≡ Menu

Leica SL2-S yang baru diumumkan tanggal 10 Desember 2020 ini memiliki slogan Two worlds, one choice, artinya kamera ini bagus bukan hanya untuk fotografi tapi juga handal untuk merekam video.

Sekedar info, spesifikasi Leica SL2-S terutama untuk video adalah

  • 24.6 MP BSI CMOS sensor tanpa AA sensor memastikan ketajaman optimal
  • ISO 50-100.000
  • Video Gamma: L-Log, HLG, Rec.709
  • Unlimited recording
  • 4K 60p 10-bit 4:2:2 Super 35mm, Long GOP, 150 Mbps (HDMI)
  • 4K 60p 8 bit 4:2:0 Super 35mm, Long GOP, 150 Mbps (SD)
  • 4K 24p/30p 4:2:2 35mm (FF), 10 bit, ALL-I, 400 Mbps
  • FHD 180p 4:2:0, Super 35mm, Long GOP 20 Mbps
  • FHD 60p 4:2:2, 35mm, ALL-I 200 Mbps

Di awal tahun depan, akan ada firmware update secara gratis yang meningkatkan performa kameranya terutama untuk videografi. Peningkatan fiturnya bisa dilihat di tabel di bawah ini:

Spesifikasi dan kesan pertama dengan Leica SL2-S bisa dibaca di artikel Kesan pertama Leica SL2-S dan Review di Youtube Infofotografi.

{ 0 comments }

Leica SL2 S – Kesan pertama

Leica membuat kejutan di akhir tahun 2020 ini saat mengumumkan kamera Leica SL2 S. Leica SL2 S ini punya sensor full frame 24MP full frame, mirip dengan SL generasi pertama, yaitu memprioritaskan kinerja/speed dan kualitas video. Saat SL pertama diluncurkan tahun 2015 yang lalu, sepertinya Leica SL adalah satu-satunya kamera mirrorless yang dapat memotret dengan kecepatan 11 foto per detik dan dapat merekam video 4K.

Saksikan video pengalaman dan hasil foto dan video kamera Leica SL2-S ini di youtube Infofotografi

Kamera SL2 S ini meneruskan tradisi SL, S yang kemungkinan besar singkatan dari speed & sensitivity. Kecepatan foto berturut-turut SL ditingkatkan menjadi 25 fps dengan buffer kamera telah diperbesar dua kali lipat dari SL2, sehingga dapat memotret foto (JPG) secara tidak terbatas sampai memory card penuh atau baterai habis. Dengan 24MP, kualitas foto di kondisi gelap juga meningkat karena ukuran pixel masih relatif besar sampai ISO 100.000.

Di sisi video, SL2 S juga maksimal, kamera ini bisa merekam 4K full frame 10-bit dengan aspek rasio Cinema 4K secara internal.

Saya beruntung mendapatkan kepercayaan untuk menguji kamera ini sebelum diluncurkan secara global.

Disclaimer: Kamera yang saya uji mengunakan firmware 0.1A sehingga performa, fitur dan kualitas gambar mungkin tidak sama dengan kamera firmware 1.0 (production).

Desain

Leica SL-2 sekilas mirip dengan SL2, perbedaan yang paling mencolok dari segi fisik adalah warna brand Leica yang hitam, tidak putih, sehingga berkesan lebih stealthy.

Seperti Leica SL2, SL2-S punya tiga tombol, dua dial dan satu joystick. Desainnya terkesan minimalis tidak seperti kamera digital lain tanpa umumnya. Layar fix anti gores dan sidik jari memberikan kesan kokoh dan mewah.

Rekomendasi

Seri Leica SL biasanya dirancang untuk multi fungsi, untuk fotografi & videografi, populer untuk documentary, portrait/fashion, wedding dan travel. Ideal untuk pengguna lensa Leica M, karena lebih mudah manual fokusnya dan kualitas lebih baik dibandingkan dipasang di kamera mirrorless merk lain.

