≡ Menu

Apakah setiap produsen lensa mempunyai reproduksi warna yang beda?

Menurut pengalaman saya Ya!, reproduksi warna sangat tergantung dari desain lensa dan konstruksi nya. Rumus kaca (adonan dan konstruksi) yang berbeda serta pelapisan yang berbeda akan memancarkan frekuensi cahaya secara berbeda pula, dan cacat lensa seperti flare (suar) juga akan mempengaruhi reproduksi warna.

Sementara warna-warna yang lebih “hidup” umumnya dipandang sebagai “lebih baik”, perlu diketahui bahwa produsen yang berbeda secara sengaja menghasilkan render yang berbeda, ini sesuai dengan preferensi budaya di negara setempat produsen tersebut berada. Misalnya lensa Jerman yang diproduksi oleh Leica kebanyakan orang menilai nya lebih keren dibandingkan lensa yang dirancang Jepang seperti Panasonic (Panasonic dan Leica telah menjalin kerjasama dalam produksi lensa untuk kamera Lumix dengan label Leica, dan Panasonic telah belajar banyak dari Leica dalam merancang lensanya), bahkan produsen lensa yang berada pada satu negara pun mempunyai karakter rendering yang berbeda pula walaupun tidak terlalu mencolok misal Canon dan Nikon.

Dalam masa-masa film, reproduksi warna lensa ini sangat penting, walaupun karakteristik warna film dari setiap produsen pun juga berbeda. Namun pertanyaannya, di dunia digital saat ini, seberapa pentingkah reproduksi warna sebuah lensa?

Saya pribadi berpendapat reproduksi warna ini sangat penting dimasa digital sekarang, namun sebetulnya secara umum bukan reproduksi warna lensa saja untuk menjadi materi perancangan sebuah lensa. Tetapi merancang perbedaan dalam filter warna bayer, dan bagaimana hal itu memengaruhi reproduksi warna gambar digital, atau bagaimana sifat filter tersebut berbeda di antara produsen.

Kita sama-sama mengetahui bahwa pada masa fotografi menggunakan film warna yang dihasilkan diatas sebuah negatif film adalah tetap tidak bisa di ubah-ubah begitupun hasil cetakannya yang bisa diubah hanya kontras, terang gelap dan sedikit saturasi nya saja melalui proses pencetakan manual/mesin jadi reproduksi warna dari sebuah lensa sangat penting.

Di dunia digital ini reproduksi warna pada lensa ini menjadi tidak penting terutama bila fotografer mengedit sendiri foto RAW-nya. Jika di edit secara berlebihan dan umumnya memang menarik perhatian tetapi warna menjadi tidak natural lagi.

 

  • Dari komparasi antara lensa Leitz (Leica) Summicron 50mm f/2.0 tua (1970 an) dengan lensa modern Lumix G 42.5mm f/1.7 ASPH diatas, terlihat selain kontras dan warnanya, begitu pula karakter bokehnya pun berbeda, pada lensa jadul (Leitz) terasa sedikit fogging (berkabut) atau disebut juga flare karena latar belakang memantulkan sinar sedikit kuat, ini disebabkan oleh umur lensa dan lapisan anti refleksi yang sudah memudar. Disini terlihat jelas reproduksi atau karakter warnanya sangat berbeda, menurut saya pada lensa Leica warnanya lebih organic dan sangat natural seperti subjek aslinya, sedang dengan lensa modern terasa lebih digital atau renyah (lebih tajam, kontras dan saturasi-nya)

Disini saya hanya akan membahas reproduksi warna dari sudut Rumus Kaca mengapa bisa berbeda dan masing-masing produsen mempunyai penggemar-nya (fotografer profesional) terutama untuk mengabadikan foto Portrait dan Beauty Photography. Untuk komparasi ini saya menggunakan lensa film lama saya Leitz Summicron 50mm f/2.0 (100mm kesetraaan) plus adaptor Leica(M)-M43, dan lensa digital Lumix G 42.5mm f/1.7 ASPH  (85mm kesetaraan) yang saya pasang pada kamera Lumix GX7, memang ada perbedaan panjang fokus tetapi tidak terlalu banyak hanya 7.5mm sehingga DOF nya pun tidak terlalu jauh, karena disini yang saya akan utamakan adalah reproduksi warna nya.

