≡ Menu

Visi Sony dalam pengembangan kamera foto dan video

Dari acara peluncuran Sony RXO II dan #VlogwithSony, saya sempat berbincang-bincang dengan beberapa pejabat Sony dari Jepang. Dari sana, saya dapat gambaran arah pengembangan Sony kedepannya.

One mount policy

Berarti Sony akan fokus ke pengembangan E-mount untuk mencakupi sensor full frame dan APS-C. E-mount akan full compatible untuk lensa E (APS-C) dan FE (Full frame).

E-mount pertama kali digunakan di kamera Sony NEX 5 yang sensornya APS-C, kemudian dikembangkan untuk memuat sensor full frame di seri A7 dan A9

Artinya jika kita saat ini kita punya kamera mirrorless APS-C Sony, kita bisa mengunakan lensa FE yang untuk full frame tanpa mengalami penurunan kualitas. Sewaktu upgrade ke full frame kedepannya bisa mengunakan lensa tersebut.

Juga sebaliknya, kita bisa mengunakan lensa APS-C (Sony E) ke kamera full fame Sony, tapi resolusinya akan turun, misalnya dari 24MP ke 10MP. Sebenarnya kebijakan ini memang banyak diterapkan di sistem kamera DSLR, misalnya Canon EOS ada EF dan EF-S, Nikon ada FX dan DX.

Di ranah mirrorless, kebanyakan brand kamera mengunakan dua mount yang berbeda untuk full frame dan APS-C, akibatnya lensa-lensanya tidak bisa dipasang di format yang berbeda. Contohnya Canon ada EOS R (full frame), dan EOS M (APS-C), Panasonic ada S (full frame) dan G (four thirds), Fuji ada X (APS-C) dan GFX (Medium format).

Hanya Leica yang memiliki kebijakan yang mirip, yaitu L-mount nya bisa untuk SL (full frame) dan CL/TL (APS-C).

Menurut Masamichi Nagone, managing consultant digital imaging Sony, One mount policy ini tidak berarti bahwa Sony akan menghentikan dukungan dan pengembangan Sony Alpha-mount (SLR/SLT) yang merupakan pendahulu dari Sony mirrorless.

Pengembangan AI untuk autofocus

Artificial Intelligence (AI) sering digadang-gadangkan sebagai teknologi masa kini dan masa depan. Teknologi AI sering digunakan oleh kamera smartphone untuk mengenal skenario pemotretan, tapi di mirrorless ini, Sony mengunakan AI untuk mengenali dan mengaktifkan autofokus untuk mendeteksi mata, wajah dan pola.

Kedepannya akan ada AI untuk mendeteksi subjek yang bermacam-macam, antara lain hewan, otomotif atau subjek-subjek populer lainnya.

Kinerja autofokus yang tinggi di kamera gak akan optimal jika lensa yang dipasang motor fokusnya lelet, ya gak? Maka itu saya juga menanyakan soal ini ke Nagone-san, katanya memang sebagian besar lensa memiliki motor autofokus yang cepat, tapi juga mengakui ada sebagian yang lambat. Tapi yang paling bagus adalah dua lensa dengan actuator motor yang sangat cepat yaitu Sony FE 400mm f/2.8 GM dan Sony FE 135mm f/1.8 GM.

Sony FE 135mm f/1.8 GM mengunakan dua motor extra cepat untuk autofokus

Content Creator

Belakangan, tren vlogging dikalangan anak muda semakin meningkat, demikian juga audiensnya. Oleh sebab itu, Sony mengambil inisiatif untuk meluncurkan kampanye #VlogwithSony dengan mendukung vlogger muda.

Meski pengapalan kamera digital semakin menurun dari tahun ke tahun, tapi Sony mencatat segmen mirrorless ada kenaikan baik format APS-C atau full frame. Sepertinya pasar menyambut baik inisiatif Sony karena Pre-order Sony A6400, kamera mirrorless yang ditujukan terutama untuk vlog telah sold out, kata Koji Sekiguchi, marketing manager Sony Indonesia.


Jangan lupa kunjungi juga koleksi panduan kamera dalam bentuk e-book dan workshop fotografi kami.

About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Google+ dan Instagram: enchetjin

{ 8 comments… add one }

Leave a Comment