≡ Menu

Review fitur kamera di Smartphone Huawei P50 Pro

Smartphone Huawei P50 Pro dirilis Agustus 2021, masuk ke Indonesia di awal 2022 ini dan saat tulisan ini dibuat, masih menempati posisi pertama kamera terbaik pada sebuah smartphone versi DXOMark (adapun di posisi kedua ditempati ponsel yang juga sangat keren, Xiaomi 11 Ultra). Hadir menjadi penerus dari Huawei P40 Pro, kali ini Huawei memberi bahasa desain yang unik dalam bentuk kamera belakangnya, seolah-olah ada dua lensa besar yang mengesankan kamera profesional (oleh Huawei disebut Dual Matrix camera design). Padahal dibalik dua lingkaran di bagian belakang ponsel ini, bila diteliti terdapat beberapa lensa kecil dan lampu flash LED, seperti layaknya ponsel lain pada umumnya. Satu yang membedakan tentunya adalah tulisan LEICA di bagian belakang, sama seperti seri-seri sebelumnya.

Huawei P50 Pro

Saya langsung ke aspek kamera di ponsel ini ya, karena secara spesifikasi memang sudah banyak diulas dimana-mana, misalnya otak Snapdragon 888 (versi yang 4G) yang pasti kencang, lalu layar 2700×1228 Piksel ukuran 6,6 inci jenis OLED dengan 1 Milyar warna, tahan air sampai 1,5 meter, dan memakai Harmony OS. Menurut situs resminya, Huawei P50 Pro ini dibekali dengan Optik XD dengan kejernihan yang lebih baik, sementara ISP HUAWEI XD Fusion Pro yang ditingkatkan akan membantu reproduksi detail gambar yang komprehensif. Fitur andalan lainnya adalah True-Chroma Engine yang bisa membaca warna di obyek yang akan difoto guna mendapat akurasi warna terbaik.

Kita lihat fakta-fakta dari kamera di Huawei P50 Pro :

  • Kamera Utama (wide) : sensor 50 MP (binning jadi 12,5 MP), f/1.8, fokal 27mm, OIS, ukuran sensor 1/1.5 inci
  • Kamera Ultra lebar : sensor 13 MP f/2.25, fokal 13mm, auto fokus
  • Kamera Telefoto : sensor 64 MP (binning jadi 16 MP), f/3.5, fokal setara 90mm periskop, OIS, autofokus
  • Kamera Monokrom : sensor 40MP (binning jadi 12,5 MP), f/1.6, fokal 27mm
  • Kamera Selfie/depan : sensor 13 MP, f/2.4, fokal 18mm, bisa auto fokus

Adapun mode-mode kamera yang tersedia diantaranya :

  • mode Photo (Auto, AI, kamera ultrawide, utama, tele dan kamera depan)
  • mode Video (Auto, AI, kamera ultrawide, utama, tele dan kamera depan)
  • mode Portrait (Auto, beauty, bokeh efek, kamera utama dan kamera depan)
  • mode Pro (Manual, foto/RAW, 50MP dan video, tidak bisa di kamera depan)
  • mode Night (Auto, AI, kamera ultrawide, utama, tele dan kamera depan)
  • mode Bukaan lensa (Auto, AI bokeh efek, hanya di kamera utama saja)
  • mode Lainnya (slomotion, Monokrom, Panorama, AR, Timelapse, stiker, dokumen, Tampilan Ganda, Hi-Res dsb)

Secara umum ponsel Huawei P50 Pro hendak memberi pengalaman fotografi dengan berbagai fokal lensa dari ultra lebar hingga telefoto, sesuatu yang memang diperlukan oleh para fotografer. Bila ponsel lain umumnya hanya memberi dua macam kamera/lensa, maka di P50 Pro ini pengguna bisa merasakan fokal 13mm, 27mm dan 90mm yang real, bukan digital zoom. Tentu saja, kualitas terbaik secara sensor ada di fokal 27mm, karena memakai sensor utama yang termasuk besar (1/1.5 inci) dan tersedia bantuan OIS disini. Memang sensor ini bukan yang bombastis seperti kamera di ponsel flagship lain yang bisa sampai diatas 100 MP, melainkan ‘hanya’ main aman di 50 MP saja (itupun akan di binning jadi 12,5 MP). Kamera utama di P50 Pro ini juga bisa dipakai dalam mode potret atau mode Bukaan lensa, yang akan dibantu secara software untuk mendapat latar belakang yang blur. Ada beberapa bentuk blur di mode Potret yang bisa disimulasikan, misalnya bulat, swirl dan berbentuk love. Untuk merekam video, sensor utama ini juga mantap, dengan dukungan video 4K up to 60p. Hasil foto dan video tampak tajam, punya dynamic range yang baik, warna-warni natural dan noise yang termasuk rendah. Terdapat juga opsi mengambil mode gambar RAW untuk diedit sendiri di komputer.

