≡ Menu

Panduan dan rekomendasi lensa Tamron generasi baru

Sejak dua-tiga tahun yang lalu (sekitar tahun 2014), Tamron mulai membenahi lensa-lensanya terutama untuk kebutuhan penghobi fotografi, amatir dan terutama fotografer semi-pro dan profesional. Saat ini, sebagian besar koleksi lensa Tamron masih untuk kamera DSLR. Adapun lensa untuk kamera mirrorless saat ini masih terbatas. Pembenahan ini meliputi regenerasi produk ataupun penambahan lini produk baru.

Ciri produk baru Tamron tampak pada desainnya yang lebih modern minimalis, juga banyak lensa yang disematkan fitur anyar seperti VC (penstabil getar) dan motor fokus USD (Ultra Sonic Drive) atau bahkan HLD (High/Low torque-modulated Drive) yang lebih hening dan cepat.

Lensa yang dirancang khusus untuk kamera bersensor full frame berkode Di I, sedangkan yang untuk kamera bersensor APS-C Di II, dan untuk mirrorless Di III.

Yang membuat Lensa Tamron diminati adalah pilihan lensa-lensa zoom, macro dan beberapa tahun belakangan lensa fix yang berkualitas tinggi tapi harganya jauh lebih murah daripada lensa yang semerk dengan kamera. Jajaran lensa generasi baru ini bisa saya kategorikan dalam pola dasar (archetype):

Lensa Sapujagat

Tamro 18-400mm, superzoom terpanjang saat ini

Lensa superzoom cocok untuk fotografer dokumenter yang tidak suka atau tidak sempat mengganti lensanya saat memotret di lapangan. Tamron dari dulu memang sudah berpengalaman dan ahli dalam membuat lensa “sapujagat.” Beberapa lensa untuk sensor APS-C yang dapat dipilih antara lain:

  • 18-200mm f/3.5-6.3 Di II VC: Lensa sapujagat yang ringan (hanya 400 gram) dan harganya terjangkau. Fokalnya ekuivalen dengan 28-300mm di full frame.
  • 16-300mm f/3.5-6.3 PZD Macro: Lensa sapujagat yang cukup lebar untuk membuat foto pemandangan yang cukup dramatis dan memiliki kemampuan fokus jarak yang cukup dekat untuk foto objek-objek yang kecil. Fokalnya ekuivalen dengan 24-450mm di full frame.
  • 18-400mm f/3.5-6.3 Di II VC HLD: Lensa sapujagat baru dari Tamron yang memiliki rentang zoom yang terpanjang saat ini. Lensa ini juga dilengkapi dengan teknologi autofokus senyap (HLD) sehingga cocok juga untuk merekam video. Fokalnya ekuivalen dengan 28-600mm di full frame.
  • 28-300mm f/3.5-6.3 Di VC PZD: Lensa sapujagat untuk kamera DSLR full frame, kalaupun dipasang di kamera APS-C bisa tapi fokal lensanya menjadi tidak begitu lebar, tapi lebih panjang (42-450mm).

Lensa Profesional

Untuk lensa zoom untuk penghobi fotografi serius atau profesional. Kode pengenal lensa berkualitas tinggi ini adalah SP, singkatan dari Superior (Unggulan). Selama beberapa tahun ini, Tamron telah menyiapkan rentang fokal yang beragam dari super lebar sampai super telefoto.

Tamron 150-600mm, lensa super telefoto

Saat ini memang hanya ada satu saja lensa generasi baru yang tersedia untuk kamera DSLR bersensor APS-C yaitu lensa super lebar 10-24mm. Tapi untuk kamera DSLR bersensor fullframe, lensa zoom profesional Tamron ada banyak dan sudah siap.

[click to continue…]

{ 9 comments }

BTS Foto Mainan Minion – Part 1

Demam Minion sedang melanda. Bagi teman-teman yang mengkoleksinya, jangan lupa untuk menjadikannya sebagai objek foto sekaligus memanfaatkan kamera yang sebelumnya lebih sering tersimpan rapi di dry cabinet dan melatih kreativitas. Meskipun tidak membelinya (akibat pelit), saya lumayan beruntung mendapat pinjaman mainan ini dari sepupu. Untuk tidak menyia-nyiakan niat baiknya, saya pun mencoba berbagi beberapa foto di balik pembuatan foto (Behind The Scene).

