≡ Menu

Workshop Street Photography 23 Feb 2018

Melanjutkan tradisi mengenal dan belajar street photography, workshop kali ini kita akan dibimbing oleh teman kami, Ruben “Roe”, Street & Social documentary photographer, Leica Ambassador Indonesia. Hunting bareng ini juga akan didampingi oleh Enche Tjin.

Setelah bertemu, berkenalan dan sedikit briefing, acara akan dilanjutkan dengan hunting bersama dengan pengarahan memotret street langsung di wilayah pasar induk Kramatjati. Setelah itu, akan ada makan malam bersama dan bahas & sharing foto.

Di dalam acara ini, kita akan belajar dari Ruben tentang:

  • Tips setting kamera yang biasa digunakan untuk street photography
  • Bagaimana sikap yang baik dalam memotret di ruang publik
  • Membuat komposisi yang menarik di lingkungan yang semwarut
  • Bahas foto, kritik dan saran untuk para peserta

Workshop ini akan berlangsung hari Jum’at tgl 23 Februari 2018 pukul 15.30 sampai 20.00 WIB

[click to continue…]

{ 0 comments }

Sony A6000 vs Panasonic GX85

Kedua kamera diatas memang sering membuat galau pembaca Infofotografi karena banyak persamaannya, tapi jika ditelisik lebih jauh, perbedaannya banyak sekali. Persamaan kedua kamera jenis kamera mirrorless, berukuran compact dengan harga yang kini dibawah 10 juta.

Selanjutnya, perbedaannya cukup banyak. Dari segi fundamental, ukuran sensor gambar kedua kamera berbeda. Sony A6000 memiliki sensor APS-C sedangkan Panasonic GX85 memiliki sensor four thirds. Artinya ukuran sensor gambar Sony lebih besar, akibatnya resolusi lebih tinggi (24 vs 16MP) dan saat foto di ISO tinggi (kondisi gelap) sedikit lebih baik.

Selanjutnya, Sony A6000 memiliki kinerja autofokus yang cepat untuk subjek bergerak terutama di kondisi cahaya yang terang/outdoor dan 82 gram lebih ringan. Harga kamera ini juga telah turun ke sekitar 6.5 juta body only, sedangkan Panasonic GX85 dijual dengan harga 9.5 juta tapi sudah dengan lensa zoom mungil 12-32mm f/3.5-5.6.

Sampai disini, sepertinya keunggulan Sony A6000 tak terbendung, tapi secara fitur, Panasonic GX85 lebih banyak dan canggih, misalnya punya built-in stabilization 5-axis di dalam kamera yang berguna sekali untuk memotret di kondisi gelap untuk subjek bergerak dan merekam video supaya tidak shake (getar) tanpa tripod.

Mengoperasikan GX85 juga lebih mudah dengan adanya layar LCD touchscreen untuk menentukan autofokus, memotret seperti ponsel, dan untuk navigasi menu. Untuk menu-menunya juga lebih rapi dan mudah dipahami.

Fitur andalan lain dari GX85 yaitu memiliki sensor four thirds tanpa AA filter sehingga saat di zoom ke pixel level terlihat lebih tajam, mendukung shutter electronic yang senyap sampai dengan 1/16000 detik.

[click to continue…]

{ 6 comments }

Fujifilm X-A5 adalah penerus Fuji X-A3 yang ditujukan kepada fotografer pemula /casual  yang mencari kamera ringkas, praktis digunakan dan tidak mahal. Mengapa bukan X-A4? Karena angka empat adalah angka yang kurang baik dalam mitos di negeri Jepang yang bunyinya sama dengan “mati”, maka itu banyak pembuat kamera yang menghindari menamakan nama produk dengan 4. Selain itu, perbedaan antara X-A3 ke X-A5 cukup banyak, maka itu seakan-akan X-A4 itu dilewati.

Apa saja fitur baru X-A5?

