≡ Menu

Workshop Mengoptimalkan Kamera Ponsel 15 Desember 2018

Di tahun 2018 ini, kamera ponsel semakin bagus, dan semakin canggih. Banyak kamera ponsel saat ini memiliki banyak setting yang bisa dipelajari dan digunakan, bukan hanya point and shoot saja. Tapi sebagian besar pengguna ponsel mungkin hanya mengunakan 5-10% dari kemampuan dan fitur kamera ponsel canggih masing-masing. Oleh sebab itu, Infofotografi mengadakan workshop untuk membantu penghobi fotografi untuk memaksimalkan potensi smartphone masing-masing.

Kali ini, workshop akan dipandu oleh Bpk. Teguh Sudarisman, travel writer dan pengajar yang banyak mengunakan berbagai kamera ponsel untuk foto dan video (LG, iPhone dll), juga Enche Tjin yang akan memberikan tip dan trik khususnya untuk kamera ponsel Huawei & Samsung. Instruktur akan melakukan demonstrasi langsung supaya bisa diikuti peserta workshop.

Topik yang akan dibahas antara lain:

  • Mengendalikan setting exposure di ponsel (shutter speed, ISO, metering)
  • Light painting, merekam jejak cahaya, memuluskan air, memotret foto malam berkualitas
  • Mengatur focus & membuat blur latar belakang
  • Tips memotret orang/portrait
  • Membuat timelapse, panorama, HDR, warna dll.

Banyak tips dan trik dari instruktur tentang mobile photography.

Hari/Tanggal: Sabtu, 15 Desember 2018
Pukul 13.00-17.00 WIB
Tempat: Infofotografi, Rukan Sentra Niaga, Blok N 05, Greenlake City, Jakarta Barat

Biaya Rp 250.000,-

Workshop ini terbuka untuk kamera ponsel berbasis Android: Samsung, Huawei, LG, Xiaomi, Oppo dll

Bagi yang menarik mendaftar silahkan hubungi 0858 1318 3069 atau e-mail: infofotografi@gmail.com

*foto-foto diatas diambil dengan kamera ponsel

{ 0 comments }

Setelah dirilis di Photokina 2018 bulan September yang lalu, Fuji GFX50R akhirnya resmi hadir di Indonesia. Peluncuran kamera ini diadakan di hari Sabtu, 24 November 2018 di Hotel Pullman, Jl. Thamrin, Jakarta. Kamera ini adalah kamera mirrorless medium format yang image sensornya berukuran 43.8×32.9mm, lebih besar daripada kamera full frame (36 x 24mm).

GFX50R ini menemani kamera medium format Fuji yang lebih dahulu hadir dua tahun lalu yaitu GFX50S. Berbeda dengan pendahulunya, GFX50R memiliki rancang body rangefinder, yang bentuknya persegi panjang dengan jendela bidik di samping kiri atas kamera.

Membuka acara ini, Presiden Direktur Fujifilm Indonesia, Noriyuki Kawakubo mengatakan bahwa Fuji group beberapa minggu lalu baru saja mencanangkan kampanye NEVER STOP, artinya Fuji akan berkomitmen untuk terus berinovasi dan memberikan yang terbaik.

[click to continue…]

{ 3 comments }

Saat saya berkunjung ke Tibet kedua kalinya November 2018 awal lalu, saya membawa lensa Zeiss 135mm f/2 APO ini untuk menjaga-jaga apabila saya perlu lensa tele (yang cukup jauh jangkauannya). Yang saya bawa adalah lensa zoom menengah, Leica SL 24-90mm f/2.8-4 ASPH. dan kamera Sigma DP0Q yang lensanya lebar 21mm.

Awalnya saya agak ragu membawa lensa ini karena cukup besar dan beratnya hampir 1 kg. Tapi saya akhirnya saya bawa juga hehe. Di Tibet lensa ini akhirnya jarang saya pakai juga, hanya beberapa foto di Tibet timur dan beberapa di kota Chengdu, Sichuan, tempat kita transit sebelum ke Tibet.

