≡ Menu

Kesan pertama dengan kamera Panasonic GH5

Beberapa saat lalu, Infofotografi kedatangan bayi baru, Panasonic GH5 dan lensa Leica DG Vario-Elmarit 12-60mm f/2.8-4 ASPH. Peminjaman gear ini bertepatan dengan sehari sebelum trip ke Pangalengan. Enche menyerahkan satu buah buku manual GH5 untuk saya pelajari. Baru saja dibaca beberapa halaman, saya pun mulai mengantuk. Alhasil, saya pun berangkat dengan modal nekad.

Kesan Pertama

Kamera ini cukup nyaman dalam genggaman tangan saya yang tergolong kecil. Berat 1 kg untuk body dan lensa masih terasa nyaman untuk hunting seharian. Yang paling saya sukai tentu saja saya tidak perlu repot-repot mengganti lensa karena rentang 12-60mm nya setara dengan 24-120mm di full frame. Untuk kapasitas baterainya ketika dibandingkan saat menggunakan GX85, saya tidak perlu mengganti baterai untuk foto seharian dengan GH5. Untuk hunting perdana ini, kami dihadapkan dengan cuaca berkabut. Jadinya tidak ada foto yang ‘wah’ kali ini.

[click to continue…]

{ 0 comments }

Sony A6000+35mm f/1.8 vs Fujifilm X-E2s+35mm f/2

Sudah menjadi tren bahwa harga kamera semakin menurun setiap tahunnya, seperti halnya kamera yang akan saya bahas ini, yaitu Sony A6000 (keluaran tahun 2014) dan Fujifilm X-E2s (2016). Harga kedua kamera saat ini sedang di discount (kata kerennya: Cashback) dan dipaketkan dengan lensa yang berkualitas yaitu Sony E 35mm f/1.8 OSS dan Fujifilm XF 35mm f/2 WR.

Setelah di-cashback, paket Fuji X-E2s sedikit lebih mahal, yaitu 11.5 juta, dibandingkan dengan paket Sony A6000 yaitu 10 juta.

Yang mana yang lebih baik? Ya pastinya masing-masing  paket ada plus minusnya.

Sony A6000 punya resolusi lebih besar, 24MP berbanding 16MP, sistem autofokusnya jauh lebih cepat (phase detection), terutama untuk subjek bergerak. Sony juga punya keunggulan lain, yaitu layarnya bisa ditekuk sehingga memudahkan untuk memotret low-angle, dan kecepatan memotret foto berturut-turutnya lebih kencang (11 vs 7 fps). Dengan kelebihannya, Sony A6000 bagus untuk foto landscape, dan action.

Di lain pihak, Fuji X-E2S punya keunggulan yaitu desainnya retro dan menarik, dan punya port untuk audio external. X-E2s juga punya shutter speed yang mencapai 1/32000 detik berkat electronic shutter. Kualitas gambar dan warna Fuji biasanya cocok untuk foto portrait dan human interest.

Untuk lensanya, kedua lensa 35mm kualitasnya bagus, dengan sedikit perbedaan. Lensa Sony bukaannya sedikit lebih besar, dan punya stabilizer (OSS), jadi lebih menguntungkan bagi yang sering memotret di kondisi yang sangat gelap seperti malam hari atau di dalam ruangan yang remang-remang. Sedangkan Fuji XF 35mm f/2 punya keunggulan yaitu WR (water resistant) artinya aman jika digunakan saat hujan ataupun di lingkungan yang ekstrim dan berdebu.

Bagi calon pembeli pemula, perlu diperhatikan juga bahwa pilihan lensa Fuji saat ini lebih banyak daripada pilihan Sony (untuk sensor APS-C). Tapi kualitas lensa Fuji cenderung lebih tinggi dan tentunya lebih mahal. Memang, lensa Sony FE untuk full frame, atau lensa Sony Alpha SLR/SLT bisa dipasangkan ke A6000, tapi kurang pas karena jadinya besar di depan.

Mudah-mudahan dengan penjelasan diatas jadi gak bingung lagi ya, yang mana yang lebih cocok.


Setiap bulan, Infofotografi menyelenggarakan kursus kilat dasar fotografi, bagi yang berminat langsung periksa jadwal dan materinya disini.

