≡ Menu

Workshop editing foto Black and White

Foto hitam putih tetap menarik di jaman sekarang karena foto hitam putih bersifat klasik dan abadi. Banyak pertanyaan yang ditujukan ke saya tentang bagaimana membuat foto hitam putih yang baik? Apakah menyetel mode hitam putih di kamera saja sudah cukup? Ternyata tidak seperti itu. Perlu proses editing untuk membuat foto hitam putih yang bagus dan optimal.

pangalengan-momi-1

Maka itu, Infofotografi menyelenggarakan workshop foto hitam putih dan editing dengan bimbingan pakarnya foto hitam putih yaitu pak Hendro “Momi” Poernomo.

Workshop akan diadakan hari Sabtu, tanggal 25 Maret 2017, pukul 13.00-17.00 WIB.

Lokasi di Infofotografi, Rukan Sentra Niaga Blok N-05, Green Lake City, Kresek Duri Kosambi, Jakarta Barat.
GPS : 6.1794S 106.7115E

Info lokasi dan rute bisa dibaca di sini.

Materi workshop:

  • Perkenalan foto hitam putih, sejarah dan seni
  • Setting kamera untuk foto hitam putih
  • Tips dan aksesoris yang membantu saat memotret
  • Editing B&W dengan software Adobe Lightroom dan Silver Efex Pro.
  • Demonstrasi editing oleh Instruktur
  • Praktik editing masing-masing peserta dan feedback dari instruktur

[click to continue…]

{ 3 comments }

Membahas format kamera di tahun 2017

Dalam memilih kamera, yang penting bukan hanya memilih berdasarkan merk kamera saja, tapi yang lebih penting sebenarnya adalah memilih format kamera, dalam artian ukuran sensor gambar. Pilihan format kamera akan berpengaruh terhadap karakter foto yang dihasilkan, lensa-lensa yang tersedia, ukuran dan berat sistem kamera dan kinerja/kecepatan.

Lebih kecil dari 1 inch seperti 1/2.3, 1/1.7, 2/3

Biasanya format sensor kecil digunakan di kamera pocket/compact dan kamera ponsel. Kualitasnya kurang begitu baik di kondisi gelap, tapi ukuran kamera bisa dibuat kecil. Di era sekarang, kebanyakan kamera compact yang berformat kecil semakin tidak laku karena kualitas foto hasil kamera ponsel sudah cukup baik.

Merk yang berpartisipasi di format ini: Kamera ponsel, Pentax Q, kamera compact/ prosumer low-end.

1 Inch (13 x 9 mm)

Format 1 inci digunakan di sistem kamera seperti Nikon 1 dan Samsung NX mini dan berbagai kamera compact dan prosumer. Sistem kamera seperti Nikon 1 dan NX mini tidak berjalan dengan baik di penjualan karena kualitas gambar yang dihasilkan dibawah format yang lebih besar, dan harganya juga tidak bersaing.

Sistem kamera Nikon 1 sebenarnya bisa memanfaatkan lensa-lensa DSLR Nikon dengan adaptor. Tapi masalahnya crop factor 2.7X mengubah semua lensa termasuk wide menjadi telefoto, jadi agak merepotkan, kecuali memang sengaja untuk memotret satwa liar atau subjek yang jauh sekali.

Yang lebih lumayan adalah kamera compact yang mengunakan sensor 1 inci. Karena lensanya sudah fix, maka ukuran kamera bisa dibuat lebih ramping. Contoh kameranya adalah Sony RX100, Panasonic LX10 dan Canon G7X.

Kamera prosumer juga oke dengan format ini, karena kualitas fotonya oke dan zoomnya panjang, contoh: Panasonic FZ2500 dan Sony RX10. Untuk compactnya, saat ini banyak digunakan untuk melakukan vlog, karena ukuran kameranya relatif kecil dan untuk merekam video di kondisi indoor masih baik.