Hasil mengunakan lensa ini tentunya tidak mengecewakan, kemampuan menangkap detail-nya sangat baik meski di perbesar 100% masih sangat tajam.

Sebagai info, kepunyaan saya adalah versi Nikon F, yang bisa dipasang di kamera DSLR Nikon atau kamera mirrorless Leica SL dengan adaptor.

Crop 100% dari foto diatas

[click to continue…]

{ 2 comments }

Leica D-Lux adalah seri kamera compact canggih yang unik karena memiliki image sensor yang besar dan lensa zoom berbukaan besar sehingga kualitasnya tidak berbeda atau bisa jadi lebih baik daripada kamera yang bisa ganti lensa (DSLR/mirrorless).

Melanjutkan kesuksesan seri D-Lux sebelumnya (Typ 109), D-Lux 7 ini memiliki sensor gambar baru berukuran four thirds 17 MP, processor baru, layar LCD 1.24 juta titik touchscreen. Beberapa hal yang mirip dengan D-Lux sebelumnya yakni lensa ekuivalen 24-75mm f/1.7-2.8, jendela bidik 2.76 juta titik, dan desain body-nya.

Dibandingkan kamera compact lain seperti Leica C-Lux, D-Lux zoomnya memang lebih pendek, tapi D Lux-7 ini memiliki kelebihan di kondisi cahaya yang gelap karena bukaan lensa dan ukuran sensornya. Desainnya juga lebih fotografer sentris: banyak tombol dan dial, tidak terlalu kecil, tapi enak dipegang dan dioperasikan, terlebih sekarang layarnya sudah touchscreen, bukan untuk autofokus saja, tapi juga untuk memilih menu. Cocok untuk fotografer pro/hobbyist serius yang ingin kamera compact dengan kualitas tinggi, atau traveler yang tidak ingin membawa kamera dan lensa yang terpisah.

Agak unik dalam sejarah D-Lux, kali ini Leica memilih warna dual tone, yaitu silver dan hitam, mirip dengan desain kamera film jaman dulu. Belum diketahui apakah Leica akan membuat D-Lux dengan warna lain atau tidak. Apakah perubahan D-Lux 7 dibanding pendahulunya cukup signifikan? Menurut saya cukup meski bukan revolusioner. Hal-hal yang saya keluhkan seperti tidak ada touchscreen di edisi sebelumnya sudah dijawab, kualitas gambar juga meningkat, terutama dalam resolusi/detail dan warna. Saya berharap bisa mengunakan D-Lux 7 ini akhir tahun ini sehingga bisa memberikan review yang lengkap tentang kebolehan kamera ini.

  • 17MP Four Thirds MOS Sensor
  • DC Vario-Summilux 3.1x Zoom Lens
  • 24-75mm (35mm Equivalent) Optical Stabilization
  • 2.76m-Dot Electronic Viewfinder
  • 3.0″ 1.24m-Dot Touchscreen LCD Monitor
  • UHD 4K30p Video Recording
  • 11-fps Shooting, Extended ISO 100-25600
  • 4K Photo Modes, Post Focus
  • USB  Charging
  • Built-In Bluetooth and Wi-Fi, Leica Fotos
  • Garansi 2 tahun

Bagi yang berminat membeli kamera ini, kami bisa membantu. Silahkan menghubungi WA Iesan 0858 1318 3069 untuk memesan.

{ 5 comments }

Phase IQ4 150 MP Launch di Prima Imaging Jakarta

Tgl 15 November 2018 yang lalu, saya diundang ke Prima Imaging, distributor peralatan fotografi profesional Indonesia. Di acara Phase One Infinity tersebut Drew Altdoerffer dari Phase One memperkenalkan produk baru Digital Back IQ4 yang memiliki sensor full frame Medium Format yang mampu menghasilkan gambar 150 MP.