[continue reading…]
{ 1 comment }

Fujifilm Instax Mini EVO – Kamera 3 in 1

Fujifilm Instax Mini EVO adalah kamera hybrid yang memadukan kamera digital, kamera film instan dan printer. Desain kamera ini bergaya retro, seperti kamera film zaman dulu. Ukurannya tidak kecil, tapi juga tidak terlalu besar. Beratnya sekitar 290gram, relatif ringan untuk dibawa kemana-mana.

Kamera film instan biasanya setelah foto langsung akan dicetak, tapi Mini EVO ini berbeda karena gambar digitalnya akan tersimpan di dalam tempat penyimpanan internal yang kurang lebih dapat menampung 45 file foto. Jikalau tidak cukup, kita dapat memasukkan memory card type micro SD ke kamera ini.

Kamera ini memiliki sensor bertype 1/5 inci, dengan lensa ekuivalen 28mm f/2. Kombinasi ini menghasilkan gambar digital dengan resolusi 5 Megapixel. File digital yang disimpan bisa dipilih untuk dicetak. Untuk mencetak, dibutuhkan cartridge berisi 10 Instax mini paper untuk dipasang di dalam kamera. Harga satu paket kertas dan film ini sekitar Rp90.000 atau Rp9000 per foto.

Jika kita mau mencetak foto yang bukan diambil dengan Instax mini EVO ini juga bisa, yaitu dengan mengirimkan gambar dari ponsel ke kamera/printer melalui App Instax.

Yang khas dari Mini EVO adalah pilihan efek lensa dan film, yang terinspirasi dari kamera film zaman dahulu. Ada 10 efek film dan 10 efek lensa yang totalnya memungkinkan 100 kombinasi. Untuk mengubah efek film ada roda/dial di bagian belakang kamera, dan efek filter bisa diputar di bagian depan lensa.

Pengalaman menggunakan Instax mini EVO

Saya menyempatkan diri menggunakan Instax mini EVO ini untuk jalan-jalan dan memotret di kawasan Little Tokyo di Blok M, Jakarta Selatan. Adanya beberapa rumah makan dan toko dengan desain Jepang berdampingan dengan bangunan-bangunan lama dengan gaya Art Deco cocok untuk mencoba efek film dan lensa yang ada di kamera ini.

Kamera ini bisa dihandle dengan dua orientasi, horizontal / landscape seperti biasa, tapi juga bisa secara portrait / vertikal. Saat memotret dengan orientasi vertikal, kita bisa memanfaatkan tombol shutter di bagian depan kamera yang tepat jatuh di jari telunjuk, dan di bagian belakang, dekat dial ada sedikit ruang untuk menempatkan jempol untuk pegangan yang mantap.

[continue reading…]
{ 0 comments }

Lumix GH6 resmi diumumkan, bawa sensor 25MP dan 5,7k video

Di tanggal 22-02-2022 ini Panasonic global resmi mengumumkan kehadiran kamera micro Four Thirds hybrid terkini yaitu Lumix GH6. Kamera yang banyak ditunggu para profesional, pembuat konten dan juga penghobi foto video ini menjadi penerus dari generasi sebelumnya yaitu Lumix GH5 II, dengan menjadi kamera micro Four Thirds pertama yang menembus batas resolusi sensor diatas 20MP (tepatnya 25,2 MP) dan kali ini sensornya dibuat tanpa low pass filter. Seperti apa hal-hal baru yang bisa diulas dari Lumix GH6 ini? Simak artikel ini selengkapnya..

