≡ Menu

Voigtländer 10mm f/5.6 yang saya review ini adalah lensa ultra lebar manual fokus versi VM yang dirancang khusus untuk kamera dengan M-mount contohnya kamera Leica M. Lensa versi VM juga dapat dipasang di berbagai kamera mirrorless dengan adapter. Lensa ini termasuk baru, karena diumumkan di tahun 2015 dan tersedia di awal tahun 2016. Lensa Voigtlander diproduksi oleh Cosina yang bermarkas di Jepang. Cosina juga memproduksi lensa-lensa Carl Zeiss untuk kamera DSLR, maupun mirrorless.

Lensa ini dirancang untuk sensor full frame, dan bisa digunakan di kamera yang memiliki sensor lebih kecil, namun sudut pandangnya tidak akan selebar 10mm. Sudut pandang lensa ini akan tergantung dari crop factor kamera masing-masing. Misalnya jika crop factor-nya 1.5 X (APS-C) maka sudut pandangnya akan setara sekitar 15mm.

Saya mengunakan kamera mirrorless full frame Leica SL sejak bulan Agustus 2016 yang lalu. Sebagai sistem kamera yang termasuk baru berusia dua tahunan, belum ada lensa Leica SL super lebar untuk kebutuhan foto pemandangan, cityscape, interior dan arsitektur. Setelah saya browsing di internet, saya menemukan bahwa fotografer yang mengunakan Leica SL, Vieri Bottazzini, seorang fotografer landscape asal Italia juga mengunakan lensa Voigtlander saat membutuhkan sudut pandang lensa lebar.

[click to continue…]

{ 3 comments }

Panasonic Lumix GH5 diluncurkan di Indonesia

Belum lama ini Panasonic Indonesia menggelar acara peluncuran kamera mirrorless baru yaitu Lumix GH5, bertempat di SCBD Jakarta dengan menghadirkan beberapa narasumber seperti Barry Kusuma (brand ambassador Lumix Indonesia) , Benny K. (sinematografer) dan Griffin Hammond (indie filmmaker). Lumix GH5 sendiri merupakan kamera flagship dari Panasonic dengan kemampuan foto dan video yang menawan, menjadi penerus Lumix GH4 yang sukses di pasaran, dan diharap bisa menjadi andalan fotografer dan videografer profesional untuk berkarya.

Peningkatan utama yang ditemui di Lumix GH5 diantaranya adalah :

  • sensor 20 MP LiveMOS Micro 4/3 tanpa low pass filter
  • Dual IS dengan 5 axis stabilizer
  • 4K 50 fps dengan 4:2:2 10 bit
  • 6K photo mode (18 MP 30 fps)
  • Auto fokus DFD yang ditingkatkan
  • Dual slot SD UHS-II
  • jendela bidik 3,6 juta dot OLED dan LCD lipat 3,2 inci

Pada acara yang dihadiri ratusan undangan ini Agung Ariefiandi, Product Manager Digital Imaging Panasonic Indonesia memberikan paparan mengenai apa-apa saja kelebihan dari kamera Lumix GH5. Salah satunya adalah fitur 6K photo yang memungkinkan kita mendapat foto 18 MP dengan 30 frame dalam satu detiknya. Juga dijelaskan mengenai keuntungan memakai sistem 4:2:2 10 bit dalam color grading. Agung juga menjelaskan konfigurasi produksi basic dan advanced, karena kamera GH5 ini bisa dihubungkan ke banyak sistem seperti XLR audio, mic, waveform/vectorscope, HDMI dual view untuk rekam eksternal dsb. [click to continue…]

{ 2 comments }

Bagi fotografer amatir serius atau fotografer profesional yang sedang mempertimbangkan kamera Leica kemungkinan besar akan mempertimbangkan antara Leica M (M10 yang terbaru) dan Leica SL. Hal ini karena kedua kamera memiliki kesetaraan dalam sensor gambar yaitu mengunakan sensor full frame (36x24mm). Tapi dari fisiknya sekilas, keduanya terlihat sangat berbeda, Leica M memiliki bentuk yang simple dan compact. Sedangkan Leica SL bentuknya seperti DSLR dengan punuk jendela bidik dan pegangan yang besar.