Image sensor garapan Sony ini memiliki arsitektur BSI (Back Side Illumination) dan ini termasuk baru di sensor Medium format yang memungkinkan hasil gambar yang lebih bagus dari generasi sebelumnya, terutama dari segi resolusi/detail dan pengendalian noise di ISO tinggi.

IQ4 ini termasuk dalam platform yang diberi nama Infinity Platform yang menggabungkan sensor teknologi (IQ4), Kamera (Phase One XF), dan software (Capture One). Platform ini diciptakan untuk berkembang dan beradaptasi dengan kebutuhan fotografer di masa depan. Contohnya, jika di masa depan ada perkembangan dalam hal software, pengguna bisa mendownload firmware update dan memperoleh fitur baru untuk kameranya.

Platform ini juga sudah mendukung memory buffer 8GB, sehingga fotografer dapat memotret terus menerus tanpa harus kuatir kameranya macet karena buffernya penuh.

Konektivitas kamera ke komputer atau ponsel menjadi makin penting bagi alur kerja fotografer profesional, maka itu Phase One menyiapkan tiga cara untuk menghubungkan kamera yaitu dengan jalur USB-C (paling cepat, hampir tidak ada jeda), Ethernet (sekitar 100Mbs), dan Wifi (sekitar 5 MB/s, tapi kecepatan Wifi bervariasi tergantung lingkungan apakah banyak yang mengunakan jaringan atau tidak). Untuk media penyimpanannya sendiri, IQ4 mendukung format kartu XQD dan SD.

[click to continue…]

{ 6 comments }

Tour fotografi Bhutan Oktober 2019

Saya pertama kali mengenal kerajaan Bhutan saat kuliah yang mana dosen saya mengatakan bahwa negara ini memiliki Gross National Happiness yang tinggi. Bagus sekali untuk melihat dan memotret landscape, people dan architecture disana yang masih tradisional. Oleh sebab itu, tahun 2019 ini saya akan mengadakan tour wisata foto ke Bhutan. Yuk, ikutan wisata fotografi ini selagi Bhutan masih belum banyak terpengaruh budaya modern.

Kami memilih bulan Oktober karena saat ini termasuk bulan yang agak ramai, tapi bagus untuk mengamati pemandangan alam dengan sawah-sawah yang berwarna kekuningan. Bulan Oktober termasuk high season sehingga harga akomodasi sedikit lebih tinggi, tapi cuaca (rata-rata 10-25 C), dan pemandangan yang indah membuat Bhutan pantas dikunjungi di bulan ini.

Beberapa tempat yang akan kita kunjungi antara lain:

Kota Paro: Rinpung Dzong (Istana), Chelele Pass, Haa Valley, Kyichu Lakhang, Tiger’s Nest
Kota Thimpu (ibukota): Trashichhoe dzong, National Memorial Chorten
Kota Punakha: Punakha Valley, Dochu-La Pass, Chimi Lakhang, Punakha Dzong

Total: 7 hari, 6 malam

Hari/Tanggal: Kamis 10 Oktober – 16 Oktober 2019

Biaya: USD 1850 per orang
Max: 16 peserta

Biaya single supplement (Sekamar sendiri): USD 275

*Catatan: Karena waktu penerbangan, sehari sebelumnya, tanggal 9 Oktober 2019, peserta akan tiba ke Singapura dan menginap satu malam. Hari tersebut bisa digunakan untuk hunting di Garden by the bay, Little India atau sekitar Marina Bay.

Bagi yang berminat silahkan hubungi Iesan di 0858 1318 3069 / infofotografi@gmail.com

[click to continue…]

{ 0 comments }

Review Sigma DP0 Quattro ke Tibet 2018

Sebenarnya kamera Sigma DP0 Quattro ini telah saya miliki sejak 2015. Sebelumnya, saya memang telah memiliki beberapa kamera Sigma, diantaranya DP2 dan DP3 Merrill. Di Indonesia tidak ada yang menjualnya, jadi saya membeli kamera DP0 Quattro ini di Singapura.