{ 18 comments }

Memilih flash eksternal untuk kamera mirrorless

Kamera DSLR dan mirrorless punya sejarah yang berbeda. Kamera DSLR yang lebih duluan hadir lebih ‘matang’ dalam dukungan ekosistem seperti lensa dan flash, bahkan sejak jaman film pun fotografer di masa lalu ya memakai berbagai lensa dan flash eksternal. Kini saat DSLR hanya terfokus pada Canon dan Nikon, maka urusan flash eksternal relatif lebih sederhana. DSLR Canon dan Nikon hampir sama secara teknis, dan karena banyaknya pengguna DSLR di seluruh dunia maka memacu produsen flash eksternal untuk berlomba membuat flash seperti Nissin, Yongnuo, Godox, Pixel dan banyak lagi. Padahal Canon dan Nikon juga punya flash yang lengkap, seperti Canon 600EX-RT dan Nikon SB910 yang termasuk flagship dalam flash. Fitur flash modern juga beragam, seperti HSS, TTL, rear sync, multi dan zoom, membuat penggunanya bebas berkreasi. Tapi bagaimana saat kini sudah banyak orang yang justru memiliki kamera mirrorless, lalu ingin berkreasi lebih dengan flash photography

Pertama, anda pemilik kamera mirrorless perlu sedikit melakukan riset, carilah flash eksternal yang dibuat oleh merk yang sama dengan kamera anda. Sony termasuk punya banyak pilihan flash, lalu Fuji, Panasonic, Olympus juga tentunya ada. Mirrorless Canon EOS M adalah perkecualian karena bisa pakai flash milik DSLR Canon (hotshoe dan TTL-nya sama). Setelah tahu apa pilihan yang ada, lalu cek harganya, bila cocok silahkan dibeli. Misal Fuji EF-42 TTL flash itu harganya 2 jutaan, lalu Olympus FL-600R itu 4 jutaan. Selain faktor dana, pertimbangan lain dalam memilih biasanya melihat kekuatan flash (GN) dan ukuran/dimensi flashnya.

Kedua, cari tahu flash buatan dari pihak ketiga (third party) untuk kamera mirrorless. Pihak ketiga ini bisa jadi dari Eropa (misal Metz), dari Jepang (Nissin) dan tentunya dari China. Saat kita mendengar merk China seperti Yongnuo atau Godox yang lebih ekonomis kita tentu ingin tahu apakah bisa dipasang di kamera mirrorless atau tidak. Tahukah anda kalau beberapa flash dari merk ternama sebetulnya adalah flash buatan pihak ketiga yang di re-brand? Misal Fuji EF-42 itu adalah Sunpak PZ42X, padahal Sunpak ini juga membuat flash PZ42X untuk kamera selain Fuji.

Oke, kita bahas mengenai flash untuk kamera mirrorless. Disini ada beberapa catatan dari saya terkait topik kita saat ini :

Mirrorless lebih bervariasi

Produsen flash pihak ketiga tertentu seperti Godox juga membuat flash untuk kamera mirrorless, dan yang saya maksud adalah flash TTL yang kompatibel penuh dengan setiap merk. Hanya saja faktanya kamera mirrorless itu lebih variatif baik dari segi teknologi, segmentasi hingga kompatibilitas. Perlu diketahui kalau sulit sekali bagi mereka (produsen flash pihak ketiga) membuat flash yang dijamin full kompatibel, sumber daya mereka juga terbatas untuk mendesain dan mencoba satu-satu (ingat mereka sebenarnya reverse-engineer, tidak mendapat dukungan teknis dari masing-masing produsen mirrorless). Bisa jadi ada bug, atau fitur yang tidak jalan, atau flash yang tidak kompatibel untuk tipe tertentu dan tipe yang akan datang. Maka itu flash pihak ketiga yang baik akan menyediakan port USB untuk firmware update.