Harga SL2 S Rp79.2 juta. Bagi teman-teman yang ingin memesan/pre order atau belajar mengunakan kamera ini, atau kamera Leica yang lain, saya bisa membantu. Hubungi kami via WA 0858 1318 3069 atau infofotografi@gmail.com

Hardware

  • 24MP Full Frame Low light ISO 50-100.000, native ISO 100
  • 5 Axis stabilizer high performance
  • Bahan logam – alumunium & magnesium IP54
  • Operating temperature -10 to + 40 ° C
  • Jendela bidik 5.7 juta titik
  • 3.2″ hi-res LCD 2.1 juta titik
  • Top display LCD
  • 2 UHS-II memory card slots
  • Baterai 1860mah (sama dengan SL, SL2 & Q2) 510 shot
  • Interface Photo & Video yang simple dan intuitif
  • L-mount family lens
  • Desain dan dibuat di Jerman

Fitur fotografi

  • Double buffer size vs SL2 atau 4GB.
  • Continuous shooting 25 fps, infinite JPG E. shutter
  • Continuous shooting 9 fps, mechanical
  • Sensor special desain for Leica M
  • Capture One tethering
  • Flash synchro 1/250 detik
  • Shutter speed: 30-1/8000 mechanical, 60-16000 electronic
  • 225 contrast detect AF point
  • Multishot 96MP

Fitur Video

  • Video 4k/60p, FHD 120p 10bit
  • Full size HDMI
  • C4K, internal 10 bit, HEVC H.265
  • Video Gamma: ec.709, L-Log Rec.2020, HLG Rec.2020
  • Segmented file recording to save content
  • Waveform monitor
  • Color Bar (correct color setting)
  • Focus shift (3 different focus positions)
  • Berat: 850g tanpa baterai, 931g dengan baterai

Pilihan Video recording

MP4
Long GOP / 4:2:0 / 8-bit, 4K 60p 150mbps

MOV
C4K 60p/50p- Long GOP / 4:2:0 – 10-bit SD card, 4:2:2 HDMI out – 150mbps
C4K 30p/25p/24p – All I / 400 Mbps / 4:2:2/ 10-bit SD

Full HD
180p/150/120p 4:2:0 Long GOP 8 bit 20mbps
60p/30/25/24p All-I/200Mbps/4:2:2/10bit SD 200mbps

Ucapan terima kasih

Leica Store Indonesia & Asia Pacific
Irwan Soenario @seansideup untuk direksi video Leica SL2-S

{ 1 comment }

Kamera Sony vs Fuji di tahun 2020-2021

Tidak bisa dipungkiri bahwa dua merk kamera yang populer di kalangan pemula, hobbyist dan profesional pasti akan melirik merk kamera Sony atau Fujifilm. Memang, di setiap rentang harga kedua pabrikan ini bersaing secara ketat dan mungkin calon pembeli akan bingung dalam memilih. Maka dari itu artikel ini akan memberikan informasi kelebihan dan kekurangan masing-masing type kamera secara ringkas.

Harga Rp 10 juta

Sony A6100 vs Fuji X-T200

Sony A6100 dan Fuji X-T200 punya banyak persamaan yaitu bersensor APS-C 24MP. Fisiknya sama ringkasnya, dan beratnya juga hampir sama yaitu 396 vs 370g.

Kelebihan Sony A6100 terutama di kemampuan merekam video tanpa batas waktu, sistem autofokus yang lebih baik, dan koleksi lensa yang banyak dari Sony maupun pabrikan pihak ketiga.

Kelebihan Fuji X-T200 yaitu punya layar LCD yang lebih besar (3.5″ vs 3″), layarnya touchscreen dan bisa diputar ke segala arah, sedangkan Sony A6100 layar LCD-nya hanya bisa diputar ke atas, tidak bisa ke samping. Jendela bidik X-T200 juga punya resolusi yang lebih tinggi (2.3 juta titik vs 1.4 juta titik).

Untuk videografi, kedua kamera dapat merekam video sekualitas 4K 30p, Full HD 120p, yang berbeda yaitu X-T200 hanya bisa merekam maksimum 15 menit untuk 4K, dan 30 menit untuk Full HD.

Fuji X-T200 punya kelebihan misalnya punya gyro EIS (digital gimbal) untuk membantu mendapatkan gambar video yang lebih stabil dan juga headphone jack (dengan adaptor USB) untuk monitoring suara.

Jika perlu kamera yang dapat merekam lebih dari 15/30 menit, Sony pilihan yang lebih baik, tapi jika menyukai desain yang lebih mengunakan layar touchscreen yang besar dan bisa diputar ke segala arah, Fuji lebih bagus.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Sepuluh kamera paling menarik di tahun 2020

Tahun 2020 bisa jadi adalah tahun yang tidak terlupakan, adanya pandemi dan resesi global yang mengubah banyak rencana bisnis dunia termasuk industri fotografi. Untungnya di tahun 2020 ini tetap banyak diluncurkan kamera baru oleh banyak produsen Jepang dan juga Jerman. Kami di infofotografi biasanya setiap akhir tahun merilis kamera terbaik, namun di 2020 ini kami ubah menjadi kamera paling menarik bagi kami. Salah satu alasannya karena kamera modern semakin spesifik dan niche, tidak lagi bisa dibandingkan satu sama lain. Tidak ada yang sempurna, tiap kamera punya keunggulan utama yang ditujukan bagi orang yang memerlukannya.