Dari bentuknya saja, kamera ini terlihat aneh, grip/pegangannya tidak ke depan tapi kearah belakang, dan lensanya panjang ke depan tapi tidak bisa diganti/tukar. Sementara body kameranya panjang dan tipis. Sepertinya kamera DP Quattro ini dirancang dengan desain masa depan.

Bentuknya yang tidak konvensional ini sering membuat teman-teman saya selalu penasaran dan menanyakan ke saya tentang kamera yang unik ini. Bagi saya hal ini menyenangkan karena saya senang menjelaskan tapi kalau terlalu banyak menjelaskan momen bagus untuk motret malah bisa lewat hehe.

Yang unik dari kamera ini bukan hanya dari desainnya, tapi sensor gambar yang digunakan tidak sama seperti kamera digital pada umumnya. Nama sensor ini adalah Foveon yang memiliki tiga lapisan, lapisan teratas 20MP dan dua lapisan dibawahnya 4.9MP, datanya kemudian digabungkan membuat gambar yang tajam dan kaya warna. Tidak diperlukan filter AA/Low Pass untuk jenis sensor ini sehingga ketajamannya maksimal.

[click to continue…]

{ 4 comments }

Bulan yang lalu tepatnya tgl 20~24 October 2018 kami bersama kawan-kawan penggemar fotografi melakukan tour yang diadakan oleh Info Fotografi ke Nepal.

Sebagai pencinta street photography saya membayangkan Nepal bakal sangat menarik karena karakter budayanya yang campuran antara India, Tiongkok dan Tibet, serta letak geografis-nya yang berada di kaki pegunungan Himalaya, mungkin akan lebih seru dibanding waktu sebelumnya dengan Info Fotografi juga melakukan tur ke India.

  • Tiga foto dibawah ini adalah komposisi foto-foto yang selalu saya buat dengan lensa kegemaran saya, lensa fix 20mm

Pengalaman sewaktu di India saya merasa cukup puas dan sangat menikmati mengabadikan keadaan hiruk pikuk kegiatan di jalanan, orang-orangnya, budayanya, dan arsitekturnya, pengalaman ini juga sudah saya tulis di Info Fotografi dengan judul Pengalaman Tour Fotografi ke India dengan sistem micro four thirds Panasonic 

  • Tiga foto dibawah ini adalah foto dengan lensa super wide zoom 7~14mm (setara 14mm~28mm dalam istilah 35mm) yang saya atur pada posisi 14mm, hasilnya terpaksa saya lakukan cropping supaya porsi subjek menempati sekitar 30%-60% terhadap bingkai.
  • Bila saya terpaksa menggunakan lensa zoom, saya selalu menentukan focal length-nya terlebih dahulu sebelum membidik, jadi perlakuan-nya sama seperti saya menggunakan lensa fix. (tidak memainkan zoom untuk framing saat memotret)

Lumix GX9 – Lumix G Vario 7~14mm, f/4 ASPH @14mm | f/4 | 1/125s | ISO 200 | Cropped

Lumix GX9 – Lumix G Vario 7~14mm, f/4 ASPH @14mm | f/4.5 | 1/30s | ISO 200 | Cropped

Lumix GX9 – Lumix G Vario 7~14mm, f/4 ASPH @14mm | f/4 | 1/1000s | ISO 200 | Cropped

Kali ini saya menggunakan kamera baru Panasonic Lumix DMC GX9 pengganti kamera lama Panasonic Lumix DMC GX7 yang telah 3 tahun menemani saya, dan seperti biasa saya selalu menggunakan lensa fix untuk segala kegiatan pemotretan terutama untuk street photography dan lensa andalan utama saya adalah lensa Lumix G 20mm, f/1.7 ASPH dari sistim M43 (+/- 80% semua foto-foto saya menggunakan lensa ini) untuk mengambil subjek umum, sedang untuk mengambil subjek portrait atau close-up saya menggunakan lensa Lumix G 42.5mm, f/1.7 ASPH, tetapi saya pun selalu membawa lensa yang sangat jarang sekali saya gunakan adalah lensa Super Wide Zoom Panasonic Lumix G Vario 7-14mm, f/4.0 ASPH sebagai antisipasi bila perlu untuk mengambil foto interior, foto arsitektur, dan kadang landscape.

