Pengunaan alat fotografi (kamera, lensa)
- Seni dan komposisi
- Dasar pencahayaan (alami dan buatan)
- Praktek dan tanya jawab
Setelah mengikuti kelas ini peserta diharapkan:
Memahami konsep dasar fotografi, memahami peran kamera dan lensa, mampu mengkomposisikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F07%2Fkelas-spesial-dasar-fotografi-di-medan-sumut-2-4-agustus-2010%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F07%2Fkelas-spesial-dasar-fotografi-di-medan-sumut-2-4-agustus-2010%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>3 X pertemuan dalam 1 minggu, 2 jam per pertemuan</p>
<p>Struktur kelas 40% teori, 40% praktek, 20% diskusi &amp; tanya jawab</p>
<p>MATERI</p>
<p>- Pengenalan dasar fotografi<br />
- Pengunaan alat fotografi (kamera, lensa)<br />
- Seni dan komposisi<br />
- Dasar pencahayaan (alami dan buatan)<br />
- Praktek dan tanya jawab</p>
<p>Setelah mengikuti kelas ini peserta diharapkan:</p>
<p>Memahami konsep dasar fotografi, memahami peran kamera dan lensa, mampu mengkomposisikan foto yang menarik, dan dapat mengunakan kamera lebih efektif untuk foto potret/model, acara sosial, pemandangan dan sebagainya. <span id="more-603"></span></p>
<p>Maksimum peserta 8 orang, Minimal 3 orang</p>
<p>JADWAL &amp; LOKASI</p>
<p>Hari Senin, tanggal 2 Agustus 2010. Pukul 18.00-20.00 WIB<br />
Hari Selasa, tanggal 3 Agustus 2010. Pukul 18.00-20.00 WIB<br />
Hari Rabu, tanggal 4 Agustus 2010. Pukul 18.00-20.00 WIB</p>
<p>Lokasi: Medan, Sumatera Utara. Lokasi: Jln. Gandhi simpang Logam</p>
<p>PERSYARATAN</p>
<p>Terbuka untuk umum. Tersedia tiga kamera untuk di pinjam untuk praktek, namun saya rekomendasikan peserta untuk membawa kamera sendiri. Dianjurkan kamera yang memiliki mode manual.</p>
<p>Biaya: Rp. 450,000 / orang</p>
<p>MENERIMA PEMBAYARAN MELALUI:</p>
<p>Enche Tjin<br />
Bank BCA cabang Kapuk Muara<br />
no rek. 4081218557</p>
<p>Tempat diprioritaskan untuk yang telah melunasi pembayaran.</p>
<p>Pertanyaan bisa ditujukan melalui<br />
email: enche.zein@gmail.com<br />
HP 085885596118</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2010/07/kelas-spesial-dasar-fotografi-di-medan-sumut-2-4-agustus-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Alasan untuk pindah sistem digital SLR</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2010/07/alasan-untuk-pindah-sistem-digital-slr/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2010/07/alasan-untuk-pindah-sistem-digital-slr/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jul 2010 07:01:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Kamera]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=593</guid>
		<description><![CDATA[Saat kita membeli kamera digital SLR yang pertama, berarti kita telah membeli sebuah sistem untuk jangka panjang. Hal ini karena lensa aksesoris dan lensa kamera digital SLR merek tertentu, sebagian besar tidak bisa dipakai di kamera merk lain.
Akibatnya, bila pindah merk, maka semua lensa dan aksesoris juga harus diganti. Selain itu, kita juga harus kembali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F07%2Falasan-untuk-pindah-sistem-digital-slr%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F07%2Falasan-untuk-pindah-sistem-digital-slr%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Saat kita membeli kamera digital SLR yang pertama, berarti kita telah membeli sebuah sistem untuk jangka panjang. Hal ini karena lensa aksesoris dan lensa kamera digital SLR merek tertentu, sebagian besar tidak bisa dipakai di kamera merk lain.</p>
<p>Akibatnya, bila pindah merk, maka semua lensa dan aksesoris juga harus diganti. Selain itu, kita juga harus kembali mempelajari dan membiasakan diri untuk memakai sistem yang baru ini. Kadang-kadang bisa memakan waktu berbulan-bulan untuk benar-benar terbiasa.</p>
<p>Lantas, banyak fotografer dari amatir sampai profesional pindah dari satu merek yang satu ke merek yang lain, tentunya masing-masing memiliki alasan sendiri sendiri. Ada alasan yang saya kira tepat, ada yang saya rasa kurang tepat.</p>
<h3>Alasan yang saya kira tepat antara lain</h3>
<ol>
<li><strong>Bila tidak ada ada produk yang di tawarkan merek tersebut yang memenuhi syarat yang kita butuhkan padahal waktu mendesak</strong></li>
<p>Saat itu, saya memiliki kamera Canon 40D dan cukup banyak lensa dan aksesoris bermerek sama. Tapi akan ditugaskan untuk foto di keadaan yang gelap seperti foto tarian, foto candle lighting dan olahraga indoor dan lainnya yang tidak memperbolehkan penggunaan lampu kilat.</p>
<p>Alhasil saya sempat melirik kamera Canon 5D mark II dan Nikon D700. Saya akhirnya memutuskan untuk memilih kamera Nikon D700 karena auto fokusnya yang cepat dan juga kemampuannya di cahaya ruangan yang temaram. Selain itu Canon 5D mark II lebih mahal karena saat itu baru diluncurkan dan menurut tes, auto fokusnya tidak begitu baik.</p>
<p>Kalau dihitung-hitung, akibat perpindahan ini, saya menderita kerugian sekitar $1500 (13.5 juta rupiah) . Kalau saya ada waktu untuk menunggu, saya tentu saja menunggu kamera Canon yang seperti Canon EOS 7D atau 1d mark IV.</p>
<li><strong>Sulit mencari pelayanan purna jual, lensa dan aksesoris</strong><br />
Terkadang, Anda sulit menemukan aksesoris atau layanan purna jual di dekat tempat tinggal Anda. Hal ini tentu bisa mengesalkan terutama saat kamera Anda rusak atau ketika Anda ingin membeli lensa tertentu tapi tidak tersedia di daerah. Maka dari itu pertimbangkanlah untuk pindah ke merek yang memberikan layanan dan ketersediaan lensa dan aksesoris yang memadai</li>
<p></p>
<li><strong>Sistem yang Anda pakai sekarang sudah tidak sesuai dengan visi atau gaya fotografi Anda.</strong></li>
<p>Ada merek / system fotografi yang sasaran utamanya adalah mengembangkan produk untuk fotografer pemula dan amatir seperti Panasonic, Samsung, Pentax, dan Olympus sehingga bila Anda bertujuan untuk menjadi fotografer professional, terutama untuk fotojurnalistik, mungkin kurang tepat untuk memakai merek tersebut.</p>
<p>Disisi lain, bila Anda mencari system yang ramah dengan pemula, memberikan nilai lebih dengan harga yang lebih murah, pertimbangkan untuk mencari merk-merk yang perhatian utamanya adalah pemula dan amatir.</p>
<p>Salah satu contohnya adalah kini banyak sistem kamera yang berukuran kecil, seperti Panasonic GF1 dan Olympus PEN E-P1, bila gaya fotografi Anda lebih ideal mengunakan sistem seperti ini, mengapa tidak pindah?</p>
<li><strong>Sponsor</strong></li>
<p>Produsen kamera selalu mencari fotografer berbakat untuk disponsori, bila Anda merupakan salah satu fotografer yang beruntung itu, kenapa tidak menerimanya?</p>
<p>Namun sebaiknya Anda sudah mencoba merek tersebut dan produk tersebut bisa memenuhi kebutuhan fotografi Anda, sehingga tetap bisa berkarya dengan baik dan tidak dicap munafik oleh  fans dan khalayak umum.</ol>
<p><span id="more-593"></span></p>
<h3>Alasan yang kurang tepat untuk pindah sistem</h3>
