≡ Menu

Lebih baik beli kamera baru atau bekas?

Di Infofotografi, sering sekali kita mendapatkan pertanyaan: Apakah lebih baik membeli kamera bekas tapi relatif baru, atau kamera yang baru tapi sudah dua tahun dipasaran? Contoh konkritnya: Apakah lebih bagus Canon 700D atau 600D?

Menjawab pertanyaan seperti ini tentu tidak mudah. Tapi secara teknis yang pasti kamera yang baru seperti 700D lebih bagus dari 600D. Misalnya layarnya 700D sudah touchscreen, sistem autofokus-nya lebih bagus, dan kinerja lebih cepat.

Tapi sebelum membeli kamera bekas, tentunya kita perlu memperhatikan sejarah kamera tersebut misalnya siapa yang menjualnya? Kameranya dipakai untuk apa? Jika digunakan untuk kerja atau jenis fotografi dokumentasi, satwa liar, olahraga, kemungkinan pemakaian cukup tinggi.

Lalu kita juga berhak menanyakan kameranya sudah digunakan berapa kali jepretan? Untuk kamera DSLR Canon biasanya kita bisa memeriksa shutter count dengan upload foto ke situs camera shutter count atau mengunakan software EOS Info (khusus Canon) tapi kalau mirrorless sepertinya tidak bisa. Biasanya kamera pemula ada garansi daya tahan mekanisme shutter sekitar 50rb kali, kamera yang lebih canggih bisa 100 rb dan untuk kamera profesional 150-200k atau lebih.

Selanjutnya, boleh ditanyakan juga apakah ada kerusakan seperti bekas jatuh, tercelup ke dalam air, apakah fungsi-fungsi kamera dan tombol semuanya dalam kondisi bagus?

Yang terakhir yang perlu diperiksa adalah apakah ada jaminan jika setelah dibeli ternyata rusak? Bentuknya seperti apa dan berapa panjang garansinya? Jika sudah berakhir, distributor kameranya resmi atau tidak. Setau saya, jika kameranya selundupan, beberapa merk kamera tidak berkenan melayani jika kita perlu pelayanan (servis) jika ada kerusakan.

Setelah diperiksa semua, jika memang tidak ada masalah tentang kameranya, sebaiknya memang membeli kamera bekas tapi generasinya baru (700D), tapi jika kita kuatir kamera bekas cepat rusak, dan tidak mau repot dan merasa kamera baru tapi keluaran lama cukup bagus, ya boleh pilih beli kamera baru meskipun sudah beberapa tahun dipasaran (600D).


Sudah punya kamera? Bisa belajar fotografi di Infofotografi loh. Silahkan periksa jadwalnya di halaman ini.

{ 12 comments }

Fujifilm XF10 : Kamera pocket dengan sensor besar

Tanggal 17 Juli 2018 yang lalu, Fujifilm mengumumkan kamera compact/pocket barunya yaitu XF10. Konsep kamera compact ini tidak seperti biasa dan tidak seperti tren kamera compact lainnya yang mengandalkan lensa dengan rentang zoom besar.

Fuji XF10 mirip dengan Fuji X70 (kamera dua tahun yang lalu), punya sensor gambar APS-C, dengan lensa 18mm f/2.8 (ekuivalen 28mm di full frame). Sepertinya XF10 diplot sebagai pengganti X70 dan mendampingi seri Fuji X100 di kategori premium compact camera.

Meski memiliki sensor gambar dan lensa yang mirip dengan X70, banyak perbedaan juga antara XF10 dan X70. Beberapa perbedaan yang penting diantaranya:

  1. X70 punya hotshoe, XF10 tidak
  2. X70 punya layar LCD yang bisa ditekuk, XF10 tidak
  3. X70 dapat memotret lebih cepat (8.5 fps vs 6 fps)
  4. X70 sensornya X-Trans 16MP, XF10 Bayer dengan AA 24 MP (plus minusnya)
  5. XF10 punya koneksi bluetooth
  6. XF10 bisa merekam video sampai 4K 15fps, full HD 60 fps

[click to continue…]

{ 0 comments }

Menurut kabar burung, pengumuman kamera mirrorless full frame Nikon semakin dekat dan tak terelakkan lagi. Rumor kamera mirrorless Nikon ini sebenarnya sudah lama. Setahun yang lalu saya bahkan sudah menulis tentang akan hadirnya kamera mirrorless Nikon dengan sensor full frame, tapi sayangnya setelah ditunggu-tunggu belum muncul-muncul juga. Belakangan rumor makin kencang dan kemungkinan peluncurannya tidak lama lagi.