Rata-rata kamera compactnya sekitar 300-500 gram. Untuk kamera prosumer sekitar 500-1000 gram
Merk yang berpartisipasi di format ini antara lain: Nikon, Samsung NX mini, Canon, Panasonic, Sony

Four thirds (17 x 13 mm)

Ukuran sensor four thirds lebih besar dari format 1 inch, tapi dibawah APS-C. Keunggulan format ini adalah memungkinkan lensa-lensa yang berukuran relatif compact (ringkas) sehingga saat dibawa traveling tidak terlalu terbebani saat harus bawa tiga sampai empat lensa tambahan.

Belakangan, kamera four thirds juga dioptimalkan untuk merekam video, contohnya kamera Panasonic GX85, G85 dan GH4, GH5 sangat bagus dalam merekam video dan sudah bisa merekam video dengan resolusi sangat tinggi (4K). Kinerja autofokus juga makin baik dengan hadirnya Olympus OMD EMII, dan Panasonic GH5.

Format four thirds adalah format terbuka, sehingga banyak perusahaan kecil membuatkan lensa untuk sistem ini. Pemain utama: Olympus, Panasonic, Xiaomi Xiaoyi, blackmagicdesign (kamera khusus video).
Rata-rata kamera dan lensa micro four thirds beratnya sekitar 400-750 gram

[click to continue…]

{ 48 comments }

Infofotografi pindah markas!

Setelah empat tahun kami menempati markas di daerah Roxy, Cideng, Jakarta Pusat, mulai pertengahan bulan Maret 2017 ini infofotografi akan pindah markas ke daerah Green Lake City, Jakarta Barat. Pertimbangan utamanya adalah untuk menyediakan tempat parkir yang lebih aman dan luas, tempat belajar yang lebih tenang, dan akses jalan yang lebih mudah dan besar.

Markas Infofotografi baru ini terletak di Green Lake City, sebuah kompleks yang didominasi oleh ruko dan perumahan yang terletak di perbatasan Jakarta Barat – Tangerang. Akses utama untuk jalan kesana bisa dari utara (Daan-Mogot – Duri Kosambi – Green Lake City), atau dari selatan (Tol Jakarta – Tangerang via gerbang tol Karang Tengah Barat). Kabar bagusnya, pintu tol Karang tengah utama yang kerap macet kini sudah mulai proses relokasi, sehingga nantinya kemacetan di jalur tol Jakarta Tangerang bakal berkurang drastis.

Kelas pertama yang diadakan di lokasi baru adalah Kursus kilat dasar fotografi dan lighting. Mudah-mudahan tempat baru ini lebih nyaman dan lebih mudah aksesnya bagi teman-teman yang ingin belajar fotografi di kemudian hari.

Peta akses jalannya adalah sebagai berikut:

Alamat lengkap:

Infofotografi, Rukan Sentra Niaga Blok N-05, Green Lake City, Duri Kosambi, Jakarta Barat 11750.

GPS : 6.1794S 106.7115E

Akses via jalan tol :

Dari tol Jakarta (Tomang) :
setelah lewat gerbang tol Karang Tengah keluar di km 11 (Karang Tengah/Ciledug/Cipondoh), ambil arah kanan ke Green Lake City, ikuti jalan utama dan naik fly over lalu menuju ke boulevard lalu belok kanan ke Cordoba. Menjelang pertigaan Kresek putar balik lalu belok kiri/masuk ke rukan Sentra Niaga.

Dari tol Tangerang/Serang/Merak :
keluar tol di km 11 (Karang Tengah Barat 2-GTO), ambil arah Green Lake City, ikuti jalan utama dan naik fly over lalu menuju ke boulevard lalu belok kanan ke Cordoba. Menjelang pertigaan Kresek putar balik lalu belok kiri/masuk ke rukan Sentra Niaga.

Dari Bandara/Ancol :

Saat berada di tol JORR W1 dari arah utara (Kamal/Cengkareng) setelah tiba di daerah Puri Kembangan langsung belok kiri (tertulis keluar Tomang/Tangerang/Merak) lalu pilih yang arah Tangerang dan keluar di km 11 (Karang Tengah/Ciledug/Cipondoh), ambil arah kanan ke Green Lake City, ikuti jalan utama dan naik fly over lalu menuju ke boulevard lalu belok kanan ke Cordoba. Menjelang pertigaan Kresek putar balik lalu belok kiri/masuk ke rukan Sentra Niaga.

