≡ Menu

Pendekatan yang lebih baik: Langsung dari kamera atau editing foto

Perdebatan apakah setiap foto perlu di edit atau harusnya langsung jadi sering saya dengar. Masing-masing ada kelebihan kelemahannya, tapi yang terbaik menurut saya setiap foto harusnya di edit untuk mendapatkan hasil yang bagus, dalam arti sesuai keinginan kita.

Pendekatan pertama adalah harus memilih setelan terbaik di kamera digital sebelum memotret antara lain:

Image Quality (biasanya pilih JPG (L,M,S), White Balance, Dynamic Range, picture style/control (saturation, tone/hue, contrast, sharpness, clarity), HDR.

Fotografer yang memilih pendekatan pertama biasanya memang tidak suka di depan komputer untuk mengedit dan lebih memilih mengganti setting kamera yang terbaik sebelum memotret. Ibaratnya seperti pergi ke pasar dengan peralatan masak dan bumbu-bumbu, dan kemudian membeli bahan masakan dan langsung memasak di tempat. Setelah pulang, enaknya tinggal makan karena masakannya (fotonya) sudah matang. Tapi kebayang gak repotnya saat berbelanja di pasar (saat hunting foto), sekaligus harus masak (mengatur semua setelan di tempat)?

Pendekatan kedua adalah memotret dengan setelan Image Quality RAW (data mentah). Kemudian baru diatur setelan-setelan diatas dengan mengunakan software pengolah foto RAW. Ibaratnya adalah kita pergi ke pasar untuk beli bahan mentah (sayur, buah, daging). Kemudian setelah pulang ke rumah, kita baru masak di dapur dengan memasukkan bumbu-bumbu yang dimiliki. Bumbu-bumbu ibaratnya adalah setelan-setelan kamera.

Untuk memaksimalkan kualitas gambar digital, yang terbaik menurut saya adalah pendekatan kedua yaitu memotret dengan image quality RAW, kemudian di edit dengan software pengolah foto. Karena saat memotret jika harus sekaligus memeriksa dan mengganti setelan-setelan yang saya tulis diatas rasanya terlalu menguras waktu sehingga fotografer tersebut bisa kehilangan momen, atau peluang memotret lebih banyak.

Meski demikian, bukan berarti fotografer yang mengadopsi pendekatan kedua bisa asal-asalan saat memotret. Banyak setelan yang tidak bisa diatur setelah foto jadi, seperti fokus, shutter speed, bukaan lensa, ISO, jarak fokus, komposisi foto dan sebagainya.

Foto hasil editing dengan Adobe Lightroom 5.0. Dengan pengetahuan editing yang baik, kita bisa membuat foto jauh lebih menarik.

Foto hasil editing dengan Adobe Lightroom 5.0. Dengan pengetahuan editing yang baik, kita bisa membuat foto jauh lebih menarik. – Klik untuk ukuran foto yang lebih besar

Permasalahan yang sering saya temui adalah banyaknya fotografer pemula masih takut dalam mengedit foto karena kurang paham alur kerja editing yang bagus dan cepat. Banyak fotografer pemula terintimidasi dengan rumitnya software editing foto. Tapi saat ini banyak software yang bisa mengedit dengan cepat tapi bagus, seperti Adobe Lightroom, Adobe Camera Raw (ACR) atau Capture One.

Ini foto asli sebelum di retouch. Bukan berarti motretnya asal. Saya sudah mempertimbangkan dengan baik teknis setting exposure, komposisi dan juga kamera saya letakkan diatas tripod dan mengunakan teknik mirror lock up/exposure delay supaya ketajamannya bisa maksimal.

Ini foto asli sebelum di retouch. Bukan berarti motretnya asal. Saya sudah mempertimbangkan dengan baik teknis setting exposure, komposisi dan juga kamera saya letakkan diatas tripod dan mengunakan teknik mirror lock up/exposure delay supaya ketajamannya bisa maksimal.

Kedua adalah anggapan bahwa mengedit foto adalah sesuatu yang curang/tidak bagus dan dianggap photoshopher daripada photographer.  Nah, kalau soal ini timbul karena banyak juga fotografer pemula yang mengedit foto secara berlebihan, biasanya menutupi kekurangan teknik fotonya, sehingga hasilnya malah tidak enak dilihat atau tidak sesuai.