  • Processor baru mendukung kinerja lebih cepat
  • Hybrid autofokus yang lebih cepat untuk foto, video, untuk tracking subjek bergerak
  • Mampu merekam video 4K tapi hanya 15fps jadi tidak cocok untuk merekam video*
  • Bluetooth untuk koneksi terus menerus dengan ponsel
  • External mic jack untuk merekam video
  • Bisa charge dengan powerbank via USB

[click to continue…]

{ 13 comments }

Kesan pertama memotret dengan Panasonic G9

Akhir bulan Januari 2018 ini, Infofotografi menerima pinjaman kamera baru dari Panasonic yaitu G9, kamera mirorless bersensor four thirds yang terlihat seperti kamera DSLR mini, pasalnya kamera ini punya punuk jendela bidik ditengah kamera, pegangan (grip) yang besar dan layar LCD tambahan di bagian atas kamera.

Kamera flagship (jagoan) Panasonic untuk penggemar fotografi ini sebenarnya belum dilaunching di Indonesia, tapi Panasonic Indonesia bersedia meminjamkan G9 dan lensa Leica 12-60mm f/2.8-4 untuk kami sebelum launching bulan Februari nanti.

Berikut beberapa kesan pertama mencoba kamera ini:

Sebagai kamera yang ditujukan untuk fotografi aksi yang cepat, autofokus kamera ini saya rasakan sangat cepat, hampir tidak ada jedanya. Menurut statistik, G9 bisa fokus dengan waktu 0.04 detik. Tombol shutternya sangat lembut, tekanan sedikit saja ke tombol shutternya, kamera sudah menjepret.

Panasonic G9 punya jendela bidik yang ukurannya sangat besar untuk sensor four thirds, yaitu 3.6 juta titik dengan perbesaran .83x. Uniknya, kalau dirasa terlalu besar, ada pilihan untuk mengecilkan jendela bidik ini. Sedikit saya sayangkan bahwa ada sedikit distorsi pincushion (cekung) di ujung-ujung bingkai jendela bidik.

[click to continue…]

{ 9 comments }

Tips memotret gerhana bulan super bloodmoon

Tanggal 31 Januari 2018 nanti, akan ada peristiwa spesial yaitu gerhana bulan total di Indonesia. Gerhana bulan akan dimulai dari pukul 18.48 WIB. Pukul 19.52 WIB sampai 21.08 WIB bulan akan menjadi gelap kemerahan yang disebabkan oleh pembiasan cahaya matahari oleh atmosfer bumi. Proses gerhana akan berakhir pukul 22.11 WIB. Gerhana ini istimewa karena terjadi pada saat bulan dekat dengan bumi maka itu disebut juga gerhana Supermoon, tapi bisa juga disebut Blood Moon karena tampak merah darah.

Fenomena ini menarik untuk penggemar fotografi untuk mengabdikan momen langka ini. Berikut tip dan trik untuk memotret gerhana Supermoon ini.

Persiapan

  • Gunakan tripod yang kokoh karena kita akan mengunakan shutter speed yang relatif lambat dan kuat untuk menyangga  lensa telefoto.
  • Untuk memotret bulan yang besar lengkap dengan detailnya, dibutuhkan lensa telefoto yang relatif panjang, dengan jarak fokus ekuivalen 400mm atau lebih. Kamera prosumer / superzoom yang biasanya memiliki zoom lebih dari 20x juga cukup efektif untuk memotret bulan.
  • Supaya exposure bulan tidak terlalu terang dan terlihat detail, mengunakan pengaturan spot metering biasanya akan lebih baik karena kamera akan menghitung langsung di permukaan cahaya bulan dan tidak terpengaruh dengan cahaya langit yang gelap.

[click to continue…]

{ 5 comments }

Sony A7II vs Sony A6300 / A6500

Sudah beberapa bulan belakangan, Sony A7II dijual dengan harga yang cukup menarik yaitu 20 juta pas sudah dengan lensa 28-70mm f/3.5-5.6 OSS, dengan dana yang sama, Sony A6300 juga dipaketkan dengan Sony 18-105mm f4 OSS dengan harga Rp 19 juta. Yang mana pilihan yang lebih bagus? Jawabannya sebenarnya tergantung dari prioritas masing-masing fotografer.