<ol>
<li><strong>Merk lain lebih popular</strong></li>
<p>Kadang kita merasa minder karena banyak teman-teman atau khayalak ramai mengunakan merek kamera yang lebih populer.  Hal ini kadang membuat kita ingin pindah.</p>
<p>Tapi renungkan terlebih dahulu apakah memang merek yang anda punya tidak bisa memenuhi kebutuhan fotografi Anda?<br />
Dengan memakai system kamera yang berbeda, justru bisa membuat karya Anda menjadi unik. Jangan kuatir tampil beda.</p>
<li><strong>Fotografer atau teman yang dikagumi pindah sistem</strong></li>
<p>Kadang-kadang ada fotografer terkenal yang ganti merek dari satu ke yang lain. Jangan jadikan ini alasan kenapa pindah, karena kita seringkali tidak mengetahui alasan sebenarnya mereka pindah.</p>
<p>Seringkali fotografer terkenal dan berpengaruh di incar oleh produsen alat fotografer untuk memakai produk mereka secara gratis dan mempromosikan produk mereka. Oleh sebab itu jangan menjadi korban iklan dan tidak perlu tergesa-gesa untuk pindah ke merek lain.<br />
Selain itu, mungkin mereka memiliki dana yang besar sehingga ongkos perpindahan tidak menjadi masalah untuk mereka. Dan lagi, kebutuhan mereka mungkin berbeda dengan kebutuhan Anda.</p>
<li><strong>Produk merk lain lebih baik</strong></li>
<p>Seperti kata pepatah yaitu rumput tetangga selalu lebih hijau. Seringkali kita melihat keunggulan kamera atau lensa merek lain dan hanya melihat kekurangan kamera kita sendiri. Hal ini menjebak kita untuk berpikiran tidak objektif.</p>
<p>Kita juga kadang tidak sabar untuk menunggu model baru dari merek yang kita pakai dalam mengeluarkan produk yang memiliki fitur yang tidak dimiliki model saat ini, tapi dimiliki oleh produk merek lain.</p>
<p>Contohnya beberapa tahun yang lalu kamera Nikon tidak memiliki sensor full frame sedangkan Canon telah memiliki Canon 5D, tapi beberapa tahun kemudian Nikon mengeluarkan Nikon D3 dan selanjutnya D700, yang merupakan full frame dengan kualitas yang lebih baik terutama di foto di kondisi pencahayaan yang kurang bersahabat.</p>
<p>Selanjutnya, Canon berhasil meningkatkan kualitas perekaman video ke full HD, tapi kamera Nikon masih di HD 720p.  Di masa depan, tidak tertutup kemungkinan Nikon mengungguli Canon dalam hal ini. Oleh sebab itu, daripada buru-buru pindah merek dan kehilangan banyak uang, maka lebih baik sabar menunggu.</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2010/07/alasan-untuk-pindah-sistem-digital-slr/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perbedaan antara lensa berkualitas tinggi dan rendah</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2010/07/perbedaan-antara-lensa-berkualitas-tinggi-dan-rendah/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2010/07/perbedaan-antara-lensa-berkualitas-tinggi-dan-rendah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Jul 2010 13:23:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lensa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=588</guid>
		<description><![CDATA[Lensa berkualitas tinggi biasanya memiliki badan / casing yang berkualitas lebih baik, misalnya dari campuran logam atau plastik yang keras. Kontak lensa ke badan kamera juga dari logam.
Selain itu bukaan lensa zoom berkualitas tinggi biasanya memiliki bukaan besar dan/atau konstan seperti f/4, f/2.8. Untuk lensa prime / non-zoom, lensa yang berkualitas tinggi biasanya memiliki maksimum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F07%2Fperbedaan-antara-lensa-berkualitas-tinggi-dan-rendah%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F07%2Fperbedaan-antara-lensa-berkualitas-tinggi-dan-rendah%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Lensa berkualitas tinggi biasanya memiliki badan / casing yang berkualitas lebih baik, misalnya dari campuran logam atau plastik yang keras. Kontak lensa ke badan kamera juga dari logam.</p>
<p>Selain itu bukaan lensa zoom berkualitas tinggi biasanya memiliki bukaan besar dan/atau konstan seperti f/4, f/2.8. Untuk <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/07/lensa-prime-fix-vs-lensa-zoom/" target="_blank">lensa prime </a>/ non-zoom, lensa yang berkualitas tinggi biasanya memiliki maksimum bukaan yang besar, misalnya f/1.2 dan f/1.4.</p>
<p>Hal lain yang membedakan adalah kode pada nama lensa. Contohnya: Tamron: SP, Sigma: EX, Canon: L, Tokina: Pro, Nikon: N.</p>
<div id="attachment_589" class="wp-caption aligncenter" style="width: 350px">
	<img class="size-full wp-image-589" title="canon EF 70 200mm f/2.8" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2010/07/canon-70-200mm.jpg" alt="Salah satu lensa kualitas tinggi Canon berlabel L dan berwarna putih. Lensa ini memiliki harga sekitar dua puluh juta rupiah." width="350" height="233" />
	<p class="wp-caption-text">Salah satu lensa kualitas tinggi Canon berlabel L dan berwarna putih. Lensa ini memiliki harga sekitar dua puluh juta rupiah.</p>
</div>
<p><strong>Lalu kualitas lensa juga bisa dilihat dari harga seperti dibawah ini:</strong></p>
<ul>
<li>2 juta kebawah : Lensa murah dengan kualitas rendah, biasanya casingnya berbahan plastik dan kualitas fotonya tidak begitu tajam dan tidak konsisten.</li>
<li>2 juta keatas : Kualitas lensa rata-rata. Meski banyak yang masih bercasing plastik, tapi kualitas gambar lebih baik dan lebih konsisten.</li>
<li>5 juta keatas : Kualitas lensa diatas rata-rata. Kualitas bahan kamera lebih baik dari sebelumnya, beberapa mengunakan bahan logam, yang lain mengunakan bahan plastik yang tebal. Kualitas foto juga sudah cukup konsisten dan tajam.</li>
<li>10 juta keatas : Kualitas lensa sangat baik. Termasuk kategori lensa mewah karena lebih mahal dari kameranya, lensa dalam kategori ini memiliki kualitas foto yang sangat baik, konsisten tapi biasanya cukup berat.</li>
</ul>
<p>Tapi ada juga beberapa lensa yang menghasilkan foto yang sangat baik tapi relatif murah, contohnya lensa 50mm f/1.8, dan 35mm f/1.8.</p>
<p>Dari kualitas gambar, Lensa berkualitas tinggi lebih konsisten di setiap bukaan dan rentang lensa (zoom). Ketajaman lensa tinggi, kontras baik, rendah aberasi warna dan vinyet terkontrol.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2010/07/perbedaan-antara-lensa-berkualitas-tinggi-dan-rendah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beda kamera canggih dengan pemula</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2010/07/beda-kamera-canggih-dengan-pemula/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2010/07/beda-kamera-canggih-dengan-pemula/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Jul 2010 13:14:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kamera]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=584</guid>
		<description><![CDATA[Kamera yang canggih biasanya memiliki kualitas badan kamera yang lebih tahan banting karena sebagian besar terbuat dari logam, sedangkan kamera pemula biasanya terbuat dari plastik sehingga lebih ringan dan kecil.