Alternatif akses non tol :

Dari Daan Mogot :
Opsi 1 : Ikuti jalan Daan Mogot lewati perempatan Cengkareng terus ke arah Kalideres, lalu belok kiri arah Jl Semanan raya, ikuti sampai ketemu Jl Raya Kresek kemudian belok kanan ke Green Lake City, lalu langsung belok/masuk ke rukan Sentra Niaga.

Opsi 2 : Ikuti jalan Daan Mogot sampai perempatan Cengkareng belok kiri arah Puri Kembangan, putar balik lalu menuju ke Pondok Randu atau Duri Kosambi, lalu menuju Jl Raya Kresek kemudian belok kiri ke Green Lake City, lalu langsung belok/masuk ke rukan Sentra Niaga.

Dari Puri Indah :
Bisa mengambil Jl Kembangan sampai ketemu lampu merah kolong tol JORR lalu kanan lewat samping Puri Mansion, belok kiri di Jl Pondok Randu sampai bertemu pertigaan Jl Kresek (ada PEC di kanan jalan) belok kanan kemudian belok kiri di Green Lake City, lalu langsung belok/masuk ke rukan Sentra Niaga.

Dari Tangerang :
Dari Cipondoh/Hasyim Ashari menuju Petir/Gondrong/Pondok Bahar lalu di lampu merah Green Lake City belok kiri, ikuti jalan utama melintasi cluster Asia lalu menuju ke boulevard lalu lurus ke Cordoba. Menjelang pertigaan Kresek putar balik lalu belok kiri/masuk ke rukan Sentra Niaga.

Kami tunggu kehadiran anda semua di tempat baru kami dalam kelas-kelas infofotografi mendatang.

Versi Google Map :

{ 9 comments }

Panduan memilih kamera Panasonic

Di dunia kamera mirrorless, Panasonic merupakan pionir. Di tahun 2008, Panasonic membuat kamera digital mirrorless pertamanya yaitu Panasonic G1. Di tahun 2017 ini, sudah banyak peningkatan teknologi di kamera mirrorless, dan hampir semua merk kamera memiliki jenis kamera mirrorless. Di tengah persaingan yang sengit ini, Panasonic berkonsentrasi ke arah membuat kamera hybrid, yang bagus bukan hanya  dalam bidang foto tapi juga video. Saat ini, kamera-kamera Panasonic terkenal atas fitur-fitur dan kemampuan membuat video berkualitas tinggi.

Biasanya, fotografer/videografer memilih Panasonic karena beberapa alasan dibawah ini:

1. Ukuran compact dan ringan

Sistem kamera, baik kamera dan lensa ukurannya relatif compact dibandingkan dengan sistem kamera mirrorless dan kamera DSLR lainnya.

2. Kualitas video

Panasonic memiliki banyak pengalaman dalam membuat kamera video, dan video yang dihasilkan kamera-kameranya sangat detail dan tajam, sebagian besar kameranya sudah dapat merekam video 4K. Teknologi 4K ini juga dikembangkan untuk kebutuhan fotografi, seperti 4K photos, Post focus dan Focus Stacking.

[click to continue…]

{ 32 comments }

Kamera Canon baru mencari Cinta: M6, 800D dan 77D

Di hari Valentine, Canon mengumumkan tiga kamera baru, satu diantaranya kamera mirrorless yaitu Canon EOS M6, dua lainnya 800D dan 77D, keduanya penerus Canon EOS 750D dan 760D.

Canon M6 mengisi ruang diantara Canon EOS M3 dan M5 yang selisihnya harganya cukup jauh (7 dan 14 juta), teknologinya mirip EOS M6 yaitu sensor APS-C 24MP, processor DIGIC 7, Autofokus dual pixel AF, video full HD, tapi tidak memiliki jendela bidik dan layarnya hanya bisa ditekuk ke atas dan kebawah, tidak bebas seperti EOS M5.

