≡ Menu

Review kamera DSLR Canon EOS 90D

Canon termasuk produsen kamera DSLR yang konsisten membuat produk baru, meski kita tahu permintaan akan kamera DSLR makin tertekan oleh jenis kamera baru yaitu mirrorless. Ada beberapa alasan kenapa DSLR masih diminati, bisa alasan subyektif maupun alasan teknis, misalnya ekosistem lensa dan aksesori. Kali ini saya akan bahas lebih jauh tentang Canon EOS 90D, sebuah kamera DSLR kelas menengah yang dibuat untuk menggantikan EOS 80D, dengan sensor baru APS-C 32MP, video 4K dan penambahan fitur lain termasuk joystick.

Canon EOS 90D

Saya pribadi menyukai segmen kamera dua digit Canon, seperti 70D hingga 90D. Kenapa? Karena segmen ini terasa paling pas, tidak terlalu basic seperti kelas 800D, dan masih dapat hal-hal penting di kamera segmen atas seperti jendela bidik pentaprisma, bodi lebih tangguh plus ada weathersealed, dan kinerja secara umum juga mendekati kamera diatasnya misal EOS 7D mark II. Komprominya adalah di segmen menengah ini, Canon tidak memberikan dua slot kartu memori seperti layaknya di kamera Canon lain yang lebih mahal.

Canon EOS 90D tampak belakang

Hal lain yang saya suka dari 90D dan pendahulunya adalah, disediakan layar LCD articulated yang menegaskan kalau DSLR juga boleh dipakai untuk live view dengan leluasa, dari berbagai sudut seperti low/high angle atau selfie dan vlogging. Ditambah lagi masih ditemukan adanya built-in flash yang penting menurut saya, karena dengannya kita bisa jadikan built-in flash ini sebagai pemicu (master) untuk flash eksternal secara wireless infra-red (ada Channel dan Grup), tanpa perlu pasang trigger apapun.

Dalam meregenerasi produk, saya juga suka fakta bahwa Canon tidak mengubah desain kamera dengan radikal. Sepintas Canon 70D-80D-90D akan nampak sama, baik dari ukuran maupun tata letak tombolnya. Di bagian atas ada jendela LCD kecil untuk informasi tambahan (LCD ini tidak ada di DSLR pemula, atau sebagian besar kamera mirrorless), dengan ditemani tombol akses langsung ke fungsi AF, DRIVE mode, ISO dan Metering.

Desain khas DSLR menengah, dengan layar LCD tambahan dan berbagai kendali

Demikian juga di roda mode dial tetap sama, tetap ada mode Auto (ya siapa tahu ada yang benar-benar belum tahu setting kamera), mode SCN (Scene mode), efek Filter, mode fotografi P-Av-Tv-M-B dan Custom C1 dan C2. Tadinya saya berharap di EOS 90D ini akan ada mode Fv seperti di kamera EOS R ternyata tidak).

Mode kamera terdiri dari Auto, Scene mode, dan mode-mode fotografi umum lainnya

Secara internal, Canon memberi prosesor baru Digic 8 (sebelumnya di 80D adalah Digic 6), untuk mentenagai lonjakan data dari sensor 32 MP, dan video 4K 30 fps. Sehingga 90D ini terasa lebih responsif dan siap menembak cepat 10 fps bahkan dalam mode fokus kontinu. Bicara urusan video, Canon 90D kini menyediakan fitur video yang lebih disukai videografer, misalnya dengan memberikan pilihan 4K uncropped atau cropped. Untuk Servo AF saat rekam video 4K tetap bisa dilakukan bahkan dengan deteksi mata, berkat Dual Pixel AF dengan dukungan Digic 8. Bila ingin merasakan warna 8 bit 4:2:2 bisa didapat melalui HDMI out.

Fitur lain yang tersedia adalah Digital IS (ada sedikit crop untuk ini), Slow motion (up to 100 fps di Full HD, fokus manual) dan Time lapse movie (saya temui semua fitur video ini sama seperti yang ada di EOS M6-II). Untuk monitoring audio juga tetap disediakan jack untuk headphone out. Sayangnya dalam pilihan rekaman video ini tidak ada pilihan kualitas All-I frame, yang biasanya disukai editor video. Jadi di 90D pilihan videonya adalah IPB frame saja yang pada dasarnya sudah mencukupi untuk kebutuhan casual video. Bila ingin merasakan warna 8 bit 4:2:2 bisa didapat melalui HDMI out.

Layar lipat untuk angle rendah, atau bagi yang suka selfie atau membuat vlog

Beberapa data EOS 90D dalam angka :

  • resolusi sensor : 6960 x 4640 piksel (32.5 MP)
  • bobot : 700 gram (lebih ringan dari 80D)
  • titik fokus deteksi fasa : 45 titik (sama dengan 80D)
  • kecepatan memotret : 10 fps (11 fps saat live view)
  • ISO : 100-25.600 (di 80D itu ISO 100-12.800)
  • Extended ISO : H (ekuivalen ISO 51.200)
  • slot kartu memori : 1 slot SD card UHS-II (di 80D masih UHS-I)
  • LCD 3 inci, 1 juta titiik (sama dengan 80D)
  • Flash sync 1/250 detik
  • shutter max 1/8000 detik (1/16.000 detik bila pakai shutter elektronik)
Kita akan melihat detail dari crop foto diatas
dan inilah 100% crop dari foto sebelumnya

Hasil foto dari sensor 90D ini termasuk sangat baik, dan resolusi 32 MP membantu mendapat detail dari setiap gambar yang diambil. Kabar baiknya, dengan bertambahnya piksel, tidak berdampak pada hasil foto di ISO tinggi, dengan noise yang masih terjaga minimal setidaknya sampai ISO 6400. Sebagai pengguna Canon 70D, saya akui sensor kamera saya yang 20 MP kalah dalam hal resolusi, dynamic range dan noise di ISO tinggi, bila dibandingkan dengan EOS 90D.

