≡ Menu

Sistem kamera L-mount Alliance di 2020

L-mount Alliance diumumkan tahun 2018 yang terdiri dari Leica, Panasonic dan Sigma. Ketiganya sepakat untuk mengembangkan kamera dan lensa dengan L-mount ke depannya dan berbagi informasi/protokol sehingga pengguna dalam menukar pasang kamera/lensa antar merk dengan leluasa dan 100% compatible. Bagaimana perkembangan L-mount saat ini, dan apakah bijak investasi ke sistem ini dan apa potensi kedepannya?

Sejarah L-mount

L-mount pertama kali hadir di tahun 2014, saat itu namanya Leica T / T-mount) dan kemudian penerusnya berganti nama menjadi TL, sehingga nama mountnya juga berubah menjadi L-mount.

Dari 2014 sampai 2018, Leica sendiri yang mengembangkan sistem kameranya, diawali dari sistem APS-C yaitu Leica T (2014), setahun kemudian, Leica mengumumkan Leica SL (2015) dengan sensor full frame. L-mount dirancang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, yaitu dengan diameter 51.6mm dan flange back 20mm sehingga cukup fleksibel untuk membuat kamera yang compact dengan sensor APS-C dan full frame.

L-mount yang tidak begitu besar (51mm) fleksibel untuk mengakomodir dua jenis sensor kamera, APS-C dan Full frame. Sumber ilustrasi: Apotelyt

Pilihan ini cukup berbeda dengan kamera mirrorless lainnya, misalnya Sony memilih diameter yang jauh lebih kecil, yaitu 46mm dengan flange back 18mm, sedangkan Nikon Z memilih diameter yang terbesar yaitu 55mm tapi flange back super tipis 16mm. Akibatnya, mount Sony terlihat kecil untuk sensor full frame (Sony A7), dan Nikon terlihat kegedean di kamera APS-C seperti Nikon Z50 (2018).

L-Alliance menarik karena ketiga perusahaan memiliki target pasar yang berbeda. Leica adalah merk yang membuat kamera mewah, Panasonic terkenal membuat bermacam kamera untuk foto dan video, dan Sigma terkenal sebagai pembuat lensa yang ekonomis untuk berbagai sistem kamera.

Leica menyadari L-mount beda dengan M-mount, L-mount memiliki banyak saingan dan supaya bisa berkembang dan bertahan tentunya lebih baik mengajak Panasonic dan teman-temannya untuk bergabung. Panasonic mengajak Olympus dan Sigma, tapi hanya Sigma yang setuju bergabung. Dengan ketiganya bergabung maka L-mount akan mendapatkan manfaat punya variasi kamera dan lensa. Leica sendiri adalah pemberi lisensi, jadi akan mendapatkan tambahan penghasilan dari setiap kamera yang dibuat Panasonic maupun Sigma.

Kamera dan lensa

Sejak 2014, banyak kamera dan lensa yang sudah diluncurkan, diantaranya

APS-C: Leica T, Leica TL, Leica TL2, Leica CL
Full Frame: Leica SL, Leica SL2, Panasonic Lumix S1, S1R, S1H, Sigma fp

Lensa APS-C: Leica TL 18mm f/2.8, 23mm f/2, 35mm f/1.4, 60mm f/2.8 Macro, 18-56mm f/3.5-5.6, 50-135mm f/3.5-4.5.

Lensa Full frame: Leica SL 24-90mm f/2.8-4 OIS, SL 50mm f/1.4, SL 90-280mm f/2.8-4 OIS, SL 16-35mm f/3.5-4.5, SL 35mm f/2, 50mm f/2, 75mm f/2, 90mm f/2. Panasonic Lumix S 24-105mm f/4 OIS, S Pro 50mm f/1.4, 70-200mm f/4 OIS, 70-200mm f/2.8 OIS, 24-70mm f/2.8, Sigma 45mm f/2.8, Sigma 14-24mm f/2.8 dan 35mm f/1.2.

Kedepannya tentunya akan lebih banyak lensa lagi. Tapi selain Leica, sepertinya tidak ada yang tertarik mengembangkan sistem APS-C. Sebagian besar kamera dan lensa oleh Panasonic dan Sigma untuk sistem full frame. Ada berbagai kemungkinan alasan, seperti full frame lebih trendy terutama dalam beberapa tahun terakhir, dan persaingan di APS-C sangat ketat.