Harganya saya perkirakan akan dibandrol sekitar Rp 12.5 juta dengan kit lens 15-45mm f/3.5-6.3 IS STM. Aksesoris jendela bidik elektronik yang bisa dipasang di atas hotshoe M3/M6 akan tersedia dengan harga sekitar Rp 3.5 juta.

Canon EOS 800D meneruskan tradisi kamera DSLR pemula, kini dilengkapi dengan teknologi autofokus dual pixel AF yang lebih cepat saat live view dan merekam video. Sistem autofokus deteksi fasanya juga diperbaharui menjadi 45 titik yang lebih sensitif di kondisi cahaya gelap. 800D akan dipaketkan dengan lensa kit baru, 18-55mm f/4-5.6 IS STM, yang bentuknya makin kecil, tapi bukaan maksimalnya f/4 daripada f/3.5. Harganya sekitar Rp 12.5 juta dengan lensa kit.

Canon EOS 77D adalah kamera yang lebih canggih dari 800D, tapi kualitas body-nya dibawah Canon EOS 80D yang ditujukan ke fotografer semi-profesional. 77D istilahnya adalah kamera “Super Rebel” untuk pemula. Kamera ini memiliki lebih banyak tombol, layar LCD tambahan dibagian atas kamera. 77D ditujukan kepada fotografer yang sudah cukup berpengalaman tapi tidak ingin kamera DSLR semi-pro yang ukurannya lebih besar dan mahal. Harganya akan sekitar 12.5 juta body only.

[click to continue…]

{ 16 comments }

Review kamera compact Panasonic LX10

Panasonic meramaikan pasar kamera compact jenis sensor 1 inci dengan meluncurkan Panasonic LX10. Kamera compact ini tergolong canggih dengan fitur dan kemampuan yang melampaui kebanyakan kamera compact pada umumnya. Kamera compact semacam ini biasanya digunakan sebagai kamera yang dibawa sehari-hari untuk memotret dan juga oke juga untuk merekam video (Vlog).

ISO 125, f/3.2, 1/800 detik

Ada beberapa nilai jual Panasonic LX10 dibandingkan kamera-kamera compact sekelas:

Wide angle 24mm dengan bukaan f/1.4 
Bukaan sebesar f/1.4 memiliki dua keuntungan yaitu kualitas foto yang lebih baik di kondisi gelap, karena bukaan besar memasukkan lebih banyak cahaya, selain itu, lebih mudah membuat latar belakang atau bagian yang tidak fokus menjadi agak blur sehingga foto terlihat lebih berdimensi. Sayangnya kalau kita zoom sedikit saja ke 28mm misalnya, bukaannya langsung menutup ke f/2.5, dan saat di 35-72mm, bukaan maksimalnya menjadi f/2.8, kurang lebih sama dengan lensa kamera pesaing.

Fokus lebih dekat
Saat lensa di focal length 24mm, kita dapat memfokuskan ke subjek kurang lebih tiga centimeter saja dari depan lensa. Fitur ini merupakan keunggulan unik dari LX10 ini. Kamera compact yang lain biasanya terbatas di jarak sekitar 5 cm.

Layar touchscreen
Tidak semua kamera compact bisa touchscreen, padahal touchscreen sangat memudahkan untuk mengendalikan kamera compact. Dan sebagian besar pengguna kamera digital di jaman ini sudah terbiasa mengunakan antar muka layar sentuh dengan ponselnya. Layar ini bisa ditekuk sampai 180 derajat ke atas untuk selfie, tapi tidak bisa ditekuk kebawah untuk membantu pemotretan high angle.

Image stabilization for photo and video (Full HD)
Optical stabilization di lensa sangat membantu saat memotret di kondisi gelap. Jika memegang kamera dengan stabil, saya bisa memotret dengan shutter yang cukup rendah seperti 1/8 detik dan masih menghasilkan foto yang tajam.