Dari sejarahnya, di 2014 Lumix GH4 (16MP) menjadi kamera pertama yang bisa merekam video 4K. Kemudian di 2017, Lumix GH5 (20 MP) menjadi kamera pertama yang bisa merekam video 4K 10 bit 4:2:2 internal. Tahun ini, Lumix GH6 kembali melanjutkan legacy kamera hybrid kelas pro dengan menawarkan sensor 25MP yang bisa merekam video 5,7k internal (dengan data rate up to 1,6Gbps ke kartu CFexpress tipe B), dan tanpa batas rekam video berkat kipas pendingin di dalamnya. Fitur video (tentunya jadi jualan utama dari semua Lumix seri GH) tetap berlimpah dan akan disukai kalangan profesional, seperti dukungan lensa anamorphic, timecode, waveform, luminance spot meter, tally, hingga berbagai profile gambar untuk kebutuhan grading atau editing.

Dari sisi fisik, memang penambahan sistem kipas membuat Lumix GH6 menjadi lebih tebal, dan berat dengan bobot 739 gram, dan punya desain grip lebih dalam. Layar 3 inci di kamera ini bisa dilipat keatas, tapi juga bisa dilipat putar ke depan, sehingga makin fleksibel. Meski menyediakan slot untuk memori CFExpress tipe B, tetap tersedia juga slot SD card yang mendukung UHS-II, misal hanya untuk foto-foto atau rekam video full HD saja. Ada dua tombol merah (REC) yang bisa dipakai, pertama ada di atas, dan satu lagi ada di depan. Dari sisi konektivitas, ada port HDMI full size, dan USB-C yang mendukung Power Delivery charging, selain tentunya ada lubang mic dan headphone. Kami menyukai sebuah tombol baru untuk audio, dimana tombol ini akan menampilkan semua indikator dan setting khusus audio, tanp harus mencari dulu melalui Menu.

[continue reading…]
{ 0 comments }

OM System resmi meluncurkan kamera Olympus OM-1

Hari ini perusahaan Jepang OM Digital Solutions resmi memperkenalkan kamera Olympus terbaru dan pertama dibawah bendera OM System, dengan nama kamera Olympus OM-1. Kamera dengan sensor Micro Four Thirds resolusi 20 MP yang dibuat oleh OM System ini diposisikan sebagai kamera pro dan menggantikan E-M1 Mk III (2020) yang sebelumnya menjadi kamera terakhir di era Olympus sebelum berganti manajemen ke OM Digital Solutions. Seberapa menarik kamera seharga $2200 ini secara desain dan spesifikasi? Kita simak ya..

Bocoran akan desain dan spesifikasi OM-1 sebetulnya sudah bisa dilihat di beberapa situs web, dan wujud resminya memang tidak berbeda dengan gambar yang lebih dulu beredar. Sebuah kamera mirrorless dengan mount Micro Four Thirds, yang diberi nama dengan inspirasi dari kamera film OM-1 50 tahun yang lalu, namun kini memakai sensor baru sistem stacked sensor dan prosesor dual Quad core dan ada 1053 titik pendeteksi fasa (jenis cross Quad pixel AF) untuk auto fokusnya. Sensor ini juga memiliki 5 axis stabilizer yang bisa efektif hingga 8 stop, dan tersedia mode Hi Res mode 50 MP tanpa tripod, atau 80 MP dengan tripod. AI di prosesor barunya bisa mendeteksi orang, binatang, kereta api, pesawat dsb.

OM-1 tampak depan, dengan sensor Micro 4/3 20MP tampak didalamnya

Kecepatan menembak kamera OM-1 bisa mencapai kecepatan foto 10 frame per detik dengan shutter mekanik, dan luar biasanya bisa memotret hingga 120 fps bila memakai shutter elektronik (atau 50fps bila dengan AF/AE). Urusan merekam video 4K (UHD atau DCI) bisa hingga 60 fps dan video Full HD (1080p) hingga 240 fps. Secara internal, kamera dapat merekam video H.264 (8-bit) atau video H.265 (10-bit). Saat terhubung ke perekam eksternal, OM-1 dapat menampilkan video Raw 12-bit 4:4:4. Dalam mode 10-bit, terdapat pilihan video Hybrid Log Gamma (HLG).

[continue reading…]
{ 4 comments }

Voigtlander adalah pabrikan alat fotografi yang belakangan ini aktif sekali dalam memproduksi lensa-lensa manual untuk beberapa sistem kamera. Uniknya, Voigtlander sering mengunakan desain era kamera film tapi mengunakan teknologi mekanik dan optik yang modern.