Dari rumor terbaru, ada kemungkinan Nikon akan meniru langkah Sony, yaitu membuat dua jenis kamera mirrorless full frame dengan harga dan spesifikasi yang berbeda, yang pertama beresolusi tinggi (45MP), yang kedua (24MP). Harganya diperkirakan sama atau sedikit lebih tinggi dari Sony A7RIII dan A7III.

Ilustrasi kamera mirrroless Nikon

Nikon kemungkinan besar tidak mengunakan F-mount (DSLR) lagi, tapi akan mengunakan desain baru yang mungkin dinamakan Z-mount, yang artinya lensa-lensa DSLR Nikon tidak akan bisa dipasang langsung ke kamera mirrorless ini, tapi harus mengunakan adaptor.

Muncul pertanyaan dari benak saya tentang mirrorless Nikon yang masih samar-samar ini:

1. Apakah Nikon akan fokus ke sistem baru ini dan mengabaikan sistem DSLR Nikon?

Kecemasan ini memang wajar melihat sejarah merk lain. Setelah membuat kamera mirrorless, Olympus dan Panasonic mengabaikan sistem kamera four thirds mereka, begitu juga dengan Sony yang mengabaikan perkembangan A-mount-nya meskipun belum resmi. Hanya Canon yang masih terus mengembangkan kamera DSLR dan mirrorless-nya secara bersamaan, meskipun perkembangannya mulai terasa agak lambat.

2. Apakah akan ada kamera Nikon Z-mount yang bersensor APS-C?

Apakah Nikon akan membuat kamera mirrorless dengan sensor APS-C juga seperti di sistem kamera DSLR juga? Atau hanya berkonsentrasi di full frame saja? Jika Nikon hanya membuat kamera mirrorless full frame saja, yang sudah pasti akan terasa mahal dan mungkin fisik kamera dan lensanya kebesaran bagi fotografer pemula. Tapi kelihatannya, Nikon akan berkonsentrasi ke full frame karena sudah belajar bahwa kamera dengan sensor lebih kecil dari full frame agak sulit berkembang contohnya sistem Nikon 1 yang berhenti produksi setelah 7 tahun.

3. Bagaimana nasib pemilik lensa-lensa DSLR Nikon?

[click to continue…]

{ 1 comment }

Fotografer di era digital tentu sudah terbiasa dengan digital editing, misal memakai program Adobe Lightroom. Parameter yang biasa diubah untuk menyesuaikan dengan keinginan salah satunya adalah shadow dan highlight adjustment, dan ini hanya akan maksimal bila file yang diedit adalah file RAW. Kenapa? Karena RAW menyimpan lebih banyak data (12-14 bit) sedangkan JPG punya data pas-pasan di 8 bit saja. Tapi file RAW yang paling leluasa untuk diedit tetap tidak bisa melepaskan diri dari hukum fisika, dimana sensor yang terlalu kecil akan memberi kinerja photodetector di setiap piksel kurang maksimal, yang ujungnya adalah ke terbatasnya dynamic range. Dengan kata lain, mengedit shadow dan highlight paling enak adalah mulai dari sensor yang cukup besar, lalu pakai file RAW dan diproses dengan software yang mumpuni.

Ada beberapa jenis sensor yang umum dipakai di kamera digital, sensor kecil yang dipakai di kamera saku dan ponsel, serta sensor yang ukurannya lebih besar untuk kebutuhan fotografi yang lebih serius, misal Micro 4/3, APS-C, full frame hingga medium format. Dalam hal harga, sensor yang masih relatif terjangkau adalah Micro 4/3 dan APS-C, tak heran sensor jenis ini laris karena memberi hasil yang bagus tanpa menguras kantong. Panasonic Lumix G9 sebagai kamera flagship dengan sensor Micro 4/3 sudah saya pakai selama beberapa bulan, dan di keadaan kontras tinggi yang membutuhkan pengolahan shadow highlight di komputer ternyata mampu membuat saya terkesan terhadap kinerja dynamic range-nya. Karakter sensor G9 masih sangat mumpuni diangkat shadownya sampai maksimal, dan bagian highlight yang mengalami sedikit over masih bisa diselamatkan dengan baik.