Rancangan antarmuka Leica M seperti kamera film. Bukaan diatur di lensa, shutter speed diatur di roda diatas kamera. Sedangkan antarmuka Leica SL lebih mirip dengan kamera DSLR, yang punya lebih banyak tombol dan mengunakan roda (dial) untuk mengubah bukaan dan shutter speed.

Leica memang sengaja merancang kamera yang sangat berbeda maka itu tidak heran bahwa banyak fans yang menyukai desain Leica M tidak menyukai Leica SL dan juga sebaliknya.

[click to continue…]

{ 2 comments }

Halo pembaca Infofotografi yang berbahagia. Kita beruntung akan kedatangan seorang master printer dari Malaysia yaitu Wesley Wong.

Wesley adalah pendiri Giclee Art, Sdn. Bhd, sebuah perusahaan yang berspesialisasi dalam mencetak foto berkualitas tinggi (Fine Art). Berkat pengalamannya yang lebih dari sepuluh tahun di dunia fotografi digital dan percetakan, membuatnya sering diundang sebagai pembicara, trainer, dan juri untuk berbagai lomba foto.

Saat ini, Wesley dipercaya menjadi Sigma Camera Global Key Opinion Leader, X-Rite Coloratti Master, dan Profoto Premium Club Trainer.

Infofotografi akan berkolaborasi dengan Wesley dan EPSON dalam penyelenggaraan seminar ini pada hari Sabtu, 29 Juli 2017. Pukul 13.00-17.00 WIB.

Tempat:
PT EPSON INDONESIA, CIBIS Tower 9 3rd Floor, CIBIS Business Park
Jl. T B Simatupang No. 2 Jakarta Selatan 12560 Indonesia

Dalam kesempatan yang baik ini, Wesley akan membahas dan mendemonstrasikan:

  • Pembahasan tentang printing dan best practices dari memotret sampai mencetak
  • Bagaimana cara Master Printer mengevaluasi sebuah file foto digital sebelum mencetak
  • Mengidentifikasi kekurangan dasar dari sebuah gambar
  • Bagaimana cara menutupi kekurangan dengan metode editing/retouching.
  • Cara mempersiapkan file gambar untuk dicetak
  • Manajemen warna dasar
  • Demonstrasi mencetak foto

Peserta seminar diperkenankan untuk mengirimkan beberapa file foto untuk dibahas dan diberi masukan dari sudut pandang seorang printmaster.

Tempat terbatas,

Biaya Rp350.000 early bird / alumni Infofotografi

Pendaftaran OTS (On the Spot) atau setelah bulan Juni Rp450.000,-

Untuk mendaftar silahkan hubungi 0858 1318 3069 / infofotografi@gmail.com

Peserta akan mendapatkan goodie bag dan buku catatan dari Epson

Pelunasan dapat dilakukan dengan transfer ke Enche Tjin via BCA 4081218557 atau Mandiri 1680000667780. Harap konfirmasi setelahnya dengan nama peserta. Terima kasih atas perhatiannya.

{ 3 comments }

Dalam bulan Ramadhan di bulan Juni ini, Infofotografi akan kedatangan fotografer senior, Bapak Goenadi Haryanto. Beliau adalah pensiunan arsitek dan fotografer profesional (mulai tahun 2002) yang telah berpengalaman memotret selama lebih dari 50 tahun dan menyukai berbagai jenis fotografi. Beliau juga merupakan kontributor majalah in-flight Garuda dan Sriwijaya Airways.

Salah satu jenis fotografi yang paling disukai adalah human interest dan budaya. Beliau telah berpengalaman memotret festival budaya dari pulau Jawa, Kalimantan, sampai Papua.