Untuk foto pertama ini, saya memakai Groovin’ Minion. Awalnya, niat saya adalah membuat latar belakang seperti konser dan dengan lampu-lampu spotlight menyinari minion ini. Akan tetapi, saya belum tahu caranya membuat efek-efek seperti yang diinginkan. Hahaha… Selain itu, saya yang awalnya ingin membuat speaker dari kepingan-kepingan bricks LEGO juga tidak tersampaikan akibat kurang kreatif.  Sambil berpikir keras, akhirnya saya menyiapkan peralatan berikut: alas akrilik warna hitam, LED stick Yongnuo YN360, background warna hitam (bisa dari kain atau karton). LED ini bisa diubah-ubah warnanya dari merah, hijau dan biru (RGB). Dengan mengkombinasikan kekuatan dari warna ini, saya mendapatkan warna jingga. LED ini saya letakkan di belakang minion beralaskan akrilik hitam. Tujuan menggunakan akrilik adalah supaya mendapat efek pantulan. Tantangan di foto ini adalah kita harus menyinari objek dari depan dengan cahaya yang lebih kuat daripada cahaya dari LED stick. Untungnya saya mempunyai Continuous LED Light Visico yang bisa diatur intensitas kekuatannya. Untuk alternatif lampu, teman-teman dapat mencoba foto di luar ruangan atau dekat jendela yang mendapat banyak cahaya matahari. Setelah selesai difoto, tinggal ditambah dengan kutipan/kata-kata yang cocok dengan fotonya. Hasilnya seperti di bawah ini.

Foto kedua saya adalah menggunakan Minion Hydrocycle. Awal ide pembuatan adalah menggunakan background di padang pasir dengan unta-unta. Ceritanya si Minion ini gak kebagian unta sehingga harus menyewa motor. Akan tetapi, saya tidak mempunyai gambar latar padang pasir beserta unta. Dan kemampuan Photoshop saya yang masih tergolong pemula sepertinya bakal membuat saya kesusahan untuk menyukseskan ide ini.

Saya pun teringat bahwa tahun lalu saya pernah mengunjungi Pinnacles Desert di Australia. Akhirnya berbekal foto tersebut sebagai latar belakang, saya pun menciptakan foto kedua ini dengan bantuan sedikit pasir kinetik yang dapat dibeli di toko online.

Foto latar belakang dibuat tampak full screen (layar penuh) dan menggunakan layar laptop. Tantangan dari foto ini adalah menyesuaikan warna pasir background dengan warna pasir kinetik. Dengan bantuan sinar tambahan dari depan menggunakan LED stick, saya bisa dengan leluasa mengatur intensitas dan arah cahaya sehingga pasir kinetik dan pasir foto latar tidak berbeda jauh warnanya.  Hasil akhir fotonya seperti di bawah ini.

Sambil menunggu datangnya pinjaman mainan lagi, saya akan cari-cari ide dulu untuk foto mainan berikutnya.

Selamat mencoba dan berkreasi. Semoga bermanfaat.

{ 0 comments }

Review kamera mirrorless Panasonic Lumix G7

Kalau ditanya uang 7 jutaan bisa dapat kamera apa, agak susah buat saya jawabnya. Paling saya sarankan DSLR pemula seperti Canon 700D atau Nikon D5300, atau beberapa kamera mirrorless basic seperti EOS M3, Fuji X-A3 atau Sony A5100. Basic itu artinya ya fiturnya mendasar saja, tidak pakai jendela bidik sehingga hanya mengandalkan layar LCD saja untuk memotret. Nah review kali ini akan membahas Panasonic Lumix G7, sebuah kamera generasi agak lama yang harganya sudah turun signifikan dari 10 jutaan menjadi 7 jutaan, sehingga jadi menarik untuk dibahas karena value for money yang sangat tinggi sehingga akan saya rekomendasikan sebagai alternatif kamera murah meriah mantap di harga 7 jutaan.