Performa DR vs ISO Lumix G9 vs Canon 70D

Bila saya bandingkan dengan kamera saya Canon 70D memakai software editing yang sama, kira-kira kemampuannya setara bahkan dalam urusan mengangkat detail di bagian shadow, G9 ini masih sedikit lebih baik dari Canon 70D (memang 70D adalah kamera dengan sensor buatan 2012 yang saat itu teknologinya belum sebaik sekarang, tapi setidaknya 70D itu adalah kamera APS-C). Ternyata fenomena ini terjawab melalui pengujian oleh situs photonstophotos.net dimana performa dynamic range di semua nilai ISO antara Lumix G9 dan Canon 70D memang G9 terukur lebih tinggi sekitar 1 stop dibanding 70D.  [click to continue…]

{ 4 comments }

Workshop Dasar Videografi untuk fotografer

Kamera digital khususnya mirrorless masa kini umumnya sudah punya fitur video yang canggih, padahal tidak setiap penggunanya rutin memakai fitur video di kameranya. Sebaliknya, banyak juga pihak yang memanfaatkan kamera digital justru untuk jadi kamera video dan berkarya dengan menghasilkan klip, dokumentari hingga sinema. Sebagai fotografer bagaimana kita menyikapi fitur video di kamera digital? Apakah fitur ini hanya dianggap sekedar ada atau bisa digali lebih jauh? Bila bisa memanfaatkan, fitur video di kamera ini padahal bisa dimanfaatkan untuk membuat dokumentasi video yang menarik dan bercerita, seperti saat liburan atau traveling, misalnya.

Untuk itu di kesempatan kali ini kami siapkan sebuah workshop yang membahas tentang dasar videografi bagi seorang fotografer, yang bertujuan untuk memberi bekal pengetahuan tentang bagaimana mengenal fitur video yang penting di kamera digital, mengenal perbedaan pengaturan kamera untuk foto dan video (eksposur, lensa, fokus, style dsb), serta memahami teknik stabilisasi dalam merekam video yang baik untuk hasil yang memuaskan. Juga dibahas tentang pentingnya pencahayaan dan audio dalam mendapatkan video yang lebih baik.

Workshop ini akan dibawakan oleh Iesan Liang dan Erwin M. pada hari Minggu, 5 Agustus 2018 di infofotografi Green lake city, Jakarta Barat. Acara akan diawali dengan makan siang bersama pukul 12.00 WIB, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan teknis oleh saya (Erwin M.) dan ditutup dengan sesi sharing pengalaman membuat video dokumentasi travel oleh Iesan Liang. Acara ini cocok diikuti oleh pelajar atau mahasiswa yang akan atau sedang menekuni bidang foto dan video (multimedia). Biaya pendaftaran Rp.50.000,- bisa ditransfer ke Enche Tjin via Bank BCA: 4081218557 atau via Bank Mandiri: 1680000667780 lalu konfirmasi ke 0858-1318-3069.

*Acara ini didukung oleh Panasonic Indonesia

 

{ 0 comments }

Nikon 1 pamit, adakah yang bakal menyusul?

Sistem kamera mirrorless dari Nikon, yang diberi nama Nikon 1, secara resmi dinyatakan tidak dilanjutkan pengembangannya. Sejak awal debutnya di tahun 2011, atau 7 tahun hadir di pasaran, kini kiprah format kamera interchangeable lenses dengan sensor 1 inci ini dinyatakan sudah berakhir. Dikutip dari dpreview, produk terakhir Nikon 1 seperti Nikon1 J5, V3 dan AW1 masih bisa dibeli selama stok masih ada, meski beberapa toko online sudah menyatakan kosong. Mari segarkan kembali ingatan kita tentang Nikon 1, dia adalah sistem kamera dengan mount yang berbeda dengan Nikon DSLR, dengan nama CX (2,7x crop factor) dan lensa kit 10-30mm itu menjadi lensa equiv. 27-80mm. Artinya kamera ini enak sekali buat main telefoto, misal lensa 100mm akan menjadi lensa equiv. 270mm, meski kurang cocok untuk mengejar wideangle karena terbatas hanya di ekuiv. 27mm saja.