Jarang ada mirrorless dengan wireless flash optik

Flash eksternal untuk DSLR umumnya mendukung wireless teknologi lama dengan optik / infra red. Tapi di kamera mirrorless jarang sekali ditemukan fitur ini, sehingga salah satu kelebihan dari flash eksternal ini seakan jadi mubazir. Padahal wireless optical flash di DSLR, meski teknologi lama, tapi lumayan canggih dengan kemampuan mengatur TTL, manual dan Channel (1-2-3-4) serta Grup (A-B-C). Artinya bila mirrorless yang kita punya tidak ada dukungan wireless flashnya, maka kita hanya bisa memasang flash selalu di hot shoe kamera, atau kalau mau bermain off shoe pakai wireless terpaksa dengan menambah dana beli trigger (dan mencari trigger untuk mirrorless kalau yang TTL juga tidak mudah). [click to continue…]

{ 6 comments }

Tour fotografi Sichuan: 20-28 Oktober 2017

Meneruskan tradisi Infofotografi, di akhir bulan Oktober ini, saya akan kembali mengadakan tour foto ke Sichuan, China. Kita akan mengunjungi berbagai lokasi untuk memotret pemandangan alam yang sangat indah di musim gugur terutama karena perubahan warna daun dari warna hijau menjadi jingga dan merah.

Highlight tempat yang akan dikunjungi

Kota Chengdu adalah ibukota provinsi Sichuan, yang sudah sangat tua dan bersejarah. Berdiri pada tahun 311 Sebelum Masehi dan merupakan kota utama di China bagian barat. Penduduk kota Chengdu sekitar 14 juta menurut sensus penduduk tahun 2010. Setiap kota besar, biasanya memiliki daerah kota tua. Chengdu juga memiliki kompleks kota tua yang terkenal dengan kawasan Jinli street, yang ideal untuk jalan-jalan, motret, dan belanja oleh-oleh sampai membersihkan isi telinga.

Miyaluo adalah lokasi terbaik untuk melihat daun pohon maple yang sangat merah di musim gugur. Selain itu terdapat sungai, air terjun dan dari kejauhan bisa terlihat gunung salju jika cuaca mendukung.

Bi peng gou adalah taman nasional yang terkenal indah dengan danau yang jernih, pepohonan musim gugur yang rindang dan pegunungan es.

[click to continue…]

{ 2 comments }

Pertanyaan yang bagus ini muncul di instagram saya (@enchetjin), dan saya yakin merupakan dilema yang sering dialami kita-kita, karena keterbatasan dana saat membeli kamera dan lensa.

Panasonic GH5 + 12-32mm f/ 3.5-5.6 (Kamera top dengan lensa basic) dengan Panasonic GX85 dan lensa Leica 12-60mm f/2.8-4 (Kamera menengah dengan lensa bagus)

Di era fotografi digital, baik kamera maupun lensa berperan penting dalam menentukan kualitas gambar. Kamera digital melalui teknologi sensor dan processor mengendalikan warna, kontras (dynamic range), dan noise di ISO tinggi. Selain itu, semakin bagus kameranya, kinerja kamera semakin cepat baik dalam hal pengoperasian dan autofokus.

Sedangkan lensa menentukan aperture/bukaan yang bisa digunakan, ketajaman, bokeh (kehalusan bagian yang tidak fokus), detail halus yang bisa ditangkap, ketahanan terhadap flare/suar saat lensa menghadap sumber cahaya langsung, warna, distorsi, chromatic abberation (CA), dan vinyet.

Jenis fotografi juga menentukan perbedaan kualitas antara keduanya, jika memotret dengan cahaya yang terkendali seperti di dalam studio, atau cahaya yang cukup, kamera pemula dengan lensa basic yang murah sudah sangat baik. Sebaliknya, jika memotret di pencahayaan yang terlalu kontras, gelap, atau perlu memotret berturut-turut dengan cepat, maka kamera yang lebih baik lebih bagus.

Kesimpulannya, kamera dan lensa sama-sama penting, tapi jika harus memilih, saya akan memprioritaskan lensa yang bagus terlebih dahulu. Lagian dari aspek ekonomi, harga kamera biasanya turun cukup cepat seiring waktu berjalan, sedangkan lensa harganya turunnya tidak secepat kamera, cenderung stabil, dan kadang bisa naik menuruti inflasi dan kurs.


Bagi teman-teman yang sudah punya kamera tapi bingung mengunakannya dapat mengikuti kupas tuntas kamera digital yang secara rutin diselenggarakan Infofotografi.

Juga bagi yang ingin membeli kamera, lensa dan aksesoris boleh memesan lewat kami.
Hubungi WA 0858 1318 3069.

