≡ Menu

Tanggal 16 Juli 2020 ini, Leica secara resmi meluncurkan kamera varian Leica M rangefinder barunya yang dinamakan Leica M10-R. Seperti varian kamera Leica M10 lainnya, M10-R memiliki desain dan ukuran yang hampir sama dengan kamera Leica M10 dengan beberapa perubahan.

Varian kamera Leica M10

Perbedaan utama kamera Leica M10-R dibandingkan dengan varian M10 lainnya yaitu penggunaan sensor full frame CMOS 40 MP, sedangkan yang varian sebelumnya mengunakan sensor 24MP.

Dengan sensor 40MP ini, kualitas gambar dari segi detail, dynamic range lebih baik daripada kamera sebelumnya tanpa mengkompromikan kualitas gambar di ISO tinggi. Selain itu, exposure time/shutter speed maksimum kamera meningkat menjadi 16 menit dibandingkan dengan varian sebelumnya yang terbatas di 4 menit. Sedangkan shutter speed tercepat tetap sama yaitu 1/4000 detik secara mekanik.

Sensor 40MP ini memiliki arsitektur sensor yang sama dengan kamera Leica S3, kamera DSLR medium format 64MP Leica yang terkenal dengan kualitas detail dan warnanya yang membuatnya diminati fotografer fashion, portrait dan landscape.

Fitur-fitur kamera Leica M10-R berasal dari M10-P yaitu punya layar sentuh, mekanisme shutter yang lebih senyap dan penanda level horizon. Sementara spesifikasi yang sama yaitu processor Leica Maestro II, rentang ISO 100-50000, dan buffer memory 2GB (cukup untuk 10 foto RAW/DNG berturut-turut).

Kesan mengunakan Leica M10-R

Saya sempat mencoba kamera Leica M10-R ini dan saya mendapati kualitasnya sangat baik, saya pribadi pernah mengunakan kamera Leica M10 sebelumnya dan cukup familiar dengan handlingnya. Dalam foto portrait di bawah ini, saya mengunakan Leica M 50mm f/2.5 Summarit.

Crop dari foto diatas

Lensa Leica Summarit 50mm f/2.5 yang saya gunakan cukup menarik bagi saya karena lensa fix dengan bukaan yang lebih kecil daripada f/1.4 dianggap kurang bergengsi. Tapi dalam pemakaiannya saya mendapatkan hasil yang bagus di bukaan terbesarnya (f/2.5), hasilnya tajam di bagian fokus dan blur di bagian yang tidak fokus sangat mulus.

Leica M10-R dan Summarit 50mm f/2.5

Untuk foto di luar di kondisi low-light, ISO tinggi bisa digunakan, meski rentang ISO yang disediakan sekitar mencapai 50.000 saya pribadi merasa kualitas foto yang masih bagus di ISO 6400 atau kebawah.

ISO 5000
Crop dari foto diatas (ISO 5000)
Crop dari foto diatas (ISO 5000)
ISO 12500
ISO 12500
Crop dari foto diatas

Kelebihan Leica M10-R

Leica M10-R memiliki kelebihan yang dimiliki keluarga Leica M10 lainnya yaitu body yang relatif compact untuk kamera bersensor full frame, berbahan logam (chrome) dengan jendela bidik rangefinder yang khas, dan dengan sistem lensa-lensa prime/fix compact manual fokus berkualitas tinggi.

Khusus M10-R setelah saya mengamati dengan seksama kualitas gambarnya, secara detail dan warna sangat bagus, dan di ISO tinggi masih oke di ISO 6400, di ISO 12.500-25.000 masih bisa diterima setelah sedikit editing, diatas itu saran saya hanya digunakan di kondisi terpaksa saja.

Kelemahan Leica M10- R

Jika kita bandingkan dengan Leica M10 lainya, M10-R memiliki buffer yang terbatas karena ukuran file yang lebih besar, sehingga kita harus berhenti setelah memotret 10 foto DNG berturut-turut (2-4 detik) saja. (Jika memotret JPG bisa lebih banyak/lama).

Layar LCD monitor Leica M10-R juga terasa sudah jadul karena hanya punya resolusi 1 juta pixel, sedangkan Leica SL2 punya layar beresolusi 2.1 juta titik. Untungnya layar M10-R sudah touchscreen seperti Leica SL2 & M10-P.