Kami di infofotografi telah memilihkan 10 (sepuluh) kamera paling menarik yang dibuat di tahun 2020 ini dan berikut adalah daftarnya :

Panasonic Lumix G100

Kamera Lumix G100 menjadi kamera modern yang ringkas dan ditujukan untuk konten kreator yang mencari kamera sekecil kamera compact/pocket tapi bisa berganti lensa (mengingatkan pada Lumix GM di masa lalu) dan selalu bisa diandalkan untuk selfie dan vlogging. Plus : kecil, ringkas, masih ada jendela bidik, bisa disambungkan ke mini tripod yang ada tombolnya. Minus : tanpa stabilizer di bodi, fitur video 4K terbatas.

Nikon Z5

Meski Nikon sudah mempunyai Z6 dan Z7 dua tahun lalu, tapi hadirnya Z5 sebagai produk Nikon paling kecil dan terjangkau di kelas full frame tahun ini perlu disambut gembira. Hal ini karena Z5 tetap mempertahankan ergonomi khas Nikon, ada dual slot, dan tetap ada stabilizer. Sebagai sensor diberikan sensor 24 MP non BSI, setara Nikon D750 di masa lalu. Minusnya, kamera Z5 ini kecepatan burst nya kurang cepat, dan fitur video yang biasa saja. Cocok untuk yang mencari kamera mirrorless baru dengan sensor full frame tapi dana terbatas.

Fuji X-S10

Dalam lini kamera Fuji X, hadirnya X-S10 membawa desain modern dan agak berbeda dengan desain Fuji X-T, X-E atau X-Pro. Kamera Fuji X-S10 yang bisa dianggap sebagai penerus X-T30 ini punya grip yang dalam, sensor X-Trans dan stabilizer di bodi. Minusnya, X-S10 tidak weatherseal, dan cuma ada satu slot memori. Cocok untuk konten kreator yang suka mengambiil foto dan video vlogging.

Fuji X-T4

Kalau bicara kamera APS-C kelas atas, Fuji X-T4 pasti masuk dalam kelompok ini. Fuji X-T4 semakin menarik karena seperti penggabungan fitur foto di X-T3 dan X-H1. Plus : desain retro khas Fuji, bodi weathersealed, dual slot, layar lipat samping dan ada stabilizer. Minus : harga termasuk tinggi untuk sensor APS-C, grip kecil. Cocok untuk pekerja foto video serius yang ingin memaksimalkan ekosistem lensa APS-C.

Sony A7C

Sony A7C, kamera mirrorless full frame yang baru diumumkan

Sony A7C hadir ketika mirrorless full frame diminta bisa menjadi lebih kecil lagi. Dengan mengambil bahasa desain dari A6400 ala rangefinder, A7C menjaga ukuran kamera tetap ringkas namun punya sensor full frame. Selain ukuran A7C ini lebih kecil (dibanding A7 III) juga ada perbedaan dalam desain layar LCD dan jendela bidiknya. Bahkan A7C punya kinerja auto fokus yang lebih baik dibanding A7 III. Minusnya, tidak ada beberapa tombol C1-C2 dan joystick, dan hanya satu slot SD card (yang uniknya terletak di sisi kiri kamera).

Lumix S5

Kameranya ringkas, fitur fotonya oke, fitur videonya dahsyat. Itulah gambaran untuk Lumix S5, sebuah mirrorless full frame kelas menengah dengan L-mount. Lumix S5 menawarkan fitur high res 96 MP mode, stabilizer, dual slot, 5,9K RAW video out, dan sudah dapat V-Log. Dalam hal auto fokus tracking memang kalah dibanding teknologi PDAF, tapi kecepatan fokusnya termasuk sangat cepat. Cocok untuk fotografer travel, yang mencari kualitas tinggi tapi kameranya ringan. Untuk videografer tidak perlu diragukan, bahkan kamera ini bisa Cinema 4K 60 fps, ada vectorscope dan anamorphic recording.