Lensa Super Wide Zoom Lumix G Vario 7-14mm, f/4.0 ASPH – Lensa ini relatif kecil dan dengan sistim mekanis internal zoom, jadi panjang tidak berubah ketika melakungan zoom.

  • Dua foto arsitektur dibawah ini adalah komposisi foto-foto yang selalu saya buat dengan lensa kegemaran saya, lensa fix 20mm

Lumix GX9 – Lumix G 20mm, f/1.7 ASPH @| f/4.0 | 1/1600s | ISO 200 |

Lumix GX9 – Lumix G 20mm, f/1.7 ASPH @| f/1.7 | 1/12800s | ISO 200 |

[click to continue…]

{ 11 comments }

Tour fotografi Hoi An Vietnam 16-19 Februari 2019

Hoi An adalah sebuah kota pelabuhan bersejarah di Vietnam tengah (Termasuk UNESCO World Heritage site) yang populer untuk jalan-jalan dan juga fotografi.  Di kota tua ini, kita bisa menyaksikan pengaruh dari berbagai negara asing yaitu Jepang, Cina, dan Perancis.

Dalam tour fotografi yang serius tapi santai ini kita akan menjelajahi kota tua dan budaya sekitarnya. Kami akan berkunjung saat diselenggarakannya lantern festival, dimana orang-orang akan menyalakan lampion dan menghanyutkan lilin-lilin ke sungai. Tour ini akan cocok bagi yang menyukai street, architectural photography, dan dokumenter.

Itinerary tour:

Day 1 ( 16 Februari 2019) (-/L/D)

Tiba di Da Nang siang hari kemudian ke Hoi An. Setelah makan siang, langsung menuju hotel, check-in dan sorenya kita akan menjelajahi Marble Mountain dimana kita bisa melihat Pagoda, patung-patung di dalam gua dan juga kota Da Nang dari ketinggian.

Day 2 ( 17 Februari 2019) (B/L/D)

Pagi-pagi setelah sarapan, kita akan jalan-jalan pagi di kota tua dan memotret aktivitas orang lokal Hoi An (street photography). Sorenya, kita akan cruise menyusuri sungai Thu Bon untuk memotret aktivitas nelayan.

Day 3 (18 Februari 2019) (B/L/D)

Pagi-pagi berangkat memotret sunrise, lalu balik ke hotel untuk sarapan. Lalu kita akan berkunjung ke desa Duy Hay untuk memotret aktivitas nelayan di pasar. Selanjutnya kita akan mengunjungi desa unik Cam Thant yang dikelilingi pohon Palem. Lalu kita akan menaiki perahu berbentuk seperti keranjang yang unik di Vietnam.

Setelah makan siang, kita akan jalan-jalan di area kota tua sampai malam untuk memotret festival lampion di tepi sungai kota Hoi An.

Day 4 (19 Februari 2019) (B/-/-)

Pagi-pagi setelah sarapan, kita akan menuju kota tua untuk memotret model wanita Vietnam dengan baju tradisional Vietnam (Ao Dai) dengan latar belakang kota Hoi An. Setelah itu kita akan berangkat ke Airport untuk kembali ke tanah air. Tiba di Jakarta sekitar 19.30 WIB.