Masuk ke segmen mana sih sebetulnya G7 ini? Yang pasti dia adalah kamera mirrorless, dengan sensor Micro Four Thirds, desain mirip DSLR dalam bentuk mini (yang artinya ada jendela bidik dan punya grip yang cukup dalam). Kabar baik dari kamera modern adalah meski dibuat 3 tahun lalu, banyak fitur dan kemampuannya masih bisa disejajarkan dengan kamera terbaru, karena teknologi yang semakin matang belakangan ini. Jadi fitur khas Lumix seperti post focus, 4K photo, DFD auto fokus hingga 4K video juga tersedia. Disamping itu dukungan layar LCD yang articulated (bisa dilipat ke samping dan bisa diputar) menambah kebebasan angle baik memotret atau rekam video, dan tentunya sudah touch screen.

Kita tinjau Lumix G7 ini dari fisik luarnya dulu ya. Bodi G7 memang tidak kecil, banyak mirrorless lain yang lebih kecil dari G7, tapi dia juga tidak sebesar DSLR. Kamera berbobot setengah kilogram ini berbahan polikarbonat plastik yang dilapisi tekstur karet yang membuatnya mantap digenggam (tidak licin). Di bagian depan ada mount lensa Micro 4/3 yang bisa dipasang sistem lensa Lumix maupun Olympus.

Yang saya suka dari bodinya adalah ada kendali yang lengkap seperti dua roda dial, roda drive mode, tuas mode fokus dan banyak tombol Fn untuk kustomisasi. Adanya jendela bidik OLED 2,3 juta dot yang jernih, lalu ada built-in flash serta dudukan lampu kilat untuk memasang trigger maupun flash eksternal. Layar LCD berukuran 3 inci 1 juta dot di kamera ini bisa dilipat putar, dan bisa dilipat menutup ke dalam untuk melindungi layarnya saat disimpan. Baterai di bagian bawah disandingkan dengan slot SD card, keduanya dalam satu pintu. Kamera ini sudah menyediakan input mic untuk memasang mic eksternal, cocok untuk rekam video yang lebih serius. [click to continue…]

{ 5 comments }

Telah terbit, e-book PDF Panasonic Lumix GX85

Satu lagi e-book dalam format PDF telah kami selesaikan dan siap untuk dibaca oleh anda khususnya pengguna kamera Panasonic Lumix GX85. Kamera ini termasuk kamera populer karena fiturnya yang lengkap, hasil foto yang baik dan kecanggihan teknologi di dalamnya seperti 4K photo, post focus, video 4K, stabilizer di sensor hingga banyaknya pengaturan gambar.

 

E-book ini kami susun sebagai ringkasan catatan yang memudahkan anda dalam mengenali, mencoba dan menjelajahi fitur di kamera Lumix GX85, disusun dalam bentuk handout 55 halaman yang dilengkapi ilustrasi untuk memudahkan memahami tiap topiknya. Juga diberikan tips dan rekomendasi setting yang membantu bila belum paham perlu memakai setting yang mana.

Bila anda tertarik untuk memiliki e-book ini silahkan memesan melalui email infofotografi@gmail.com atau SMS/WA 0858-1318-3069 dan melakukan transfer Rp. 50.000,- ke rekening Enche Tjin di BCA 4081218557 atau Mandiri 1680000667780. Terima kasih..

{ 0 comments }

Setelah tur perdana infofotografi ke Sumbar dua tahun lalu, kali ini kami kembali akan mengadakan tur lagi untuk memberi kesempatan anda mengabadikan keindahan alam dan budaya tanah Minang sambil tentunya mencicipi kuliner setempat yang terkenal kaya rasa.

Tur ini diagendakan pada Sabtu-Minggu, 26-27 Agustus 2017 dengan agenda mengunjungi kota Padang, Tanah Datar, Bukittinggi dan sekitarnya. Kita akan berlatih banyak hal seperti memotret aksi Pacu Jawi, nightscape, sunrise hingga foto sunset. Jumlah peserta maksimal 16 orang.