Kamera yang canggih juga memiliki kecepatan tembak yang lebih cepat. Misalnya, bisa menembak lima sampai delapan foto per detik dibandingkan kamera pemula yang biasanya hanya bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F07%2Fbeda-kamera-canggih-dengan-pemula%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F07%2Fbeda-kamera-canggih-dengan-pemula%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Kamera yang canggih biasanya memiliki kualitas badan kamera yang lebih tahan banting karena sebagian besar terbuat dari logam, sedangkan kamera pemula biasanya terbuat dari plastik sehingga lebih ringan dan kecil.</p>
<p>Kamera yang canggih juga memiliki kecepatan tembak yang lebih cepat. Misalnya, bisa menembak lima sampai delapan foto per detik dibandingkan kamera pemula yang biasanya hanya bisa menembak sekitar tiga foto per detik.</p>
<div id="attachment_585" class="wp-caption alignright" style="width: 150px">
	<img class="size-full wp-image-585" title="Nikon D90 top lcd screen" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2010/07/nikon-d90-lcd.jpg" alt="Top LCD screen on top of Nikon D90" width="150" height="106" />
	<p class="wp-caption-text">Top LCD screen on top of Nikon D90</p>
</div>
<p>Kamera canggih biasanya juga memiliki dua layar LCD, satu di belakang dan satu diatas. Fungsi layar LCD yaitu memudahkan kita untuk melihat setting-setting utama kamera, terutama di bawah sinar matahari.</p>
<p>Lalu, kamera canggih memiliki jendela bidik yang lebih besar dan lebih jelas sehingga lebih memudahkan komposisi dan manual fokus.</p>
<p><strong>Apakah kamera canggih selalu lebih baik daripada kamera pemula?</strong></p>
<p>Meski kamera canggih biasanya lebih baik dari kamera pemula. Kadangkala, kamera pemula merupakan pilihan yang lebih baik bila kamera canggih terlalu berat dan mengambil banyak tempat untuk perjalanan jauh. Atau Anda baru belajar fotografi sehingga kamera canggih mungkin dapat membingungkan Anda.</p>
<p>Kadang kala, ada kamera canggih harganya lebih murah dari kamera pemula, misalnya Canon 40D termasuk kamera canggih, tapi lebih murah daripada Canon 550D karena Canon 40D adalah kamera keluaran beberapa tahun yang lalu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2010/07/beda-kamera-canggih-dengan-pemula/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Definisi foto fotojurnalistik</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2010/06/definisi-foto-fotojurnalistik/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2010/06/definisi-foto-fotojurnalistik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jun 2010 09:22:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[fotojurnalistik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=579</guid>
		<description><![CDATA[Aurora Photos, agen foto yang berspesialisasi menjual foto petualangan, gaya hidup, olahraga, travel, budaya dan jurnalistik mendefinisikan foto mana yang termasuk fotojurnalistik dan mana yang bukan. Definisi ini sangat membantu membedakan fotografer yang bergaya fotojurnalistik, dan yang bukan karena di era digital ini, banyak sekali foto yang telah dimanipulasi di piranti lunak pengolah foto.
Definisi foto [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F06%2Fdefinisi-foto-fotojurnalistik%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F06%2Fdefinisi-foto-fotojurnalistik%2F" height="61" width="51" /></a></div><p style="margin-top: 1em; margin-right: 0px; margin-bottom: 1em; margin-left: 0px;">Aurora Photos, agen foto yang berspesialisasi menjual foto petualangan, gaya hidup, olahraga, travel, budaya dan jurnalistik mendefinisikan foto mana yang termasuk fotojurnalistik dan mana yang bukan. Definisi ini sangat membantu membedakan fotografer yang bergaya fotojurnalistik, dan yang bukan karena di era digital ini, banyak sekali foto yang telah dimanipulasi di piranti lunak pengolah foto.</p>
<p><strong>Definisi foto fotojurnalistik</strong></p>
<ol>
<li>Foto yang merepresentasikan kenyataan yang terjadi saat foto dibuat.</li>
<li>Potret orang di lingkungannya. Tidak ada manipulasi digital, dan subjek bukan model dan tidak dibayar atau diberikan imbalan dalam pembuatan foto.</li>
<li>Foto yang di stel secara digital, namun tidak berlebihan. Penyetelan terangnya atau kontras foto tidak mengubah kenyataan di lapangan. Mempertajam foto diperbolehkan asal tidak berlebihan.</li>
<li>Manipulasi foto diperbolehkan sebatas membersihkan debu atau goretan di foto akibat scan.</li>
<li>Membuat foto panorama dengan menggabungkan beberapa foto menjadi satu.</li>
<li>Foto hitam putih yang tidak diberi warna.</li>
</ol>
<p><span id="more-579"></span></p>
<p><strong>Apa yang bukan fotojurnalistik</strong></p>
<ol>
<li> Secara digital mengubah subjek foto misalnya mengubah bentuk subjek, menghapus cacat pada wajah seperti jerawat, kotoran, dan  lain lain.</li>
<li>Menggabungkan dua foto ata lebih dalam satu foto.</li>
<li>Manipulasi foto baik warna, keterangan, kontras, saturasi yang mengubah realitas yang dilihat fotografer atau orang lain yang hadir saat foto diambil.</li>
<li>Subjek merupakan model yang dibayar atau diberi imbalan untuk partisipasi mereka untuk diambil fotonya.</li>
<li>Foto yang terlihat candid tapi ada elemen-elemen dimana subjek diposisikan secara khusus oleh fotografer.</li>
<li>Foto dimana subjek memakai pakaian, peralatan atau aksesoris yang disediakan fotografer.</li>
</ol>
<p style="margin-top: 1em; margin-right: 0px; margin-bottom: 1em; margin-left: 0px;">Via <a href="http://www.auroraphotos.com/user/search.shtml" target="_blank">APhoto Editor</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2010/06/definisi-foto-fotojurnalistik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Etika Fotografer</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2010/06/etika-fotografer/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2010/06/etika-fotografer/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jun 2010 02:13:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Potret]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=569</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai makhluk sosial, sebagai fotografer, kita tidak luput dari hubungan manusia. Bila kita hobi foto potret, maka kita akan berhubungan langsung dengan modelnya. Kalaupun hobi kita foto pemandangan, tetap saja kita harus berhubungan dengan orang lain di lokasi  untuk mendapatkan informasi atau bantuan.