Kesimpulan

Leica M10-R adalah kamera bertype rangefinder yang tetap mempertahankan ukuran dan desainnya seperti kamera film, dan memberikan perasaan yang nostalgia bagi yang pernah hidup di era analog. Bagi yang terbiasa dengan kamera DSLR / mirrorless, mengunakan kamera rangefinder memberikan kesan yang berbeda karena fotografer akan lebih merasa terlibat dalam pembuatan dalam foto karena setting exposure dan fokus ditentukan secara manual. Untuk M10-R ini sendiri, merupakan generasi terbaru dari kamera Leica M yang menghadirkan kualitas gambar yang paling baik di jajaran kamera Leica M saat ini.

Spesifikasi Leica M10-R

  • 40 MP Full Frame CMOS sensor
  • Leica Maestro II Processor
  • 3″ TFT 1million pixel, Monitor, Corning Gorilla Glass
  • Layar Touchscreen
  • Exposure times: 16 menit – 4000 detik
  • Level Gauge (penanda horizon)
  • ISO 100-50000

Leica M10-R akan tersedia dengan harga Rp137.180.000. Bagi teman-teman yang berminat untuk mendapatkan atau ingin belajar kamera Leica, silahkan menghubungi kami di WA 0858 1318 3069

Catatan

  • Terima kasih kepada @melindaruslee
  • Foto telah di edit dengan Adobe Lightroom (sebagian besar untuk mengatur kontras).
{ 1 comment }

Di tahun 2020 ini infofotografi kembali menerbitkan buku elektronik (e-book) berisi panduan setting kamera Fuji X-T200 yang berisi 40 halaman tips dan rekomendasi setting kamera seperti auto fokus, WB, pengaturan gambar dan video. Seperti biasa, ebook ini kami tulis berdasar pengalaman dalam menggunakan kamera sehingga isinya bukan sekedar ringkasan buku manual saja.

Fuji X-T200, kamera 24 MP APS-C dengan video 4K, layar 3,5 inci 16:9 yang bisa dilipat putar ke depan, dengan jendela bidik dan flash menjadi kamera paling ideal untuk foto video dan membuat konten Youtube.

Anda pengguna kamera Fuji X-T200 akan terbantu dengan ringkasan yang ada dalam ebook ini, dengan uraian yang ringkas dan jelas, padat berisi. Karena ada beberapa kemiripan dengan seri kamera sebelumnya yaitu X-T100 maupun kamera pemula X-A7, maka ebook ini juga bisa dibaca oleh pengguna kedua kamera tersebut. Untuk pengguna kamera Fuji X-T yang lain, sebelumnya kami pernah membuat ebook khusus bagi pengguna Fuji X-T1 keatas maupun Fuji X-T20 keatas.

Contoh isi buklet Fuji X-T200

Jadi tunggu apa lagi, hubungi 0858-1318-3069 untuk memesan ebook ini, seharga Rp. 50.000,- saja dan anda akan dikirim file PDF melalui WA atau email.

Contoh isi buklet Fuji X-T200
{ 2 comments }

Kelas spesial ini akan dibagi dua sesi. Di sesi pertama, Rony Zakaria akan berbagi bagaimana caranya memilih foto terbaik untuk berbagai kebutuhan:

  1. Casual seperti sharing di sosial media (instagram/facebook/story)
  2. Blog dan majalah (photo story)
  3. Buku foto ataupun membangun portfolio yang solid untuk mencari pekerjaan atau grant/beasiswa/pendanaan untuk project photo.

Di sesi kedua, Rony akan mempergunakan waktu untuk membahas karya peserta satu per satu dan memberikan tips dalam memilih foto yang benar untuk masuk ke photo story dan portfolio.

Alur dan langkah dalam memilih dan menandakan foto yang bagus

Dalam Masterclass ini, kami akan membatasi 6 peserta saja. Setiap peserta wajib mengirimkan 30 foto untuk di pilih, disusun dan di bahas.

Kegiatan ini dilakukan secara online (daring) dengan mengunakan aplikasi Zoom meeting. Meeting link akan diberikan beberapa jam sebelum kelas online dimulai.

  • Sesi pertama : Jumat 21 Agustus 2020 pk 19.00-21.00 WIB (2 jam)
  • sesi kedua : Minggu 23 Agustus 2020 pk 09.00-12.30 WIB (3,5 jam)

Hubungi kami untuk mendaftar: WA 0858 1318 3069 / infofotografi@gmail.com

Biaya: Rp 500.000 per peserta (untuk dua sesi)

Instruktur: Rony Zakaria, photojournalist international, Leica Ambassador
Host: Enche Tjin

{ 0 comments }

Lensa buatan pihak ketiga seperti dari Sigma, Tamron, Yongnuo dll biasanya menarik bagi fotografer karena memberikan alternatif lensa yang yang terjangkau atau unik, yang tidak dibuat oleh produsen kamera pihak pertama.