Di acara sharing & gathering ini, Bpk. Goenadi Haryanto akan berbagi tentang kiat-kiat dalam memotret human interest dan festival budaya. Baik dari segi teknik (kamera, lensa dan setting), seni (komposisi, lighting), etika memotret, dan bagaimana mendapatkan foto yang memiliki jiwa/soul.

Acara akan diadakan pada:

Hari/Tanggal : Sabtu, 17 Juni 2017
Waktu : 1500 s/d 18.00 WIB
Tempat : Infofotografi, Rukan Sentra Niaga Blok N-05, Green Lake City, Duri Kosambi Jakarta Barat. GPS : 6.1794S 106.7115E
Petunjuk arah dan Peta bisa dibaca di laman ini.

Biaya pendaftaran: Rp 50.000 /orang
Terbuka untuk umum, tempat terbatas (30 peserta) saja.

Biaya sudah termasuk konsumsi buka puasa/makan malam bersama.

Pembayaran dapat ditransfer ke Enche Tjin via BCA 4081218557 atau Mandiri 1680000667780 Kalau sudah transfer tolong konfirmasi ke 0858 1318 3069 / infofotografi@gmail.com. Terima kasih atas partisipasinya.

{ 5 comments }

Halo teman-teman pembaca Infofotografi.com. Beberapa hari ini saya dititipin kamera dan lensa untuk dijual. Barangkali ada yang pas dibutuhkan. Post ini saya akan perbaharui seiring waktu. Bagi yang ingin nitip juga boleh menghubungi saya. Kontak info ada di bagian bawah tulisan ini.

Kamera:

  • Fujifilm X-E1 warna silver: Fungsi kamera bagus, kelengkapan termasuk baterai, charger, kabel. Kondisi kosmetik kamera ada sedikit baret di beberapa sisi kamera. Rp 3.2 juta
  • Fujifilm X-T1 Graphite Silver : Kondisi mulus. Rp 11 juta.
  • Fujifilm VG-TX 1 Battery grip untuk Fujifilm X-T1 : Kondisi mulus. Rp 2.5 juta
  • Nikon D700 : Baru diservice ganti karet. Kondisi fisik baik Rp 7.25 juta. Cocok untuk foto action dan untuk kerja di event/wedding dll. [TERJUAL]
  • Canon 750D + lensa 18-55mm IS STM : Kondisi baik, ada beberapa titik karat di mount-lensa. Rp 6.45 juta. [TERJUAL]
  • Nikon D3300 + lensa 18-55mm : Kondisi baik sekali, SC dibawah 6000 jepretan. Rp 3.9 jt. [TERJUAL]

Lensa dan aksesoris:

  • Fujifilm 18-55mm f/2.8-4 OIS : Kondisi lensa baik, ada sedikit tanda pemakaian di barrell zoom lensa. Rp 4.5 juta
  • Fujifilm 90mm f/2 LM WR: Masih mulus seperti baru. Rp 9.900.000,-  [TERJUAL]
  • Flash Nikon SB900 : Kondisi sangat baik, sedikit baret di body. Rp 2.500.000,-  [TERJUAL]
  • Nikon teleconverter 2X TC-20E : Kondisi seperti baru, lengkap dengan dus dan manual. Rp 4.9 juta
  • Nikon 28-300mm f/3.5-5.6 VR : Kondisi mulus, baru dipakai dua kali untuk jalan-jalan. Masih garansi: Rp 7.5 juta
  • Nikon 14-24mm f/2.8 : Lensa superlebar profesional Nikon. Kondisinya sangat baik. Rp 16.900.000,-
  • Nikon 24-70mm f/2.8 : Ada tanda pemakaian tapi kondisi sangat baik, karet baru diganti, tidak melar. Rp 13.000.000,- [TERJUAL]
  • Nikon 70-200mm f/2.8 VR II : Kondisi sangat baik, ada sedikit debu internal, sedikit lecet di body-nya, tidak mempengaruhi kualitas foto. Lens hood ada sedikit retak, tapi masih bisa digunakan. Rp 16.500.000,-
  • Sigma 70mm f/2.8 Macro DG untuk Nikon : Kondisi baik, sebagian besar untuk pemakaian indoor, lensa yang sangat tajam. Harga: Rp 6.900.000,-
  • Zeiss 25mm f/2 ZF.2 untuk DSLR Nikon : Lensa manual fokus yang berkualitas tinggi dari fisik maupun hasil foto yang dihasilkannya. Kondisi sangat baik, jarang digunakan. Rp. 16.500.000,-