Bagi yang mengedit untuk meningkatkan kualitas foto sebenarnya tidak masalah, karena di jaman fotografi film juga dulu ada teknik kamar gelap, yang merupakan tempat fotografer mengedit foto pada jaman itu. Tapi kita beruntung hidup di jaman sekarang, mengedit foto tidak perlu masuk ke kamar yang gelap dan mencium cairan kimia yang tidak menyehatkan. Kesimpulannya, sedikit atau banyak, kemampuan mengedit foto / post processing itu penting dan wajib dikuasai fotografer pemula maupun mahir.

—-
Jika ingin belajar editing foto, kami punya workshop Adobe Lightroom 1 hari. Periksa jadwalnya di halaman ini, atau hub 0858 1318 3069 / infofotografi.com

Alternatif lain adalah dengan belajar otodidak melalui buku Adobe Lightroom karangan saya dan Iesan.

About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Google+ dan Instagram: enchetjin

{ 25 comments… add one }
  • Han March 26, 2015, 11:17 am

    Halo Om Enche,

    Mau tanya nih…
    Beberapa kali saya foto temen2 dengan pencahayaan yang (menurut saya) cukup baik… Tapi seringkali warna-warna yang muncul di foto melenceng dari warna asli.
    Contoh, sekali waktu baju kuning teman saya nampak berwarna putih ketika saya lihat di komputer. padahal eksposurenya saya lihat juga sudah pas.

    Kira-kira apa yang menyebabkan hal ini dan bagaimana bisa diatasi?
    Mohon masukkan dari Om Enche. Terimakasih 🙂

  • yusup March 26, 2015, 7:16 am

    Ko, mau nanya, kl motret pake format RAW, utk edit bs lgs pake Adobe Lightroom ato tetap hrs pake Adobe Camera Raw dl br kmd diedit lg pake Adobe Lightroom? Trus utk mengedit format RAW apakah bisa pake Adobe Photoshop? Terima kasih.

  • Santy Chr. March 25, 2015, 4:47 pm

    Pak Enche yth., apakah setiap editing harus dimulai dengan Adobe Camera Raw dulu ? Dan apakah photo Jpeg bisa diedit dgn ACR dan Photoshop ? Thanks, my teacher ! Kapan ada pelatihan utk Adobe Photoshop Elements ?

    • Enche Tjin March 25, 2015, 6:01 pm

      Kalau fotonya RAW, harus via Adobe Camera Raw (ACR) dulu. Kalau fotonya JPG bisa juga di edit di ACR, tapi ada beberapa hal yang tidak bisa diganti, seperti White Balance.

  • Herman March 24, 2015, 3:01 pm

    Pak Enche saya pemakai canon 700d + 18-55 stm, kenapa kalau motret gambarnya kurang detail dan kalau foto potrait detail mata dan rambut kurang, padahal f nya udah 7.1-11 dan mode fokus AI focus, apakah lensa saya bermasalah.
    terimakasih

    • Enche Tjin March 25, 2015, 10:43 am

      Pencahayaan dan lightingnya bagaimana? Apakah motretnya ditempat yang gelap/backlit?

  • roger March 22, 2015, 12:02 pm

    Apa bisa disimpulkan, kita ngga perlu-perlu amat thd kamera dgn sensor yg canggih dan lensa yg mahal, krn hasil foto bisa ditingkatkan dgn editing?
    Tq

    • Enche Tjin March 22, 2015, 10:14 pm

      Keduanya saling mendukung, kamera dgn sensor yang canggih dan lensa yang mahal akan menghasilkan kualitas akhir yang lebih bagus.

  • Noer March 21, 2015, 10:37 pm

    apapun alasannya, saya lebih suka yang apa adanya bukan polesan. kalau cantik ya cantik, mau dipoles apa engga ya tetep cantik. inilah yang seharusnya diasah, teknik motret bukan teknik edit. itu menurut saya loh..

    • Enche Tjin March 22, 2015, 9:52 am

      Idealnya memang seperti itu 🙂 Jadi gak perlu lama2 di depan komputer.