Maka dari itu masalah etika, adalah masalah yang penting. Namun topik ini biasanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F06%2Fetika-fotografer%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F06%2Fetika-fotografer%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Sebagai makhluk sosial, sebagai fotografer, kita tidak luput dari hubungan manusia. Bila kita hobi foto potret, maka kita akan berhubungan langsung dengan modelnya. Kalaupun hobi kita foto pemandangan, tetap saja kita harus berhubungan dengan orang lain di lokasi  untuk mendapatkan informasi atau bantuan.</p>
<p>Maka dari itu masalah etika, adalah masalah yang penting. Namun topik ini biasanya jarang di bahas, fotografer biasanya lebih tertarik membahas soal kamera, lensa, pencahayaan dan lain lain.</p>
<p>Maksud dari etika versi saya adalah bagaimana cara kita berhubungan antar manusia, antara fotografer dan model, antara fotografer dengan asisten, atau dengan masyarakat lokal. Dengan memiliki etika yang baik, fotografer tentunya diuntungkan dengan mendapatkan foto yang lebih berarti, enak dilihat dan alami. Orang-orang di sekitar kita pun akan lebih senang membantu kita.</p>
<p>Secara garis besar, memiliki etika yang baik berarti fotografer bersikap rendah hati, hormat terhadap orang lain, antusias dan baik hati. Dalam foto potret, misalnya, terutama bila modelnya wanita, kita menghormatinya dengan tidak menyentuh saat mengarahkan. Menyentuh model wanita sangat tidak sopan terutama di Asia dan membuat model tersebut menjadi tidak nyaman. Selain itu, hindari kebiasaan berbicara dengan nada memerintah  dan sering-seringlah memuji atau berterima kasih bila memang patut.</p>
<p>Saat foto potret, seringkali model kita tidak berpengalaman atau kaku di depan kamera. Hal ini wajar, dan bisa diatasi dengan banyak berkomunikasi dengan mereka. Banyaklah bertanya kepada mereka, tentang hal-hal yang berkaitan dengan mereka, misalnya bila ia seorang musisi, maka tanyakanlah tentang hal berbau musik, atau paling tidak hidup mereka secara umum. Hindari perbincangan tentang hal-hal negatif seperti perang, dan hindari topik SARA.</p>
<p>Seiring dengan waktu, dengan berkomunikasi dengan mereka, mereka akan merasa lebih nyaman. Saat berinteraksi dengan mereka, Anda bisa memperhatikan bahasa tubuh mereka, sehingga memiliki ide sudut pandang  dan pose yang terbaik untuk mengambil foto. Hasilnya adalah foto yang lebih alami dan lebih cocok dengan karakter mereka.</p>
<div id="attachment_571" class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px">
	<img class="size-full wp-image-571 " title="hana-erna" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2010/06/hana-erna1.jpg" alt="Dengan berkomunikasi dan berusaha mengenal keluarga multikultural ini, mereka menjadi nyaman akan kehadiran saya, alhasil saya bisa mengambil foto ini. Saya menyukai foto ini karena secara alami melukiskan cinta ibu terhadap anak dan kesibukan sang ayah di depan komputer" width="480" height="320" />
	<p class="wp-caption-text">Dengan berkomunikasi dan berusaha mengenal keluarga multikultural ini, mereka menjadi nyaman akan kehadiran saya, alhasil saya bisa mengambil foto ini. Saya menyukai foto ini karena secara alami melukiskan cinta ibu terhadap anak dan kesibukan sang ayah di depan komputer</p>
</div>
<p>Maka dari itu, untuk foto potret, saya lebih menyukai foto sendiri daripada foto bersama kelompok fotografer lainnya. Dengan kehadiran banyak fotografer atau asisten dengan peralatan-peralatan yang rumit, kesempatan untuk berkomunikasi dengan model menjadi hampir tidak ada. Malahan yang terjadi adalah model akan merasa semakin tidak nyaman dan ini akan tercermin pada raut muka dan bahasa tubuh mereka.</p>
<div id="attachment_574" class="wp-caption aligncenter" style="width: 486px">
	<img class="size-full wp-image-574 " title="Fashion shoot model" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2010/06/pwa2009-fashion-shoot-1.jpg" alt="Bayangkan bila Anda adalah modelnya, sangat tidak nyaman bukan? Seperti rusa muda yang siap diterkam serigala-serigala lapar" width="486" height="323" />
	<p class="wp-caption-text">Bayangkan bila Anda adalah modelnya, sangat tidak nyaman bukan? Seperti rusa muda yang siap diterkam serigala-serigala lapar dari segala penjuru, depan, bawah dan samping.</p>
</div>
<p>Singkatnya, perlakukan orang-orang sekitar seperti Anda ingin diperlakukan. Dengan demikian, fotografi Anda akan bisa lebih maju. Selamat mencoba.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2010/06/etika-fotografer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Media penyimpanan SD card dan Compact Flash</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2010/05/media-penyimpanan-sd-card-dan-compact-flash/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2010/05/media-penyimpanan-sd-card-dan-compact-flash/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 May 2010 07:50:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=558</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin salah satu topik yang jarang dibahas di dunia fotografi adalah media penyimpanan seperti SD card dan Compact Flash. Tapi saya yakin banyak yang cukup bingung memilih media penyimpanan yang optimal untuk kameranya. Hal ini antara lain disebabkan karena para produsen suka membingungkan pembeli dengan mengeluarkan versi yang bermacam-macam dan mencampurkan kata-kata berbau marketing seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F05%2Fmedia-penyimpanan-sd-card-dan-compact-flash%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F05%2Fmedia-penyimpanan-sd-card-dan-compact-flash%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Mungkin salah satu topik yang jarang dibahas di dunia fotografi adalah media penyimpanan seperti SD card dan Compact Flash. Tapi saya yakin banyak yang cukup bingung memilih media penyimpanan yang optimal untuk kameranya. Hal ini antara lain disebabkan karena para produsen suka membingungkan pembeli dengan mengeluarkan versi yang bermacam-macam dan mencampurkan kata-kata berbau marketing seperti &#8220;Ultimate, Extreme, Pro, Ultra&#8221; dan sebagainya.</p>