Biaya tur Rp. 1.800.000,- termasuk :

  • transportasi bis 2 hari
  • penginapan di Bukittinggi
  • makan selama di lokasi
  • bimbingan fotografi (Enche Tjin dan Erwin M.)
  • perizinan & sumbangan Pacu Jawi
  • tiket tempat wisata

Belum termasuk :

  • tiket pesawat ke Padang PP
  • tips pengemudi (minimal Rp. 20.000)
  • belanja pribadi

Informasi lebih lanjut silahkan e-mail (email: infofotografi@gmail.com), SMS atau WA 085813183069 dan yang terdaftar adalah yang sudah melunasi biaya dengan transfer ke Enche Tjin via Bank BCA 4081218557 atau via Bank Mandiri 1680000667780. Untuk kemudahan keberangkatan, diharap peserta memakai maskapai yang sama yaitu Garuda yang berangkat jam 6.15 WIB. Bagi peserta yang beda pesawat harus sudah berada di bandara Minangkabau di Padang sebelum jam 8.00 WIB. [click to continue…]

{ 4 comments }

Review Leica D-Lux 109 bagian pertama

Biasanya, kamera compact banyak komprominya, misalnya kualitas gambarnya kurang bagus terutama di kondisi cahaya yang gelap. Ada juga yang sensornya besar (APS-C atau full frame), tapi lensanya tidak bisa zoom, harganya sangat tinggi dan banyak yang tidak memiliki jendela bidik.

Kamera Leica D-Lux (Typ 109) ini berbeda dengan kamera compact pada umumnya. Kamera ini memiliki sensor gambar yang relatif besar, yaitu four thirds sensor yang biasa dipakai di kamera DSLR/mirrorless Olympus dan Panasonic. Selain itu, lensanya memiliki rentang fokal yang fleksibel yaitu equivalent dengan 24-75mm dan bukaan lensa yang besar yaitu f/1.8-2.8 plus fungsi makro (bisa fokus jarak dekat) dan stabilizer. Dengan lensa seperti ini, kita dapat memotret di berbagai kondisi, baik terang atau gelap tanpa kesulitan.

Selain lensa dan sensor yang digunakan, daya tarik lain Leica D-Lux adalah desainnya yang dari depan terkesan minimalis, tapi kalau dilihat dari atas dan belakang, jumlah tombol, roda dan tuas-tuas pengaturan cukup lengkap untuk memudahkan fotografer untuk mengubah setting dengan cepat tanpa harus banyak mencari setting di dalam menu.

Dalam review kali ini, saya tidak akan membahas terlalu banyak soal teknis/spesifikasi kamera, tapi saya ingin berbagi foto-foto yang saya buat dengan kamera ini dalam salah satu tour foto Infofotografi:

D-Lux berhasil menangkap gradasi langit sesaat sebelum matahari terbit dengan baik. Perahu saya terangkan sedikit saat editing dengan Lightroom supaya detailnya terlihat lebih jelas. ISO 200, 1/125, f/4, 24mm.

Berbeda dengan kamera compact pada umumnya, sulit membuat latar belakang blur saat foto portrait. Karena Leica D-Lux 109 ini memiliki sensor yang cukup besar dan lensa dengan bukaan besar, latar belakang blur dapat dicapai. Yang saya suka juga adalah profile warna Leica yang natural. ISO 200, 1/400 detik, f/2.8, 75mm.

Foto ini adalah gabungan dari lima foto dengan gelap terang yang berbeda-beda dengan teknik bracketing, dan editing di Lightroom. Meskipun Anda tidak bisa mendapatkan foto seperti diatas dengan sekali foto langsung dari kamera, saya ingin menunjukkan bahwa dengan penguasaan teknik foto dan editing yang baik, dengan kamera compact seperti ini pun bisa menghasilkan hasil gambar yang bagus.

Lensa Leica D-Lux 109 mendukung fungsi makro, atau bisa fokus dekat, saat fokus dekat dengan subjek, memungkinkan kita untuk membuat latar belakang menjadi blur terutama jika jarak antara subjek dan latar belakang cukup jauh. ISO 200, f/2.8, 1/640 detik.

Leica D-Lux memiliki tuas di bagian atas kamera untuk mengubah aspek rasio. Untuk pemandangan yang lebar, saya mencoba aspek rasio 16:9 atau widescreen. Karena desain sensor kamera ini yang unik, perubahan aspek rasio dari 4:3, 3:2 dan 16:9 tidak terlalu menurunkan resolusi gambar. Seperti yang kita lihat diatas, dynamic range sensor kamera ini cukup baik untuk menangkap gradasi dari terang ke gelap dengan baik. ISO 200, f/4, 1/5000 detik, 25mm.