Saya masih ingat di tahun 2011 pertama kalinya berkesempatan mencoba dan me-review Nikon1 J1 yang saat itu punya ekspektasi besar untuk menjadi produk alternatif dari kamera yang umumnya berukuran besar. Pro kontra soal sensornya yang 1 inci di saat itu lebih dikarenakan dulu orang menganggap kualitas foto hanya semata-mata ditentukan dari sensor saja. Padahal cukup banyak foto yang bagus bisa dihasilkan dari kamera seperti Nikon1. Saat saya mencoba Nikon1, hasil foto di ISO 1600 masih bisa dinikmati dengan noise yang relatif bisa diterima. Apalagi kini di saat teknologi sensor sudah semakin maju, sensor di ponsel saja sudah tergolong sangat baik. Apalagi secara spesifikasi Nikon1 punya beberapa keunggulan seperti auto fokusnya dan kinerjanya yang cepat.

Matinya sistem mirrorless Nikon 1 mungkin tidak mengejutkan. Selain penggunanya tidak banyak, juga produk baru mereka pun sudah berumur 3 tahunan, memang seperti mati suri di awal. Tapi tetap saja menjadi pertayaan bagi pengamat kamera seperti saya, mengapa hal ini bisa terjadi, khususnya pada merk sebesar Nikon. Saya yakin salah satu kontribusi utama adalah adanya keraguan di para petinggi Nikon untuk meladeni tren mirrorless kala itu, disaat penjualan DSLR lagi bagus-bagusnya. Hal itu menyumbang pada keputusan manajemen untuk merancang sebuah sistem yang tidak akan mengganggu penjualan DSLR Nikon, yang pada akhirnya menyulitkan para insinyurnya untuk mengembangkan produknya. Padahal kita maklum kalau Nikon, dan juga Canon, memang wajar kalau ingin melindungi DSLR-nya, tapi Canon setidaknya tetap berusaha terus konsisten memperbarui produk mirrorless mereka sambil membaca perubahan tren. Memang ‘perubahan’ saat ini lagi jadi kata kunci yang tren, masyarakat berubah, situasi juga bisa berubah. [click to continue…]

{ 5 comments }

Mentoring Cityscape Tomang, 25 Juli 2018

Cityscape terbaru yang dijadwalkan di bulan Juli ini adalah memotret pemandangan fly over Tomang dari atap hotel Twin Plaza. Dengan view apartemen dan gedung-gedung kota Jakarta, cityscape yang satu ini sayang untuk dilewatkan. Seperti biasa, saya (Erwin M.) akan mendampingi para peserta untuk mengajarkan cara memotret cityscape yang baik, termasuk setting kamera, tripod, lensa dan komposisinya.

Acara dijadwalkan di hari Rabu, 25 Juli 2018 mulai jam 16.30 WIB dilanjutkan dengan makan malam bersama pada jam 19.00 WIB, dan hanya tersedia 7 (tujuh) tempat saja. Info dan pendaftaran seperti biasa ke 0858-1318-3069.

View ke arah Tomang. Peserta disarankan memakai lensa lebar dari 10mm hingga 18mm.

{ 2 comments }

Kami mengamati bahwa kebutuhan fotografer pemula adalah lebih ke arah memperbanyak pengalaman memotret untuk melatih banyak hal seperti pemilihan setting, mengatur lensa, menentukan timing hingga editing foto. Tentunya akan lebih maksimal bila semua itu dibimbing oleh instruktur yang berpengalaman yang bisa memberi arahan dan masukan untuk mempercepat pemahaman. Untuk itu kami menawarkan sebuah kegiatan yang konsepnya adalah workshop hunting foto Jakarta yang akan lebih menekankan pada praktek memotret dengan bimbingan bersama Enche Tjin dan Erwin Mulyadi.