<div id="attachment_560" class="wp-caption alignright" style="width: 150px">
	<img class="size-thumbnail wp-image-560" title="memory-card" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2010/05/memory-card-150x150.jpg" alt="Macam-macam memory card dari Compact Flash sampai SD card mini" width="150" height="150" />
	<p class="wp-caption-text">Macam-macam memory card dari Compact Flash sampai SD card mini</p>
</div>
<p>Pada dasarnya, media penyimpanan populer terbagi atas dua: SD card (yang berukuran relatif kecil) dan Compact Flash card (CF Card). Dulu, SD card berkapasitas rendah dan pelan, sehingga kamera yang canggih biasanya mengunakan CF card.</p>
<p>Tapi kini SD card cukup cepat dan berkapasitas besar sehingga kamera canggih seperti Nikon D300s pun telah memiliki slot SD card.</p>
<p>Adapun kelebihan Compact Flash yaitu kualitas casingnya lebih kokoh, selain itu &#8220;contact&#8221; nya tidak terbuka seperti SD card. Di lain pihak, SD card, sesuai dengan namanya (Secure Digital), Anda dapat mengunci kartu supaya tidak bisa ditulis. Caranya tinggal menggeser <em>slider</em> di sebelah kiri SD card ke bawah. Selain itu SD card biasanya lebih murah dari CF card. <span id="more-558"></span></p>
<h3>Lalu apa saja yang perlu diperhatikan sebelum membeli SD / CF card?</h3>
<p><strong>1. KECEPATAN</strong></p>
<p>Hal yang utama tentunya adalah <strong>kecepatan</strong>. Kecepatan yang tinggi memastikan kartu Anda dapat menulis dan membaca foto dengan cepat, sehingga tidak kehilangan momen karena harus menunggu kamera menulis foto ke media penyimpanan.</p>
<p>Biasanya, kecepatan SD/CF card di ukur dengan Megabyte per detik. Cara melihatnya adalah dengan melihat &#8220;Class&#8221; nya. Biasanya tertera di label SD card. Class 4 berarti kecepatan baca tulis minimal 4 mb/detik. Class 10 berarti kecepatan baca tulis minimal 10 mb / detik. Gampang bukan?</p>
<p>Lalu ada juga yang mengunakan ukuran perkalian dibanding dengan kecepatan Compact Disk (150 KB/s). Jadi kadang Anda akan menemukan CF card yang bertuliskan 133x, yang berarti kurang lebih 20 mb / detik atau class 20. Kalau yang 266x, berarti 40 mb / detik.</p>
<p class="note">Sebagai aturan umum, class 4 atau 4 MB/s sudah cukup untuk pemakai kamera saku berukuran 5-10 megapixel. Class 6 cukup baik untuk kamera digital SLR pemula, dan untuk yang canggih, atau ber megapixel besar, saya sarankan minimal memakai kartu berkecepatan 20 mb / detik.</p>
<p><strong>2. KAPASITAS</strong></p>
<p>Hal lain yang perlu diperhatikan yaitu kapasitas. Faktor faktor yang mempengaruhi pilihan Anda yaitu:</p>
<p><strong>Jenis kamera dan besarnya foto yang dihasilkan kamera Anda</strong><br />
Contohnya, kamera saku memerlukan kapasitas yang lebih sedikit daripada kamera digital SLR.</p>
<p><strong>Gaya foto Anda</strong><br />
Bila Anda mengambil foto atau video dalam jumlah sangat banyak dalam satu sesi, tentunya lebih baik memiliki media penyimpanan berkapasitas lebih besar.</p>
<p class="note">Sebagai gambaran, kartu berkapasitas 4 MB bisa menampung kurang lebih 400 foto JPG ukuran terbesar atau 155 foto RAW dari kamera Nikon D700 yang berukuran 12 megapixel. kartu yang berkapasitas sama, bisa menampung 800 foto yang dihasilkan kamera saku Panasonic LX3.</p>
<p class="note">
<p>Bila Anda seorang profesional, ada baiknya juga membeli beberapa kartu daripada satu kartu. Misalnya Anda bisa membeli dua kartu berkapasitas 2 GB daripada 1 kartu berkapasitas 4 GB. Karena bila satu kartu gagal/rusak, maka Anda ada yang satunya lagi. Untuk video, Anda mungkin perlu kartu berkapasitas minimal 8 GB, karena video memakan tempat sangat cepat. 10 menit video Full HD bisa memakan 2 GB atau lebih. </p>
<p><strong>3. MEREK</strong></p>
<p>Merek sebenarnya tidak berpengaruh banyak akan kinerja karena media penyimpanan kurang lebih seperti komoditas. Tapi banyak produsen yang menyamarkan hal ini dengan mengunakan marketing misalnya memberikan label packaging yang menarik sehingga mereka bisa menjual produk tersebut dengan harga yang lebih tinggi dari nilai yang sebenarnya.</p>
<p>Tapi saya juga tidak menyarankan membeli media penyimpanan yang tidak bermerek karena kualitas kontrolnya cukup bervariasi dan tidak bisa diandalkan. Beberapa merek yang bisa dipercaya di pasar yaitu Transcend, Kingston, Sandisk dan Lexar.</p>
<p>Mudah-mudahan artikel ini bisa memberikan pedoman untuk Anda dalam memahami media penyimpanan. Selamat belanja.</p>
<p><strong>Istilah / Singkatan</strong></p>
<p>SDHC = Secure Digital High Capacity = Media penyimpanan dari 4 GB ke 32 GB</p>
<p>SDXC = Secure Digital eXtended Capacity = Media penyimpanan sampai 2 Terabyte</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2010/05/media-penyimpanan-sd-card-dan-compact-flash/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aspek teknis dalam fotografi</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2010/05/aspek-teknis-dalam-fotografi/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2010/05/aspek-teknis-dalam-fotografi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 10:11:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dasar Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=527</guid>
		<description><![CDATA[Yang sering menjadi kendala utama fotografer pemula adalah kendala teknis. Banyak yang tidak mengetahui dasar dan tidak mengenal kameranya dengan baik. Saya pikir ini penting sekali untuk diatasi sebelum melangkah lebih jauh. Dengan menguasai aspek teknis, kita bisa membuat foto yang kita inginkan.