Kita akan melihat detail bola dunia ini di ISO tinggi diatas ISO 1600
dan inilah empat ISO tertinggi yang ada (diluar ISO H), disini tampak sampai ISO 6400 detail masih terjaga dengan baik, dan mulai pudar di ISO 12800 dan memburuk di ISO 25600 yang mana wajar untuk sebuah sensor APS-C

Secara umum pengalaman saya memakai kamera ini sangat menyenangkan, apalagi sebagai pengguna Canon 70D sejak tahun 2015 tentu tidak merasa asing dengan UI dan antarmuka yang ada. Sejak terbiasa pakai kamera mirrorless, lama-lama memotret secara live view menjadi hal yang lebih umum bagi saya, khususnya saat memotret sesuatu yang perlu angle sulit atau simulasi warna melalui LCD. Untungnya berkat Dual Pixel AF, memotret secara live view di 90D ini serasa memakai kamera mirrorless, auto fokusnya juga cepat, akurat dan perpindahan fokus juga enak (khususnya bila pakai lensa jenis STM). Canon 90D kembali jadi berasa mirrorless karena saat live view kita juga bisa memilih memakai shutter elektronik, benar-benar tidak bersuara, dan bisa memilih shutter speed sampai 1/16.000 detik (1 stop lebih cepat dari shutter mekanik maksimum).

Tapi sejatinya memakai DSLR tentu perlu menikmati jendela bidiknya, sebuah jendela bidik optik (OVF) penta prisma cakupan 100% yang lega dan informatif, siap dipakai untuk gaya memotret yang lebih serius, misal liputan olah raga, memotret dengan lensa tele dan sebagainya. Karena jendela bidik optik jenisnya langsung menampilkan apa adanya dari lensa dipantulkan cermin, maka tidak akan menghabiskan baterai, sehingga bisa tahan lama dalam memotret. Satu hal menarik dan baru disini adalah, saat memakai jendela bidik, kita bisa menikmati auto fokus deteksi wajah. Jadi dari 45 titik fokus yang ada, satu atau lebih titik fokus akan menyala otomatis di bagian wajah yang terdeteksi, bila memakai Auto Area AF. Kelemahan DSLR dalam hal jendela bidik optik adalah saat merekam video, jendela ini tidak bisa dipakai sama sekali bila sedang dalam mode video (jadi hanya mengandalkan layar LCD saja).

Yang saya sukai :

  • sensor baru, gambar lebih baik
  • fitur video 4K, EIS, no crop
  • bodi mantap (ergonomi, tombol, seal)
  • kinerja cepat (10 fps, setara 7D mk II)
  • layar lipat, layar sentuh yang mudah
  • ekosistem lensa EF/EF-S yang matang
  • AEB kini bisa 3, 5 dan 7 foto sekaligus
  • shutter elektronik
  • ada joystick
  • masih ada built-in flash, bisa wireless

Yang kurang suka :

  • tidak ada mode Fv (seperti di EOS R)
  • tidak ada kompresi All-I di rekaman video
  • hanya satu slot SD card (meski sudah UHS-II)
  • tidak ada peningkatan titik fokus dari 80D (tetap pakai modul 45 titik AF, meski kini bisa deteksi wajah)
  • tidak ada peningkatan resolusi layar LCD dari 80D (tetap 1 juta titik)
  • semenjak sering mencoba kamera dengan sensor shift stabilizer, saya merasa ada yang ‘kurang’ bila memakai kamera tanpa sensor shift dan lensa tanpa stabilizer (tapi memang faktanya tidak ada DSLR Canon yang dibekali sensor shift IS)
  • masih memakai USB tipe lama (bukan USB-C)

Berikut hasil contoh foto dari EOS 90D :

Dengan lensa EF-S 24mm, JPG tanpa edit (hanya crop)
Dengan lensa EF-S 24mm
Dengan lensa EF-S 24mm
Dengan lensa EF-S 24mm
Dengan lensa EF-S 24mm
Dengan lensa EF 11-24mm f/4L
Apa adanya tanpa di edit. Lensa EF-S 24mm.
Dengan lensa EF 11-24mm f/4
Dengan lensa EF-S 18-135mm IS

About the author: Erwin Mulyadi, penulis dan pengajar yang hobi fotografi, videografi dan travelling. Sempat berkarir cukup lama sebagai Broadcast Network TV engineer, kini Erwin bergabung menjadi instruktur tetap untuk kursus dan tour yang dikelola oleh infofotografi. Temui dan ikuti Erwin di LinkedIn dan instagram.

{ 1 comment… add one }
  • Dwija September 11, 2020, 4:32 pm

    Electronic shutter pada live view apa tersedia juga pada eos 80D?

Leave a Comment