Kualitas gambar

Kalau ditanya apakah kualitas gambarnya setara dengan kamera DSLR/mirrorless? Saya akan mengatakan kamera ini setara dengan kamera mirrorless Olympus & Panasonic, yang berarti satu tingkat dibawah kamera DSLR/mirrorless bersensor APS-C, dan dua tingkat dibawah kamera bersensor full frame seperti Leica SL, Canon 6D, atau Nikon D610, dan Sony A7. Walaupun demikian, kualitas gambar kamera compact ini beberapa tingkat diatas kamera ponsel dan setingkat diatas kamera bersensor 1 inci seperti Sony RX100 atau Panasonic LX10.

Meski tidak setara dengan kamera bersensor APS-C, di kondisi tertentu, bisa jadi kualitas gambar yang dihasilkan Leica D-Lux 109 ini lebih bagus. Hal ini disebabkan karena kualitas lensanya yang tajam, bukaannya besar dan dilengkapi dengan peredam getar (Image Stabilization) sehingga di kondisi cahaya gelap bisa jadi lebih unggul.

Kamera ini cocok untuk traveler dan penghobi fotografi yang menginginkan kamera compact yang menawarkan kemampuan yang mendekati kamera mirrorless/DSLR. Selain itu, Leica D-Lux ini juga cocok sebagai kamera kedua (cadangan) atau kamera sehari-hari untuk fotografer yang memiliki kamera DSLR/mirrorless pro yang ukurannya besar.

Saya belum berkesempatan banyak dalam mencoba memotret di kondisi cahaya gelap, tapi saya berencana akan menguji kamera ini di kondisi cahaya minim dalam waktu dekat dan akan melanjutkan review kamera ini ke bagian dua.

Spesifikasi utama kamera Leica D-Lux 109

  • 12.7 MP multi aspect ratio four thirds sensor
  • Lensa Leica 24-75mm f/1.8-2.8 OIS
  • ISO 200-12500 (bisa di ekspansi ke 100 & 25000)
  • Shutter: 60 detik sampai 1/16000 detik
  • Jendela bidik 2.7 juta titik
  • 4K video recording
  • Wifi + NFC
  • Timelapse mode

Sebagai rangkuman, saya senang mengunakan kamera ini karena beberapa hal yaitu:

  • Kualitas foto yang sangat baik untuk kategori kamera compact
  • Ukuran compact dan cukup ringan (399 gram)
  • Kualitas lensa sangat baik dan fleksibel
  • Desain minimalist ala Leica, tapi cukup banyak tombol, roda dan dial
  • Kinerja autofokus untuk subjek diam sangat cepat
  • Ada wifi untuk transfer foto atau sebagai remote kamera
  • Kapasitas baterai cukup untuk sekitar 300 foto per charge
  • Harga terjangkau relatif terhadap kamera merk Leica lainnya

Tidak banyak kelemahan kamera ini sebagai kamera compact, tapi tidak ada kamera yang sempurna

  • Tidak ada layar sentuh atau putar
  • Kecepatan buka tutup kamera relatif lambat (kurang lebih 2 detik)
  • Kinerja autofokus tidak begitu baik dalam mengikuti subjek bergerak sangat cepat

Bagi saya, Leica D-Lux 109 ini adalah seperti buku sketsa (sketchbook) yang mudah dibawa kemana-mana dan relatif mudah digunakan. Desainnya yang minimalist dan timeless, membuat penggunanya dapat menikmati kamera ini lebih lama dan untungnya harganya pun juga cukup terjangkau dibandingkan dengan kamera Leica lainnya.


Jika teman-teman berminat membeli kamera ini, boleh menghubungi saya : Enche Tjin 0858 1318 3069. Saya akan membantu untuk mendapatkan kamera ini  dengan harga yang oke dari distributor resmi Leica Indonesia dengan garansi tiga tahun dan 90 hari akses Adobe Lightroom CC (untuk editing dan manajemen foto).