Panasonic dalam wawancara terakhirnya dengan Yosuke Yamano, tidak berminat untuk membuat kamera dan lensa APS-C karena Panasonic sudah punya sistem micro four thirds yang cukup lengkap (Panasonic G, GH, GX dan GF). Ukuran sensor m43 dan APS-C yang tidak terlampau jauh bisa berpotensi saling bersaing dan mematikan satu sama lainnya.

Panasonic S1 dan S1R

Sedangkan Sigma sebagai produsen lensa, lebih tertarik mengikuti Leica dan Panasonic, jika kamera yang laris adalah full frame, maka Sigma akan lebih cenderung membuat lensa full frame daripada APS-C. Kamera pertama Sigma dengan L-mount, Sigma fp memiliki sensor full frame, jadi kemungkinan besar lensa-lensa yang dibuat Sigma kedepannya akan dirancang untuk kamera full frame.

Opini

Sebagai pemilik dan pengguna sistem kamera L-mount tentunya saya berharap sistem kamera ini terus berkembang. Saya mulai mengunakan L-mount sejak tahun 2016 lewat Leica SL dan sangat senang saat L-Alliance di umumkan di Photokina 2018.

Dalam dua tahun ini, ketiga merk bekerja cukup keras membuat kamera dan lensa-lensa baru, tapi sistem kamera saingan tidak tinggal diam dan terus berkembang juga. Dalam kondisi ekonomi dunia yang makin menurun karena banyak faktor, maka untuk bisa bertahan dan sukses L-Alliance harus lebih banyak mendengar kebutuhan pengguna dan melihat tren.

Saya melihat yang potensial untuk dikembangkan adalah sistem kamera bersensor full frame yang ukurannya compact, kamera dengan desain fisik ala rangefinder yang compact seperti Leica M, Leica Q akan sangat bagus jika memiliki sensor full frame dengan L-mount. Sejak peluncuran Leica Q dan diumumkan, banyak fotografer Leica meminta Leica membuat kamera dengan model seperti itu, tapi sayangnya belum diwujudkan. Mungkin banyak alasan, salah satunya kesulitan dari segi teknologi, tapi juga bisa Leica enggan membuatnya karena khawatir bersaing dengan sistem Leica M yang masih terus dikembangkan.

Peluang besar ada di Panasonic untuk membuat kamera dengan desain seperti Panasonic GX dengan L-mount dan sensor full frame, harapan saya kamera semacam ini akan terwujud dalam satu dua tahun ini. Sigma sendiri sebenarnya sudah membuat kamera yang cukup compact, yaitu Sigma fp, tapi sayangnya kameranya justru terlalu minimalis dan kinerjanya tidak secepat kamera Panasonic.

Panasonic dan Sigma juga harus cepat membuat banyak lensa baru, terutama lensa-lensa ukuran kecil, Sigma sudah memulai membuat 45mm f/2.8 yang ukuran dan desainnya bagus dengan gelang aperture dan manual fokus. Kita perlu lensa-lensa seperti ini dengan berbagai jarak fokal dan harga yang terjangkau dari Sigma dan Panasonic.

Saya pikir jika ketiga perusahaan ini bergerak cepat, atau kalau perlu mengajak perusahaan baru untuk bergabung, misalnya Olympus, Tamron, Tokina, atau yang lainnya, akan lebih bagus lagi karena memperluas variasi lensa dan kamera yang bisa dipilih. Dengan banyaknya perusahaan yang mengunakan L-mount, calon pembeli tentunya akan lebih yakin untuk invest ke kamera dan lensa, karena jika salah satu merk berhenti membuat kamera dan lensa, masih ada perusahaan lain yang akan menyuplai kamera dan lensa buat mereka. Sehingga investasi mereka tidak akan sia-sia karena salah satu perusahaan berhenti memproduksi kamera/lensa.

Waktu perusahaan-perusahaan yang tergabung di L-Alliance tidak banyak untuk membuat berbagai variasi kamera dan lensa, dan tahun 2020-2022 akan sangat penting. Saya pribadi cukup yakin L-mount Alliance akan bertahan dan semakin menarik di masa depan, dan menurut saya sistem ini akan lebih menarik daripada sistem kamera lain karena lebih terbuka dan variasinya akan berkembang dengan jumlah yang lebih banyak daripada sistem kamera yang hanya dikembangkan oleh satu perusahaan saja.


Bagi teman-teman yang ingin belajar sistem kamera L-alliance dapat menghubungi kami di 0858 1318 3069 atau lihat jadwal pelatihan kami di halaman ini.

About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Instagram: enchetjin

{ 1 comment… add one }

Leave a Comment