Nikon Z6 II

Nikon Z6 hadir dua tahun lalu dengan memberi kualitas bodi dan dynamic range khas Nikon dalam bodi mirrorless Z-mount, dan kini Z6 II membawa peningkatan dalam dual prosesor dan dengan dual slot memory card. Plus : kinerja cepat, top status LCD, weatherseal. Minus : layar lipat ke atas tidak semua orang suka.

Sony A7S III

Setelah dinanti selama 4 tahun, Sony A7S kembali hadir dengan generasi ketiganya. Dari awal, A7S memang jadi tool serius untuk videografer dan di Mark III kali ini menawarkan layar lipat ke samping yang memang sedang jadi tren. Plus : rekam video internal 4K dengan 120p. Minus : sensor tetap 12 MP, kurang detail untuk cetak foto ukuran besar.

Canon EOS R5

Canon EOS versi mirrorless full frame semakin banyak pilihan sejak R5 dan R6 hadir di 2020 ini. Keunggulan R5 ada pada resolusi sensor 45 MP, kecepatan motret dan kinerja auto fokus dalam ergonomi yang mantap, banyak dibilang R5 adalah setara DSLR EOS 5D dalam versi modern. Plus : video 8K, speed 12 fps, top LCD, auto fokus Dual Pixel AF. Minus : rekam 8K tidak bisa lama.

Leica Q2 Monochrom

Keunikan Leica Q2 Monochrom ini adalah ketika sensor 47MP di Leica Q2 tidak diberi filter warna sehingga benar-benar sinyal luminance saja yang direkam oleh sensor. Leica Q2 ini memiliki lensa permanen 28mm yang bukaannya f/1.7 dan bisa auto fokus (dibanding Leica M Monochrome, bisa ganti lensa tapi tidak bisa auto fokus). Cocok untuk fotografer yang menyukai fotografi hitam putih yang langsung ‘matang’ tanpa diedit.

[continue reading…]
{ 3 comments }

Review kamera di ponsel Oppo Reno 4F

Infofotografi kehadiran lagi ponsel yang relatif baru yaitu Oppo Reno 4F dari detikinet untuk di review performa dari kameranya. Varian Reno 4 ini termasuk ponsel kelas menengah dengan harga yang cukup terjangkau. Saat diluncurkan, ponsel ini harganya Rp 4.3 juta, saat saya menulis review ini, harganya sudah cukup terjangkau yaitu Rp 3 jutaan. [Beli disini] karena kompetisi yang sengit.

Sebelum masuk ke kualitas kameranya, saya ingin membahas sedikit tentang desain ponselnya. Kamera ini termasuk ringan (164g) dan tipis (7.48mm) dengan desain yang cukup minimalis dengan susunan empat kamera yang rapi di pojok kiri atas.

Chipset yang digunakan ponsel ini adalah dari Mediatek Helio P95 dengan pilihan RAM 8GB yang cukup baik untuk AI maupun computational photography. Teknologi yang digunakan yaitu 12nm dan didukung baterai fast charging berkapasitas 4000mah

Terdapat 4 kamera di ponsel ini, tapi yang praktis untuk digunakan hanya dua, yaitu yang 48 MP (12MP) 1/2″ 26mm dan 8MP ultra wide 16mm 1/2.2″. Dua lainnya adalah depth sensor untuk mendeteksi jarak.

Crop dari foto diatas
[continue reading…]
{ 0 comments }

Review Tamron 70-300mm f/4.5-6.3 untuk Sony E-mount

Lensa telefoto zoom Tamron ini dirancang untuk kamera mirrorless Sony yang bersensor full frame e-mount dan juga bisa dipasang di kamera Sony yang APS-C. Saat dipasang di kamera bersensor APS-C, maka akan dapat manfaat 1.5x crop menjadikan jarak fokalnya setara dengan 105-450mm.

Tamron 70-300mm di Sony A7III

Kesan saya pertama kali memegang lensa ini, saya merasa lensa ini compact dan relatif ringan (545gram). Desainnya simple, tidak ada tuas atau tombol di lensa, panjangnya 15cm dan akan memanjang saat di-zoom. Tersedia juga lens hood untuk melindungi bagian depan lensa.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Cara menjual Lightroom preset : Mudah & nambah income

Beberapa saat yang lalu, saya mendapatkan informasi dari teman fotografer yang mengenalkan saya dengan SociaBuzz, sebuah platform marketplace, tempat bertemunya fotografer, model, make-up artist untuk berkolaborasi atau menawarkan jasa.