Lensa Voigtlander 90mm f/2.8 SLII sekilas terlihat seperti lensa film 70-an
Voigtlander 90mm bisa dipasang di kamera film SLR Nikon dan DSLR

Salah satu lensa baru dengan kualitas standar 2020-an adalah Voigtlander 90mm f/2.8 yang dibuat untuk Nikon F-mount (SLR film dan DSLR). Secara sekilas, lensa ini sangat compact, panjangnya hanya 4 cm, luar biasa pendek untuk lensa telefoto, dan beratnya pun hanya 260gram padahal casingnya mengunakan bahan logam. Voigtlander juga membuat lens hood buat lensa ini, ukurannya sangat kecil, sayangnya harus dibeli secara terpisah.

Desain lensa ini mirip dengan lensa zaman kamera film tahun 65-75an. Secara pribadi saya menyukai desain ini karena ring manual fokusnya anti-slip dan mulus. Lensa ini made in Japan, dibuat oleh Cosina, perusahaan pembuat optik ternama yang sudah tidak diragukan kemampuan membuat optik yang bagus misalnya lensa-lensa Zeiss untuk Leica M-mount, DSLR dan mirrorless.

Untuk menguji lensa ini, saya mengunakan kamera DSLR Nikon D600, kamera full frame 24MP. Di kamera DSLR, saya mengunakan jendela bidik untuk manual fokus. Dibandingkan dengan lensa autofokus, tentunya dibutuhkan waktu untuk mendapatkan fokus tapi tidak terlalu sulit karena selain fokus tidaknya subjek terlihat cukup jelas di jendela bidik, juga ada bantuan indikator jika fokus sudah tepat di bagian bawah kiri dalam jendela bidik. Jika sudah bulatan hijau sudah muncul, tandanya sudah fokus, sedangkan kalau belum fokus, kamera akan memberikan petunjuk kepada kita untuk memutar ring fokus ke kanan atau ke kiri dengan ilustrasi tanda panah.

ilustrasi dari camerakai.com

Jika ingin manual fokus dengan live view, kita bisa mengunakan layar LCD, keuntungannya adalah kita dapat memperbesar area yang ingin difokus sehingga hasil foto lebih presisi.

Untuk mengatur aperture di kamera DSLR Nikon, kita bisa putar aperture ring ke f/22, kemudian mengatur angka F dengan mengunakan dial. Kamera akan berkomunikasi dengan lensa dan menyesuaikan bukaan lensa saat kita memotret.

Lensa ini juga bisa diadaptasi ke kamera mirrorless merk apa saja dengan adapter yang sesuai, misalnya ke Nikon Z dengan adapter FTZ, ke Sony E-mount atau Leica SL dengan adaptor Nikon AI ke L-mount. Saat itu, kita mengatur bukaan langsung dengan memutar dan memilih bukaan yang ingin kita lakukan karena tidak ada kontak komunikasi antara kamera dan lensa.

Bagi saya lensa ini punya beberapa kelebihan yang menarik, terutama di sisi kualitas gambar dan body lensanya yang berkualitas tinggi. Di f/2.8 kualitas foto sudah tajam dan puncaknya di f/5.6. Bokeh juga mulus, dan tidak terlihat adanya CA berkat desain APO. Bagi yang tidak berkeberatan mengunakan lensa manual fokus dan jika bukaan maksimum f/2.8 cukup, maka 90mm f/2.8 merupakan lensa yang pas.

Sebagai catatan, selain 90mm f/2.8, Voigtlander juga membuat beberapa lensa untuk Nikon F-mount, daftar lensa lengkap yang masih diproduksi saat ini antara lain:

  • Voigtlander 28mm f/2.8 Color Skopar SL IIS
  • Voigtlander 40mm f/2 Ultron SL IIS
  • Voigtlander 58mm f/1.4 SL IIS

Bagi teman-teman yang ingin belajar fotografi atau membeli lensa ini, kami bisa membantu, silahkan hubungi kami di WA 0858 1318 3069

Saksikan review kami di YouTube infofotografi
{ 0 comments }

Lensa fix tidak dipungkiri masih jadi lensa yang penting dan terus dicari banyak fotografer, meski era lensa zoom sudah begitu memudahkan dan memanjakan fotografer modern. Salah satu alasan kenapa lensa fix tetap dicari adalah karena punya bukaan aperture yang lebih besar daripada lensa zoom, yang memungkinkan pemakaian shutter speed lebih cepat, sehingga kerap disebut lensa cepat. Belakangan ini semakin marak lensa fix yang berhasil dibuat dengan bukaan ekstra besar, misal f/1.2 bahkan f/1 yang bikin penasaran apakah lensa semacam ini akan tajam? Lalu seperti apa bokehnya? Bisakah lensa fix bukaan besar seperti ini menghasilkan foto yang tajam sekaligus bokehnya lembut?