  • Foto diambil pada pagi hari suhu udara relatif dingin, umumnya foto pada kondisi pagi hari akan cendrung berwarna ke biruan, ini sangat terasa sekali pada lensa Leica, dan flare tidak terlihat karena memang latar belakang tidak terlalu kuat sinarnya. Pada lensa Lumix kesan dingin tidak terasa warna lebih kekuningan menjadikan kesannya lebih hangat.
  • Kesan organic dua foto diatas kurang terasa mungkin karena subjek dari bahan plastic, tetapi kalau kita perhatikan warna hijau pada daun dilatar belakang kesan organicnya masih terasa pada foto paling atas yang berasal dari lensa Leica.

Dari hasil komparasi warna diatas jelas terlihat perbedaan warna yang dihasilkan antara lensa film/analog dan lensa modern/digital dari produsen berbeda, Walaupun kedua lensa tersebut sama- sama lensa digital sekalipun bila berasal dari produsen yang berbeda maka reproduksi warna nya akan tetap berbeda. Mengapa?

Jenis Kaca
Elemen lensa yang mengandung sejumlah besar timbal/timah memiliki indeks refraksi yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kaca non-timbal? Ini adalah kenyataannya dan alasan mengapa lensa lama atau jadul biasanya lebih sederhana dalam desain optik! Karena ketika menggunakan kaca ber-timah, tidak perlu khawatir mengoreksi penyimpangan spherical aberrations (abrasi permukaan cembung) sebanyak mungkin, karena tidak seperti kaca biasa, kaca yang bertimbal dapat mengirimkan lebih banyak cahaya dan secara otomatis mengoreksi sebagian besar penyimpangan yang terjadi dari luar, inilah salah satu sebab nya lensa-lensa lama walaupun konstruksi nya sederhana tetapi bobotnya lebih berat dibanding lensa modern.

  • Dua foto diatas mempunya nuansa warna yang sama ketika mendapatkan cahaya yang cukup, jelas terlihat pada lensa modern kontrasnya lebih tinggi dan warnanya lebih bersinar ini berkat koreksi lensa Asperis nya dimana semua warna akan jatuh tepat pada satu titik fokus
  • Memang untuk foto-foto seperti ini lensa modern memang juara apapun mereknya, tetapi kalau ingin bernostalgi dengan masa-masa foto film lensa jadul sing ada lawan, bahkan, Leica telah membuat memproduksi kembali satu lensa jadulnya yang unik “Leica Summaron-M 28 mm f/5.6 “ dan yang uniknya mirip lensa jadul dengan flarenya bila dipakai motret melawan sinar. 

Konstruksi Lensa
Dengan lensa tanpa timbal diperlukan koreksi penyimpangan yang lebih teliti dengan merancang lensa sedemikian rupa untuk mengkompensasi distorsi yang disebabkan oleh yang lain lain itu. Ini adalah apa yang dilakukan oleh setiap produsen lensa, mengacu pada “elemen” (potongan kaca melengkung/cembung) dan “kelompok” (ketika lebih dari satu elemen dikelompokkan bersama).

Semuanya bekerja sama untuk memfokuskan gambar ke sensor dengan distorsi sesedikit mungkin. Jadi selain dari bahan kaca yang digunakan, untuk merancang lensa digital tidaklah sederhana, karena lensa modern sekarang ini standar yang ditetapkan sangat tinggi sekali berkaitan dengan distorsi flare, abrasi kromatik/Fringing, dan Noise sehingga setiap produsen mempunyai rumusan rumusan-nya tersendiri inilah yang menyebabkan reproduksi warna antar produsen lensa menjadi berbeda beda.

  • Foto ini dibuat menjelang sore hari dan umumnya di sore hari warna foto cenderung berwarna kekuningan, tetapi hasil nya jauh berbeda dari kedua foto diatas, pada foto pertama yang berasal dari lensa Leica ke biruan dan foto kedua dari lensa Lumix lebih kekuning, perbedaan ini sangat mencolok dibanding contoh-contoh komparasi foto sebelumnya, kalau saya perhatikan warna bawang putihnya foto dari lensa Leica sama dengan warna aslinya.
  • Kita perhatikan warna tomat pada foto dibawah yang berasal dari Lumix, saturasinya lebi tinggi sehingga tomat terlihat lebih cemerlang dari aslinya, warna-warna seperti ini sangat diminati untuk foto pemandangan atau barang-barang produksi di brosur-brosur tetapi untuk portrait warna  seperti ini kurang bagus.