{ 37 comments }

Mentoring cityscape Mega Kuningan : 7 Oktober 2017

Mentoring foto Cityscape untuk belajar memotret keindahan cahaya gedung dan rona langit senja di sekitar Mega Kuningan dari atap gedung (rooftop) kembali hadir. Dari atap gedung apartemen yang kita pilih, Anda bisa memandang view sekitar Sudirman, Mega Kuningan dan daerah lain di sekelilingnya. Disini saya akan membimbing bagaimana setting teknis kamera dan komposisi untuk mendapat foto sesuai yang diinginkan.

Foto oleh Rohani Tanasal.

Acara ini dijadwalkan pada hari Sabtu sore, 7 Oktober 2017 dan berkumpul di pintu utama Mal Ambassador Kuningan Jakarta jam 16.30 WIB.

Alat yang perlu dibawa tentunya kamera, lensa (lebar hingga menengah) sedangkan aksesori lain seperti GND filter, cable release dsb adalah opsional. Sangat disarankan untuk membawa tripod yang kokoh dan stabil, mengingat di atas nanti terpaan angin cukup kencang.

Biaya mentoring : Rp. 395.000,- mengingat tempat yang terbatas, bila ingin mendaftar bisa langsung transfer ke rekening Enche Tjin di BCA 4081218557 atau Mandiri 1680000667780 dan mengabari via SMS/WA 0858-1318-3069.

[click to continue…]

{ 1 comment }

Rekomendasi kamera DSLR dan mirrorless Canon 2017

Canon masih menjadi nama besar di industri fotografi, dan terbukti dengan angka penjualan yang tinggi dan banyaknya pilihan produk yang ada di pasaran. Tapi bagaimana di tahun 2017 ini disaat banyak sekali saingan dari merk lain seperti Sony, Fuji dan rival abadi yaitu Nikon? Saya amati Canon bahkan punya pilihan produk yang terlalu banyak sehingga segmentasi-nya saling bersinggungan antara sesamanya, baik DSLR maupun mirrorless. Di artikel ini saya ingin tampilkan semua produk kamera Canon yang masih dijual di pasaran dan sekilas penjelasan dan sedikit saran membeli dari saya.

Segmen pemula

Di segmen entry level ini Canon punya banyak sekali kamera, dari yang terbaru sampai yang produk lama namun masih tersedia di pasaran, dari yang basic sekali sampai yang basic tapi ‘naik kelas’ atau disebut upper-entry level.

[click to continue…]

{ 4 comments }

Sony A7 II vs Nikon D750

Penggemar fotografi atau profesional yang memiliki dana sekitar 20-30 jutaan dan menginginkan kamera dengan format sensor full frame, biasanya akan melirik kamera DSLR Nikon D750 dan kamera mirrorless Sony A7 II. Keduanya merupakan kamera yang memiliki nilai (value) yang lumayan baik dan harganya tidak setinggi kamera full frame lainnya.

Yang paling membedakan antara keduanya adalah Sony A7 II adalah kamera dengan desain tanpa cermin/mirrorless, sehingga ukurannya bisa dibuat lebih kecil dan ringan. Berat Sony A7 II sekitar  556 gram saja, sedangkan Nikon D750 kurang lebih 200 gram lebih berat, yaitu 750 gram.

[click to continue…]

{ 15 comments }

Bahas foto : Human Interest – gadis cilik di Cileunca

Saat trip fotografi ke Pangalengan baru-baru ini, pemandangan yang membahana tidak tercapai, setelah menunggu sampai pukul 7 pagi, matahari tidak kunjung menembus awan tebal dan kabut pagi. Sehingga saya memutuskan untuk membawa teman-teman ke Situ (danau) Cileunca.

Saat sampai di Situ sekitar pukul 8 pagi, matahari sudah cukup tinggi dan awan-awan gelap mulai bubar. Sebelum menjelajahi danau, saya ke toilet terlebih dahulu. Gadis cilik yang saya foto ini menjaga toilet umum dan menerima bayaran Rp 2000 dari pengguna toilet.

Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan, tapi Bu Sita, salah satu peserta tour ini menunjukkan ke saya bahwa gadis cilik ini lucu dan menarik. Saat saya menoleh, saya pun tertarik, dan memotret beberapa kali. Harapan saya bisa menangkap warna-warni dan keluguan anak tersebut.

Saya menyukai foto ini bukan karena subjeknya saja, tapi sepertinya foto ini mengandung cerita dan dari segi komposisi dan artistiknya juga menarik. Gadis cilik ini diterangi oleh matahari pagi dengan cahaya yang keras, tapi jaket dan penutup kepala yang dikenakan mengindikasikan suasana lingkungan yang dingin. Ironisnya, ia juga lagi mengemut es krim.

Dari segi komposisi warna, jaket yang berwarna jingga kontras dengan kotak dana dan penutup kepala yang berwarna biru. Latar belakang agak gelap sehingga membuat subjek lebih menonjol. Di sebelah kiri belakang, ada tembok berwarna kuning dan orange untuk menyeimbangkan komposisi subjek yang saya letakkan di sebelah kanan (rule of thirds).

Ada hal-hal kecil yang menarik juga, misalnya posisi tangannya yang membentuk segitiga. Tangan kanannya menggengam uang dengan erat, tangan kiri es krim, dan sebagian wajahnya tertutup bayangan memberikan kesan yang sedikit misterius. Kalau boleh saya simpulkan, foto ini menarik karena Light, Gesture dan Color (cahaya, gestur, dan warna)-nya menarik.

Kadang, kita memutuskan travel untuk membuat foto yang bagus, dan biasanya kita sudah tau apa yang kita mau, pemandangan sunrise dan sunset yang mempesona. Tapi namanya alam, tidak ada yang pasti, tapi jika kita mau berpikiran terbuka dan melatih kepekaan, maka kita bisa membawa  pulang foto yang indah juga.

Data teknis: ISO 200, f/6.3, 1/800 detik, 74mm. Kamera: Leica SL, Lensa: Leica SL 24-90mm.


Ingin ikut trip/workshop Infofotografi? Silahkan periksa jadwal di halaman ini.

{ 1 comment }

Workshop Foto: Komposisi untuk pemula

Halo, teman-teman Infofotografi.  hari Kamis, tanggal 21 September 2017 (hari Libur – Tahun Baru Islam), kita akan berlatih fotografi komposisi di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara. Workshop ini akan dipandu oleh Wira Siahaan, fotografer lifestyle profesional.

Acara akan dilangsungkan pukul 15.30 sampai 18.30 WIB, dimana peserta akan diberikan tugas untuk memotret lima jenis komposisi, dilanjutkan dengan bahas foto dan evaluasi di Resto/Cafe. Workshop ini sangat cocok bagi pemula yang ingin meningkatkan kualitas foto dari aspek artistik. Terbuka untuk penguna kamera apa saja, dari kamera compact, mirrorless, atau DSLR.

Workshop ini dibatasi 8 orang saja dengan biaya Rp 470.000,- * per orang saja.

Bagi yang berminat, silahkan layangkan pesan ke Iesan, 0858 1318 3069, atau e-mail: infofotografi@gmail.com

*Biaya sudah termasuk makan malam
*Jika tidak berhalangan, Enche Tjin juga akan bergabung.

Biografi singkat mentor workshop ini:
Wira Siahaan adalah seorang fotografer full time sejak tahun 2013 dimana sebelumnya berkarir sebagai musisi selama lebih dari 10 tahun. Bersama beberapa teman fotografer, Wira membentuk grup foto WaiWii dan juga Oro Photo yang berfokus pada lifestyle dan interior photography. Selain menjadi seorang fotografer, Wira juga mengelola blog miliknya sendiri, Cerita Wira, yang berfokus pada cerita cerita travel, kehidupan sehari-hari, dan juga tutorial fotografi.

Wira juga sempat beberapa kali mengikuti perlombaan foto dan mendapatkan penghargaan, yaitu Grand Prize Winner, 2014, The International Foundation for Electoral Systems (IFES) Photography Contest dan juga Honorary Mention Price, 2015, Jeju 7th UNESCO International Photo Competition. Sejak tahun 2015, Wira aktif di komunitas fotografi Fujifilm, Fuji Guys Indonesia.

*foto-foto diatas adalah karya Wira Siahaan.

{ 7 comments }