≡ Menu

Apakah mengedit (post-processing) itu penting?

Mungkin akan membantu jika kita mulai memikirkan post processing dalam hal berikut ini:

Saat memotret dengan kamera film, Anda akan membawa film ke lab untuk dicuci cetak, atau cuci cetak sendiri. Dalam “proses” ini, Anda memiliki kesempatan untuk mengubah gambar tersebut untuk mendapatkan efek yang dikehendaki. Di era film, mungkin Anda akan membuat beberapa test-print sampai Anda mendapatkan hasil yang sesuai keinginan.

Saat memotret dengan kamera digital, kamera Anda secara otomatis melakukan “post-process” untuk menghasilkan gambar berformat RAW/JPEG. Kamera memiliki komputer kecil yang melakukan kalkulasi khusus atas informasi yang ditangkap oleh sensor gambar kamera, dan memproduksi gambar “siap cetak.” Banyak kamera menawarkan pengaturan yang mengizinkan Anda untuk mengendalikan hasil “akhir”, tapi pada akhirnya, sedikit banyak kamera juga memiliki andil dalam post processing.

Lalu, kembali ke pertanyaan: Apakah post-processing dibutuhkan?

Untuk saya = Ya.

Jika tidak melakukan post-processing, saya merasa saya hanya memiliki informasi yang tidak berarti (sebuah negatif film atau data binary mentah), yang mana keduanya tidak akan menghasilkan gambar yang menarik.

Sekarang, pertanyaan kita selanjutnya adalah: “Apakah diperlukan untuk mengedit foto di komputer” untuk hasil terbaik?” Jawabannya adalah tergantung. Otak Anda dan komputer ibaratnya seperti super komputer yang digunakan NASA, dibandingkan dengan processor kecil di dalam kamera yang kemampuannya sangat terbatas.

Jika Anda memproses gambar sendiri di komputer, tentunya sebagai manusia tidak terlepas dari kekuatan dan kelemahannya: kreativitas, pengalaman hidup, pengetahuan dan ketrampilan memanipulasi gambar. Jelas sekali otak manusia memiliki kapasitas yang mampu membuat sesuatu yang lebih dari sekedar representasi visual dari sejumlah data. Tapi di sisi lainnya, manusia dapat mengacaukan segalanya. Membuat gambar yang mengerikan dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh proses di dalam kamera.

Dengan demikian, saya percaya membuat foto yang terbaik membutuhkan pendekatan dua tahap:

  1. Membuat foto sebaik mungkin dengan kameramu. Tangkaplah foto dengan exposure yang benar, komposisikan subjek dengan baik, dll.
  2. Post processing untuk meningkatkan kualitas foto

Untuk point pertama: Tidak ada post processing yang dapat memperbaiki foto yang dibuat dengan teknik yang buruk. Semakin dekat foto awal Anda ke “sempurna” semakin sedikit waktu yang dibutuhkan untuk mengkoreksi kesalahan dan meningkatkan foto Anda.

Untuk point kedua: Ada keterbatasan-keterbatasan terhadap apa yang Anda bisa lakukan dengan kamera Anda. Anda mungkin tidak selalu bisa mengkomposisikan foto yang sempurna, dan melenyapkan kabel listrik yang mengganggu perhatian. Atau, mungkin Anda tidak memperhatikan sampah yang menghancurkan foto anak Anda di taman. Apapun itu, langkah-langkah mengedit foto dapat mengatasi masalah-masalah tersebut, dan meningkatkan kualitas fotomu.

Saya pribadi: Adobe Lightroom 4 adalah bagian yang integral dari alur kerja saya. saya mengunakannya untuk mengkonversi gambar format RAW, dan saya sering juga mengaplikasikan berbagai pengaturan ke setiap gambar. Meskipun demikian, saat memotret, saya selalu mencoba untuk mendapatkan foto “negatif” terbaik. Sebagai tambahan, saya memiliki “mental picture” terhadap foto final yang ingin saya wujudkan, dan software seperti Lightroom 4 untuk mendapatkan foto akhir sesuai dengan pemikiran saya.

paul-yahya-01

paul-yahya-02

Foto pertama yang terpasang adalah gambar terakhir yang dipotret oleh istri saya tanggal 26 April 2014, ia melihat formasi awan yang menarik tapi agak tersamar – sedangkan saya tidak memperhatikannya (gara-gara terlalu asyik mencoba lensa yang baru saya beli). Kondisi pencahayaannya biasa saja. Foto yang ditangkap akhirnya datar-datar saja tanpa ada sesutu yang menarik (kecuali awan dalam pemikiran istri saya).

Post processing di Lightroom 4 sangat membantu untuk mendapatkan gambar yang lebih baik dibandingkan dengan gambar orisinal…

Chiao, semoga Anda menyukai sedikit sharing ini.

Paul Yahya,
Enthusiast Photographer
27 April 2014

{ 12 comments… add one }
  • Masdhaan May 9, 2014, 8:39 am

    maaf mas saya sedang belajar dunia fotografi nih, mau tanya ajah sih, biasanya orang” yang main DSLR itu format jepretannya itu di settingnya enakan ke JPEG apa RAW yah..? apakah ada keistimewaan sendiri antar format tersebut..?

  • andy May 8, 2014, 2:20 pm

    ‘ Om enche mau nanya, kenapa di lightroom 5 saya tidak bisa membuka format dengan file RAW, apakah hanya Lr 4 saja yang bisa buka format RAW ?

    • Enche Tjin May 8, 2014, 2:21 pm

      Mestinya kalau bisa dibuka di LR4, di LR5 juga bisa.

  • Muthi May 3, 2014, 7:33 pm

    Kalo untuk kontes fotografi, sejauh mana post processing umumnya diperbolehkan?

    • Enche Tjin May 5, 2014, 2:19 pm

      Tergantung dari peraturan lombanya

  • Enche Tjin May 1, 2014, 12:19 pm

    Pertanyaan yang menarik tuh, mungkin karena minimnya pengetahuan tentang post-processing dan file digital/RAW.

    Ada juga yang expect kamera dan teknik fotografi sudah cukup untuk menghasilkan foto yang sempurna. Dan fotografer yang tidak pp, dianggap the true photographer, bukan photoshopper cie ileh..

    Dan banyak foto yang editnya asal, jadi kualitas fotonya malah tambah ancur dibanding dengan original capturenya ehhehe..

    nevertheless, artikel ini sedikit banyak shed some light about pp.

  • [Gm] May 1, 2014, 9:46 am

    Kayaknya gak hanya di Indonesia yang merasa PP itu tabu… sementara, di sisi lain, I love PP as much as I love clicking :-).
    Ujung-ujungnya ya kembali ke selera pribadi juga…

  • wisnu April 30, 2014, 8:38 pm

    sebagian besar org Indonesia sy perhatikan kayaknya tabu bgt ya dgn yg namanya POST PROCESSING. pdhl nyatanya semua top pro fotografer pasti memotret dgn menggunakan format RAW yang jelas2 harus diedit / post processing. knp ya…

  • Haryadi be April 30, 2014, 3:01 pm

    Betul sekali, semakin baik teknik memotret, semakin minim post processing diperlukan.

    Ada banyak teknik, DIY tools ataupun filter2 yang bisa digunakan untuk minimalisir post processing jika mmg suka hasil foto “mateng kamera”.

Leave a Comment