{ 9 comments }

Media penyimpanan foto terbaik

Di era fotografi digital ini, kita semakin banyak memotret, baik mengunakan kamera digital atau kamera ponsel. Kondisi ini membuat masalah baru yaitu masalah penyimpanan. Sampai saat ini, belum ada media penyimpanan yang awet dan aman untuk jangka panjang. Kita semua tidak ingin foto yang dengan susah payah dibuat hilang begitu saja bukan?

Banyak jenis media penyimpanan yang bisa pilih saat ini dan masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Memory Card

Memory card adalah media penyimpanan yang sangat umum untuk kamera digital. Ukurannya sangat kecil dan di tahun 2017 ini pada umumnya berukuran berkisar dari 16GB sampai 64GB, ada juga yang mencapai 256GB dalam satu kartu, tapi kartu seperti itu masih tinggi harganya. Memory card sebenarnya bukan media penyimpanan yang ideal untuk jangka panjang. Fungsi memory card adalah sebagai media penyimpanan data foto sementara, dan kemudian selanjutnya akan di copy/pindahkan ke media lain yang lebih besar dan awet untuk penyimpanan jangka panjang.

Flash drive

Sama dengan memory card, kapasitas flash drive relatif kecil dan biasanya hanya digunakan sebagai media penyimpanan sementara saja karena ukurannya yang kecil beresiko hilang. Flash drive biasa disebut juga USB atau Thumb drive.

Harddisk

Harddisk atau kadang disebut hard drive/HDD, adalah tempat penyimpanan yang paling populer karena ukuran fisiknya kecil tapi dapat menampung banyak data. Harddisk berkapasitas 4 TB (4000 MB) dapat menyimpan kurang lebih 400.000 foto berjenis JPG berukuran 24MP. Di tahun 2017 ini, Harddisk berkapasitas 4TB sudah cukup terjangkau. Harddisk ada yang bersifat internal yaitu di dalam komputer, laptop/notebook kita, dan ada juga yang sifatnya external yaitu terpisah dari komputer dan disambungkan dengan kabel USB atau firewire.

Harddisk di dalam komputer merupakan tempat penyimpanan paling praktis, tapi beresiko misalnya bagaimana jika komputer rusak, terkena virus, atau software yang jahat. Bisa-bisa data foto di dalam HDD komputer ikut rusak atau hilang.

Harddisk external lebih aman, tapi juga tidak bisa dibilang awet, biasanya, performa harddisk external terutama yang berukuran kecil akan menurun, dan tidak jarang akan rusak dan sulit dikenali oleh komputer setelah 3-5 tahun pemakaian. Oleh sebab itu, saya menyarankan tandai tanggal pembelian harddisk dan kemudian upgrade secara berkala, misalnya empat tahun sekali dan pindahkan data foto dari harddisk lama dan harddisk baru. Saat membeli harddisk baru, belilah yang ukurannya lebih besar, supaya bisa mencakupi isi harddisk lama dan bisa menuliskan data baru. Misalnya harddisk lama kapasitasnya 1 TB, maka belilah harddisk baru dengan kapasitas 2 atau 3 TB.

[click to continue…]

{ 7 comments }

Baru-baru ini, Nikon mengeluarkan satu lensa yang agak janggal desainnya, yaitu lensa Nikon AF-P 70-300mm f/4.5-5.6 VR AF-P. Lensa ini dirancang untuk kamera full frame Nikon dan dilengkapi dengan motor fokus baru sehingga autofokusnya bisa cepat dan mulus saat live view atau saat dipasangkan ke kamera mirrorless, tapi anehnya, lensa ini tidak sepenuhnya compatible dengan kamera DSLR full frame Nikon yang beredar saat ini. Lensa inilah yang merupakan tanda pertama.

Tanda yang kedua yaitu dari Presiden Nikon sendiri, Kazuo Ushida, menyatakan bahwa tim Nikon sedang merancang kamera mirrorless baru, tapi detailnya masih rahasia dan belum bisa diungkapkan saat ini.

