≡ Menu

Review kamera Lumix LX100 II

Di jajaran kamera Panasonic Lumix terbagi dalam dua kelompok utama yaitu sistem kamera Interchangeable lenses dan kamera dengan lensa terpadu (tidak bisa diganti). Kali ini saya akan membuat sebuah review dari kamera Lumix dengan lensa terpadu, berbentuk seperti kamera saku (meski tidak kecil) namun memiliki fitur dan spesifikasi yang tinggi. Inilah review saya tentang kamera Panasonic Lumix LX100 II.

Sesuai namanya, kamera Lumix LX100 II ini adalah penerus dari seri LX100 sebelumnya dengan peningkatan utama di resolusi sensor, kini mencapai total resolusi 21 MP. Baik LX100 lama maupun yang mark II ini tetap menggunakan sensor berukuran relatif besar untuk ukuran kamera saku, yaitu Micro Four Thirds. Kamera LX100 juga dibekali dengan lensa zoom Leica 24-75mm f/1.7-2.8 yang tergolong punya bukaan besar.

Dilihat secara fisik, kamera Lumix LX100 II termasuk berukuran sedang dengan panjang 110mm, tinggi 66mm dan tebal 64mm dan bobot tidak sampai 400 gram. Pada kamera ini sudah terdapat jendela bidik elektronik kerapatan 2,7 juta dot dan memiliki layar yang berukuran 3 inci dengan kerapatan 1,24 juta dot yang tajam. Desain kamera LX100 II tergolong unik, dengan perpaduan desain klasik dan modern dan punya beberapa hal yang menarik dan penting seperti :

  • roda shutter speed di bagian atas, seperti kamera film masa lalu
  • pengaturan apertur di lensa, meski ini adalah elektronik tetapi memberi kesan klasik seperti lensa jaman dulu
  • ada ring di lensa yang bisa diubah untuk berbagai fungsi, misal manual fokus, atau melakukan zoom
  • ada tuas multi aspek rasio yang bisa dipilih dari 4:3, 1:1, 16:9 dan 3:2
  • ada tuas fisik untuk berganti mode fokus dari AF, AF makro dan MF
  • tetap memiliki flash hot shoe (built-in flash disediakan terpisah)
  • ada roda pengaturan multi fungsi di bagian belakang
  • ada roda kompensasi eksposur dari +3 hingga -3

Saat saya mencoba kamera ini, meski tergolong kamera pocket, namun tidak terasa kecil dan bahkan tidak mudah untuk dimasukkan ke saku jaket. Apalagi bagian depan yang berisi lensa bentuknya menonjol meskipun kamera dalam keadaan mati. Apalagi setelah kamera dinyalakan, bagian lensanya akan memanjang. Desain ergonomi Lumix LX100 II termasuk cukup enak digenggam karena adanya sedikit grip, khususnya yang saya suka adalah pengaturan aperture di lensa, demikian juga dengan pilihan multi aspek rasio yang mudah dengan hanya menggeser tuas di dekat lensa.

Kinerja responsif membuat kamera ini bisa juga untuk foto aksi

Kinerja kamera termasuk responsif, shot-to-shot cepat, auto fokus cepat dan juga ada opsi memotret kontinu yang juga cepat, 11 fps (bahkan bila perlu ada 4K photo yang bisa mengambil 30 fps foto 8 megapiksel). Satu yang agak lama menurut saya adalah proses zoom lensanya, jadi untuk berpindah dari 24mm ke 75mm perlu waktu 1-2 detik, wajar karena elemen lensa Leica yang harus di zoom di kamera ini adalah lensa bukaan besar.

Kualitas optik lensanya sendiri termasuk sangat baik, dengan ketajaman, kontras dan ketahanan flare yang tidak diragukan lagi. Adanya Power OIS di lensa juga efektif membantu menahan goyangan tangan sampai 1/8 detik saya coba masih oke.

Ketahanan lensa di Lumix LX100 II dari flare termasuk baik

Dari sisi video, meski LX100 II ini terkesan kamera yang photocentric, tapi kemampuan videonya termasuk bagus dengan kemampuan rekam video 4K 30 fps yang bisa dipakai untuk melengkapi dokumentasi saat travel atau membuat vlog. Memang akibat tidak adanya mic input ataupun layar LCD yang bisa di lipat, membuat LX100 II ini bukan untuk dipakai oleh konten kreator tapi sangat cukup untuk membuat klip video harian berkualitas 4K.

Di kamera LX100 II ini ada total 10 (sepuluh) fungsi Fn yang bisa di kustomisasi, mulai dari tombol fisik Fn1 sampai Fn5, dan tombol virtual di layar dari Fn6 hingga Fn10 yang bisa diubah sesuai preferensi pemiliknya.

Sebagai kesimpulan, saya menyukai kamera Lumix LX100 II karena kamera ini memberikan kualitas dan kinerja dari kamera profesional, dalam bentuk kamera pocket. Meski begitu, kendali dan kustomisasi di LX100 II tidak main-main, mulai dari multi aspek rasio, roda shutter speed dan aperture tersendiri, jendela bidik dan hot shoe menambah kesan serius dari kamera ini. Fitur khas Panasonic Lumix yaitu 4K Photo dan Post Focus tetap disediakan, ditambah fitur kelas atas lain seperti HDR, TimeLapse dan 4K video makin membuatnya cocok menjadi kamera travel, atau sebagai kamera backup bagi fotografer profesional atau enthusiast.

Beberapa hasil foto lain yang sempat saya ambil :

RAW di proses di Adobe Lightroom
RAW processing di kamera, menghasilkan JPG tanpa perlu komputer
ISO 640 masih termasuk bersih dari noise
Foto ini di crop cukup banyak, tapi masih menghasilkan foto yang cukup detail
Foto diambil dari fitur 4K photo berkecepatan 30 fps
Salah satu photo style favorit saya : L Monochrome D
Keadaan kontras sangat tinggi, menaikkan shadow dengan ekstrim di Adobe Lightroom, karakter sensor di LX100 II punya RAW latitude yang masih baik.

dan bagi yang ingin melihat reviewnya dalam bentuk video, simak review di Youtube berikut ini :

About the author: Erwin Mulyadi, penulis dan pengajar yang hobi fotografi, videografi dan travelling. Sempat berkarir cukup lama sebagai Broadcast Network TV engineer, kini Erwin bergabung menjadi instruktur tetap untuk kursus dan tour yang dikelola oleh infofotografi. Temui dan ikuti Erwin di LinkedIn dan instagram.

{ 2 comments… add one }
  • Van March 21, 2020, 11:43 pm

    Pak Erwin mau nanya, jika dibandingkan dengan Leica Dlux 7, secara kualitas ketajaman hasil, bokeh untuk portrait, dan fitur, mana yg lebih baik?

    • Enche Tjin March 22, 2020, 4:13 pm

      Specnya sama, jadi kurang lebih sama hasilnya, bedanya Lumix lebih murah, ada sedikit pegangan, kalau Leica warnanya two-tone (silver-hitam), garansi Leica 2 tahun dan bonus 3 bulan Lightroom/Photoshop dari Adobe. Harga purna jual Leica D-Lux7 biasa lebih bagus dari Lumix.

Leave a Comment