≡ Menu

Mengulas Nikon D810 : Apa saja yang baru?

Bagi pembaca yang mengikuti berita rilis kemarin, baru kemarin (27 Juni 2014), Nikon merilis Nikon D810 yang merupakan pembaharuan dari Nikon D800 dan 800E sekaligus. Tidak berniat mengulang yang dibahas banyak situs lain, saya mencoba mencatat beberapa peningkatan penting dan juga opini pribadi tentang kamera ini.

D810_24_70_front34l.low

  1. Prosesor generasi terbaru EXPEED 4 – Prosesor baru memungkinkan kinerja /proses kamera lebih cepat.
  2. Sensor gambar tetap 36 MP tanpa low-pass filter, sedikit berbeda dari D800E. Feeling saya sensor baru ini lebih bisa menekan moire, sehingga Nikon pede (percaya diri) untuk merilis satu jenis kamera saja, bukan dua versi seperti masa Nikon D800/E
  3. Kecepatan foto berturut-turut meningkat dari 4 fps menjadi 5 fps (36 MP), 7 fps (saat memakai DX (crop) mode, resolusi 15 MP).
  4. Electronic first curtain shutter (Mengurangi getaran yang ditimbulkan shutter saat memotret dengan live view (dengan monitor LCD). Bukan teknologi baru karena banyak kamera Canon atau mirrorless juga sudah ada, tapi ini merupakan kamera pertama Nikon yang menerapkan desain ini.
  5. ISO bisa di ekspansi dari 32-51200. Nativenya 64-12800. ISO yang sangat rendah bisa dipilih oke buat membatasi cahaya saat bermain teknik slow speed (untuk memuluskan aliran air atau merekam gerak cahaya). Nikon juga cukup pede menyertakan ISO tinggi  sampai dengan 12800 – 51200. Sepertinya memotret di kondisi cahaya yang gelap bukan masalah yang berarti lagi.
  6. Berat: 880 gram = 20 gram lebih ringan dari Nikon D800. Hanya sedikit lebih ringan dari D800 agak mengecewakan karena saat ini banyak kamera bersensor full frame yang lebih ringan. Nikon D600 hanya 760 gram, Canon 6D beratnya 680 gram. Sony A7 lebih ringan lagi yaitu 474 gram. Cuma 880 gram cukup lumayan dibandingkan dengan Nikon D700 itu 995 gram, dan D4 yang 1180 gram
  7. Pilihan Image size S-RAW, 11-bit, 9 MP. File RAW berukuran kecil ini untuk merespon Canon yang menyediakan beberapa pilihan ukuran foto dengan format RAW. File RAW memberikan fleksibilitas lebih dalam mengolah foto, tapi sepertinya tidak begitu banyak dipakai, karena sudah banyak pilihan ukuran gambar (L,M,S) dalam format JPG yang lebih ringkas. Fotografer yang ingin kualitas dan detail terbaik biasanya motret dengan format RAW saja.
  8. Group AF: Bisa memilih sekelompok titik untuk tracking subjek bergerak. Ini juga respon untuk kamera DSLR Canon, terutama 7D, 70D, 1DX. Karena titik-titik autofokusnya banyak (51 titik AF) akan cukup lama untuk fotografer memindah-mindahkan titik fokus, dengan group AF, memindahkan titik AF bisa lebih dekat dan mengikuti subjek bergerak juga lebih mudah, akan lebih jarang kehilangan jejak. Modul autofokus ini setara dengan kamera DSLR top Nikon D4s
  9. Video mendapatkan beberapa peningkatan penting yaitu 50/60p sehingga bisa dibuat slow-motion. Bukan teknologi baru, tapi lumayan menarik untuk rekam video aksi.
  10. Mekanisme shutternya ada peredam baru sehingga bunyinya lebih senyap dan stabil.
  11. Resolusi layar LCD ditingkatkan menjadi 1.229 juta dari 920 ribu titik. Efeknya lebih jelas saat review foto. Layar tidak touchscreen, tidak bisa diputar 🙁
  12. Kapasitas baterai lebih tinggi karena prosesornya lebih hemat daya. Menjadi 1200 foto per charge. Mantap!
  13. Highlight priority metering = Pengukuran cahaya yang berusaha menyelamatkan bagian yang terang (highlight) supaya tidak kehilangan detail. Fungsi metering yang bagus dan cukup praktis untuk foto pemandangan (mempertahankan detail di langit), dan kondisi pencahayaan yang kontras seperti artist yang disorot oleh lampu spotlight di konser dsb.