      • indrarosalia March 26, 2015, 11:58 am

        IMHO hasil foto yang diambil kamera itu justru nggak alami, mengingat keterbatasan kamera dibandingkan dengan mata manusia. Sebut aja rentang dinamis mata manusia jauh lebih lebar daripada sensor full frame. Belum lagi soal warna dsb.. CMIIW

        Dan juga hasil kamera itu nggak apa adanya lho, karena kamera kan memproses tiap foto yang kita hasilkan. Nggak usah beda merk, sama2 DSLR Canon aja bisa beda2 kok biarpun pakai lensa sama, settingan sama di waktu yang sama. Sekali lagi CMIIW

        Menurut saya pribadi sih sah2 aja edit foto kayak gimanapun, kalau editnya berlebihan, kita positive thinking aja mungkin orangnya mau fotonya kelihatan surreal hahaha

  • Ihsan March 21, 2015, 10:16 pm

    saya setuju dgn pendekatan kedua, krn ketika saya belajar motret guru saya bilang “lebih baik 2 jam duduk di depan komputer drpd 2 jam setting kamera”, asal jgn berlebihan dan tujuannya demi keindahan foto sah sah saja editing. tp balik lg ke ideologi fotografernya mau pilih yg mana. IMHO.

    • Enche Tjin March 22, 2015, 9:51 am

      Wahh.. 2 jam setting kamera, nanti mataharinya dah keburu tenggelam dong he he he..

  • yunita March 21, 2015, 8:00 pm

    Motret tanpa editing di PC….
    Kalo pengin hasil yg bagus maka kamera yg hrs dipermak. Tambahin filter ini itu. Pake greycard. Yg agk susah kalo ingin mendapatkan dynamic range yg luasss.

    • Enche Tjin March 22, 2015, 9:50 am

      Iya benar, mesti lebih ok dan lengkap aksesorisnya.

  • pipok March 21, 2015, 11:46 am

    Salah satu alasan saya pake lightroom, setingan foto dapat kita terapkan di foto lainnya yg sejenis, copy paste gitu, mungkin kalo di Photoshop Action kali ya. Kalo saya sukanya editan yg gak terlalu banyak.

    • Enche Tjin March 22, 2015, 9:49 am

      Iya, namanya Photoshop Action

  • Puspita Sari March 21, 2015, 12:07 am

    Artikel ini seperti mbahas Sushi dan Rendang. Keduanya enak dan asyik2 aja kok. ✌

  • Tiyo March 20, 2015, 9:38 pm

    Tanya om Enche..lebih enak mana ya edit foto pake Adobe Lightroom di banding dgn Adobe Photoshop,,?

  • j comarez March 20, 2015, 9:32 pm

    Kalau masak buat orang, biasanya ada bumbu yang perlu ditanyakan. Masak buat sendiri garam sama gula pun jadi

  • stefan Feurbach March 20, 2015, 3:47 pm

    siang mas enche,
    memang foto hasil editing itu bagus tp terksean tidk alami. gk tau knp saya suka yg alami yg apaadanya apa yg kamera rekam atau ambil, saya mlihat teman2 ada yg trllu berlebihan dlm meng edit foto, wrna daun jadi jingga atau merah yg tadinya ijo, saya rasa edit foto itu membantu dlm hal pencahayaan under atau over, tons nya dan ketajamannya. tidak jadi spt gbr yg menjadi njlimet spt wanita yg kebanyakn dandan. hehehe…. mohon pencerahannya mas. danke sir!!

    • Enche Tjin March 20, 2015, 8:44 pm

      Ya, saya juga sependapat suka yang alami. Tergantung selera masing2

  • adit March 20, 2015, 1:21 pm

    terkadang beberapa orang meremehkan atau mengira seorang fotografer yg tanpa mengedit foto itu adalah sosok fotografer yg hebat.

    pada kenyataannya, dalam dunia profesional, proses editing adalah sesuatu yg ‘wajib’. Bukan karena kalau nggak di edit fotonya jelek, tp editing menjadi sebuah koreksi karena limitasi sebuah alat, semahal apapun alatnya.

    dan yg menjadi salah kaprah adalah, “foto apapun kalau di edit bisa jadi bagus”. menurut saya, software editing secanggih apapun ngga bakal bisa merubah foto kalau hasil awalnya kurang bagus. heuheu

    sedikit uneg-uneg saya tentang proses editing ko Enche. semoga berkenan. hehe 😀

    • Enche Tjin March 20, 2015, 6:01 pm

      Hehe, ya, ibaratnya kalau pas belanja sayur dan daging tapi gak fresh ya.. meskipun jago masaknya tetap kualitas masakannya jadi kurang.

Leave a Comment