Nah, jadi jelas kan kamera mirrorless Nikon akan hadir dalam waktu dekat? Memang, Nikon sebenarnya sudah punya sistem kamera mirrorless yaitu sistem Nikon 1,  Tapi respon pasar dalam beberapa tahun terakhir kurang baik, menurut saya karena harganya dan spesifikasinya kurang kompetitif dibandingkan penawaran dari kamera mirrorless seperti Sony, Fuji bahkan Canon. Kamera Nikon 1 J5, kamera terakhir di sistem ini, sudah berusia dua tahun lebih (diluncurkan 2 April 2015). Selama dua tahun belakangan, tidak ada kamera atau lensa baru. Kemungkinan pengembangan Nikon 1 telah dihentikan, atau mati suri.

Untuk menghadapi kompetitor  yang berat dari Canon, Sony, Fuji, Olympus, Panasonic dan bahkan Leica, Nikon memang sangat perlu mengembangkan sistem kamera mirrorless yang canggih dan memiliki sensor besar (APS-C dan Full Frame).

Bagi Nikon untuk membuat sistem kamera yang benar-benar baru, tantangannya cukup besar karena lensa Nikon sebelum AF-P, perlu mekanik dari kamera untuk mengubah bukaan lensa, lensa yang lebih jadul lagi yaitu lensa AF (sebelum AF-S), tidak memiliki motor fokus, jadi mengandalkan kamera untuk memutar elemen-elemen lensa. [Baca sejarah lensa Nikon dan kecocokannya]

Maka itu, jika Nikon mengeluarkan kamera mirrorless baru, kemungkinan besar lensa-lensa lama tidak bisa dipasang langsung, kalaupun bisa dipasang, banyak fungsi lensa tidak bisa aktif. Lensa-lensa AF-P memang mulai bermunculan dalam beberapa tahun belakangan, tapi masih sangat sedikit, dan sebagian besar untuk hobi, bukan profesional.

Beberapa lensa AF-P yang telah diumumkan antara lain:

  • Nikon AF-P 10-20mm f/4.5-5.6G VR DX
  • Nikon AF-P 18-55mm f/3.5-5.6G DX
  • Nikon AF-P 18-55mm f/3.5-5.6G VR DX
  • Nikon AF-P 70-300mm f/4.5-6.3 ED DX
  • Nikon AF-P 70-300mm f/4.5-5.6E ED VR FX (buat full frame)

Catatan: Lensa-lensa AF-P saat ini hanya compatible dengan kamera DSLR baru seperti Nikon D3300, D5300, D5500, D7500.

Kalaupun kamera mirrorless baru Nikon ini akan diluncurkan, ada pertanyaan tambahan lagi: Apa mount lensa yang akan dipakai? Apakah tetap dengan F-mount atau yang berbeda? Ada dua jalan yang bisa dipilih oleh Nikon:

1. Tetap mempertahankan F-mount

Jika tetap mengunakan F-mount, maka pemilik lensa Nikon akan sangat senang, karena dapat mengunakan lensa-lensa jaman dulu tanpa adaptor. Kelemahan strategi ini adalah ukuran kamera dan lensa kedepannya tidak akan sekecil pesaing-pesaingnya, karena jarak antara sensor ke lensa akan dipertahankan, sehingga “leher” kamera akan panjang, sehingga ukuran dan berat kamera akan lebih dari dari kamera mirrorless yang ditawarkan pesaing.

Meski punya kelemahan, ada kemungkinan Nikon akan memilih rute ini, supaya bisa mempertahankan pengguna dan pemilik lensa-lensa Nikon untuk mau mengunakan lensa-lensa mereka di kamera ini. Strategi ini juga pernah dilakukan oleh Sigma dalam bentuk kamera SD Quattro.

2. Membuat mount baru

Keuntungan utama jika Nikon memutuskan membuat mount yang baru adalah dapat membuat mount yang lebih optimal untuk kebutuhan sistem mirrorless. Ukuran kamera dan lensa yang akan dibuat ke depannya juga bisa lebih ramping dan pendek. Lensa-lensa DSLR Nikon kemudian bisa dipasang tapi melalui adaptor khusus.

Tapi membuat mount yang benar-benar baru juga akan sangat berbahaya, karena artinya Nikon akan membuat sistem dari nol lagi, dan ini membutuhkan biaya riset yang sangat besar, dan belum tentu diterima oleh pengguna setia sistem DSLR Nikon yang telah memiliki banyak lensa. Tantangan lain adalah membuat adaptor yang dapat mengatur bukaan lensa (Type D dan G)

Membuat mount yang baru juga akan menyulitkan Nikon untuk menyediakan lensa-lensa yang dibutuhkan penghobi fotografi atau profesional dalam waktu singkat, sedangkan beberapa kompetitor sudah membuat kamera mirrorless dari tahun 2008 (9 tahun yang lalu) sudah punya koleksi lensa dari fisheye sampai super telefoto.