EXPOSURE / PENCAHAYAAN
Inti fotografi adalah pencahayaan, maka itu sangat penting kita memahami hal ini. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F05%2Faspek-teknis-dalam-fotografi%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F05%2Faspek-teknis-dalam-fotografi%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Yang sering menjadi kendala utama fotografer pemula adalah kendala teknis. Banyak yang tidak mengetahui dasar dan tidak mengenal kameranya dengan baik. Saya pikir ini penting sekali untuk diatasi sebelum melangkah lebih jauh. Dengan menguasai aspek teknis, kita bisa membuat foto yang kita inginkan.</p>
<h3>EXPOSURE / PENCAHAYAAN</h3>
<p>Inti fotografi adalah pencahayaan, maka itu sangat penting kita memahami hal ini. Ada <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/07/segitiga-emas-fotografi/" target="_blank">tiga faktor utama</a> yang menentukan pencahayaan yaitu bukaan (aperture), kecepatan pemantik (shutter speed) dan sensitivitas sensor (ISO).</p>
<div id="attachment_546" class="wp-caption alignleft" style="width: 150px">
	<img class="size-thumbnail wp-image-546" title="scene-modes" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2010/05/scene-modes-150x150.jpg" alt="Jenis mode kamera yang bisa dipilih" width="150" height="150" />
	<p class="wp-caption-text">Jenis mode kamera yang bisa dipilih</p>
</div>
<p>Berkaitan erat dengan pencahayaan, pertanyaan yang sangat sering saya dapatkan adalah <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/07/mode-dalam-kamera-digital-slr/" target="_blank">mode kamera</a> apa yang saya harus pakai. Bagi yang memahami prinsip pencahayaan, tentunya lebih cenderung memakai Manual (M), Aperture Priority (A/Av) atau Shutter Priority (S/Tv).</p>
<p>Lalu bagaimana dengan Auto mode, atau Program (P) mode atau scene modes seperti landscape mode (yang gambarnya seperti gunung) atau portrait mode (yang gambar wajah orang dari samping)? Apakah boleh memakai mode itu? Boleh saja kalau belum memahami pencahayaan, tapi bila telah memahami, otomatis kita tidak butuh lagi mode-mode tersebut.</p>
<p>Saya sendiri menyukai <em>Aperture Priority</em>, karena saya bisa fokus dalam mengendalikan berapa kabur latar belakang foto.</p>
<p class="alert">Mempelajari pencahayaan ibaratnya seperti belajar mobil manual, berenang atau belajar naik sepeda. Pertama-tama rasanya susah sekali, tapi kalau sudah memahami dan disertai praktek yang teratur, segalanya akan menjadi lancar. Setelah memahami hal ini, hasil hasil foto-foto Anda akan lebih konsisten.</p>
<h3>EXPOSURE COMPENSATION / KOMPENSASI</h3>
<div id="attachment_530" class="wp-caption alignright" style="width: 210px">
	<img class="size-medium wp-image-530 " title="pencahayaan-berlebih-histogram" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2010/05/pencahayaan-berlebih-histogram-300x120.jpg" alt="Histogram: Kalau kurva berwarna hitamnya banyak menumpuk di sebelah kanan seperti ilustrasi di atas. Ini menandakan pencahayaannya terlalu berlebihan" width="210" height="84" />
	<p class="wp-caption-text">Histogram: Kalau kurva berwarna hitamnya banyak menumpuk di sebelah kanan seperti ilustrasi di atas. Ini menandakan pencahayaannya terlalu berlebihan</p>
</div>
<p>Masih berkaitan dengan pencahayaan, hal yang perlu diperhatikan terutama fotografi digital adalah menghindari pencahayaan berlebih sehingga foto menjadi terlalu terang karena akan banyak detail yang hilang dan tidak bisa dimunculkan kembali. Untuk mengecek apakah foto kita terlalu terang, kita bisa lihat di layar LCD atau histogram.</p>
<p>Selain itu seringkali bila pemandangan di depan kita lebih banyak warna gelapnya daripada terangnya, kamera sering salah menafsirkan, sehingga foto menjadi lebih terang. Untuk itu, kita bisa mengakalinya dengan mengunakan fungsi <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/11/kompensasi-eksposur/" target="_blank">kompensasi pencahayaan</a>.</p>
<p>Nilai kompensasi tergantung pemandangan, jenis pengukur cahaya /metering yang aktif  dan jenis kamera. Saran saya coba-coba saja sampai menemukan pencahayaan yang optimal.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px">
	<img class=" " src="http://enche.smugmug.com/Student-Events/Commencement-2010/DSC9909/878728640_Bt6fW-M.jpg" alt="Dalam foto ini, kompensasi pencahayaan diperlukan karena sebagian besar area di dalam foto berwarna gelap. Bila tidak, wajah akan terlalu terang dan jubah akan berwarna abu-abu. Data Teknis: Av mode, 200mm, f/4, 1/320 detik, ISO 200, EC -1" width="480" height="319" />
	<p class="wp-caption-text">Dalam foto ini, kompensasi pencahayaan diperlukan karena sebagian besar area di dalam foto berwarna gelap. Bila tidak, wajah akan terlalu terang dan jubah akan berwarna abu-abu. Data Teknis: Av mode, f/4, 1/320 detik, ISO 200, EC -1</p>
</div>
<h3>MENCEGAH FOTO KABUR / GOYANG</h3>
<p>Dua faktor foto kabur atau goyang adalah salah fokus atau shutter speed kurang tinggi. Untuk masalah auto fokus, jangan mengandalkan setting automatic focus, tapi pilihlah titik fokus tertentu. Bila subjek bergerak, maka gunakanlah <em>continuous AF</em> sehingga auto focus bisa mengikuti subjek.</p>
<p>Untuk memastikan fokusnya benar-benar telah terkunci, bisa dari suara &#8220;<em>beep</em>&#8221; atau lihat konfirmasi AF yang biasanya berbentuk bulatan atau kotak hijau di dalam jendela bidik / viewfinder.</p>
<p>Berkenaan dengan masalah shutter speed, untuk foto subjek yang bergerak, butuh shutter speed yang cukup tinggi. Contoh: minimal 1/125 untuk foto orang berjalan. Kalau lebih rendah, foto akan kabur. Di kondisi cahaya yang kurang baik, triknya adalah menaikkan nilai ISO, sehingga shutter speed tinggi bisa dicapai.</p>
<p>Untuk faktor kedua, saya pernah menulis artikel <em>Supaya foto tidak kabur</em> [<a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/08/supaya-foto-tidak-blur/" target="_blank">bagian 1</a> | <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2010/02/supaya-foto-tidak-blur-bagian-ii/" target="_blank">bagian 2</a>].</p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 200px">
	<img src="http://www.enchetjin.com/Dance/Bucknell-Dance-Company-Spring/20090422-DSC4029/528581826_DUmFY-S.jpg" alt="Foto #2" width="200" height="300" />
	<p class="wp-caption-text">Foto #2</p>
</div>
<p class="note">Keterangan Foto #2: Untuk membekukan foto penari, saya mengunakan setting AF-C (Nikon) / Ai Servo (Canon) supaya auto fokusnya tetap terkunci pada penari tersebut meski bergerak dengan cepat. Lalu saya juga mengunakan shutter speed yang cukup tinggi. Saya juga mengunakan kompensasi ekposur untuk mengkompensasikan latar belakang yang hitam pekat. <strong>Data Teknis</strong>: Aperture priority (Av) mode f/4, 1/200 detik, EC -1 1/3, AF-C, ISO 1250, 70mm.</p>
<h3>DEPTH OF FIELD / KEDALAMAN FOKUS</h3>
<p>Kedalaman fokus yang tipis membuat subjek lebih menonjol dan latar belakang menjadi blur sehingga berkesan artistik.</p>