4K Photo dan Post Focus

Seperti kamera Panasonic yang dapat merekam video 4K, di LX10 juga terdapat fitur 4K Photo dimana kamera merekam video secepat 30 frame per detik, kemudian kita dapat memilih frame-frame yang kita sukai untuk di simpan sebagai foto dengan resolusi 8 MP. Sedangkan 4K Post Focus memungkinkan kita untuk menentukan fokus setelah foto 8MP dibuat.

Desain dan interface

Yang unik dari kamera ini adalah punya ring/gelang untuk mengatur aperture/bukaan lensa. Ada pilihan dari bukaan f/1.4 – f/11 dengan 1/3 click-stop. gelang ini efektif kalau motret di 24mm, di 28 atau tele, bukaan otomatis menutup (tidak sesuai dengan gelang lagi). Didepannya, ada ring yang bisa dikustomisasi menjadi berbagai fungsi, yang dari pabrikan/defaultnya adalah untuk step zoom lensa 28mm, 35mm dan selanjutnya. Meski kameranya kecil, tombol-tombolnya cukup lengkap, ada tombol kompensasi eksposur, mode autofokus, drive mode, WB, 4K Photo, 4K Focus (bisa dikustomisasi untuk menjadi fungsi lain).

[click to continue…]

{ 6 comments }

Tiga archetype kamera digital yang akan bertahan

Kamera digital baik kamera compact yang gak bisa bertukar lensa dan kamera tukar lensa seperti DSLR atau mirrorless saat ini menunjukkan tren penurunan terutama kamera compact yang menukik tajam dari tahun 2010. Kamera yang bisa tukar lensa tadinya dikira aman karena masih menunjukkan peningkatan dari tahun 2010-sampai 2012 juta menunjukkan tren penurunan. Kambing hitamnya? kamera ponsel yang makin canggih dan dirasa cukup kualitasnya, dan kualitas kamera di awal 2010-an dirasakan sudah cukup baik sehingga sebagian besar orang tidak merasa perlu untuk membeli kamera baru.

Melihat tren penurunan yang memprihatinkan ini, saya melihat untuk bisa bertahan, produsen kamera harus jeli dalam membuat kamera yang diminati masyarakat pencinta fotografi dan juga menguntungkan bagi produsennya. Ada beberapa archetype (pola dasar) kamera yang menurut saya bisa bertahan kedepannya.

1. Kamera yang fokus hanya di fotografi
Misalnya Leica M10, yang dibuat sesederhana mungkin. Tidak ada mode video dan lensanya tidak bisa autofokus, berarti tidak ada tombol-tombol dan menu untuk itu, hasilnya desain kamera bisa lebih ramping, menu lebih sedikit, fotografer bisa berkonsentrasi dalam memotret. Kamera lain yang lumayan mendekati archetype ini adalah Nikon Df, tapi Nikon Df ini perlu didesain ulang biar lebih mudah digunakan karena posisi roda dan tombolnya belum terlalu pas.

Leica M10, dari atas, kita bisa lihat dan langsung mengubah ISO, bukaan, fokus dan shutter speed. Inilah esensi dari fotografi.

Nikon Df, konsep bagus, namun implementasi desainnya masih perlu diperbaiki. Mungkin generasi ke-2nya bakal lebih bagus lagi?

2. Kamera yang fleksibel, bagus untuk foto dan video
Kamera yang praktis untuk digunakan berbagai hal akan dicari untuk fotografer pro atau amatir muda yang mulai sering merekam video untuk merekam pengalaman-pengalaman mereka. Contoh kamera hybrid canggih ini misalnya Panasonic GH5 dan Sony A7S, kamera tersebut sudah dibilang lengkap fitur dan desainnya untuk penghobi foto dan pembuat film pendek.