Secara umum, produsen kamera biasanya juga membuat lensa-lensa untuk kameranya, tapi ada banyak pabrikan yang hanya membuat lensa saja, dan lensa-lensa tersebut diperuntukkan untuk di pasang di berbagai kamera. Mengapa disebut pihak ketiga? karena lensa ini dirancang dan diproduksi oleh pabrikan tersebut secara mandiri, sedangkan pihak kedua berarti yang merancang adalah produsen kamera, lalu memesan pihak lain untuk membuatnya.

Saat ini pabrikan yang populer dalam membuat lensa pihak ketiga cukup banyak, tapi yang cukup dominan dan terkenal adalah Tamron dan Sigma. Kedua perusahaan ini telah membuat berbagai lensa untuk kamera DSLR maupun mirrorless.

Lensa sapujagat Tamron 28-200mm untuk Sony

Di era kamera DSLR (1995-2015) pabrikan lensa membuat lensa-lensa yang lebih terjangkau harganya, lebih praktis (misalnya lensa zoom panjang/sapujagat). Karena menawarkan harga yang relatif murah, banyak toko memaketkan kamera DSLR dengan lensa buatan pihak ketiga.

Modus ini diketahui oleh pabrikan kamera, dan setelah itu kamera-kamera pemula (yang biasanya harganya relatif murah) selalu dipaketkan dengan “lensa kit” yang biasanya lensa zoom ringkas seperti 18-55mm. Setelah itu, pembuat lensa pihak ketiga harus memutar otak kembali, dan akhirnya beberapa diantaranya membuat lensa yang lebih berkualitas tinggi untuk menarik fotografer profesional atau enthusiasts untuk mau melirik lensa mereka.

Di era transisi ke sistem kamera mirrorless sekitar tahun 2015 sampai sekarang, pabrikan lensa pihak ketiga kembali memiliki kesempatan untuk membuat banyak lensa baru untuk mengisi celah. Contohnya Zeiss bekerjasama dengan Sony untuk membuat lensa Zeiss Batis dan Loxia untuk kamera mirrorless Sony, demikian juga Tamron yang membuat lensa-lensa zoom dengan bukaan besar dan kinerja tinggi dengan ukuran yang ringkas dan harga yang relatif terjangkau.

Zeiss Batis 40mm f/2, lensa unik autofokus untuk Sony

Di era DSLR, sepengetahuan saya, pabrikan pihak ketiga tidak memiliki izin resmi dari pembuat kamera, sehingga untuk bisa autofokus, maka diperlukan cara yang namanya “Reverse engineering” maka dari itu, kinerja autofokusnya selalu tertinggal dari pabrikan pihak pertama. Tapi di era mirrorless sepertinya tren tersebut mulai ditinggalkan.

Di era mirrorless, Sigma menyadari pentingnya membuat lensa berkualitas tinggi untuk tetap bisa bertahan dan bersaing, maka itu diluncurkannya inisiatif Sigma Global Vision dan membagi lensa-lensa baru dalam tiga kategori: Contemporary, Art dan Sports. Hasilnya banyak menuai banyak pujian, terutama lensa-lensa kategory Art yang kualitasnya tinggi dan bukaannya besar.

Kerjasama antar pabrikan di era mirrorless

Saat Sony meluncurkan sistem kamera mirrorless Sony A7 yang bersensor full frame, manajemen Sony menyadari bahwa untuk bisa bersaing dan cepat diterima fotografer, maka perlunya ketersediaan lensa berkualitas dengan cepat. Oleh sebab itu, Sony memberikan license dan informasi kepada Zeiss dan Tamron untuk segera membuat dan mengisi line-up lensa Sony. Alhasil kinerja autofokus lensa Tamron dan Zeiss Batis sangat baik di kamera Sony, rasanya seperti lensa native daripada pihak ketiga.

Sebagai info tambahan, Zeiss telah lama bekerjasama dengan Sony dan mengizinkan Sony untuk mengunakan nama Zeiss di berbagai lensanya, dan Sony juga punya 12% saham di Tamron (2020).