Ilustrasi : lensa bukaan besar dengan f/1.4

Sebelum masuk dan menjawab kesana, kita ingat lagi kalau lensa fix bukaan besar, banyak juga yang memakai aperture dengan bukaan maksimal ‘hanya’ f/1.8 atau f/2 dan lensa semacam ini kerap dikaitkan dengan segmen ekonomis. Untuk kebutuhan profesional, tersedia lensa yang bukaannya sekitar 1 stop lebih besar lagi yaitu lensa-lensa fix dengan bukaan f/1.4. Bagi profesional, benefit 1 stop itu signifikan, misal yang tadinya harus motret dengan ISO 6400, jadi bisa pakai ISO 3200 yang lebih rendah noisenya. Tapi bagaimana bila memotretnya siang hari yang terang? Lensa bukaan besar seperti f/1.4 tetap diminati karena bokehnya yang lebih blur, sehingga nampak lebih punya karakter look yang unik.

Lensa Fujinon XF 50mm f/1 yang bisa auto fokus

Sayangnya mendesain lensa yang bukaan besar sekaligus tajam pada bukaan maksimal (tidak di stop down), bukan perkara mudah. Dulu banyak pengguna yang baru pertama mencoba lensa fix yang bukaan besar, misal lensa 50mm f/1.4 yang bingung (dan tidak habis mengerti) mengapa di f/1.4 fotonya tidak begitu tajam. Untungnya lensa masa kini, dengan terobosan teknologi komputerisasi optik yang lebih baik, bisa membuat lensa yang lebih ideal (walau harganya jadi lebih tinggi). Menyadari mereka mampu membuat lensa yang lebih tajam, produsen lensa mulai berusaha membuat lensa yang lebih besar lagi bukaannya, misal lensa Fuji XF 50mm f/1.0 (untuk APS-C, harga 20 jutaan) yang belum lama ini kami coba. Alhasil, ketajaman di f/1 memang tidak yang sangat tajam, tapi menurut saya sudah sangat baik mengingat bukaan f/1 adalah tantangan besar bagi produsen lensa, dan prioritasnya tentu lebih kepada karakter dimensi dan bokeh dari sebuah lensa. Ada juga sih lensa fix bukaan besar yang tajam sekali di bukaan maksimal sekaligus punya bokeh yang lembut, misal Canon RF 50mm f/1.2 tapi harganya juga aduhai (40 jutaan). Wajar dengan harga segitu, bisa didapat dua hal sekaligus, yaitu tajam dan bokeh.

[continue reading…]
{ 2 comments }

Lensa Sigma 18-50mm f/2.8 adalah lensa yang compact untuk kamera mirrorless dengan format sensor APS-C. Lensa ini termasuk unik karena memiliki kemampuan zoom dari lebar sampai menengah dengan bukaan yang relatif besar (f/2.8) dan konstan dalam arti tidak berubah maksimum diafragmanya saat di zoom di jarak fokal berapapun.

Sigma membuat dua jenis mount untuk lensa ini, diantaranya Sony E-mount dan Leica L-mount. Sayangnya saat artikel ini ditulis, Sigma belum membuat versi untuk mount kamera lain seperti untuk Canon EOS M, Nikon Z dan Fujifilm X.

Daya tarik utama lensa ini selain bukaannya besar dan konstan, adalah ukurannya yang compact, filter diameternya 55mm, panjangnya 7.54cm dan beratnya pun sangat ringan di 290gram. Keistimewaan lainnya yaitu lensa ini mampu fokus cukup dekat. Di 18mm, jarak fokus minimumnya 12cm, dan di 30mm 50cm.