Dari catatan diatas, terlihat bahwa banyak juga yang ditingkatkan, tapi sifatnya incremental atau sedikit demi sedikit. Beberapa fitur ditingkatkan untuk menyamai saingannya seperti electronic first curtain, video 50/60p, S-RAW. Untuk kualitas gambarnya sepertinya tidak akan banyak berubah dari Nikon D800E yang sudah bagus dan tajam.

Kamera DSLR ini bisa dibilang paling bagus untuk yang ingin mencetak ukuran besar dan berkualitas tinggi, tapi untuk traveler atau casual, 12-24 MP biasanya sudah cukup memenuhi kebutuhan sebagian besar penggemar fotografi. Oleh sebab itu saya merasa kamera ini hanya dirancang untuk sebagian kecil fotografer, terlebih karena harganya cukup tinggi $3300.

Beberapa saat lalu, Sony Indonesia meminjamkan beberapa kameranya termasuk Sony A7 yang sudah bersensor full frame. Dimensi dan berat Sony A7 hanya setengahnya dari Nikon D810 yaitu 430 gram. Mengapa Nikon tidak membuat hal yang serupa? Mungkin tidak perlu sampai seringan Sony A7, sekitar 600 gram saja sebenarnya sudah bagus. Kalau terlalu ringan kameranya nanti sulit imbangin dengan bobot lensa.

Di beberapa situs, banyak yang berkomentar juga tentang mengapa tidak bisa merekam video 4K? Memang tahun ini lagi demam 4K, bahkan kamera yang prosumer seperti Panasonic FZ1000 juga sudah bisa merekam video 4K, termasuk Panasonic GH4 dan Sony A7S. Saya gak terlalu ke dalam video, tapi saya rasa 4K belum terlalu penting kecuali yang benar-benar profesional dibidangnya. Karena monitor yang dapat menampilkan 4K secara optimal masih jarang. Mungkin 2-4 tahun lagi baru lebih berkembang.

Secara umum, merupakan hal yang bagus kalau Nikon terus memperbaharui kamera digitalnya, tapi sepertinya belum cukup sampai dijajaran paling atas saja. Beberapa tahun terakhir tidak ada inovasi yang menonjol dari Nikon sedangkan banyak perkembangan yang berarti yang mampu dicapai sistem lainnya seperti Sony, Fujifilm, Olympus dan Panasonic.

Pertanyaan “ultimate“nya adalah apakah saya akan beli Nikon D810 ini atau tidak? Kemungkinan besar tidak. Sejak mengunakan Nikon D600, dan Sony A7, saya lebih nyaman dengan kamera yang berat dan dimensinya lebih kecil. Saya akan tunggu edisi full frame yang lebih mungil dari Nikon. Saya juga mengharapkan Nikon mengembangkan kamera yang  layarnya bisa touchscreen dan autofokus bisa cepat dan mulus saat memotret atau merekam video/ Lebih baik telat daripada tidak kunjung datang.

About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Google+ dan Instagram: enchetjin

{ 3 comments… add one }
  • B.Peng June 27, 2014, 3:01 pm

    Sejak perubahan dari CCD ke CMOS saya merasakan tehnologi yang diterapkan Nikon mengikuti Canon, ternyata sd saat ini juga banyak mengikuti Canon entah karena trik marketing atau memang kemampuan insinyur Nikon spt itu (IMHO). Tapi saya tetap di Nikon krn sdh investasi banyak di Lensa. he..he..he..

    • Enche Tjin June 27, 2014, 3:10 pm

      Dulu CCD bergengsi karena hasilnya lebih tajam dan lebih sedikit noisenya, tapi CMOS semakin bagus dan efisien, memungkinkan memproses foto berturut-turut dengan cepat dan kualitas di ISO tinggi sudah melebihi CCD cukup jauh. Maka itu gak heran semua kamera digital saat ini sudah memakai CMOS, termasuk kamera medium format yang paling baru.

      Saya pikir bukan ikutan2 Canon, tapi memang sensor CMOS memang paling baik saat ini. Selain CMOS dan CCD ada Foveon (yang dikembangkan Sigma), X-Trans (Fuji X) dll. Tapi masih gak terlalu banyak yang mengunakannya.

      Tentang teknologi sensor pernah dibahas disini artikel tentang teknologi sensor

    • Chandra July 1, 2015, 8:37 am

      Nikon emang mengikuti canon. Dah hasilnya sensor nikon jauh lebih bagus dr canon.
      Cb liat aj rangking hasil tes lab kamera2 di dxomark.com.

      Itulah sebabnya sy meminang d810.
      Suit..suit..

Leave a Comment