≡ Menu

Field test : Canon EOS 5D IV dengan lensa EF 70-200mm f/2.8 III

Terkadang dalam urusan memilih gear, kita dihadapkan pada pilihan yang bervariasi, baik dari harga, jenis kamera hingga tingkat profesional dari sebuah alat. Bicara soal pro-gear, perlu dipahami kalau tidak karena memakai pro-gear maka otomatis foto kita menjadi bagus. Tapi dengan peralatan yang sesuai, kita jadi bisa memotret dengan hasil yang sesuai keinginan.

Saat ini untuk bisa merasakan level ‘pro’ dari peralatan fotografi, boleh jadi kamera DSLR masih lebih memadai. Meski sudah banyak kamera mirrorless yang ditujukan untuk profesional, tapi buat saya menggenggam sebuah kamera DSLR kelas pro tetap terasa lebih solid dan percaya diri saat perlu mengatur banyak setting, atau perlu kinerja auto fokus yang cepat dengan sejumlah titik fokus pendeteksi fasa.

Beberapa waktu silam, saya kembali bisa mencoba Canon EOS 5D generasi ke empat, alias Mark IV. Sebuah DSLR serius dari Canon yang memakai sensor 30 MP dan punya titik fokus 61 titik betulan, yang melanjutkan kehebatan 5D III dalam urusan focus tracking. Level EOS 5D juga diatas dari EOS 6D, baik dari sensor, durability, weather seal dan kinerja secara umum. Intinya untuk kebutuhan serius, profesional biasanya memilih EOS 5D (generasi III, IV, atau 5DS) atau sekalian ke EOS 1Dx.

Supaya lebih maksimal dalam mencoba 5D IV ini, saya pasangkan sebuah lensa kelas pro juga yaitu EF 70-200mm f/2.8 IS USM III. Lensa terkini di segmen pro ini punya kualitas fisik yang sangat solid, motor fokus dan IS yang mantap dan tentunya hasil fotonya sangat tajam di seluruh rentang fokal. Saya mencoba kombinasi kamera+lensa pro ini dalam beberapa situasi seperti liputan tarian dan foto potret model.

Saya mencoba Canon EOS 5D IV dengan lensa EF 70-200mm f/2.8 III

Jangkauan paling tele lensa ini yang ‘hanya’ 200mm memang terasa kurang saat saya pakai untuk memotret acara tari dan budaya, karena kebetulan posisi saya dan penari agak jauh. Tapi dengan sedikit crop saya bisa mendapatkan hasil foto seperti ini :

Dan untuk memotret dengan tujuan beauty portrait, misal dengan model, maka lensa ini menunjukkan kelebihannya karena sejatinya lensa 70-200mm banyak ditujukan untuk foto potret. Saya bisa mengandalkan kemampuan banyaknya titik fokus di mode Auto area, dan kamera berhasil mendeteksi wajah, meski bukan di mode live-view. Hasil foto tampak tajam meski dengan bukaan f/2.8 dan mampu memberi warna dan kontras yang enak, dengan bokeh yang blurnya sangat menarik, seperti foto berikut ini:

Sebagai kesimpulan, kita semua termasuk saya mungkin sudah sangat akrab dengan miniaturisasi kamera dan lensa, untuk alasan kepraktisan dalam memotret untuk daily life dan casual shooting. Tapi para fotografer pro tetap memerlukan alat yang sepadan dengan pekerjaannya, kebutuhannya dan standar kualitas hasil yang menjadi tujuannya. Disitu terdapat peralatan yang sesuai untuk mereka, meski dari harga dan bobotnya memang akan terasa berat, tapi sepadan dengan yang didapat.

Beberapa contoh lain yang diambil dengan Canon 5D IV dengan lensa EF 70-200mm f/2.8 III:

Bokeh di bukaan f/2.8, fokal lensa 165mm

About the author: Erwin Mulyadi, penulis dan pengajar yang hobi fotografi, videografi dan travelling. Sempat berkarir cukup lama sebagai Broadcast Network TV engineer, kini Erwin bergabung menjadi instruktur tetap untuk kursus dan tour yang dikelola oleh infofotografi. Temui dan ikuti Erwin di LinkedIn dan instagram.

{ 0 comments… add one }

Leave a Comment