Bagi teman-teman pembaca yang ingin melihat gambar-gambar barang yang dijual dengan lebih jelas atau membeli dengan cicilan, silahkan kunjungi toko kita di bukalapak.com

Untuk info lebih lanjut: WA 0858 1318 3069 atau e-mail infofotografi@gmail.com

{ 8 comments }

Panduan memilih filter untuk kamera mirrorless

Liburan sudah hampir tiba, akhir-akhir ini, saya mendapatkan banyak pertanyaan seputar filter. Sebelumnya sudah pernah dibahas untuk penggunaan filter CPL dan ND. Buat yang masih bingung untuk membeli ukuran filter yang tepat buat lensanya, terlebih dahulu dicek dulu seluruh diameter filter untuk lensanya. Ukuran diameter lensa biasanya tertulis di depan lensa diawali dengan tanda ø.

Lensa Panasonic Lumix 12-32mm yang memiliki diameter filter 37 (ø37)

Lensa 15mm yang memiliki diameter filter 46 (ø46)

Setelah itu, mulailah kita mencari ukuran filter yang cocok. Jika kita memiliki beberapa lensa dengan ukuran yang berbeda-beda, tentunya kita harus membeli beberapa keping filter. Menurut saya, hal ini sangatlah boros. Hehehe.. Maklum agak pelit.

Cara hematnya adalah dengan membeli kepingan filter dengan diameter yang paling besar terlebih dahulu, kemudian yang lainnya tinggal memakai step up ring. Biasanya, lensa-lensa untuk kamera mirrorless ukurannya lumayan imut, sehingga sulit sekali untuk mencari filter yang cocok. Umumnya filter untuk kamera DSLR paling kecil berukuran 52mm. Untuk kasus lensa saya, seharusnya saya membeli filter ukuran 46mm, kemudian membeli step up 37 ke 46. Namun karena filter 46mm susah dicari, akhirnya saya membeli filter 49mm dan tinggal menambah 2 step up ring.

Saya sendiri memilih filter Variable ND karena tergolong mudah dan praktis (ekonomis pastinya). Dengan ND2-400, satu keping filter ini bisa diubah ubah tingkat gelapnya dari 1 stop sampai 8 stop.

Filter Variable ND 49mm yang sudah dipasang dengan filter step up 37-49.

Meskipun mudah dan lebih murah (daripada membeli kepingan filter yang fix gelapnya misal 3 stop, 6 stop, 10 stop), tentu saja kualitasnya tidak semaksimal kepingan filter yang tidak bisa diubah ubah tingkat gelapnya. Sama halnya dengan kualitas lensa fix(prime) yang lebih bagus dari lensa zoom.

Penampakan terakhir untuk lensa filter size 37mm dan sudah bisa langsung dipakai untuk hunting.

Teman-teman yang memiliki lensa kit Sony 16-50mm tidak perlu kuatir juga karena ada step up 40.5 ke 49.

Selain itu, untuk lensa-lensa Sony yang tergolong unik diameter filternya (62mm ataupun 72mm) bisa langsung mencari filter terdekat yang lebih mudah dicari seperti ukuran 67mm atau 77mm, kemudian baru dihubungkan dengan step up filter yang sesuai.