Pada workshop ini akan dikenalkan tentang prinsip foto liputan termasuk menyusun photo story, dari memotret kapal tradisional di Sunda Kelapa, dan ditambah dengan mempelajari teknik lanjutan untuk foto pemandangan seperti foto HDR. Kegiatan ini dipilihkan khusus di hari libur panjang 17-19 Agustus 2018 sehingga selama tiga hari di Jakarta diharapkan pengalaman dan belajarnya bisa lebih maksimal.

Materi workshop yang sifatnya teori dan penjelasan teknis untuk sesi memotret dikirim via email sehingga bisa dipelajari lebih awal secara mandiri, juga bisa sebagai bahan bacaan lagi untuk kemudian hari. Supaya lebih efektif, peserta kegiatan ini dibatasi maksimal 16 peserta yang diharapkan sudah mengerti dasar fotografi (segitiga eksposur, WB, fokus, lensa dsb) dan bersedia mengikuti seluruh kegiatan dari hari pertama sampai selesai. Adapun detail kegiatan yang akan dijalani yaitu (updated): [click to continue…]

{ 4 comments }

Akhir Juni 2018 kemarin, Leica mengeluarkan beberapa firmware (kata lain untuk software sistem operasi) untuk kamera Leica, diantaranya Leica Q (v3.0), Leica CL (2.0), TL2 (1.4), M10 (2.4.5.0).  Dari rilis firmware tersebut, yang saya rasa paling banyak perubahannya adalah untuk Leica Q, dari firmware 2.0 menjadi 3.0.

Beberapa perubahannya antara lain:

1. Halaman Favorites kini dapat menyimpan 15 menu item

Saat masuk ke Menu, akan langsung ke halaman Favorites yang dapat menyimpan sampai dengan 15 menu item pilihan. Menu Favorites ini sama dengan yang sudah ada di Leica SL dan Leica CL. Bagi saya ini sangat membantu supaya saya bisa cepat akses ke menu item yang biasa saya gunakan. Menu di Favorites bisa diganti sesuai kebutuhan masing-masing pengguna dengan mengakses menu customized control>edit favorites.

[click to continue…]

{ 0 comments }

Akhir Juni 2018 saya berkesempatan bersama sembilan teman dalam rangka trip+workshop photo story ke Bromo dalam tema memotret acara Kasada. Trip ini  cukup menguras stamina karena acara ritual dimulai tengah malam sampai pagi hari. Karena membayangkan kondisi malam yang gelap, maka saya membawa lensa Leica SL 50mm f/1.4 [Review]. Lensa ini biasanya jarang saya bawa untuk tour foto karena ukurannya besar dan beratnya sekitar 1 kg. Tapi untuk memotret di malam hari saya pikir sangat pas. Berikut beberapa foto bidikan saya dengan lensa Leica SL 50mm f/1.4 ASPH saat dipasang dengan Leica SL.

Sepertinya saya tidak salah untuk membawa lensa SL 50mm f/1.4, meskipun agak berat, tapi saya dapat memotret di kondisi yang sangat gelap tanpa harus meningkatkan ISO terlalu tinggi. Data teknis foto-foto diatas adalah sebagai berikut:

Foto 1: ISO 3200, f/2, 1/125
Foto 2: ISO 6400, f/2, 1/125
Foto 3: ISO 4000, f/2, 1/125
Foto 4: ISO 2500, f/2.5, 1/125
Foto 5: ISO 1250, f/2, 1/125
Foto 6: ISO 2500, f/2.5, 1/125

Meski saya bisa mengunakan f/1.4, tapi saya mengunakan f/2 – f/2.5 untuk mendapatkan ruang tajam (depth of field) yang lebih luas, f/1.4 saya rasa terlalu tipis bagian yang tajamnya. Foto saya edit dengan Adobe Lightroom dan Silver Efex Pro menjadi hitam putih. Saya merasa tanpa warna lebih kuat foto-foto diatas karena memiliki pencahayaan, dan subjek yang menarik. Secara keseluruhan saya pribadi menyukai acara Kasada di Bromo ini, dan mungkin akan kembali tahun depan.


Bagi teman-teman yang ingin belajar fotografi atau mengikuti tour fotografi, silahkan mengunjungi halaman ini untuk mendapatkan info jadwalnya, dan hubungi 0858 1318 3069 untuk mendaftar. Trims.

 

{ 4 comments }