Biaya tour USD 495 per orang

Biaya single Supplement (sekamar sendiri): USD 120

Termasuk:

  • Hotel standar 4*, twin sharing dengan breakfast
  • Makan siang dan malam sesuai itinerary
  • Pemandu Lokal
  • Bimbingan fotografi oleh Enche Tjin
  • Transportasi (van, bis, perahu)
  • Tiket masuk tempat wisata
  • Dua botol air mineral

Tidak termasuk:

  • Tiket pesawat (Air Asia atau SQ)
  • Asuransi perjalanan (opsional)
  • Menginap di Tune hotel, Malaysia (jika ada)
  • Minuman ringan/tambahan
  • Tips untuk pemandu lokal dan tour guide

Bagi yang ingin mendaftar atau bertanya bisa hubungi Iesan di 0858 1318 3069 atau infofotografi@gmail.com

Foto-foto jalan-jalan di Hoi An bisa dibaca di artikel ini.

{ 0 comments }

Bahas foto: People Photography di Nepal

Setelah saya dan teman-teman kembali dari Nepal, saya melihat banyak foto-foto yang saya buat disana lebih banyak ada orangnya. Ini cukup menarik karena biasanya dalam sebuah tour, banyakan fotonya pemandangan, arsitektur, detail dll. Mengapa demikian? Sepertinya memang di Nepal sangat keren buat foto orang (people/portrait photography), karena Nepal itu memang multi-etnik, dari yang mirip orang Mongolia, orang Tibet, berkulit putih seperti orang Punjab di India utara, yang coklat sampai yang gelap juga ada. Selain itu turis dari berbagai penjuru dunia membuat Nepal menjadi berwarna-warni.

Dua foto yang saya sukai adalah foto dibawah ini: Yang pertama adalah seorang Bhiksuni Tibet yang sedang berjalan menuju pagoda Boudhanath di Kathmandu. Di usia senja, Bhiksuni ini tetap semangat secara rutin mengunjungi Pagoda.


Data teknis: Leica SL, lensa Leica SL 24-90mm f/2.8-4. ISO 50, f/5.6, 1/250 detik, 83mm.

Sedangkan yang bawah adalah pemudi yang saya jumpai di Kathmandu Durbar Square. Ekspresinya yang riang menarik perhatian saya untuk memotretnya.

Bhiksuni diatas dulu pernah muda seperti pemudi berbaju kuning ini, tapi karena waktu berjalan, semua dari kita akan menjadi tua juga. Meskipun demikian, yang penting saya pikir adalah semangat hidupnya.

Data teknis: Leica SL, lensa Leica SL 24-90mm f/2.8-4, ISO 100, f/4, 1/250, 63mm

Saya lantas mengingat kembali di masa pelajaran agama Buddha dulu. Di ceritakan bahwa Sidharta Gautama, seorang pangeran yang lahir di Nepal (Taman Lumbini), melihat kenyataan hidup di luar istana dimana ia melihat ada orang sakit, orang tua, dan pertapa sehingga akhirnya ia memutuskan meninggalkan kenikmatan duniawi dan memutuskan menjadi pertapa untuk mencari cara untuk terbebas dari samsara (lingkaran hidup lahir, tua, mati), akhirnya beliau bisa mencapai Buddha dan bebas dari samsara.

Dalam perjalanan kali ini saya melihat betapa menariknya mengamati orang-orang di Nepal, terutama di  bagian kota tuanya Kathmandu dan Bhaktapur. Dari mengamati generasi tua masih banyak yang beraktivitas di ruang publik, sebagai generasi muda saya menjadi lebih semangat untuk berkarya 🙂

Sebagai bocoran di tahun 2019, saya berencana akan membuat trip lagi yaitu ke Vietnam, Ladakh, Bhutan, dan mungkin Nepal kembali. Bagi yang berminat kabar-kabari ya via WA 0858 1318 3069.

Foto-foto lainnya bisa dilihat di instagram saya @enchetjin dan @infofotografi_official

{ 0 comments }