  • Karena penasaran saya coba coba koreksi white balance nya di Lightroom dan saya tujukan koreksinya pada bagian yang paling terang di kulit bawang putih pada kedua foto tersebut, sekarang terlihat warna bawang putih dari kedua foto nyaris sama tetapi justru warna meja difoto dari Lumix berubah lebih biru, sedang difoto dari Leica hanya sedikit berubah ke arah kuning malah nyaris sama dengan warna aslinya. 

  • Untuk foto Hitam & Putih perbedaan warna memang tidak terasa tetapi sebetulnya berpengaruh pada nada dan kontras nya. Contoh foto diatas saya simulasikan dengan film Kodak Plus-X 125PX Pro melalui Silver Efex Pro, dan hasilnya foto yang berasal dari lensa Leica berkesan lebih dalam, 3 dimensinya lebih terasa. Sedangkan foto yang berasal dari lensa Lumix berkesan lebih datar kedalamannya kurang terasa atau istilah gaulnya Cemplang. Film Kodak Plus-X ini memang kontrasnya tidak tinggi dan mempunyai karakter warna merah, biru dan keunguan umumnya akan menjadi lebih terang dalam nada abu-abu, sedang warna kuning tonenya menjadi lebih gelap.

Dan Kesimpulannya
Dari ulasan tersebut diatas jelas lensa dari produsen tertentu akan menampilkan reproduksi warna yang berbeda dari lensa produsen lain, ini disebabkan dari jenis gelas yang digunakan dan berbagai pelapisan (konstruksi) pada lensa.

Beberapa corak warna pada produsen satu mungkin lebih menarik daripada corak warna dari produsen lain nya. Reproduksi warna adalah masalah yang lebih besar di masa-masa film daripada di masa digital sekarang ini. Penyimpangan-penyimpangan warna atau nada warna yang tidak diinginkan oleh produsen lensa dapat dikoreksi langsung dengan proses komputerisasi pada kamera digital sehingga gambar yang dihasilkan oleh kamera digital hasilnya sangat tajam, kontras, dan saturasi tinggi sehingga terasa kering/kurang organic menurut saya.

Oleh sebab itu, lensa Leitz (sekarang Leica) mempunyai corak warna yang lebih organik dan natural, meskipun kontras dan saturasinya tidak terlalu tinggi dibandingkan lensa-lensa jaman sekarang. Pada akhirnya, Saya kembalikan ke selera masing, karena di dunia fotografi tidak ada patokan warna yang harus diikuti apalagi kalau sudah menjurus ke seni baik itu foto berwana atau foto Hitam & Putih.


Sudah punya kamera? yuk ikutan belajar baik kursus kilat, workshop atau trip foto bersama kami.

About the author: Hendro ‘Momi’ Poernomo adalah seorang Arsitek yang menggemari fotografi dari sejak perkenalannya dengan box camera semenjak kanak-kanak. Jenis fotografi yang disukai cukup beragam, beberapa favorit nya yaitu Street Photography, Landscape, Human Interest, Travel dan kebanyakan foto B&W. Karya-karyanya bisa dilihat di Instagram.

{ 7 comments… add one }
  • komar April 5, 2018, 7:59 am

    om mau tnya kamera sy 600D, lebih oke mana lensa tele sigma 70-300mm atau canon 50-250mm (dalam hal ini lebih ke foto candid dengan background yg blur)
    maaf pemula

  • Vin March 29, 2018, 7:05 pm

    Mantap Om

    Om mau tanya
    Apakah masih worthed kalau sekarang saya beli Nikon D5500 ?
    Atau adakah kamera yang setara atau lebih baik dengan harga dibawah 10juta
    Terima kasih om

    • Enche Tjin March 31, 2018, 11:05 pm

      D5500 kamera dslr yang masih bagus untuk saat ini, tapi saat ini tren menunjuk ke arah sistem kamera mirrorless. Beberapa kamera rekomendasi kita ada di artikel ini.

      • Vin April 1, 2018, 11:04 am

        Ohh oke ko
        Thanks ya

  • nbsusanto March 29, 2018, 9:39 am

    lebih adem dan natural yang lensa jadul sih. kalo untuk genre ini pilih jadul. tapi kalo untuk landscape mungkin beda. coba om kalau utk foto landscape seperti apa.

    • Poernomo March 29, 2018, 11:15 am

      OK sip lah, nanti kita share foto landscape dengan lensa baru, terima kasih

Leave a Comment