Sony A7 II memiliki sensor full frame yang lebih baik dalam hal kualitas gambar, terutama di kondisi cahaya yang minim, saat kamera harus mengunakan ISO tinggi. Sedangkan keunggulan Sony A6300 yaitu dalam hal kinerja/kecepatan autofokus dan foto berturut-turut. Bagi yang senang video, A6300 dan A6500 bisa merekam video yang lebih baik (4K).

[click to continue…]

{ 14 comments }

BTS Foto Mainan dengan Panasonic G9

Akibat kesenangan memotret mainan, di tahun 2017 kemarin saya dipinjami banyak mainan. Namun apa daya, kadang ide tidak datang dengan begitu saja dan setiap mainan membutuhkan penanganan yang berbeda-beda (ceileh… kayak dokter saja dalam penanganan pasien). Alasan utamanya sebenarnya kebanyakan waktu yang habis karena nonton drama korea. Haha… Mainan itu sampai sekarang masih berada di tangan saya. Moga-moga bisa cepat dikembalikan ke pemiliknya.

Berhubung mendapat pinjaman kamera Panasonic Lumix G9 (yang baru akan launching di bulan Februari nanti) saya pun mencoba untuk mengambil foto mainan dengan menyetting mainan peri (Tinkerbell) berlatar cahaya hijau biru. Dipadu dengan lensa macro Panasonic Leica 45mm f/2.8 dibukaan terbesarnya, saya mendapatkan efek bokeh cahaya yang menciptakan suasana magis.


[click to continue…]

{ 1 comment }

Antusias, kreatif dan menginspirasi.

Itulah kesan saya terhadap para sineas muda yang turut serta dalam ajang kompetisi Panasonic Young Filmmaker 2017. Bagaimana tidak? Sejak mulai diumumkan kompetisi ini dari bulan Oktober 2017 hingga Januari 2018 dengan total hadiah 300 juta (dalam bentuk uang tunai dan kamera serta lensa Panasonic Lumix), tim juri yang terdiri dari Agung Ariefandi, Anggy Umbara, Benny Kadarhariarto, Christian Sugiono dan Anggun (Goenrock) telah menerima lebih dari 350 film untuk dua kategori yang diperlombakan, yaitu Short Movie dan Online Video. Para juri pun menghabiskan waktu 4 hari untuk menyortir film dari berbagai kota dan genre.

Di malam penghargaan yang diselenggarakan Sabtu, 20 Januari 2018 di Ecology Bistro & Lounge, Kemang, Jakarta Selatan, tampak meriah dan padat dihadiri oleh para kontestan dan media. Di sela sesi tanya jawab, Bpk. Agung Ariefandi selaku Marketing Communication Manager PT Panasonic Gobel Indonesia berharap kompetisi ini dapat menjadi ajang untuk promosi pemenang ataupun nominator.

Ecology Bistro & Lounge tempat terselenggaranya acara

Mengusung tema “inspire”, Christian Sugiono berharap para sineas dalam dapat melihat sisi inspiratif dari segi yang lain dan mengajak untuk “think out of the box.” Anggy Umbara juga menambahkan dengan melihat film yang masuk, dia dapat mengerti cara berpikir sineas. Selain itu, Benny K. yang mengasuh group DCI (DSLR Cinematography Indonesia) juga terkesima dengan karya-karya yang dihasilkan. Goenrock pun berkesan bahwa anak muda Indonesia memiliki kekayaan ide cerita yang luar biasa.