<p>Untuk membuat efek seperti itu, saya pernah menulis artikel <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/10/faktor-yang-menyebabkan-latar-belakang-foto-menjadi-blur-kabur/" target="_blank">faktor-faktor yang menentukan latar belakang menjadi kabur.</a></p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px">
	<img class=" " src="http://enche.smugmug.com/Portraits/Oana-Peterca/Oana-face-modifiedpp/879562912_PYji3-M.jpg" alt="Di foto ini, saya mengunakan bukaan sangat besar, yaitu f/1.4 sehingga depth of field sangat tipis, latar belakang menjadi sangat mulus, bahkan sebagian besar rambut juga udah kabur. Selain itu, lensa yang saya pakai juga cukup tele. Data Teknis: f/1.4,  85mm, 1/1600 detik ISO 200 " width="480" height="319" />
	<p class="wp-caption-text">Di foto ini, saya mengunakan bukaan sangat besar, yaitu f/1.4 sehingga depth of field sangat tipis, latar belakang menjadi sangat mulus, bahkan sebagian besar rambut juga udah kabur. Selain itu, lensa yang saya pakai juga cukup tele. Data Teknis: f/1.4,  85mm, 1/1600 detik ISO 200 </p>
</div>
<h3>WHITE BALANCE</h3>
<div id="attachment_543" class="wp-caption alignleft" style="width: 178px">
	<img class="size-medium wp-image-543" title="wb-white-balance" src="http://www.infofotografi.com/blog/wp-content/uploads/2010/05/wb-white-balance-222x300.jpg" alt="wb-white-balance" width="178" height="240" />
	<p class="wp-caption-text">Contoh beberapa preset White Balance</p>
</div>
<p>Tips terakhir untuk artikel ini adalah menentukan setting WB / White balance yang tepat dengan kondisi atau hasil yang ingin dicapai. Memang di setiap kamera biasanya telah ada AWB atau Auto White Balance, tapi sekali lagi, AWB sering kali tidak menerjemahkan kondisi lapangan dengan baik atau tidak memahami keinginan kita.</p>
<p>Misalnya bila kondisi cahaya di lapangan mendung, maka pilihlah WB cloudy (yang bergambar seperti awan). Kalau di bawah bayangan, pilih Shade dan seterusnya. Kalau di dalam ruangan yang lampunya kuning, maka pakailah WB tungsten (yang gambarnya seperti bola lampu).</p>
<p>Bila ingin foto terlihat lebih hangat (kekuningan/jingga), maka set WB ke cloudy atau shade. Bila ingin foto terlihat lebih dingin / kebiruan, maka pilihlah WB tungsten.</p>
<p>Untuk kamera yang canggih, kita bisa mengeset temperatur warna sendiri dalam derajat Kelvin. Makin rendah makin biru, makin tinggi makin kekuningan.</p>
<h3>PENUTUP</h3>
<p>Sebelum mengembangkan fotografi secara artistik, tentunya kita harus menguasai hal-hal teknis terlebih dahulu. Maka itu, kita benar-benar perlu sungguh-sungguh belajar dan berlatih.</p>
<p>Lalu saya perlu tekankan juga bahwa untuk menguasai hal-hal teknis, tidak diperlukan kamera atau lensa yang canggih yang mahal. Asal kameranya punya fungsi Manual dan semi otomatis seperti Aperture priority atau Shutter priority, maka Anda bisa mempraktekkan prinsip-prinsip fotografi diatas.</p>
<p>Banyak juga yang di bahas di artikel ini, semoga bisa dipahami dan selamat berlatih.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2010/05/aspek-teknis-dalam-fotografi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seni di dalam fotojurnalisme</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2010/05/seni-di-dalam-fotojurnalisme/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2010/05/seni-di-dalam-fotojurnalisme/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 05:51:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dasar Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[fotojurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[komposisi]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=518</guid>
		<description><![CDATA[Biasanya fotojurnalisme, atau sering disebut juga foto liputan, reportase, membosankan dan tidak ada seninya. Pendapatan wartawan foto juga termasuk rendah terutama dibandingkan dengan foto komersil atau potret. Dalam dekade terakhir, ada upaya untuk menyegarkan foto liputan, yaitu dengan mengkombinasikan seni ke dalam foto liputan.  Saya sendiri menyambut positif elemen artistik ke dalam fotojurnalisme. Elemen ini membuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F05%2Fseni-di-dalam-fotojurnalisme%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F05%2Fseni-di-dalam-fotojurnalisme%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Biasanya <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/07/fotojurnalism/" target="_blank">fotojurnalisme</a>, atau sering disebut juga foto liputan, reportase, membosankan dan tidak ada seninya. <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2010/01/fotografer-pekerjaan-profesi/" target="_blank">Pendapatan wartawan foto</a> juga termasuk rendah terutama dibandingkan dengan foto komersil atau potret. Dalam dekade terakhir, ada upaya untuk menyegarkan foto liputan, yaitu dengan mengkombinasikan seni ke dalam foto liputan.  Saya sendiri menyambut positif elemen artistik ke dalam fotojurnalisme. Elemen ini membuat foto menjadi lebih menarik untuk dinikmati.</p>
<p>Lalu, bagaimana caranya membuat fotojurnalisme menjadi lebih artistik?</p>
<h3>KOMPOSISI</h3>
<p>Saya pikir komposisi adalah poin yang <strong>sangat penting</strong> untuk membuat foto menjadi lebih artistik, tidak terkecuali dalam foto liputan. Banyak <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/12/komposisi-perspektif/" target="_blank">prinsip komposisi</a> yang ada dan bisa dicoba-coba. Tantangannya adalah jenis komposisi yang mana yang sesuai dengan apa yang ada di depan kita.</p>
<p>Salah satu prinsip dasar yang paling banyak digunakan adalah <em>Rule of Thirds</em>, yaitu menempatkan subjek utama 1/3 dari badan foto, daripada memposisikan subjek di tengah-tengah badan foto.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px">
	<img class=" " title="Komposisi rule of thirds" src="http://enche.smugmug.com/Student-Events/Commencement-2010/DSC9909/878728640_Bt6fW-M.jpg" alt="Dengan menempatkan subjek foto gak sebelah kanan (bukan ditengah), foto terlihat lebih dinamis" width="480" height="319" />
	<p class="wp-caption-text">Dengan menempatkan subjek foto gak sebelah kanan (bukan ditengah), foto terlihat lebih dinamis</p>
</div>
<p>Lalu saya juga suka mencari pola dalam foto, yaitu bentuk yang berulang-ulang seperti kain batik.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px">
	<img class=" " title="Komposisi Pola" src="http://enche.smugmug.com/Student-Events/Commencement-2010/DSC0134/878730815_igCxY-M.jpg" alt="Contoh komposisi pola: Di sini, saya menangkap tiga orang nenek-nenek sedang tersenyum saat mendengarkan ceramah" width="480" height="319" />
	<p class="wp-caption-text">Contoh komposisi pola: Di sini, saya menangkap tiga orang nenek-nenek sedang tersenyum saat mendengarkan ceramah</p>
</div>