Strategi tersebut ternyata berhasil dan dalam tiga tahun sistem kamera mirroless Sony cukup lengkap dari lensa zoom, fix, ultra wide, macro, dan dengan harga yang bervariasi. Strategi ini kemudian diikuti oleh Panasonic Leica dan Sigma dalam membentuk L-Alliance, dimana setiap pabrikan mendapatkan informasi yang lengkap untuk membuat lensa yang berkualitas tinggi terutama dari segi sistem autofokus dan sistem softwarenya yang memperbaiki kelemahan lensa seperti distorsi, vinyet dll langsung dari kamera.

Lensa Sigma 45mm f/2.8 dan kamera L-mount Sigma fp

Bagaimana dengan sistem mirrorless Canon, Nikon & Fuji?

Lalu bagaimana dengan Canon EOS R, Nikon Z dan Fuji X? Mengapa sampai sekarang masih sedikit pabrikan pihak ketiga yang membuat lensa buat mereka? Kemungkinan ada berbagai alasan, salah satunya mahalnya atau sulitnya atau mahalnya mendapatkan izin / license, kedua adalah volume kamera mirrorless dari merk kamera tersebut masih terasa kecil, sehingga jika diproduksi, bisa jadi harganya tidak bisa bersaing dengan lensa pihak pertama.

Untuk sistem kamera Fujifilm X, jarang sekali ada lensa pihak ketiga, sepertinya pabrikan besar seperti Sigma dan Tamron tidak membuatnya karena pilihan lensa Fujifilm sudah banyak dan cenderung terjangkau, sehingga jika dibuat tidak bersaing, apalagi jika harus membayar license. Ada pabrikan asal China, yaitu Viltrox, yang membuat lensa untuk Fuji. Lensa lensa Viltrox sepertinya mengunakan metode reverse engineering, maka itu lensa generasi pertamanya memiliki kinerja autofokus yang kurang baik.

Pabrikan lensa sebenarnya juga bisa membuat lensa manual fokus, untuk itu tidak diperlukan kerjasama dengan pembuat kamera. Beberapa pabrikan lensa memilih jalur ini seperti Voigtlander dan Laowa. Mereka banyak membuat lensa untuk Leica M-mount misalnya. Meskipun kualitas lensa buatan Voigtlander dan Laowa sangat baik, tapi tidak banyak menarik perhatian fotografer mainstream karena tidak bisa autofokus.

Apakah lensa pihak ketiga selalu lebih buruk?

Pernah saya ditanya tentang apakah sebaiknya kita mengunakan lensa buatan pabrik kamera daripada lensa buatan pihak ketiga? Di era DSLR, saya bisa menjawab dengan tegas bahwa jika memang kita punya dana yang cukup, lebih baik memilih lensa buatan pabrikan kamera, tapi di zaman mirrorless ini, saya rasa kita tidak perlu membatasi pilihan lensa kita ke pihak pertama, karena banyak produsen pihak ketiga yang telah berevolusi menjadi pabrikan yang membuat lensa yang unik dan berkualitas tinggi.

Mudah-mudahan artikel ini bisa memberikan informasi yang menarik buat teman-teman yang penasaran tentang lensa pihak ketiga.


Belajar fotografi, editing, dan videografi bisa cek jadwal kita di halaman ini. Saksikan konten video kami di Youtube Infofotografi

{ 2 comments }

Mentoring Cityscape Antara

Kesempatan untuk kembali memotret outdoor hadir lagi setelah lama kita berdiam di rumah (PSBB karena pandemi). Mentoring Cityscape di era new normal ini hadir dengan lokasi baru dengan view Bundaran patung kuda Indosat dan Monumen Nasional yang menarik untuk diabadikan secara slow speed. Kegiatan ini seperti biasa akan saya pandu untuk akses memotret, bimbingan teknis setting kamera dan mendampingi peserta untuk bisa mendapat hasil foto yang lebih maksimal.

Mentoring ini akan didakan pada:

  • hari : Sabtu, 25 Juli 2020
  • waktu : 17.00-19.00 WIB
  • meeting point : Wisma Antara

Peserta tentunya harus memperhatikan protokol kesehatan di gedung tempat memotret, dengan menggunakan masker, cuci tangan dan menjaga jarak selama kegiatan berlangsung. Alat yang perlu dibawa adalah kamera dengan tali strap terpasang, tripod yang kokoh dan lensa dengan fokal yang lebar (misal 16-35mm) dan boleh bawa tele bila suka detail Monas (misal 70-200mm). Bagi yang belum pernah ikut, ada baiknya membaca dulu panduan memotret cityscape yang pernah saya tulis.