[click to continue…]

{ 2 comments }

Pilihan lensa fix ultra lebar untuk kamera full frame

Pecinta foto landscape, atau juga yang sering foto arsitektur, akan memerlukan lensa lebar. Berapa fokal lensa lebar yang dianggap ideal itu? Seiring perkembangan jaman, fokal lensa lebar mengalami pergeseran dari yang dulu 35mm pun sudah dianggap lebar, lalu selanjutnya beralih ke 24mm. Tapi saat ini fokal 17mm pun bagi sebagian orang dirasa kurang, mereka ingin lebih lebar lagi, kalau bisa 16mm, 15mm, 14mm dan seterusnya, bahkan mendekati atau berimpit dengan fokal lensa fisheye. Yang kameranya full frame mungkin jadi pihak yang paling diuntungkan disini, karena tidak adanya crop factor, maka lebih mudah bila tujuannya mencari lensa yang lebih lebar lagi. Tapi yang pakai sensor APS-C apalagi Micro Four Thirds akan dibatasi oleh desain lensa yang semakin impossible untuk dibuat.

Ilustrasi hasil foto dengan lensa ultra lebar

Tapi tren lensa juga sudah lama bergeser dari lensa fix ke lensa zoom, dan untuk kebutuhan lensa lebar pun produsen mendesain lensanya dengan konsep lensa zoom. Sebetulnya boleh-boleh saja, itu membantu kita juga supaya lebih praktis. Salah satu lensa zoom lebar yang cukup populer dari Canon misalnya, yaitu EF 17-40mm f/4 dianggap memberi rentang fokal ideal dari ultra lebar 17mm hingga ‘hampir’ normal di 40mm. Harga lensanya memang cukup mahal tapi masih bisa ditolelir banyak orang. Tapi karena tren terus bergeser, muncullah lensa baru seperti 16-35mm f/4 yang meski di posisi lebarnya cuma selisih 1 mili tapi itu ‘sesuatu banget’ dalam landscape. Bagaimana dengan harganya? Ternyata harga naik lumayan. Lalu tren bergeser lagi misal muncul lensa zoom 15-30mm bahkan f/2.8 dan 14-24mm f/2.8, yang akibat lebih lebar dan bukaan lebih besar harganya jadi puluhan juta. Belum lama ini Canon pun membuat lensa yang menghebohkan yaitu EF 11-24mm f/4 karena saking lebarnya bahkan masih cukup lebar bila dipakai oleh kamera APS-C, tapi harganya fantastis.

Dari cerita diatas, saya simpulkan dua hal. Pertama kita mesti menentukan batas, berapa sih lebar yang dianggap cukup untuk kita. Makin ingin wide, makin mahal. Oke anggap buat kita lensa 17mm itu sudah cukup untuk dianggap ultrawide, maka keuntungannya harga lensa zoom 17-40mm masih lebih terjangkau daripada lensa 16-35mm misalnya. Kedua, karena rentang zoom di wideangle itu tidak terlalu panjang (dan mungkin kita lebih sering mengejar fokal paling pendeknya dari lensa zoom wide), kenapa tidak cari lensa fix-nya saja (kalau ada). Dengan lensa fix maka ukuran bisa lebih ringkas, kualitas umumnya lebih baik dan tentu harga lebih terjangkau. [click to continue…]

{ 11 comments }

Mentoring fotografi ke Tangerang, 20 Januari 2018

Halo semua, kali ini agenda mentoring yang kami buat relatif santai, kita akan jalan-jalan di sekitar Tangerang menyusuri kampung dan sungai disana. Tujuannya seperti biasa adalah untuk menjadi ajang menambah pemahaman tentang memotret di lapangan, baik setting kamera, lensa dan juga tekniknya. Di ajang kali ini saya dan Enche akan mendampingi peserta supaya proses belajarnya lebih maksimal.

Spot pertama adalah sebuah kampung yang banyak dihiasi dengan lukisan dan cat aneka warna, yang cocok untuk melatih pengaturan WB dan JPG style baik warna maupun Monokrom/hitam putih di kamera. Anda juga akan dibimbing untuk memilih fokal lensa berapa yang cocok dipilih untuk setiap pemandangan yang dihadapi untuk mendapatkan komposisi yang menarik. Di spot kedua kita akan memotret sunset di pinggir sungai Cisadane di sore hari untuk berlatih memotret pemandangan.

[click to continue…]

{ 0 comments }