≡ Menu

Mencoba singkat lensa telefoto Leica DG 100-400mm for Panasonic

Saya beruntung berkesempatan menjajal sebuah lensa tele untuk Panasonic Lumix dari Leica dengan Power OIS, ekuivalen dengan 200-800mm dengan ukuran hanya dan bobot kurang dari 1kg, inilah Leica DG Vario Elmar 100-400mm f/4-6.3 Power OIS. Lensa ini termasuk lensa telefoto yang bisa menjangkau subyek yang jauh hingga membuatnya bisa dipakai memotret satwa liar, atau olahraga, bisa dipakai di semua kamera yang memakai mount micro Four thirds. Bukaan lensa ini paling besar di f/4 dan akan mengecil hingga f/6.3 utuk menjaga dimensinya tetap ringkas. Ada tuas untuk memilih area fokus kerja lensa ini, apakah full atau dibatasi hanya untuk fokus ke jarak jauh saja.

Lensa Panasonic Leica DG 100-400mm

Saya mencoba singkat lensa ini untuk memotret kegiatan atraksi Pacu jawi di Sumatera Barat. Di acara ini banyak dihadiri fotografer pro dengan gear dan lensa yang panjang-panjang, karena areanya memang luas dan posisi kita untuk memotret sudah ditentukan. Dipadankan dengan kamera Lumix G9, kombinasi kamera dan lensa ini masih tetap terkesan ringkas, padahal kinerja kameranya kelas tinggi dan jangkauan lensanya juga tidak main-main bisa sampai 800mm.

Depth-of-field dari lensa tele foto selalu menantang karena ruang tajam yang tipis, perlu memilih mana bagian yang ingin difokus.

Urusan fokus selalu jadi hal penting di lensa telefoto, karena lensa tele punya depth-of-field yang tipis dan kita perlu mencegah salah memilih bagian yang ingin difokus. Menguasai teknik fokus juga penting khususnya dalam hal auto fokus kontinu misalnya dalam memotret benda bergerak. Dengan teknologi DFD AF di kamera Lumix G9, saya temui kinerja AF kontinu lensa ini tidak ada masalah, dengan mode AF-C kamera mampu mengatur servo fokus lensa untuk terus menjaga fokus pada subyek yang bergerak mendekat dengan cepat. Yang penting di kamera kita harus pilih mode area AF dengan tepat, apakah satu titik, zona atau Auto area AF (yang Auto ini tidak saya sarankan).

Depth-of-field yang harus diperhitungkan antara subyek dan background, dalam hal ini saya memilih f/5.6

Dari beberapa percobaan saya memotret dengan lensa ini di pacu jawi satu hal yang perlu saya adaptasi adalah dengan memakai fokal lensa yang sangat tele perlu konsentrasi lebih, karena sedikit saja lensa digeser ke samping maka subyek bisa out-of-frame. Kalau mau aman memang jangan terlalu tele, lebih baik nanti di crop. Tapi justru tujuan saya ingin meminimalkan terlalu banyak crop karena crop biasanya dilakukan oleh mereka yang lensanya kurang mampu menjangkau subyek yang terlalu jauh.

Beberapa contoh foto dan sedikit penjelasan :

Foto ini pakai fokal lensa 280mm, kira-kira lensanya masih belum di zoom, dan tampak banyak sekali yang masuk dalam foto ini karena memang posisi motret lumayan jauh. Artinya kalau mau lebih dekat lagi ke sapinya di spot ini butuh minimal 400mm.

Tapi begitu lensa di zoom mentok 400mm (ekuivalen 800mm) didapatlah detail yang sangat dekat dan hanya perlu sedikit crop saja.

Dengan cropping yang cukup banyak masih menyisakan detail yang cukup bila ingin dicetak besar.

Atau bahkan crop sadis hingga tersisa 1 megapiksel saja, kalau untuk di instagram masih berani

Dan khusus untuk mengetahui seperti apa kemampuan lensa ini dalam menangkap detail, saya coba foto jam Gadang dengan berbagai fokal lensa :

Untuk perbandingan, saya pakai lensa Leica 12-60mm di zoom ke 60mm (ekuivalen 120mm)

dan inilah hasil dari lensa 100-400mm pada fokal 100mm (lensa di zoom out)

dan saat di zoom maksimal ke 400mm (setara 800mm)

Penasaran dengan detail dan ketajaman di fokal 400mm, saya crop ekstrim dan inilah hasilnya…

Kesimpulan dari memakai lensa Leica DG 100-400mm ini :

  • ketajaman mantap, bahkan di fokal 400mm
  • AF servo gesit dan akurat selama kita tepat memilih AF area di kamera
  • OIS berfungsi baik, meski saya belum mencoba Dual IS di keadaan low light
  • ada tripod collar dan ada dobel hood yang menarik dan berguna
  • saat zoom out lensanya tidak terlalu panjang (mudah saat masuk tas)

About the author: Erwin Mulyadi, penulis dan pengajar yang hobi fotografi, videografi dan travelling. Sempat berkarir cukup lama sebagai Broadcast Network TV engineer, kini Erwin bergabung menjadi instruktur tetap untuk kursus dan tour yang dikelola oleh infofotografi. Temui dan ikuti Erwin di Google+ dan instagram.

{ 2 comments… add one }
  • lukman zammari April 6, 2018, 8:10 pm

    harganya berapa …om Enche..?

Leave a Comment