Bagi teman-teman yang ingin mendapatkan step up ring ataupun filter CPL dan ND yang sesuai, bisa menghubungi saya di 0858 1318 3069 atau bisa email di infofotografi@gmail.com.

{ 8 comments }

Trip ke Curug Nangka adalah yang kesekian kalinya saya ikut trip Infofotografi. Anehnya, saya tidak pernah merasa bosan untuk bergabung dengan Infofotografi. Suka-duka dan ilmu yang saya dapatkan baik dari mentor Infofotografi atau dari teman-teman seperjalanan menjadi salah satu alasan kenapa saya sering ikut trip. Kali ini agendanya hunting landscape atau tepatnya berburu slow speed di curug Nangka Bogor.

Dengan pembimbing Mas Erwin Mulyadi yang pengalaman serta keahliannya sudah tidak diragukan lagi. Peserta disamping belajar penggunaan kamera yang benar, peletakan tripod serta memanfaatkan filter yang dibawa oleh peserta, pembimbing juga memberikan arahan spot pengambilan gambar yang menarik. Namun pada akhirnya keputusan diserahkan kepada masing-masing peserta.

Trip saya manfaatkan semaksimal mungkin, baik untuk mengasah skill, berkenalan dengan teman baru sekaligus mencoba kamera baru sesuai dengan rekomendasi dari salah satu mentor Infofotografi.

Saya membawa dua kamera andalan yang sebenarnya lebih cocok untuk foto street. Yaitu Olympus PEN F dengan lensa 45mm dan Olympus OMD 10 Mark II dengan lensa 17 mm. Saya paling suka pakai lensa fix. Tantangannya banyak, kita bisa pakai modus manual atau auto, kalau jarak gambar kurang dekat ya kita tinggal maju. Begitu juga sebaliknya.  Saya juga paling suka bawa dua kamera, tidak perlu repot-repot tukar lensa.

Saat di curug Nangka, saya tidak hanya hunting slow speed, alias air terjun saja. Di perjalanan, saya paling suka mengabadikan teman-teman di jalan. Saat semua sibuk mencari alternatif jalan yang mulus, saya tinggal ambil kamera dan jepret satu persatu. Ini juga salah satu kelebihan memakai kamera mirrorless.

Fokusnya cepat dan kualitas gambarnya tidak kalah dengan kamera DSLR. Selain itu, objek street juga
banyak dan sebelum pulang, saya paling suka foto makanan di warung yang tertata cukup rapi.

Mengingat kami pulang masih agak pagi, pengunjung belum banyak, jadi mudah untuk pengambilan gambar-nya. Sayang waktu nya pendek, hanya setengah hari kami disana, padahal objek foto sangat bervariasi. Semoga trip berikutnya jumlah pesertanya bisa lebih sedikit dan waktu yang lebih panjang, biar puas ambil foto landscape, street dan berlatih slow speed dengan memotret air terjun.


Catatan Enche: Terima kasih untuk sharing pengalamannya, masukannya kami terima untuk trip kedepan yang lebih seru lagi. Kami nantikan sharing pengalaman travel Bu Meis lainnya.

Bagi pembaca yang ingin belajar atau mengikuti trip fotografi bisa memeriksa halaman ini.

{ 2 comments }

Leica SL Review bagian ke-2 : Antarmuka

Desain antarmuka (interface) Leica SL sangat unik jika dibandingkan dengan kamera digital lainnya. Sekilas, terlihat sederhana: tidak memiliki banyak tombol dan juga tidak ada labelnya. Alasan Leica tidak menyematkan label karena hampir setiap tombol bisa dikustomisasi / diubah fungsinya sesuai keinginan fotografernya.