Karena gak ada jalan yang enak, maka untung sekali saya bukan eksekutif Nikon yang perlu memutuskan langkah mana yang lebih baik. Saya berharap mereka bisa memutuskan yang terbaik untuk perusahaan dan pemilik kamera dan lensa Nikon.


Kalau punya kamera terus nganggur kan sayang juga, yuk ikut kegiatan belajar fotografi, editing atau jalan-jalan bersama Infofotografi.com. Jadwal dan kegiatan bisa di baca disini.

{ 13 comments }

Canon EOS M6 vs Canon 800D

Kemarin saya mendapatkan kabar bahwa Canon M6 dan Canon 800D sudah siap dipasarkan di Indonesia dan harga resminya juga sudah ada, dan karena harganya mirip, maka cukup menarik untuk membahas perbandingan kedua kamera ini.

Jarang Canon meluncurkan dua kamera sekaligus dalam waktu bersamaan dengan harga yang sama yaitu sekitar 9.5 juta body only, mengapa? Karena akan membingungkan pembeli dan sekaligus penjual. Lebih baik yang mana?

Pertama-tama, kalau memang sudah mengunakan kamera DSLR Canon dan punya lensa-lensa DSLR Canon, sepertinya Canon 800D pilihan yang lebih pas, karena semua lensa Canon EF-S dan EF, termasuk lensa seri L bisa dipasang dan digunakan secara normal.

Di lain sisi, Canon EOS M6 merupakan kamera mirrorless yang meskipun sama merknya, tapi desainnya sangat berbeda. M6 jauh lebih ramping dan lebih ringan, baik kamera dan lensa-lensanya. Bagi yang telah memiliki lensa-lensa DSLR Canon, bisa memasangnya di M6, hanya saja memerlukan adaptor, dan karena ukuran lensa DSLR biasanya cukup besar, maka jadi kurang berimbang, kecuali lensa-lensa berukuran kecil seperti Canon EF-S 24mm f/2.8, 50mm f/1.8 STM, 28mm f/2.8 IS dst. Jadi sebelum membeli, sebaiknya memeriksa koleksi lensanya terlebih dahulu. Jika memenuhi kebutuhan baru dieksekusi hehe.

Kedua kamera punya beberapa persamaan, seperti punya sensor gambar  yang sama, sehingga kualitas gambarnya setara, punya layar sentuh, wifi+nfc, autofokus cepat saat live view, punya hotshoe untuk memasang flash/aksesoris, punya built-in flash dan external mic-jack buat video.  Kedua kamera sama-sama punya kelemahan karena tidak bisa merekam video 4K, tidak ada headphone jack untuk memonitor suara dan tidak memiliki GPS.

[click to continue…]

{ 10 comments }

Perkenalkan, kamera Leica TL2 untuk semua

Leica TL2 baru saja diluncurkan tanggal 10 Juli 2017 ini. TL2 adalah kamera generasi penerus kamera Leica seri T dan TL. Kamera bersensor APS-C dari Leica ini memiliki desain yang sangat berbeda dibandingkan sistem kamera digital pada umumnya. Beberapa keunggulan utamanya adalah:

  • Kualitas gambar, kinerja kamera termasuk salah satu yang terbaik di kelasnya saat ini
  • Material body kamera dari logam (aluminium) uni-body
  • Desain kamera yang minimalis dengan layar sentuh sebesar 3.7 inci
  • Menu kamera bisa diatur sesuai keinginan seperti layaknya Apps di smartphone

Leica TL2 mengunakan sensor dengan kualitas terbaru 24 MP dengan rentang ISO 100-50.000, kecepatan foto berturut-turutnya 7.5 fps (mekanik) dan 20 foto per detik (electronic). Kinerja autofokus kini sudah sangat cepat, yakni sekitar 0.165 detik menurut standard CIPA.

[click to continue…]

{ 1 comment }