Yang paling menarik yaitu SociaBuzz Shop, dimana fotografer, content creator atau editor dapat menjual produk-produk digital, misalnya Lightroom Preset, e-book, bahkan foto juga bisa dijual di marketplace tersebut.

Jualan produk digital di Indonesia tentunya tidak mudah. Jika kita menjual di platform internasional, mungkin akan terkendala dengan metode pembayaran yang tidak umum, misalnya kartu kredit dan paypal. Sedangkan Sociabuzz ini sudah menyediakan pembayaran yang lebih umum dan diterima oleh masyarakat Indonesia yang lebih luas seperti OVO, Gopay, transfer bank dan sebagainya. Akibatnya, calon pembeli akan merasa lebih nyaman dan aman.

Selain itu, produk digital kita tidak perlu mengurus produksi, stok, pengemasan dan pengiriman. Jualan produk digital bisa dibilang termasuk pendapatan pasif (passive income) bagi creator yang tentunya juga terdampak dengan pandemi tahun ini.

Menariknya kalau jualan di SociaBuzz juga ada affiliate marketingnya. Teman-teman yang sudah bergabung, atau akan bergabung di SociaBuzz bisa membantu untuk mempromosikan produk kita, dan sebagai imbalannya kita bisa memberikan komisi kepada mereka dan semuanya sudah diatur di SociaBuzz .

Cara menjual

  1. Teman-teman bisa langsung buka aja websitenya di SociaBuzz/shop dan klik tombol “Mulai Jualan”
  2. Lalu tinggal klik aja tombol “Daftar pakai Gmail”
  3. Lalu lengkapi informasi lainnya
  4. Kalau sudah, scroll ke bawah yang ada tulisan SociaBuzz Shop, lalu klik tombol “Buat”
  5. Lalu tinggal isi profile picture, bisa upload cover image juga kalau mau, lalu isi deskripsi
  6. Lalu tinggal upload file preset yang ingin dijual dengan klik “Tambah Yang Mau Dijual” dan pilih “File/Link (Satuan)”
  7. Lengkapi semua kolom isian yang ada, lalu klik “Simpan”
  8. Klik link halaman produknya untuk preview
  9. Lalu tinggal share linknya ke social media dan ke target customer yang kita miliki
  10. Nanti customer tinggal klik “Beli Sekarang” dan mereka bisa pilih metode pembayaran yang diinginkan, lalu langsung mengakses preset yang kita jual
  11. Dan kalau mau dibantu jualan oleh member2 yang sudah bergabung di SociaBuzz, bisa klik “Edit” di bagian yang ada tulisan “Komisi untuk affiliate”. Bebas mau kasih komisi berapa %. Lebih besar lebih menarik tentunya.

Cukup simple kan? Mudah-mudahan informasi ditata bisa membantu teman-teman creator yang sedang mencari penghasilan tambahan atau suka berbagi dengan sesama.

{ 4 comments }

Update firmware Lumix S5 ke versi 2.0

Lumix S5 belum lama diluncurkan, yaitu di awal Oktober 2020. Saat itu dijanjikan kalau di akhir November akan disediakan update firmware yang akan menambah fitur foto dan video. Dan akhirnya benar di 24 November 2020 melalui web resmi Panasonic disediakan beberapa update untuk kamera Lumix tipe S (Full frame) maupun tipe G (Micro Four Thirds).

File update untuk Lumix S5 sendiri bernama S5_V20.zip sebesar 86 MB bisa diunduh disini. Peningkatan yang didapat diantaranya :

  • peningkatan auto fokus
  • fitur video yang ditambahkan
  • ditambah photo style baru (L.Classic Neo dan L. Monochrome S)

Untuk auto fokus, Lumix S5 kini bisa mendeteksi body dan animal dalam mode 1 area AF. Saat rekam video dengan V-Log akan mendapat peningkatan peningkatan. Sedangkan fitur video yang ditambah diantaranya adalah adanya Cinema 4K (lebih panjang dari UHD), fitur vectorscope, dan juga output RAW 5,9K via HDMI.

{ 0 comments }

Review Nikon Z6 II

Nikon Z6 II merupakan kamera mirrorless bersensor full frame 24 MP dari Nikon yang ditujukan untuk content creator yang membutuhkan kamera berkualitas profesional untuk foto maupun videografi.