<p>Kita juga bisa &#8220;break down&#8221; (membongkar) suatu pemandangan ke elemen-elemen dasar grafis seperti garis, segitiga, persegi panjang, lingkaran dan lain-lain.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px">
	<img class="  " title="Komposisi bentuk segitiga" src="http://enche.smugmug.com/Student-Events/Commencement-2010/DSC0416/878726634_wYYNh-M.jpg" alt="Komposisi dalam foto diatas memiliki bentuk segitiga" width="480" height="319" />
	<p class="wp-caption-text">Komposisi dalam foto diatas memiliki bentuk segitiga. Saya juga menerapkan prinsip rule of thirds</p>
</div>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px">
	<img class=" " title="Komposisi garis dan perspektif" src="http://enche.smugmug.com/Student-Events/Commencement-2010/DSC9965/878730213_Q8t8D-M.jpg" alt="Kombinasi komposisi garis dan perspektif (Saat membuat foto ini, saya jongkok sehingga sudut pandang lebih menarik daripada bila saya berdiri)" width="480" height="319" />
	<p class="wp-caption-text">Kombinasi komposisi garis dan perspektif (Saat membuat foto ini, saya jongkok sehingga sudut pandang lebih menarik daripada bila saya berdiri). Foto juga terlihat lebih tiga dimensi karena saya mengunakan lensa lebar</p>
</div>
<p>Selain itu, kita bisa mengubah perspektif / sudut pandang kita, misalnya naik ke tempat yang lebih tinggi, atau jongkok dan tiarap. <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2010/04/mengapa-saya-menyukai-lensa-lebar/" target="_blank">Mengunakan lensa lebar</a> juga bisa membuat sudut pandang yang lebih menarik.</p>
<h3>MINIMALISTIK</h3>
<p>Untuk membuat foto Anda keliatan lebih nyeni lagi, Anda bisa mencoba <a href="http://www.infofotografi.com/blog/2009/10/faktor-yang-menyebabkan-latar-belakang-foto-menjadi-blur-kabur/" target="_blank">membuat latar belakang menjadi kabur</a>. Dengan demikian, subjek Anda akan lebih menonjol dan latar belakang menjadi seperti efek lukisan.</p>
<p>Untuk membuat foto menjadi benar-benar minimalistik, kita harus benar-benar memperhatikan latar belakang, cari latar belakang yang polos dan tidak rumit, sehingga saat di blur dengan setting aperture/bukaan besar, latar belakang benar-benar mulus sehingga tidak mengganggu perhatian pemirsa akan subjek utama.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 480px">
	<img class=" " title="Minimalistik" src="http://enche.smugmug.com/Student-Events/Commencement-2010/DSC0041-3/878816281_zfkz8-M.jpg" alt="Saya mencoba membuat foto ini seminimal mungkin dengan membuat latar belakang menjadi kabur, sehingga terlihat seperti lukisan dan pemirsa lebih fokus melihat pada subjek utamanya. Selain itu dari komposisi, saya tidak memposisikan subjek di tengah foto" width="480" height="270" />
	<p class="wp-caption-text">Saya mencoba membuat foto ini seminimal mungkin dengan membuat latar belakang menjadi kabur, sehingga terlihat seperti lukisan dan pemirsa lebih fokus melihat pada subjek utamanya. Selain itu dari komposisi, saya tidak memposisikan subjek di tengah foto</p>
</div>
<h3>OLAH FOTO</h3>
<p>Setelah di foto diambil, kita bisa memproses foto kita di Photoshop atau Lightroom. Karena fotojurnalisme, maka saya tidak memanipulasi foto. Yang saya lakukan biasanya adalah melakukan <em>fine tuning</em> warna, eksposur dan kroping. Kadang-kadang saya mengubah foto menjadi hitam putih bila saya merasa fotonya akan lebih enak dilihat.</p>
<p>Memang teknologi piranti lunak sangat hebat sekarang dan mudah sekali dilakukan, tapi yang paling penting tetap adalah saat pengambilan foto, jangan sepelekan itu dan jangan pernah terbersit pemikiran seperti &#8220;Ah nanti aja di betulin atau dipercantik di Photoshop atau piranti lunak pengolah foto lainnya. Juga, saya sarankan jangan terlalu asik mengolah foto (over processing) sehingga inti dari foto tersebut hilang atau berubah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2010/05/seni-di-dalam-fotojurnalisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana mendapatkan kritik yang membangun</title>
		<link>http://www.infofotografi.com/blog/2010/05/bagaimana-mendapatkan-kritik-yang-membangun/</link>
		<comments>http://www.infofotografi.com/blog/2010/05/bagaimana-mendapatkan-kritik-yang-membangun/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 May 2010 07:08:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Enche</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.infofotografi.com/blog/?p=510</guid>
		<description><![CDATA[Kritik ada dua macam, ada yang membangun, ada juga yang menghancurkan. Waktu kita baru belajar foto, kritik penting, sehingga kita bisa belajar dan maju. Tapi kritik juga bisa menghancurkan.  Seringkali pemberi kritik juga bingung, apa yang harus diberikan.
Maka dari itu kita perlu  melakuan beberapa pekerjaan rumah:

Kita perlu tau apa yang kita ingin capai
Kita perlu tau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: left;margin-right: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F05%2Fbagaimana-mendapatkan-kritik-yang-membangun%2F"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.infofotografi.com%2Fblog%2F2010%2F05%2Fbagaimana-mendapatkan-kritik-yang-membangun%2F" height="61" width="51" /></a></div><p>Kritik ada dua macam, ada yang membangun, ada juga yang menghancurkan. Waktu kita baru belajar foto, kritik penting, sehingga kita bisa belajar dan maju. Tapi kritik juga bisa menghancurkan.  Seringkali pemberi kritik juga bingung, apa yang harus diberikan.</p>
<p>Maka dari itu kita perlu  melakuan beberapa pekerjaan rumah:</p>
<ul>
<li>Kita perlu tau apa yang kita ingin capai</li>
<li>Kita perlu tau latar belakang pemberi kritik (kritikus), keahlian, aliran yang dianut dsb.</li>
<li>Kita perlu mempersiapkan foto-foto yang ingin di kritik</li>
<li>Kita perlu mendengarkan kritik dengan pikiran yang terbuka</li>
<li>Kita perlu belajar dari kritik tersebut dan memperbaiki kesalahan kita</li>
</ul>
<p>Bila kita suka foto potret fashion, maka meminta pendapat dari wartawan foto (fotojurnalis) tentunya kurang tepat. Fotografer fashion mementingkan keindahan, sedangkan fotojurnalis mementingkan otentisitas.</p>
<p>Bila Anda hobi foto fashion tapi meminta kritik dari seorang fotojurnalis, foto Anda akan disebut tidak alami dan dibuat-buat. Sebaliknya bila Anda suka fotojurnalisme, fashion fotografer akan mengatakan foto Anda seperti foto asal jepret.</p>
<p>Posting foto kita di flickr, facebook, dengan tujuan untuk mendapatkan kritik juga kurang tepat karena khalayak umum tidak tau menahu tentang jenis foto atau teknik yang Anda geluti. Seringkali saya malah geli melihat sesama kritikus malah berdebat kusir. Maka dari itu, manfaatkan situs jejaring sosial untuk mendapatkan teman, tapi bukan untuk mendapatkan kritik. Untuk mendapatkan kritik yang membangun, kita perlu persiapkan diri dan mencari kritikus yang sesuai.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.infofotografi.com/blog/2010/05/bagaimana-mendapatkan-kritik-yang-membangun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