Karena tempat terbatas, pendaftaran akan ditutup setelah kuota tercapai. Untuk biaya dan cara mendaftar hubungi Iesan di 0858-1318-3069 melalui WA.

{ 0 comments }

Canon telah berulangkali memamerkan spesifikasi Canon EOS R5 sejak awal tahun 2020, dan memang saya akui keren sekali terutama untuk videografer, karena dapat merekam video 8K, pertama di kamera foto mirrorless yang bisa melakukan hal tersebut. Akhirnya hari ini, akhirnya Canon secara resmi mengumumkan spesifikasi kamera secara lengkap, meski kapan ketersediaannya belum diumumkan. Canon EOS R5 ini akan bisa didapatkan dengan harga Rp69.883.000 body only atau Rp88.648.000 juta dengan lensa 24-105mm f/4L.

Kalau teman-teman perhatikan, semakin kesini fitur video menjadi semakin penting dan banyak peningkatannya dalam beberapa tahun ini. Canon menyadari hal ini dan EOS R5 ini melampaui banyak pesaingnya dengan kemampuan merekam 8K RAW, 4K 120p, 8 stop stabilization dan Dual Pixel AF generasi ke-2. Yang menggagumkan tentunya adalah ukuran dan berat kamera yang bisa dibilang sangat compact dan ringan, yaitu hanya 739 gram saja dan sudah termasuk baterai.

[continue reading…]
{ 11 comments }

Canon EOS R6 – kamera hybrid foto video

Setelah dua tahun sejak pengumuman mirrorless Canon bersensor full frame yaitu Canon EOS R (2018) & RP (2019), Canon mengumumkan duo penerusnya yaitu EOS R5 & EOS R6.

Seperti EOS 6D di era DSLR Canon EOS R6 ini menyasar penggemar fotografi dan videografi. Melihat dari spesifikasinya, andalan kamera ini adalah fitur videonya yang mampu merekam 4K 60p 10 bit dan ditunjang dengan in body stabilization dari 6-8 stop tergantung dari lensa yang dipasang dan autofokus dual pixel AF II yang bisa mengenali subjek baik mata manusia maupun hewan.

Harga Canon R6 ini Rp 47.883.000 body-only, atau Rp 67.036.000 dengan paket lensa 24-105mm f/4L dan Rp 54.353.000 dengan lensa kit 24-105mm f/4-7.1 IS STM

[continue reading…]
{ 0 comments }

Halo pembaca Infofotografi, kami kembali membuka kelas spesial online via Zoom app yang membahas segala hal tentang street photography hitam putih dan live editing bersama pak Hendro “Momi” Poernomo.

Materi street photography

  • Apa dan tujuan street photography
  • Subjek dan tema street
  • Apakah street itu seni atau jurnalistik?
  • Mengapa B&W cocok untuk street?
  • Kamera dan lensa apa yang bagus?
  • Pendekatan dan etika street

Live editing B&W street photography

  • Langkah demi langkah alur editing B&W
  • Teknik dodge and burn yang tepat
  • Mengatur kontras dan texture/structure
  • Finishing (membuat framing, vignette dll)

Dengan mengikuti kelas ini pemirsa dapat memahami filosofi street photography baik saat memotret maupun post-processing/editingnya supaya hasil gambar lebih bercerita & berdimensi.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Tren & sistem kamera yang bersaing ketat 2020

Waktu terus berjalan dan tak terasa kita telah memasuki pertengahan tahun 2020, di awal tahun yang dipenuhi dengan krisis kesehatan ini, pabrikan kamera mulai akan mengumumkan produk-produk andalannya untuk menyambut liburan akhir tahun 2020.

Sistem kamera full frame mirrorless

Saya melihat fokus pabrikan besar bertumpu pada sistem kamera mirrorless, terutama dengan mount full frame. Canon akan mengumumkan setidaknya dua kamera baru: Canon R5 dan R6, dua kamera dengan desain mirip DSLR tapi adalah kamera mirrorless dengan mount lensa RF yang lebih canggih. Canon R5 dikabarkan akan memiliki spec video 8K.