Nikon Z6 II adalah pembaharuan dari Nikon Z6 diantaranya mengunakan Dual EXPEED 6 processor yang memungkinkan kecepatan foto berturut-turut sampai maksimum 14 fps dengan buffer 124 foto (9 detik). Dengan processor baru, sistem autofokus juga meningkat kecepatan dan keakuratannya. Pengguna dapat mengaktifkan eye dan animal detection autofocus di auto-area AF atau wide AF di foto maupun video.

Bagi yang bekerja akan senang dengan dual card slot (XQD/CF Express dan SD card UHS-II), juga adanya ketersediaan vertikal grip MB-N11 yang akan bekerja optimal dengan dua baterai EN-EL 15c. Dengan grip dan baterai tersebut, kapasitasnya 1.9x lebih panjang dan bisa di charge langsung dengan power bank.

Untuk fitur video, Z6 II bisa merekam video 4:2:2 N-Log, HLG dan RAW sampai dengan 12 bit RAW dengan external recorder Atomos Ninja V & Blackmagic Design. Untuk perekaman internal ke memory card, Z6 II mampu merekam 4K UHD 30p/60p dengan slow motion 120p di Full HD 1080.

[continue reading…]
{ 2 comments }

Sharing 5 (lima) tips untuk pengguna kamera Sony A7

Tips 1 : maksimalkan fitur SteadyShot dengan baik. Set ke posisi ON bila memotret tanpa tripod, khususnya saat shutter agak lambat atau pakai lensa tele. Set ke posisi OFF bila diatas tripod, supaya foto lebih tajam maksimal. Untuk setting Adjustment bisa set ke Auto, sehingga kamera akan memberikan efek stabilisasi sesuai fokal lensa. Bila pasang lensa fix manual misal lensa 50mm, maka tentukan sendiri Focal Length SteadyShot ke angka 50mm.

Pengaturan SteadyShot

Tips 2 : Manfaatkan pengaturan viewfinder dan monitor LCD dan gunakan setting Sunny Weather untuk outdoor. Ini membantu membuat layar tampak terang saat outdoor (meski membuat baterai lebih cepat habis).

Auto akan membuat jendela bidik menyala bila kamera mendeteksi kita mendekatkan mata ke jendela bidik

Tips 3 : atur level Noise Reduction sesuai kebutuhan (baik untuk Long Exposure NR dan High ISO NR). Bila saat memotret dengan shutter lambat kita tidak mau menunggu proses Long Exposure NR yang lama (misal motret dengan 30 detik, akan tambah lagi 30 detik untuk NR), bisa set ke Off. Resikonya mungkin akan muncul noise di hasil foto, meski pakai ISO rendah.

Untuk High ISO NR, akan mengurangi noise saat pakai ISO tinggi. Pilihannya ada Low, Medium dan High. Memilih High ISO di posisi High kurang disarankan karena akan menurunkan detail foto dan terlihat sangat halus.

Tips 4 : Manfaatkan tombol Center untuk kustomisasi AF. Tombol tengah lingkaran di belakang bila ditekan akan bisa memberi fungsi yang spesifik saat auto fokus. Namun syaratnya fungsi tombol tengah ini harus diatur ke Standard, bukan di kustomisasi ke fungsi yang lain. Tombol tengah ini akan berfungsi :

  • Memulai/mengakhiri trakcing Lock-on AF (bila posisi Wide Area AF dan di menu Center Lock-on AF di set ke On)
  • Menjadi Center focus area (bila posisi Wide Area AF dan di menu Center Lock-on AF di Off)
  • mengembalikan titik fokus ke tengah Saat di posisi Zone atau Flexible Spot

Tips 5 : Kenali pengaturan dual slot SD card, bila kameranya mendukung dual slot memory (misal A7 III). Bila anda punya SD card UHS-II pasanglah pada slot yang sesuai (yaitu slot 1), untuk menikmati kecepatan baca tulisnya. Bila tidak, maka kecepatannya akan diturunkan seperti standar UHS-I. Bila kartu anda hanya yang berjenis UHS-I maka dipasang di slot manapun kecepatannya tetap sama.Untuk setting Prioritize Record Media, sebaiknya tidak usah diubah, biarkan di slot 1 karena slot itulahyang mendukung UHS-II. Untuk Auto Switch Media, normalnya ini di posisi off. Tapi bila di On, dan recording mode diset ke Standard, dan di kedua slot terisi SD card, maka bila slot 1 penuh, akan dilanjutkan memakai slot 2.

[continue reading…]
{ 0 comments }