[click to continue…]

{ 7 comments }

Mentoring ke curug Nangka, Sabtu 25 Februari 2017

Agenda mentoring kali ini sedikit berbeda dengan biasanya, dimana kali ini kita akan field trip bersama-sama ke curug Nangka, sebuah spot di kaki gunung Salak di selatan kota Bogor. Disana kita akan berlatih untuk memotret air terjun, dengan bimbingan teknis untuk mengatur setting kamera, filter dan sebagainya. Mentoring kali ini cocok untuk anda yang ingin belajar memotret sekaligus jalan-jalan ke pegunungan yang hawanya sejuk.

Peserta dibatasi maksimal 8 (delapan) orang. Meski siapa saja boleh mendaftar tapi lebih disarankan yang memiliki fisik yang cukup prima karena medan yang akan dilalui cukup menantang dengan sesekali berjalan di aliran sungai dan akan bertemu beberapa jalan yang menanjak.

Acara ini dipandu oleh saya dan dijadwalkan pada hari Sabtu, 25 Februari 2017. Meeting point : Infofotografi, Jl. Moch. Mansyur/Imam Mahbud No. 8B-2 Roxy, Jakarta Pusat, jam 05.30 WIB, berangkat sama-sama sampai acara selesai, estimasi tiba kembali di infofotografi jam 5 sore.

[click to continue…]

{ 3 comments }

Beberapa bulan belakang ini, saya sering ditanya soal kamera compact canggih yang bisa dimasukkan ke kantong/tas kecil dan performanya bagus. Kalau nanyanya 5 tahun yang lalu, gampang jawabnya Sony RX100!. Tapi sekarang sudah beda, karena banyak pilihan lainnya, contohnya Canon G7X II, Panasonic LX10, dan Sony sendiri punya variasi RX100, dari RX100 I sampai V.

Kalau ingin yang tercepat kinerjanya, Sony RX100 V yang harganya Rp 15 juta masih yang tercanggih, kelebihan utamanya dibanding pesaingnya dan seri Sony RX100 pendahulunya adalah kecepatan autofokus sudah ditanamkan teknologi deteksi fasa, sehingga saat mengikuti subjek yang bergerak cepat jadi gak masalah, selain itu, kinerja dan buffer juga sudah ditingkatkan untuk mendukung foto berturut-turut. Kelebihan lain yang dimiliki RX100 V adalah punya jendela bidik kecil yang bisa membantu saat memotret di kondisi yang sangat terang. Kualitas gambar RX100 juga terbilang tajam berkat lensa Zeiss yang konsisten ketajamannya dari lebar sampai telefoto.

Kelemahan utama RX100 V yaitu layarnya tidak touchscreen, merekam video 4K dibatasi 5 menit saja, karena Sony RX100 cepat panas saat merekam video.

[click to continue…]

{ 1 comment }

Photo Story trip Yogyakarta – 31 Maret-2 April 2017

Awal tahun ini, Infofotografi akan mengunjungi Yogyakarta untuk mengadakan workshop Photo Story. Mentoring akan diisi dengan pembekalan, praktik, dan evaluasi oleh Taufan Wijaya (fotografer dan penulis Photo Story Handbook), Bimbingan teknis fotografi di lokasi akan di bantu oleh Enche Tjin. Trip ini terbuka bagi para pembaca, alumni kursus, serta para penggemar fotografi.

Yogyakarta adalah kota kunjungan wisata yang klasik, penuh dengan budaya dan peninggalan sejarah. Bila foto trip hanya memotret tempat eksotis, mungkin akan membosankan (meski tentu, unsur “piknik” dan kuliner akan tetap ada dalam setiap perjalanan, termasuk kali ini). Di trip ini kita akan berkenalan dengan tradisi dan budaya masyarakat Jogja lebih dekat, dan membingkainya dalam photo story.

Photo story secara sederhana adalah rangkaian foto-foto yang membentuk cerita. Namun photo story bisa dikerjakan dalam beberapa bentuk dan pendekatan. Nah trip ini adalah perjalanan memotret sembari mengikuti workshop singkat bagaimana mengerjakan photo story yang baik.

Kredit foto: Nia

[click to continue…]

{ 1 comment }