Canon R6 yang desainnya mirip dengan desain DSLR Canon
[continue reading…]
{ 8 comments }

Fotografi di jaman sekarang sudah berkembang semakin pesat seiring meningkatnya kemajuan dalam kehidupan masyarakat modern. Fotografi yang awalnya adalah teknologi penangkap citra (image) kini sudah jadi salah satu bagian penting dalam industri kreatif khususnya di Indonesia (dalam industri kreatif, fotografi dikelompokkan di bawah subsektor Film, Video, dan Fotografi). Industri kreatif sendiri berkaitan dengan penciptaan karya melalui berbagai tahap seperti perencanaan konsep/ide, lokasi, peralatan, dan tentunya dana. Dalam perjalanannya, fotografi juga semakin berkembang dan terbagi menjadi bermacam bidang seperti industri komersial, jurnalistik hingga seni foto yang tentunya perlu pemahaman tentang bagaimana hak yang melekat pada sebuah foto.

Apalagi fenomena yang ada saat ini seiring meluasnya penggunaan multimedia di internet, banyak dijumpai foto-foto yang terdapat di media sosial maupun media online yang bisa diakses dengan mudah. Bahkan dari pencarian Google pun kita bisa dengan cepat mendapat banyak foto yang disajikan oleh sang mesin pencari tersebut. Lantas apakah kita pernah memikirkan tentang bagaimana sebetulnya hak cipta dari foto yang tersedia di internet ini? Bisakah kita kemudian salin atau unduh file foto yang kita temui dengan mudahnya?

Hak Cipta dalam fotografi

Ada baiknya sebagai seorang pengguna internet atau yang menekuni bidang fotografi, kita kenalan lebih jauh tentang hak cipta yang kerap dibahas saat membuat sebuah karya foto. Hak Cipta atau Copyright menurut Pasal 1 ayat (1) Undang- Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta diartikan sebagai :

Hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

UU 28-2014 Hak Cipta

Jadi bila kita amati karya foto sebetulnya merupakan produk yang dilindungi hak cipta, sebagai bagian dari kekayaan intelektual. Hak cipta ini memang melekat pada sang fotografernya, namun hak tersebut bisa diberikan ke pihak lain misal saat fotonya dijual, atau ada pihak yang meminta izin untuk memakai karya foto tersebut. Peran pemerintah adalah melindungi pencipta dan pemegang hak terkait supaya tidak dilanggar oleh pihak lain, melalui instrumen penegakan hukum dan mekanisme pidana di pengadilan.

https://en.wikipedia.org/wiki/File:The_Little_Mermaid_statue.jpg

Ada contoh menarik. Sebuah patung yang menjadi salah satu atraksi populer di Denmark, yaitu patung Little Mermaid, dilarang dipotret untuk kepentingan bisnis atau komersil. Keluarga pematung Edvard Erikson, pembuatnya, dikenal sangat protektif dan sangat agresif dalam menangani hal-hal yang berkaitan dengan hak cipta patung tersebut dan berpendapat mereka perlu mendapat royalti bila foto patung ini dikomersilkan pihak lain.

Dari cerita diatas bisa diambil pesan bahwa terkait hak cipta dalam fotografi, kita perlu tahu apakah boleh bila akan memotret obyek yang memiliki hak cipta (bahkan di ruang publik sekalipun). Misalnya terkait dengan karya arsitektur; seperti bangunan, desain gedung, atau benda lain yang serupa dengannya yang dapat diklasifikasi sebagai karya arsitektur yang dilindungi oleh Undang-undang. Memotret gedung ternyata bisa menimbulkan pelanggaran hak cipta apabila ada nilai komersial yang terlibat (termasuk bila diambil oleh media berita). Namun, apabila tidak ada nilai komersial sekalipun, pemegang hak cipta atas gedung tersebut tetap memiliki kewenangan untuk melarang orang memotret gedung tersebut. Atau, dalam kasus lain, memotret etalase toko juga menjadi persoalan dalam hak cipta. Nah rumit kan ternyata?

Kembali ke membahas hak cipta dalam karya foto. Bagi seorang fotografer, satu hal yang perlu diingat adalah untuk mendapat perlindungan hak cipta, suatu karya seni fotografi tidak perlu melewati tahap pendaftaran terlebih dahulu, karena secara otomatis setelah karya tersebut diwujudkan dalam bentuk nyata dan dipamerkan ke khalayak umum maka karya tersebut telah memperoleh pengakuan hak cipta dan dilindungi hak ciptanya. Bila pun dilakukan pendaftaran hak cipta oleh fotografernya maka hal tersebut dilakukan semata-mata untuk kepentingan pembuktian apabila kelak dikemudian hari timbul sengketa yang berkaitan dengan hak cipta atas foto-foto tersebut. Sebagian fotografer pun memutuskan untuk minimal memberikan watermark dalam fotonya sebagai penanda akan karya miliknya.

[continue reading…]
{ 0 comments }