Tombol-tombol utama Leica SL ukurannya cukup besar, bentuknya persegi panjang dan terletak di sebelah kiri dan kanan layar LCD. Jika ditekan, fungsi tombol tersebut masing-masing adalah:

Kiri atas: Menu
Kiri bawah: Perbesaran area layar (berguna saat manual fokus)
Kanan atas: Playback
Kiri bawah: Info layar (setting kamera, focus peaking, histogram-highlight, grid level)

Fungsi tombol diatas tidak bisa diubah karena sudah default dari kamera.

Tapi jika tombol-tombol diatas ditekan dan ditahan sejenak (sekitar 0.5 detik), fungsinya bisa diubah seperti keinginan seperti jalan pintas untuk mengganti setting kamera. Fungsi tombolnya bisa diubah melalui  menu Setup>Customize Control>Short Cuts.

[click to continue…]

{ 4 comments }

Lensa Canon EF-M 28mm f/3.5 Macro IS STM merupakan salah satu lensa yang unik untuk sistem kamera mirrorless Canon. Pertama, lensa ini memiliki sudut pandang yang cukup lebar dibandingkan dengan lensa makro pada umumnya (sekitar 60-100mm), dan kedua adalah lensa ini memiliki lampu LED yang built-in di depannya. Lensa ini tergolong lensa mirrorless, jadi tidak bisa digunakan di kamera DSLR Canon.

Lensa ini sangat kecil dan ringan, panjangnya saat tidak digunakan sekitar 4.5 cm, dan beratnya hanya 130 gram, cocok disandingkan dengan kamera mirrorless Canon EOS M3 yang saya pakai untuk menguji lensa ini. Sepertinya lensa ini adalah lensa makro paling kecil yang pernah saya ketahui. Meski punya label lensa makro, tapi lensa ini memiliki fungsi yang cukup variatif. Selain untuk foto-foto subjek kecil seperti bunga, makanan, detail produk khususnya aksesoris dan perhiasan,  juga untuk portrait. Jarak fokus lensa 28mm ini kira-kira ekuivalen dengan 45mm, atau disebut juga lensa standar/normal, karena dapat menghasilkan foto sesuai dengan perspektif mata manusia.

Jarak fokus 28mm (45mm) tergolong standar, tidak telefoto di dunia fotografi makro, lensa standar termasuk lensa pendek. Jadi jika untuk memotret subjek yang jauh seperti serangga di alam akan sulit, karena jika terlalu dekat, bisa jadi serangganya keburu kabur.

Mari kita simak beberapa fitur lensa Canon EF-M 28mm f/3.5 Macro IS STM ini:

Fitur Canon EF-M 28mm f/3.5 Macro IS STM antara lain:

  • Mode Macro dan Super macro dengan magnifikasi 1.2X
  • Lampu LED yang bisa diatur kecerahannya, juga bisa diatur kiri dan kanan
  • Hybrid IS, fitur yang sama di Canon EF 100mm f/2.8L Macro IS USM, membantu mencegah getaran kamera. 3.5 X stop
  • Stepping motor sehingga autofokus saat video lebih senyap dan hampir tidak bersuara saat merekam video
  • Terdiri dari satu elemen UD dan 2 Aspherical, membantu untuk mendapatkan warna dan ketajaman yang baik.

Fitur andalan lensa ini adalah fungsi makronya, jika kita mengunakan mode super macro, maka kita bisa memotret paling dekat 9.36 cm dari sensor gambar kamera, atau hanya kurang lebih hanya 9 milimeter dari bagian depan lensa. Selain itu, dua lampu LED di bagian depan lensa sangat membantu pencahayaan, karena dengan posisi sedekat 9 milimeter, bayangan lensa akan menutupi subjek. Dengan lampu ini, subjek akan tetap terang dan warna cahayanya akan lebih baik/netral. Salah satu kelebihan lain adalah bukaan lensa saat fokus dekat tetap bertahan di bukaan terbesar yaitu f/3.5. Di lensa-lensa Makro lainnya, biasanya bukaan maksimal berkurang saat memotret dari jarak dekat.

[click to continue…]

{ 6 comments }