Kualitas gambar yang dihasilkan lensa ini tajam di berbagai bukaan, hanya saja vinyet (gelap di ujung foto cukup terasa) di bukaan terbesar (f/2.8), dan distorsi (cembung di 18mm, sedikit cekung di 50mm). Kelemahannya akan terlihat jelas saat memotret dengan format RAW tapi tidak di JPG. Kedua kelemahan ini bisa dikurangi dengan mengaplikasikan built-in lens profile correction di software editing seperti Adobe Lightroom, dan bisa dimaklumi karena ukuran lensa yang sangat compact.

ISO 200, f/2.8, 1/3200 30cm. Vinyet cukup terlihat di kedua foto ini
ISO 100, f/16, 10 detik- Foto karya Erwin Mulyadi @erwinmul
[continue reading…]
{ 0 comments }

Setelah berkesempatan mencoba Leica M11 selama beberapa hari saya mendapatkan kesimpulan bahwa sensor 60MP di Leica M ini merupakan salah satu sensor yang terbaik di tahun 2021.

Enam puluh megapixel mungkin berlebih untuk berbagai orang, tapi Leica M11 memberikan pilihan beberapa pilihan resolusi lain yaitu 36MP dan 18MP, dalam bentuk DNG/RAW sehingga kualitas gambar tetap terjaga.

[continue reading…]
{ 3 comments }

Perbedaan Canon EOS R5C dan EOS R5

Belum lama ini Canon merilis kamera sinema hybrid EOS R5C dengan spesifikasi utama mampu merekam video 8K up to 60p dengan durasi lama tanpa overheat, karena ada mekanisme fan di dalamnya. Berangkat dari desain dan konsep EOS R5 yang juga digadang-gadang sebagai kamera hybrid, produk baru R5C ini membuat saya bertanya-tanya apa saja bedanya antara kedua produk ini, dan di artikel ini saya rangkum beberapa info yang saya dapat dari berbagai website.

Tampak depan, mirip sekali Canon EOS R5C dengan EOS R5 biasa. Terlihat juga RF-mount sebagai tanda kalau kamera ini menerima hanya lensa jenis RF (untuk lensa EF perlu adapter lagi).

Keputusan Canon membuat sebuah kamera sinema yang mengambil rancang desain dari kamera yang sudah lebih dulu ada, memang lebih efisien karena tidak harus mendevelop dari nol. Faktanya kedua kamera ini tetap sama-sama pakai mount RF, sensor full frame 45MP, jendela bidik dan layar dengan jumlah dot yang sama, modul Dual-pixel AF yang sama baiknya, dan baterai yang tipenya sama. Urusan dual slot memori juga sama-sama memakai CFexpress dan SD card UHS-II. Tapi bila dilihat dan ditimbang, barulah EOS R5C tampak lebih tebal (111mm vs 88mm) dan lebih berat dari EOS R5 (770g vs 738g) karena desain fan pendingin yang diperlukan untuk kebutuhan merekam video dalam waktu lama. Tapi lebih jauh lagi, apa saja bedanya kedua jenis kamera ini? Kita bahas yuk..

EOS R5C lebih tebal untuk mengakomodir ruang kipas pendingin
[continue reading…]
{ 0 comments }

Fujifilm X-T3 dirilis beberapa tahun yang lalu, tepatnya di tahun 2018, saat itu saya pernah mengujinya tapi saat itu kami belum aktif dalam membuat konten video YouTube Infofotografi. Di awal tahun 2022 ini, saya berkesempatan lagi mencobanya lagi untuk foto portrait model untuk menguji apakah kamera ini masih relevan di tahun 2022? Sekalian menguji kamera ini dengan lensa baru Fujifilm yaitu lensa XF 33mm f/1.4 dan 50mm f/1.

Fujifilm X-T3 termasuk kamera kelas profesional dengan desain seperti kamera film. Kriteria kamera profesional kadang kala sebuah hal yang subjektif. Menurut saya, ada beberapa fitur penting kamera pro, diantaranya :

  1. Kualitas body kamera dengan bahan logam dan weathersealed
  2. Banyak titik kendali untuk akses cepat untuk mengubah setting dan menu
  3. Memiliki kinerja yang baik dalam hal kualitas gambar, autofokus dan kecepatan foto
  4. Ada opsi battery/vertical grip
  5. Ada dual slot memory card
[continue reading…]
{ 1 comment }