≡ Menu

Pengalaman dengan lensa Sigma

Di awal tahun 1990, Sigma hanya terkonsentrasi membuat lensa-lensa murah yang berkualitas kurang baik tapi murah meriah. Di saat itu, produsen kamera DSLR menjual kamera secara terpisah dengan lensa (istilahnya Body Only). Tapi sejak 5-6 tahun yang lalu, produsen mulai menjual kamera beserta lensa standar yang disebut kit lens.

Sejak itu, Sigma berganti strategi menjual lensa dengan kualitas yang tinggi dengan harapan bisa bersaing dari segi harga dan kualitas dengan merek lensa yang sudah terkenal.

Salah satu lensa unik Sigma, 50-500mm OS HSM

Salah satu lensa unik Sigma, 50-500mm OS HSM

Kini, koleksi lensa Sigma boleh dibilang cukup lengkap, dari yang murah meriah sampai yang kualitasnya tinggi. Beberapa lensa Sigma juga cukup unik sehingga patut untuk dipertimbangkan.

Sigma membagi kelas lensa menjadi dua bagian, yaitu DG dan DC. Lensa-lensa DG cocok untuk dipakai untuk segala jenis kamera DSLR. Sedangkan DC dikhususkan hanya untuk kamera DSLR bersensor APS-C (yang banyak dipasaran).

Kemudian diantara lensa-lensa DG/DC, Sigma membuat label EX (Excellent) untuk menandakan lensa tersebut berkualitas tinggi. Pengalaman saya dengan lensa Sigma berlabel EX sampai saat ini cukup baik. Saya sering memakai lensa Sigma 24-70mm f/2.8 dan 70-200mm f/2.8 HSM II dengan kamera Nikon D700. Dengan kedua lensa tersebut, saya mendapatkan kualitas foto yang sangat baik dengan harga yang relatif murah dibandingkan dengan lensa merek Nikon yang setara.

Karena kualitas kontrol dan desain lensa Sigma yang mengunakan teknik reverse engineering, kadang-kadang ada lensa Sigma yang bermasalah misalnya back/front focusing. Artinya lensa tersebut fokusnya tidak akurat. Jika kita mengunakan kamera yang lumayan canggih, kita bisa mengkompensasikan kesalahan fokus tersebut melalui fungsi AF Fine tune. Tapi jika tidak, lensa dan kamera kita harus di kalibrasi sehingga pas.

Reputasi lensa Sigma seringkali masih dianggap kurang baik, mungkin karena lensa-lensa berkualitas rendah dari Sigma di masa lalu. Suatu hari saya bertemu dengan fotografer wedding yang sedang bekerja. Ternyata dia memakai lensa Sigma 24-70mm f/2.8. Saat saya menanyakan bagaimana pendapatnya tentang lensa Sigma 24-70mm f/2.8 ini. Dia dengan cepat mengatakan dia mengunakan lensa ini karena lensa Canon 24-70mm f/2.8 nya sedang diservis. Baru-baru ini saya bertemu lagi dan saya masih mendapatinya memakai lensa yang sama. Entah karena gengsi kedapatan memakai lensa Sigma atau memang lensa Canonnya rusak melulu saya kurang tau. Tapi yang pasti lensa Sigma 24-70mm f/2.8 memang menghasilkan foto yang tidak kalah dengan lensa Canon atau Nikon.

Beberapa lensa Sigma yang saya rekomendasikan

Untuk kamera DSLR bersensor kecil / APS-C

  • Sigma 10-20mm f/4-5.6 EX HSM – Lensa untuk pemandangan, travel, budaya
  • Sigma 17-70mm f/2.8-4 OS HSM C – Lensa zoom menengah untuk travel
  • Sigma 17-50mm f/2.8 OS HSM EX – untuk acara, indoor, portrait, sehari-hari

Untuk semua kamera (APS-C) maupun Full Frame

  • Sigma 24-70mm f/2.8 EX – untuk acara, indoor, sehari-hari
  • Sigma 70-200mm f/2.8 EX OS HSM – untuk olahraga, portrait, candid
  • Sigma 50-500mm OS HSM EX – buat safari, olahraga, burung
  • Sigma 85mm f/1.4 EX HSM – untuk portrait, candid
  • Sigma 150mm f/2.8 OS EX HSM Makro – serangga, benda-benda kecil, detail
  • Sigma 24mm, 35mm, 50mm f/1.4 A. Lensa-lensa fix berkualitas tinggi untuk berbagai jenis fotografi, dari landscape sampai portrait.

Disclaimer: Saya tidak disponsori oleh Sigma Corp. 🙂

About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Google+ dan Instagram: enchetjin

{ 332 comments… add one }
  • Zuga August 1, 2019, 5:27 pm

    Koh enche, saya pakai sigma 17 – 50 f2.8 di body Nikon D7000. untuk hasil sih lumayan kalau di cahaya cukup. Untuk low light menurut saya kurang. Kalau sepintas sih bagus. Tapi kalau di zoom kok agak kabur gbr nya. Truz di lensa klo di gerak²kan seperti kocak ( oklok oklok ) apa emang seperti itu ? Terima kasih

    • Erwin Mulyadi August 1, 2019, 5:36 pm

      Kalau di pakai di bukaan maksimal f/2.8 ya memang hasil fotonya akan lebih soft, atau karena depth yg tipis maka mungkin ada sedikit miss focus pas proses AF nya.

  • heppy dwi yutanto July 4, 2019, 2:24 am

    koh Enche kalau untuk untuk pemandangan dan arsitektur lebih prefer yang mana menurut koh Enche antara Nikon AF-S DX Nikkor 10-24mm f/3.5-4.5G ED sama Sigma 8-16mm f/4.5-5.6 DC HSM

    • Erwin Mulyadi July 4, 2019, 10:03 am

      Nikon 10-24mm menang di kualitas optik, AF dan bisa pasang filter misal ND atau CPL. Kalau Sigma 8-16mm adalah lensa paling wide yg ada untuk APS-C, cocok untuk arsitektur yg perlu kesan sangat luas.

Leave a Comment